[Oneshot] Mark-Jane

#MArk-Janeea

Mark-Jane

Written By Berly ©2016
• ᴥ •

| Starring : [NCT’s] Mark Lee, [NCT’s] Jung Jaehyun, [NCT’s] Winwin, [OC’s] Mackenzi Lee, [OC’s] Jung Jane (OC), and others. | Genre : School Life, Comedy, Friendship, Romance, Hurt/Comfort, Drama, Family, Fluff | Rating : Teenager | Duration : Oneshot (4000+words) |

Disclaimer : The cast belongs to God & their parents, his fans and his agency. The plot is pure mine. This story is just fiction for entertain, not meant to offend or humiliate some characters. Please Enjoy! Don’t do copycat! Don’t do plagiat! Don’t do copy-paste without my permision and credit! Thank you, for read and give comments! Happy Reading!

Based story ofPhilantropist, Half Idiot, a Decission,
(and another Lee fams).

.

Akan kuberi kau pelajaran, Preman Tengik!

.

Mackenzi Lee, mendadak memejamkan matanya terkejut, lantaran sebuah telapak tangan kanan milik Winwin dengan songongnya tiba-tiba saja menutupi seluruh wajahnya dari arah depan—anak laki-laki remaja itu memang sengaja.

“Hei!” teriak Kenzi kesal pada Winwin—yang datang-datang ke dalam kelas langsung mencari perkara padanya. Kenzi berusaha meninju bahu Winwin, namun Winwin berhasil menghindar. Sialan. Kenzi hanya bisa berdecak sebal menatap ekspresi tengil milik Winwin di hadapannya.

“Kenapa melamun, kenapa bengong, Kenz?” Pertanyaan itulah yang akhirnya keluar dari mulut Winwin setelah kekehan sembernya menguar. Membuat telinga Kenzi jadi ingin ditulikan sementara rasanya, kalau bisa.

Kenzi mendengus pasrah, lalu mendesah risau saat Winwin sudah memutuskan untuk menjatuhkan bokongnya di bangku depan meja Kenzi, anak laki-laki itu kini duduk terbalik menghadap ke belakang—ke arah Kenzi.

“Aku sedang memikirkan Mark. Akhir-akhir ini dia jadi tidak nafsu makan di rumah, bahkan bekal rutin yang dikemas oleh Mom tidak dihabiskannya sejak dua hari lalu, tidak seperti biasanya anak itu begitu,” jelas Kenzi cemas.

“Oh ya? Apa ada masalah lagi dengannya?”

Kenzi pun menatap Winwin ragu, “Ini mungkin masih berhubungan dengan… Jaehyun dan Jane,” kata Kenzi sedikit mendekat lalu berbisik di akhir kalimat pada Winwin.

Winwin membuka mulutnya kecil seraya menganggukkan kepala—tanda ia mengerti perihal masalah ‘Mark-Jane’ belakangan, pun kini sepertinya malah kian merembet pada masalah Jaehyun-Mackenzi yang menyandang status sebagai kakak-kakak dari si kedua sejoli tersebut. Bisa-bisa perang dunia keseribu antar keluarga terjadi mendadak di sekolah ini, pikir Wiwin sedikit ngeri jika membayangkannya.

“Ahh… aku pusing, kenapa Mark harus menyukai adik dari si Preman Tengil Menyebalkan itu, sih? Kenapa tidak Quinsy saja? Mark, ‘kan, juga dekat dan sering bekerja kelompok dengan Quinsy bersama Jeno dan Donghyuk, atau Liel misalnya? Aku bisa gila karena kisah asmara adikku sendiri!” Kenzi berbicara dengan suara kecil, memegangi dahinya dengan kedua tangan—merasa frustasi, lalu menenggelamkan wajahnya lemah di meja belajarnya.

“Hey, Kenzi. Selera orang itu berbeda-beda, adikmu menyukai Jane pasti ada alasan tersendiri. Lagi pula, Jane itu cantik dan pintar, bagaimana bisa kamu tidak menyukainya dekat dengan Mark, huh?” Winwin masih memerhatikan polah seorang gadis yang tetap menggerutu di hadapannya.

“Win, aku tidak bilang aku membenci Jane. Aku hanya tidak suka dengan kakaknya Jane, itu saja! Jika Mark dekat dengan Jane, aku setuju-setuju saja. Tapi aku khawatir kalau Mark akan bonyok lagi oleh Jaehyun seperti kemarin-kemarin. Dan jangan sampai Mom dan Dad curiga dengan masalah; yang Mark bonyok di sekolah kemarin. Kamu tahu sendiri, ‘kan, kalau ayahku itu seorang polisi… aku tidak mau sampai ibu atau ayahku ikut campur—bertindak untuk masalah sepele seperti ini. Tapi… masalah ini cukup serius untuk hidup dan matinya seorang Mark, menurutku.” Kenzi masih mengoceh, terlalu mendramatisir—menurut Winwin, lalu gadis itu kembali menenggelamkan wajahnya lesu dalam dekapan tangannya sendiri di mejanya.

“Kupikir, Jaehyun wajar berperilaku seperti itu untuk melindungi adik perempuannya. Sama seperti dirimu yang mengkhawatirkan Mark, Kenz. Dengan begitu, Mark tidak akan berani macam-macam pada anak gadis orang. Otomatis Mark juga tengah berpikir keras sekarang, tinggal dirinya saja yang memilih keputusan untuk ; memperjuangkan rasa sukanya pada Jane, atau malah menyerah demi menjaga perasaan khawatir orang-orang yang disayangnya—sepertimu, Kak Emma, dan kedua orangtua kalian, sekaligus untuk kebaikan Jane juga.” Winwin mencoba merealisasikan pemikirannya terhadap sikap overprotektif milik Jaehyun terhadap adiknya—Jane, kepada Mackenzi.

