[Get into the Time Machine] The Rebel(s) [反叛] of Han

##qqian kun

The Rebel(s) [反叛] of Han

Historical Tiongkok
(Fall of Yuan Dynasty)

.

Starring : [NCT] Qian Kun, [NCT] Winwin, & [WJSN] Cheng XiaoYou can find another casts here. ©2016 by BERLY.

|Historical, Family, Action, Adventure, Hurt/Comfort, Painful, slight! Romance| PG-15 | Oneshot (3300+words) | Warning : narasi mendominasi. |

Disclaimer: Cerita ini dibuat tidak bermaksud untuk membeda-bedakan ras atau suku, cerita ini pure fiksi yang dibuat untuk hiburan semata; berdasarkan resensi sejarah yang ada dan dari berbagai sudut pandang yang berbeda, tidak lebih, tidak kurang. The plot fiction is mine, happy reading!

.

“Once again, we’re connected without an end. I can’t live without you.” (NCTU-Without You)

.

***

Henan 1358 BC, Yuan Dynasty Era.

Teriknya sinar mentari yang menyengat kulit sudah biasa digeluti oleh seorang petani seperti Kun. Mengolah puluhan petak sawah bukanlah hal mudah semudah membalikkan telapak tangan. Peluhnya yang bercucuran bahkan siap menjadi saksi bisu kerja kerasnya di setiap hari apabila tidak ada orang yang percaya. Pagi, siang, sore, bahkan malam jika ia sempat bertandang ke sawah, maka ia akan jajaki.

Di tempat tinggalnya pun ia membuka sebuah kedai makan kecil yang ditunggui oleh adik perempuannya, Xiao. Demi memenuhi kebutuhan hidup dan yang paling mendominasi adalah; untuk membayar upeti pajak yang kian melonjak. Ayah mereka juga seorang petani yang telah tiada di dunia, lantaran dibunuh oleh salah satu tentara Mongol bengis. Kemudian diambil alihlah profesi tersebut oleh ibu mereka, namun karena sering sakit-sakitan akibat bekerja terlalu keras, ibu mereka pun meninggal. Alhasil, Kun si sulunglah yang kini menggantikan posisi kedua orang tuanya sebagai petani kapas dan padi. Sedangkan Xiao, sibuk menjaga rumah dan kedai yang bersebelahan.

Suku Han, memang golongan yang berada pada tingkat level terendah menurut pembagian warga negara di sistem Monarki Yuan detik ini. Perpajakan untuk seluruh warga pun mendadak dinaikkan. Khusus untuk suku Han dan Hui di Utara maupun Selatan; dititahkan untuk membayar upeti dengan harga lebih tinggi ketimbang suku lainnya kepada pemerintah. Membuat Kun dan para petani lain dari kalangan Han dan Hui geram setengah mati.

Tak jarang setiap Kun pulang dari sawah dengan berjalan kaki, ia selalu memandang iri kalangan ras Mongol yang melintas lalu lalang di jalan setapak dengan kereta kencana maupun kuda pribadi.

Berbeda dengan petani sepertinya yang cuma melandaskan tenaga seekor keledai di waktu musim panen telah tiba. Itu merupakan sarana satu-satunya dari pemerintah guna memasokkan hasil panen tersebut ke tempat penampungan padi maupun kapas. Pemerintahan di masa ini rasanya benar-benar membuat golongan mereka menjadi semakin terinjak-injak. Pemerintah juga seakan lebih berfoya-foya karena harta.

.

Hari ini, adalah hari di mana penagihanan upeti berlangsung untuk bulan ini. Para petani lain tentu sudah menyiapkan hasil perkebunan yang didapat mereka masing-masing, untuk disetorkan. Walau mereka tidak rela jika tiga per empat dari penghasilan sirna ditelan pemerintah, ya mau bagaimana lagi? Ini sudah ketentuan negara yang sukar untuk ditentang.

Jika ada yang menentang untuk status seorang petani kecil seperti mereka—termasuk Kun, mungkin takdir hidup mereka akan dibawa sampai kepada tempat pemasungan, lalu di hari yang ditentukan untuk hukuman; kepala akan dipenggal sebagai tebusan di pusat ibukota Da Du (Now; Bei Jing), di depan mahligai megah bercorak indah sebagai saksi sejarah akhir hidup si pemberontak. Ya. Tragedi penggal-penggal kepala itu akan disaksibisukan oleh bangunan istana yang di dalamnya terdapat seorang Kaisar Yang Terhormat, katanya.

Berbeda dengan para petani lain. Hari ini pemuda bernama Kun itu sengaja mencari perkara.

“Apa kau bilang?! Hey, Petani Muda! Upetimu hari ini di bawah dari kurang, dan kau juga sudah terlalu sering menunggak belakangan, hutangmu sudah menumpuk tahu?! Masih mau minta kelonggaran lagi, tidak tahu diri! Kau masih muda, bekerjalah yang keras dan rajin, dasar bodoh!!”

