[Oneshot] Hello, Long Time No See, Stranger

eadf6ccb4b88edf5eb95672e50e7e8b4

Hello, Long Time No See, Stranger

Written By Berly ©2016
• ᴥ •
.
| Starring : Johnny Seo, Winwin, Mackenzie Lee (OC), Emerald Lee (OC), and others | Genre : Drama, Comedy, Romance-failed!, Fluff, School Life, Family, Friendship.| Rating : Teen to up! | Length : Oneshot (3500k+words)|
 .
Disclaimer : The cast belongs to God & their parents, his fans and his agency. The plot is pure mine, and The OC’s belongs to Berly & Airly! This story is just fiction for entertain, not meant to offend or humiliate some characters. Please Enjoy! Don’t do copycat! Don’t do plagiat! Don’t do copy-paste without my permision and credit! Thank you, for read and give comments!
 Happy reading!
Backsound song recommended : Lee Min Ho – Burning Up & Stalker
.
 
.
 
“Zaman sekarang, tukang tagih listrik bertugas keliling rumah-rumah, pakai motor ninja putih? Keren sekali…?”
 
.

***

Kayuhan pedal sebuah sepeda akhirnya terhenti tepat di seberang gerbang rumah bertingkat minimalis—berpagar hitam milik kediaman keluarga Lee.

“Akhirnya, kita sampai.”

Seonggok suara mengalihkan perhatian Mackenzie Lee, yang tengah turun dari kursi boncengan sepeda. Didapatinya paras Winwin—si teman laki-laki SMA—sekaligus teman satu komplek perumahan gadis itu sejak SMP.

“Huh, sial sekali aku kelas tiga ini bisa sekelas lagi denganmu, Win.” Kenzie berucap ketus, upaya banyolan biasa yang gadis itu suka lontarkan pada sosok lelaki sebayanya.

“Duh, sama-sama Kenz, tidak perlu sungkan berbasa-basi untuk mengucapkan terima kasih padaku melalui kalimat seperti itu, dong. Dan mungkin sudah takdir kita, bahwa kita berdua akan terus hidup bersama selamanya, happily ever after, seperti di dalam cerita-cerita dongeng princess.” Winwin menaik-naikkan kedua alisnya, mencoba berlagat mendramatisir seperti narator-narator dalam cerita drama, namun gagal total. Winwin lantas memasang seringaian manis seperti biasa untuk meladeni candaan Kenzie.

Kenzie terkekeh geli mendengar ocehan Winwin yang bersikap sedikit formal padanya, “Ih, geli banget sih, Win. Ketahuan kamu suka nonton disney princess di rumah!”

Winwin ikut terkekeh, “Tidak, kok. Tidak salah lagi, harus terpaksa nonton itu, gara-gara acara itu adalah tontonan wajib adikku di rumah setiap hari … hehe, kalau begitu, aku langsung lanjut jalan, ya?” pamit Winwin. Laki-laki bersurai hitam cepak itu memang harus kembali mengayuh pedal sepedanya sedikit lagi—lantaran rumahnya masih berbeda beberapa blok dari rumah Kenzie.

“Hahaha … yang sabar, ya, Win. Ya sudah, tidak usah mampir ya, sana pulang sana!” sahut Kenzie masih dengan seringaian lebar dan gelagat gurauan mengusir Winwin.

“Hmm … tidak perlu repot-repot, makasih, loh, buat kebaikan hati seorang Kenzie, yang tengah memaksa Winwin untuk singgah dan bermain di beranda rumah Kenzie,” timpal Winwin lagi sok berbasa-basi, tak mau kalah akan senda gurau usiran Kenzie.

Kenzie dan Winwin memang sering bersiteru dengan selingan candaan garing, meretas kemonotonan antar hubungan pertemanan. Itu mungkin sudah tersuai secara alami di antara keduanya, lantaran Kenzie dan Win sudah saling mengenal dekat dan bermain bersama semenjak mereka berada dalam satu sekolah di kelas 1 SMP.

“Hehe, by the way, makasih ya, Win. Aku sudah boleh nebeng! Kalau saja sepedaku tidak rusak dan Kak Emma tidak bilang lagi sibuk untuk menjemputku sore ini—” ujar gadis bersurai kelam seleher itu lagi, untuk merangkai sebuah alasan atas kelegaan hatinya, dan sedikit jadi tidak enak karena merepotkan Winwin di hari pertama gadis itu masuk sekolah lagi, setelah liburan panjang kenaikan kelas.

“—Hmm, mungkin kamu harus cepat-cepat beli sepeda baru Kenz, karena … kamu … cukup berat saat kubonceng ….

Kenzie tertawa dengan suara terpaksa mendengar banyolan dari Winwin, berikut memandang ekspresi lawak Winwin yang memang benar-benar-cari-perkara-rupanya oleh Kenzie, “Makasih ya, Win, sudah memujiku!” Kenzie berupaya mencekik Winwin dalam candaannya.

