[Get into the Time Machine] The Legend of 1001 Pagoda

image

The Legend of 1001 Pagoda

Present By Zifanfan

Starring With:

Moon Taeil (NCT) | Bae Seul Yoon (OC) | And More

Historical, Legend, Angst, slight!Romance

Rating: PG – 13

Poster By Venus, Thankseu Kakak 😘

Disclaimer: FF ini murni dari pikiran saya. Jika ada kesamaan dengan FF lain, itu hanyalah ketidaksengajaan. Semua Cast dalam FF ini milik masing masing.

A/N: Sesuai dengan Tema Event yaitu Sejarah, saya mengambil Sejarah terbentuknya Candi Prambanan di Indonesia, tetapi saya mengganti beberapa bagian termasuk Latar Cerita yang tadinya berlatarkan Indonesia, saya ubah ke Versi Korea.

Don’t Copy Paste!

Happy Reading…

.
.
.

“Disitulah ia berdiri, melengkapi 1001 Pagoda yang dibuat oleh seseorang yang hampir saja menjadi Separuh Jiwanya”

.
.
.

Seorang Nona muda kerajaan sedang berjalan jalan bersama asistennya di sebuah taman yang masih terletak satu kompleks dengan kerajaan tempat ia tinggal. Bunga bunga yang baru saja bermekaran menjadi daya tarik tersendiri baginya. Menyentuh bunga bunga itu lalu tertawa sendiri seolah ada saja hal lucu yang diciptakan sang bunga.

Dari kejauhan, terlihatlah seorang Pemuda yang mengamati Nona muda itu, berdiri dan bersembunyi dibalik sebuah pohon besar. Netranya dengan diam menatap setiap pergerakan Nona muda yang tak lain seorang yang mendiami hatinya.

Ya, pemuda bernama Moon Taeil itu menyukai Nona muda kerajaan tersebut. Sampai sampai, ia rela meninggalkan setumpuk pekerjaan demi menyaksikan keindahan yang tak dapat didustakan lagi terlebih oleh kaum Pria seperti dirinya.

“Nona, ini sudah senja, waktunya kita pulang” ucap sang asisten dengan lembut.

“Sebentar lagi, aku masih ingin bermain bersama bunga bunga cantik ini.” Tanpa berpaling kehadapan asistennya, Seulyoon menolak ajakkan asisten tersebut dengan ramah.

Taeil yang mengamati dari kejauhan, merasakan sesuatu tiba tiba saja naik ke kakinya. Setelah dilihat, itu adalah sebuah lipas, hewan yang sangat ditakutinya. Sontak saja, Taeil berteriak dengan kencang dan membuat Seulyoon serta asistennya yang juga berada disana sedikit kaget.

“Ada apa dengan pemuda itu? Kenapa ia berteriak dan hampir memecahkan gendang telingaku?”

“Sebaiknya Nona jangan menghampirinya, mungkin saja ia adalah seseorang yang berniat jahat”

Ucapan dari sang asisten lagi lagi tak didengarkan oleh Seulyoon. Ia malah berjalan mendekat ke arah Taeil yang masih bersimpuh diatas rumput hijau yang subur.

“Si–siapa kau?” Seulyoon memberanikan diri untuk mengajukan pertanyaan. Taeil hanya terdiam, terpaku melihat kecantikkan Seulyoon yang sekarang benar benar berada didepannya.

“Aku bertanya, siapa kau?” Seulyoon mengulang pertanyaan yang sama karena belum mendapat jawaban dari sosok Taeil.

“Maaf Nona, aku harus permisi” tanpa penjelasan, Taeil beranjak pergi meninggalkan Seulyoon dan juga asistennya.

Ck! Dasar pria aneh! Aku bertanya siapa namanya namun ia tak menjawab sama sekali?!” Kesal, Seulyoon pun mengeluarkan beberapa umpatan untuk Taeil yang dianggapnya tak sopan.

“Nona, sebaiknya sekarang kita harus pulang” ajak sang asisten untuk kedua kalinya, Seulyoon yang juga sudah lelah pun menyetujui ajakkan tersebut.

