[Vignette] Aku khawatir, Bodoh!

4654739ecb7e905a22e73bc11273b255

Aku khawatir, Bodoh!

By: Febby Fatma

Drama, Romance, Hurt, Fluff

PG-13

Vignette

Cast :

Nakamoto Yuta SM Rookies

Nikaido Ran (OC)

Disclaimer: Aku hanya pemilik plot dan OC. Yang lainnya bukan punyaku. Mohon tidak copas atau plagiat. Sebelumnya terima kasih dan selamat baca~

 

Ada satu hal yang aku yakin kebanyakan perempuan akan setuju.

Kita para perempuan biasanya akan puas atau setidaknya merasa sedikit bangga pada diri sendiri ketika kita bisa membuat kekasih kita meninggalkan kebiasaan buruknya. Atau paling tidak, mulai menunjukan perubahan ke sisi yang lebih baik.

Aku merasakan itu. Cukup sering. Tepatnya saat Yuta mengiyakan semua nasihatku. Yah, walau aku tahu pada akhirnya dia akan mengulangi hal itu. Membangkang lagi dan harus dinasihati lagi.

Tapi aku tidak pernah bosan.

Yuta juga tidak pernah lelah mengangguk, mengiyakan lalu merayuku habis-habisan.

Selalu seperti itu dan semua bermula dari saat itu..

 

 

“Dasar!” Satu tape sewarna kulit aku pasang melintang pada pipi kananya. Lalu menyentil luka kecil itu dan membuatnya mengaduh.

“Sekarang mau apa lagi alasanmu? Menolong teman? Solidaritas? Atau dimanfaatkan?”

Dia mengalihkan pandangannya, tidak menjawab. Menbuatku kesal bukan main.

“Sudahlah, aku pulang.”

“Tunggu, Ran.” Dia menahan tanganku. “Di sini sebentar lagi, ya. Temani aku.”

Kuhentakan tangannya. “Tidak mau.” Dia menjengit heran. Iya, tentu. Ini kali pertama aku semarah ini padanya. “Lebih baik pulang. Kalau disini lama-lama nanti aku dikira bagian dari geng.”

Aku tidak tahu kenapa, tapi rasanya kakiku begitu berat, sehingga setiap langkahnya menimbulkan hentakan keras sarat akan rasa ingin membunuh seseorang.

“Ran, ayolah. Kenapa harus sampai semarah ini?”

Kenapa katanya? Mana aku tahu!

Aku juga tidak mau sampai semarah ini. Aku rasa sikap seperti ini cukup berlebihan. Aku tidak perlu sampai semarah ini juga. Iya, Yuta betul. Tapi.. ah, tahu lah..

“Ran.. kumohon.” Dia mengikutiku. “Aku hanya ingin memastikan teman-temanku baik-baik saja.”

Aku berbalik.

“Dengan menjadikan dirimu sebagai tameng sekaligus senjata mereka. Begitu maksudmu?”

Aku kembali berjalan jengkel.

Rasa geram saat tahu dia ikut tauran malam ini yang membuatku jadi lebih sensitif dari biasanya.

Dia selalu saja begitu. Egois. Bodoh. Dia pikir bagus begitu? Dipikir aku akan bilang dia keren begitu?

“Ran, aku tahu aku salah.” Bagus kalau begitu. Tapi seratus kali dia mengaku salah juga tidak akan merubah apapun. Dia akan mengulang seratus satu kesalahan yang sama. Dia itu.. Nakamoto Yuta itu..

“Ran! Nikaido Ran!”

“Berhenti teriak-teriak. Kau mengganggu orang lain.” Lihat. Dia terlalu egois sampai hal seperti ini tidak dia pikirkan. Aku juga bisa malu. Apalagi kalau dipanggil di tengah keramaian seperti ini.

Aku ditarik paksa—yah, dipaksa ikut— menuju tempat tadi aku merawat lukanya. Tempat paling sepi yang ada di taman itu. Ada kilat marah di matanya, tapi siapa yang perduli, aku juga sedang marah.