Winwin meringis, “Akhh! Ahaha ampun Kenz, peace, peace, salam damai … lagian, lebay banget, sih, Kenz? Seorang Kenzie berterimakasih seperti itu pada Win? Huh, yang benar saja. Tidak usah sungkan begitu lagi! Kamu ini seperti dengan orang lain saja, sih. Setiap hari juga kamu boleh nebeng sepedaku ini, kok, aku rela demi Kenzie. Lagi pula kita, ‘kan, satu arah jalan pulang, jadi santai saja, oke?” jawab Winwin menjelaskan dengan penuh kerlingan bersemangat.

“Kamu yakin rela? Ya sudah, kalau begitu sepedamu nanti malam kucolong saja diam-diam dari rumahmu, untuk pulang-pergi ke sekolahku besok sampai seterusnya. By the way lagi, salam ya, untuk keluargamu di rumah nanti!” ucap Kenzie yang tak ada henti-hentinya berujar kekonyolan pada Winwin.

Winwin tertawa, mengacak surai Kenzie gemas, “Langkahi dulu mayat semut-semut hitam di rumahku, Kenz, kalau mau nyolong sepeda keramatku ini. Aku pergi ya, dah!” Kemudian Winwin melambaikan tangannya pada Kenzie, “Salam juga untuk Kak Emma, Mark, dan keluargamu di rumah, Kenz!” sambung laki-laki itu lagi dengan senyuman hangat.

“Salam untuk Miho, tidak nih?”

“Eh iya, salam juga buat Miho-chan, ya, baibai!”

Kenzie tersenyum lebar seraya balas melambaikan tangannya pada Winwin, “Mungkin nanti malam aku akan coba melangkahi mayat semut-semut di rumahmu itu, Win! Jadi hati-hati saja, kunci pagar rumahmu rapat-rapat, ya!”

Gadis itu kembali sedikit berteriak menimpali ucapan Winwin, sambil tersenyum geli sendiri memandangi punggung kurus Winwin yang semakin menjauh dari pandangannya, hingga punggung itu menghilang di belokan jalan komplek perumahan. Dan akhirnya, Kenzie pun memutuskan untuk segera masuk ke dalam rumahnya.

Belum genap gadis itu melangkah satu pijakan kakinya, tiba-tiba saja—

Brmm … Brmmmmmmm … Bmmmmmm … Ciiiiittt!!!

—langkah seorang Kenzie mendadak terhenti! Lantaran sebuah motor ninja berwarna putih sekonyong-konyong berhenti tepat di hadapannya—seakan sengaja menghalangi jalannya! Untung saja jantung Kenzie tidak bisa kabur melompat keluar seenaknya dari dalam tubuhnya! Kalau bisa, mungkin saja jantungnya sudah melarikan diri ke alam baka tanpa pernah disangka-sangka!

Sialan! Umpat Kenzie geram dalam hati. Dengan seenak jidatnya motor itu berhenti di hadapan Kenzie, tepat sebelum Kenzie melenggangkan langkah masuk ke arah gerbang kecil di rumah minimalis bertaman luas milik keluarga Lee. Siapa sih orang ini?! Rutuk Kenzie geram masih di dalam hati, sembari melihat penampilan serba hitam-putih si pembawa motor ninja itu. Cih, sok keren banget jadi orang! Kenzie kembali mencibir.

Si pengendara motor ninja putih itu akhirnya melepaskan helm putihnya, bagaikan adegan slow motion, rambut cokelat sepanjang dahi milik si pengendara motor—yang ternyata adalah seorang laki-laki tampan, terempas angin sepoi-sepoi yang datang dari selatan. Sempat membuat kedua netra seorang Mackenzie Lee terpaku kelewatan.

“Permisi Nona, aku teman Emerald, kau adiknya Emerald Lee, benar?”

Dalam beberapa jenak Kenzie tak merespon pertanyaan itu, ia hanya mengangguk pelan sekali lantaran sedikit tegang dengan si laki-laki asing di hadapannya. Bayangkan saja jikalau tragedi ini merupakan kejadian langka—seperti adegan di dalam film-film action—yang tengah terjadi di dalam hidup seorang Mackenzie. Bagaikan dicegat oleh seorang ketua geng bermotor besar yang tampan dan rupawan … eww, tak perlu mendramatisir begitu, Kenz. Geli juga bagi seorang Kenzie untuk repot-repot membayangkannya.

Deg. Kenzie terkejut dalam hatinya lalu membatin, apakah laki-laki ini gebetan baru Kak Emma, selain Kak Ten ya? Kok, cari Kak Emma?

Emma—si kakak sulungnya memang pernah bercerita pada Kenzie dan Mark, bahwa gadis itu baru punya gebetan baru lagi beberapa hari lalu selain Ten, namun gebetannya yang satu itu belum pernah sempat bertandang ke rumah mereka lantaran sibuk? Emma tak bilang siapa penggal singkat nama sang gebetan baru?