Sepanjang jalan, mulut Seulyoon tak henti hentinya bercicit tentang perilaku Taeil yang ia rasa sangat tak sopan, tapi terkadang pujian juga turut ia lontarkan.

“Bibi, apa menurutmu pemuda tadi mempunyai wajah yang tampan?”

“Tentu saja, ia mempunyai garis wajah yang membuat ia sangat tampan. Aku pikir dia akan cocok dengan Nona”

“Apa? Cocok denganku?”

“Iya, tapi bukankah tadi Nona mengatakan kalau ia tidak mempunyai sopan santun?”

“Bibi benar, meskipun dia punya wajah yang tampan, tapi sikapnya tak sesuai, aku tidak menyukai Pria seperti dia!”

Seulyoon merajuk sembari berlari memasuki kawasan rumah Raja yang tentu saja dikawal dengan ketat oleh para Prajurit.

Sesampainya di dalam, Seulyoon lantas berniat menghampiri Ayahnya yang biasa sibuk membaca di ruang khususnya. Hanya saja sesuatu terasa mengganjal, hingga membuat Seulyoon membatalkan niatnya.

****

Pagi ini, Seulyoon bangun dan mulai beranjak dari tempat tidurnya, aktivitas pertama yang ia lakukan tentu saja membasuh wajah. Selepas itu, ia berjalan menuju ke ruang tengah dimana sang Ayah sudah berada.

“Seulyoon-ah, ada sesuatu yang harus Ayah bicarakan denganmu” ucap sang Ayah dengan tegas.

Seulyoon pun duduk disamping Ayahnya, “Memangnya ada apa Ayah?”

“Kemarin, ada seseorang yang datang menghadap ke Ayah, ia melamarmu” Seulyoon hampir saja terjungkal mendengar pernyataan Ayahnya. Ya, dia tahu, dia adalah seorang anak Raja yang mempunyai paras cantik yang memikat hati Pria, hanya saja, ia tidak terima kalau kenyataan itu akan secepat ini menghampirinya.

“A–apa Ayah menerima lamarannya?” Takut takut, Seulyoon bertanya pada sang Ayah.

“Ayah menerimanya, tetapi, ada sebuah syarat yang ia lakukan dan harus ia kerjakan agar bisa mempersunting dirimu”

“Syarat?”

“Ya, syaratnya, ia harus membangun 1001 Pagoda yang bisa kita gunakan sebagai Kuil baru tempat kita berdoa dan memuja” Pernyataan sang Ayah lagi lagi membuat Seulyoon kaget. 1001 Pagoda? Bukankah itu sesuatu yang sangat sulit dan membutuhkan waktu bertahun tahun untuk membuatnya?

“Ayah memberinya waktu selama 1 minggu, jika ia tidak menyelesaikan 1001 Pagoda tersebut dalam masa waktu tenggat yang telah diberikan, maka ia harus dihukum”

“Mulai hari ini, dia bekerja, kau hanya bisa pergi melihat ia pada hari ketiga. Selain hari itu, jangan pernah menampakkan wajahmu dihadapannya!” Lanjut Ayah. Seulyoon pun mengangguk setuju dan meminta izin agar bisa kembali ke kamarnya.

****

[Hari Ketiga]

Sesuai dengan perkataan Ayahnya, Seulyoon hanya bisa mengunjungi Pemuda nekat yang telah melamar dirinya itu, di sebuah tanah lapang yang luas, yang akan menjadi saksi akan lamaran antara dirinya dan Seulyoon. Sampai sekarang, Seulyoon tak habis pikir, mengapa ada Pria yang ingin melamarnya walau diberi syarat yang sangat mustahil dilaksanakan?

“Nona, disinilah tempatnya”

Seulyoon perlahan turun dari kuda yang dipacunya, matanya berkeliling mencari sosok yang sangat pemberani tersebut. Ialah seorang pria di seberang sana, yang masih sibuk menyusun batu bata untuk membentuk sebuah Pagoda yang indah, yang akan digunakan sebagai tempat Pemujaan.

“M–Moon Taeil? Yak! Apa benar kau orangnya?” Panik. Ya, itulah yang dirasakan oleh Seulyoon tatkala melihat pemuda tersebut, yang tak lain adalah seorang pemuda yang sudah bertingkah tak sopan dihadapannya tempo hari yang lalu.

