[Ficlet] Conffesion

7fb4cffd4ee096d62723e5816ad16499

Conffesion 

story by ayshry

[NCT’s] Ji Hansol, [OC’s] Yoon Jooeun with [SVT’s] Yoon Junghan

AU!, Romance, Fluff/Ficlet/G

related to Likelihood

***

Jooeun berusaha tenang meski kakinya sedari tadi tak bisa terhenti bergerak. Tangannya memain-mainkan tali tas selempangnya dan maniknya kerap kali melihat kearah pintu masuk. Gadis itu tak berbakat untuk menyembunyikan kegelisahannya.

“Tenanglah, Joo.” Suara Junghan—sang kakak kembarnya—nyatanya tak bisa memperbaiki keadaan. Jooeun masih gelisah.

“Kenapa aku gugup sekali, ya, Kak?”

Junghan mendesah, disandarkannya punggungnya pada sandaran kursi lantas berkata, “Kau sendiri yang mau ikut ‘kan? Ini bukan semacam kencan buta, kau hanya ingin ikut denganku karena kebetulan aku sedang ada urusan dengan Hansol dan jangan terlalu banyak berharap, Joo. Siapa tahu dia sudah punya kekasih atau—”

“Iya-iya, aku tahu, Kak.”

“Hei, disini, Hansol-ssi.” Junghan tiba-tiba berdiri sembari melambai kearah pintu masuk.

“Itu dia, Kak?”

Junghan mengangguk.

“Kak, apa penampilanku baik-baik saja? Aku sudah cantik ‘kan? Bagaimana ini? Aku—“

“Halo, Junghan-ssi dan—oh, kalian kembar?”

Junghan tertawa sebelum kemudian berkata, “Halo, Hansol-ssi. Iya, kami kembar, hehe sedikit membingungkan ya? Karena tak ingin pergi sendirian, jadinya aku mengajak dia. Kau tak keberatan bukan?” Junghan berdusta, jelas saja tadi Jooeun yang merengek ingin ikut dengannya.

“Oh, tentu saja tidak. Aku hanya sedikit terkejut. Kau yang laki-laki saja secantik ini, tak kusangka kau memiliki kembaran yang tak kalah cantik darimu.”

Astaga, dia menggombal! Stay cool, Joo, stay cool, batin Jooeun

“Jadi, siapa namanya? Kembaranmu itu.”

“Oh iya, aku sampai lupa mengenalkannya padamu. Namanya Jooeun, Yoon Jooeun.”

Junghan melempar pandang pada Jooeun, memberi kode agar gadis itu—yang entah sejak kapan berubah menjadi pendiam dan pemalu—menyapa Hansol.

“Hai, Jooeun-ssi. Namaku Hansol, tentu saja kau sudah tahu ‘kan?” Hansol tersenyum, tangan kanannya ia sodorkan demi berjabat tangan dengan Jooeun.

Jooeun menyambut tangan Hansol malu-malu. “Hai, Hansol-ssiah, kau tak keberatan jika aku memanggilmu dengan sebutan Kakak?”

Kali ini Hansol tertawa. “Tentu saja tidak, panggil aku senyamanmu saja.”

“Oh, terimakasih, Kak.” Jooeun terkekeh.

Junghan geleng-geleng. Dengan susah payah ia menahan diri agar tidak menjitak kepala saudarinya itu karena tingkahnya yang tiba-tiba berubah manis dan nada suaranya—astaga! Junghan bahkan tak pernah mendengar sang adik berbicara padanya dengan nada yang semanis saat ia berbicara dengan Hansol.

Apa semua perempuan berubah menjadi manis ketika ia tengah kasmaran? batin Junghan.

Junghan berdehem lantas berkata, “Joo, kau disini dulu ya aku ke toilet sebentar.”

“Eh, Kak?”

“Tidak apa kan aku meninggalkan Jooeun bersamamu, Hansol-ssi?”

“Tentu saja.”

“Tapi—“

“Hanya ke toilet, sebentar saja kok.” Junghan mengedipkan sebelah matanya. Pemuda itu berdiri lantas melangkah pergi. Meninggalkan Jooeun yang membisu lantaran gugup.

