[Get into the time Machine] Roots that Ruin the Tree

roots that ruin the tree

Roots that Ruin the Tree

by orenjiorange

Kim Donghyuk | Slice of Life, Family

*

“Kebenaran ada di dalam kegelapan.
Kegelapan dapat menutupi kebenaran, tapi tidak dapat menghilangkannya.”

– Jung-Myung Lee, Deep Rooted Tree

*

Seseorang pernah berkata, bahwa keheningan malam selalu diindetikkan dengan kejujuran. Bahwa cahaya yang dibawa oleh sang rembulan, sebenarnya tercipta untuk menemani jiwa-jiwa yang merasa kesepian, yang selalu ingin lepas dari permainan penuh tipu muslihat kehidupan. Dan keberadaannya yang selalu nampak di setiap malam, pun seakan memberi ruang bagi orang-orang untuk bebas berkeluh-kesah.

Mungkin itulah yang disukai orang-orang tentang bulan, kehadirannya hanya ada untuk sekadar melihat dan mendengar. Selalu melihat, dan selalu mendengar. Tidak pernah sekalipun ia ikut berkelakar, apalagi protes. Bahkan saat sedang terjadi peristiwa penuh ketidakadilan pun, dia hanya akan melihat dan mendengar. Dia adalah saksi bisu, tentang siapa yang salah dan siapa yang benar. Dia tahu, dia tahu semuanya—

“Izinkan hamba untuk berkorban, pemimpin. Aku yakin, hanya ini jalannya. Dia pasti akan berpihak kepada kita.”

—tanpa terkecuali.

Tapi tahukah kamu, bahwa selain setia melihat dan mendengar, bulan juga setia melakukan satu hal, yaitu menunggu.

Menunggu kebenaran, menunggu keadilan, menunggu apa yang seharusnya digenapkan, digenapkan.

*

Semburan cahaya bulan di tengah malam alang menunjukkan eksistensinya, dengan sinarnya yang berhasil menembus ke dalam ruangan pribadi dari kediaman putra pertama Paduka Raja Taejong, Kim Hyojong, yang kini sedang bercakap-cakap dengan seorang pemuda lain. Dan sejak konversasi mereka dimulai, bahkan bulan pun sudah tahu, bahwa akan ada sebuah pergumulan yang siap hadir di antara mereka.

“Aku sama sekali tidak mengerti maksudmu, hyung-nim¹,” adalah Putra Mahkota Kim Donghyuk yang berbicara, raut wajahnya menyiratkan kegelisahan. Baginya, semua yang baru saja ia dengar dari kakaknya perihal paduka raja—tidak, lebih tepatnya, ayah mereka—adalah sebuah kebohongan. “Kau—kenapa kau—tidak … apa kau bermaksud mengkhianati ayah?”

“Lalu kau akan mengkhianati Joseon?” Hyojong menatap tajam kedua netra adiknya itu, ia tahu bahwa menceburkan Donghyuk ke sebuah ranah politik negara untuk saat ini, adalah hal yang menyesatkan. Tapi hanya ini satu-satunya jalan. “Ayah tidak pernah percaya kepadaku, Donghyuk. Itu sebabnya dia menjadikanmu putra mahkota. Dia tahu, dia tahu dengan sangat jelas … bahwa pandanganku tidak sejalan dengan kemauannya, dan aku akan melawan.”

Napas Donghyuk seketika tercekat, tak berkutik menjadi pilihannya. Lidahnya kelu, karena semuanya serba mendadak baginya dan menyebabkan dirinya tak bisa berpikir secara matang. Kenyataan bahwa kakaknya sendiri, orang yang sangat dipercayainya lebih dari siapa pun—Kim Hyojong—telah mengumpulkan sekutu untuk diam-diam melawan hukum pemerintahan yang dibuat ayah, seakan menjadi kesalahan yang pernah ia ketahui seumur hidupnya.

“Kau akan segera dipertemukan dengan Kaisar Dinasti Ming, dan itu adalah awal dari invasi yang tadi kubicarakan.” Bagaikan tak mengindahkan Donghyuk yang kini mati kutu, Hyojong tetap melanjutkan bicaranya gamblang. “Akibatnya, rakyat Joseon akan semakin miskin, tetapi Istana akan berkelimpahan. Mereka akan sege—”

“Ayah tidak mungkin berkolusi dengan Dinasti Ming!” potong Donghyuk. Matanya berkilat-kilat, dengan dalih bahwa ia sedang melawan dirinya sendiri sekarang untuk mempercayai ucapan kakaknya.

Hyojong terdiam. Badannya sudah tidak setegak semula. Ada percikan rasa sesal sekaligus bangga dalam dirinya karena kini Donghyuk sudah berani melawan. Dan walaupun Hyojong tahu bahwa pembicaraannya dengan sang adik mengenai konfrontasi politik ciptaan ayahnya dan Kaisar Dinasti Ming hanya akan membuang waktu, tapi Hyojong juga tahu, bahwa ada hal yang sejatinya tetap harus ia lakukan.

Hyojong beranjak dari tempatnya bersimpuh, kedua tungkai kakinya lalu bergerak menuju nakas yang berada kurang lebih tiga meter dari samping Donghyuk. Dan Donghyuk, yang awalnya terus mengawasi Hyojong dengan penuh perasaan gusar, tidak berapa lama kemudian mendapati kakak semata wayangnya itu menyodorkannya sebuah lipatan kertas daur ulang yang tipisnya tak terkira.

