[Vignette] Just Press Your Number

CcTTGqtUYAAHPeG

Just Press Your Number 

A Vignette storyline By Berly
©2016

Starring : Ten Chittapon Leechaiyapornkul,  Emerald Lee (OC). Mentioned : Qian Kun, Mark Lee, Mackenzi Lee (OC), And others.

| Comedy, Romance, Friendship | General | Vignette (1500+ words) |

I Just own the plot! No plagiarism! And Happy Reading!

.

Ck..ck.. Maaf, Ten. Nampaknya anda tak melulu selalu beruntung kali ini.

.

(Backsound Playing : AOA CREAM – I’m Jelly Baby)

***

Sore ini langkah Ten merujuk ke arah sebuah halte bus, tungkai kakinya berjalan menyusuri pinggir jalan seiringan dengan kegiatan tangan menyematkan headset di kedua telinganya. Ten memutar playlist secara acak dari ponselnya, melantunlah sebuah lagu romantis, entahlah, Ten merasa lagu romantis ini lumayan menghina kesendiriannya. Namun bukannya merasa sedih, dirinya malah tengah memasang wajah sumringah tiada henti sejak awal keluar dari sebuah gedung olahraga. Ekspresi bagaikan habis memenangkan sebuah permainan lotre milyaran, itulah yang tersuguh jelas di paras pemuda itu saat ini.

Bagaimana tidak senang? Dirinya baru saja memenangkan medali emas juara pertama berikut mendapat sabuk hitam di sebuah pertandingan Nasional Taekwondo pada hari ulang tahunnya. Ya, benar. Sekarang adalah hari ulang tahunnya. Setelah sekian lama bekerja keras akhirnya pemuda itu bisa membuktikan juga bahwa dirinya mampu mendapatkan medali emas yang sudah diimpi-impikannya sejak dulu. Momen ini merupakan hadiah berharga yang tak akan pernah dilupa oleh seorang Ten. Hari ini merupakan hari special baginya.

Bukannya pemuda itu ingin sombong hanya karena sebuah medali emas yang baru didapatkannya, ia hanya ingin sekadar memberi tahu kalian bahwa dirinya juga sudah master perihal bela diri Muai Thai di negeri tempatnya dilahirkan, Thailand. Dan itu merupakan modal utama untuk pertahanan diri dan kemandirian seorang Ten tentunya. Maka dari itu Ten perlu mensyukuri nikmat itu, bukan?

Tak berapa lama Ten berjalan, netranya tahu-tahu tak sengaja mendapati sosok seorang gadis tengah berdiri di halte bus tujuannya. Ten kenal dengan sosok gadis itu, omong-omong. Gadis pekerja paruh waktu di sebuah minimarket dekat kampus—berikut teman dekat Qian Kun—yang adalah teman kelas kampus Ten. Ten sudah ingat betul di luar kepala, nama gadis itu adalah Emerald Lee. Ada keperluan apa gadis itu berkeliaran di daerah ini, Ten tentu tak tahu urusannya.

“Emma?” Ten membuka kedua headset-nya ketika sudah sampai di samping gadis itu lalu menyapa.

Yang merasa terpanggil menolehkan pandangannya sejenak, sontak gadis yang sering dipanggil Emma menyahut seraya tersenyum manis ke arah Ten, “Eh, Ten?”

Entah ada angin apa, senyuman itu muncul bersamaan dengan terpaan lembut sang bayu pada surai kelam panjangnya, bagaikan diputar dalam adegan slow motion. Manisnya. Batin Ten ketika melihat garis asimetris terkembang milik Emma yang tersuguh di hadapannya.

“Nampaknya seorang Emma sedang memiliki keperluan juga di daerah ini?” Kata Ten memulai pembicaraan menghilangkan rasa canggung, gugup, tak lupa balas tersenyum pada Emma.

“Ya. Kau benar, aku punya urusan di distrik ini dan aku sudah selesai dengan urusanku itu, kau juga begitu?” Respon Emma menimpali. Sesaat bus pun datang, lantas keduanya masuk ke dalam bus yang sama.

“Ya, aku juga sudah selesai dengan keperluanku di daerah ini. Dan rupanya kita searah jalan pulang?” Kata Ten lagi, lantas berdiri di sebelah Emma seraya mengamit pegangan yang tersedia di langit-langit bus, sayang sekali, busnya penuh penumpang, membuat Ten dan Emma tak kebagian tempat duduk alih-alih berdiri berdampingan.