“Aku minta maaf. Aku tahu apa salahku dan aku minta maaf.”

“Memangnya apa salahmu?”

Ada jeda yang hanya diisi kedipan matanya. Cih, mau mencoba merayu kah? Tidak mempan tahu!

“Karena aku ikut tauran lagi. Karena aku tidak mendengarkan kata-katamu. Karena aku melanggar janjiku.”

“Hmm.” Sejauh ini betul. “Lalu?”

“He? Masih ada ya?”

Benarkan, dia bodoh. Saking egoisnya dia jadi begitu bodoh.

“Memangnya apa lagi yang aku lakukan?”

Tidak tahu alasan paling mendasar kenapa aku marah. Kesalahannya bertambah lagi. Membuatku semakin jengkel. Dia benar-benar ya..

“Lupakan, aku mau pulang.”

Aku ingin mandi. Lalu tidur dan melupakan hari ini. Setidaknya itu menguntungkan juga bagi Yuta. Besok dia tidak perlu repot membujukku baikan. Tapi..

“Aku minta maaf.” Lagi, tanganku ditahan. “Aku tahu aku salah, dan masih lebih buruk lagi karena tidak tahu alasanmu marah. Tapi tolong maafkan aku.”

“Yuta, lepas. Aku mau pulang.” Aku sudah tidak kuat terus ditahan seperti ini. Emosiku sudah terlalu besar untuk aku tahan di dalam dada terus menerus. Aku butuh mendinginkan kepala. Butuh menarik nafas. Aku butuh waktu juga untuk memakluminya lagi.

Tapi kenapa dia begitu menjengkelkan seperti ini?

“Tidak sampai kau mau memaafkanku.”

“Baik. Kau kumaafkan.”

Aku ingin lepas darinya sekarang juga.

“Ran, aku sungguh-sungguh.”

Aku tahu itu.

“Iya, aku juga sungguh-sungguh. Aku maafkan kau, Yuta. Jadi lepas tanganku. Aku mau pulang.”

Bukannya lepas tangannya justru semakin kuat mengikat pergelanganku. Memberi rasa nyeri di sana.

“Kau belum memaafkanku, Ran.” Sekarang tatapan matanya justru seperti menyalahkanku. Kalimatnya juga punya maksud yang sama.

Ah, benar-benar deh!

Memangnya siapa yang salah disini? Kenapa aku harus dapat tatapan seperti itu? Aku yang harusnya marah. Aku yang harusnya menyalahkan dia. Tapi apa-apaan perasaan ini? Kenapa aku ini?

Dia sudah melanggar janji untuk tidak terlibat perkelahian lagi. Mengingkari kata-kata manisnya dua minggu lalu tentang menjaga dirinya demi aku. Dia juga yang membuatku lari sejauh sepuluh kilo meter demi memasang sebuah tape di pipinya. Belum lagi membuatku khawatir setengah mati setelah mendengar kabar tentangnya sore tadi.

Dan setelah semua itu kenapa aku yang harus merasa bersalah?

“Ran? Kenapa?”

“Bodoh.”

Perduli setan dengan kebingunannya dan air mata yang mulai menetes tanpa henti. Aku sudah tidak tahan. Setidaknya dia juga harus merasa bersalah sudah membuatku seperti ini.

“Jangan menangis, kau menbuatku khawatir tahu?” Itu lebih baik. Setidaknya aku bisa membuatnya merasakan apa yang aku rasakan hari ini walau dalam kasus yang tidak sama.

“Kenapa otakmu itu bodoh sekali disaat seperti ini?” Tanganku dilepas. Matanya membelo sebesar yang dia bisa. “Egois tahu tidak!? Aku lari dari rumah kesini hanya untuk melihatmu. Hanya untuk memasang tape kecil dipipimu. Tapi kenapa kau masih tidak paham juga?”

