[Vignette] Another Tae

ANOTHER TAE

thehunlulu ©2016

.

[NCT’s] Nakamoto Yuta, Lee Taeyong, Seo Johnny | Friendship, horror, mystery, AU! | Vignette | General

.

–berhentilah, tengok ke belakang sejenak, aku akan berjalan ke arahmu. Tunggu sebentar.”

 .

“Rasakan itu! Hidup sebatang kara menjadi murid biologi.”

 

Cih.” Yuta mencebik, mengarahkan maniknya berkelana menjamah ke berbagai sudut di sebuah perpustakaan.

 

Belum genap obsidiannya menatap lurus melintasi buku serta kamus yang berhimpit rapi pada rak di ujung ruangan, sebuah tepukan menginterupsi langkahnya–mengajukan perintah agar tungkainya berhenti sesaat.

 

Yang ditatap hanya menggenggam tangannya lantas menepukkannya tepat di dadanya–bersandiwara seakan ia menghunuskan sebilah pisau ke dalam jantungnya lalu berpura-pura sesak napas.

 

“Apa, sih?” Yuta rasa memandang lawan bicaranya selama sepersekian detik saja sudah banyak membuang waktu, dilanjutkan dengan sandiwara bodoh yang tak bermotivasi untuknya.

 

“Ayo keluar dari sini, Yuta! Kau tak tahu semua manusia disini membuat udaranya pengap? Juga tau tak tahu jika aku memiliki penya–“

 

Telunjuk Yuta menjadi senjata ampuh sebagai penenang kecerewetan Taeyong.

 

“Jika kau merasa ingin mati, maka keluarlah.”

 

Lagi-lagi, Taeyong terlihat seperti orang bodoh. Ia yang menawarkan diri untuk menemani Yuta mencari referensi namun pada akhirnya Yuta sudah mengusirnya lebih dahulu.

 

“Hei Yuta! Siapa yang menyuruhku untuk menukarkan kartu identitasku sebagai jaminan untuk buku yang kau pinjam?!”

 

Lantas saja Taeyong berlari mengejar Yuta, melepaskan rasa sesak napasnya yang sedari tadi mencekik tenggorokannya.

 

Maka ia lekas saja merengkuh seonggok buku yang terlihat kusam–yang nyaris menyamai buku arkeologi mesir kuno katanya–lalu memberikannya pada Yuta.

 

“Ini, ‘kan katamu?”

 

Melihat buku yang ia cari sudah berada di tangan Taeyong, maka Yuta lekas-lekas menepuk sampulnya yang menebal karena debu, lalu ia membuka halaman demi halaman yang terlihat sangat lapuk itu dengan perlahan.

 

Yuta tampak terpaku pada sebuah buku fantastis yang berhasil kawannya temukan itu. Bola matanya berputar kesana kemari mengikuti arah telunjuknya yang menjamah setiap lekuk wujud gambar yang tercetak di sana.

 

Tales of mummies and mummification.”

 

Bingo!” pekik Yuta berjingkat.

 

“Lalu apanya yang menarik, sih dari proyek akhir semestermu itu?”

 

“Jadi–eww kau tahu, ‘kan proyek gila ini harus dilaksanakan pekan depan? Maka dari itu aku berharap kau tidak keberatan untuk memberiku sedikit ilmu untuk bisa bermain-main dengan–eww seonggok mayat mengerikan itu.”

 

Taeyong tahu betul jika kawan sebayanya ini tidak lebih pintar darinya, namun yang benar-benar mengherankan adalah; sebuah keputusan kelewat konyol yang Yuta ambil tidak serasional apa yang dipilih Taeyong. Disaat Taeyong yang notabenenya adalah pecinta segala sesuatu yang berbau mesir kuno–termasuk ilmu permumian yang amat sangat ia kuasai–membuatnya tak serta merta memilih biologi sebagai minatnya di sekolah menengah. Sekalipun ia tahu bahwa dengan melakukan proyek akhir semester yang terlampau mengerikan itu ia mampu merealisasikan bakatnya menjadi seorang embalmers–sebutan untuk ahli mumifikasi.

 

Tapi tidak dengan Yuta.

 

Ia hanya pemuda yang gemar menjejali setiap celah hidupnya dengan sesuatu yang menantang adrenalin–tak terkecuali bertatap muka hingga melakukan kontak fisik dengan seonggok mayat.

