[Vignette] 10 O’clock

cncffihuyaa8lpg
Cr. on logo

AirlyAeri’s present

Casts : Ten Chittapon Leechaiyapornkul [NCT’s Ten] x Emerald Lee [OC]

Slight! Qian Kun [NCT’s Kun] & Mackenzi Lee [OC]

Genre : Friendship, Fluff | Rated : General | Length : Vignette (1100+ words)

Backsound : Seo Inguk & Jung Eunji – All for You [Reply 1997 OST.]

***

Di jam 10 pagi Ten merasa dunia begitu kecil.

.

Jam 10 pagi.

Ten mengerutkan keningnya kala melirik arlojinya, kemudian ia melirik ke arah langit yang kini menampilan awan mendung. Di waktu pagi begini seharusnya matahari telah terbit hendak mengudara tinggi untuk menyinari kota, tetapi yang disuguhkan hari ini justru awan kelabu. Kalau sudah begini, bersiap saja dengan payung atau jas hujan.

Tik, tik, tik.

Ten mendongak dan benar saja, air mulai turun dengan deras. Membuat lelaki itu segera berlari menuju ke sebuah minimarket yang ada di dekatnya. Setelah itu, Ten memandang halte bus yang jaraknya cukup jauh dengan minimarket tempat ia berteduh saat ini, membuatnya langsung mendecakkan lidahnya sebal.

Lantas atensi mata gelapnya memandang hujan yang masih saja deras, bersamaan dengan udara dingin musim semi yang menerpa kulitnya.

Dingin.

Masih teringat jelas di telinga Ten sewaktu Kun—teman kampusnya—menelepon untuk menanyakan keberadaannya beserta ancamannya.

“Kalau tiga puluh menit hujan tidak kunjung reda dan kau tidak datang juga, diskusi kelompok di perpustakaan dibatalkan saja. Aku mau ke rumah Emerald Lee untuk belajar bersama.”

“Bagaimana bisa kau membatalkan diskusi kelompok, sementara minggu depan ujian telah di depan mata? Kau ingin aku merana, ya?”

“Kau memelas padaku, tapi kau sendiri tidak membuktikan bahwa kau sedang berusaha. Bagaimana sih kau ini. Pokoknya ingat ancamanku, Ten. Diskusi kelompok dibatalkan.”

Dibatalkan.

Ten meneguk ludahnya dalam-dalam begitu ingat ancaman Kun. Rasanya Ten ingin memaki temannya sendiri, tetapi kemudian sadar bahwa ini namanya sedang sial dan sebagian kecil termasuk kesalahannya. Salahnya sendiri ia mengulur waktu untuk duduk diam di depan televisi sejak pagi.

Oke, oke, ini salahnya yang sedang kena sial.

Tiba-tiba, terlintas kini di pikiran Ten mengenai Emerald Lee, nama yang disebut Kun sebagai temannya. Bayangan gadis cantik menawan namun sombong seketika terlintas di benak Ten. Membuat lelaki itu menggeleng pelan dan bergumam bahwa itu bukan tipe gadis idealnya.

“Kau tidak masuk?”

Seketika lelaki itu menoleh ke sumber suara. Di sana, tampak kepala seorang gadis dengan rambut ikal yang diikat tinggi menyembul keluar dari pintu kaca.

“Masuklah. Apa tidak dingin berdiri terus di situ?”

Tak lama Ten mengangguk dan kepala si gadis langsung masuk ke dalam begitu melihat reaksi lelaki itu. Sejenak Ten mengamati tempat ia berteduh sedaritadi—yang ternyata minimarket kecil di sudut jalan, lalu mendorong pintu minimarket seraya membenarkan letak ranselnya.

Begitu masuk, lelaki itu sudah disuguhkan pemandangan gadis tadi yang sedang menghitung uang di mesin kasir. Ia memakai celana hitam dan atasan hoodie biru muda dibalik seragam kerjanya.

Tepat di seragam kerjanya tersemat label nama bertuliskan Emma. Karena mata Ten masih dapat menjangkau jarak pandangnya.

“Tidak berniat mengambil ramen instan? Kau bahkan tidak memakai hoodie di tengah hujan begini,” sahut gadis kasir minimarket berlabel Emma ketika ia memandangi Ten yang menatap sekeliling dengan linglung.

Seketika, sikap Ten berubah kikuk begitu mendengar sahutan si gadis yang amat tiba-tiba. Ya ampun, gadis ini pengamat atau apa sih? “Hoodie-ku ada di dalam ransel.”

Gadis itu mengangguk sambil bergumam begitu mendengar jawaban Ten. “Oh, begitu.”

