[Get into the Time Machine] Arbeit Macht Frei

thehunlulu ©2016 present…

ARBEIT MACHT FREI 

Credit poster goes to Venus
.
Starring: [NCT-U] Jung Jaehyun & [OC] Anne (Mentioned: Mark Lee)
Genre: Historical, friendship, tragedy, sad, painful || Oneshot || PG-17 

.

[Sequel of Brausebad by Mingi Kumiko (very recomended to read it first)] 

Aku mendengarnya, masih terus mendengarnya…

***

 

Aku mendengarnya…

Sayup-sayup kudengar teriakan Anne yang mengajakku tetap berada pada barisan dengan tenang, namun aku menolaknya. Ketika suara khas Mark Lee–bocah lugu yang lebih muda dua tahun dariku–berujar bahwa ia akan berpindah haluan menuju barisan lain, sejujurnya naluriku sudah menciptakan gemuruh tak keruan di dalam dada. Aku tak melarangnya memang, karena menurutku pilihannya akan membawa kebaikan tersendiri untuknya. Walaupun–sejujurnya–firasatku berkata bahwa keputusan yang ia ambil sungguh fatal. Entah apapun itu, namun aku merasa demikian.

Dan sekali lagi, firasatku tidak pernah meleset barang sejengkal.

“Jay! Jay!”

Aku sontak terperanjak kala pekikan Anne dengan lantang melafalkan namaku. Dengan gesit, aku berpindah haluan menjemput Anne yang nyaris terperosok di antara belasan pria berwajah bengis, kemudian aku segera memberi isyarat untuk menyuruhnya mundur guna bertukar tempat dengan pria yang berada di barisan paling belakang.

Aku nyaris hilang kendali sebelum kedua tangan Anne merengkuhku, menyuruhku untuk menuntaskan lamunanku agar bisa menatap wajahnya lamat-lamat. “Jay!” pekiknya kemudian.

“An–Anne…” ucapku terbata, enggan menghentikan kedua obsidianku yang berkelana linglung kendati jemariku mencengkeram erat pergelangan tangannya. Kurasakan bulir peluh yang terasa dingin pun panas mulai mengalir pada pelipisku.

Suara bising para petugas yang memperlakukan para tawanan membuat Anne harus mengambil napas dalam-dalam guna berteriak tepat di depan wajahku. Aku mendengarnya, aku dapat merasakan embusan angin yang menyapu wajahku, begitu pula dengan tangan Anne yang menampar pipiku keras-keras seperti ingin menandingi kencangnya embusan angin saat ini.

“Jay! Dengarkan aku, Jay!”

Untuk selanjutnya, naluriku baru tergugah untuk merespon perkataan Anne. Mimik mukanya yang terlampau panik membuatku semakin yakin bahwa firasat yang sukar membuat hatiku tenang ini benar adanya. Daripada terus-menerus melawan dan berusaha mengenyahkan firasat yang tak lain dan tak bukan adalah musuh terbesar dalam benakku, maka aku lekas memacu tungkaiku meninggalkan Anne seorang diri. Tak peduli apa yang terlintas di pikirannya kala melihat punggungku semakin menjauh dari peredarannya, aku tak akan mengurungkan niatku barang sedikit pun.

Kayuhan tungkaiku mendadak berhenti tepat di depan sebuah pintu penghubung antara bagian luar dan bagian dalam gedung yang kini telah tertutup rapat.

Brausebad,” ujarku bermonolog, membaca papan raksasa yang terpampang tepat di atas pintu yang ukurannya melebihi ukuran pintu biasa.

Aku tak begitu mengerti apa yang dilakukan Mark di dalamnya. Kendati begitu, tiba-tiba saja adrenalinku naik menuju puncak secara drastis. Lagi-lagi aku dapat merasakan degup jantungku yang sukar stabil kala kedua bola mataku mencoba berkelana, menelaah tempat macam apa yang Mark masuki beberapa detik lalu.

Jay…Anne…tolong aku…

Rintihan itu.

Aku begitu mengenalnya, sangat amat mengenalnya.

“Mark!” pekikku sekencang mungkin, mengambil alih seluruh kekuatan yang kumiliki demi memekikkan namanya.

J-Jay…Anne…kumohon dengarkan aku…

Aku mendengarnya, masih terus mendengarnya.

Sumber suara itu semakin menggema dari dalam ruangan kendati tak ada celah sedikit pun yang tersisa pada dinding gedung. Semua tampak rapi nan dinamis, serta enggan melakukan pemborosan demi membuat sedikit celah; ventilasi maupun jendela kecil yang disematkan pada sisi luar gedung.

Jay…kumohon selamatkan aku…siapa pun selamatkan aku…

“MARK LEE!” berkejaran dengan suara hentakan kaki para petugas yang mulai menyergapku, aku lantas berteriak histeris. Tenggorokanku tercekat, suara Mark di dalam sana semakin menciut dan melemah, entah sudah berapa sekon yang kuhabiskan di sini demi mengintai aktivitasnya dari luar.

Aku yakin itu adalah Mark. Bocah lugu yang lebih muda dua tahun dariku. Bocah lugu yang seharusnya dapat menikmati kebahagiaan hidupnya sebagai remaja bersamaku. Bocah lugu yang tidak seharusnya kehidupannya direnggut dengan cara yang tidak manusiawi. Satu-satunya bocah lugu yang memanggilku dengan sebutan ‘Jay’–selain Anne yang juga memanggilku demikian.

“Lepaskan aku!” teriakku yang nyaris mengumpat saat para petugas memborgol kedua tanganku. Atmosfer yang kurasakan saat ini berubah dengan cepat, kilatan bengis nan kejam dapat kulihat dari beberapa pasang manik petugas yang tengah meringkusku dari tempat ini.