“…, Ya wajar memang… tapi, ‘kan, Jaehyun tidak semestinya bonyokin anak orang sampai sebegitunya, Win. Mark itu adikku! Memangnya apa salah Mark pada Jane coba? Itu tidak bisa diterima, asal kamu tahu.”

Lama-lama Winwin juga bisa ikut gila mendengar rentetan ocehan milik Mackenzi perihal masalah ‘Mark-Jane’ jika begini caranya…

“Jadi, kamu sekarang sedang merencanakan apa untuk Mark—agar orangtuamu tidak curiga dan ikut campur atas masalah ini, lalu membuat Mark ceria seperti sedia kala lagi dengan akhiran : Jaehyun menyetujui hubungan pertemanan ‘Mark-Jane’ tanpa adanya cerita bonyok-bonyokan lagi. Begitu, ‘kan, maumu, Kenz?” sahut Winwin menyerah lantas bertopang dagu, menunggu Kenzi bangun kembali dari tenggelamnya wajah cantik itu di meja ini. Winwin lebih suka Mackenzi yang tersenyum dan bersemangat ketimbang Mackenzi yang lesu sembari menggerundel seperti ini.

“Entahlah, Win. Aku juga tidak tahu harus bagaimana membuat Mark jadi ceria lagi… pusat biang keladinya sekarang hanya satu : Jung Jaehyun,” ungkap Kenzi lemah tak bergairah, masih enggan untuk mengangkat kepalanya dari meja.

Jeda beberapa jenak untuk Winwin dan Kenzi saling berpikir dalam benak masing-masing, berusaha menemukan jalan keluar.

“Sepertinya aku punya ide, Kenz.” Winwin kembali bersuara memecahkan jeda hening di antara perbincangan mereka berdua.

Kenzi pun mendongakkan kepala menatap Winwin, sekadar memastikan pendengaran gadis itu salah atau tidak, “Ide?”

Winwin tersenyum kala Kenzi melihatnya lagi, “Tapi janji dulu, kalau rencanaku berhasil, kamu harus mentraktirku es krim porsi jumbo, ya, Kenzi?”

“Ya, ya… terserahlah. Hanya es krim jumbo satu porsi, ‘kan? Tapi ini kalau berhasil loh ya! Tidak masalah, apa idenya?!” jawab Kenzi tak keberatan jika Winwin meminta imbalan es krim versi jumbo padanya kalau rencana Winwin berhasil kelak.

Lalu Winwin pun mengisyaratkan gerakan sebelah tangannya kepada Kenzi, agar Kenzi mendekat padanya dan memasang pendengaran dengan seksama selama Winwin melontarkan idenya itu dengan berbisik ria.

“Bagaimana kalau—,”

Tidak Kenzi sangka, Winwin peka dan jenius juga! Meskipun kadang tengilnya menyebalkan, tapi Winwin bisa diandalkan! Kemudian Kenzi menjentikkan jemarinya tepat di depan wajah Winwin dengan ekspresi paras yang berbinar, “Ahh, kamu jenius, Win!” tukas gadis itu cepat seraya tertawa geli karena ide dari seorang Winwin yang cemerlang.

Membuat Winwin menjungkat-jungkitkan kedua alisnya ke atas dan ke bawah sembari menyeringai lebar kepada Mackenzi. Winwin nampaknya sudah berhasil membuat suasana hati Mackenzi jadi segar kembali.

.

.

.

“Jane, ayo pulang.”

Atensi seorang Jane teralihkan pada sosok Jaehyun yang kini sudah berada di hadapan gadis itu. Jane memutar kedua bola matanya jengah akan ke-overprotektif-an sang kakak padanya. Oh, ayolah… Jane bukan anak kecil lagi yang harus diantar-jemput kesana-kemari oleh sang Hero—si kakak Jaehyun. Gadis itu sudah SMA sekarang, bukan lagi bocah SD maupun SMP.

“Aku ada kerja kelompok bersama Mark sore ini, Kak Jae duluan saja.” Sarkastik, itulah nada yang menguar dari mulut Jane membalas tawaran Jaehyun.

“Apa katamu? Mark lagi, Mark lagi?! Pikiranmu memang sudah diracuni oleh si Mark itu ya Jane!”

Jane mencibir, gadis itu tampaknya sudah naik pitam, “Diracuni apanya, sih, Kak Jae! Mau tidak mau aku harus sekelompok dengannya, itu kemauan Kim Seosangnim, bukan kemauanku!”

“Baiklah kalau begitu, aku akan ikut denganmu,” tegas Jaehyun pada akhirnya.

“A-apa?!” Sumpah, Jane lama-lama bisa jadi gila jika kakaknya—Jaehyun terus menguntit kegiatannya di sekolah layaknya bodyguard atau pengawal yang siap siaga menamenginya jika ada marabahaya yang mengancam Jane di suatu waktu! Bukannya Jane tidak bersyukur, sih, punya kakak laki-laki yang bersedia melindungi, tapi lihat dan pikirkan saja sendiri oleh kalian, ini bukan zaman perang, pun bukan dunia Disney Princess, apa tindakan kakaknya itu masih wajar? Jane pikir itu terlalu berlebihan!

Memangnya apa, sih, yang membuat Jaehyun seakan amat teramat membenci Mark? Mark bukan seorang pedofil, kok… pun bukan anak dari keluarga mafia atau gangster, Mark anak baik-baik dari keluarga baik-baik pula. Jane pernah dengar dari Mark sendiri : kalau ayah Mark adalah seorang polisi (Jaehyun tidak tahu saja), dan ibu Mark memiliki sebuah usaha toko roti sendiri. Jane benar-benar tak habis pikir dengan segala sesuatu pemikiran Jaehyun tentang Mark, berikut jadi merasa bersalah pada Mark akan tingkah kakak sulung laki-lakinya itu.

