[Get into the Time Machine] Truth And Evidence

Written by AirlyAeri © 20160430

Main Casts : Na Jaemin [NCT’s] as Jaemin Herodes | Axelia Proxius [OC]

Genre : Historical, Sad, Slight!Romance | Rated : General | Length : Oneshot (1,1K+ words)

***

Jaemin tak pernah berpikir bahwa ia akan melangkah sejauh ini.

.

Antiokhia, Romawi 22 Masehi.

Jaemin menatap refleksi dirinya. Perlengkapan senjata sudah siap dan kostum perang miliknya sudah tersemat di badan. Meski secara fisik semuanya sudah lengkap, tetapi rasa gugup bercampur takut terselip di salah satu sisi dalam diri lelaki itu. Matanya yang berwarna cokelat cerah itu diam-diam menerawang.

Lelaki itu tak pernah berpikir bahwa ia akan melangkah sejauh ini.

Sebagai garis keturunan Suku Han bercampur dengan darah biru Romawi milik mendiang Agustus Yang Mulia, tak membuat sedikit pun dalam diri Jaemin bahwa ia benar-benar beruntung. Perasaan sukarela penuh keterpaksaan bahwa hidupnya terhimpit akan status rendah di mata Livia—sang Ibu Suri harus ia terima. Bahkan, Jaemin juga mesti menelan makian Livia yang menusuk khusus untuknya setiap kali bertemu.

“Dasar ras Asiatik Mongoloid rendahan! Jika aku punya wewenang lebih, mungkin saat ini aku bisa menyuruhmu angkat kaki dari tanah Romawi yang suci ini! Berterimakasihlah pada mendiang suamiku yang berhasil menyelamatkanmu!”

Meski begitu, setidaknya ia benar-benar merasa beruntung akan kehadiran Germanicus Claudius Nero yang telah menerima kehadirannya dengan tangan terbuka. Si pewaris sah takhta Kekaisaran Romawi itu memang begitu baik, sampai -sampai rasanya Jaemin ingin mengabdikan seluruh hidupnya pada sang pemimpin tentara Rhine tersebut.

Mata Jaemin kembali menerawang sosok Germanicus yang begitu gagah di pandangannya. Waktu ia masih kecil dan dititipkan pada Germanicus sewaktu perjalanan di Monokos, pemimpin bijaksana itu berdiri di atas batu besar seraya menarik pedang dari ikat pinggangnya demi menghadapi para pemberontak sekaligus pendukungnya menjadi Kaisar Romawi. Namun, ia malah mengacungkan pedang itu pada diri sendiri seraya berkata, “Lebih baik mati daripada mengkhianati Kaisar.”

Bahkan ia masih ingat kala Germanicus memberikan nasihat terakhir untuknya ketika ia sakit keras. Saat itu semua orang yakin bahwa Germanicus terkena kutukan. Jaemin bahkan berusaha tak percaya.

“Tetaplah berdiri tegak sebagai tentara Rhine, meski aku telah pergi dari dunia dan mengintari Sungai Styx bersama Charon menuju Istana Hades. Darah Romawi milik Jaeson jelas mengalir dalam darahmu bersamaan dengan darah Suku Han milik Min. Meski seluruh fisik dan kemampuan mereka diwarisi olehmu, aku akan tetap menganggapmu sebagai anakku, Jaemin.”

Kini Germanicus telah pergi meninggalkan dunia ini.

Jaemin ingat saat upacara kematian Germanicus beberapa waktu lalu. Ketika Agripinna dengan wajah pucat lengkap dengan airmata yang mengalir deras, membelai wajah suaminya sebelum membuka mulutnya dan meletakkan koin emas kecil dibawah lidahnya sebelum dibakar jasadnya oleh Gubernur Sentinus. Setidaknya, koin itu diperlukan bagi roh sang panglima untuk membayar si tukang kayu perahu—Charon demi menyeberangi Sungai Styx menuju Istana sang Dewa Kematian.

Tidak hanya Romawi saja yang berduka, negeri tetangga juga mendatangi upacara tersebut seolah seluruh dunia sedang berduka atas kematian sang Panglima Tertinggi tentara Rhine yang begitu bersahaja tersebut.

Jaemin memejamkan kedua matanya seraya mengepalkan kedua telapak tangannya kuat-kuat.