 

“Baiklah.”

 

Untuk kali ini Taeyong bersabar, maka ia segera menghempaskan bokongnya di atas kursi empuk yang berada tak jauh darinya. Yuta lekas merelaksasikan tungkainya dengan duduk di samping Taeyong.

 

“Baiklah Tuan Yuta, apa yang ingin kau ketahui tentang mumifikasi?” Taeyong yang kelewat frustasi menegakkan punggungnya, mengambil oksigen sebanyak mungkin sebelum bertukar cakap dengan kawannya itu.

 

“Apa autolisis dikerjakan saat calon mumi hen–“

 

“Sebentar.”

 

“Ada apa lagi, sih?!”

 

“Aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan yang terus menerus menghantui otakku. Apa kau yakin sanggup melakukan proyek itu?”

 

Yuta terkekeh ringan setelahnya. Ia menatap Taeyong penuh diskriminasi.

 

“Kau sudah tahu betul bagaimana kepribadianku, maka tak ayal jika kau bertanya seperti itu. Baiklah, walaupun aku penakut, tapi tak serta merta ketakutanku juga berlaku pada seonggok mayat tak berdaya, Taeyong!”

 

Sang lawan bicara lantas menganggukkan kepalanya santai, enggan bertukar argumen terlalu lama dengan kawannya.

 

“Baiklah ulangi pertanyaanmu.”

 

“Begini, aku sudah melakukan dekomposisi pada calon mumi beberapa bulan lalu, apakah tahap autolisis sudah termasuk di dalamnya?”

 

Topik yang menarik–pikir Taeyong.

 

“Sekarang aku ingin bertanya, apa kau sudah paham tentang definisi dari dekomposisi sendiri?”

 

Yuta tampak bergeming selama sepersekian detik, sebelum akhirnya ia membuka suara.

 

“Baik, walaupun beberapa bulan lalu aku tidak bisa hadir dalam proses dekomposisi, setidaknya aku akan mencoba menjawab karena beberapa hari lalu aku sudah menemukan perbedaan yang signifikan pada tubuh mayat.”

 

Kali ini Yuta yang memulai konversasi serius pada kawannya, Taeyong menatap Yuta dengan seksama sembari menautkan buku-buku jarinya.

 

“Dekomposisi dilakukan untuk membuat tubuh mayat menjadi kerangka dalam beberapa bulan, jadi apakah aku perlu melakukan autolisis pekan depan?”

 

“Bodoh!”

 

Taeyong terlampau geram, maka ia lekas menyentil dahi Yuta dengan jemarinya kuat.

 

Aww! Sakit, bodoh!”

 

“Akan kukembalikan pertanyaanmu, apa yang dilakukan saat dekomposisi?”

 

“Mana kutahu!”

 

Taeyong membanting keras tasnya ke atas lantai. Tubuhnya segera bangkit penuh luapan emosi, seakan baru sadar jika kawannya adalah makhluk andal untuk hal menaikkan pitam Taeyong hingga melampaui batas maksimum.

 

“Tahu begini aku tidak akan menukarkan kartu identitasku sebagai jaminan dan akan kulaporkan kau pada kepala sekolah karena kartu identitasmu telah hilang!”

 

“Astaga, hentikan sandiwaramu kali ini. Apa kau senang jika kawanmu tidak bisa lulus dengan nilai memuaskan?!”

 

“Baiklah! Dengarkan aku baik-baik, Tuan Yuta yang paling tampan seantero Osaka!” Taeyong urung untuk berlari menjauhi Yuta. Ia kembali duduk di samping kawannya itu dengan air muka muram.

 

“Tambahan, aku juga tampan seantero Seoul.”

 

“Diam kau. Yang paling tampan seantero Seoul adalah Lee Taeyong.”

 

Cih.” Cibir Yuta.

 

“Baiklah, hal pertama yang dilakukan saat melakukan dekomposisi disebut autolisis. Aku tak akan bertanya padamu apa itu autolisis, jadi dengarkan penjelasanku baik-baik.”

 

Yuta mengangguk.