“Kakak ini apa-apaan, sih, aku tidak mau! Tingkahmu sungguh keterlaluan dan memalukan! Kau itu sangat berlebihan terhadap hubungan pertemananku dengan Mark! Berhentilah mengaturku untuk berteman dengan siapa saja, aku bukan boneka yang tak punya perasaan, Kak Jae!”

Jane mengenyahkan diri cepat-cepat dari hadapan kakaknya—entah ke arah sudut gedung mana, Jane rasanya hanya ingin menangis sendirian detik ini. Atau mungkin atap gedung sekolah yang biasanya sepi di sore hari adalah tempat yang tepat untuk dirinya menyendiri. Masa bodoh dengan tugas kerja kelompok pelajaran Sejarahnya bersama Mark yang diberikan oleh gurunya hari ini, toh sedari tadi Jane menunggu Mark datang di dekat pintu gerbang, Mark tak kunjung muncul juga di pandangannya—bahkan sekadar untuk menyapa Jane sejak di kelas tadi pagi saja Mark enggan.

“Hei, Jung Jane! Mau ke mana kamu?!”

Jaehyun ingin sekali mengejar Jane, namun dirinya jadi tidak tega jika Jane sudah marah seperti itu padanya. Apa sikap Jaehyun benar-benar sudah keterlaluan? Jaehyun hanya sekadar mengkhawatirkan Jane dan ingin melindungi adik perempuannya dari incaran banyak laki-laki, itu saja. Karena belum saatnya Jane berpacaran, gadis itu masih kelas satu SMA, ibu merekalah yang berpesan demikian kepada Jaehyun—agar Jaehyun bisa selalu menjaga Jane di sekolahnya.

“Jung Jaehyun!” Seling beberapa detik berlalu bersamaan dengan hilangnya punggung Jane di balik sebuah tembok gedung, sebersit suara berseteru memanggil nama lengkap laki-laki itu. Jaehyun yang merasa terpanggil pun menoleh, lantas langsung mendapati wajah Mackenzi—teman sebayanya—yang kini berdiri tak jauh dari pandangannya.

“Aku menantangmu sekarang, satu lawan satu!” Kenzi melemparkan sebuah raket badminton pada Jaehyun, yang kontan langsung Jaehyun tangkap secara mendadak, “Kudengar-dengar kau hebat dalam bermain badminton, benar?”

“Apa-apaan ini, Mackenzi?” Jaehyun memandang sinis ke arah Kenzi. Tentu saja sinis, karena Jaehyun tahu kalau Mackenzi adalah kakak perempuan Mark.

“Aku kasihan melihat adikmu Jane yang terkekang seperti itu olehmu, terlebih melihat Mark yang menjadi korban tinjumu kemarin! Aku hanya ingin berdamai dan tak ingin membawa masalah ini kepada orangtua kami. Kali ini aku menantangmu melawanku bermain badminton. Jika aku kalah dalam permainan ini, kau boleh melarang kedekatan Jane dengan Mark sesuka hatimu. Tapi jika aku yang menang, kau harus membiarkan dan merelakan Jane memilih ingin dekat dan berteman dengan siapa saja—termasuk Mark, dan jangan pernah kau berani menyentuh Mark lagi jika memang Mark tidak bersalah pada Jane, bagaimana?” tawar Mackenzi tegas, lugas, jelas, sedikit beringas.

Cih, apakah seorang kakaknya Mark sekarang tengah merasa murka terhadapku? Kegiatan ini hanya membuang waktuku saja. Lagi pula, kenapa kau bisa percaya diri sekali seperti itu kalau kau yang akan menang dariku, Mackenzi?” remeh Jaehyun mengangkat dagunya.

Sombong sekali manusia ini. “Memang, sih, agak sedikit menyita waktumu, habisnya aku sudah tidak tahan dan muak dengan perlakuanmu yang sok jadi preman juga jagoan di sekolahan ini, Jaehyun! Maka dari itu, kalau kau berani, ayo terima tantanganku. Kalau kau tidak menerima tantanganku, itu berarti kau pengecut sekali terhadap perempuan sepertiku.”

“Sebenarnya aku tidak tertarik melawan perempuan lemah sepertimu, tapi jika kau memaksaku, baiklah akan kuterima tantanganmu.”

Cih… sialan. Perempuan lemah katanya?! Lihat saja nanti, Jung Jaehyun. Siapa yang sebenarnya lemah di antara siapa…. Batin Mackenzi geram setengah mati menyumpah serapahi Jaehyun.

“Baiklah, lihat saja nanti—,”

—Akan kuberi kau pelajaran, Preman Tengik!

.

.

.

Tersengal-sengal napas Jane kala tungkai jenjang mungilnya sampai di salah sebuah atap gedung sekolah yang sepi. Ia mencoba menghirup udara sore ke dalam parunya sebelum isakan tangisnya memekik, air matanya pun keluar memburai dari dalam kelopak tanpa permisi.

“Mark bodoh! Kau pengecut! Harusnya kau bisa melawan Jaehyun! Bukannya malah menjauhiku begini, bodoh! Memangnya… siapa yang mau berteman dengan orang pengecut sepertimu, Mark, pergi sana jauh-jauh, aku tidak butuh kamu! … hiks … maafkan aku….” Jane berteriak dan diakhiri oleh lirihan kecil penyesalan di buntut kalimat karena sudah berbicara demikian. Entah kenapa di dalam dadanya terasa sakit, rasanya ngilu sekali seperti diiris belati tumpul karena Mark menjauh darinya.