“Aku akan jelaskan Nona Bae Seulyoon, jangan terkejut, aku memang sudah menyukaimu dalam waktu yang amat sangat lama” sembari tetap menyusun batu, Taeil berujar kepada Seulyoon.

“Maaf, karena kemarin sudah tak sopan terhadapmu. Sebenarnya aku pun tak menginginkan hal itu, hanya saja jantungku berpacu lebih cepat dari biasanya ketika aku melihat kau tepat dihadapanku. Maka dari itu, aku memilih untuk segera pergi, dibanding kau melihat pipiku yang penuh dengan semburat merah” Taeil berkata jujur tentang hal yang dialaminya saat bertemu Seulyoon beberapa hari yang lalu. Yang tepat saat itu juga, Seulyoon menge-cap Taeil sebagai Pria dengan tingkat sopan santun yang sangat rendah.

“Aku terlalu pengecut untuk menyatakan perasaanku. Padahalkan, aku selalu menghabiskan waktu untuk melihatmu setiap sore di taman bunga” pengakuan mengejutkan dari Taeil belum berhenti dan masih berlanjut. Seulyoon yang ada didekatnya kala itu hanya bisa terdiam.

Heol, aku tidak menyangka kalau aku punya seseorang yang benar benar peduli terhadapku. Kau ternyata seorang Pria yang baik. Maaf juga karena aku sudah menumbuhkan kesan buruk saat bertemu denganmu” Seulyoon diam diam mengamati wajah Taeil yang dirasanya benar benar tampan jika dilihat dari jarak dekat.

Brakk

Sebuah batu bata yang hendak disusun Taeil tiba tiba saja terjatuh tepat di telapak tangan Taeil sendiri. Darah mulai mengalir dari setiap sudut, keduanya, baik itu Taeil maupun Seulyoon sama sama panik dan tak tahu harus berbuat apa.

“Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak pernah menangani seseorang yang terluka”

Bingung mencari kesana kemari, Seulyoon pun mendapat ide, dia melepaskan sebuah syal hangat yang menutupi area lehernya, kemudian ia ikatkan dengan rapi di telapak tangan Taeil. Sesekali ia juga menekan nekan guna menghentikan aliran darah yang terus mengucur keluar.

“Kau baik baik saja?” Tanya Seulyoon dengan raut wajah cemas yang sangat tergambar jelas. “Iya, aku baik baik saja. Nampaknya kau sangat panik melihatku terluka” balas Taeil seraya mengeluarkan jurus ‘gombalan’ nya.

Hari sudah semakin larut, Matahari sebentar lagi akan kembali ke peraduannya. Kala itu, Seulyoon masih sibuk menyiapkan sebuah makan malam untuk Taeil.

“Apa kau memasak untukku?” Taeil menghampiri Seulyoon, sekedar mengambil sebuah sendok lalu mencicipi hasil masakan Seulyoon yang belum sepenuhnya matang.

“Kau pandai. Masakanmu sangat enak” jempol diancungkan oleh Taeil, pertanda masakan yang dibuat oleh Seulyoon benar benar menggugah seleranya.

Beberapa menit kemudian, Seulyoon kembali dengan membawa serta sebuah nampan yang diatasnya sudah terhidang makanan yang dimasaknya sendiri.

“Makanlah, aku harus segera pulang, Ayahku pasti akan mencariku jika aku tak segera pulang”

“Tinggalah sebentar lagi, aku tak bisa makan dengan tangan kiriku, apa kau lupa kalau tangan kananku masih terluka?” Ucapan Taeil membuat Seulyoon kembali tersadar. Benar, tangan kanan Taeil terluka tadi, tentu saja itu tak bisa digunakan walau hanya menggengam sebuah sendok untuk makan.

“Jadi kau mau aku suapkan?” Wajah Taeil berseri seri melihat Seulyoon memahami kondisinya, suasana romantis sedikit menyelimuti keduanya ketika Seulyoon mulai menyuapi Taeil.