Semoga saja gebetan baru Kak Emma yang pernah diceritakan, namanya tidak sepanjang nama Ten. Kenzie berharap-harap di dalam hatinya.

O, Kalian tahu?! Kalau nama lengkap gebetan Emma yang berpenggal ‘Ten’ itu sangat unik dan panjang—sepanjang jalan kenangan Kenz bersama Mingyu—si teman sebaya Kenzie yang sempat ditaksirnya dulu.

Lupakan sejenak soal gebetan Emma dan Mingyu.

Siapa gerangan laki-laki ini? Batin Kenzie kembali mengorek-ngorek suatu perihal, karena makin penasaran—sembari memperhatikan penampilan laki-laki di hadapannya itu dari bawah kaki hingga atas kepala.

“Hallo kak … kakak ini siapa, ya, lebih jelasnya?” sapa Kenzie mencoba ramah pada laki-laki itu, siapa tahu terkaan Kenzie benar, kalau si laki-laki di hadapannya adalah gebetan baru dari seorang Emma?

Laki-laki yang ditanya Kenzie malah memilih bergeming dan berpikir sejemang. Lalu ia menatap Kenzie polos, “Aku, tukang tagih listrik …,” katanya dengan ekspresi datar.

Loh, tukang tagih listrik?” Emma punya teman tukang listrik? Sejak kapan?

Kemudian hening …

Zaman sekarang, tukang tagih listrik bertugas keliling rumah-rumah, pakai motor ninja putih … keren sekali … ? Batin Kenzie heran tak percaya.

Seketika laki-laki itu tertawa terbahak, saat melihat ekspresi melongo seorang Kenzie di tempat. Kenzie hanya bisa ikut tertawa garing, renyah, memandangi ekspresi bahagia si lawan bicaranya. Tawa renyah Kenzie benar-benar tertimpal oleh suara kekehan membahana milik si pengendara motor ninja putih itu.

“Aku bercanda …, kamu si cantik Mackenzie Lee, ‘kan? Sudah besar ya ternyata sekarang dengan seragam SMA …, tambah cantik.” Laki-laki itu mengerling, sedikit menyelipkan godaan dalam kerlingannya. Sempat menyisir helai poni belah pendeknya—yang sedikit menjuntai ke depan—dengan jemari tangan kirinya ke belakang, lalu ia kembali berujar, “Kamu benar-benar tidak ingat aku, Kenzie?” tanya lelaki itu lagi memastikan.

Namun pemikiran Kenzie masih blank, ingatan gadis itu memang benar-benar buruk jikalau dirinya dipaksa detik itu juga harus mengoprak-oprek kembali masa lampau—alias masa kanak-kanaknya dulu.

“Aku, adalah laki-laki pertama yang mengambil sebuah tanda pertama darimu, kamu ingat?”

Sontak Kenzie membulatkan kedua bola matanya! Pantas saja, sedari-tadi otak Kenzie terus berbicara ragu : Seperti kenal, tapi siapa ya?

Degup jantung Kenzie seketika bergemuruh abnormal tak seperti biasanya.

Dia … laki-laki itu adalah

“Kak Johnny.” Kenzie berujar pelan, sedikit memastikan. Dan suara Kenzie pun langsung mendapatkan balasan sebuah senyuman manis yang lebar, berikut sekali anggukan—membenarkan tebakannya.

—Johnny Seo adalah tetangga satu blok mereka dulu, teman main satu perumahan saat mereka masih benar-benar kanak-kanak. Kenzie waktu itu masih belum sekolah, bahkan Mark—si adik bontot Kenzie dan Emma, masih bayi orok berumur 8 bulan.

Namun suatu hari, kala masa-masa itu … keluarga Johnny memutuskan pindah rumah ke Chicago—saat Kenzie tepat menginjak umur keenam tahun. Ya. Hari itu Kenzie ulang tahun, di mana saat itulah Miho, diserahkan kepemilikkannya kepada Kenzie dari Johnny sebagai hadiah ulang tahun—berikut hadiah perpisahan.

“Aku kembali, Kenzie, kamu tidak merindukanku?” Johnny merentangkan kedua tangannya lebar-lebar pada Kenzie, bersedia mendapatkan pelukan hangat dan rindu dari lawan bicaranya.

Namun, yang diajak bicara alih-alih sekadar merespon ucapan atau memeluk Johnny untuk melepas kerinduannya, Kenzie malah langsung buru-buru masuk ke dalam gerbang rumahnya melewati Johnny.

“Kenz? Kenz? Loh, kok, aku malah ditinggal, Kenz?!” Johnny tampak bingung dengan sikap Kenzie yang tiba-tiba main menghindarinya begitu saja.