 

“Autolisis merupakan bagian dekomposisi. Jadi jika kau melakukan autolisis, berarti organ yang mengandung enzim yang ada di dalam tubuh calon mumi itu akan mencerna bagian-bagiannya sendiri. Selanjutnya, pembusukan juga terjadi secara otomatis dengan memecah bahan organik oleh bakteri. Hasilnya? Seperti yang kau lihat beberapa hari lalu, tubuh mayat itu akan menjadi kerangka.”

 

“Tapi dekomposisi kali ini memerlukan waktu yang jauh dari ekspetasi, jadi apakah ada yang salah dengan metode yang digunakan?”

 

“Tidak juga, sih. Biar kutebak, kau melakukan dekomposisi pada awal musim dingin, ‘kan?”

 

“Ya, satu minggu sebelum salju turun. Saat aku dirawat di rumah sakit karena hipotermia.”

 

Terjadi keheningan sesaat sebelum Taeyong akhirnya menemukan sebuah teori ilmiah yang masih diingatnya sampai sekarang.

 

“Pada cuaca dingin dan kondisi kering proses pembusukan terjadi lebih lambat karena bakteri membutuhkan panas dan air untuk berkembang. Sebaliknya, jika cuaca panas dan lembab, maka bakteri akan berkembang lebih banyak dan mempercepat proses pembusukan.”

 

Yuta lantas terkesima hebat dengan jawaban fantastis dari kawannya itu.

 

“Apa ada pertanyaan selanjutnya, Tuan Yuta?”

 

Yuta menggeleng cepat, menerbangkan sedikit anak rambutnya hingga bergoyang bebas. Taeyong menatapnya malas, namun segera saja Yuta kembali teringat akan tujuan kehadiran eksistensi kawannya disini. Maka ia segera merogoh saku Taeyong dan mengambil kartu identitasnya.

 

“Selamat tinggal, Taeyong!” Yuta mengambil langkah seribu sebelum Taeyong melumpuhkan kedua tungkainya.

 

“Sialan kau, Nakamoto Yuta!”

 

Setelahnya, Yuta berhenti sejenak lantas menolehkan kepala ke arah Taeyong sembari menebar wink andalannya yang membuat Taeyong nyaris muntah dibuatnya.

 

Yuta resmi meninggalkan kawannya sendirian di dalam perpustakaan dan berlari kecil saat ponsel di sakunya bergetar–lagi-lagi panggilan dari kawan satu timnya yang menyuruhnya untuk pergi ke laboratorium detik itu juga. Dengan seretan malas tungkainya, mau tidak mau ia harus menemui kawannya saat itu juga demi keselamatan nyawanya minggu depan saat melakukan proyek aneh dan tidak terlalu jelas itu.

 

“Yuta!”

 

Yuta berbalik haluan saat rungunya menangkap suara khas kawannya dari ujung koridor.

 

“Gawat!”

 

“Ada apa, John?” lekas saja Yuta mengambil jangkahan panjang saat kawannya–Johnny–mengisyaratkan situasi darurat melalui air mukanya yang mendadak ketakutan.

 

Oh, jangan salahkan Yuta jika ia tidak bisa membantu Johnny barang sedikitpun nanti. Salahkan saja hipotermia yang menyerangnya beberapa waktu lalu saat kawan satu timnya sibuk bermain-main dengan mayat menjijikkan itu.

 

Johnny segera membuka kasar pintu laboratorium kemudian mengarahkan telunjuknya ke arah sebuah objek yang terbungkus plastik transparan di hadapannya. Sesaat bertukar pandang dengan Yuta yang tengah terperangah hebat, lalu berjalan mendekati objek itu perlahan.

 

Alih-alih ketakutan, Yuta sebenarnya masih tidak mengerti ketakutan apa yang menghantui Johnny. Ia menarik kawannya mundur lalu membuka resleting yang tersemat di tengah plastik kemudian.

 

Tenggorokannya tercekat.

 

Jemarinya melemas hingga merosot. Katup bibirnya bergetar hebat dan berharap sesuatu di hadapannya kini hanyalah ilusi belaka. Dengan menelan saliva-nya susah payah, ia berbalik menatap Johnny yang kini justru bertukar sorot aneh padanya.

 

“J–John–“

 

“Parah sekali ya kau, Nakamoto Yuta!” Johnny berjalan mendekati Yuta lalu menyentil dahinya.

 

Yuta membeku.