Penuh ragu, tangan Donghyuk pun tergerak menyambut kertas daur ulang tersebut. Dan kedua tangannya lantas sibuk membuka lipatan demi lipatan dari kertas itu, menemukan gambar naga dua ekor yang terpatri di tengahnya. Kedua alisnya pun bertemu.

Putra pertama Paduka Raja Taejong kembali bersila di tempatnya semula, matanya awas memandangi adiknya, walau kini tatapannya melembut. “Simpanlah surat itu, simpan baik-baik sampai kau merasa bahwa waktunya sudah tepat. Dan ketika kau yakin, pergilah ke Jeonju, dan temui seorang bernama Pemimpin Jang diam-diam di satu-satunya toko besi di sana. Berikanlah surat itu, lalu semua orang akan bersukacita atas kedatanganmu, dan mereka akan menjadi pengikutmu yang setia.”

Sementara lawan bicaranya, yang benar-benar tidak paham atas maksud dan perkataan yang didengar, hanya menunjukkan kerutan samar di dahi sebagai sebuah tanggapan. Tapi kendati demikian, Donghyuk mengetahui satu hal dengan pasti; adanya sebuah sekutu yang sedang menunggu kehadirannya. Sebuah sekutu yang diam-diam telah mengatur segala rencana, sebuah rencana yang mempunyai satu tujuan; mengkudeta pemerintahan sang ayah. Dan dia, Kim Donghyuk, selaku putra mahkota, sekaligus calon resmi pengganti raja, adalah satu-satunya orang yang diharapkan menjadi ujung tombak dari penggulingan tersebut.

Donghyuk menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. “Ini salah, ini salah, kau salah.” Tangannya lekas melipat kembali kertas itu asal-asalan, dan meletakkannya di sampingnya, lalu kini keseluruhan atensinya ia berikan mutlak kepada Hyojong. “Kau bisa diasingkan atau dihukum mati karena perbuatanmu ini, kau tahu itu ‘kan? Tapi aku tidak akan ikut dalam permainan gilamu … jadi anggap saja, anggap saja bahwa pertemuan ini tidak pernah terjadi.”

Tanpa berpikir panjang, Donghyuk segera berdiri dan membungkuk memberi tanda hormat, isyarat bahwa dirinya undur diri. Pemuda itu merasa bahwa dirinya telah mengambil sikap yang benar. Ayahnya, yang adalah Raja Negeri Joseon—Paduka Raja Taejong, bagaimanapun juga adalah seseorang yang berjiwa besar karena telah mengabdi kepada rakyat. Dan jikalau ada rakyat yang melakukan pemberontakan, itu artinya pengkhianatan besar terhadap raja, juga kepada negara.

“Putra mahkota,” Hyojong kembali bersua, menghentikan langkah Donghyuk yang sebentar lagi akan menghilang dari pandangan. Tapi Donghyuk enggan berbalik, dia ingin mengukuhkan prinsipnya, bahwa ia tidak akan pernah mengikuti omong kosong Hyojong. Hyojong tersenyum tipis, lalu melanjutkan, “aku mempunyai permintaan yang aku harap kau dapat mengabulkannya … aku mohon, apapun yang akan terjadi padaku besok, biarlah itu terjadi. Dan kau, sebaiknya jangan terlalu sering bermain di dalam istana. Lagi pula, bukankah seorang calon raja … harus mengetahui dunia luar?”

Sang putra mahkota menelan salivanya, seakan menyadari bahwa kebimbangan yang selama ini menghantui pikirannya, kembali dipertanyakan. Tapi raja tetap adalah raja, dan apapun perintahnya, tetap harus ditaati dengan mutlak.

Dan kemantapan langkah Donghyuk untuk menjauh dari tempat itu, sekaligus menjadi sebuah komitmen untuknya, bahwa ia tidak akan pernah sekalipun mengampuni orang yang menyelewengkan titah kerajaan, sekalipun itu kakaknya sendiri.

*

Keadaan Hongmungwan² di pagi hari itu jelas berbeda dengan keadaan pagi lainnya yang biasanya Donghyuk alami. Itu karena dia tengah menanggalkan gonryongpo, pakaian resmi Istana yang menunjukkan kedudukannya sebagai putra mahkota, dari tubuhnya, dan digantikan dengan pakaian yang sering dipakai kaum yangban, yang adalah sebutan bagi orang-orang yang mempunyai keturunan darah pejabat di Joseon.

Salahkan Pangeran Kim Hyojong—kakaknya, yang sudah membuat dirinya tidak sanggup tidur semalaman sampai pagi buta, karena terus memikirkan tentang pergerakan nasib. Nasib dirinya, nasib kakaknya, nasib ayahnya, dan yang terpenting, nasib rakyat Joseon. Terutama saat Hyojong menyinggung soal hidupnya yang dianggap hanya sering bermain di dalam istana, seakan menuduhnya mencari aman. Donghyuk tidak bisa menyangkal untuk yang satu itu, karena ayahnya selalu mengatakan bahwa seorang raja cukup memerintah dari istana, pejabat juga para majelis istanalah yang sebaiknya melaporkan keadaan dunia luar.

Dan walaupun Donghyuk tahu bahwa pernyataan raja tersebut tidaklah sepadan dengan apa yang dipikirnya, tapi Donghyuk tetap menuruti dengan taat … untuk waktu yang sangat lama.

Sampai kakaknya kembali mengangkat topik itu, dan membuatnya tersadar.

