[Ficlet] Myth Series: ELF

CZtXovmWkAAGcpO

Elf

With NCT`s Ten and IOI`s Choi Yoojung

Mentioned IOI`s Kim Doyeon

A fantasy, slight!fluff story rated by T in ficlet length

DISCLAIMER

This is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life. And every fake ones belong to their fake appearance. The incidents, and locations portrayed herein are fictitious, and any similarity to or identification with the location, name, character or history of any person, product or entity is entirely coincidental and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art without permission are totally restricted.

©2016 IRISH Art&Story All Rights Reserved

Elf: magical creatures living in the forest with an eternal life.

Related Myth: SamaelMedusaMermaid

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

Ugh, memangnya ini Wonderland? Kenapa ada begitu banyak tanaman…”

Bibir seorang Yoojung tak hentinya mengomel, lantaran tersesat di tengah hutan yang tidak dikenalnya. Bukannya iseng bermain-main di tengah hutan, Yoojung tadinya tengah berkemah, acara sekolahnya. Berhubung ia tadi bersama Doyeon berniat mencari pemandangan bagus untuk sekedar jadi background selfie, akhirnya ia dan Doyeon malah terpisah.

Dan ya, jangan tanya keadaan Yoojung sekarang.

Sebagai seorang yang buta-tuli tentang hutan dan seluk-beluknya, ia benar-benar tersesat. Ia memang membawa kompas di saku jaket, tapi mana bisa benda itu berguna saat pemiliknya saja tidak bisa membedakan mana selatan mana utara?

Menyerah, Yoojung akhirnya menyandarkan tubuh di pohon, menatap putus asa sekelilingnya. Tangannya terulur ke dalam saku jaket, meraih ponsel di saku, mengangkatnya tinggi-tinggi, berharap bisa menemukan satu saja garis LTE di layar ponsel.

Nihil.

Tak ada sinyal yang masuk ke ponselnya.

“Benda apa itu?” tiba-tiba saja sebuah suara terdengar.

Masih dengan kegusaran, Yoojung lantas menurunkan ponselnya seraya menyahuti.

“Ponsel, kau tidak tahu? Ketinggalan zaman sekali…” ucapnya setengah menggerutu.

“Ah… Ponsel.”

Yoojung segera memasukkan ponselnya ke dalam saku, berbalik, memasang niat untuk bicara pada pemilik suara yang tadi didengarnya saat Yoojung sadar, ia sendirian.

Panik, Yoojung menatap berkeliling, sungguh, tak ada seorang pun di sekitarnya. Dan suara itu juga tidak terdengar lagi.

“Aku pasti berhalusinasi, bahaya, ini bahaya.” gumam Yoojung, lekas ia melangkah pergi, berpura-pura mengeluarkan kompas sebagai alibi, siapa tahu ia tiba-tiba punya kemampuan membaca kompas.

Ugh…” lagi-lagi Yoojung menggerutu kala ia tidak bisa membedakan mana arah utara dan selatan yang ditunjuk oleh benda mungil bulat tersebut.

“Bangsamu yang lain ada di sana. Di barat daya.”

Yoojung mematung. Suara itu. Ya, ia yakin sekali ia tidak sedang berhalusinasi sekarang. Lantas, suara siapa yang didengarnya?

Kembali, Yoojung berbalik, menatap sekeliling untuk menemukan sosok yang tadi bicara padanya.

Nihil.

Ia lagi-lagi tak menemukan siapapun.

“Kau mencariku? Aku ada di atas sini.”

Di atas? Yoojung membatin. Tapi ditolehkannya juga kepala untuk menengadah, sekedar memastikan kalau ia sedari tadi tidak berhalusnasi.

Kyaa!” kini Yoojung menjerit, lantaran netranya menangkap sosok pemuda—yang tampak seusiaan dengannya—duduk dengan santai di atas dahan pohon, menatapnya dengan sepasang mata jenaka ramah dan senyuman.

“Kenapa? Apa aku membuatmu takut?” tanya pemuda itu santai, seolah wajah pucat pasi Yoojung sekarang tak cukup untuk menjawab pertanyaannya barusan.

“Ya, memangnya kalau kau jadi aku kau tidak akan takut?” dengan kelewat polos Yoojung menyahuti.

Sang pemuda kemudian tertawa pelan, mengulum senyumnya untuk kemudian menjatuhkan diri—

Kyaa!”

