[NCTFFI Freelance] Hard-Knock Life (Ficlet)

hard knock life

[Ficlet] Hard-Knock Life

NCT’s Ten x WJSN’s Eunseo | Ficlet | PG-17 | Slice of life, friendship

© 2016 namtaegenic

.

Tadinya Eunseo ke Domino’s hanya untuk memenuhi janji. Gerai piza bukanlah tempat nongkrong favoritnya selepas kelulusan. Irisan-irisan penuh keju cairnya mengingatkan Eunseo pada Hilary Bronson dan teman-temannya yang lain. Mereka menarik Eunseo yang waktu itu baru saja pindah dari Seoul ke Connecticut.

Memiliki seorang Asia di dalam kelompok mereka adalah hal yang menyenangkan, cakap Hilary waktu itu. Sepulang sekolah, mereka pergi ke Domino’s terdekat—Ruth yang mengemudikan mobil—dan memesan Chicken and Cranberry ukuran besar. Ujung pizza masing-masing diangkat, disatukan, dan layaknya pengumuman persahabatan baru, Hilary si pecinta serial komedi, Ruth si kutu buku, Raquel yang gempal namun menyenangkan, dan Bonnie si jelita, bersulang untuk Eunseo.

Tak pernah sekalipun Eunseo mengharapkan hal yang muluk-muluk seperti diterima oleh anak-anak populer atau berkencan dengan geladang tim futbol sekolah. Mereka berempat sudah cukup baginya. Hari yang membahagiakan waktu itu.

Setidaknya sebelum Hilary dan Bonnie bertengkar hebat perihal menyukai laki-laki yang sama. Sepele, tapi tak ada lagi yang saling menyapa. Ruth dan Bonnie tetangga sejak kecil, ia tak mungkin mengkhianatinya. Raquel pindah sekolah karena alasan dinas orang tuanya. Hilary tak lagi menempel Eunseo—pun Eunseo enggan.

Lalu muncullah Addie, anak perempuan yang dulu sering mereka bicarakan dari belakang lantaran kegemarannya meniru dandanan Gwen Stefani, menawarkan roti selai kacang dan jelinya pada Eunseo yang makan sendirian di kafetaria. Meja pojokan yang sering digunakan mereka dulu sudah ditempati anak lainnya—Brian dan klub anggar. Tadinya Eunseo menolak, karena sudah merasa sangat bersalah pada gadis itu. Tapi akhirnya mereka berteman.

Addison Hawkins—Addie, sebenarnya anak yang menyenangkan, jika ia tidak sedang berada di dalam pengaruh alkohol. Ia pandai main piano.

Di luar itu, ia mengenalkan Eunseo dengan dunianya, yang mana tak jauh dari membeli sebotol vodka yang didapatkannya bermodalkan kartu pengenal palsu, menyelundupkannya ke kamar Eunseo untuk ditenggak sewaktu-waktu ia mampir, dan mengencani gitaris kelompok musik rock tak laku yang suka menyelipkan kata-kata kotor di antara lirik-lirik lagu mereka.

Di sana Eunseo bertemu Ten.

Ten sedang melakukan pengamatan perilaku manusia untuk tugas Antropologi di kampusnya. Objek pengamatannya adalah kelab busuk tongkrongan suram para generasi muda—atau apa pun ia menyebutnya. Ten pikir Eunseo pendamping band. Eunseo pikir Ten sudah gila. Terakhir yang Eunseo tahu, mereka sudah pindah tempat ke gerai piza, bergabung dengan teman-teman Ten sesama mahasiswa tanpa bisa berbaur sedikit pun. Apa yang Eunseo lakukan di sana? Melontarkan lelucon jorok ala Addie pada semua makhluk beradab ini?

Mesin waktu Eunseo kembali ke masa kini, ketika sesosok presensi tiba-tiba saja menyapanya, membuyarkan semua nostalgia singkatnya.

“Sudah lama?”

“Baru gelas kedua.”

Ten mendengus tertawa. “Lama tak bertemu, kau masih seperti dulu.”

“Sarkastis?”

“Dan jual mahal,” Ten menimpali sembari menyeret bangku dan duduk. Pelayan Domino’s menyerahkan buku menu pada keduanya, sementara tangannya siap mencatat. Ten memesan seloyang besar Grand Supreme, segelas espresso, dan latte tanpa diminta lebih dulu oleh teman bicaranya.

“Jadi, bagaimana kabarmu setelah pergi begitu saja dari kami waktu itu?” Ten bersandar di bangku, memandang Eunseo dengan alis terangkat dan sinar mata yang jenaka. Eunseo merasa dikerjai, namun tak ingin selekasnya pergi dari hadapan Ten, seperti yang dilakukannya setahun yang lalu di gerai piza.

“Lumayan.”

“Lumayan mendekati buruk atau lumayan mendekati Lebih-Baik-Terjun-ke-Jurang?”

Eunseo menggeser gelasnya ke samping, menantikan latte datang agar ia bisa mengalihkan perhatian dengan menyeruput minuman. “Lumayan.”