“Jangan sampai ayah tahu tentang hal ini,” ujar Donghyuk seraya mengikatkan tali topi gat³ di bawah dagunya, “sampai ayah mengetahui bahwa aku akan keluar istana, kau yang akan kuhabisi.”

Kasim Hon Nan, selaku pelayan pribadi putra mahkota, menyiratkan raut wajah cemas yang belum juga pudar sejak tuannya mengatakan akan mengunjungi kota. Sebenarnya, dia seharusnya tidak harus khawatir karena pasti rakyat Joseon, toh, tak akan mengenal wajah calon raja mereka. Tapi tetap, ketakutan karena membohongi raja adalah yang membebani pikirannya. “Putra mahkota, hamba tentu tidak akan membiarkan itu terjadi. Tapi pasti paduka raja akan marah karena tuan menyambangi kota tanpa sepengetahuannya.”

Donghyuk mendesis, yang langsung ditanggapi Hon Nan dengan membungkuk sembilan puluh derajat tanda bahwa dirinya tidak akan kembali melawan. Tentu saja semua orang akan mengatakan hal yang serupa Hon Nan, itu karena siapapun yang tinggal di dalam istana tahu dengan jelas, bahwa Donghyuk sangat loyal kepada paduka raja, walau nyatanya, jauh di dalam lubuk hatinya, ada begitu banyak gagasan juga idenya yang tidak sejalan dengan ayahnya.

Dan sebelum ia mengubur ketetapan hatinya untuk kembali tenggelam bersama kekuasaan sang ayah, ia hanya harus memastikan satu hal, bahwa semua perbincangan yang sering terjadi bersama ayahnya, dengan topik kesehjateraan rakyat Joseon yang semakin meningkat karena hukum yang dibuat oleh ayah dan Para Perdana Menteri Permusyawaratan Istana, adalah perbincangan yang dilandaskan kebenaran.

Pemuda itu mengambil sebuah tas serut kecil berwarna keemasan dari dalam salah satu laci dari nakasnya, dan menyelipkannya di dalam pakaian yangban-nya. “Sam Moon akan terus bersamaku, jadi kau tidak perlu khawatir. Dan, jangan mencariku kalau keadaannya tidak genting … omong-omong, di mana Sam Moon? Kau sudah memberitahukannya ‘kan?”

Tidak berapa lama kemudian, pintu Hongmungwan terbuka, dan seorang berpakaian yangban lain yang sebenarnya adalah pengawal pribadi Donghyuk, masuk sebelum ia membungkukkan badannya memberi hormat.

“Pasti kau sedih sekali karena aku memintamu melepaskan pedangmu hari ini. Iya ‘kan, Sam Moon?” tanya Donghyuk iseng. Sam Moon tak menjawab, ia tahu bahwa Sam Moon cukup gelisah dengan keberangkatan rahaia ini, sehingga Donghyuk melanjutkan perkataannya dengan nada yang lebih serius, memberi keyakinan. “Hanya ini cara agar aku mengambil jalan yang benar. Jadi aku mohon, bantulah aku.”

*

Matahari sudah berada tepat di atas saat Donghyuk dan pengawal pribadinya yang juga harus ikut menyamar, Sam Moon, melenggangkan kaki mereka di hiruk pikuknya kota Hanyang, ibu kota Joseon.

Kedua mata Donghyuk mengawasi setiap gerak-gerik dari orang-orang yang melintas di hadapannya. Berbeda dengan Sam Moon, yang justru memantau tuannya itu dari belakang. Sam Moon berumur lebih tua dari Donghyuk dengan jenjang yang tidak terlalu jauh, tapi kendati dirinya hanyalah sebuah pengawal pribadi, dia sungguh yakin bahwa dirinya dan Hon Nan, adalah dua manusia yang dipercayai Donghyuk setelah Kim Hyojong, kakaknya.

Dirinya baru saja akan mengalihkan sedikit perhatiannya dari perangai Donghyuk, saat tiba-tiba seorang kakek tua yang berpakaian compang-camping dan rambut ubanan yang terikat tidak beraturan, menyatroni Donghyuk dan mengais-ngais dengan menyentuh dan menarik-narik bagian bawah pakaian Donghyuk. “Tuan, berikan saya setidaknya sedikit uangmu … tuan! Tuan!”

Donghyuk lekas mundur dengan penuh keterkejutan, lalu tangan pengemis itu pun dipertemukan dengan kaki kanan Sam Moon yang mendorongnya agar segera menjauh. Buru-buru Donghyuk berjalan kembali, mencoba kembali beradaptasi. Tapi tahu-tahu, seorang wanita yang berbusana yang tak kalah kotornya dari pengemis tadi, mengagetkan dirinya karena mendadak muncul di hadapannya dari arah jalan di samping. Tubuhnya jatuh terkulai tak berdaya di tanah, tapi tenaganya yang tersisa memaksanya untuk segera bangun dan bersujud, demi menghadap ke sekelompok laki-laki berbusana layaknya bandit pasar. “Maafkan saya, tolong ampuni saya … saya tidak punya uang dan bahkan tempat tinggal untuk membayar utang! Saya mohon, ampuni saya!”

Tapi perkataan hanyalah sebuah perkataan, dan hal yang diterima oleh perempuan itu selanjutnya adalah jambakan kasar dari salah satu bandit tersebut, yang kini menariknya tanpa ampun. Dan Donghyuk hanya bisa berkarut kala wanita dan orang-orang tak tahu diri itu berjalan menjauh di gang sempit.