“Sepertinya Junghan sengaja meninggalkan kita berdua.”

“Eh?”

Hansol tertawa. “Aku hanya bercanda. Kenapa kau terlihat tegang sekali? Apa kau tak nyaman denganku?”

“Tidak-tidak, aku hanya eum, tak terbiasa, iya tak terbiasa, Kak, hehe.”

“Apa kau tertarik padaku?”

“Ha?”

“Aku bercanda lagi.”

Sial.

“Bagaimana jika aku bilang, aku tertarik padamu?”

“Apa?” Jooeun menoleh. “Ah, kau bercanda lagi ‘kan, Kak?”

Hening.

“Kenapa Kak Junghan lama sekali sih?”

“Jooeun-ssi, apa kau percaya dengan cinta pada pandangan pertama?”

Atensi Jooeun sepenuhnya terenggut, matanya membulat, bibirnya ternganga seakan ingin mengeluarkan kata-kata namun tersendat entah dimana.

“Sebenarnya, pertama kali bertemu dengan Junghan, aku pikir dia itu perempuan.” Hansol terkekeh. “Kau tahu ‘kan, untuk ukuran laki-laki, kakakmu itu sangat cantik dan aku sempat bepikir jika Junghan memang seorang perempuan, maka aku harus bisa merebut hatinya. Aku sedikit gila ya?”

Kata-kata masih tercekat di tenggorokan Jooeun. Ia masih mencari cara bagaimana agar bibirnya kembali mengeluarkan rangkaian kalimat yang sudah tertumpuk di pikirannya.

“Dan tentang aku yang tertarik padamu itu … aku tidak bercanda, Joo. Ya, awalnya aku memang tertarik pada kakakmu lantaran mengira dia seorang perempuan, tapi setelah bertemu denganmu, rasanya aku eum seperti mendapatkan keajaiban.”

Diam-diam Hansol menarik kursinya agar lebih dekat dengan Jooeun.

“Joo? Kau baik-baik saja? Ah maaf kalau kata-kataku sedikit keterlaluan, seharusnya aku tak mengaku secepat ini, tapi rasanya aku tak bisa menahannya. Entahlah, kuakui aku memang sedikit tak waras tapi aku tak berbohong, sedikitpun.”

“Kau serius, Kak?” Pada akhirnya Jooeun berhasil menguasai diri dan kembali bersuara. “Kau eum, bukan laki-laki penggombal ‘kan? Oh, maksudku kau tidak mengatakan semua kegilaan itu pada setiap perempuan yang baru kau jumpai ‘kan?”

“Iya, Joo, aku bersungguh-sungguh.”

“Tapi, kau ‘kan tertariknya pada Kak Junghan, bukan padaku.”

“Eh? Soal itu, bukan maksudnya seperti itu—ah, bagaimana ya, aku hanya berandai-andai saja dan tiba-tiba kau muncul, jadinya aku tak bisa menahan diri untuk tak mengatakan semuanya. Dan lagi—“

“Jadi kau tertarik padaku atau pada Kak Junghan?”

“Tentu saja padamu, Joo.”

“Sungguh?”

“Apa hal seperti ini patut untuk dijadikan bahan candaan, Joo? Ya meskipun terbilang mendadak, tapi sungguh, aku benar-benar tertarik padamu.”

“Bukan lagi pada Kak Junghan?”

Hansol menggeleng. “Sudah kukatakan, saat itu aku hanya berandai-andai saja. Bukan benar-benar tertarik padanya.”

Jooeun tertunduk, ia mengulum bibirnya agar tak kentara sekali jika saat ini ia tengah berbunga-bunga.

“Omong-omong, kau sendirian ‘kan—oh, maksudku kau tidak memiliki kekasih ‘kan?”

Jooeun mengangguk malu-malu.

“Jadi artinya, aku bisa mengenalmu lebih dekat lagi tanpa menjadi seorang pengganggu ‘kan? Dan kau juga—“

“Ya, aku juga tertarik padamu, Kak.”