Di saat-saat kejadian—yang seperti menggambarkan sosok Johnny adalah sosok pria brengsek karena ditinggal Kenzie sendirian di depan gerbang rumah kediaman keluarga Lee, Emma keluar dari dalam rumah untuk menghirup udara segar, kemudian mendapati adik perempuannya ternyata sudah pulang dari sekolahnya.

“Eh, Mackenzie Lee yang cimit-cimit sudah pulang, pulang bersama siapa tadi?” tanya Emma dengan senyuman cerahnya.

“Winwin,” singkat Kenzie datar, tanpa mau memandang wajah Emma.

Oh … omong-omong, wajahmu kenapa ditekuk dan merah begitu, seperti warna pantat babon, Kenz?” kata Emma nyablak, penasaran betul ketika melihat air muka Kenzie benar-benar berwarna merah seperti orang yang tengah kepanasan, padahal udara di sore hari ini sangatlah sejuk, lembut membuai dan membelai hati seorang Emma.

Tuh, ada Kak Johnny, cari Kak Emma di luar!” kata Kenzie sedikit ketus.

“Ha? Kak Johnny … Johnny Seo maksudmu? Eih, kamu bergurau ya? Mau coba membodohiku lagi, huh? Tidak akan mempan! Mana mungkin sih? Dia, ‘kan, tinggal di Chicago sekarang!” Emma tak percaya akan perkataan Kenzie yang dianggapnya hanyalah bualan belaka.

“Kalau tidak percaya lihat saja sendiri sana keluar!” kata Kenzie tak mau berdebat, lantas tungkainya langsung melesat masuk ke dalam rumah.

Cih, kalau orangnya ada di luar, kenapa tidak disuruh masuk?” gerutu Emma pelan saat punggung Kenzie sudah melesat masuk ke dalam rumah.

Emma tidak peduli sebenarnya, namun diam-diam gadis bersurai kelam sepanjang punggung itu penasaran juga, makanya ia pun keluar gerbang, memeriksa apakah benar ucapan dari seorang Kenzie yang memang sering sekali berdusta padanya.

Awas saja jika Kenzie kali ini mengerjai Emma lagi. Emma akan langsung mengejar Kenzie ke lantai atas kamarnya, dan tak akan segan membuang Miho—si kucing jantan kesayangan Kenzie ke luar rumah—hingga Kenzie kapok dan memohon-mohon permintaan maaf padanya, supaya kucingnya itu bisa kembali mendapatkan hak naungan—di dalam rumah keluarga Lee.

Asal kalian tahu saja, Emma benar-benar benci kucing lantaran alergi terhadap bulunya—otomatis dia akan bersin-bersin jika berada di dekat Miho atau kucing-kucing lain sekalipun. Tapi adiknya yang satu itu benar-benar keras kepala dan masih saja memelihara Miho—kucing angora abu-abu yang diberikan Johnny sebagai hadiah kenangan pada Kenzie dulu—sebelum Johnny pindah ke Chicago.

Tak berapa lama dari Emma melenggangkan langkahnya keluar, mata Emma langsung disuguhi punggung seorang laki-laki tinggi, orang itu sedang membelakanginya. Johnny masih berdiri di sana seperti anak-yang-tengah-kehilangan-ibunya—bingung, tak tentu arah dan tujuan. Namun itu benar-benar membuat Emma terkejut bukan main.

“J-Jo-John … Johnny?!!” kata Emma terbata-bata tak percaya akan kehadiran Johnny.

Johnny seketika memutarbalikkan kembali tubuh tegapnya ke arah pagar hitam rumah keluarga Lee, didapatinya sosok juga ekspresi wajah Emerald Lee yang terkejut, bercampur aduk dengan perasaan rindu, haru, senang, karena benar-benar kedatangan tamu jauh—sang teman kecil—Johnny Seo.

“Emma?!” Johnny tersenyum lebar, benar-benar lega saat melihat Emma datang menghampirinya dan memeluknya, karena akhirnya ada juga teman kecilnya yang menyambut kedatangannya kembali ke Seoul ini.

“Kapan datang ke Seoul, John? Ya ampun, kok, tidak mengabari, sih, kalau kamu datang dan mau main? Kenapa tidak kamu tekan bel rumahnya? Sekarang penampilanmu benar-benar berbeda, deh. Aku yang menyusut jadi pendek, atau memang kamu yang sering makanin tiang listrik, jadi tinggi banget begini?” gurau Emma menyambut hangat kedatangan Johnny.

Johnny terkekeh geli mendengar banyolan dari seorang Emerald. “Tubuhmu yang menyusut kali, Em, karena sering makanin kamper lemari,” timpal laki-laki itu mengada-ada tak mau kalah dari godaan Emma.