Ini hari pembuktiannya.

Jaemin mengangguk yakin seraya menelan ludahnya dalam-dalam. Ini adalah waktu yang tepat sebagai pembuktian dan pengabdiannya pada Kekaisaran Romawi—sebagai tanah kelahirannya. Ia harus menegakkan keadilan dan kebenaran yang kini sudah bengkok akibat ulah Tiberius Yang Mulia yang dibutakan oleh Livia—sang Ibu Suri. Ia siap mati demi sang pewaris sah tahta Kerajaan yang telah dijadikan tumbal ketidak adilan dan keserakahan akan kedudukan, Germanicus.

Lelaki itu melirik ke arah jendela yang kini masih menampilkan langit fajar yang gelap dengan rintik hujan yang deras. Meski begitu, Jaemin merasa waktu semakin lama semakin dekat seiring dengan degup jantungnya berdetak keras-keras lantaran rasa gugup yang melingkup.

“Kau akan pergi, Jae?”

Jaemin segera menyadari sosok lain kala manik mata cokelat pekatnya mendapati refleksi lain dalam cermin. Membuat kepala lelaki tersebut menoleh dengan perasaan berat.

“Kau sudah bangun, Axelia?”

“Kau benar-benar akan pergi mengikuti Dominus Marcus?”

Jaemin mengalihkan manik mata cokelatnya dari manik mata hijau zamrud milik seorang gadis yang kini berjalan ke arahnya. Rambutnya cokelat pekat yang terbungkus palla senada dengan iris milik Jaemin, tanpa sadar bergerak turun.

“Jae, katakan sesuatu….”

“Ya.”

Mata hijau zamrud Axelia kini resmi membesar hebat kala mendengar jawaban Jaemin kali ini. Axelia tahu, jawaban singkat yang keluar dari mulut sang calon suami adalah mutlak. Gadis itu tahu bahwa Jaemin sudah tak bisa mundur lagi meski Axelia yang meminta.

“Tapi, Jae―”

“―pulanglah, Axel.”

Axelia tercengang mendengar perintah Jaemin barang sejenak, sebelum ia menggeleng keras. “Tidak.”

“Axelia.”

“Germanicus kini sudah disingkirkan oleh Tiberius Yang Mulia dengan kutukan mematikan itu. Yang tersisa saat ini tinggallah Dominus Marcus Procula dan kau sebagai kaki tangan Germanicus. Bisakah kau berpikir apa yang akan terjadi nanti?”

Hening.

Jaemin dapat melihat airmata di sudut mata milik Axelia yang mengalir halus. Membuatnya tanpa sadar mematung karena terkejut dan memilih tak berkata-kata. Gadis di hadapannya kini tertunduk dan terdengar suara serak miliknya yang dikeluarkan dengan paksa.

“Lalu, bagaimana denganmu? Bagaimana jika ibumu yang telah berada di Istana Hades melihatmu mengambil keputusan besar ini? Aku benar-benar tak ingin kehilanganmu, Jae.”

Akhirnya, Jaemin menghelakan napas panjang seraya meraih stola milik Axelia yang tergeletak di lantai akibat berlari demi menemuinya. “Aku akan kembali, Axelia.”

“Bohong. Kemungkinan untuk kembali dengan selamat kecil sekali, kan?”

Jaemin tersenyum tipis. Ucapan Axelia memang tidak bisa ditampik sepenuhnya, berpergian menuju medan perang bertaruh dengan nyawa. Namun, hanya inilah yang bisa ia lakukan demi menaikkan martabat kedua orang tuanya dan terutama Germanicus.

“Maafkan aku.”

Sayup suara penyesalan milik Jaemin membuat tangis Axelia semakin menjadi. Membuat hati Jaemin memerih sakit pula. Dalam hati, ia meminta maaf pada Dewi Venus karena telah berani membuat gadis yang ia cintai menangis.

“Padahal, aku selalu datang ke kuil dan berdoa pada Dewi Fortuna agar kau selalu dilingkupi oleh keberuntungan. Aku juga berdoa pada Dewi Venus agar kau tetap berada di sisiku,” ungkap Axelia. “Aku juga berdoa agar Mars selalu ada bersamamu selama di medan perang.”

Hening lagi. Jaemin tak sanggup untuk berkata-kata mendengar penuturan Axelia.