“Ran—”

“Aku mengkhawatirkamu, bodoh! Aku pikir kau akan berakhir di rumah sakit lagi. Aku sudah kalut sampai tidak ingat kalau kau hanya menghajar preman eceng-eceng. Bahkan aku lupa pada jaketku. Tapi apa yang kudapat? Kau bahkan tidak tahu kenapa aku marah. Kau justru menyalahkan balik aku karena tidak memaafkanmu.

“Aku lelah, Yuta. Aku juga bisa lelah. Aku takut terjadi sesuatu padamu. Aku takut kehilanganmu. Masih tidak pahan juga, huh? Aku takut kalau kau sampai pergi. Rasa takutnya itu mengalahkan semua rasa takutku. Harusnya kau tahu itu! BODOH!”

“Hm. Aku memang bodoh.”

Sekarang aku harus apa? Dia memelukku dan membuat isak tangisku semakin lepas. Rasa syukur—yang entah dari mana asalnya—menyeruak masuk dan memenuhi dadaku. Mengisi celah kosong yang ditinggalkan rasa jengkel tadi.

“Maafkan si bodoh ini ya?”

Sudah kulakukan sejak aku lihat dia duduk melambai memintaku mendekat saat datang tadi. Aku tidak memintanya untuk minta maaf. Aku hanya ingin dia mengerti. Jadi seharusnya tidak serumit ini.

“Aku janji tidak akan mengulanginya lagi.” Dan pelukan kami berakhir. Hawa dingin akhir bulan maret baru terasa saat itu. “Aku janji kali ini—”

“Tidak perlu membuat janji lagi.”

“Ha?”

“Aku sudah lelah menagih janji yang selalu kau ingkari. Aku tidak akan sanggup lagi untuk itu. Aku hanya minta satu hal,” matanya itu, mata yang memberiku ketenangan itu, aku tidak ingin kehilangannya. “Jangan buat aku khawatir lagi.”

Terdiam. Dia baru mengangguk selang beberapa detik kemudian.

“Hmm. Aku janji.” Sekali lagi hangat tubuhnya membuatku masa lebih baik.

“Aku bilang jangan membuat janji lagi. Kau cukup menjaga dirimu dan jangan terluka. Terserah mau berapa kali kau tauran atau berkelahi dalam seminggu. Akan aku maafkan jika kau datang padaku dengan keadaan baik-baik saja.”

“Iya. Akan aku ingat ini baik-baik.” Tangannya menarik tanganku yang meremas kuat kaosnya. Menggenggamnya sebentar sebelum melepaskan itu bersamaan dengan berakhirnya pelukan kedua kami.

“Di rumah sakit waktu itu aku sudah berjanji akan menjaga diri demi dirimu dan akan aku tepati janji itu. Jangan khawatir dan..” dia memberiku jaketnya. Menyamakan tinggi wajah kami dan menyentuh kedua pipiku dengan dua tangan hangat miliknya. “Jangan sampai kau sakit hanya karena mengkhawatirkan aku.”

“A-apa? Dasar bodoh!”

“Hm-hm, aku bodoh dan kau ceroboh. Begitu?”

“Ti-tidak! Aku tidak ceroboh.”

Uh, mulai lagi.

“Jangan menggodaku, Yuta. Aku masih marah.”

 

 

 

Efef ini terinspirasi dari salah satu episode Web Drama Mina AOA dan NEOZ FNC ‘Click Your Heart’. Lebih tepatnya episode Baek Juho—Anaknya Wonwoo sama V. /tapi bener loh mereka bertiga itu mirip/plak/

Juho di drama itu bener-bener menggambarkan cowok idaman versiku. Nggak salah deh milih bias. Dia itu calon saingannya Yuta—Sehun, Baekhyun, Donghae, Key, Jinyoung, Gongchan, Xero, Jungkook, V, Daehyun, Himchan, N, Hyuk, Ilhoon, Sungjae, Jaehyung, Mark, Woohyun, Taehyun, Jeonghan, Joshua, dan Wonwoo tentunya. /apa ini/di kroyok reader/

Tapi ntah kenapa aku justru pengen bikin Yuta yang terjebak dengan imej kek Juho di drama itu. Nggak tau kenapa dari sekian banyak nama bias justru Yuta yang kepikiran. Mungkin karena Yuta satu-satunya yang dari Jepang dan aku lagi gila Jepang belakangan ini. /makin nggak jelas/

Ya sudah, sebelum saya kenapa-napa karena kebanyakan omong, lebih baik saya undur diri.