 

“Yuta?” Johnny melambai-lambaikan telapak tangannya di depan wajah Yuta yang tengah menatap lantai.

 

“Jangan sok tahu begitu. Aku panik karena termometer yang kuletakkan di dalam plastik tiba-tiba hilang.”

 

Yuta bergerak sedikit, berbalik badan menghadap Johnny–menatap manik kawannya dengan intens lantas tangannya terulur menunjuk sebuah objek yang tergeletak membeku di atas meja.

 

“Itu m–ma–“ bibirnya bergetar hebat, enggan diajak kompromi barang sejemang.

 

“Bicara apa, Yuta?!”
“T–Tae–“

 

“Lee Taeyong?”

 

Yuta mendelik, ia menelan saliva-nya.

 

“Iya itu Lee Taeyong. Oh aku lupa memberitahumu, ya kalau tim kita mengganti objek percobaan karena objek sebelumnya ditarik kembali oleh kepala sekolah karena alasan yang tidak jelas. Kau tahu–“

 

“Apa?!”

 

“Apa yang salah, Yuta?!”

 

“Seo Johnny bodoh! Taeyong masih hidup, bodoh!” umpat Yuta sekencang-kencangnya tepat di depan wajah Johnny.

 

“Kau yang bodoh, Yuta!”

 

Johnny berhenti sejenak, merapikan dasinya lalu kembali berucap, “Apa kau tidak tahu jika Taeyong sudah meninggal seminggu sebelum ia dimumifikasi?”

 

“Apa?!”

 

Johnny mengangguk mantap. Yuta yakin kawannya tidak sedang berbohong, bahkan ia juga tidak menemukan kilat kedustaan di kedua manik Johnny.

 

“Memang dia sudah sakit-sakitan sejak satu tahun yang lalu. Mulai dari penyakit ini-itu yang entah aku pun tidak tahu namanya, hingga komplikasi. Sebelum meninggal ia berkata bahwa ia bersedia untuk menjadi objek penelitian kita. Kudengar ia tidak punya sanak saudara, ya?”

 

“Serius John!” elak Yuta kemudian. Sambil menyakinkan Johnny, ia beralih menatap mayat di sampingnya.

 

“Aku terlihat seperti sedang berbohong, ya? Atau kau yang terlalu kuper hingga tidak tahu jika kawanmu sendiri sudah meninggal dunia.”

 

Kembali, Yuta dibuat terbelalak untuk kesekian kalinya. Perihal kematian Taeyong pun ia tak tahu, mana mungkin seorang Nakamoto Yuta harus menangis tersedu-sedu saat itu juga?

 

“Tapi John, kali ini kau harus percaya padaku–“

 

“Mana mungkin aku bisa mempercayaimu, kau saja tidak mempercayaiku, ‘kan?”

 

Licik.

 

Ya, sepenggal frasa yang mampu Yuta simpulkan untuk kawannya yang satu ini. Terlampau licik hingga Johnny berani mempermainkannya dengan begitu mudah. Apa ia masih memiliki dendam pada Yuta perihal kecurangannya saat bertanding futsal dua pekan lalu? Apa karena itu?

 

“Dengarkan aku, John!”

 

Johnny terdiam.

 

“Kau tahu, sebelum kau meneleponku kemari, aku sedang berkeliling perpustakaan dengan Taeyong!”

 

Johnny terbelalak.

 

“Sekali lagi, aku dapat meminjam buku ini karena bantuannya, John! Ia meminjamkanku kartu identitasnya untuk meminjam buku ini.” ujar Yuta sembari melempar kasar sebuah buku ke atas meja.

 

“Perlu bukti, John?”

 

Johnny memandang Yuta lamat-lamat, enggan member respon pada kawannya karena terlampau kalut dalam kebingungannya sendiri. Lantas Yuta merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel dari dalamnya lalu membukanya dengan sebuah pola.

 

“Ini dua hari lalu, saat aku dan Taeyong tidak sengaja bertemu di sebuah kafe dekat sekolah.”

 

Sementara Yuta tetap bersikap sesantai mungkin, Johnny lekas memandang kawannya heran saat melihat potret Yuta dan Taeyong yang terlihat sedang menikmati minuman bersama. Kendati begitu, atensi Johnny segera menuju mayat yang terbujur kaku di sampignya lalu berbisik pada Yuta, “Kumohon jangan bercanda.”