“Tidak ada cara lain yang bisa kulakukan, Axelia,” terang Jaemin pelan. “Selain di satu sisi, aku muak dengan perlakuan Livia yang cenderung tak adil padaku. Tetapi, aku jauh lebih muak saat tahu bahwa Livia benar-benar licik untuk menyingkirkan Germanicus. Harga diriku terasa lebih terhormat ketika langkah kakiku yang dituju nanti adalah memerangi kebenaran atas kekuasaan takhta yang sejatinya milik mendiang Germanicus.”

Jaemin memandang Axelia yang kini menatapnya lekat, lalu ia melanjutkan, “Ini juga kulakukan sebagai bentuk pembalasanku atas pengasingan ibuku ke Konstantinopel sampai mati. Livia benar-benar menginginkan darah Romawi murni dalam garis keturunannya, sehingga ini yang dilakukannya padaku.”

“Jaemin―”

“―dengarkan aku,” tukas Jaemin seraya memegang kedua bahu milik gadis di hadapannya. “Tunggulah aku barang sebentar saja. Aku sudah berjanji pada Dominus Antonio agar aku segera kembali dengan selamat. Setelahnya, kita akan menikah layaknya pasangan abadi Gaius dan Gaia. Kau percaya padaku kan?”

“Dan kau hanya berjanji pada Tata? Bagaimana denganku?”

Axelia memandang Jaemin yang kini menangkupkan wajahnya dengan sayang. Iris sang gadis akhirnya menatap manik mata cokelat lurus nan tajam milik sang pemuda.

“Aku pasti kembali, Axel. Jika nanti aku tak kembali, berdoalah engkau agar kita bisa bertemu kembali di kehidupan selanjutnya.”

Hening lagi.

Kali ini segaris kurva melengkung cantik dan menghiasi wajah si gadis, membuat Jaemin merasa lega. Merasa lelaki itu mendapat dukungan seratus persen darinya.

“Aku baru tahu, darah bangsa Timur benar-benar menguasai dirimu,” ungkap Axelia dengan suara parau.

Bangsa Timur.

Jaemin mengulas senyum mendengarnya, membuat seperti sebuah suntikan semangat seribu persen baginya. “Terima kasih, setidaknya kau sudah mengingatkanku akan keturunan Timur yang bercampur dalam darahku.”

Lalu, dipakaikannya palla milik Axelia setelah memberikan stola gadis itu oleh Jaemin. Sementara, Axelia memilih memandangi Jaemin sejenak sebelum lelaki itu pamit. “Aku harus pergi.”

“Aku akan menunggumu.”

Jaemin mengulas senyum mendengar ucapan gadis itu. “Tunggulah aku.”

Kemudian, Jaemin melangkahkan kakinya meninggalkan bilik kamarnya dan Axelia yang kini memandangi punggung lelaki itu yang semakin menjauh. Jejak langkah kaki yang ditinggalkan oleh Jaemin seperti terekam untuk dijadikan saksi pembuktiannya menuju medan perang. Medan perang pengabdian dan penegakan kebenaran.

Penegakan kebenaran atas Germanicus yang telah bengkok dan kehidupannya yang tertindas akibat ulah sang Ibu Suri Livia.

-fin.

Source by : Pilate’s Wife by Antoinette May, Wikipedia, dan referensi dari berbagai buku lainnya.

.

AKHIRNYA!! T_T buset dah, setelah mikirin sebulan buat konsepnya terus dibuat galau sama sejarah Dinasti Joseon karena muka dedeknya yang Korea banget, akhirnya kelar dengan historical-fict kaya gini. Sejatinya jika castnya Ten/Johnny/Mark, mungkin aku ga akan segalau ini untuk memilih antara Romawi atau Joseon. Tapi, gapapalah ya dedek Jaemin juga. Wakakakak XD

In real history, memang pewaris sah takhta Romawi itu Germanicus yang meninggal karena sakit dan Marcus Procula di sana juga bertindak sebagai pemimpin kedua sekaligus pendamping Germanicus. Di situ juga bener kalau Livia ini pengen menyingkirkan Germanicus biar Tiberius yang notabene anaknya ini jadi Raja Romawi. Gitu deh :’v #AirlySokTauBhay