Suara penagih upeti tahu-tahu memekak naik menerobos telinga Kun, melempar kasar bungkusan kain—yang diyakini isinya adalah segelintir uang kertas—ke wajah Kun. Membuat para petani yang tengah mengantre di belakang Kun terbelalak dalam kejut pada sumber ribut di depan mereka.

Kun sengaja berbuat demikian; berpura-pura menunduk patuh, takut, setia. Namun di balik topi camping kerucut jelek nan lusu—berbahan anyaman bambu—miliknya, sepasang manik hazel cokelat gelap Kun memandang nyalang—setajam elang—keadaan sekitar lewat ekor matanya. Menanti-nanti detik yang tepat guna menyukseskan rencana pemberontakan yang sudah diperhitungkannya sejak lama.

Terasa sangat menegangkan memang, peluh sebiji jagung di pelipis Kun mengalir turun, tatkala tangan kanannya sengaja diam-diam berusaha mengambil sebuh alat tajam sabitnya yang biasa digunakan untuk membabat rumput liar.

Bisakah ia lolos hari ini untuk menghabisi beberapa ajudan yang mengawal si penagih upeti? Bisakah ia menang melawan mereka semua sendirian di tempat ini, lalu terhindar dari hukuman penggal kepala nanti? Syukur-syukur jikalau ada petani lain yang membantunya untuk memberontak detik ini. Tapi Kun rasa, tak ada yang bernyali cukup besar sepertinya di si—

WUSHHH! TSING!!!

Angin dan sekelebat sosok bayangan nyata tiba-tiba datang, menyandera si penagih upeti dengan sebilah pedang panjang di depan leher, dalam sekejap mata. Bersamaan dengan kegiatan Kun—yang telah mencondongkan alat tajamnya itu ke hadapan orang yang telah disandera (diiringi dengan kuda-kuda kakinya yang mantap).

Kini, bukan hanya Kun yang sedang memberontak dan menodongkan senjata. Ada satu orang lagi yang muncul secara tiba-tiba. Kun tak kenal siapa petani itu? Yang jelas, Kun tahu, bahwa, orang itu sama seperti dirinya; petani suku Han yang ingin memberontak sejak lama.

“Hilangkan pemaksaan upeti ini, atau kepalamu yang hilang sekon ini juga!” kata pemberontak asing itu.

Kun melirik tajam ke arah wajah si pembelot baru yang mulutnya ditutupi masker kain transparan. Keadaan semakin ricuh kala para ajudan mendadak menyerang mereka berdua untuk melindungi si penagih upeti! Sementara para petani lain kabur kocar-kacir meninggalkan tempat kejadian.

SEEET! TSING! TSING! Pedang pertama dari serdadu yang melesat ke arah Kun, berhasil dihindarinya. Lantas Kun menekan sebuah titik tumpu kelemahan berdasarkan bela diri kungfu yang dikuasainya pada bagian lengan musuh, agar musuh tidak berkutik, kemudian dihabisinyalah musuh itu dengan tebasan senjata sabitnya.

Sayangnya, mereka terkepung. Mereka—kedua petani pemberontak itu—saling mendekat membelakangi satu sama lain, masih memasang kuda-kuda, defensif berjaga, dan mengumbar ekspresi was-was terhadap keadaan di sekelilingnya.

“Nama?” Pemuda asing itu bertanya pada Kun di sela suasana tegang kepungan prajurit.

“Kun.” Jawab Kun singkat.

“Aku Win, senang punya teman.” Win menyunggingkan sedikit senyum tersirat di balik masker transparannya. Entahlah, Win hanya merasa senang mempunyai teman untuk memberontak kali ini.

“Aku bukan temanmu.” Kun kembali berujar tak acuh, dingin, sedingin es.

Cih. Masa bodohlah. Toh yang penting Win punya teman untuk membasmi prajurit-prajurit Mongol itu di sini. Win tidak terlalu peduli dengan keantagonisan jawaban dari si pemuda yang berpenggal nama Kun itu. Tak acuh bukan berarti tak suka, ‘kan?

“Hiaaaaat!!!”

Si penagih upeti berhasil kabur menggunakan kudanya, sementara prajurit kembali menyerang mereka berdua. Kun dan Win menangkis serangan demi serangan, hantaman demi hantaman, dengan senjata mereka masing-masing.

SRREEEET! … Kun meringis, kala sebuah goresan ujung tombak prajurit menyenggol sedikit permukaan kulit di dadanya. Meski sedikit, tapi … betapa sakit luar biasa yang dirasakan saraf-saraf kulitnya yang sobek. Darah bercucuran, tapi Kun tetap melanjutkan kegiatan murkanya terhadap pemerintah, hingga menumbangkan banyak ajudan yang ada di hadapannya. Tak lupa dibantuaksikan oleh Win—si teman barunya—hingga tuntas tak tersisa.

Setelah juntainya seluruh ajudan Mongol di tempat itu, sayup-sayup kesadaran Kun mulai menghilang, kedua lututnya mencumbu tanah melemah. Cepat-cepat Win memapah tubuh Kun, membuka maskernya—yang diyakini sebagai penyembunyi identitas diri—lalu bersuara, “Hei, kau bisa mendengar suaraku? Hei?!”