****

[Hari Keenam]

Fisik Taeil sudah mulai melemah, beberapa Pagoda sudah berdiri dengan tegak. Tapi jumlahnya tidak akan berubah menjadi 1001 hanya dalam waktu semalam, mengingat ini adalah hari terakhirnya mengerjakan pagoda pagoda tersebut.

Akal Taeil mencari cari cara lain, sedikit kecurangan mungkin tak akan ketahuan. Maka dari itu, Taeil lalu memanjatkan doa kepada Dewa agar memberinya bala bantuan berupa para Jin dengan tenaga ekstra yang dapat membantunya menyelesaikan ke 1001 Pagoda sesuai perjanjiannya dengan sang Raja yang tak lain pula Ayah dari Seulyoon, wanita pujaan hatinya.

Lantas saja tanpa menunggu waktu lama, doa Taeil terdengar oleh sang Dewa. Satu persatu Jin pekerja itu turun ke bumi, menghadap kearah seorang Moon Taeil yang akan bertindak sebagai Tuannya.

“Aku ingin, kalian membantuku untuk menyelesaikan 1001 Pagoda ini. Agar lamaranku terhadap Nona Bae Seulyoon bisa diterima, dan aku akan menjadi Menantu kerajaan” pinta Taeil kepada Jin jin tersebut.

Tak berapa lama, kumpulan Jin tersebut mulai mengerjakan perintah dari Tuannya, sedangkan Taeil lebih memilih beristirahat, terhitung hampir 6 hari ia bekerja tanpa waktu istirahat sedikit pun.

****

Para Prajurit yang ditugaskan untuk mengecek seberapa jauh pekerjaan Taeil sangat terkejut ketika melihat bahwa bukanlah seorang Moon Taeil yang bekerja membangun ke 1001 Pagoda tersebut, melainkan kumpulan Jin yang diturunkan atas doa Taeil kepada sang Dewa.

Tak tinggal diam, Prajurit itupun berniat melaporkan hal ini kepada Paduka Raja.

“Apa benar ia menggunakan Jin untuk membuat Pagodanya?” Paduka Raja tampak sangat marah akan hal tersebut, terlihat dari raut wajahnya yang berwarna kemerah merahan, saking menahan emosinya yang sudah mencapai puncak.

“Persiapkan alat pancung sekarang juga! Bunyikan Gong pertanda selesai lebih awal! Kita harus menghukum ia seberat apapun!”

Prajurit prajurit tersebut lalu menyanggupi perintah Paduka Raja. Mempersiapkan alat pancung untuk acara penghukuman Taeil, dan juga Gong raksasa yang siap dibunyikan lebih cepat dari waktu yang menjadi kesepakatan.

Diam diam, Seulyoon mengamati semua pergerakan itu dari bilik jendela kamarnya, air mata mulai turun dari matanya, tak menyangka kalau hukuman seberat ini yang akan menyambut Taeil nantinya. Sekarang Seulyoon tahu, kalau Taeil benar benar mencintai dirinya dengan tulus, terbukti ia bahkan menggunakan nyawanya sebagai taruhan.

Seulyoon harus menghentikan ini semua. Ia juga mulai menyadari kalau ada benih benih cinta yang timbul dihatinya terhadap sosok Taeil.

“Ayah!!!”

“Ayah! Ayah tidak boleh! Tidak boleh menghukum Taeil! Kalau Ayah menghukumnya, itu sama saja dengan Ayah mencabut nyawanya sendiri! Aku mohon Ayah, hentikan ini semua” Tangis mengharukan Seulyoon benar benar pecah dihadapan sang Ayah, sembari berlutut ia terus meronta agar penghukuman terhadap Taeil tidak dilaksanakan. Tapi bukanlah seorang Raja kalau ia tidak bijak dan berpegang teguh pada keputusan awalnya.

“Hentikan Ayah! Kumohon!” Tak merasa iba sama sekali, Ayah malah menyuruh prajuritnya yang lain untuk segera mengamankan Seulyoon agar tidak menganggu proses penghukuman.