Aku mencoba melawan, memanfaatkan tungkaiku yang masih dapat berayun bebas untuk menendanginya satu-persatu.

“Diam kau, bocah keparat!” satu buah kepalan tangan sukses menghantam pelipisku, lantas tangan yang satunya ia gunakan untuk membogem perutku. Bertubi-tubi namun pasti, salah satu petugas berkumis tebal pun tak sungkan-sungkan untuk mengayunkan kakinya tepat pada tulang keringku, memaksaku untuk mau tak mau berlutut di hadapannya.

“Siapa yang menyuruhmu keluar dari barisan, bocah keparat?!” jemarinya dengan kuat menjambak rambutku, aku mendongak ke arahnya penuh luapan amarah yang membendung lubuk hatiku. Ingin rasanya aku mengumpat di depan wajahnya, meminta para petugas sialan ini untuk membebaskan kawanku–Mark.

BUG!

Tubuhku ambruk, ditemani oleh bau anyir yang tercipta atas mahakarya para petugas yang melayangkan bogemannya pada pelipis kananku. Leherku benar-benar lemas, hendak mendongak namun kuurungkan saat likuid merah pekat mengalir dari pelipisku dan bercucuran menghantam tanah yang kupijak.

“Katakan siapa namamu, bocah kurang ajar?!”

“J–Jung Ja–Jaehyun…”

Setelahnya, mereka tak memberikan respon sama sekali. Sembari membantuku bangkit dengan kasar, mereka mengawalku untuk kembali menuju barisanku yang sesungguhnya. Mereka kemudian melepaskan borgol yang mengapit kuat kedua pergelangan tanganku dan mendorong kepalaku kuat-kuat hingga aku nyaris dibuat terjerembab olehnya.

Cemooh serta tawaan dari para tawanan yang lain pun satu-persatu menyambangi runguku. Tubuhku meringkuk sembari bersandar pada dinding pembatas antara bagian luar dan dalam gedung. Memicing gedung tempat Mark berada yang terletak jauh di sebelah timur hanya membuatku semakin merasakan nyeri yang bersarang pada seluruh tubuhku.

“Jay! Jay!” Anne menghambur ke arahku, menyeka likuid merah yang masih terus menerobos pelipisku tanpa henti dengan sapu tangan miliknya. Lekukan kurva yang ia ciptakan memancarkan raut resah pada parasnya, perlahan cairan bening yang tak terbendung mengalir pada kedua pipinya.

“A–aku mendengarnya, Ann.”

“Sudahlah, Jay! Jangan selalu mempercayai firasatmu! Mark tak akan rugi jika mengikuti kata hatinya…” perlahan ia menundukkan kepalanya, turut duduk di sampingku sembari menahan sesak pada napasnya. Likuid bening senantiasa mengalir pada kedua pipinya, perlahan ia terisak dan memukulku keras.

“Kau bodoh, Jay! Kau bodoh!”

Aku terdiam.

“Jangan pikirkan Mark, bodoh! Untuk apa kau memikirkan nasib orang lain disaat nasibmu sendiri saja belum kau ketahui?! Jay bodoh! K–kau bodoh karena berani melawan Nazi, kau bodoh!” bertubi-tubi ia memukulku, mengeluarkan seluruh tenaganya untuk mencaci-makiku. Aku tak menghindar, ada baiknya jika petuah gadis di sampingku kudengarkan secara seksama, mengingat aku hanyalah rakyat kecil–lebih tepatnya tawanan–yang dijadikan boneka oleh Nazi guna melaksanakan segala perintah serta kewajibannya yang sungguh jauh dari kata manusiawi.

Beberapa sekon setelahnya, tembakan dari pasukan militer menggaung, menyergap segala keributan yang tercipta agar seluruh tawanan tunduk pada mereka. Aku lekas bangkit dengan perlahan, masih dengan rasa nyeri yang bersarang pada beberapa bagian tubuhku, pun Anne yang masih terus terisak. Aku hanya mampu mengajaknya kembali ke dalam barisan, berbaris guna mengikuti pemeriksaan selanjutnya.

Anne menarikku sedikit agar aku bisa berbaris lebih dahulu, kemudian para petugas melakukan pengecekan ulang dengan menanyakan umur kami serta beberapa pertanyaan lain.

“Jung Jaehyun!”

“Saya sendiri,” tukasku disertai tundukan yang amat dalam, bersamaan dengan seretan salah seorang petugas berpakaian militer yang menarikku menuju pintu penghubung yang terletak di ujung ruangan. Pergerakannya begitu cepat, hingga aku lepas kontak dengan Anne dalam hitungan detik.

“Akh…”

“Kau sepertinya tidak kelihatan sehat, anak muda,” ujarnya masih dengan mempertahankan kebengisannya.

“Tidak, aku hanya–AKH!” tak kusangka, petugas itu menyayatkan belati kecil miliknya tepat pada pergelangan tanganku. Nyeri menyergap, membuatku menutup rapat-rapat kelopak mataku karena darah yang tak segan-segan menerobos kulitku. Mengaduh pun percuma, karena nyatanya para angkatan militer di sini sukar–atau bahkan enggan–memberikan keadilan pada rakyat kecil sepertiku.

“Oh syukurlah darahmu masih bisa mengalir, itu berarti kau masih sehat, anak muda.”

Berengsek!

“Hampir saja aku menyeretmu menuju brausebad jika saja fisikmu sama menyedihkannya dengan penampilanmu. Sekarang cepat pilah tumpukan pakaian di sana lalu jemur di dekat gedung sebelah timur jika sudah selesai!”