“Ih, yang benar saja. Aku bisa menyublim dong, John?!” Emma malah ikut tertawa geli bersama Johnny, “Kebetulan aku punya banyak oleh-oleh makanan dari liburan semester kuliahku kemarin, loh! Masuk yuk! Parkirkan motormu ke dalam!” ajak Emma yang langsung disetujui oleh anggukan Johnny.

.

.

Tak disangka-sangka! Batin Kenzie benar-benar ketar-ketir sekarang ini di lantai atas rumah—di dalam kamarnya. Gadis bersurai kelam sepanjang leher itu benar-benar gelisah, ditemani Miho, yang sedari tadi mengelus-eluskan tubuh buntalnya di kaki Kenzie—yang baru saja terlepas dari kantong kaos kaki sekolahnya yang belum sempat dicucinya selama tiga hari.

“Miho-chan … kamu tidak kebauan? Aku belum cuci kaki, hehe. Gimana dong, Miho-chan, mantan majikanmu datang kemari lagi, aku takut jangan-jangan dia datang mau mengambilmu dariku? Dan aku tidak mau kita pisah, Miho-chan.” Kenzie berbicara dengan kucing peliharaan kesayangannya, lantaran kucing itu adalah kucing hadiah pemberian seseorang yang benar-benar sudah tega membawa hatinya pergi melanglangbuana tak jelas entah kemana.

“Nggreongggrr ….” Miho pun bergumam.

“Apa kamu bilang? Aku bohong? Ih, aku tidak bohong, aku memang takut kamu diambil sama mantan pemilik kamu itu, kok, makanya aku buru-buru masuk rumah tadi, tidak mau melihat wajah mantan pemilik kamu itu terlalu lama di luar. Senyumannya benar-benar mematikan!”

“Nggreongg … mrrreonggrr ….” Miho kembali bergumam.

“Ih, apa katamu?! Aku tidak gugup sama sekali, kok, kalau orang asing itu datang lagi ke Seoul! Bahkan aku akan say hello dengan senang hati padanya nanti, aku janji padamu Miho-chan.”

Kenzie menelan ludahnya dalam-dalam, lalu kembali berbicara, “… Setelah beberapa tahun tak melihat sosoknya, juga tak ada kabar secuilpun darinya. Membuatku benar-benar pangling akan fisiknya yang sekarang, Miho-chan. Kupikir, aku akan bisa cepat melupakannya lambat-laun, tapi nyatanya sekarang, malah tidak bisa,” kata Kenzie pelan, diakhiri dengan lirihan, ekspresi Kenzie seketika berubah jadi lesu.

Kemudian gadis itu langsung menggendong Miho ke pangkuannya dan mengelus bulu abu-abu lembut milik Miho. Tak tahulah dirinya harus bersikap seperti apa akan kedatangan laki-laki itu lagi dalam kehidupannya. Gadis manis namun urak-arikkan yang kadang tak bisa bersikap dewasa itu : haruskah dirinya berbahagia, bergembira, terharu, senang, atau sedih karena terlalu rindu—untuk menyambut hangat laki-laki itu lagi? Ini sudah sekitar 6 tahun lamanya mereka tak pernah bertemu-saling-sapa.

Sejak kejadian : Miho yang sebenarnya adalah kucing milik Johnny—yang diberikannya kepada Kenzie secara cuma-cuma sebagai hadiah ulang tahun keenam Kenzie—untuk kenang-kenangan agar dipelihara dengan baik.

Juga satu lagi : tragedi yang benar-benar membuat Kenzie malu setengah mati jika mengingat kejadian itu lagi belakangan ini. Johnny, mengambil ciuman pertama Kenzie kala itu—kala di mana Johnny dan Kenzie harus berpisah jauh (itulah ‘tanda pertama’ yang dimaksud Johnny beberapa menit lalu). Laki-laki itu benar-benar sudah mencuri hati Kenzie pergi ke negeri yang jauh, seakan tak akan pernah bisa kembali pulang.

Sebuah cinta monyet yang sungguh klise, dan menggelikan ….

Itulah alasannya, mengapa Kenzie sangat menyayangi Miho. Tak peduli Emma ngambek setiap hari padanya sejak kehadiran Miho di rumah keluarga Lee. Kenzie tetap akan merawat Miho dengan sepenuh hati, dan setidaknya, Mark dan kedua orangtua mereka tidak ada yang keberatan akan kehadiran Miho di rumah ini. Hanya Emma yang tak setuju. Namun … lama kelamaan, Emma bisa terbiasa juga dengan hal itu. Asalkan Miho hanya berkeliaran di kandang, balkon atas rumah atau di kamar Kenzie, dan tidak berkeliaran kesana-kemari terlalu sering, terutama berkeliaran masuk ke kamar Emma, atau berkeliaran di ruangan yang tengah ada Emma-nya.