Satu hal yang ada di benak Kun tentang seorang Win, sebelum kesadarannya benar-benar menghilang detik ini. Win adalah ahli pedang hebat tersembunyi dari kalangan Han. Sama seperti dirinya; pembela suku Han asli yang tertindas di gradasi masa ini.

.

.

.

Bersyukurnya, beberapa hari kemudian, Kun sudah pulih dari luka insiden pemberontakan. Win lah yang menyembuhkannya lalu membawa Kun selamat sampai rumah. Di sana Win bertemu dengan Xiao—adik Kun yang cantik dan murah senyum. Ternyata selain ahli ilmu pedang, Win juga diwariskan ilmu tabib yang sungguh manjur dari keluarganya.

Namun kabar baik tentang Kun yang sudah berangsur pulih tak berlangsung lama pada malam harinya.

Malam itu, malam di mana salju pertama turun menyelimuti daerah Henan. Setelah sebelumnya keluarga Kun dan Xiao sempat ingin diusir oleh beberapa orang ras-nya sendiri dari kediaman, lantaran sudah berani mencari perkara besar kepada pemerintah. Alasannya? Sepele, hanya karena orang-orang itu tidak mau ikut terkena imbas hukuman dari pihak pemerintah. Padahal, secara tidak langsung, Kun lah yang sudah membela hak asasi mereka dari tingkah semena-mena pemerintah itu sendiri.

“Kun! Desa ini akan dimusnahkan, ayo lari bersama Xiao!” Win kembali datang mendadak ke kediaman Kun dengan panik malam itu, memberitahu kabar buruk, bahwa, prajurit Mongol tengah dekat menuju kemari untuk menangkap sang pemberontak hidup-hidup sembari memusnahkan seisi penghuni di desa ini. Maka dari itu, mereka bertiga (Kun, Win, dan Xiao) langsung memutuskan pergi dari kediaman tersebut. Melesat bersama kekhawatiran yang kian membuncah.

Teriakan demi teriakan kesakitan, kepedihan, menguar dari sudut-sudut pemukiman desa yang ditinggali suku Han. Tentara Mongol itu sudah sampai bersama pacuan pasukan kudanya untuk membabat habisi seluruh pemukiman desa!

Setengah panik Kun berpikir keras sambil berlari. Prajurit-prajurit itu tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang mereka cari. Yang mereka cari adalah Kun. Xiao tidak boleh ikut terbawa ke dalam masalah serius ini. Xiao harus selamat dari kejaran prajurit-prajurit itu! Maka, Kun—

“TANGKAP PEMBERONTAK ITU! BAWA DIA HIDUP-HIDUP!”

—akan melakukan segala jenis cara agar Xiao bisa tetap hidup!

Anak panah api dari serdadu dilesakkan ke udara, hingga menyelusup masuk ke sisi rumah-rumah kayu warga di sana, mengakibatkan kebakaran di sana-sini, di bawah gulita dan mendungnya langit malam yang memayungi tragedi nan kelam.

Ketiga insan itu masih terus berlari tergopoh-gopoh menjauhi pemukiman, “Xiao! Ambil ini,” Kun berseru, memberikan segumpalan kain kepada Xiao, “pakailah sesuai kebutuhan. Pergilah lebih dulu bersama Win ke daerah Tian Ying (Now; Nan Jing). Menetaplah di sana, gunakan uang ini sebagai bekal perjalanan bersama Win! Aku berjanji, aku akan baik-baik saja. Aku akan menyusul dan mencari kalian berdua di sana, setelah urusanku dengan para tentara-tentara Mongol itu selesai! Apapun yang terjadi, tetaplah bersama Win!” Getir, Kun berucap demikian di tengah dinginnya malam musim dingin yang mencekam.

“Ta-tapi Ge!—” Suara Xiao bergetar, gadis itu menangis, air matanya memburai keluar dari dalam pelupuk mata. Xiao tidak mengerti kenapa kakaknya lebih memilih tinggal ketimbang ikut bersamanya untuk menyelamatkan diri.

“Tidak ada kata tapi-tapian, Xiao! Aku percaya pada Win, aku juga percaya padamu, maka kau juga harus percaya padaku dan Win! Kita pasti akan bertemu lagi, aku berjanji padamu!” Kun kembali menekankan kalimatnya dengan lugas, tegas, seraya memegang erat kedua bahu Xiao untuk meyakinkan gadis itu.

Kedua netra Kun memerah menahan luapan emosi, kala bersitatap dengan netra bening penuh siratan tak rela dari sang adik perempuan, “Aku tahu, kau perempuan yang kuat! Kau harus hidup, Xiao, sampai aku kembali untuk melihatmu lagi, kau mengerti?!”

Xiao memeluk erat kakaknya. Air mata Kun pun pecah setelahnya.