Aku hanya mampu mengucapkan sebuah kata persetujuan, masih dengan cucuran darah yang berlomba-lomba mengalir dari pergelangan tanganku.

“Perlu kau ingat, hasil kerjamu menentukan nasibmu setelah ini, anak muda,” seringaian tampak pada wajahnya, berbisik selembut mungkin padaku kemudian meninggalkanku seorang diri.

Sungguh, selepas presensi sang petugas enyah dari jangkauan netraku, keingintahuanku akan sebuah tempat bernama ‘brausebad’ itu perlahan menghantam pikiranku. Atensiku pun mulai memberi isyarat pada tungkaiku untuk melangkah, menjamah seisi ruangan kemudian melewati beberapa pintu penghubung yang terletak semakin jauh di dalam ruangan. Kesimpulan yang dapat kutarik kala mengedarkan pandang; para tentara di bawah naungan Nazi sangat lihai dalam membuat ruangan tersembunyi di dalam sebuah gedung yang agaknya tidak terlalu besar jika dilihat dari luar.

Untuk sesaat laju tungkaiku berhenti, memandang jendela persegi panjang yang lebarnya tidak lebih dari lima puluh senti yang tersemat pada salah satu pintu penghubung. Aku menatapnya lamat-lamat, namun yang kutemui hanyalah asap berwarna putih yang mengepul menghiasi seisi ruangan. Aku tidak dapat melihat apa pun kecuali bayang-bayang akan Mark yang sedari tadi menghantui pikiranku. Berjingkat sedikit, aku berusaha melihat situasi di dalam sana. Namun nihil, aku tak menemukan apa-apa.

“Sialan!” umpatku.

“Sedang apa kau berada di sini, anak muda?”

Napasku tercekat, ketua pimpinan Nazi–yang sungguh biadab itu–tiba-tiba saja memandangku dengan sebuah seringaian yang terkulum pada kedua ujung bibirnya. Mengetahui tabiatku yang sangat tidak sopan di sini, maka ia lekas membuka suara, “tidak bisa menjaga amanah, lancang memasuki ruangan lain, dan–“ ia menarik daguku, mengamati wajahku dengan seksama.

“–ohh, kau benar-benar masih muda, ternyata. Sungguh tidak sopan!” ia melepaskan tangannya disertai sedikit energi yang ia keluarkan yang membuatku terjerembab.

“M–maafkan aku, paman.” aku segera bangkit, peluhku perlahan menetes dan rasa nyeri pada beberapa bagian tubuhku kembali menyergap. Aku dibuat linglung, tiba-tiba saja pandanganku menjadi tidak stabil.

“Cepat kembali ke pekerjaanmu!” amukkannya begitu memekakkan telinga, sebelum akhirnya aku pergi dengan menyeret tungkaiku menuju ruangan awal tempatku ditugaskan.

Drap drap drap.

“Tunggu, anak muda.”

Aku tersentak kaget, kemudian menoleh kearahnya.

Ia mendekatiku, menatapku anarkis kemudian mendekatkan bibirnya pada telingaku. “Jangan berani-beraninya kau memberitahu segala macam situasi yang kau lihat di dalam gedung ini. Kau mengerti?!”

Sebuah petuah yang agaknya membuat rasa penasaranku semakin tinggi; merahasiakan tempat ini yang berarti hanya aku satu-satunya tawanan yang mereka percaya.

“Baik paman.”

“Jaga kehormatanmu sebagai tawanan kami di sini. Jika tidak, maka nasibmu akan lebih mengenaskan dari nasib para penghuni braus–“

Apa katanya? Brausebad?

Sepersekian detik berikutnya ia bungkam.

Terlonjak kaget, aku lantas menganggukkan kepala sembari melihatnya melenggang pergi.

 

***

Brausebad.

Demikian sepatah kata yang masih menjadi lilitan masalah yang membuatku penasaran bukan kepalang. Setelah tugas memilah pakaian telah usai, maka langkahku tertuju pada sisi gedung sebelah timur untuk menjemurnya. Kuakui dua karung yang menggantung di kedua pergelangan tanganku sangat berat, cukup untuk membuatku berjalan dengan sempoyongan dengan peluh yang berlomba-lomba menetes dan membasahi kerahku.
Ada hal yang terus menghantui kepalaku semenjak kepergian Mark beberapa waktu lalu; rintihan menyedihkan yang kudefinisikan sebagai ungkapan rasa serta situasi yang terjadi di dalam sana–tentunya tempat Mark berada. Kendati begitu, aku tak mau ambil pusing. Aku yakin Mark akan dibimbing dengan baik oleh para tentara, mengingat usianya yang masih sangat belia membuatku begitu yakin berpikir demikian.

Aku baru ingat sesuatu saat ayunan langkahku berhenti pada sebuah bentangan tali–semacam tali jangkar–yang terlihat kosong. Aku segera menurunkan karung bawaanku kemudian mengambil satu-persatu pakaian dari dalamnya guna kugantungkan pada tali itu. Saat aku mendongak mengingat cuaca kurang bersahabat, napasku tak segan-segan untuk tersendat sesaat. Jika dapat kudefinisikan, mungkin pupilku sudah membulat maksimal saat mengeja sebuah tulisan yang terletak di atas sebuah pintu yang sangat familiar di mataku. Bola mataku dibuat berkelana kesana-kemari mengikuti polah mencurigakan beberapa tawanan seumuranku yang tengah menyeret sebuah karung yang cukup panjang dengan seutas tali pada ujungnya.

“Permisi!” kuakui sedikit tidak sopan memang, namun apa boleh buat, sedari tadi otakku dipenuhi oleh berbagai macam delusi tentang tempat aneh itu.