Hati Donghyuk seketika gusar, karena setahu dirinya, ayahnya mengatakan bahwa tidak ada satupun rakyat Joseon yang luntang-lantung di jalan, seperti tidak punya tempat tinggal. Ia juga berbicara mengenai rakyat yang ingin meminjam uang, bahwa koperasi istana siap membantu dengan jaminan anak laki-laki akan diperkerjakan untuk mengokohkan bangunan istana, sementara anak perempuan akan menjadi pelayan para anggota keluarga kerajaan. Itu artinya, seharusnya tidak ada penagih utang yang berjalan ke sana kemari, apalagi penagih utang itu jelas hanyalah sekelompok masyarakat yang sok berkuasa.

Kedua tungkai kaki Donghyuk kembali bergerak, sementara pikirannya kini berpusat apakah seharusnya dia bertanya masalah ini kepada ayahnya. Tapi menganjurkan pertanyaan itu maka akan berdampak dua hal; ayahnya tidak tahu tentang hal ini, yang jelas mengatakan bahwa hukum yang dibuat tidak berjalan dengan baik. Atau, atau ayahnya tahu mengenai hal ini, tapi membiarkannya begitu saja. Dan itu artinya … itu artinya bahwa ayahnya selama ini berbohong kepadanya, dan perkataan Hyojong bisa jadi benar adanya.

“Hadiri dan saksikanlah! Judi terbesar di Hanyang! Hadiri dan saksikanlah! Judi terbesar di Hanyang!”

Sebuah suara yang memekikkan telinga seketika membuyarkan fokus pikiran Donghyuk. Sekonyong-konyong di hadapannya, orang-orang yang awalnya terlena dengan aktivitas individunya, kini berkumpul menjadi satu, memusatkan perhatian mereka pada seorang laki-laki berpenampilan layaknya pedagang. Ia memakai paeraengi di atas kepalanya, sedangkan tangan kanannya kini sibuk menyodorkan selebaran kertas berkesan brosur kepada siapapun yang menghampirinya, sementara mulutnya tetap berteriak lantang. “Hadiri dan saksikanlah! Judi terbesar di Hanyang!”

Kedua pupil mata Donghyuk membulat, judi adalah hal yang haram dan hanya akan memperburuk citra Joseon. Emosi pun seketika membumbung tinggi dalam jiwanya. Dan sebelum Sam Moon sempat mencegah tuannya, Donghyuk sudah berjalan mendekat menghadap laki-laki yang membuat tempat itu menjadi hingar-bingar.

“Kau, rakyat tak tahu untung! Bagaimana mungkin kau menyebarkan selebaran itu dan merusak integritas rakyat Joseon!” hardik Donghyuk dengan tatapan mata yang berapi-api, napasnya tertahan sekarang, akibat meluap-luapnya rasa emosi.

Laki-laki yang menjadi objek kemarahan Donghyuk seketika menghentikan kegiatannya, ekspresinya bimbang apakah dia harus tertambat sejenak atau justru menanggapi Donghyuk balik. Tapi melihat raut wajah Donghyuk yang memproklamirkan kemarahan, dia memutuskan  bahwa dia harus ikut berdebat. “Maaf, anak muda … tapi apakah kau barusan berbicara tentang integritas?” Obsidian dari pemuda itu pun menyoroti penampilan Donghyuk dari bawah sampai atas. “Astaga, ternyata masih ada keturunan pejabat yang peduli soal integritas.”

“Aku akan segera memanggil prajurit istana dan menangkapmu juga kelompokmu! Kau akan diadili atas tindakan penyimpanganmu ini! Dan paduka raja akan menghukummu!” seru Donghyuk tegas.

Niat hati ingin menakut-nakuti, tapi yang didapat Donghyuk adalah suara tawa yang langsung menggelegar, yang sontak membuat dirinya kebingungan.

“Maksudmu … aku diadili? Diadili oleh siapa? Para menteri istana?” Laki-laki itu tersenyum meremehkan, kini langkahnya lurus mendatangi Donghyuk lebih dekat. Dan ketika hampir tidak ada jarak yang memisahkan, ia berbisik intens di telinga Donghyuk, lengkap dengan suaranya yang kini terdengar dalam. “Bahkan para menteri istanalah yang mengizinkanku untuk membuka perayaan judi ini. Ah, para menteri juga mengatakan, bahwa paduka raja juga akan turut hadir. Jadi sebelum lidahmu dipotong oleh mereka, lebih baik kau pergi.”

Perlukah Donghyuk memberikan kembali tanggapan? Jawabannya adalah tidak. Pemuda itu justru tengah memperkuat dirinya sendiri agar tidak jatuh di tempat. Kerumunan orang-orang dan selebaran brosur yang kembali dilemparkan, sekarang hanya menjadi sebuah bayang-bayang sekilas bagi Donghyuk. Hatinya seperti diremuk tanpa ampun, dadanya kini naik turun, bersamaan dengan napasnya yang tersedak.

Sam Moon memperhatikan tuannya dengan tatapan tanpa ekspresi, tapi dalam hatinya, dia merasa sungguh kasihan. Asumsinya, Donghyuk mungkin merasa bahwa ketaatannya dengan ayahnya adalah untuk pembuktian betapa dirinya setia terhadap paduka raja, yang sepengatahuannya, sangat peduli dengan keadaan rakyat. Tapi tanpa dia sadari, ketaatannya justru membutakan hati juga matanya mengenai hal-hal yang selama ini menjadi pemikirannya, juga menutupi segala kebenaran yang selama ini diselipkan ayahnya.