.

.

.

“Loh, Ten? Kau juga turun di sini? Bukannya katamu haltemu berseling empat halte setelah ini?” Emma bertanya saat menyadari Ten ikut turun bersama Emma di halte yang sama.

“A-aku tiba-tiba lapar Em, mau menemaniku makan ramyun instan di minimarket itu? Aku yang traktir!” Ten menyeringai membuat sebuah alasan lantas menunjuk sebuah minimarket. Entah kesambet apa, Ten hanya ingin keluar sebentar, dan mungkin tidak buruk jika ia mengajak Emma untuk menemaninya sekadar makan ramyun instan di minimarket dekat dengan perumahan Emma,’kan?

Emma sempat berpikir sejenak sebelum mengambil keputusan untuk mengangguk atas jawabannya. Kebetulan Emma memiliki waktu luang, jadi tak ada salahnya jika dirinya akan ditraktir Ten untuk makan ramyun instan di minimarket dekat perumahannya. Lagipula Emma baru ingat akan permintaan Mark—adik bungsunya yang menitip dibelikan camilan ubi dari minimarket depan perumahan kala Emma sudah pulang dari urusan.

Ten senang saat Emma menyetujui ajakkannya. Akhirnya di meja panjang menghadap jalan inilah Emma duduk, menunggu Ten datang membawakan jatah ramyun instannya yang telah diisi air panas.

“Yeah! Ini dia ramyunnya, Emma. Apa kau kemari karena ingin membeli sesuatu juga?” Kata Ten seraya memberikan ramyun instan untuk Emma, tak sengaja netra Ten menangkap apa yang tengah digenggam Emma di tangannya.

“Oh, iya ini Mark menitip camilan tadi di jalan, jadi aku belikan saja. Kebetulan kau mengajakku ke sini, jadi ya sekalian saja. Terima kasih atas traktiran ramyunnya, ya, Ten.” Ungkap Emma tanpa sungkan.

“Ya sama-sama, Em. Aku hanya sedang lapar, kebetulan aku baru mendapatkan juara pertama Taekwondo di hari ulang tahunku ini, jadi anggap saja aku mentraktirmu karena kemenanganku itu, Emma.” Ucap Ten sembari mengumbar senyuman amat teramat lebar.

“Eh, jadi hari ini ulang tahunmu? Wah, pantas saja kau repot-repot ingin mentraktirku. Selamat ulang tahun, Ten, aku baru tahu. Dan juga selamat untuk juara pertamanya, pasti senang ya mendapatkan medali emas.” Kata Emma ikut senang akan kebahagiaan Ten di hari ini.

“Terima kasih atas ucapan selamatnya, Em. Tapi kau tahu satu hal lagi tidak? Kebahagiaanku baru saja bertambah hari ini.”

“Bertambah? Kok?”

“Iya, karena aku tengah makan ramyun berdua bersama gadis cantik sepertimu di tempat ini.”

Pipi Emma sedikit memanas kala mendengar gombalan dari seorang Ten, “Oh ya? Kenapa kau senang? Padahal aku,’kan tidak memberimu kotak hadiah sama sekali di hari ulang tahunmu ini. Malah kau yang repot-repot mentraktirku ramyun.” Kata Emma meladeni gombalan Ten.

“Kurasa aku tak memerlukan kotak hadiah darimu, Emma. Kau hanya harus, eung… Sebentar..” Kata Ten, lalu jeda sejenak lantaran Ten merogoh-rogoh saku celana jeans-nya. Emma sedikit bingung atas apa yang tengah Ten lakukan.

“Ini.” Kata Ten lagi, menyodorkan ponsel miliknya pada Emma.

Emma gagal paham, benar-benar dibuat bingung sekarang. Loh? Ponsel Ten buat Emma? Bukannya Emma yang harusnya memberikan sebuah hadiah pada Ten, kenapa jadi laki-laki itu yang memberikan hadiah padanya? Hey, asal kalian tahu, dengan senang hati kok kalau Emma benar-benar dikasih ponsel gratis oleh temannya itu.

Emma pun menerima ponsel Ten agak ragu, wajah Emma penuh dengan tanda tanya besar. Namun Ten tak angkat bicara lagi, laki-laki itu malah melanjutkan makan ramyunnya dengan lahap seiringan bersama munculnya semburat rona merah padam di kedua pipi pemuda itu.