Ga sia-sia sejatinya mengobrak-abrik perpustakaan kampus demi baca sejarahnya, sampai diliatin sama petugas perpus soalnya di buku tamu aku nulisnya jurusan ilmu komputer bukan sastra inggris /plak/ga/. Terima kasih sekali untuk para author yang udah bikin aku semangat, makasih ugha buat Berly udah bantuin aku sampe rela ngirimin trailer film romawi dan berbagai referensi. Kyaaaa >_<

Dan, maafkan aku ya untuk para author yang kena getahnya karena saran awalku atas event ini /plak/diceburin/. Selamat baca dan semoga suka ya, maafkan aku bila ini kaya bukan fict sejarah tapi lebih ke hal yang ga jelas gini. Wkwk XD

Sekian dan terima kasih. ❤

-Airly.

Advertisements

19 thoughts on “[Get into the Time Machine] Truth And Evidence

    • JAEMINKU!! PENGEN NANGES WAKTU BACA HAHAHAH TT TT
      Tbh, ini fiksi pertama ber-cast Jaemin yang kubaca dan genrenya seperti ini pulaaak. Historical! Sudahlah aku jatuh cinta sekali sama alurnya, karakternya, bahasa kamu juga! ❤
      Awalnya sempet nebak-nebak, karakter yang lain itu namanya ala-ala Romawi semua. Kukira dedek bakal pake nama keren semacem orang sana, eh tapi kamu tetep mempertahankan nama aslinya. Dan cara kamu menggabungkan dua budaya itu keren sekali~~ Sampe alasan kenapa ia dibenci ibu suri itu semua bikin aku spechless banget sama karya kamu ini 😀
      Dan romansanya juga kena banget. Axelia is beautiful name 🙂 Kurasa kamu harus bikin sequelnya karena aku terlanjur penasaran, mereka jadi nikah nggak yah 😐
      Oh iya, kita udah kenalan belom yah? Tapi aku udah sering liat penname kamu berkelana dimana-mana HEHE. Pat here, 99 liners~ Nice to meet you!
      Keep writing!

      Liked by 1 person

      • Haloo >< bentar2, aku kayanya sering banget liat penname ini. Kalo ga salah waktu Kak Liana bikin mitos yunani itu ya? /pikun airly kumat/plak/
        Uwaa, makasih lho udah baca dan reviewnya. Tolong jangan biarin aku terbang kak /plak/
        Hehehe buat nama si dedek ini emang sengaja sih pake nama asli, soalnya udah mentok banget /dor/
        Sekuel…… Hm, akan kupikirin lagi. Semoga ga mentok /plak/
        Eh, padahal aku ga ngerasa berkelana lho /dilempar/. Halo Pat, aku Airly 97 line. Nice to meet you too! ❤ hehe

        Like

  1. KYAAAAAA DEDEK JAEMIN KYAAAAA KAU GAGAH SEKALI NAK!!! /ditimpuk kapak/ X””””) Keren Ai! Daebak yeuh! Aku merinding tau dari awal bacanya….krik. Tapi ini serius, bawaannya merinding, apa lagi sambil denger lagu historical yang……. You know lah what i mean.
    Dan demi apa itu ya kepercayaan Romawi yang kalau orang meninggal sebelum dibakar kudu dikasih koin ke dalam mulut dulu buat ke surga (?) wkwkwk aku tercengang. Bagus pokoknya! Keep writing! ❤ BIG LOVE BIG HUG!!! :*

    Liked by 1 person

    • BERLYYY SINI TAK PELUK BER UDAH BANTUIN AIRLY NYARIIN REFERENSINYAAA KYAAAA >< /airly heboh bener/plak/ :""")
      Huhuhu makasih ini juga karenamu ber yang udah nyantumin playlistnya di blog dan jadinya bikin gregetan. Kyaaa :*
      Bukan buat ke surga sih ber, tapi ke kehidupan selanjutnya apa gimana aku lupa /lah/plak/ wkwkw XD
      Keep writing ugha buat berly ea en luv yu somaaccc! :*