****

Karena pelanggaran terhadap janji yang dibuatnya dengan sang Raja, Taeil pun harus meregang nyawa. Jasadnya dibuat menjadi patung untuk diletakkan sebagai Pagoda ke 1000, usai para Jin suruhannya membuat 999 Pagoda namun saja tak sempat terselesaikan karena niatan Paduka Raja yang sudah mengetahui semuanya.

Rasa bersalah sama sekali tak ditunjukkan oleh Raja sekaligus Ayah dari Seulyoon. Hanya Seulyoon yang nampaknya sangat terpukul dan merasa kehilangan.

Setiap sore, Seulyoon berkunjung ke Pagoda yang juga menjadi tempat persemayaman terakhir dari Moon Taeil, pria yang baru saja dikenalnya namun bisa membuatnya jatuh cinta hanya dalam waktu sekejap, pria yang sudah bertaruh nyawa demi melamar dan mempersunting dirinya.

Bahkan dimusim dingin, Seulyoon terus datang ke Pagoda tersebut. Tak peduli dengan ramalan dari sang Tabib Kerajaan yang mengatakan musim dingin kali ini akan sangat ekstrem dan para warga dihimbau agar tidak terlalu banyak menghabiskan waktu diluar rumah.

Seulyoon tidak menaati semua hal yang menjadi larangannya tersebut. Ia terus nekat, hingga pada akhirnya, suatu hari ia juga ditemukan sudah tak bernyawa dalam keadaan separuh badannya sudah membeku kedinginan.

Serupa dengan Taeil, jasad Seulyoon pun dibentuk menjadi patung dan diletakkan tepat disamping jasad Taeil berada. Melengkapi Pagoda itu yang akhirnya mencapai angka sesuai yang diinginkan, yaitu 1001 Pagoda.

-FIN-

Finish:
30 April, 11:18 pm

First of all, sorry kalo ff spesial event ini jauh banget dari basic theme kali ini yaitu historical. Sumvah pertama kali liat pengumuman event ttg historical, aku gigit jari, tantangan berat aja gitu, karena selama masa jabatan(?) jadi author saya belum pernah sama sekali membuat ff dengan genre historical. Pokoknya laffyu banget buat kaka kaka yang jadi pencetus ide ini, jadi tantangan yang seru banget buat aku. Serius deh, nyari ide utk ff ini emang ga semudah menyatakan cinta terhadap Oppa oppa di NCT U, keliling kesana kemari, sempat gonta ganti ide, sempet disaranin juga sama kak Lellychi buat pake genre urban legend, but aku bukanlah seorang pemberani yang akan memasukkan kisah kisah tragis nan menyeramkan itu kedalam ff buatanku, entahlah mungkin nanti akan ku coba.
sampai fix deh kepikiran sama cerita candi prambanan/candi roro jongrang itu, udah itu langsung cus request poster ke kakve yang baik banget mau buatin poster manip aku, biar si Maz Taeil keliatan aura aura pemuda di zaman joseon dahulu kala.
Mungkin ada yg ga nerima sama ide ku yang mengganti latar cerita, yg tadinya di Indo aku ubah ke Korea, kenapa? Sempat kepikiran lawak aja sih kalo namanya Maz Taeil kuubah jadi Taeil Warsa, trus OC nya kuubah jadi Seulyoon Jongrang :’v
Sepertinya cuap cuap gaje ku sekian sampai disini, entar malah panjangan ini lagi daripada ff nya.
Sekali lagi, maafkan daku budir kalo buat ff ga sesuai amat sama tema event, aku juga udh berusaha semaksimal mungkin buat bisa bkin ff historical yang emang bener bener historical(?) hanya saja aku bukanlah seorang author senpai yang sudah mencicipi semua genre di dunia per-ff-an, apalah daya cuma bisa buat fluff gaje bin absurd dan historical layaknya sebuah menu baru untuk dikonsumsi dan tentunya harus ada penyesuaian terlebih dahulu.