Sam Moon baru saja akan menghampiri Donghyuk dan memberi saran kepadanya untuk kembali ke istana, namun presensi seseorang yang dia kenal—begitu pula Donghyuk—tiba-tiba datang di hadapan mereka, dengan napas tersengal-sengal.

Kasim Hon Nan.

“Paduka raja mencari Anda, putra mahkota!” Hon Nan berusaha mengatur napasnya. Tapi Donghyuk dan Sam Moon mempunyai firasat bahwa ada berita lain yang dibawa oleh Hon Nan, dan itu adalah berita yang terburuk. “Pangeran Kim Hyojong telah ditahan di penjara istana atas tuduhan pengkhianatan!”

*

Prajurit istana yang berdiri di kedua sisi pintu utama Geunjeongjeon, yang merupakan balai takhta tempat paduka raja menetapkan keputusan terkait masalah negara bersama Para Perdana Menteri Permusyawaratan Istana, membuka pintu tersebut lebar-lebar seraya berteriak lantang, menginformasikan bahwa yang ditunggu telah datang, “Berikan jalan pada putra mahkota!”

Donghyuk mengeraskan rahangnya, bersikap tak gentar. Matanya bersitatap dengan seseorang yang sedang menunggunya di ujung perjalanannya. Adalah ayahnya sendiri, Paduka Raja Taejong, yang kini sedang terduduk di atas singgasana tertinggi, tanda bahwa dirinyalah yang paling berkuasa atas seluruh hal yang berada di wilayah Joseon. Sementara Donghyuk memangkas jarak yang tercipta antara dirinya dengan sang ayah, Para Perdana Menteri yang berada di samping kiri dan kanannya membungkuk lebih dalam memberikan hormat. Walaupun Donghyuk dapat berasumsi, kedua mata mereka tengah memperhatikan gerak-geriknya dari bawah.

Donghyuk membungkuk memberi salam, tatkala dirinya sudah berada di depan ayahnya, “Paduka raja, apa yang membuat paduka mencari saya?”

“Putra mahkota … anak yang kusayangi, aku dengar kau banyak menghabiskan waktumu di Hongmungwan,” ujar Raja Taejong tenang, “kalau begitu, bisa kau jelaskan kepadaku … apa yang dimaksud dengan ungkapan ‘jangan berbicara tentang pohon rumah kaca’ … kau pasti tahu ‘kan?”

Netra mata Donghyuk mencelang ke arah raja, yang direspons balik dengan kedua alisnya yang terangkat, tanda bahwa ia harus segera menjawab. Buru-buru Donghyuk menundukkan lagi kepalanya, mengumpulkan keberaniannya, sembari berujar, “Peribahasa tentang ‘jangan berbicara tentang pohon rumah kaca’ adalah cerita pejabat penting Dinasti Han. Bahwa bahkan saudara terdekat bertanya pohon jenis apa yang berada di dalam istana, sekalipun jangan diberitahu. Dalam hal ini, baik itu masalah istana ataupun masalah dewan, itu benar-benar tidak boleh disebarkan ke dunia luar. Tidak boleh ada yang ikut campur, apalagi bersekutu diam-diam.”

“Kalau begitu … bagaimana kalau ada yang melanggarnya? Apakah dia harus dihukum?” tanya raja sekali lagi.

Donghyuk tak langsung menjawab, ia hanya baru menyadari satu hal; ke mana arah dari pertanyaan yang dianjurkan oleh ayahnya. Dan pertanyaan selanjutnya dari sang ayah barusan, bukanlah sebuah pertanyaan, melainkan sebuah perintah. Perintah yang harus dilaksanakan terhadap sesosok pemuda lain yang sangat mereka kenal. “Jika ada … jika ada yang melanggar hal tersebut … itu artinya pengkhianatan terbesar bagi negara, dan … dan hukuman mati bagi tersangka.”

Dan jawaban itu pun berhasil membuat Paduka Raja Taejong bersandar sejenak di singgasananya. Dia tersenyum lega, tahu bahwa dia memilih orang yang tepat. “Kau adalah anak yang sangat berbakti sekali kepada negara, putra mahkota.”

Tak berapa lama kemudian, Paduka Raja Taejong menyuruh salah satu pegawai istana yang bertugas mencatat segala keputusan raja, untuk membawa sebuah gulungan kertas yang memuat titah raja sebelum diadakannya perdebatan dengan para menteri, dan menempatkannya pada meja yang berada di depan singgasana. “Mendekatlah padaku,” ujar Raja Taejong seraya memperhatikan Donghyuk secara saksama.

Kedua mata Donghyuk mengerjap-ngerjap, ekspresinya memucat, kecemasan mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya menggelayuti pikirannya. Tapi tanpa sedikitpun ia bisa kabur dan berusaha mengelak, kedua tungkai kakinya tetap ia beranikan untuk melenggang menuju posisi di samping Ayahnya.

Raja Taejong pun serta-merta mengambil gulungan kertas tersebut, dan menyodorkannya kepada Donghyuk. Tak ayal, Donghyuk menerimanya tanpa tahu apa-apa. Anggukan kecil yang diberikannya kepada Donghyuk, kini mengisyaratkan bahwa pemuda itu sebaiknya membuka gulungan kertas tersebut. “Bacakanlah, putra mahkota.”