      Liked by 1 person

  2. sekuel sekuel sekuel *niatnya emang nyiksa aeri sih biar pusing delapan keliling di perpus kampus lagi
    sebenernya aku ngarep adegan perangnya loh tapi yah gapapa dah. aku sudah membayangkan bagaimana ribetnya research yg bukan di bidangmu. tapi ini kena kok, suasana sblm perang dan kegalauan axelia huhuhu
    terus ada selipan mitologinya juga ehei aku merasa terpanggil makanya buat baca sampe habis.
    tapi ati2 ya, di paragraf awal agak ngebingungin kalimatnya.
    .
    Sebagai garis keturunan Suku Han bercampur dengan darah biru Romawi milik mendiang Agustus Yang Mulia, tak membuat sedikit pun dalam diri Jaemin bahwa ia benar-benar beruntung. Perasaan sukarela penuh keterpaksaan bahwa hidupnya terhimpit akan status rendah di mata Livia—sang Ibu Suri harus ia terima.
    .
    dua kalimat ini sesungguhnya yg bikin aku bingung, bagian ‘tak membuat sedikit pun dalam diri Jaemin bahwa ia benar-benar beruntung’ (ini membuat diri Jaemin kenapa, berasa gantung ga kalimatnya? kalo ‘tak membuat sedikit pun diri Jaemin beruntung’ kan lebih ga gantung), terus ‘perasaan sukarela penuh keterpaksaan’… yah berarti dia gak sukarela dong? atau ini wordplay? tapi kok rasanya kurang tepat
    masukan aja sih ini.
    keep writing ya, jujur aku iri sama suasana historicalnya di sini T.T

    Liked by 1 person

    • Kak, kupikir kak Li ga bakalan baca fict ini seriusan /plak/pulang airly pulang/
      Sekuel akan kupikirkan kak tapi ga saat ini dibuatnya wkwk XD
      Makasih lho kak udah ngertiin aku karena fict yang ini aja garapnya sampe masuk angin /plak/ga/ sejatinya mau ada perangnya, tapi imajinasinya ga nyampe kak wkwk
      Paragraf itu emang membingungkan kak sampe aku bacanya juga jadi pusing, tapi udah dikejar deadline sama admin bhaks. InsyaAllah akan segera kuperbaiki kaak :”)
      Hehe makasih kak udah baca dan review. Keep writing juga buat kak Liana kyaaaa >< ❤
      Ps. Kupikir suasana historical ini ambyar kak malahan /plak/

      Like

  3. OMO KAKLY JADI BIKIN JAEMIN SEBAGAI ORANG ROMAWI BERDARAH MONGOL HAHAHA >///<
    by the way aku suka banget sama beberapa motologi yg diselipin di sini, kaya hades dan venus huhuhu ~ asekk dah jaemin manis aman pas ngegombalin axelia ;-; overall ini beautiful writing (?) kaklyyy !!! semangat terus kak ^^

    Liked by 1 person

    • Kyaaaa kalelyyyy, iya dong jadi makasih ya kalely buat sarannya di tengah kebingunganku mau digarap apa si dedek ini kyaaa >.< {}
      Hehe sengaja aku selipin mitologinya soalnya aku penasaran(?) sih bhak XD
      Makasih ya kalely udah baca dan ninggalin review kyaaaa semangat juga buat kamu kak :* /plak/

      Liked by 1 person

  4. TERNYATA JADI JUGA BIKIN DD JAEMIN ROMAWI KETURUNAN MONGOLIA WAKS NIAT YA KAKAII NIAT BANGET WAKAKA

    Kakaii asli ini beneran niat deh kayanya sampe ngubek ngubek perpus cari reverensi sana-sini lalalalala~~ wong punyaku ae asal jadi /plak/

    btw kakaii, aku suka banget sama narasimu kyaaa bikos mbaay gapandai bikin narasi panjang tapi engga ngebosenin, kadang suka bingung sendiri kalo bikin narasi panjang panjang, kata-katanya jadi belibet terus maksudnya ga kemaksud-maksud /plak/ /musnah aja sana ay/

    Okelahkak, kusudahi saja ocehan gamutuku ini kyaaa yg penting kusyuka ffnya sama dd jaeminnya uhuk

    Liked by 1 person

    • Kyaaa mbaay datang kyaaaa /plak/ >.<
      Antara niat ga niat mbaay, soalnya ngubek2 perpusnya mepet menjelang tutup wakakaka XD
      Makasih lho mbaay udah baca, review, plus muji-muji tcantik gitu kyakyaaa mangats mbaay luv yu :*
      P.s. aku belum baca ffmu mbaay, entar meluncur ke sana wkwk XD

      Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s