Ramen instan. Ten kemudian mendelik ke arah Emma yang kini berjalan menuju rak berisi camilan kecil. Baiklah, tawaran gadis itu boleh juga, jadilah Ten berjalan menuju rak berisi ramen instan lalu beralih ke arah dispenser. Setelah diseduh, barulah lelaki itu duduk di depan meja yang telah disediakan.

Ten memandang gemericik derasnya hujan yang tak kunjung reda dibalik kaca beningnya. Sepertinya tiga puluh menit bukanlah waktu yang cukup untuk menunggu hujan reda. Sudah dipastikan, bahwa Kun akan membatalkan diskusi kelompok dan pergi ke rumah Emerald Lee siapalah itu. Bagus, bersiap saja untuk Ten yang merana karena belum siap menghadapi ujian minggu depan.

Satu helaan napas keluar dari hidung Ten bersamaan dengan langkah kaki yang hendak berjalan, membuat lelaki itu menoleh. Atensi Ten mendapati si gadis kasir minimarket hendak berjalan menuju lemari es berisi berbagai macam minuman ringan.

“Hei.”

Manik mata gadis itu beralih ke arah Ten yang seolah memanggilnya. Tangannya secara refleks mengambil sebotol yogurt rasa leci dan menutup pintu lemari. “Apa?”

“Kau tidak kesepian bila seperti ini terus?” tanya Ten. “Aku kesepian dan butuh teman mengobrol.”

Tak butuh jawaban karena langkah kaki gadis itu mendekati Ten dan berakhir duduk di samping lelaki itu. “Jadi, apa yang ingin kau obrolkan?” ucapnya.

Hening.

“Namamu Emma ya?” tanya Ten memulai pembicaraan.

Gadis itu memandang Ten sebentar, kemudian menunduk melihat label nama yang tersemat di seragamnya sendiri. “Iya.”

“Hanya Emma?” tanya Ten lagi sambil memandang gadis itu.

Seketika Emma—nama yang sudah diakui secara tak langsung oleh si gadis kasir—mendelik ke arah Ten dengan sebal. “Memang mau dimasukkan apa lagi di dalam namaku, hah?”

Galak. Satu pikiran yang terlintas di benak Ten saat ini. Tapi menarik.

“Aku hanya ingin tahu saja,” ungkap Ten sembari mengangkat kedua bahunya. Lalu, ia kembali angkat suara, “Kau bekerja saja atau…”

“―Aku bekerja paruh waktu disela sibuk kuliah,” imbuh Emma cepat-cepat seraya meneguk yogurt rasa lecinya.

“Kenapa? Apa kau merantau? Jurusan apa yang kau ambil di perkuliahan? Kau tinggal di―”

“―Ya ampun,” tukas Emma lagi seraya memandang Ten dengan heran. “Kau seperti mau wawancara denganku saja. Bahkan, aku juga belum tahu siapa dirimu. Apa kau biasa bersikap begini di depan orang lain selain aku?”

Akhirnya Ten menyadari sikap keingintahuannya yang berlebihan. Astaga, tak biasanya lelaki itu begini. Sepanjang ingatan lelaki itu, ia tak pernah sekalipun bersikap ingin tahu pada siapapun. Apalagi orang lain.

Pengecualian untuk Emma mungkin, karena Ten merasa ada yang menariknya dari gadis itu.

“Maaf. Dan, namaku Ten omong-omong,” ungkap Ten akhirnya. “Jadi―”

―Ciitt!

“Emerald Lee, ada cola tidak di dalam lemari es? Cepat pulang, kau sudah dicari Mark untuk menemaninya pergi ke Myeongdong tahu. Aku pusing mendengarnya menggerutu terus sejak pagi.”

Dahi Ten mengerut begitu melihat sosok gadis berambut pendek sebawah bahu yang datang tanpa babibu, langsung mengoceh panjang tanpa melihat ke lawan bicaranya. Lagipula, ia datang sendirian. Lalu, siapa lawan bicaranya?

“Kenzi! Astaga, dari mana saja kau? Pakaianmu basah pula, kau bawa payung tidak sih?”

Seketika Ten menoleh ke arah Emma yang kini bicara—seolah menyahuti ucapan si gadis barbar tersebut. Tunggu, ada yang aneh di sini. Kenapa Emma menyahut ucapan orang itu? Ten juga ingat, sepertinya Kun pernah menyebut nama yang dipanggil oleh gadis barbar―

“Siapa dia?” tanya Ten langsung pada Emma. “Dan, siapa pula Emerald Lee?”

Emma segera menoleh ke arah Ten yang kini memandangnya dengan rasa penasaran membuncah. Membuat gadis itu menghelakan napas sebentar dan berkata, “Dia adikku, Mackenzi Lee. Dan, Emerald Lee itu aku.”