Peluh keringat dingin kini mulai bermunculan di dahi Donghyuk seraya dirinya membuka gulungan yang ada di kedua tangannya. Instingnya mengatakan bahwa sesuatu yang seharusnya tidak terjadi akan terjadi, tapi dia tidak mempunyai pilihan, selain membiarkan dirinya untuk mengetahui apa yang akan terjalin, seiring dengan dirinya membaca apa yang tertera.

Dan apa yang akan terjadilah, terjadilah.

“Kepada siapa pun yang melakukan pembelotan dan penyelewengan terhadap Istana, akan dihukum tanpa sedikit pun adanya rasa bela kasih. Mereka, yang telah ditangkap kemarin malam, dan yang telah mengadakan pertemuan untuk berkhianat terhadap Raja, badannya akan ditarik hingga mati di depan umum. Dan untuk pemimpin pertemuan mereka, Pangeran Kim Hyojong, akan di—” Donghyuk menahan napasnya. Tidak, ini tidak mungkin, batinnya tercengang. Bibirnya beku, ia bahkan membutuhkan tenaga untuk menelan salivanya. “Dan untuk pemimpin pertemuan … mereka—”

“Seorang calon raja harus segera menyelesaikan situasi yang tidak tenang, putra mahkota. Bukankah begitu?” sanggah Raja Taejong lirih namun tegas, memerintah Donghyuk untuk segera menyelesaikan kalimatnya.

Kedua tangan Donghyuk sontak bergetar akibat rasa takut juga resah yang semakin menyerangnya. Ia bahkan hampir membuat gulungan kertas yang dipegangnya terjatuh. Tapi dengan sekuat tenaga, pemuda itu tetap memilih untuk bertahan, membiarkan dadanya yang sudah mulai merasa sesak. “Dan untuk pemimpin pertemuan mereka, Pangeran Kim Hyojong, kepalanya akan dipenggal malam ini di bawah perlindungan sang bulan. Mayatnya akan dibuang dan kematiannya tidak akan … diupacarakan. Namanya akan dicoret dari silsilah keluarga kerajaan, dan tidak boleh adanya sejarah yang mencatat namanya. Pengkhianatan, adalah jalan kematian.”

Sementara paduka raja dan para menteri istana saling berpandangan sarat makna yang tersembunyi, Donghyuk justru berusaha membuat dirinya agar tidak terjatuh di tempat, pun dengan tubuhnya yang mendadak lemas. Seraya mengatur emosi yang terkurung di dalam dadanya, Donghyuk mendelik ke arah ayahnya, yang hanya mengangguk-angguk kecil tanpa menunjukkan ekspresi apapun.

Sekarang, di samping dia harus menanyakan kebenaran atau justru melawan ayahnya sendiri, hanya ada satu hal yang ingin Donghyuk tanyakan kepada pria paruh baya itu: Di mana letak hati nuraninya sebagai seorang ayah, kala tahu anaknya akan dihukum mati?

Atau, atau ada unsur kesengajaan terhadap semua ini?!

*

Langit sudah semakin menggelap, dan Donghyuk tahu bahwa sebentar lagi bulan akan nampak, itu artinya putusan bagi Pangeran Hyojong akan segera dilakukan. Pemuda itu berjalan mondar-mandir, ke sana dan kemari, duduk lalu berdiri lagi, di ruangan pribadi di kediamannya. Dia tengah menunggu kabar dari Sam Moon untuk memberinya kabar terkait dengan kakaknya, bahwa dia ingin bertemu. Meminta maaf, memeluk, bahkan kalau perlu berada di sampingnya sampai kematian mendatanginya.

Tapi penjara istana adalah hal yang terlarang bagi Putra Mahkota. Dia membutuhkan Sam Moon dan kasim Hon Nan untuk dapat membawanya ke sana, dan Sam Moon, kini sedang berusaha mengajak prajurit yang sedang berpatroli di sana untuk bekerja sama dan menjaga rahasia atas kedatangan putra mahkota nantinya.

Tiba-tiba, pintu ruangannya bergeser terbuka, menampakkan Hon Nan dan Sam Moon yang melenggang masuk kemudian memberi hormat, membuat Donghyuk kian tak sabar, “Bagaimana? Kita berangkat sekarang?”

Kasim Hon Nan menengadahkan kepalanya ke arah Sam Moon, tapi Sam Moon tak memberikan jawaban, ia malah mengeluarkan sebuah kertas daur ulang yang terlipat dari dalam bajunya, dan menyerahkannya kepada Donghyuk. “Pangeran Kim Hyojong menitipkan saya ini, dan dia tidak ingin bertemu dengan anda, tuan. Ia tidak ingin tuan merasa kalut dengan kematiannya. Karena yang terpenting sekarang, tuan sudah tahu kebenaran yang ada, jadi dia bisa mati dengan tenang.”

Donghyuk mengembuskan napasnya, ia tak menyangka bahwa kakaknya akan melakukan hal yang gila. Tapi kedua tangannya lekas membuka lipatan kertas itu, yang ternyata adalah kertas yang sama dengan kertas yang diberikan kepadanya di malam terakhir mereka bertemu. Badannya lunglai seketika, kedua matanya terpejam menghadapi kesesakkan dadanya, hingga langkahnya pun kini gontai untuk kemudian terduduk lemas di tempatnya bersimpuh.