 

Yuta terkesiap. Merasakan embusan napas Johnny yang menggelitik rungunya sudah membuatnya sangat merinding.

 

“Tidak, John! Aku tidak bercanda! Lantas siapa yang bersamaku kemarin lusa dan tadi pagi?!”

 

“Johnny! Yuta!”

 

Atensi keduanya pecah. Beralih pada suara decitan pintu dan menatap sang guru yang tengah memanggilnya.

 

“Bisa kalian keluar sebentar? Ada suatu hal yang harus aku lakukan dengan mayat-mayat itu.” ucapnya kemudian.

 

Mau tak mau Johnny dan Yuta harus merampungkan adu argumen peliknya yang berlangsung sejak tadi. Sembari menyambar tasnya, Yuta dan Johnny lekas berjalan keluar dan menunduk hormat pada sang guru.

 

Yuta hendak bernapas lega saat dirinya berjalan santai beriringan dengan Johnny di sepanjang koridor, sebelum sebuah getaran ponselnya menginterupsi langkahnya.

 

“Halo?”

 

Yuta–

 

Yuta menghentikan napasnya.

 

–aku tahu ketakutanmu tak serta merta membuatmu takut pada seonggok mayat. Namun apakah demikian saat kau bertemu denganku beberapa detik lalu?”

 

Bisikan halus.

 

Yuta tahu betul siapa pemilik suara itu. Untuk kali ini Yuta membeku, hingga Johnny meninggalkannya sendirian di tengah koridor yang amat sangat sunyi.

 

–berhentilah, tengok ke belakang sejenak, aku akan berjalan ke arahmu. Tunggu sebentar.”

 

“Demi Tuhan–“

 

“Hoi Yuta!”

 

Tepukan kasar mendarat pada pundaknya. Hanya bersitatap sekilas namun membuat adrenalin Yuta membuncah melebihi batas maksimum.

 

“Tae–“

 

“Nakamoto Yuta!”

 

Yuta menoleh ke arah sang guru yang sibuk mendorong ranjang tempat mayat itu berada.

 

“Bisa kau bawa mayat ini ke laboratorium yang berada di gedung sebelah barat?”

 

“Baik.” ucapnya sembari menyunggingkan seulas senyum, lantas enggan melakukan kontak mata dengan wajah sang mayat.

 

Pemuda yang baru saja bersamanya mengekori Yuta dari belakang. Obsidiannya enggan melakukan dua hal; melirik ke arah wajah sang mayat dan melirik ke arah pemuda yang tengah mengekorinya detik itu juga. Namun setelahnya, Yuta merasa sedikit lega. Derap langkah pemuda di belakangnya sudah tak lagi terdengar. Mungkin ia sudah pergi–pikir Yuta. Maka Yuta menggerakkan lehernya perlahan lalu menoleh ke belakang.

 

Pemuda ituLee Taeyongmenyeringai lebar.

 

Kakinya berayun, menggantung bebas di udara.

 

Setelahnya, Yuta merasakan pergelangan tangannya mendingin, lantas ia mengarahkan atensinya pada sang mayat yang tengah menggenggam erat tangannya.

 

Yuta termangu.

 

Napasnya menderu.

 

Jantungnya berpacu.

 

–seharusnya ketakutanmu tak serta merta membuatmu takut pada seonggok mayat, Yuta.

 

Setelahnya, Taeyong terkikik puas.

 

.

.

.

fin!

  • Halo, sebelumnya terimakasih sudah menyempatkan baca ff yang gagal horor ini /sungkem/
  • Maaf akhir-akhir ini Don jarang posting ff, sebenernya banyak ff yang masih jadi draft di otak, tapi belum sempat diketik soalnya lagi banyak tugas dan try out dan dua bulan lagi udah UN /.\  mungkin untuk kedepannya, Don bakal update ff waktu weekend atau hari-hari libur gitu ya ._. /sungkem lagi/
  • Buat metode mumifikasi itu sebenernya Don nggak ngerti apa-apa tentang hal-hal yang berbau seperti itu XD Don cuma ngambil beberapa informasi dari google aja, jadi maap kalo ada yang salah atau gimana, hal itu semata-mata hanya untuk memperlihatkan kepintaran Taeyong dalam bidang permumian(?)
  • Oh iya ini based on true story lho /bgm lingsir wengi/. Pengalaman kakak sepupu yang kuliah di jurusan kedokteran, jadi ceritanya si A bilang ke si B kalo besok mau bedah mayat, besoknya ternyata mayatnya si A yang jadi bahan pembedahan. Itu berarti si A udah mati dong. DOR! Hanya sebatas itu aja sih, selebihnya itu fiksi semua ya wkwkwkwk XD
  • Oke sekian, salam hangat dari Don ❤ 😉
Advertisements