Sekian,
Ttd
Zifanfan – Tasya

Advertisements

6 thoughts on “[Get into the Time Machine] The Legend of 1001 Pagoda

  1. Dan akhirnya cinta Mas Taeil dan Mba Seulyoon abadi di dalam pagoda persembahan cinta itu.. Eh cie, Mas Taeil lamaran ditolakpun masih bisa aja bikin putri raja nangis.. Aku terhura, eh, terharu maksudnya /garing/plak/

    Boleh aku kasih saran nggak?
    Aku nemu banyak banget kalimat dalam tanda petik yang nggak ada tanda baca di akhir kalimatnya. Alangkah lebih baiknya kalau kamu kasih titik atau tanda baca lain di ujung kalimat kalau emang kalimat itu sudah selesai dan akan pindah pada kalimat lain di luar percakapan atau percakapan lawan bicara. Di mataku, kalimatnya jadi keliatan aneh dan terhitung typo. Kan sayang tuh, ide ceritanya udah bagus tapi waktu baca nggak bisa ngena karena nggak tau cara baca kalimatnya dengan nada terbaiknya (?)
    Terus ada juga satu kalimat yang menurutku itu salah satu plot terkuat di cerita ini, tapi kamu salah pake tanda baca. Pas bagian “Bibi benar, meskipun dia punya wajah yang tampan, tapi sikapnya tak sesuai, aku tidak menyukai Pria seperti dia!”
    Alangkah baiknya kalau kamu tulis “Bibi benar, meskipun dia punya wajah yang tampan, tapi sikapnya tak sesuai. Aku tidak menyukai pria seperti dia!”
    Jadi ada penekanan yang kuat yang nunjukin emosi Seulyoon waktu bicara.
    Terus pas bagian ..balas Taeil seraya mengeluarkan jurus ‘gombalan’ nya.
    Jauh lebih baik kalau kamu tulis ‘nya’ di akhir nggak terpisah. Jadi ..balas Taeil seraya mengeluarkan jurus ‘gombalannya’.
    Hati-hati loh, tanda baca bisa bikin cerita kamu yang udah keren kehilangan jiwanya.
    Segitu aja sih dari aku. Jangan marah ya aku komen kek gini.. Aku suka banget soalnya sama ide cerita ini.. hehe
    Pokoknya semangat ya!!

    Liked by 1 person

    • Huhuhu…
      Aku juga terharu ka febby sempetin komen di ff absurd aku
      Makasih sarannya kak, aku terima dengan baik kok, ff ini memang ku buat dalam waktu kepepet banget, ku pikir deadlinenya tgl 30 dan harus kelar hari itu juga, bela belain begadang demi kelarin ff ini, jadi yah gitu, habis ketik udah langsung didraft, ga sempet baca lagi, jadi ga sempet perbaikin kalimat kalimat yang salah.

      Ke depannya aku bakal perbaikin lagi deh, semoga NCTFFEvent selanjutnya lebih greget(?) biar sekalian aku buat ff yg sesuai dengan tata bahasa yg seharusnya(?)

      /bow/

      Like

  2. AKU MAU BACA…..SALVOK SAMA POSTER…..DAN AKHIRNYA NGAKAK SAMA MUKANYA…
    ITU SIAPA…
    JANGAN BILANG….
    TOLONG…..
    JANGAN BILANG….
    ITU TAEIL….
    ATAU SPESIES SEJENIS TAEIL…..
    HAYATI GAK SANGGUP……
    YA LORD…

    Liked by 1 person

  3. Taeil Warsa & Seulyoon Jongrang :’”””V Tasya sini kamu aku ciyom dulu pake gunting kuku /gak/

    Rata-rata kamu nulis kalimat ulang semacam ‘Rata-rata’ itu seperti ini ‘rata rata’ ga ada tanda stripnya di tengah. Maksudku biar rapi aja gitu mengingatkan pake tanda strip. Terus juga setiap di kalimat langsung seperti ini -> “Maaf Nona, aku harus permisi” harusnya di buntut kalimat sebelum tanda kutip akhir dikasih tanda baca titik atau koma jadi contoh kaya gini -> “Maaf Nona, aku harus permisi.” biar rapi aja gitu Tasya. Terus awalnya kan si Seulyoon jongrang gak kenal sama Taeil warsa, nah kenapa tiba-tiba di tengah alur si Seulyoon tetiba tau nama Taeil hahaha.

    Ini kece kok Tasya, keep writing! Aku juga newbi genre sama sepertimu, mangaats! ^^

    Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s