[Ficlet] Putih yang Cantik

Putih yang Cantik

By: Febby Fatma

Present for Venus

Drama, Romance, Fluff,

PG-13

Ficlet

Cast :

Nakamoto Yuta SM Rookies

Nikaido Ran (OC)

Disclaimer: Aku hanya pemilik plot dan OC. Yang lainnya bukan punyaku. Mohon tidak copas atau plagiat. Sebelumnya terima kasih dan selamat baca~

Gaun putih yang membalut tubuhnya, lalu kain penutup wajah yang menghalangi mataku melihat kecantikannya, aku bingung harus berkata apa. Dia sempurna. Dia begitu cantik—bahkan saat tertutup. Lebih cantik dari sebelum-sebelumnya.

Hanya sekitar sepuluh langkah lagi hingga dia bisa berdiri di sampingku dan memulai upacara janji suci kami. Tapi rasanya sepuluh langkah itu begitu lama. Aku bahkan bisa mengingat semuanya—semua yang pernah kami alami hingga bisa berada pada titik ini.

Yang kuingat hari itu dia datang dengan Ibunya ke rumah kami. Bukan tanpa alasan, Ibuku juga menahanku hari itu. Sebuah rencana perjodohan—mungkin.

Aku bukan orang yang sulit bergaul, bukan laki-laki yang sebegitu kupernya juga, tapi mungkin aku ini pemilih. Sampai lewat dari seperempat abad aku masih suka melajang. Bebas, kataku.

Tapi dia merubahkan.

Melihatnya tersenyum ramah menyapa Ibuku saja membuat aku menahan nafas. Dadaku tidak berdebar, sebaliknya jantungku justru terasa berhenti berdetak sampai-sampai rasanya aku tidak bisa berpikir jernih jika terlalu lama menatapnya.

Dia gadis yang anggun, tutur bahasanya lembut, cerdas dan mempesona.

Jika aku katakan aku jatuh cinta pada pandangan pertama, itu mungkin terdengar mainstream, tapi itu benar-benar terjadi pada kasusku. Lagi pula, laki-laki mana yang tidak jatuh cinta pada gadis se-ayu dia. Hanya orang buta—oh tidak-tidak, bahkan orang buta juga bisa tahu betapa anggun dan mempesonanya dia hanya dari mendengar suaranya.

Tidak ada. Kurasa tidak ada yang tidak akan jatuh cinta padanya. Dan aku bersyukur hari itu aku tidak mencoba kabur saat Ibu menahanku pergi paginya.

Singkat cerita, aku berhasil membuatnya mengiyakan ajakan kencanku.

Itu sungguh usaha yang sulit. Dia bukan gadis yang mudah untuk dicuri hatinya. Dibandingkan tersanjung, dia justru merasa ‘geli’saat aku merayu atau memuji keindahannya. Bukan tipe yang suka dibelanjakan juga. Aku sampai kewalahan untuk bisa membuatnya mau sering-sering berkomunikasi denganku.

Ah ya, dia itu satu-satunya yang pernah membuatku sampai bekerja keras demi satu kata Ya. Hanya dia. Sebegitu istimewanya dia, kan?

Tapi sebuah hubungan bukan sesuatu yang mudah untuk dipertahankan dalam waktu yang panjang. Semakin lama maka semakin banyak cobaan datang dan menuntut kesabaran kami. Demi hubungan itu, aku rasa aku sudah mengorbankan semua yang kubisa, dan aku rasa dia melakukan hal yang sama.

Tapi masih ada saja titik dimana kami benar-benar lelah untuk bersabar dan memaklumi satu sama lain. Ada titik pertemuan disaat ego kami sama-sama menjadi prioritas kami. Saat itulah, saat kami sama-sama mementingkan ego itu, keputusan yang bertentangan dengan keinginan terdalamku pun akhirnya terucap.

Kami putus.

Awalnya kupikir itu baik untuk kami. Aku pikir itu adalah jawaban paling tepat dari pertanyaanku seriap malam tentang kehadirannya. Aku pikir begitu tapi aku salah. Aku hampir gila karena menyesali keputusan itu.

Bodohnya aku membiarkan ego menguasaiku. Bodohnya aku karena tidak bisa tetap berpikir jernih. Bodohnya aku yang jadi mudah tersulut kala itu. Aku menyesal melepasnya. Aku menyesal tidak bisa mempertahankan ikatan kami.

Aku.. hilang arah.

Tidak sengaja berpasan dengannya, tidak sengaja melihatnya, tidak sengaja terjebak dihadapannya, terlalu banyak ketidaksengajaan yang membuatku semakin gila. Aku bersyukur saat itu aku sempat mengambil keputusan terakhir. Keputusan yang kurasa bisa membawaku kembali padanya.