Para tawanan itu berhenti sesaat, menoleh ke arahku yang sedang mengintip gerak-geriknya. Tak luput dengan kerutan pada dahinya, ia meletakkan kembali beberapa karung itu di atas lantai.

“Ada apa?” bisik salah satu dari mereka. Bisikannya terlampau seperti sebuah isyarat pada bibir, namun aku mengerti apa yang ia katakan.

“Apa yang kau lakukan di sana?” tanyaku mengimbangi bisikannya, namun ia segera membungkuk lalu bersimpuh di hadapanku–menyuruhku duduk sepertinya.

“Aku tawanan Belanda yang bertugas di brausebad. Kau sendiri?”

Mendengar hal itu sudah sewajarnya alisku saling bertaut, gejolak penasaran itu semakin membuncah di ubun-ubun. “Brausebad, ya? Ah, aku ditugasi untuk menjemur pakaian di sini. Omong omong–”

Sedetik berikutnya aku merasa tak bergairah untuk melanjutkan ucapanku. Tawanan yang ada di depanku ini sungguh membuat nyaliku menciut. Ia mencondongkan tubuhnya, mengatakan rangkaian frasa yang membuatku terperanjak bukan main.
“Apa katamu?! Kau bilang benda ini adalah satu-satunya peninggalan korban kebiadaban Nazi?!” terlonjak kaget, aku sudah nyaris hilang kendali sebelum ia menahan mulutku agar tidak membuat kegaduhan.

“Ya. Beruntunglah dirimu–tunggu sebentar, siapa namamu?”

“Jaehyun. Jung Jaehyun.”

“Ah ya, beruntunglah dirimu Jung Jaehyun. Mungkin tidak banyak orang tahu di mana letak kebengisan tentara Nazi berada, namun satu yang perlu kau ketahui.”

“Apa itu?” tanyaku merajuk dengan sedikit paksaan pada perkataanku.

“Aku tidak seberuntung dirimu, Jaehyun. Pasalnya kau hanya memilah dan menjemur pakaian puluhan bahkan ratusan korban. Lain halnya denganku, yang mau tak mau harus patuh saat petugas menyuruhku untuk membereskan semua jasad yang ada di dalam sana,” pandangannya beralih menunjuk pada sebuah pintu yang belum sepenuhnya tertutup, menyisakan celah yang dapat kulihat asap mengepul dari dalamnya.

“Maksudmu brausebad?” sedikit menjangkau titik rasa penasaranku, aku dengan lantang berteriak tepat di telinganya.

“Hei hei! Tenang sedikit, bung!” tukasnya sambil menepuk pundakku sedikit kasar.

“Jadi–”

“Hei?”

Bersamaan dengan tangannya yang berusaha menyadarkan lamunanku, jemariku mendadak kaku. Tak pernah kurasakan sensasi aneh yang menjalar dari dadaku. Seakan memompa darah yang nyaris membeku, perlahan peluhku menetes. Kedua obsidianku sukar melihat dengan jelas saat kurasakan genangan air mata membendung di pelupuk mataku.

“Terima kasih sudah menyempatkan waktmu untuk berbincang denganku,” tukasku sembari menyeka kasar air mataku.

“Sebentar Jaehyun.”

Aku mendongak gelisah, menatap manik teduhnya yang tampak berkelana menatap wajahku.

“Kau–ahh, sepertinya pernah melihat orang sepertimu di dalam sana.”

“Maksudmu?”

Hingga beberapa sekon ia tersadar, lantas menepuk tangannya sekali. “Saat membereskan jasad-jasad yang ada di dalam brausebad, aku sempat melihat seorang remaja yang agaknya terlihat seperti penduduk ras Mongolia sepertimu.”

Hawa dingin seketika menyergap tubuhku. Aku tak berkutik sama sekali, jantungku rasanya hampir retak mendengarkan penuturannya barusan.

“Sudah dulu ya, aku hendak melanjutkan pekerjaanku,” sambungnya kemudian, dilanjutkan dengan presensinya yang mulai menghilang dari edaran mataku.

“Tunggu! Kau bilang kau melihat salah satu jasad itu adalah orang yang memiliki ras yang sama denganku?”

Pekikanku sedikit tercekat memang, namun ia dapat mendengarnya dengan baik. Kemudian setelah pekikanku usai, ia mengangguk mantap.

Aku berbalik badan, merasakan ratusan bahkan ribuan belati yang menghujam jantungku bertubi-tubi. Ini lebih sakit, bahkan rasa nyeri pada beberapa bagian tubuhku pun berangsur-angsur menghilang bersamaan dengan likuid bening yang menciptakan sungai kecil pada kedua pipiku. Aku terisak, menunjukkan rasa kegundahan yang bersarang di dalam benakku yang perlahan meluap, menjadikannya sebagai kenyataan yang sangat amat menyakitkan.

Aku memberikan seluruh kepercayaanku pada tawanan Belanda tadi, semuanya tidak mungkin ia ucapkan dengan kedustaan kendati pikiran rasionalku berpihak pada Anne–yang telah mengatakan bahwa Mark akan baik-baik saja.

Melanjutkan pekerjaanku yang sempat terhenti, satu-satunya cara agar aku bisa melupakan eksistensi Mark yang masih berlabuh pada pikiranku adalah bersenandung kecil dengan isakan yang tersenggal-senggal. Tanganku pun sedikit demi sedikit menggantungkan puluhan pakaian yang kubawa pada sebuah tali di depanku.

Sampai pada pakaian kedelapan, jantungku berdesir hebat. Perkataan tawanan tadi terus berputar di otakku.

Aku tersadar dan segera membuyarkan lamunanku. Tanganku bergetar, mengangkat dengan perlahan pakaian yang sangat kukenali. Sumpah serapah yang kulontarkan dalam hati rasanya ingin membeludak saja kala kubentangkan pakaian itu.