8 thoughts on “[Vignette] Another Tae

  1. Oke.. pertama-tama aku kobam dengan beberapa istilah biologis di ff ini. Secara aku emang lemah banget di bidang itu. kedua aku baru nangkep maksud ceritanya pas udah mau ending /maklumakuemanglemot/
    Dan pas bagian yuta ngebuka kantung mayatnya udah kepikiran kalo itu jenazahnya taeyong. Cuma tetep aja pas baca sampe akhir….. kok horror.. heuheu

    Nice fic. Aku juga suka banget sama cara penyampaian… semangat terus yaaaa /abaikan saja komen gamutu ini :”))

    Liked by 1 person

    • Halo kak, sebelumnya makasih lho udah nyempetin baca ff ini ._. sebenernya istilah2 biologis itu udah aku sederhanain sesederhana mungkin(?) dari yang aku temuin di google XD maapin Don bikin bingung anak orang /dihajar/.

      Iya kak itu si Taeyong udah jadi hantu dan godain Yuta yang terlalu lama hidup sendiri /krik/

      btw makasih udah baca ya kak, komennya moodboster banget! ❤ 😀

      Like

  2. Hei, Don. Ketemu lagi sama aku. Dudududu. Seperti yang kamu bilang. Aku mau ngerusuh disini. Hahaha. Ngubek2 locker, baru nemu ini.
    NJAYY, DON, KAMU BISA NGERTI TENTANG MUMIFIKASI SEGALA… WALAUPUN CUMA DARI GOOGLE, NJAY TAPI KAMU BISA NYAMPEIN DENGAN SANGAT INDAH DAN BAGUS. HUHUHU, NGIRI AKU, PEN BISA KEK KAMU DEH DON.
    Kamu bahas tentang biologi, biologi. Kamu mau masuk SMA jurusan IPA, Don?

    Liked by 2 people

    • hai Dif, tapi sebelumnya aku mau ngakak dulu soalnya kamu berhasil membaca fic receh ini sampe tuntas wakakaka selamat ya :’) :’) jangan dicaps lock Dif ntar ada pakar mumifikasi yang asli baca komenmu terus aku dicekik gara-gara prosesnya ngawur bhaks, iya ini cuma liat gugel dan ga ada apa-apanya sama ff sci-fi yang lain :’) gatau ini SMA mau masuk jurusan apa hahaha jurusan mencintai oppa ada ga ya? /dikeplak/ btw makasih lagi ya kamu memang kesayanganku deh suka mampir dan komen dimari :* :* /kecup sampe bengek/

      Like

  3. serius ini horrornya dapet kok.
    apa kabar mas yut selanjutnya?? tereak trus kabur gtu??

    aq suka pendiskripsianmu, alur yg kamu buat, interaksi taeyong sama yuta pas di perpus, endingnya juga.
    JOHAAA….

    salam kenal, Fafa dari garis 92 *saya kembaran Chanyeol yg hilang*
    keep writing,,

    Liked by 1 person

    • mas yuta selanjutnya kabur ke pelukan orang tua kak, dia sudah tidak kuat dengan pahitnya kenyataan /apasih/ wkwkwkwk….

      makasih sudah mampir kak Fafa, besok kukabarin chanyeol ya kalo kembarannya hilang XD salam kenal juga! 😉 ❤

      Liked by 1 person

  4. Aku suka pendiskripsiannya kak, horrornya dapet cuma bagian awal Sayaaa agak gak mudeng. Mungkin otak Sayaaa yg lelet 😀 juga taeyong yg tiba2 udah meninggal kesannya mendadak, hehe tapi beneran ini epic. Yuta nasibnya konyol, tp nyeremin. Bye yo 😊

    Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s