[Ficlet] FUNEREAL

irish-funereal

FUNEREAL

NCT`s Seo Johnny

with

OC`s Seo Lydia and EXO`s Kim Jongin

A slight!romance, family and hurt story rated by T in ficlet length

DISCLAIMER

This is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life. And every fake ones belong to their fake appearance. The incidents, and locations portrayed herein are fictitious, and any similarity to or identification with the location, name, character or history of any person, product or entity is entirely coincidental and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art without permission are totally restricted.

©2016 IRISH Art&Story All Rights Reserved

—sebuah asa yang tak bicara—

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Johnny`s Eyes…

Tak ada yang salah dengan cinta. Di mata semua orang, mungkin cinta adalah satu-satunya hal yang mereka lihat sebagai hal benar saat semuanya terlihat salah. Tapi bagiku, cinta adalah hal tak kasat mata yang seringkali tidak disadari keberadaannya.

“Ah… Kau datang?”

Kupejamkan netraku kala sopran lembut milik Lydia, adikku, menyapa rungu. Terdengar begitu lembut dan candu hingga mampu membangkitkan sebuah asa dan keinginan untuk menyentuh sang pemilik suara, menghirup aroma peach yang selalu jadi favoritnya, menyarangkan kecupan-kecupan kecil di puncak kepalanya meski ia begitu membencinya karena ia pikir aku menganggapnya anak kecil.

Kutekan kuat-kuat keinginanku untuk sekedar menyalurkan sebuah pelukan hangat pelepas rindu, untuk kemudian saling berbalas senyum untuk sama-sama memastikan keadaan yang diinginkan untuk selalu baik-baik saja.

Tapi tidak, tak bisa kulakukan hal itu sekarang.

Bukan karena Lydia tidak menginginkannya, tapi karena pria itu, yang sekarang berdiri di sampingnya sebagai seorang pendamping. Memisahkanku dan Lydia, menjadi sebuah belenggu bagiku yang hanya bisa menyimpan rindu.

Berbeda denganku yang begitu tersiksa, Lydia tersenyum, tampak bahagia, mengabaikanku yang menatapnya penuh kesedihan dan luka.

“Ayolah Lydia, kita harus cepat berangkat.” pendamping Lydia—yang merupakan sumber kebahagiaannya sekarang—tersenyum, ah, ya, jangan lupakan siapa dia.

Dia adalah Kim Jongin, sosok yang telah menghancurkan harapanku. Menginjak-injak mimpiku dan mengubahnya menjadi kenangan buruk. Sekaligus… membuatku dilupakan oleh Lydia.

Lydia tersenyum tipis, sementara ia membenahi ujung dress gelap yang ia kenakan, satu hal yang dulu sering kulakukan untuknya namun tak lagi bisa kulakukan sekarang.

Mana mungkin aku berani menyentuhnya… memeluknya… atau memberinya kecupan tanda sayang ketika Kim Jongin ada di sisinya?

Aku menghembuskan nafas panjang, menahan sesak yang menusuk kalbuku kala melihat Lydia mengaitkan lengannya pada lengan Jongin. Tidakkah ia tahu bagaimana aku terluka karenanya sekarang?

Tidak, mungkin ia tidak tahu. Mungkin juga Lydia tak ingin tahu dan tak ingin peduli lagi. Ia punya seorang Kim Jongin sekarang, untuk apa pula ia harus mengkhawatirkan perasaanku?

Lydia melempar pandang ke arahku sekilas, kurasa, hanya untuk sekedar memastikan ekspresiku, atau malah, ingin memamerkan kemesraannya bersama Kim Jongin, sebelum ia mengeratkan jemarinya pada lengan Jongin.

Sungguh, ingin aku berteriak pada Lydia dan mengatakan segalanya, mengatakan bagaimana buruknya seorang Kim Jongin. Tapi Lydia mungkin sudah terlalu buta dan tuli untuk begitu peduli.

“Ayo, sayang. Kita berangkat sekarang. Tersenyumlah, jangan memasang wajah cemberut seperti itu.” Jongin berucap, memasangkan mantel gelap—mantel yang kubelikan untuk Lydia-ku—di bahu Lydia, dan merengkuh bahu rapuhnya.

Tidak.

Aku lah yang seharusnya merengkuh Lydia, aku lah yang seharusnya melindungi Lydia, bukan seorang Kim Jongin. Tidak ada yang bisa melindungi Lydia sebaik aku melindunginya.

“Apa lagi yang kau tunggu, Lydia?” tanya Jongin ketika Lydia tak juga beranjak.

Gadisku—ah tidak, Lydia, tertunduk sebentar, memandangi buku jarinya yang ia remas kuat-kuat. Bahu Lydia bahkan mulai berguncang.

Tidak, kumohon Lydia. Jangan menangis seperti itu. Kau hanya membuatku semakin tak ingin melepaskanmu. Karena sekarang aku begitu ingin merengkuhmu dan membiarkanmu menangis di pelukanku.

“Lydia? Kau baik-baik saja?” Jongin bertanya lagi kala Lydia tak memberikan jawaban, tapi ia tidak melakukan apapun untuk menenangkan Lydia.

Muak dengan keadaan yang sekarang kutonton, aku akhirnya merajut langkah melintasi ruangan, mendatangi Lydia dan si bodoh Jongin yang masih bergeming. Aku baru saja akan menarik Lydia ke dalam pelukanku kala kudengar ia akhirnya berucap.

“Aku tidak bisa… Jongin…”

“Tidak bisa?” Jongin berucap dengan nada bingung.

“Mana bisa aku tersenyum sementara aku akan menghadiri pemakaman saudaraku sendiri? Mana bisa aku meninggalkan ruangan ini sementara semua kenangan tentang Johnny ada di sini?”

“Lydia…”

“Aku tidak bisa… Aku bahkan tidak bisa hidup tanpa Johnny. Dia tidak hanya jadi saudaraku, ia juga selalu bersikap seolah ia adalah ayah dan ibu. Tapi… kecelakaan itu… kecelakaan itu…”

Lydia limbung, sementara Jongin dengan cepat menangkap tubuhnya, menariknya ke dalam pelukan.

Ah… Lydia. Jika saja aku tidak mati, aku pasti jadi seorang yang merengkuhmu sekarang. Jika saja aku tidak mati, rasa sayangku padamu tak akan menjadi sebuah asa yang tak bicara.

Maafkan aku Lydia. Maafkan aku.

Ketahuilah, meski aku tak lagi ada di dunia ini, aku akan tetap mencintaimu, menyayangimu, melindungimu, dengan setulus hatiku… karena aku adalah saudaramu. Dan cinta seorang saudara, tak akan pernah berakhir meski dipisahkan kematian.

Jika saja kau tahu… kau adalah segalanya untukku, Lydia, adik kecilku.

FIN.

Advertisements

7 thoughts on “[Ficlet] FUNEREAL

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s