Itu adalah pakaian yang Mark kenakan saat terakhir kali kami bersitatap.

Mengingatnya saja sudah jantungku terasa sangat panas, kendati tubuh lemahku hendak meneriakkan namanya sekali lagi. Dengan cepat aku berjongkok, meringkuk di antara gerombolan tawanan yang sedang mondar-mandir di dekatku. Kuremas buku-buku jariku pada pakaian tak berdosa itu, kemudian bergumam samar.

“Jangan tinggalkan aku Mark…kumohon jangan tinggalkan aku…” hatiku sungguh perih, yang bisa kulakukan hanyalah menenggelamkan kepalaku pada kedua lutut yang kutekuk.

Hingga akhirnya tangisanku pecah, berdifusi dengan terjangan angin yang membuat tubuhku sedikit menggigil dibuatnya. Punggungku bergetar naik turun setelahnya, meluapkan segala kerisauan yang ada di dalam hati. Mungkin jika aku melarang Mark dan mengikuti kata hatiku saat itu, ia bisa selamat dan masih bisa tertawa bersamaku sampai detik ini. Aku mengerti usahaku sia-sia, menangis guna meleburkan segala pilu yang menghantam dada tak serta merta mengembalikan jiwa dan raga Mark kembali.

 

***

 

“Di mana seluruh keadilan yang kalian miliki?!”

“Masih merasa kurang dengan segala kebijakan kami? Kami sudah memberlakukan peraturan guna memperlancar aktivitas militer namun rupanya hanya temanmu saja yang selalu berbuat onar!”

“Segera setelah hukumanmu selesai kujalankan, maka cepat lepaskan dia!”

Berlutut sempurna di hadapan para tentara, Anne yang semula menahan kuat tangisannya kini sudah tak dapat dibendung lagi. Tanpa mempedulikan kedua lututnya yang merasakan panas luar biasa di atas tanah lapang, ia meronta sekuat yang ia bisa. Seakan menulikan kedua telinganya akan pekikanku, eksistensinya yang dipandang hening oleh seluruh tawanan serta tentara yang mengepungnya tak serta merta membuat nyalinya menciut. Sejumput saja kesalahan yang tidak sengaja ia lontarkan, maka sebuah besi runcing yang ada di atasku sudah terjatuh, memotong sempurna leherku yang kini diapit oleh sebuah kayu yang menyangga kepalaku. Dan jika saja seorang petugas di belakangku melepas cengkeraman jemarinya pada sebuah tali yang ia tarik kuat, maka aku akan bersyukur.

Atau memang lebih baik Anne mencaci-maki mereka saja agar aku bisa secepatnya menghadap pada Yang Maha Kuasa. Bukankah begitu tujuan manusia selama hidupnya?

Namun Anne tampak keras kepala, ia berteriak sekencang mungkin berkejaran dengan angin yang berdesir menggelitik telinga. Kini tubuhnya sedikit tegak, menatap satu-persatu manik para tentara dengan kilatan amarah yang mendominasi seluruh tubuhnya. Sesungguhnya jantungku berpacu dengan sangat cepat saat memandang wajahnya dari kejauhan, karena ia adalah satu-satunya tawanan wanita yang berani mendesak pimpinan Nazi untuk memberikan keadilan pada kawannya. Sungguh, kini seluruh relung hatiku diliputi oleh rasa dosa yang amat sangat besar. Ingin rasanya menarik kuat-kuat besi runcing di atasku agar dengan cepat menembuskan jerujinya pada leherku. Aku lebih bahagia kala manusia-manusia bengis di sini melihat darah tawanannya mengalir bebas, menyeruakkan bau anyir yang dapat membuatnya semakin puas. Terlebih lagi jika ini adalah bentuk penghormatan bagi Mark karena ia sudah meninggalkanku lebih dulu.

“Katakan apa maumu! Katakan sekarang!” pekik Anne nyaris tercekat, masih mempertahankan posisinya dengan berlutut di hadapan para tentara. “Jay, bersabarlah sebentar…aku siap menerima hukuman dari mereka asalkan kau tidak mati dengan tidak manusiawi di sini!” kerlingan matanya menyergapku dari jauh, seketika kedua katup bibirku sukar untuk mengeluarkan kata-kata. Aku hanya bisa memberi isyarat berupa tetesan likuid bening yang mengalir pada kedua pipiku.

“Katakan apa maumu, para tentara berengsek!”

“Turunkan besinya tiga puluh senti!”

Aku meringis kemudian, mendengarkan gesekan antara besi dan penyangga yang semakin dekat dengan leherku. Tidak ada yang bisa kulakukan kendati telingaku dibuat ngilu karena suara jeruji besi itu yang semakin dekat. Kedua tanganku diikat ke belakang, kemudian kugenggam tanganku kuat-kuat. Aku berharap tali laknat itu terlepas. Jika terlepas, maka sudah otomatis jeruji besi itu menghantam leherku dan semua orang di sini akan menyaksikan sebuah drama mengasyikkan sepanjang sejarah di mana pemeran utamanya meninggalkan dunia dengan sangat tidak manusiawi.

Tamat sudah.

“Oh, kasihan sekali kau gadis muda. Coba katakan sekali lagi,” tukas pimpinan itu dengan halus, membuat situasi menjadi senyaman mungkin kendati Anne sudah nyaris kehilangan seluruh energinya.

“KATAKAN APA YANG KALIAN MAU, TENTARA BERENGSEK?!”

“Kau.”