Kenzie menghela napasnya gusar, tampak kehilangan akal di dalam benaknya detik ini, seakan pemikirannya itu tak pernah berujung sampai pada happy ending. Sikap apa yang harus gadis itu tunjukkan ketika ia kembali bersitatap dengan Johnny? Setidaknya, hanya untuk menyapa Johnny pertama kali setelah 6 tahun tak saling menegur-sapa—bertemu saja pun tidak.

“Ayo, Miho … waktunya kamu minum susu di balkon atas.” Kenzie tersenyum lembut pada Miho, menggotong tubuh gendut Miho ke balkon atas rumahnya.

Ketika langkah Kenzie baru menapaki balkon terbuka tersebut, kedua netra hitam pekatnya langsung disuguhi awan sore yang masih biru dan cerah, pun sang bayu langsung menerpa lembut surai kelamnya bersama Miho.

.

.

“Mark mana, Em? Anak itu pasti bukan bayi orok lagi, ‘kan?” tanya Johnny setelah bokongnya nyaman menempati salah sebuah sofa kosong di ruang keluarga milik keluarga Lee.

“Wah, sayangnya Mark sedang tidak ada di rumah, John. Mark ikut Mom dan Dad hari ini, pergi ke rumah sanak saudara di Daejeon,” jelas Emma terkikik kecil seraya berjalan ke arah dapur untuk menyiapkan Johnny minuman.

“Ah, begitu rupanya. Kalau … Miho, mana?”

“Eihhh, rupanya masih ingat dengan mantan binatang peliharaanmu itu, John? Aku tersiksa, karena kamu memberikannya kepada Kenzie sebagai hadiah ulang tahunnya. Gadis itu sangat sayang pada Miho, melebihi sayangnya pada kakak kandungnya sendiri malah,” gerutu Emma pelan, atensi bola matanya masih terfokus sibuk di dalam dapur dekat meja pantry.

Johnny terkekeh kecil mendengar ocehan Emma, “Habisnya, aku, ‘kan sudah punya Mia kembarannya Miho. Makanya kukasih saja Miho pada Kenzie sebagai hadiah, lagi pula Kenzie, ‘kan, memang suka sekali dengan kucing-kucing peliharaanku dulu.”

“Sekarang juga masih sama, omong-omong. Ahh, andai aku tak punya alergi bersin terhadap bulu kucing, mungkin aku tidak akan tersiksa,” kata Emma lagi, seraya mengambil gelas di almari dapur dekat dengan meja pantry, “Mau sirup, teh, atau kopi?” tawar Emma, seraya memandang paras Johnny dari kejauhan.

Johnny mengangguk seraya tersenyum, kemudian mendapati wajah Emma yang kini menyembul di antara sekat dapur berjendela tanpa kaca—sekat classic—pemisah ruangan, antar ruang keluarga berikut perapian, dengan dapur.

“Kalau susu, ada?” gurau Johnny menjawab tawaran Emma, “Sirup yang segar boleh juga deh, Em,” sambung Johnny lagi, seraya menyenderkan punggung tegapnya pada sofa empuk yang didudukinya.

“Kalau susu, adanya di atas balkon rumah sekarang, tuh, John. Johnny mau lihat Miho, ‘kan? Ke balkon atas saja, gih, Kenzie pasti lagi memberikan Miho susu setiap jam segini,” balas Emma lagi sedikit memberitahu Johnny suatu kebiasaan Kenzie saat sore hari seperti ini.

“O, ya?”

“Ya,” Emma mengangguk, “Susu yang harusnya dibeli untuk diminum Mark, malah dikasihkannya untuk Miho, hahaha. Berulang kali Mom mengomelinya, tapi gadis itu tidak pernah kapok sekalipun.” Emma terkekeh pelan, sembari melanjutkan kegiatannya membuatkan sirup untuk Johnny.

“Kenzie itu keras kepala, John. Selama ada suatu hal yang disukainya, tak bolehlah ada orang lain yang menghalangi atau merusak kesukaannya, sekalipun itu kakaknya sendiri.” Emma kembali mengoceh, namun kali ini masih tak mendapat respons dari sang lawan bicara. Yang terdengar dalam rungu Emma kini hanyalah suara-suara berisik dari dalam acara di televisi yang memang sedari-tadi sudah menyala.

“Gadis itu memang keras kepala, kamu tahu sendiri, ‘kan, John?” Kepala Emma kembali menyembul di antara sekat pantry itu, yang didapatinya kini hanyalah sofa kosong berikut jaket kulit hitam yang bertengger tak manis di sana. Emma pun tersenyum simpul seraya menggelengkan kepalanya, karena Johnny pasti sudah melesatkan tungkai jenjangnya ke lantai atas sedari-tadi untuk mencari keberadaan Miho—atau mungkin lebih tepatnya, mencari Mackenzie.

.

.

Currrr ….