Tidak. Sialan, Yoojung baru saja berpikir jika pemuda aneh itu akan menjatuhkan diri ke tanah. Padahal yang sekarang pemuda itu lakukan adalah menggantung di pohon dengan sepasang kakinya sebagai tumpuan.

“Bagaimana kau melakukannya!?” Yoojung menjerit tertahan, pasalnya, kejadian seperti ini tak pernah ia lihat di mana pun.

“Aku selalu melakukan hal seperti ini.” pemuda itu tersenyum, senyum yang sebenarnya bisa Yoojung pastikan menyaingi Taeil—murid paling populer di sekolahnya, tapi tidak sekarang!

“Kau siapa?” tanya Yoojung menyadari bahwa ia harusnya tahu dengan siapa ia sedari tadi bicara.

“Ten.” jawab sang pemuda.

“Ten?” Yoojung menyernyit, ia sudah akan berpikir pemuda ini punya nama aneh seperti ‘troll’ atau ‘spiderman’ atau sejenisnya. Tapi ternyata dugaannya salah.

Elf seperti kami juga punya nama, Yoojung.”

Sekarang, jantung Yoojung dipaksa untuk bekerja diluar batas normal akibat ucapan pemuda yang mengaku bernama Ten itu.

“Bagaimana kau tahu namaku?” ujarnya, mengabaikan keinginan untuk berlari menyelamatkan diri dan malah terus bicara pada pemuda asing di hadapannya.

Ten, mengulum senyum, kali ini benar-benar melompat turun ke tanah dengan mudahnya, dan berdiri menjajari Yoojung yang masih berdiri terlongo.

“Menurutmu bagaimana aku bisa tahu? Kau ada di hutan ini, tentu saja aku tahu semuanya tentangmu.” Ten tersenyum simpul, melangkah mundur sedikit, memberi ruang bagi Yoojung untuk menarik nafas dan menenangkan diri.

Tapi tunggu, Yoojung cukup yakin tadi pemuda ini mengatakan sesuatu yang terdengar asing di telinganya.

“Apa itu elf? Fans Super Junior bukan?” tanyanya sejurus kemudian.

“Kau tidak tahu?” Ten malah balik bertanya, ditatapnya Yoojung sejenak, sebelum ia akhirnya menyandarkan tubuh di batang pohon di belakangnya, sontak membuat Yoojung mendesah kagum lantaran melihat rumput cantik tumbuh di bagian yang disandari Ten.

“Benar juga… kehidupan dulu dan sekarang memang berbeda.” Ten lagi-lagi berucap, mengabaikan kekaguman gadis di hadapannya barusan.

“Memangnya kau hidup ratusan tahun sampai bicara seperti itu?” pertanyaan Yoojung sekarang membuat Ten menatapnya, cukup lama hingga membuat Yoojung mengalihkan pandangan.

Tidak tahan juga karena dipandangi dalam diam.

“Kau tidak tahu tentangku rupanya…” Ten bergumam, ia lantas menghembuskan nafas panjang, masih menatap Yoojung yang memandangnya dengan penuh rasa penasaran, “kurasa kita impas sekarang.” sambung Ten kemudian.

Impas?

“Apa maksudmu?” tanya Yoojung.

Ten tersenyum. “Aku baru saja tahu tentang ponsel, dan kau baru tahu tentang Elf. Ayo kita bertemu lagi kapan-kapan, Yoojung, aku akan memberitahumu hal lainnya.”

Yoojung baru saja akan membuka mulut dan menyahuti ucapan Ten saat didengarnya suara familiar berteriak menyebut namanya.

“Yoojung-ah!”

Doyeon. Tak salah lagi. Lekas, Yoojung melemparkan pandang berkeliling, hampir menjerit karena senang mendapati siluet sang sahabat dari balik dedaunan.

“Doyeon-ah!” panggil Yoojung, melangkah cepat mendekati sumber suara saat ia sadar ia telah meninggalkan seseorang.

“Ten-ssi, aku akan—” ucapan Yoojung terhenti kala ia tak menemukan siapapun. Gadis itu bahkan menatap ke dahan-dahan pohon didekatnya, tapi nihil, pemuda itu hilang dalam sekejap, bahkan tak menimbulkan suara apapun.

“Yoojung-ah! Kemana saja kau?!” teriakan Doyeon sekarang menyadarkan Yoojung.