Hansol baru akan bersorak kegirangan ketika Junghan tiba-tiba sudah berada disana entah sejak kapan.

Junghan melirik Jooeun, bisa dilihatnya sang adik tengah tersenyum malu-malu, wajahnya merona dan maniknya tak terlepas dari paras Hansol. Sedangkan Hansol hanya memamerkan cengirannya sembari menggaruk belakang kepalanya, kentara sekali pemuda itu tengah dilanda kecanggungan.

“Sepertinya sesuatu telah terjadi selama aku pergi tadi. Iya ‘kan, Joo?”

“Ah? Tidak ada apa-apa kok, Kak.”

“Tidak-tidak, aku tahu ada yang tak beres disini.” Junghan menatap keduanya bergantian. “Joo, kau berhutang cerita denganku. Setiba di rumah nanti kau harus menceritakan semuanya, dan kau Hansol-ssi, berhenti memasang muka konyol itu dan sebaiknya kita mulai diskusi kita tentang projek kolaborasi kita.”

Junghan kembali sibuk dengan naskah dramanya. “Oh, hampir saja lupa, besok kau bisa meluangkan waktumu untuk datang ke ruang drama? Kita harus berdiskusi dengan pemeran lainnya. Kau ada waktu ‘kan, Hansol-ssi?”

“Tentu saja, Junghan-ssi.”

-Fin.

Kyaaa akhirnya mbajoo debut juga bareng mashansol kyaa kyaaa, miyane ini datang-datang malah bawa fic gaje beginian, miyane ceritanya pasaran terus ya itu mashansol malah dibikin genit-genit menggoda gitu /teu ay/ aaah pokoke mbajoo wes debut kyaa kyaaa /digampar budir/

Btw lat, ininih wes tak bikin, puas? Ntar tak sambung lagi kalo mood /plak/

So, mind to review?

ay

Advertisements

9 thoughts on “[Ficlet] Conffesion

  1. KYAAAA! MBAJOO DIKAU JUJUR SEKALI.. Itu Mas Hansol apa coba, segenit itu?
    sebenernya aku berharap kalau Mas Hansol punya pikiran buat BoyxBoy sama Junghan /gimana ya Ay?/keracunan Minnie/ 😀

    Like

    • Mbajoo emang jujur kok kak, saking jujurnya jadi sering ketipu /eh

      Jangan kak, jangan nodai aku dengan boyxboy lagi jangaaaaaan, cukup mas hansol sama mbajoo aja kan udah mirip-mirip tuh sama kakjunghan /plak/

      btw ini komenan jaman kapan balasnya kapan bhak miyane kakfeb dan makasih udah mampir disini /tebar kisseu/

      Liked by 1 person

  2. MBAJOO DEBUT HORE HORE HOREEEEEEEEEE DAN AKHIRNYA MAS HANSOL TIDAK BERSAMA RISOL LAGI /cukup don cukup/

    NGYAHAHAHAHHAAHAHAHAHA jadi aku mikirnya sebelum mbajoo curhat ke junghan kalo dia suka hansol itu sebelum2nya si hansol ini emang, ehm diem2 suka sama mbajoo dan curhat ke junghan dan akhirnya si junghan pura2 ke toilet biar mereka berduaan. Bukankah begitu kak ay?

    terus kapan mereka jadian kak ay, biar daku yang nerusin usaha risolnya /dibakar kak ay/

    Like

    • CUKUP KAKDON, CUKUP! SETHAP BAWA BAWA RISOL LAGI, MBAJOO SUDAH MABOK RISOL BHAK

      Engga kok engga, sebenarnya mbajoo yang sudah berkomplotan sama kakaJunghan, mbajoo yang kegenitan kok sebenarnya /plak/

      Jadiannya? Doain aja secepatnya ya kak, silahkan itu ambil aja usaha risolnya mbajoo iklas kok kak, selama kakdon seneng mbajoo ikutan seneng kok /ga/

      btw makasih udah mampir kakdon /peluk cium dari mbajoo dan risol-nya mashansol/ /bhak

      Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s