Semua pasang mata terbelalak, memandang satu sama lain penuh dengan luapan rasa penasaran. Bisikan yang berubah menjadi keriuhan pun tercipta. Anne hanya mampu membeku disertai paras tidak keruannya setelah mendengar perkataan tentara di hadapannya.

“Aku menginginkanmu, gadis muda. Jika kau tak ingin temanmu mati dengan cara tidak manusiawi, maka kupersilahkan kau menggantikannya.”

Sedetik berikutnya Anne membelalakkan mata tertegun, kemudian menolehkan kepalanya ke arahku, rautnya memancarkan kegelisahan yang amat sangat mendalam. Kami bersitatap selama beberapa sekon, kemudian aku menggelengkan kepala kuat yang membuatnya terisak kembali.

“Baiklah.”

“Anne!”

“Hei diam kau pemuda keparat!” teriaknya dengan bengis padaku.

Disertai derap langkahnya yang perlahan mendekat pada Anne, aku hanya mampu menggumamkan kata ‘tidak’ kendati tidak terlalu kentara. Atmosfer berubah menjadi kelabu, keringat dingin sudah sedari tadi membasahi pelipis serta leherku.

Genap setelah seorang tentara berhenti di depan Anne, sebuah senapan diarahkan tepat di depan dahinya. Menempel sempurna, tinggal menunggu tentara itu menarik pelatuknya.

“T–tidak! Tidaaak! Ja–jangan lakukan itu!” teriakku terbata. Tenggorokanku sangat sakit, terlebih lagi tangisanku serta Anne yang terus membuncah tidak dapat dibendung.

“Katakan perpisahan terakhirmu, gadis muda,” tawar tentara itu sembari menyeringai, menatap Anne disertai kilatan bengis dari kedua maniknya.

“Hentikaaan!” teriakku kembali.

Tiba-tiba saja uluran tangan tentara itu mengarahkan senapannya pada tali yang menyangga jeruji besi di atasku. Aku memejamkan mata kuat saat telunjuknya mengambil ancang-ancang untuk menarik pelatuknya.

“Katakan di mana Mark.”

Pejaman mataku mendadak terbuka saat suara kelewat santai milik Anne menguar, membuat tentara itu kembali mengarahkan senapannya tepat pada dahi Anne.

“Apa kau bilang?!”

“Katakan di mana Mark!” ulang Anne penuh penekanan, walau sesungguhnya ketakutan menyergapnya dengan sangat kuat.

Sang tentara berbalik, memberi isyarat pada tawanan lain untuk bergerak maju. Dari kerumunan mucullah seorang pemuda yang sempat kukenali beberapa waktu lalu. Tawanan Belanda itu menyeret sebuah karung panjang menuju tengah lapangan kemudian membukanya perlahan setelah mendapat izin dari tentara.

Setelah itu, dapat kurasakan seolah-olah waktu telah berhenti. Tidak menyisakan satu pun manusia di sini untuk bernapas dan melihat siapa yang berada di balik karung itu kecuali diriku seorang. Degup jantungku ikut terikat oleh waktu yang seakan berhenti, menyisakan napasku yang tersenggal-senggal saat melihat seonggok jasad mengenaskan yang sangat kukenali siapa dia.

Kawanku–Mark Lee–terbujur kaku dengan tubuhnya yang terlihat sangat kurus bak kerangka yang tidak pernah diberi makan. Dengan sigap pemuda Belanda itu menarik kedua kaki Mark untuk mendekat pada Anne, menciptakan suara ngilu antara tulang-belulang Mark dengan jalanan.

Tampaknya Anne masih diliputi perasaan shock saat pemuda itu menghempaskan tubuh Mark dengan kasar tepat di hadapannya. Yang dapat Anne lakukan hanyalah terdiam membeku, mengkomunikasikan perasaannya hanya lewat tatapan mata yang masih terbelalak sempurna.

“M–Mark…” rintihnya kemudian.

Sungguh pekerjaan yang terlampau bengis yang mereka lakukan saat ini. Sementara aku hanya mampu menangis dan menangis, beberapa sekon berikutnya Anne melayangkan sebuah pertanyaan yang mampu membuatnya mati detik ini juga.

“Sebenarnya apa tujuan kalian melakukan semua ini?! Membunuh temanku dengan cara yang sungguh jauh dari garis manusiawi serta membakarnya setelah ia mati?! Apa kalian sudah tidak punya hati nurani?! Sungguh kurang ajar segala sesuatu yang telah kalian lakukan!” sentaknya.

“Anne kumohon hentikan!”

“Buat apa kita hidup jika sudah tidak ada lagi yang namanya keadilan, Jay?! Apa kau mau mati dengan cara tidak manusiawi seperti itu?!”

Keriuhan kembali mendominasi, namun yang dapat kulakukan hanyalah menggelengkan kepalaku kuat-kuat. Memberikan isyarat pada Anne serta tentara itu agar tidak menarik pelatuknya, mengingat tenggorokanku sudah terlampau lemah hingga tidak bisa lagi digunakan untuk berbicara. Semua yang tersisa hanyalah tangisanku dan tangisan Anne.

“Kematian bocah itu juga demi keberlangsukan hidupmu, gadis muda!”

Anne menunduk dalam, tidak menemukan kata-kata untuk sekedar membuka pikiran rasional para tentara bengis di hadapannya.

“Keberadaan bocah tak berdaya seperti kawanmu itu hanya akan menambah sesak kamp dan menghabiskan persediaan ransum, wahai bocah keparat! Jika kami tidak bisa memberdayakan kalian lagi, maka kalian sudah mati detik ini juga dan bisa meninggalkan dunia dengan tenang bersama-sama. Apa itu mau kalian?!”