“Sekali lagi, ingat, kita masih terhubung dan terjalin tanpa akhiran batas. Kita pasti akan bertemu lagi, aku berjanji padamu!”

Xiao akhirnya menganggukkan kepala, mencoba menguatkan hati dan percaya pada janji kakaknya yang terus diucapkan dengan jelas.

Kemudian, Kun beralih menatap Win, “Win, jaga adikku,” tandas Kun, menandakan bahwa Kun telah memercayakan hidup Xiao sepenuhnya pada Win.

Meski tidak rela meninggalkan Kun, Win menganggukkan kepalanya sekali untuk amanah yang didapatnya itu.

Ya. Kun sudah percaya pada Win sejak pertama kali mengetahui bahwa Win menguasai ilmu pedang yang tinggi, pun pandai akan meracik ramuan obat. Setidaknya, perasaan Kun sudah kuat memilih Win sebagai orang yang tepat untuk menjaga adiknya, selama Kun tidak ada di sisi adiknya itu.

Bulir air asin milik Xiao kian mengalir deras dari pelupuk matanya, gadis itu masih meratapi lara sosok kakak laki-lakinya—sosok keluarga satu-satunya yang Xiao punya di dunia. Tak lama, lengan gadis itu pun ditarik oleh Win, lantaran prajurit-prajurit Mongol sudah semakin mendekati eksistensi mereka bertiga! Lantas Win dan Xiao masuk ke dalam hutan nan gelap, terus berlari melesat meninggalkan Kun yang masih berdiri di tempat itu sendirian.

Kun Ge, kau sudah berjanji, ‘kan, akan mencariku lagi? Kau sudah berjanji bahwa kau akan baik-baik saja. Kau sudah mengucapkan janjimu sebanyak tiga kali, Ge. Aku akan mengingat semua itu, bahwa, kita masih terhubung dan terjalin tanpa akhiran batas … kita akan bertemu lagi … aku akan menunggumu datang dengan selamat, Qian Kun ….

Batin Xiao bermonolog, bersama perasaan sedih, pedih yang tak terperi karena harus terpisah dengan kakak kandungnya.

Sementara itu, Kun masih menunggu prajurit-prajurit Mongol datang, bertekad menghalau pergerakan mereka, agar Xiao bisa selamat dan terhindar dari kejaran. Kun sudah siap akan memainkan pedang-pedang keramatnya; demi haknya, dan juga demi hak keluarganya, ataupun hak orang-orang Han yang sudah cukup tertindas menderita di tanah nenek moyang mereka sendiri.

***

Da Du City 1368 BC (Now; Bei Jing).

Kun membuka kedua maniknya perlahan. Ia masih bertahan hidup hari ini, detik ini. Terduduk lemah di dalam sebuah jeruji besi kecil. Perutnya terasa sekarat, keroncongan bukan main.

Sinar sang fajar yang baru menyembulkan eksistensinya ke dirgantara biru, kontras masuk membias di kedua bola mata kelamnya, warna gradasi yang begitu indah. Tapi tak seindah kumis dan jenggot panjang yang menghiasi wajah bengkak kusamnya. Bersama dengan leher dan kedua tangan lebam yang terkunci rapat oleh tumpukkan kayu pemasung, sungguh acak-acakkan! Terdapat tatto permanen juga di bagian kiri pipi, sebuah tanda resmi dari pemerintah untuk dirinya; sebagai seorang pemberontak dari Han sejak sepuluh tahun lalu, yang sudah dikucilkan dan akan dihukum penggal, tepat pada hari ini—kala matahari sudah berada lurus di atas ubun-ubun kepala. Juga selama sepuluh tahun, ia dipasung dan diperlakukan seperti hewan di tempat ini.

Ya. Kun berhasil diringkus kemari dan dibawa hidup-hidup pada malam itu. Malam di mana dirinya dan Xiao terpisah jauh. Terpaksa janjinya menyusul untuk mencari Xiao di Ying Tian harus ditunda selama sepuluh tahun lamanya. Sepuluh tahun, bahkan ia nyaris putus asa jika tidak mengingat janjinya pada Xiao.

… Bisakah ia melarikan diri sebelum dirinya dihukum penggal?

Tidak, tidak boleh! Kun harus bisa kabur sebelum keberadaan matahari kian meninggi! Ia harus segera mencari keberadaan Xiao dan Win!

Sejam.

Dua jam.

Lima jam.

Tak ada tanda-tanda keberuntungan untuknya kabur dari kekangan kurungan ini.

Sampai ketika di mana dirinya dipaksa keluar oleh beberapa pengawal Mongol, lalu kayu pemasung itu pun dilepaskan juga. Oh. Tidak. Alangkah buruk nasib Kun sekarang, ia akan dipenggal, siang ini, sebentar lagi.

Namun, baru setengah lorong tungkainya berjalan, rungu Kun sudah diinterupsi oleh sebuah suara gemuruh yang begitu hebat dari luar dinding jeruji besi milik kerajaan. Suara gemuruh itu diyakininya adalah suara sepatu kuda yang bergerombol untuk menyerbu.