Sepasang mata kini tengah memandang nanar punggung mungil Jane dari belakang. Itu Mark. Ya, anak laki-laki remaja sebaya Jane itu mendengar semua umpatan Jane tadi. Tak bisa Mark hindari lagi karena sedari tadi Mark memang berada di atap ini untuk menyendiri—sengaja agar tidak bertemu dengan Jane dan Jaehyun sore ini saat pulang sekolah tiba. Tapi malah sebaliknya, Jane datang ke mari bersama umpatan yang membuat dada Mark jadi terasa mencelus.

“Jane,” pangil anak laki-laki remaja itu pelan.

Jane sedikit melebarkan kedua matanya karena merasa familiar akan suara tersebut, ia pun membalikkan badannya tak percaya. Tersuguhlah sosok Mark yang kini sedang mendekati eksistensinya dengan ekspresi susah terbaca. Perlahan tangan Mark terulur untuk menghapus air mata Jane, Jane ingin menghindar, tapi anehnya gadis itu tidak bisa.

“Maafkan aku, Jane….

Degup jantung Jane seketika bergemuruh abnormal, kenapa Mark sangat menyebalkan sekali? Jane hanya mampu bergeming, rasanya ingin berteriak memaki Mark namun gadis itu tidak bisa, lantaran tak disangka ia melihat genangan air yang sudah terbendung di kedua manik Mark. Jane yakin kalau air mata itu bisa tumpah kapan saja.

“Kau pengecut, Mark,” ketus Jane dengan air matanya yang dirasa sudah cukup mengering.

Mark mencoba tersenyum simpul memandang Jane, “Aku punya alasan tersendiri kenapa aku lebih memilih menjadi pengecut untuk saat ini, Jane.”

Jane tahu. Tahu betul tentang alasan kenapa Mark lebih memilih jalan itu saat ini. Jane malah semakin merasa bersalah pada Mark dan keluarga Mark. Tapi, Jane tidak bisa terima semua ini, masa, hanya karena persoalan—yang mungkin bisa dibilang sepele untuknya, Jane dan Mark jadi tidak bisa berteman baik lagi di sekolah?

“Kamu jangan khawatir. Suatu hari nanti akan aku pastikan, kalau aku akan melawan Jaehyun untuk mendapatkanmu, Jane.”

Pipi Jane tiba-tiba bersemu merah kala Mark mulai berani berbicara demikian padanya. Sebenarnya Jane sedikit malu, ingin sekali tertawa akan sikap Mark yang tiba-tiba berubah jadi mendramatisir—serius seperti ini.

“Kamu mau, ‘kan, menungguku, Jane?” Lagi. Mark bersuara. Membuat Jane malu setengah mati rasanya. Gadis itu bingung ingin menjawab apa? Hey, mereka berdua, ‘kan, masih kelas satu SMA! Rasanya masih belum pantas membicarakan hal semacam ini, itu saja.

“Jangan berharap banyak dariku, Mark. Jangan juga terlalu banyak berbicara yang belum pasti terjadi. Kamu buktikan saja padaku. Baru aku akan menjawabnya setelah kamu membuktikannya,” jawab Jane pada akhirnya.

Mark tertawa kecil. Itulah Jane. Dan itulah alasan mengapa Mark menyukai Jane. Butuh usaha yang besar untuk mendapatkan Jane, dan Mark yakin ia bisa mendapatkan keinginannya itu suatu saat nanti. Tentunya dengan usaha jerih payahnya sendiri.

“Mark, gawat! Oh, dan Jane! Kebetulan sekali kau juga ada di sini!” Seonggok suara datang mengalihkan atensi Mark dan Jane secara bersamaan, itu Na Jaemin—teman mereka—yang baru saja tiba di atap gedung ini. Sepertinya Jaemin habis berlari terburu-buru karena hal genting hingga sampai ke mari?

Ekspresi penuh tanya dari seorang Mark dan seorang Jane membuat Jaemin menelan susah payah cairan salivanya,

“I-itu! Kak Kenzi dan Kak Jaehyun di lapangan utama! Mereka sedang berduel untuk—,”

Jaemin belum sempat menyelesaikan kalimatnya lantaran tenggorokannya tercekat, Mark dan Jane sudah bergerak lebih dulu untuk turun dari atap, meninggalkan Jaemin sendirian di sana. Sial. Jaemin baru saja diabaikan. Yah, tak usah Jaemin jelaskan semuanya juga, Mark dan Jane pasti sudah tahu masalahnya jika hal itu bersangkutan dengan nama kakak-kakak mereka berdua. Jaemin rasa, perang dunia ke III akan segera dimulai atas masalah hubungan persahabatan ‘Mark dan Jane’ sore ini.

.

.

.

Saling memandang sengit satu sama lain, Jaehyun dan Mackenzi berdiri di sisi lapangan berlawanan. Kebetulan ada Donghyuk—sang sahabat dekat Mark juga dekat dengan keluarga Mark—yang belum pulang dari kegiatan tambahannya. Donghyuk bersedia menjadi wasit pertandingan ini karena Kenzi yang memintanya. Donghyuk tak habis pikir, hanya untuk mempertaruhkan hubungan antar adik mereka masing-masing—’Mark-Jane’, pertandingan tak penting ini diadakan mendadak oleh mereka berdua?