Butuh waktu memang, tapi aku berhasil mempersiapkan segalanya.

Hari itu aku datang dengan Ayah dan Ibuku ke rumahnya. Niatku hanya satu. Meminangnya. Memperistri gadis anggun yang membuatku jatuh cinta padanya dikala pertama aku melihat sosoknya.

Ah ya, aku ingat sekarang. Hari itu dia juga cantik dengan one piece putih yang membalut tubuhnya. Hari-hari lain saat dia mengenakan pakaian berwarna putih juga selalu tampak lebih cantik dari biasanya. Seperti malaikat. Yah, seperti itu mungkin pesonanya.

Begitu juga hari ini.

Dia datang dan meraih tanganku yang menyambutnya. Kami sama-sama menghadap pada penghulu yang akan memandu kami mengikat janji.

“Nakamoto Yuta berjanjilah engkau akan setia sehidup semati bersama Nikaido Ran. Menerima Nikaido Ran dikala sehat dan sakit, disaat susah dan senang, menerima segala kurang dan lebihnya. Menjadi suami yang bisa menyayangi, membimbing dan melindunginya.”

“Aku berjanji akan setia sehidup semati bersama Nikaido Ran. Menerima Nikaido Ran dikala sehat dan sakit, disaat susah dan senang, menerima segala kurang dan lebihnya. Menjadi suami yang bisa menyayangi, membimbing, dan melindunginya.”

Dan sekarang gilirannya.

“Nikaido Ran berjanjilah engkau akan setia sehidup semati bersama Nakamoto Yuta. Menerima Nakamoto Yuta dikala sehat dan sakit, disaat susah dan senang, menerima segala kurang dan lebihnya. Menjadi istri yang mencintai, mematuhi dan menjaga harga diri untuk suaminya.”

“Aku berjanji akan setia sehidup semati bersama Nakamoto Yuta. Menerima Nakamoto Yuta dikala sehat dan sakit, disaat susah dan senang, menerima segala kurang dan lebihnya. Menjadi istri yang mencintai, mematuhi dan menjaga harga diri untuk suaminya.”

Aku tidak bisa menggambarkan bagaimana bahagianya aku saat janji yang diucapkannya secara lancar menjadi bukti sah ikatan kami. Mulai sekarang aku adalah miliknya dan dia adalah milikku.

Kain penutup wajahnya aku buka sebelum menyematkan cincin sebagai bukti janji suci kami.

Aku menyukainya. Saat dia tersenyum anggun dengan wajah berseri dalam balutan kain putih yang tidak kalah indah dari sosoknya. Aku menyukainya. Malam ini, aku sangat menyukai sosoknya yang hanya akan aku lihat sekali seumur hidupku.

“Aku mencintaimu.”

Dia tanpak jengan tapi kemudian raut jengah itu hilang, berganti dengan senyum yang luar biasa indahnya. “Aku juga.”

 

 

Ini apa coba?/Feb jelasin apa ini!?/

Nggak jelas ya? Maaf-maafkan aku. Aku juga nggak tau kenapa tiba-tiba bisa lancar banget nulis ini.

Bermula dari janjiku sama Kak Ve yang mao bikin FF dari kisahnya Kak Ve, terus denger cerita Mas-ku dimalam sehari sebelum pernikahannya. Cerita mereka hampir mirip dan tiba-tiba jadilan ini.

 

Kak Ve, lunas ya janjiku..

Buat Mas Lihin, selamat menempuh hidup baru..

 

Dan aku pamit sebelum makin banyak ngomong.. bye-bye

Febby pamit——

Advertisements

4 thoughts on “[Ficlet] Putih yang Cantik

  1. Febbyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyy ahhhhhhhhhh THANK YOUUUUUUU!! #ciummmciummmm

    Duhhh Ran akhirnya nikah sama Yuta. Yuta ini barang tinggal 10 langkah doang udah gak sabar gitu, lalu, apa kabar sama aku yg harus nunggu beberapa bulan lagi?

    Aaaaa Febb, ini bikin aku flashback tau gak sihhh, aku jadi nyengir sendiri inget kisah aku sama si dia XD #ngumpetttdiketekYuta

    Moga Yuta sama Ran langgeng yaaaaaa, terus cepetan punya anak yang cuteeee

    Aku reblog yaaa, and thank you once again #Muuuachhhh

    Liked by 1 person

    • syukur deh Kak Ve suka.. aku udah dag-dig-dug takut salah bikin cerita.. hehe
      sabar kak sabar, beberapa bulan itu sebentar kok, Aku juga doain biar kakak sama si dia langgeng kek YutaRan hehe
      /maaf baru bisa bales/ kemaren lagi sok sibuk/ hehe

      Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s