Seketika Ten membulatkan kedua matanya dan melongo. Matanya mengerjap tak percaya ketika Emma sibuk meneguk kembali yogurtnya.

“Lalu, Emma?”

“Emma itu nama panggilanku,” ungkap gadis itu santai.

Ten masih mengerutkan kening tak percaya. “Berarti kau mengenal Kun? Qian Kun?”

“Dia temanku. Dan katanya mau mengajakku belajar bersama.”

“Aku juga temannya dan ingin diskusi kelompok dengannya untuk ujian minggu depan.”

Keduanya saling adu pandang dengan tatapan kaget. Kemudian, seulas senyum lebar terukir dari bibir Emma.

“Ya sudah, kau ikut aku belajar bersama saja dengan Kun.”

Dan, tanpa pikir panjang Ten segera mengangguk setuju sambil tersenyum.

Oke, mari kita lupakan janji temu dengan Kun beberapa menit kemudian dan berterima kasihlah pada Tuhan. Setidaknya Ten sudah tahu gadis mana yang akan diajak Kun untuk belajar.

Karena kini, Ten merasa saat ini dunia begitu kecil.

-fin.

20160211 © AirlyAeri

Debut fanfict mas Ten. Ya ampun, ini apaan sih duh Gusti? Hambar kayanya, gatau deh. Aku padahal berusaha banget nyari feel fic ini tapi… yaudah deh. Gimana penilaian yang baca aja yah. Huft.

Mungkin bakalan bertebaran fic Ten-Emerald dariku (mungkin) atau entar special fic Lee family Emerald-Mackenzi-Mark yang bertebaran hasil kolaborasi dengan Berly /eh/bocor/yodahlah/ihik/. Doakan supaya lancar ya teman-teman >_<

Selamat membaca dan semoga menikmati. Kritik dan saran sangat dinantikan.

Sekian dan terima kasih.

-Airly.

cla_mwguwaeyvfj
Special martabak bangka eh maksudnya Ten ding
Advertisements

11 thoughts on “[Vignette] 10 O’clock

  1. Ya ampunnn ya ampunnnn ya ampunnnn ini Ten nya cerewet amatttt, sepertinya cocok jadi wartawan kamu, Ten.

    Dan ciee cieee ketemu sama Emma alias Emerald, diajak belajar bareng pula, bersyukurlah pada Tuhan karena sudah menurunkan huja, Ten, kan kalau gak hujan gak bakal ketemu cewe XD

    Nice ff >_< ❤

    Liked by 1 person

  2. Kiyaaaahh, kiyaaaahh kak Emmaaaa!!!! kiyaaaaah dedek Kenzi, kiyaaaaaah dedek Mark, kiyaaaaah abang Ten yang namanya sepanjang jalan kenangan wawawaaa!!!! XD /dateng-dateng langsung tereak-tereak pake toak/
    Aigoo aigoo, DHAEBAK LAH THOR! /LOLZ/ Jelas banget ceritanya koek ;;__;; mane hambar sih ai???? Kujadi tambah mupengkaaann~~~ huwaaaa /UHUKUHUK/ INI CO CUIT AMET, JADI EMESH………….
    Sekian deh ah nggak mau panjang-panjang merusuh. Nanti diusir sama kak Emma yang galak heuuu ;;_;; /ditendang/ Good luck untuk Lee fams dan kisah Ten-Emeraldnya yaaaaa /ihik/tebar-tebar kisseu bareng Mark/ ❤ ❤ ❤

    Liked by 1 person

    • Oke, mari kita abaikan teriakan toak milik Kenzi /dibuang ke laut/ XD
      Anyway, terima kasih sekali atas pujiannya, ku jadi malu /ihik/. Abisnya kupikir hambar ber ngerjainnya aja semalem doang setelah kemarin kena webe ;;;;; Awas jangan mupeng sama Ten-Emerald, kembalilah pada Johnny Seo. /hushus/dilempar/
      Bilangnya ga mau panjang, tapi hasilnya panjang juga -_- yaudah good luck juga ya buat Johnny-Mackenzi dan Lee fams dunia fana kita ;; catetan Emma ga galak, cuman garang /kibas rambut Emma/ea/
      Sekali lagi terima kasih sudah baca dan memberikan review berrr >< 🙂

      Liked by 1 person

      • Apa atuhlah, dek Kenzi hanyalah butiran debu dari seorang Emma……(?) x)
        Yah, pokoknya kutunggu FF lain Emerald-Ten beserta Lee Famsnya yang lain darimulaah~~ XD hahahah, kalo bisa sih sama yang Mackenzi Johnny-nya juga sekalian bikinin wkwkwk /ini kode yang sungguh minta dipekain(?)/ ❤

        Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s