Donghyuk lah yang menyuruh Jaemin secara diam-diam untuk segera mencari Mark dan memberitahu Mark perihal pertandingan beringas ini—Umm… itu berlebihan, sesungguhnya tidak terlalu beringas, hanya saja terasa panas dan menegangkan bagi seorang Donghyuk. Sudah tiga per empat waktu pertandingan itu berlangsung, dan Mackenzi masih tertinggal satu point di belakang Jaehyun. Terang saja Donghyuk lebih memilih mendukung Kenzi ketimbang Jaehyun yang menyeramkan itu.

“Seharusnya kau menyerah saja, Mackenzi Lee. Aku yang akan memenangkan pertandingan ini,” kata Jaehyun berusaha menjatukan mental Kenzi.

“Jangan banyak bicara kau Preman Tengil! Masih ada waktu untukku menghabisimu di pertandingan ini, tenang saja,” sahut Kenzi dengan keringat yang sudah bercucuran.

Uhh, jangan terlalu memaksakan tenagamu. Kau sendiri pasti sudah tahu, ‘kan, siapa yang akan menang nanti?” Jaehyun memiringkan seringaiannya.

Cih… terlalu percaya diri sekali kau, Jung Jaehyun!

Winwin mana, sih. Lama banget datangnya? Batin Kenzi bermonolog sendiri khawatir, lantaran lima menit lagi pertandingan ini akan berakhir. Sedangkan dua point harus Kenzi kejar sekarang demi menyusul score yang dicetak Jaehyun.

Tak lama dari itu, muncul sosok hijau bermata besar yang lucu dari kejauhan di pandangan Kenzi. Sosok itu bergerak diam-diam mendekati presensi Jaehyun perlahan dari belakang. Mackenzi sontak menyeringai lebar sekarang. Gadis itu geli sendiri di dalam hatinya, membayangkan orang yang memakai kostum pangeran kodok hijau besar—pinjaman theater club itu adalah : orang yang kurus ceking seperti cangcorang—belalang sembah, yang tengah mengintai di balik semak-semak.

“Kenapa kau tertawa lebar, tampaknya kau sangat percaya diri ya, Nona Kenzi?” tanya Jaehyun heran, juga penasaran. Laki-laki itu pun menepis kok bulu angsa itu dengan raketnya.

“Tidak… hanya ada kodok lewat tadi, Jae,” jawab Kenzi asal, lalu kembali menukas kok bulu angsa yang sudah memasuki daerahnya dari daerah lawan.

…Apa katanya? Kodok?

Jaehyun tertegun sejenak. Seketika Jaehyun hilang fokus dan arah dalam pertandingan tersebut, ia memerhatikan sekeliling lapangan daerahnya dengan perasaan cemas. Memastikan bahwa apakah benar ada kodok lewat atau tidak.

Gol!

Kok bulu angsa yang ditepis Kenzi berhasil memasuki daerah Jaehyun dengan mulus tanpa ada kendala. Satu point masuk untuk Kenzi. Tampaknya Kenzi benar-benar sudah berhasil menjatuhkan mental Jaehyun detik ini.

Tenang Jaehyun, tenang… itu hanya geretakan Kenzi. Gadis itu, ‘kan, tidak tahu kalau kelemahanmu berada pada kodok…Batin Jaehyun sedikit waswas—ketar-ketir sekarang. Keringatnya mulai terasa dingin mengalir di permukaan kulitnya. Deru jantungnya pun malah jadi tidak beraturan karena mendengar kata ‘k-o-d-o-k’.

.

.

“Kenz, kamu tahu tidak kalau Jaehyun itu phobia kodok?”

.

“Eh, apa itu benar, Win?!!”

.

Winwin mengangguk, “Sementara dirimu membuat pertandingan kesepakatan dengan Jaehyun, aku akan muncul dengan kostum kodok besar milik anak theater club untuk menjatuhkan mentalnya. Dijamin, kalau Jaehyun tidak teriak atau akan lari terbirit-birit melihat kodok besar di dekatnya, dia pasti akan menangis memanggil ibunya.”

.

“Win, kamu tahu dari mana kalau Jaehyun phobia kodok?!”

.

“Aku tak sengaja mendengar kabar di kelas Jaehyun saat kelasannya sedang melakukan praktik biologi membelah organ kodok atau katak. Aku dengar, Jaehyun pingsan saat itu.”

.

“Hahahahahahahaha… yang benar kamu, Win?”

.

“Benar. Aku yakin strategi ini akan berhasil memenangkan pertandingannya, setidaknya bisa dipakai untuk menjatuhkan mental Jaehyun saat bermain bulu tangkis bersamamu nanti. Kamu mengerti rencanaku, ‘kan, Kenzi?”

.

.

Siluet perbincangan Kenzi bersama Winwin kembali Kenzi ingat di dalam benaknya. Kenzi pun kembali percaya diri, kalau Jaehyun akan kalah sebentar lagi. Dan pada akhirnya Mackenzi bisa menyelamatkan hubungan ‘Mark-Jane’ tanpa harus mendengar kabar adiknya bonyok lagi oleh Jaehyun. Dengan begitu, Mark tidak murung berkepanjangan lagi di rumah, di sekolah, atau di manapun.

“Kau kenapa, Jaehyun?” tanya Kenzi dengan nada suara sok dipolos-poloskan, “Sudah mulai menyerah, ya?” pancing gadis itu lagi memanas-manasi Jaehyun.

Jaehyun tidak membalas bersuara. Ia hanya kembali memfokuskan diri pada pertandingan, berancang-ancang untuk servis kok alih pertama dari Kenzi.

“Webek… Webek….

Seketika tubuh Jaehyun jadi kaku. Keringatnya panas-dingin kala mendengar suara aneh itu masuk menerobos rungunya.

“Webek… Webek….