“Ten? Kau memberikan ponselmu padaku secara cuma-cuma?” Tanya Emma polos. Gadis itu benar-benar tak paham apa maksud dari seorang Ten.

Detik selanjutnya Ten menoleh lagi ke arah Emma, lalu laki-laki itu terdiam sejenak. Benar juga, Emma,’kan tidak tahu maksud Ten apa. Laki-laki itu benar-benar bodoh. Ten meringis kecil di dalam hatinya.

“Emma, just press your number in my phone as your present for me, ok. Save it. Or I will ask some present that ekspensive now from you. Dan jangan protes apapun, karena aku yang sedang ulang tahun hari ini.” Jelas Ten mengoceh, lantas Ten meneguk minuman miliknya hingga kandas tak tersisa.

Cerewet sekali. Emma mendelik, lalu tertawa geli dibuatnya, “Astaga, heol! Kukira kau benar-benar akan memberikanku ponselmu secara cuma-cuma, Ten! Kalau nomor ponselku sih, akan aku kasih. Bilang saja yang jelas sedari awal! Ampun..” Kata Emma tak mengerti, seraya menggelengkan kepalanya. Masih sambil tertawa gadis itu mengetik nomornya pada ponsel Ten, lalu menyimpannya di sana.

“Ini!” Suara Emma lagi-lagi bergema, gadis itu kembali menyodorkan ponsel Ten pada si empunya.

Ten terdiam sejenak, meneguk salivanya dalam-dalam seraya fokus netranya menatap layar ponselnya yang sudah tertera jelas nama Emerald di dalam daftar kontak. Entah mengapa, hati Ten terasa berbunga-bunga ketika dirinya berhasil mendapatkan nomor Emma.

Tapi, Kun pernah cerita pada Ten, kalau Emma itu sangat susah bila dimintai nomor ponselnya. Yah, bisa dibilang gadis itu pelit akan nomor ponsel, jika pada orang asing atau teman jauh yang tak begitu dikenalnya. Terakhir kali ada seorang laki-laki yang meminta nomor ponsel Emma, tapi oleh Emma laki-laki itu malah diberikan nomor adiknya yang bernama Mark, kata Kun.

“Itu benar nomormu,’kan? Bukan nomor adikmu?” Tanya Ten memastikan, mencoba menggoda Emma yang kini tengah kembali memakan jatah ramyunnya. ”Atau kuharap kalau nomor ini bukan nomor telepon kucing di rumahmu yang benama Miho itu.” Sambung Ten lagi, sedikit cemas.

“Mmm… misscall saja kalau tidak percaya.” Kata Emma mengangguk, sukses membuat Ten percaya diri akan nomor ponsel Emma yang sesungguhnya. Akhirnya Ten mencoba menelepon nomor itu, dan benar saja, langsung mengalun sebuah lagu dengan getaran halus dari tas selempang Emma. Dan hal itu benar-benar membuat Ten tersenyum puas.

“Sudah percaya,’kan sekarang?” Kata Emma lagi sembari melirik Ten.

Ten tersenyum lebar, lalu menunjukkan jempolnya pada Emma. Pemuda itu benar-benar senang, tidak, bukan hanya memenangkan medali emas, bertemu Emma dan makan bersama Emma, pemuda itu juga berhasil mendapatkan nomor Emma dari orangnya langsung!

Emma kembali tersenyum, lantas meneguk yogurt kesukaannya yang dibeli dengan uangnya sendiri di minimarket ini.

.

.

“Mungkin lain kali kita harus makan ramyun berdua lagi, Em. Sampai ketemu lagi!” Kata Ten dengan sumringahan di wajahnya. Laki-laki itu melambaikan tangannya seraya memasuki bus tujuan pulangnya.

Emma mengangguk menyetujui ajakkan Ten. Gadis itu pun balas melambaikan tangannya, “Hati-hati di jalan, Ten.” Ungkap Emma sembari mengumbar senyuman manis.

Setelah bus itu menjauh dari pandangan Emma, Emma langsung mengecek ponselnya yang berdenting karena bunyi sebuah pesan. Kali ini pesan yang berasal dari Mackenzi Lee—adik tengahnya.

“From Kenzzz : Kak Emma, kau membawa ponsel kecil Dad tanpa sepengetahuan Dad lagi ya? Ya ampun, Dad mencarinya sedari tadi di rumah, tahu.”