Kedua tangannya pun serta-merta menangkup menutup wajahnya, menyembunyikan betapa geram dan emosinya dia terhadap keadaan yang terjadi, di mana dia tidak bisa berbuat apa-apa, di mana dia tidak sanggup untuk melawan.

Tapi saat rasa putus asa sedang bersiap mematahkan semangatnya, kasim Hon Nan dan Sam Moon mendadak bersujud di depannya, membuat Donghyuk lantas terkesiap. “Kesetiaan hamba hanya terhadapmu, Putra Mahkota. Hamba siap melakukan segala perintahmu, hamba siap menjadi kaki dan tanganmu, hamba siap menjadi mata dan telinga bagimu,” tukas kasim Hon Nan tegas.

“Hamba siap memegang pedang demi dirimu. Hamba ingin memenggal kepala, dan memotong kaki juga tangan mereka yang menindas rakyat. Hamba akan berdiri di depan anda, dan menjadi yang pertama, juga yang terakhir, yang akan melindungimu,” ujar Sam Moon gamblang, “Jeonju siap menyambut anda, Yang Mulia Donghyuk.”

Kala itu, di bawah pancaran sinar bulan, semuanya telah terjadi, sebagaimana seharusnya itu terjadi. Karena tepat pada saat itu juga, sebuah roda perubahan kehidupan bergerak, menandakan bahwa memang sudah tiba waktunya, untuk bergerak. Karena tepat pada saat itu juga, Kim Donghyuk tahu ke mana pergerakan nasib akan membawanya pergi, yang harus ia hadapi, dengan jiwa berani. Karena tepat pada saat itu juga, takdir sudah siap menanti.

Kendati bulan tahu bahwa perjalanan satu anak manusia yang berada di bawah perlindungannya masih terpampang jauh di depan, tapi kehadiran dirinya yang akan selalu ada di setiap malam, adalah demi menyiratkan, bahwa angan-angan hari esok masih ada, bahwa segala harapan dan kekuatan akan selalu menyertai orang-orang percaya, orang-orang yang akan dengan setia menunggu, bahwa kebenaran dan kesetiaan, akan selalu mendatangkan kemenangan.

Karena awal dari segala kisah, mengenai apa yang seharusnya digenapkan demi menyongsong kejayaan masa depan rakyat Joseon, telah digenapkan oleh sebuah pengorbanan.

Pengorbanan yang berasal dari akar, untuk menghancurkan tumbuhnya sang pohon.

*

“Perang ada dua macam. Yang pertama adalah pertarungan yang mempertaruhkan tanah kekuasaan. Lalu, yang kedua adalah pertarungan yang mempertaruhkan waktu. Jika perang yang mempertaruhkan tanah negeri disebut sebagai perang ruang, maka perang yang mempertaruhkan moral disebut perang waktu.” – Shim Jong Su 

*

-fin.

***

¹Hyung-nim adalah versi formalnya dari hyung, digunakan di antara lelaki yang punya hubungan formal.

²Hongmungwan adalah pada jaman Paduka Raja Taejong adalah perpustakaan kerajaan, namun seiring berjalannya waktu, menjadi tempat dewan penasehat yang terdiri dari sarjana Konfusianisme, dengan siapa ia membahas kebijakan-kebijakan filsafat dan pemerintah.

³Gat adalah jenis topi tradisional Korea yang dikenakan oleh pria pada saat pergi keluar rumah atau menghadiri acara-acara penting.

***

  1. Kisah ini terinspirasi dari banyak hal. Raja Taejong adalah tokoh non fiksi, dan memang dikisahkan awalnya adalah raja yang baik, tapi akhirnya dia jadi gila banget sama kekuasaan, dan perilakunya pun jadi buruk, dia nggak segan-segan buat bunuh orang yang menghambat semua kebijakan dia.
  2. Raja Taejong punya putra dan dia adalah raja selanjutnya, Raja Sejong. Nah, Putra Mahkota Donghyuk di sinilah yang adalah cerminan Raja Sejong. Karena Raja Sejong dikenal bijaksana dan baik banget.
  3. Inspirasi lain didapat dari drama Korea Tree with Deep Roots, yang adalah drama saeguk favorit saya. Emang ceritanya murni politik, nggak ada romansa-romansanya. Dan di situ, diceritakan kalau Raja Sejong tuh awalnya jadi korban diktaktor Raja Taejong yang masih hidup. Kayak Donghyuk gitu, deh di fiksi ini. Belum berani buat apa-apa, cuma tau nurut sama ayah.
  4. Cuman karena Donghyuk masih kecil, akhirnya daripada dijadiin Raja, mendingan dijadiin Putra Mahkota.
  5. Karena tergila-gila sama ide judul Tree with Deep Roots, akhirnya cari judul yang nggak jauh-jauh, Roots that Ruin the Tree.
  6. Peribahasa ‘jangan berbicara tentang pohon rumah kaca’, itu dapatnya dari series saeguk juga, The Moon that Embraces the Sun.
  7. Sumpah ini lebih mirip prolog series dah, tapi beneran nggak ada series. Ending-nya gantung abis. Maafkan ya maafkan!!!!!!!
  8. Thanks to Ve atas posternya yang kece badai!
  9. Thanks to Fikeey yang sudah bersedia ditanya-tanya demi terselesainya fiksi ini.
Advertisements