Lagi. Jaehyun bergetar. Lantas menoleh pada sumber suara yang berpusat tak jauh di samping kirinya.

“UWAAAAAAAA… !!!” Sosok hijau besar bermata lucu di sampingnya itu berhasil membuat mata Jaehyun membelalak maksimal. Jaehyun lari terbirit dari lapangan menuju… entah ke mana perginya.

“Goool!”

Priiiiit!!!

“Waktunya sudah habis, Kak Kenzi, Kak Jaehyun! Score akhirnya adalah 16-15. Pemenangnya adalah… Kak-Ken-zi~ U YEAH!!!” Donghyuk berteriak dari tempat duduk wasit seraya bertepuk tangan riuh menyambut pemenang pertandingan bulu tangkis yang tak memiliki audience itu. Lantas Mackenzi langsung berlompat-lompat ria, sedangkan sang kodok kabur berlalu dari lapangan tersebut, menghilang dari pandangan Mackenzi dan Donghyuk.

Donghyuk pun bingung apa yang sedang dilakukan kodok itu di lapangan ini sebenarnya?

.

.

Jaehyun sungguh tidak percaya! Apa-apaan kodok itu?!!! Masih untung Jaehyun tidak pingsan karenanya. Jaehyun sudah menggigil ketakutan karena kejadian singkat mengenai kodok. Phobianya sudah benar-benar keterlaluan.

Sementara di sisi lain, Jane dan Mark hampir sampai ke lapangan utama. Namun tiba-tiba saja kepala Jane terasa berputar—gadis itu merasa pusing—mungkin karena sedari pagi ia tidak memakan secuil pun nasi. Sementara Mark mendadak sigap memegangi Jane agar gadis itu tidak terjatuh.

“Jane, kamu tidak apa-apa?!” tanya Mark cemas.

Pucat. Mark sadar kalau wajah Jane begitu pucat. Mark pun memapah tubuh Jane ke deretan bangku tunggu di depan sebuah kelas.

“Hey, kamu sudah makan siang?” tanya Mark lagi memegangi kening Jane. Memastikan suhu tubuh Jane normal atau tidak.

Jane menggeleng lemah.

“Kamu ini, kenapa tidak makan siang?” Mark meringis, lantas langsung mengoprek-oprek tasnya, hingga mendapati kotak bekal miliknya yang belum dimakannya siang tadi—untuk Jane. Roti selai stroberi dan cokelat, “Makanlah ini, Jane suka rasa cokelat, ‘kan?” Mark menyodorkan roti itu pada mulut Jane.

Jane tersenyum kecil sebelum memakan roti itu, “Kamu sendiri kenapa tidak memakan bekalmu, Mark?” Kini Jane yang balik bertanya, membuat Mark jadi kikuk untuk menjawabnya.

“Aku sudah sarapan pagi, siang tadi aku masih kenyang, Jane,” jawab Mark mencari alasan. Padahal, Mark juga tidak nafsu makan karena masalah rumit yang mereka alami belakangan.

Di sisi lain, Jaehyun yang tidak sengaja melihat adegan Mark menyuapi Jane roti (karena Jaehyun kabur bersembunyi di tempat ini dari badut kodok) pun merasa luluh. Tidak… hanya saja pemuda itu merasa, dirinya yang kakaknya Jane sendiri saja tidak pernah bisa membujuk adiknya yang keras kepala itu agar Jane makan di rumah tadi pagi. Tapi kini, Mark bisa dengan mudahnya membujuk Jane untuk makan.

Setidaknya, sekarang Jaehyun telah sadar, kalau… Jane juga membutuhkan Mark di sekolah untuk penyemangat gadis itu belajar.

.

.

.

“Mackenzi Lee!”

Kenzi menolehkan atensinya ke arah sumber suara karena merasa terpanggil, didapatinya sosok Jaehyun muncul dari satu sudut lapangan—tengah menarik pergelangan tangan Mark dan Jane secara bersamaan. Kenzi sedikit terkejut, Jaehyun ternyata masih mengganggu Mark dengan Jane setelah kekalahannya?!

“Hey, Jaehyun. Kau sudah kalah di pertandingan! Harusnya sekarang kau membiarkan mereka berdua berteman!” teriak Kenzi sedikit sebal.

Sementara Mark membisikkan sesuatu melalui gerak mulutnya untuk Kenzi, ‘Kak Kenzi apa yang sedang kau lakukan sebenarnya?’ Itulah isyarat pergerakan mulut Mark untuk Kenzi. Namun tak Kenzi gubris isyarat dari mulut Mark.

Jaehyun pun kini melepaskan pergelangan tangan Mark dan Jane di hadapannya juga di hadapan Mackenzi.

“Kalian berdua, boleh berteman. Asalkan jangan berlebihan dari semestinya. Kalian itu masih kelas satu tahu, kalian mengerti?! Jadi tidak ada kata pacar-pacaran!” kata Jaehyun akhirnya berucap tegas untuk menasehati Mark dan Jane, “Dan Mark, awas kalau kau berani memacam-macami Jane!” Jaehyun menunjuk Mark tepat di depan wajahnya pertanda pemuda itu tidak main-main akan ucapannya.

Ahh….” Sadar akan perkataan Jaehyun yang mulai memperbolehkan Mark dan Jane berteman lagi, Mackenzi pun tersenyum memaklumi, “Benar itu kata Jaehyun! Kalian tidak boleh berpacaran dulu untuk sekarang, mengerti?! Tapi mungkin nanti… kalian boleh, kok—,”

“Ekhem….” Jaehyun berdeham memutus perkataan Mackenzi yang tak patut untuk dicontoh.