Febby pamit——

Advertisements

9 thoughts on “[Vignette] Aku khawatir, Bodoh!

  1. hmm………

    sebelumnya aku bingung mau komen apa /krik/
    serius kukira ini pengalaman pribadi lebih tepatnya curhatan kak Febby yang kemudian dituangkan menjadi sebuah fanfiction /krik lagi/ /dihajar/
    aku suka pas bagian; “Maafkan si bodoh ini ya?” itu berasa kayak……………………………….kampret maz yuta mana ada sih yang gak tega sama kamu maz? walaupun udah tawuran sama geng kampung sebelah /gak/ tapi tetep aja kan nggak bakal ada orang yang tega nggak maafin kamu :’) :’)

    btw YAHHH AKU JUGA SUKA CLICK YOUR HEART KAKFEB KYAA KITA SAMAAN /menggelinding di atas pasir/. cuman aku lebih demen sama ceritanya dawon sih :’) etapi juho nggak kalah fluff kok, pacaran di bawah hujan kyaaaaaa /lalu kabur/

    Liked by 1 person

    • Ih Don kok tau sih ini pengalaman pribadi? tapi nggak sepenuhnya sih, lebih banyak yang ngarangnya.. hehe

      Iya Yuta mah emang gitu, Don.. suka nggak sadar kalo udah bikin Ran tersiksa batin karena itu, tapi yah mau gimana lagi, Ran cinta mati sih sama dia /plak/
      Yang Dawon ya? aku juga suka.. Lucu waktu bagian di ruang siaran itu..
      Btw makasih udah mampir dan review ya Don tercinta.. /peluk Don/

      Liked by 1 person

  2. Hualow, Feebbbb!!!
    Aku suka cara openingnya kamu, “Ada satu hal yang aku yakin kebanyakan perempuan akan setuju.” kayakkkkk langsung berhasil bikin siapapun yang baca penasaran sama ceritanya??? Hehehehe abis itu dari opening itu kamu transisikan ke kisah Yuta sama Ran, itu pas banget sih. Jadinya nggak terkesan kamu terburu-buru 😀 ((komen apa ini))
    Terus aku juga suka karena si Ran nggak gampang luluh sama Yuta di awal, jadi terkesannya Ran tuh emang beneran marah sama Yuta, nggak yang tiba-tiba langsung maafin Yuta gitu aja… jadi terkesannya, walau Yuta setampan dan seimut itu pun, Ran bener2 bukan cewek gampangan. Makanya aku suka banget!!!
    TERUS ENDINGNYA YUTA TETEP AJA USIL!!!! Emang ya, kayaknya nggak ada habis-habisnya pasangan ini! Hehehehe
    Overall, aku suka Febb!!! Keep writing, ya 😀

    Liked by 1 person

    • Hollla Kak Eca!! Aku seneng sendiri waktu baca komen kakak loh, nggak tau kenapa seneng aja.. hehe
      Rasanya kaya ini komen paling objektif yang pernah aku dapet gitu /emang/
      Laen kali aku boleh berharap dapet yang lebih objektif kan kak? /dikasih ati minta jantung /ditendang/ hehe
      Iya, buatku mereka adalah sesuatu banget gitu kak.. makasih udah nyempetin baca dan ninggalin review.. /peluk sayang Kak Eca/

      Like

      • Hehehehe iya boleh kok Feeebbb, kalau aku baca fan fiksimu, aku usahakan komenku bikin kamu seneng jugaaaa /peluk sayang balik/ 😀

        Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s