Cairan berwarna putih pekat tengah tertuang pada mangkuk khusus tempat makan Miho—yang berwarna hijau tosca. Kenzie kali ini lebih memilih membeli susu kotakan kecil setiap harinya untuk jatah Miho, ketimbang menghabiskan stok susu milik Mark dan harus diomeli ibunya setiap hari. Tak jarang Emma pun ikut nimbrung membantu ibunya mengoceh dan terus mengompor-ngomporinya. Agar Kenzie menyerah, dan akhirnya menjadi orang yang paling bersalah di seluruh jagad raya ini, lantaran tak bisa ikut perang ocehan di antara kedua orang yang digelarinya—orang tercerewet sedunia! Kenzie paling malas, jika ia sudah berdebat dengan Emma, atau ibunya. Ia malah lebih nyaman berbicara dengan ayahnya, atau Mark, yang sikapnya lebih tenang dan tidak cerewet.

Sesudah susu kotakan itu tertuang sepenuhnya di dalam mangkuk makan Miho, Kenzie malah menoleh kesana-kemari, mencari keberadaan Miho yang tiba-tiba menghilang. Kok Miho malah menghilang? Batin Kenzie bingung.

“Miho-chan? Ck ck ck …,” panggil Kenzie serius. Biasanya jika gadis itu tengah menuangkan susu di mangkuk Miho, Miho dengan setia dan antusiasnya menunggu di depan mangkuk sambil ngiler—menjilat-jilati hidungnya sendiri—membayangkan akan kelezatan susu itu di depan pandangannya. Tapi sekarang apa yang terjadi dengan Miho? Apa kucing itu tidak lapar? Atau Miho hanya suka susu bermerek sama seperi susu yang diminum Mark? Tidak sukakah kucing berbulu abu-abu itu minum susu kotak?

Aduhai Miho, di mana kau?

“Miho? Wah, Miho sudah besar ya sekarang?!”

“Meong, meonggrrr ….

Kenzie memanjang-manjangkan lehernya ragu, lantaran sayup-sayup rungunya menangkap suara Miho berikut sebuah suara berat milik seseorang. Tahu-tahu saja kedua iris kelam pekatnya malah mendapati sosok Johnny yang sedang berjongkok mengelus-elus tubuh buntal Miho di dekat tangga. Membuat jantung Kenzie sekonyong-konyong berperang di dalam dadanya.

Johnny sedikit mendongak, pandangan di antara keduanya pun saling bersirobok. Kenzie seketika mematung di tempat, mengerjap-erjapkan kedua matanya saat Johnny datang menghampirinya sambil menggendong tubuh buntal Miho.

“Sekarang waktunya Miho minum susu, ya?” Johnny kembali mengalihkan fokusnya pada Miho—seakan lelaki itu berbicara pada Miho—lalu meletakkan Miho di bawah—dekat mangkuk, agar kucing itu segera meminum susu yang sudah disediakan Kenzie beberapa detik lalu. Detik berikutnya, Johnny kembali menegapkan tubuhnya, lantas laki-laki itu langsung memandangi langit sore yang cerah sambil menyiratkan sebuah senyuman tipis yang begitu tenang.

Sang bayu kembali berdesir lembut, menerpa surai cokelat Johnny juga Kenzie—yang kini ikut menatap langit sore bersama Johnny.

Hello, long time no see … Stranger. Batin Kenzie berbicara pada angin yang berembus mengenai tubuhnya. Gadis itu tidak ingin Johnny mendengarnya, hanya ingin angin yang tahu, bahwa, betapa dirinya rindu terhadap sosok Johnny selama ini.

“Jadi … kenapa si tukang tagih listrik tahu-tahu bisa datang ke atap balkon ini?” ucap Kenzie pelan, tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok-sosok awan putih yang bertebaran indah di langit biru—dan tampaknya sedikit lagi akan menyuguhkan ragam oranye serta violetnya.

Johnny tersenyum sejenak, lantas melirik Kenzie, “Kamu jahat Kenz, aku datang, ‘kan, karena rindu seseorang,” sahut Johnny pelan, disertai dengan senyuman tulusnya memandangi Kenzie yang masih menatap awan dalam diam.

Sekon berikutnya Kenzie mengalihkan fokus irisnya ke sosok Johnny—yang masih setia mengerling ke arahnya. Mereka kembali bersitatap, namun Kenzie hanya diam tak merespon—seakan menuntut penjelasan lain dari tatapan kedua bola mata Johnny dan maksud dari perkataan Johnny beberapa sekon lalu.

Johnny malah kembali tersenyum lebar—ketika Kenzie kali ini memandangi matanya lama, lantas beringsut mendekati Kenzie yang sedikit terpaku akan senyuman manis milik Johnny.

Johnny mengacak-acak surai kelam Kenzie, lalu kembali berujar, “Aku tentu rindu, sama—” perkataan Johnny digantungkannya sejenak. Namun kala Johnny ingin kembali bersuara melanjutkan perkataannya yang belum selesai, tiba-tiba saja suara lengkingan membahana milik seseorang berteriak sangat kencang ketar-ketir nyaris membuatnya jantungan!