6 thoughts on “[Get into the time Machine] Roots that Ruin the Tree

  1. AAAAAAH GILA INI KEREN BANGET KAK ECA T^T HUHUHU aku sampai nangis bacanya Donghyuk bergelut sama perasaan hatinya yang terguncang bikos kakaknya bakalan dihukum mati sama bapaknya sendiri *ini serius*. Aku bisa ngebayangin secara gamblang dari penjabaran Kak Eca yang super duper WAH *gile nyaman banget rapi banget*. Dan yah, aku juga bisa ngebayangin kalo Donghyuk jadi putra mahkota itu seganteng apa :”)) wkwkwk bocah gembil petakilan cem doi jadi putra mahkota itu sesuatu banget. Ada satu typo doang kalo ga salah “rahaia” wkw. Tapi ini demi…. keren ahhh aku padamu senpay Eca! :* PLIS SENPAI NOTICE MEEEH NOTICE MEEEEEH! /digebuk/ Keep writing! ❤

    Like

    • Hai, Beeerrrr!!!!!! WAAAAAAAH asli aku awalnya kaget banget dulu sih karena tau-tau udah dipost aja wkwkwkwkwkw
      BUSET SAMPE NANGIS BER ADUH NGGAK USAH BERLEBIHAN hehehehehehehe
      Wah sebenernya aku juga no comment sih sama fan fiksiku yang ini soalnya aku bener-bener ngerasa pasrah aja alurnya mau dibawa ke mana :)) tapi kalo aku kamu suka, aku bersyukur banget ❤
      Aku belum sempet baca fan fiksi kamu nih tp pasti akan kubaca hehehe
      Daaaaaannn….. typo! Makasih atas koreksinya mbak beruang kesayangan nctffindo ❤
      Makasih juga sudah mau baca dan komen! yeokshi admin kita!
      Kamu juga keep writing beeerrrr!!

      Liked by 1 person

  2. KAKECAAA FIC MU KAYA DRAKOR KAAAK MBAAY JADI BERASA LAGI NONTON DRAMA KYAAA KYAAA KEREN BANGET SUMPAH INI BARU NAMANYA HISTORICAL WAKS

    Bikos reverensinya banya ya kak makanya jadi kece badai ini ditambah udah senpai makanya bikin fic kaya gini mah mudah pake banget uhuk meski panjang tapi ga ngebosenin kok kak kyaaaa

    AH POKOKE INI BEST BANGET DEH /ciyom kakeca/ 💜💜💜💜

    Like

  3. ECAAAAAAAA WAAA AKHIRNYA KUSELESAI BACAAA xD tau gak aku baca ini sampe kebagi dua part hahahaha. part satu pas masih di luar soale terlanjur penasaran gara-gara liat feeds di reader. part dua kulanjut pas udah touchdown rumah xD terus part epilog ((anjay epilog)) pas nulis komen hahaha (oke setop ini malah rambling geje). ish seriusan deh ca, ini kali pertama banget aku baca fanfic yang bawa-bawa kehidupan jaman dulunya korea hahaa. dan ini bagus. baguuuuus banget sumpah aku sukaaa x) literally melongo pas tengah-tengah waktu kim hyojong-nya dijatuhin hukuman mati huhu :”

    bahasanya … asli bahasanya aku suka. menurutku soalnya kalo bikin yang genre history tuh harus perhatiin bahasa juga. bikos kalo kelewat santai malah ga kerasa sisi history-nya. kalo terlalu kaku malah kaya genre political ngunu (ini sok-sokan banget fika ngomong huhu. remah kerupuk aja sok-sokan ngomong) (tapi dilanjutin) HAHAHAHAHA maafkeun ya ampun masih wow wow wow aja sumpah aku dari tadi xD

    penggambaran pas donghyuk keluar istana jugaaaaa aseli aku sukaa. kebayang ih kebayang yang dia jalan-jalan di pusat kota terus nyaksiin sendiri kehidupan rakyatnya kayak gimana ih favoriiit. terus si sang moon sama kasim han noon (bener gak sih namanya huhu) aku suka bangetttt mereka yang setia gituu. aku udah takut kan jangan-jangan entar pengawal setianya malah ikutan berkhianat gegara takut sama raja, tapi untungnya :”) eca … ini beneran nggak ada lanjutannya nih? huhuhuhu. kalo kudoain biar kamu kesambet ide lanjutannya gimana ca? hehehehe (insert stiker moon yang senyum setan) HAHAHAHAHA xD

    oiya, sama-sama ecaa. kusenang bisa bantu ehehe. tapi tapi tadi di atas masih ada beberapa penggunaan ‘pun’ yang nggak tepat ehe. entar aja lah yaa kita bicarain di chat hehe. sumpah aku sukaaa suka suka suka suka sejuta kali x) yosh eca keep writing yaaa! maafkeun komen aku isinya fangirlingan semuaaa hahaha xD

    Like

    • FIKAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA MAAFKAN AKU BARU BALES SEKARANG HEHEHEHHEH xD
      Fik tapi beneran lho, sumpah, aku baca komen kamu sambil senyam senyum senyam senyum doang karena asli aku ngakak juga baca komen kamu!!! HAHAHA yeokshi uri fika! Aku sampe nggak tau mau komen apa lagi sih sebagai balasan, karena………… karena aku udah no comment juga. Sumpah fik suweeerrr aku seneng banget baca komen kamu yang saingannya drabble gini HAHAHAHA
      aduh soal sekuel….. AKU JUGA NO COMMENT AJA YAAAAAHHHHH /kabur
      MAKASIH FIKA! Makasih pokoknya semakasih itu! HEHEHE XD

      Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s