“SERAAAAANG!!!”

Jantung Kun kian berdegup kencang mendengar suara genderang dari luar. Semakin menderu tak kepalang ketika pengawal-pengawal Mongol yang membawanya keluar tadi, malah berlarian ke depan meninggalkannya sendirian begitu saja.

Kun lantas melihat keadaan sekitar, tidak ada pengawal! Satu pun tidak! Ia punya peluang bebas yang besar sekarang, Kun berlari setengah pincang ke arah sebuah sudut tembok pendek, bersembunyi di balik tong-tong anggur sejemang, menunggu pengawal Mongol lain muncul guna menyukseskan sebuah taktik mendapatkan senjata.

Pheeeeewit! Kun bersiul, ketika salah satu tentara Mongol lewat di dekatnya. Belum genap yang terinterupsi menolehkan pandang, Kun langsung menotok titik tumpu kelemahan tentara itu dengan cepat. Hingga akhirnya, Kun berhasil mendapatkan pedang sebagai senjata.

Benarkah pemerintah kini tengah mendapatkan serangan pemberontak besar-besaran? Ya. Kabar burung yang beredar selama sepuluh tahun terakhir ini pernah Kun dengar melalui obrolan beberapa pengawal yang tak sengaja lewat beberapa hari lalu; bahwa, ada satu Jenderal hebat pembela suku Hui dan Han bernama Zhu Yuan Zhang yang berhasil menguasai daerah Jiang Nan (setengah dari dataran Tiongkok), mengalahkan kekuasaan Mongol yang terus dipersempit. Dan tepat pada hari ini, Jenderal-Jenderal hebat itu menyerang ke pusat ibukota Da Du untuk merebut singgasana Kaisar Yuan Shun Di.

Kun pikir ini adalah kesempatan emas untuk memerdekakan suku Han! Lantas Kun pun membebaskan para tahanan lain di sana yang diyakini semua orang itu rata-rata adalah ras dari suku Han dan Hui. Titik merdeka itu akhirnya mulai menyembul gemilang, indah bak warna panorama fajar di pagi hari tadi.

Dari situlah, Dinasti Yuan runtuh dan akhirnya diganti alihkan oleh Dinasti Ming yang dikaisari oleh Zhu Yuan Zhang.

.

.

Xiao … apakah kau masih hidup?

Jerit Kun dalam kalbu ketika mengingat sosok adik perempuannya di dalam benak.

***

Ying Tian 1369 BC (Now; Nan Jing). Ming Dynasty Era.

Kerinduan yang tak kunjung menepi … terus melanda hati Kun, setahun sudah berlalu sejak merdekanya golongan mereka di bawah tekanan ras Mongol, namun dirinya tak jua bertemu sapa dengan sang adik hingga sekarang. Meski pemerintahan kini sudah diambilalihkan oleh Dinasti Ming yang telah menempatkan pusat ibukotanya di Ying Tian, tapi tetap saja, mencari Xiao itu bagaikan mencari satu jarum berharga di tumpukan jerami, menurutnya.

Kali ini Kun berada di sebuah pasar dekat sebuah dermaga, dermaga yang ramai akan kapal-kapal besar yang berlabuh dari seluruh penjuru dunia. Kapal-kapal di mana para saudagar kaya dan pedagang Cina menjual barangnya setelah mengarungi ganasnya samudra.

Di balik topi camping kerucut lusu—berbahan anyaman bambu—sepasang manik hazel cokelat gelap Kun tengah mengintai was-was di sekitar hiruk-pikuk pasar sutra pun beludru, sambil berjalan, tak jarang pandangan tajam setajam elang itu ditundukkan dengan ragu, hingga si topi berhasil menyembunyikan indera pengintai tersebut bersama bayangan topinya yang semu tak semu. Kun mengabaikan pandangan-pandangan aneh dari setiap mata yang tengah menyadari eksistensinya (dengan tampilan pakaian kodol serta beberapa dao miliknya—yang selalu menemani—entah terikat di pinggang maupun di pikulan punggung).

Sang pemilik manik kini memasuki sebuah kedai makan kecil di sana. Mengisi sebuah meja kosong sendirian, lalu sedikit mengedarkan pandang kala seorang anak kecil sekitar berumur lima dari kedai datang menghampiri, kemudian berusaha menanyakan pesananan padanya.

“Paman ingin pesan apa?”

Sebenarnya ia bertandang kemari tidak berniat ingin menebus semangkuk kwetiau maupun sup lobak, atau seporsi daging ayam panggang yang menggugah untuk dieksekusi lambung. Mengingat kantong sakunya kosong kerontang, Kun hanya bisa meringis di dalam hati. Tujuan utamanya datang kemari hanyalah ingin beristirahat saja. Mungkin minum teh adalah hal yang tepat untuk menghilangkan rasa penat setelah mengembara kesana-kemari.

Kun tersenyum pada anak kecil itu, “Paman pesan teh hangat,” bisiknya pelan pada gadis manis itu.