Emma pun mengetik sebuah pesan untuk membalas pesan tersebut.

“To Kenzzz : Aku sudah di depan minimarket dekat perumahan, kok, bilang pada Dad sebentar lagi ponsel kecilnya kembali.”

Klik. Emma menekan send pada layar touch screen ponselnya ke nomor Mackenzi.

Salah satu sudut bibir Emma terangkat naik, lalu gadis itu kembali menatap jalan raya yang nyatanya bus yang dinaiki Ten sudah melesat hilang. Ten tak tahu saja, kalau, nomor yang Emma ketik di minimarket tadi adalah nomor ponsel kecil milik ayahnya yang dibawanya selama pergi tadi di tas selempang. Tentu saja bunyi dering ponsel yang bergema kala itu adalah bunyi dering ponsel kecil milik ayahnya—alias bukan nomor ponsel asli Emma.

Kau pikir nomor ponselku akan semudah itu kuberikan pada laki-laki tipe penggombal sepertimu, Ten? Lihat saja, apa jadinya nanti. Selamat ber-sms ria bersama Dad, ya, Ten. Emma sedikit terkikik geli akan kejahilannya sendiri.

Ck..ck.. Maaf, Ten. Nampaknya anda tak melulu selalu beruntung kali ini.

.

.

FIN

2412326842_1042280853Emerald Lee Visual

Bhakakakak, maafin owe Ten, menistakanmu jadi orang yang terlalu modus. Selamat ultah Ten /telat mbak Ber/ udah gapapa biarin telat yang penting gurih/?/ Terima kasih buat yang udah mau baca cerita absurd yang alurnya super ngebut ini wkwkwk. Ditunggu riviewnya, jejak kalian adalah  oksigen! Have a nice day guys! ^-^ /Pyeong/

Advertisements

9 thoughts on “[Vignette] Just Press Your Number

  1. Ihhhh Emm kok gitu sihhhh, kan kesian Ten. Gima ntar kalau Ten malah nembak Dad di sms gara-gara kamu coba? #cubitEmm #kaburrr

    Sini Ten, aku kasih no hp aku aja, biar nanti kita smsan ampe jari kriting atau tleponan ampe suara serak #dijambakEmm

    Like

    • Kyaaaa kak Ve komen kyaaaaa………
      Emma emang gitu kak kelakuannya, sok jual mahal /eh/ XD biarkan Ten pedekate ama bapaknya Emma dulu kak. Lol.
      Kasih aja no kakak, biar si Ten gak merana wkwk.
      Makasih kak Ve dah mau mampir dan ninggalin komen ❤

      Like

  2. ber… ku baru tau ada fict ini dan astaghfirullah.. ku nyebut… bentar…
    emma, jangan gitu-gitu amat napa. ini teh maksudnya biar si ten dapet restu dari daddy gitu? biar cepetan dipinang biar cepetan nyusul daeri biar emma ga kitati lagi hah? jawab em!! :v #AirlyGilaKarenaTenEmma #TheEnd /apa sih ai -_-/
    aku ngakak ber, kadang emma garangnya keterlaluan kek kucing garong, padahal itukan calon pacarmu. duh em, tobat astaga. wkwkwk. jadi malu diriku selaku OC emma yang kelakuan begini amat wakakaka XD
    yaudah ber, padahal ngarep endingnya fluff banget, taunya zonk gara-gara kelakuan si emma sendiri. keep writing yay! 😀 ❤

    Liked by 1 person

    • Mba Ai kemana aja mba Ai, ngilang wkwkwkwkwk. sekalinya nongol komenannya panjang begini. Cuma mau bilang, Ten emang selalu nista mba Ai kalo sama Emma. Ku aja yang bikin ini gregetan sendiri ama karakter Emma. duh Em, mau lu apa sih sebenernya Em wkwkwk /seketika mba Ber ditoyor ama yg punya OC/
      Bhaq… biarin si Ten pedekate ama bapaknya Emma dulu biar seru :v /plak/

      Makasih mba Ai dah mampir baca sama ninggalin komennya, u too keep writing! /uhuuuuy/ 😀 ❤

      Liked by 1 person

  3. disaat banyak cewe cewe yang nomornya kepengen ada di hape ten, dan muncullah emma yang ngasih no hp bokapnya /ngakak hard/ nicee ff. gue suka ten jdi gombal gombal receh gitu hahahaha

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s