Kenzi kontan menurut untuk diam. Menyadari Jaehyun sudah sadar atas sikap ke-overprotektif-annya yang berlebihan saja sudah termasuk suatu keajaiban bagi Kenzi.

“Ekhem…,” Kenzi ikut berdeham, “Kau juga Jaehyun, awas kalau kau berani memacam-macami Mark lagi jika Mark tidak bersalah. Aku akan mengutukmu!”

—dengan Pangeran Kodok lagi! Hahaha.

Jaehyun memincingkan matanya, melirik datar ke arah Mackenzi yang mulai bertingkah aneh. Mengutuk? Apa maksudnya dengan perkataan mengutuk?

Tampaknya kesepakatan ‘Mark-Jane’ di antara Jaehyun dan Mackenzi kini sudah mulai berjalan lancar. Kenzi merasa lega, apalagi Mark maupun Jane yang tengah saling memandang malu satu sama lain. Apa itu artinya kedua kakak mereka telah berdamai? Dan hubungan pertemanan mereka tidak dijadikan masalah lagi di sekolah?

Semoga saja begitu.

“Omong-omong, Kak Jaehyun, kok, tadi kabur terbirit begitu, sih? Memangnya ada hal apa yang menakutkan di lapangan ini tadi?” suara Donghyuk tiba-tiba saja datang menimbrung, dan pertanyaannya itu sedikit membuat Jaehyun jadi kikuk—salah tingkah.

Kenzi menahan tawanya sejenak mendengar pertanyaan polos dari Donghyuk untuk Jaehyun. Namun langsung teralihkan akan sosok sahabatnya yang sudah datang dari sudut lapangan lain, “Eh, hey Win!” Kenzi melambaikan tangannya pada seseorang yang baru saja datang dari arah kaburnya Pangeran Kodok—setelah menakuti Jaehyun—tadi.

Winwin tersenyum lebar ke arah Mackenzi. Lantas keduanya melakukan high five saat Winwin sudah sampai di dekat Kenzi—karena rencana mereka berdua akhirnya sukses sepenuhnya : membuat Jaehyun kalah dalam pertandingan.

“Sedang apa kamu, Kenz, kenapa kamu dan Mark belum pulang?” tanya Winwin berbasa-basi seraya menatap polos orang-orang di sekitarnya.

Ah, aku habis bermain bulu tangkis bersama Jaehyun. Ini mau pulang bersama Mark. Ayo Mark, kita pulang bersama dengan Winwin! Masalahnya, ‘kan, sudah selesai, kamu dengan Jane boleh berteman lagi di sekolah, jadi jangan khawatir, ok?!” jawab Kenzi kemudian mengalihkan pembicaraan di antara semua orang yang terlibat dalam masalah ini.

“Ayo Jane, kita juga harus pulang!” Jaehyun ikut mengalihkan pembicaraan dari pertanyaan Donghyuk yang lumayan membuatnya skak mat. Lantas Jaehyun menarik lengan Jane agar Jane mengikuti langkahnya segera.

Donghyuk dan Mark hanya bisa melongo terdiam memandang punggung Jaehyun dan Jane yang semakin menjauh dari lapangan itu.

“Kenz, jangan lupa traktiran es krim jumbonya, ya!” Winwin menyeringai lebar seraya membisikkan sesuatu di telinga Kenzi.

Ok, Win, beres! Terima kasih, ya!” Kenzi pun menyahut balas berbisik, ikut menyeringai lebar pada Winwin.

.

.

.

fin

  1. Apa atuh ya, Mark-Jane mau berteman aja mesti ribet gini dulu wkwkwwk.
  2. Mackenzi-e adalah kakak yang baik, memperjuangkan diri demi adiknya yang tampan LOLOL.
  3. Winwin cabat Kenzi yang cerdik, tengil, menggemaskan, dan baik banget pula! Sini Pangeran Kodok Winwin, Ber traktir kamu es krim :))))
  4. Last, sampai bertemu lagi di cerita Winzi & Mark-Jane yang lain! EHE /pyong!

-Berly sayang Mamas Cangcorang yang menyamar jadi Pangeran Kodok-
^Judul FTV baru…krik^

Advertisements

22 thoughts on “[Oneshot] Mark-Jane

  1. ASTAGA APA-APAAN INI FF INI DARI AWAL BIKIN NGAKAK MULU 😂
    CERDIK BANGET DAH AKALNYA SI WINWIN BUAT NAKUT NAKUTIN JAEHYUN 😂 *ditendang jaehyun*
    SEMPET TERHARU JUGA PAS ADEGAN TATAP-TATAPAN MARK-JANE DI ATAP :”’)
    AAAAAA BAGUS BAGUS BAGUS!! SUKA BANGET!!
    Daebak pokoknya, keep writing ^^
    Author jjang! Ditunggu karya terbarunya yaaaa hehe 😘

    Liked by 1 person

    • Haloooo :”)) Makasih yha sudah mau mampir baca cerita absurd kodok ini dan memberikan riviewnya. Cepslockmu sungguh aduhai wkwkwk.
      Jaehyun emang kudu diberi pelajaran X) wakakak. X) Pokoknya makasih, salam dari pangeran kodok super ceking yang demen salto /plak/

      Like

    • ASTAGA KAKBER ASTAGA ITU KENAPA CANGCORANG IKUT IKUTAN? SYEM WINWIN CANGCORANG AKU NGEKEK INI KAKBER HAYO TANGGUNG JAWAB.