“Baiklah Paman.” Anak itu pun melesak berlari ke pelukan ibunya yang baru datang menghampiri meja Kun.

“Ibu, Paman itu pesan teh hangat,” katanya, yang masih bisa didengar oleh rungu Kun, “Dan Ibu … Paman itu punya luka cukup seram di pipi kirinya.”

“Ssst … Xihan, jangan berbicara seperti itu, tidak sopan,” lembut sedikit berbisik, ibu yang dirasa Kun sedang hamil besar itu menasehati anak perempuannya.

“Tuan, hanya ingin pesan teh?” tanya perempuan itu lagi, masih dengan lembut terhadap Kun, mungkin hanya sekadar untuk memastikan kembali.

Kun mengangguk pelan tanpa mendongakkan kepala untuk menatap wajah si ibu hamil. Kun tidak berani memperlihatkan luka di wajahnya terhadap perempuan hamil, mungkin itu akan berakibat buruk nantinya. Luka di pipi kirinya memang sengaja Kun ukir, agar tatto permanen yang pernah ditandai di sana menghilang.

“Baiklah, tunggu sebentar ya, Tuan.”

Baru saja perempuan itu beranjak pergi untuk memenuhi pesanan Kun, tiba-tiba ia meringis kesakitan sembari memegangi perut buncitnya. Kun segera menahan tubuh perempuan itu agar tidak terjatuh. Dan secara tidak disengaja, bersitataplah wajah Kun dengan wajah si perempuan hamil itu.

Mata sipit perempuan itu kontan membulat di detik berikutnya. Bukan, bukan karena takut melihat luka Kun yang mengerikan di pipi kirinya, melainkan perempuan itu terkejut lantaran mendapati sosok wajah kusam milik pria berjenggot dan berkumis tipis yang dikenalnya, “Kun Ge!?” pekiknya meluap. Jantung perempuan itu seketika meletup-letup berdebar aneh di dalam dada.

Kun terpaku, terpana, meratapi paras perempuan itu dalam kejut dan gemingnya, pria itu pun melihat wajah anak perempuan di sebelahnya bergantian. Genangan air kini muncul di pelupuk mata Kun. Genangan yang kapan saja akan tumpah, berlinang dengan bahagianya.

“Xiao?!” Sebersit suara seseorang lagi datang dari arah ambang pintu di kedai makan tersebut, mengalihkan atensi Kun. Sosok laki-laki itu tergesa menghampiri perempuan yang tengah dipapah Kun.

“Xiao, kau tidak apa-apa?!” Laki-laki itu panik akan keadaan Xiao. Lebih panik lagi Kun yang telah menyadari bahwa laki-laki yang baru datang menghampiri itu adalah … Win—si teman pemberontaknya dulu. Teman yang Kun percayai untuk menjaga adik perempuannya waktu itu.

“Win, Kun Ge! Kun Ge ada di sini!” jerit Xiao mengharu biru sembari memeluk Kun dengan erat, terlampau erat bersama isakan tangis bahagianya. Kun pun ikut menangis bahagia sembari mendekap erat adik perempuannya yang sudah lama dirindukannya setengah mati.

Akhirnya … akhirnya … setelah mengarungi waktu sebelas tahun untuk berpisah, mereka bertemu kembali di tempat ini.

“Syukurlah …,” Kun berucap lega. Mengetahui adiknya masih hidup bersama orang yang tepat. Kun benar-benar tak menyangka dirinya sudah mempunyai keponakan dari Xiao dan Win.

“Ayah, siapa dia, Ibu memeluknya sambil menangis? Apakah Ayah tidak kesal?”

Win tersenyum haru, lalu mengerling ke arah Xihan kala mendengar perkataan polos anak pertamanya itu, “Dia adalah pamanmu, sayang. Namanya Kun, Qian Kun.”

“Paman yang selalu diceritakan Ibu itu?”

Win mengangguk sembari tersenyum untuk menjawabnya lagi.

.

.

… Kita masih terhubung dan terjalin tanpa akhiran batas … kita akan bertemu lagi … Aku berjanji padamu ….

.

.

Proses persalinan Xiao yang kedua telah berjalan dengan lancar hari ini. Wajah orang-orang yang berada di ruangan kamar rumah kayu itu penuh dengan siratan kebahagiaan, terutama wajah Kun yang terlihat berseri-seri ketika menggendong bayi mungil laki-laki dalam dekapannya seusai persalinan.

“Mau kau namai siapa dia, Win?” Kun bertanya dengan mata yang berbinar-binar menatap anak bayi laki-laki di dekapannya.

“Bagaimana kalau kau saja yang menamai anak keduaku itu, Kun?”

“Aku? Yang memberi nama?”

Win mengangguk dengan senyuman, sembari memangku Xihan—anak pertamanya.

“Ah … bagaimana kalau namanya … Luhan?”

“Luhan, aku suka nama itu,” kini Xiao yang berbicara, menyetujui usul Kun diiringi sudut senyuman lebar.