“MI—HOOO!!!”

Eh … Miho?

“—MACKENZIE LEE!!! HA…HAA…HATCHUU!!! UHUK UHUK!! AMBIL MIHO-NYA!”

“Kak Emma?!” Sadar, Kenzie terkejut akan teriakan cempreng milik Emma yang cukup keras meneriaki namanya dari lantai bawah. Dilihatnya sekitaran balkon, tak ada Miho di sana! Dan hidung Kenzie kini telah menangkap kuaran aroma harum ikan tuna yang begitu menggugah selera, serta merta bercampur dengan harum nasi hangat dan aroma sup rumput laut yang biasa dimasak oleh Emma dan ibunya di rumah. Emma sedang memasak? Ini, sih, benar-benar masakan kesukaan Miho, Mark, dan Kenzie di rumah!

Lantas Kenzie buru-buru turun ke lantai bawah, tanpa menghiraukan Johnny yang juga menjadi sedikit panik kala itu.

Apa boleh buat …. tampaknya Johnny harus menunda kalimat rindunya itu. Karena kegentingan waktu yang mendadak jadi tidak tepat. Biarkan saja angin yang menyimpan semua rasa rindunya pada Kenzie. Anginlah yang tahu semuanya, bahwa, Johnny merindukan Kenzie, begitupun sebaliknya.

Terkadang, hanya saling tatap adalah salah satu cara yang tepat untuk mengutarakan perasaan hati jika mulut tak sanggup berbicara karena malu. Tak perlu bersusah payah merangkai kata untuk merayu. Tak perlu saling tahu, karena mereka sebenarnya sudah saling tahu. Tak perlu jemu memandang asa kelabu, walau perasaan itu seakan hanyalah perasaan semu.

Johnny sedang tidak ingin membual, begitupun Kenzie. Apalagi ini adalah masalah hati. Cukup berbisik pada sang bayu bahwa mereka saling merindu. Menunggu dalam alur waktu, siapa tahu, sang bayu bisa berbisik membantu, agar keduanya bisa saling menyatu, di suatu hari cerah yang biru.

.

.

FIN

Perkenalkan Lee Siblings in the house yo! ^^

#PicsArt_02-07-03.33.50

Kalo yang ini, Winwin : teman sebaya Mackenzi, bersama dengan sepeda keramatnya.CZ-acIpUkAAu7Gl

Perkenalkan juga inilah Miho, kembaranya Mia. Si kucing angora abu-abu buntel yang saat ini dan selamanya tetap mempunyai hak bernaung di dalam kediaman keluarga Lee, meski sering diancam kena usir sama Emma.6935382-cute-gray-cat

Dan satu lagi cemceman Mackenzie Lee! heheh XD
| Cr pic : Unphysical – Lana twitter |

fhftujjyk

Terima kasih untuk siapapun yang sudah baca cerita abnormal ini dari awal hingga tetes darah penghabisan. Saksikan kisah-kisah mereka selanjutnya hanya di NCTFFI tercinta ^^

Ditunggu riview dan komennya! Kritik dan saran sangat diperlukan btw!
Have a nice day! ❤

-Berly-

Advertisements

10 thoughts on “[Oneshot] Hello, Long Time No See, Stranger

  1. Aaaa, Emma!! Dek Kenzi! Winwin sama Saodah!! /dan terutama/ Maz Johnny!!! Aaaaaaa /gantian jadi gila/ga/ XD
    Walaupun ceritanya panjang banget, daku sukaa banget. Feelnya terasa apalagi kocaknya si Kenzi wkww. Terus, bayangin Johnny ganteng turun dari motor dan Kenzi melongo oon setelah mikir kalo mas Johnny tukang tagih listrik ;;; Terus imajinasi Kenzi bawaannya jadi mau lempar dia ke laut akibat kejauhan duh Gusti ngakak diriku wkwkwk XD
    Yaudah deh, keep writing yay! Semangat untuk Johnny-Mackenzinya sama Lee fams dunia fana kita /ihik/ 😀

    Liked by 1 person

    • Huweeee……. XD /nangis dipojokan/
      Makasih banyak yak mbak Emerald yang udah mau mampir baca dan komen wkwkwk. Kan jadi malu, ketauan banget ceritanya rada-rada hambar gitu ;;_;;. Lain kali nggak mau bertele-tele lagi deh! x”) Makasih banyak buat riviewannya ya!!! /peluuuuuk….Ten//seketika digorok/
      Semoga cerita keluarga Lee fams fana terus berumur panjang yaa wkwkwk. Supaya bisa nemu cerita Emerald-Ten dan Mackenzi-Johnny nantinya /gak/ XD hehehe. Sekali lagi maaciiiiih ❤ /kecup/

      Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s