      BTW ITU MAZJAEHYUN SYEM SAMA KODOK KOK TAKUT SIH MAS, SITU LAKI GASIH? /PLAK/ (padahal sendirinya juga takut kodok, kita senasib maz, kita berjodoh berarti) /dikeplak/

      Ya pokoke ini fic rame banget, mana ada dd emeshku muncul lagi (read:Jaemin) lain kali bikin yg lebih rame dari ini ya kakber, mbaay mencintaimu /peloq/

      Liked by 1 person

      • KAAY KYAAAA MAKASIH KAAY UDAH MAU BALIK LAGI BUAT BACA CERITA GAJE INI SETELAH UJIAN T-T /brb melipir ingus/
        Hehehe abisnya Winwin itu cungkring kak menurut ber, jadi ber jadiin doi cangcorang aja deh 😂😂😂
        BAH jadi kaay juga takut kodok nih? Wkwkwk nanti kusuruh mas Hansol pulang2 bawain oleh2 untuk kaay kodok selusin ya kak buat digoreng /salah/ 😂
        Dede Jaemin hanya berseliweran singkat wkwk. Jangan kapok mampir ya kaay /peloq balik kaay sampe bengek/ 😘

        Liked by 1 person

      • Gara-gara kalian bahas raket setrum di gc makanya inget balik ke sini lagi, kalo engga ya gabakal balik /ditampol/

        Jangan kakber, jangan suruh maz hanson membawa pulang kodok selusin, tulunq suruh beliau untuk segera memberikanku anak kakber /uhuk/ /mbaay nggateli/ XD

        Gapapa juga cuma seliweran toh dia selalu ada nih di samping mbaay, bantuin mbaay jualan cangcorang /GA/
        pehlis abaikan saja racauan mbaay yang tak berguna ini kakber ❤

        Liked by 1 person

  2. HAH

    AKU KEMBALI

    BERSAMA DENGAN SEGUDANG TANGISAN CAMPUR NGAKAK YANG SUDAH TERBENDUNG DI PELUPUK MATA /makanin kamboja/ /tusuk nadi pake pisau/

    DAN…

    SUBHANALLAH

    AKU TERJUNGKAL—KE PELUKAN WINWIN /SALAH/

    SUNGGUHAN! KAKBER DAKU TAK BISA BERKATA APA-APA LAGI MENGENAI MEREKA BERDUA!!! HIDUP MARK-JANE!!!
    SUMPAH KAK YA, AKU BACANYA SAMPE TAHAN NAPAS, BENER-BENER MEMACU ADRENALIN BANGET YA ITU SI KENZI SAMA JAEHYUN BHAAAKSSSS. KENAPA MEREKA TANDING BADMINTON BERASA PERANG DUNIA KESERIBU WUAKAKAKAKAKAKAKA XD
    TERUS TERUS…. AKU MASIH NGAKAK SAMA INI: “Kamu jangan khawatir. Suatu hari nanti akan aku pastikan, kalau aku akan melawan Jaehyun untuk mendapatkanmu, Jane.” SERIUS! DEMI WINWIN SALTO DI ATAS GUNUNG FUJIYAMA, AKU TERENYUH SAMA YANG ITU. /istighfar/ /nafas dulu don nafas/. terus nih kak, dari kemaren kaber selalu bilang ‘cangcorang’, kupikir itu apaan yah, terus aku juga nemu cangcorang disini, sumpah aku sampe mampir gugel dulu buat tau apa cangcorang itu. dan anehnya kaber yhaaaa, aku ngakak bat, ingusku sampe keluar dari mata! aku baru tau kalo cangcorang itu belalang sembah…yaampun……………..mana kaber disini deskripsiinnya berasa winwin itu cungkring luarrbiazzaaaah! :’)

    hiks..makasih kaber ya udah merealisasikan Mark-Jane dan perdamaian Kenzi-Jaehyun /kecup basah/. salam hangat dari Jane yang sekarang lagi mukulin kakaknya sama raket nyamuk.

    BHAAAAYYYYY~

    Liked by 1 person

    • BHAY MBA DON BHAAAY! /IKUT JATUH KEPELUKAN WINWIN/
      Apa atuhlah ya … demi ‘Mark-Jane’ Mackenzi dibantu Winwin bela-belain bercucuran keringat untuk melawan si Preman takut Kodok itu /tunjuk Jaehyun/ /plak/ *ikut mukulin Jaehyun pake raket nyamuk XD* Ciye banget deh Mark-Jane emang so sweet minta digetok gitu. uhuk uhuk uhuk UHUUK….

      BHAHAHAHA DON BARU TAU ‘CANGCORANG’ ITU BELALANG SEMBAH? Abisnya menurutku Winwin cungkring mba don mirip cangcorang /plak/diceburin winwin/

      btw ….. WINWIN RELA JADI KODOK DEMI KENZI LHO KAK DEMI KENZI~ *tereak pake toak* /Engga ding, DEMI ES KRIM JUMBONYA KAK WKWWKWKWK/

      Makasih kadon sudah mampir baca dan meninggalkan riviewnya di cerita absurd yang menistakan Jaehyun ini wuakakakak. Kalo mau direblog silahkan kyaaaa 🙂 jangan kapok mampir yaaaa wkwkwkwkwkwk. /peloq ciyom Mark-Jane/

      Liked by 1 person

  3. Badminton XD XD XD pertarungan macam apa ini ber tolong jelaskan! XD tengs bat kaber tengs ngakak aing ketika si belalabg sembah berubah menjadi kodok jadi2an. Tengs bat kabeerr /plak/
    Keep writing ya kaber luv yu :*

    Liked by 1 person

  4. sumpahh ini kocak bgt wkwkwk
    ngakak parah bacanya, itu jaehyun preman serem tp takut kodok lol
    ngebayangi winwin pake kostum kodok hahaha yaampun sampe segitunya yha mz win XD
    keren ceritanya kak :’) pengen nambah lagi/abaikan/

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s