“Baiklah, Luhan! Kau harus menjadi anak laki-laki yang cerdas dan tangguh, sama seperti ayah dan pamanmu ini, oke?” Kun tersenyum amat teramat lebar. Mengekspresikan perasaan bahagia yang luar biasa dari dalam lubuk hatinya, karena, akhirnya kebahagiaan itu datang menghampirinya dengan manis. Semanis anugerah kedua buah hati Xiao yang dikirimkan Tuhan sebagai keponakan Kun. Penerus generasi Han ke depannya.

.

.

FIN

china-map-800

(Ps: Ini berdasarkan sejarah pemberontakan petani suku Han pada tahun 1352 di era Dinasti Yuan sebenarnya. Dan maafkeun, endingnya ambyar gegara nama Luhan wakakakkak. Lawak gagal njirr. Bukan akhirnya doang sebenernya sih, semuanya ambyar kok.)

  1. Note:
    (Sudut pandang cerita berdasarkan suku Han)
    Gege : Bahasa Cinanya kakak.
    Da Du sekarang kota Bei Jing.
    Ying Tian sekarang kota Nan Jing.
    Dinasti Yuan : ras Mongol (Bukan orang Cina asli, melainkan yang menguasai dataran Cina pada masa itu).
    Dinasti Ming : ras Han&Hui (Keturunan Cina asli).
    Dao : Senjata (pedang keramat) tradisional Cina.
  2. Resensi : Dinasti YuanDinasti Ming, Suku Hui & Mongol Movie.
  3. Kesan & Pesan :
    HUWAAA AKHIRNYA!!! FF HISTORICAL PERTAMAKU SELESAI! /PLAK/
    Untuk cerita ff, Maaf banget kalau ffnya begitu memuakkan, full of sejarah dan narasi yang … YAWN … krik krik krik wkwkwk. Sebenernya Ber pengen buat yang gak terlalu terpaku sama resensi sama narasi yang begitu memuakkan, tapi ya mau gimana lagi, kulemah soal itu wakakak, jadilah improvisasi khayalannya begindang surindang nan absurd. Jadi maaf banget kalau ff ini terlalu membosankan bagi yang gak suka sama Sejarah dan terutama narasi. TROLOLOL.
    Tapi bagi yang suka sama sejarah, ih seru dan enak juga lho bikin alur cerita ff yang bertemakan seperti ini, apa lagi ff historical itu jarang ditemui yha wkwkwk, meskipun mabok sih cari-cari resensi sana-sini buat dapet inspirasi sama feelnya, tapi ya asyiklah selama kita menikmati prosesnya. Yang penting berani terima tantangan dan pengetahuan jadi bertambah. Ini benar-benar mengasah otak coy, HAHAHA. Dan sepertinya Ber ketagihan buat genre historical. Mau buat lagi rasanya karena kurang puas, Grrrr…
    Yasudah deh, cukup sekian kesimpulan, note, dan kesan-pesan dari Ber selama buat ff historical. Jangan sampai cuap-cuapnya jadi oneshot juga kaya ffnya lol.

    Selamat mengapresiasi kawan :)!

Advertisements

11 thoughts on “[Get into the Time Machine] The Rebel(s) [反叛] of Han

  1. CHINA-LINEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE
    kamu tau china-line lah yg membuatku jatuh cinta pada k-pop, anehnya. dari jaman hangeng ex-super junior sampe anak2 exo (china-linenya nct belum debut official sih so aku masih blm ngefeel2 bgt tapi aku suka winwin sih di teaser yg dulu itu huhui) aku selalu kesengsem sama pesona mereka. gatau bawaan darah naga kalik XD
    dan ini seru banget! aku suka storylinenya! endingnya itu lho nyesss banget *and wth itu luhan jadi anaknya member wjsn, like whaaat* feel persahabatan dan familynya kenak huhu sedih bgt itu bgian kun dipenjara dan penyelamatannya sblm dipenggal heroik bgt! dan kayaknya kamu berjuang sangat keras utk elaborasi diksi ya, yg mana di beberapa sisi sangat berhasil bikin aku iri
    tapi yah, di sisi lain, aku masih kurang sreg sama bbrp kata yg dipasang di sini. ada typo ‘terpogoh2’ yg paling aku inget. sama diKaisari (pake ctrl+F kah? hehe just asking). terus paragraf awalnya agak berantakan vocabnya:
    .
    Teriknya sinar mentari yang menyengat kulit sudah biasa digeluti oleh seorang petani seperti Kun. Mengolah lumbung padi bukanlah hal mudah semudah membalikkan telapak tangan. Peluh-peluh keringatnya yang bercucuran, bahkan siap, menjadi saksi bisu kerja kerasnya di setiap hari, apabila tidak ada orang yang percaya. Pagi, siang, sore, bahkan malam jika ia sempat bertandang ke sawah, maka ia akan jajaki.
    .
    kalo dia mengolah lumbung (gudang padi) berarti dia kerjanya indoor kan? kenapa keringetannya seakan2 karena matahari? terus peluh-keringat itu sama ya, ati2 buang2 kata. koma yg di kalimat ini juga kurasa kurang perlu.
    ada juga keterangan2 (contoh: ‘now beijing’) yg kupikir ga dipasang gapapa, atau mungkin lebih baik ditulis –sekarang kota Beijing– gitu karena menurutku lebih rapi.
    vocabs aside, ini keren paraaaaah!
    keep writing! XD