Ia berbalik, tersenyum pada Doyeon, sebenarnya, ia sangat senang menemukan Doyeon sekarang, karena itu artinya ia tak lagi tersesat, tapi kenapa hilangnya pemuda bernama Ten itu mengganggunya?

“Aku tersesat, Doyeon-ah.” ujar Yoojung akhirnya.

“Cepat, kita harus ada di tenda sebelum gelap.” ucap Doyeon, menarik lengan Yoojung untuk lantas melangkah mengikutinya.

“Doyeon-ah, apa kau pernah mendengar tentang Elf?” tiba-tiba saja Yoojung bertanya.

Elf?” Doyeon mengulang dengan nada bertanya, ia lantas melirik Yoojung sejenak untuk kemudian kembali berucap, “penjaga hutan.”

“Apa?” kali ini Yoojung berucap tak mengerti.

“Kau bertanya tentang Elf kan? Kaum elf adalah penjaga hutan, legenda tentang mereka ada di buku-buku dongeng masa kecilku.” tutur Doyeon.

“Ah… Tapi… Doyeon-ah, apa Elf benar-benar ada?” pertanyaan Yoojung sekarang membuat tawa Doyeon meledak.

“Jangan bercanda, Yoojung-ah. Mereka hanya legenda, dan hanya anak-anak kecil saja yang percaya kalau Elf ada.” ujar Doyeon.

Yoojung terdiam. Jika pemuda bernama Ten tadi berbohong, lantas, siapa pemuda yang bicara dengannya?

Yoojung akhirnya membuang pandangan, tapi tatapannya kini bertumbukan dengan sepasang mata milik pemuda yang beberapa saat lalu bicara padanya.

Ten.

Pemuda itu tersenyum, menyandarkan tubuhnya di salah satu batang pohon sementara jemarinya asik bergerak menguntai rerumputan hijau cantik yang memesona Yoojung.

“Doyeon-ah…” Yoojung lagi-lagi menggumam.

“Hmm?”

“Kurasa, aku juga seorang anak kecil.”

FIN.

Cuap-cuap by IRISH:

Jiwa perawan labilku sempet gonjang-ganjing ketika membayangkan seorang Ten harus dapet peran apa di series myth ini. Pertama, Ten itu suka cengar cengir, mukanya imut, calon cabe di NCT banget kan? /maksa/

Kedua, dia cucok sama si Yoojung karena Yoojung itu pendek, imut-imut, kalo disandingin sama Ten tingginya imbang, Yoojung juga malu-malu off-stage nya, tapi on-stage nya…

Ah, Ten-Yoojung ini kopel imut-imut sekali. Diriku tjathuh tjintha sama mereka berdua. Jadi jangan kaget kalau misalnya aku buat fanfiksi mereka lagi.

Catch Me On:

askfm facebook gmail instagram line soundcloud twitter wattpad wordpress

Advertisements

46 thoughts on “[Ficlet] Myth Series: ELF

  1. gagal fokus sama mereka. Dari dulu suka bingung kalau Ten klo dipasangin cocoknya sama siapa, dan Choi Yoojung jawabanya AAAAAAKHIRNYAAAAAA YAAAAA. Ten memang cabe apalgi pas nct life in bangkok, ampun dah alaynya. Ten-Yoojung juga ‘pendek-liner’ di grupnya
    btw, aku suka myth series kamu loh. Entar aku komen lagi di seri yang lain :3

    -saras 00′

    Liked by 1 person

  2. “Ayo kita bertemu lagi kapan-kapan,”

    Dasar cabe Thailand udh bisa ngemodusin anak prawannya orang sekarang.

    Betewe suka banget sama konsep yg kek gini rish, aaaaa serasa ngeliat dunia fairy tale, ngeliat tinkerbell bersi ensiti. Akhirnya keinginanku diwujudin sama irish /please dh gk ush kepedean/ hahaha

    Like

  3. dari dulu kepengen ff fantasy tentang ELF/FAIRY gitu makasih kak irish akhirnya terwujud suka bgt sama ini series karakternya cocok !!pokoknya suka ^3^

    Like

  4. “Doyeon-ah…” Yoojung lagi-lagi menggumam.
    “Hmm?”
    “Kurasa, aku juga seorang anak kecil.”
    Dirimu memang anak kecil nak😁 cocok banget disandingin sama ten yg jg imut imut heheee..

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s