“Addison yang memberiku alamatmu. Untunglah kau belum pulang ke Seoul.”

“Aku tak punya muka untuk menghadapi orangtuaku. Hidupku selesai di Connecticut.

“Oh ayolah,” Ten memutar bola matanya. “Kau baru satu tahun lulus. Tidak mau melanjutkan kuliah?”

“Dengan nilai SAT di bawah rata-rata? Kurasa tidak. Aku mungkin akan cari pekerjaan.”

“Berarti kedatanganku ke sini tepat sekali. Aku punya pekerjaan yang pantas untukmu.”

“Oh, pahlawanku!” Eunseo mendesah dramatis penuh sarkasme. “Aku tidak suka hutang budi, jadi lupakan saja, Superman.”

Ten melambai-lambaikan tangannya, menyuruh Eunseo untuk membiarkannya bicara sampai selesai. “Welseyan butuh perempuan tamatan SMU untuk mengisi bagian administrasi.”

“Kecuali kalau istilah administrasi di sana adalah tukang bersih-bersih, maka kau pasti sudah gila.” Grand Supreme datang dengan espresso dan latte pesanan, dan Ten langsung menyambar potongan pizanya. Eunseo tak puas. Welseyan? Gila. Welseyan tidak akan menerima bagian administrasi dari lulusan SMA.

“Aku serius. Dan… “ Ten menelan pizanya. “Aku sudah membicarakan soal ini pada rektor kami di sana. Kau… bisa bekerja sembari kuliah.”

Eunseo termangu sejenak, membiarkan jeda mengambil alih konversasi mereka. Lantas ia memangkas jarak. “Kau bohong.”

Giliran Ten melenyapkan spasi. “Aku tidak bohong.”

“Katakan satu alasanmu melakukan ini. Kita bahkan tidak saling mengenal. Aku tidak tahu namamu atau dari mana kamu berasal. Kau pasti punya alasannya.”

Si laki-laki menghela napas.

“Kukira hidupku sendiri sudah keras. Aku jauh-jauh datang dari Thailand dengan tabunganku sendiri, belajar siang-malam, gagal dari Yale, menunda satu tahun untuk akhirnya diterima di Wesleyan. Dan ketika aku melihatmu, kau terlihat—“

“Menyedihkan?”

“Hilang arah, Eunseo. Kau tampak tak tahu harus ke mana, dan sayangnya, kau pikir pilihanmu hanya mengekori Addison di kelab untuk akhirnya diabaikan karena, ayolah, aku kenal pacarnya yang bau alkohol itu.”

Air mata yang merebak di pelupuk Eunseo berhasil ditahannya. Namun suaranya bergetar. “Berhenti mengadili hidupku.”

“Hidup yang mana? Itu hidup Addison. Kau tidak punya kehidupan selain mengikuti gaya hidupnya. Kau pikir gadis itu penyelamat agenda sosialmu, bukan begitu? Kau terlalu muda dan liar, Eunseo. Yang kau tahu hanya mengikuti arus.”

Si gadis terdiam.

“Layang-layang bisa terbang tinggi,” Ten menyesap espresso-nya lalu melanjutkan. “Justru karena ia melawan arah angin.”

Ada yang menari-nari di benak Eunseo ketika ia terdiam cukup lama. Bahwa ia mungkin harus belajar melawan angin, dan bahwa sudah waktunya ia memikirkan kembali soal masa depannya ketimbang luntang-lantung tak ada arah di negara orang, dan bahwa ia harus berhenti tidur di tempat penampungan tuna wisma hingga waktunya dideportase dari Amerika tiba.

“Datanglah ke Wesleyan jika udara bersahabat,” Ten mengambil potongan kedua setelah menyorongkan loyang piza ke arah Eunseo, menyuruhnya mengambil sepotong. “Aku akan menunggumu. Bersulang?”

Eunseo mengangkat dan menempelkan kedua ujung piza mereka sembari tertawa. “Bersulang.”

:::::

FIN.

Advertisements

4 thoughts on “[NCTFFI Freelance] Hard-Knock Life (Ficlet)

  1. Ahhh sinsokhi girlkuuu dipair sama Ten sukaaaaa >////<
    gila gila ini keren banget… seperti baca topik yg ada di novel terjemahan /atau mungkin karena aku cuma satu kali baca novel terjemahan jadi langsung berpikir gaya bahasa kakak mirip hal semacam itu /oke fix abaikan saja
    suka sama quotes "layang-layang bisa terbang tinggi karena mereka menentang angin."
    aku sering lihat cyber name kakak di blog sebelah sih, salam kenal kak… lely 99line here ^^

    Like

    • Halo, Lely. Aku pernah baca dan komentar di fanfiksimu, kok, dan namamu juga tampak di beberapa forum menulis ya, jadi aku sudah familier. Semoga kamu bisa menikmati tulisanku ini, ya ^^ terima kasih sudah mampir ^^

      Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s