Anne melemah, kemudian ia dengan cekatan bangkit guna menyejajarkan tingginya dengan sang tentara. Tangannya dengan cepat mengambil alih senapan dari tangan sang tentara dan mengarahkan pada dahinya sendiri.

“Anne…jangan…jangan lakukan itu, Anne…” ucapku lemah. Tubuhku meronta-ronta, aku benar-benar ingin berlari ke arahnya untuk menarik pelatuknya ke arah sang tentara kalau bisa.

“Bebaskan bocah keparat itu!” tukas seorang tentara sembari menunjukku.

Aku terbelalak bukan main saat tubuhku kini sudah dapat berdiri tegap, walaupun tungkaiku sedikit bergetar kala aku mencoba melangkah. Sebuah senyuman sedikit terkulum pada bibirku, lalu mendadak merosot saat Anne berteriak lantang tepat di depan wajah sang tentara.

“Ini ‘kan yang kalian mau?!”

“Hentikan, Anne!” sekuat tenaga aku mengayunkan tungkaiku menghambur ke arah Anne yang hendak menarik pelatuk senapan itu tepat di dahinya. “Kumohon jangan lakukan itu, Anne!”

DOR!

Tubuh Anne tumbang, bersamaan dengan rengkuhan tanganku yang berusaha menjauhkan senapan yang tersemat pada jemarinya agar tidak menarik pelatuk. Sedikit demi sedikit tubuhnya melemah, tangannya tergantung pada pundakku dan menjatuhkan senapan yang ia bawa ke atas tanah. Aku memeluknya, masih sempat merasakan degup jantungnya yang berdetak dua kali sebelum akhirnya kesunyian datang menyergap.

Aku menangis sejadi-jadinya. Memeluk tubuh Anne–lebih tepatnya jasad Anne–sambil merasakan cairan anyir yang mengalir bebas dari dahinya kemudian membasahi pundakku. Aku terisak hebat, merasakan berat yang menggantung pada tubuhku karena tungkai Anne yang perlahan kehilangan kekuatan.

“Kumohon…kumohon, Anne… J–jangan tinggalkan aku seorang diri, kumohon…” jantungku berdegup tak terkendali, cengkeraman tanganku semakin erat merengkuh punggungnya sembari mengucapkan sumpah serapah dalam hati.

“Kembalilah ke kamp, anak muda,” ujar tentara itu sambil berjalan mendekatiku.

Aku menggeleng sekuat tenaga, masih dengan pelukan yang belum terlepas dari tubuh Anne.

“Kembalilah, kawanmu sudah melaksanakan permintaannya sendiri demi menebus kesalahanmu,” ia berujar penuh kelembutan; kedustaan yang selalu mereka perlihatkan pada para tawanan.

Tentara itu melepaskan pelukanku dengan Anne, menyuruhku kembali menuju kamp dan memberiku kesempatan untuk menghirup udara bebas lagi serta melakukan pekerjaanku di sana. Punggungku membungkuk, tangisanku semakin pecah saat tentara itu menghempaskan jasad Anne dengan sangat tidak manusiawi. Ia menumpuknya di atas jasad Mark yang tampak memejamkan matanya dengan damai. Selanjutnya, seretan tungkaiku lah yang menjadi musik penghilang keheningan saat berjalan kembali menuju kamp.

Disaat seluruh keadilan di muka bumi telah sirna, yang mampu Anne lakukan hanyalah membuatnya mati dengan cara tidak manusiawi. Karena disaat kebengisan serta kelicikan telah mendominasi muka bumi, maka mati secara tidak manusiawi adalah satu-satunya perbuatan yang lebih terhormat daripada mencari keadilan yang sukar ditemukan. Perbuatan Anne membuatku semakin merasa menjadi pemuda yang sangat pengecut. Mungkin jika aku ditakdirkan mati saat itu, yang perlu kulakukan hanyalah menahan rasa sakit selama beberapa detik kemudian terhempaslah jiwaku pergi. Namun jika aku ditakdirkan untuk hidup, mungkin Tuhan masih memberiku waktu untuk bisa merasakan yang namanya karma; menanggung beban hidup dengan menjadi pemuda pengecut selamanya.

Karena menjadi pengecut adalah pilihan terbaik di antara berbagai pilihan baik lainnya.

-fin-

WOKE! SEBELUM ITU, MARI KITA KASIH TEPUK TANGAN UNTUK EVENT PERTAMA NCTFFI HIYAAAAAA /ledakin granat/.

Oke sip, makasih buat Kak Lely a.k.a Mingi Kumiko yang sudah berbaik hati untuk ngajak kolab fic kyaaaa I love you sooo much kak! ♥ Tadi kenapa di atas aku sebutin buat baca fanfic ‘Brausebad’ dulu? Bikos kita berdua punya tema yang sama buat event kali ini yaitu Nazi. Awalnya aku ga kepikiran apapun buat nulis historical, serius. Terus tiba-tiba Kak Lely ngajak aku kolab hiks thanks kak kau adalah pelita hidupku :’) Jadi sebenernya fic ini Jaehyun version dan punya Kak Lely itu Mark version hehehe.