    Liked by 1 person

  2. KAK LIANAAAAAAA YAAMPUN YAAMPUN YAAMPUN SENPAIIIIII……. Makasih banyak kak sudah mau mampir ke sini dan kasih masukan banyak banget X””) sini Kak Liana, Ber peluk dulu kyaaaaa /peluk kak Liana sampe bengek *gak*/

    Endingnya jangan ditanya kak emang ambyar XD. Ketauan banget ya kak kalo aku sok ngediksi, padahal vocabnya ambyar parpar:’). Hehehe itu ‘terpogoh2’ aturan ‘tergopoh2’ ya kak XD hahaha ngakak itu salah aku berarti. Dan juga yang ‘dikaisari’ itu ternyata nggak dikapitalin ‘K’ nya yhaa hahahaha dasar Ber emang. Dan aku sadar masih banyak boros kata yang gak perlu.

    Ih pokoknya makasih banyak buat Kak Liana yang udah mampir kemari dan ngasih riview yang berharga banget :)) Ber catet pokoknya Ber catet kritik dan masukannya! ❤ Kecup jauh dari Ber untuk Senpay :)). Kak Liana juga keep writing! Aku belum sempet main ke blog kakak lagi, padahal penasaran banget sama yang Dyonisus itu kyaaa X"). Sekali lagi makasih banyak pokoknya ya Kak Liana! ;* /tebar kecup dari Ber ihiiik/

    Like

  3. hai kak ber ~~
    hul, katakanlah lely jahat sama kun karena selama baca ff ini ga fokus sama penderitaan Kun dan malah menantikan momen winwin sama xiao dan alhamdulillah kubersyukur sekali endingnya mereka nikah huuuuaaaaaa /teamwinxiao2k16
    lah serius kak aku suka bgt ngepair mereka sebagai salto coupe >///,<
    overall aku suka banget, ga bisa koreksi kak, karena sejatinya aku juga author ff receh :') semangat kak ber…. semoga…… semoga kakak bikinin ff fluffy lumer winxiao dalam waktu dekat /kode keras /readers ngelunjak

    Liked by 1 person

    • sialan udah komen panjang2 malah kepotong ini wp maunya apa sih??? ngajak tanding gulat banget… peace kak bohong kok kalau lely bilang cuma fokus cari momen winxiao selama baca ff ini.. sungguh aku terenyuh sama perjuangan kun menepati janjinya sama xiao, sumpah itu ngefeel hiks :’)
      duh apa lagi ya tadi aku lupa kak T_T

      Liked by 1 person

      • HAHAHA SALTO COUPLE! Kamu bener juga :””) aku baru nyadar lho ini mereka bener sama-sama jago salto /plak/ #SaltoCouple2k16 ♡ wkwkwk lucu juga couplenya. Ini ber asal masangin aja padahal wkwk soalnya Ber demen sama Xiao 😂😂😂

        Makasih yha mba Lely sudah mau mampir kemari repot2 baca kisahnya Kun lol. Kecup dulu sini biar gak kepotong mulu kalo lagi komen XD

        Liked by 1 person

  4. KAKBER KAKBER KYAAA INI ENDINGNYA SWEET BANGET KYAAA MANA ADA LUHAN NONGOL WAKS GAPAPA KEPISAH LAMA KALAU AKHIRNYA BAKAL DIPERSATUKAN LAGI DENGAN KEHIDUPAN YANG LEBIH INDAH /ngoceh apa kamu ay?/

    Suka kaaak suka banget meskipun panjang uhuk /dasarnya mbaay aja yg pembosen/ tapi tetep ketjeh kok haha narasinya aduhai~~~ ajarin mbaay bikin narasa panjang-panjang gitu dong kakber uwuwuw

    Pokoke mbaay suka kyaaa kyaaa /ditampol/

    Liked by 1 person

    • MBAAY MAKASIH BANYAK SUDAH MAMPIR MBAAY! ❤ KECOP DULU SINI MBAAY! /tereak pake toak di kupingnya mbaay/ /lalu ber dibunuh mbaay/ Ah, senpay mah suka begitu, sok minta diajarin. Padahal ff sendirinya narasi udah panjang-panjang nan kece badhay ulalala trililili :p /digebuk/

      Liked by 1 person

  5. Seruu thor, tapi kenapa baby Jaehyun ku hanya dijadikan supor cast jadiin main cast dong kan seru kalo Jaehyun yang sepertinya disini leader anak2 vampire jadi main cast ngerebutin salah satu cewek itu hehe yaa aku sih pengennya gitu tapi terserah author deh. 😀

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s