Satu lagi…..aku masih ga ngerti sama ff ini, historicalnya mah mana ada ya /ketawa jahat/. Yang ada malah aku antusias buat nistain Jaehyun di sini, tapi berkedok ‘Nazi’ gitu biar agak keren dikit lah wakakakakakak. Sebenernya nggak semua yang ada di ff ini aku adaptasi dari siksaan /cie bahasanya/ yang dilakuin Om Hitler dkk loh, malah banyak ngarangnya hahahaha XD Yang adaptasi dari cerita aslinya itu yang bagian para tawanan disuruh baris jadi dua bagian (barisan pertama buat tawanan usia produktif yang masih bisa dipekerjakan dan barisan kedua buat anak-anak di bawah 16 tahun, lansia, dan orang sakit yang selanjutnya digiring ke ‘brausebad’ dan dibunuh pake gas beracun). Nah makannya kenapa di ff-nya Kak Lely si Mark ini mati, bikos dia masih anak-anak dan kalaupun dia hidup, dia cuma  menuh-menuhin kamp dan ngabisin ransum yang diberdayakan Nazi :’)

Untuk Anne sendiri sebenernya aku malah bayanginnya Anne Frank, tawanan dari Belanda yang diculik(?) sama Nazi. Tapi terserah yang baca sih mau berasumsi Anne itu siapa hehehe. Terus agak khayal gimana gitu ya kalo Jaehyun kenal Anne Frank, dan sejak kapan ras Mongolia nyasar ke Jerman dan jadi tawanan :’) duh aku gakuat sama semua kefanaan ini :’)

Sip, akhirnya first event selesai! Salam hangat dari Don a.k.a dd emesh-nya Mark ♥ /ditabok/

Advertisements

11 thoughts on “[Get into the Time Machine] Arbeit Macht Frei

  1. AKU GAK MAU BACA FF INI LAGI, AKU GAK MAU BAPER UNTUK KEDUA KALINYA, TIDAK!!! SUNGGUH TIDAK!!!
    Kusyeddihh Woojae jadi merana hiks.. yuks kak kutemani kamu jual baju bekas tawanan Nazi di pasar gadang /GAK
    Opo ae don jdi big headed saat kau sebut aku pelita :3
    TULUNG DOOON TULUNG BERHENTI SEBUT FF INI LEBIH BANYAK TERKONTAMINASI IDEMU SENDIRI, INI LAYAK DISEBUT HISTORICAL, INI KEREN BANGET!!!
    Kesampingkan saja ras mongolia yg nyasar ke kamp Nazi. Setidaknya itu lebih baik ketimbang jadiin mereka yahudi spt ide awalku /bhay

    Liked by 1 person

    • Kak Lel pelita hidupku (9999)

      Kak Lel pelita hidupku (10000000)

      Kak Lel pelita hidupku (19999999+++)

      Sek bentar aku mau ngakak dulu itu seriusan nemenin maz woojae jualan baju di pasar gadang bhaaksss kenapa ga sekalian di comboran aja /ga/. Lucu kali ya kak kalo maz woojae jadi TKK (tenaga kerja korea) /maksa bener/ yang kerja di Jerman cuma buat dagang baju bekas tawanan, sekalian aja bertandatangan gitu bajunya biar SWAG! /beneran dihajar/. BTW KAK AKU PENGEN NANGESH BACA KOMENNYA ADUHAI ADUHAI KAK TENGS YA UDAH NGAJAK KOLAB HIKS TERUS IDENYA KUCOLONG SEMUA /dikeplak/. Lucu kak ini beneran, kalo Mark-Jae beneran jadi tawanan terus yang ada bukannya nangis tapi para ceciwei disana malah ngefangirl “OMG MARK! JAEHYUN! SARANGHAEYOOO!” dan jadilah brausebad itu penuh dengan tawanan cewek yang hanya bisa ngerusuhi kamp /dicekik/.

      Btw makasih udah mampir ya kak aku mencintaimu muah :*

      Like

      • JUEBBAL DOOONNN KENAPA KAMU BIKIN BRAUSEBAD JADI RUSUH GITUUUU >///< bukannya disiksa malah adain konser gerilya itu mah wkwkwk sumpah fix itu sejarah bakal berubah XD /bayangin Adolf Hitler over fanboying sambil bawa lighstick /fix ga mungkin
        adanya aku yang makasih karena kamu mau aku ajak kolaborasi dan bikin ceritaku enggak gantung :'3 luvyutu dooon ^^ {}

        Liked by 1 person

  2. Woahhhhh ffnya tragis dan sedih banget yaaaa TuT tapi aku suka genre ini juga, jadi jangan khawatir hahaha. Aku enjoy banget bacanya! Tapi kasian juga dd Jae jadi sendirian yaa TuT sama aku aja yukkk *jijay* *seret jaehyun* *smirk

    Liked by 1 person

  3. Kasiian jaehyun :”3 lonely lonely baby jae was so lonely :”
    Feelnya dapet banget sampeee baper yaampun. Meskipun ff ini tergolong panjang tapi aku malah suka bacanya trus pengen liat endingnya 🙂

    Niceseu~

    Liked by 1 person

  4. BRB NANGIS MELUK MARK JAEHYUN!!! DONNAAAAA, OWE SAMPE NANGIS BACANYA HIKS :”””” KZL DONNA DAN MBA LELY BENER-BENER GAK TANGGUNG-TANGGUNG KEZAMNYA.
    Alurnya kece, penjabarannya oke punya sampai-sampai Ber betah buat ngehabisin storyline yang sungguh kezam ini. INI KEREN FIX! Keep writing keponakannya om John yang sungguh saiko-saiko menggemaskan minta ditempeleng :”””3 ! Oh iya, semangat UNnya juga buat senin besok ya ❤ !

    Liked by 1 person

    • KABER SORRY FOR LATE REPLY YHA HEHEHEHEHEHE /cium kaber/. btw kaber itu kripi banget anjaaayyy, masa Mark dipeluk-peluk padahal dia sudah tewas kak tewaaaaassssss /digaplok/. ini sebenernya mau aku jabarin gitu proses kematiannya Mark waktu dibakar, tapi kayanya rated banget dah aku kasian ihik :’) btw makasih udah mampir dan support ponakan om john kak, don sudah kenyang dengan soal matematika /curhat lagi/ love you kaber muaah ❤

      Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s