[Vignette] The Hated One

The Hated One

Angelina Triaf ©2016 Present

The Hated One

Dong Sicheng/Winwin (NCT) & Aku | Myth, Surreal, Riddle | G | Vignette

Poster by Berly

0o0

            Seperti pilu yang menggebu, menjejaki langkah seorang diri mungkin terasa lebih menyenangkan daripada menunggu sesuatu yang tak pasti. Memilih diam seribu bahasa, menjadi si penyendiri ulung yang kesepian. Merintih seorang diri, hati yang tersakiti hanya menyandar sepi.

            Senyum tak lagi terulas, wajah pias nampak sebagai penghias. Tak ada satupun orang yang tahu, karena mungkin alam tak memberikan kesempatan untuk mencari tahu. Usaha yang sia-sia, terbelenggu dalam sesuatu yang nyata namun terasa semu, tak berimbas namun perih itu serius menjalar. Hati yang tersakiti masih menyandar sepi.

            Berkata bahwa segalanya baik-baik saja. Berucap tak apa namun dalam hati sesal menjadi final. Ranah yang tertutupi pekat yang menyedihkan. Mata yang tertutup menunggu sebuah jawaban.

            Napas yang tak berembus menjadi bukti yang nyata, tetapi memang tak bisa dikatakan bagaimana juga. Semuanya hilang, seperti langit yang beranjak malam dan meninggalkan siang. Ya, mungkin terlalu berlebihan, namun mau dikata apa?

            Ia lupa bahwa malam hanya mengucap rindu sementara, sampai mentari menyapa lagi esok harinya. Ia lupa bahwa langit tak selamanya memeluk bulan, tak selamanya menatap bintang dengan memuja. Segalanya hanya tentang pikiran yang melupakan kinerjanya, bagaimana hal itu bisa menjadi sebuah kata nyata.

            Karyanya tentang masa depan yang indah. Lukisan yang telah ia poles dengan seni tingkat tinggi. Perasaan yang mengalir begitu saja. Kuas yang bergerak di luar kendalinya. Sihir yang mengendalikan senyum merekah di bibirnya. Jemari besarnya yang pernah terasa hangat. Segalanya, merindu bukanlah sebuah pilihan untuk saat ini.

            Apakah terlalu banyak kata-kata yang tidak dimengerti?

            Karena aku lebih tahu apa itu definisi mengerti dan tidak mengerti yang sesungguhnya.

            Berpikir di luar logika, bagaimana segalanya bisa menjadi seperti ini. Rumit, batu sandungan yang menghalau jalan menuju sebuah kepastian. Tidak, melainkan batu loncatan yang membawa pada hal-hal baik di kemudian hari.

            Lalu mana yang benar? Bintang pun perlu kepastian kala malam, sinar mentari perlu senyuman untuk nampak cerah. Lalu mana yang benar? Embun di pagi hari menoleh saat mendengar sebuah nyanyian, kicauan burung terhenti ketika denting piano mulai mengalun indah.

            Sepi.

            Paradoksal yang dirasa memuakkan. Paradoksal yang pahit namun tak terasa oleh lidah.

            Oh, aku jadi teringat dengan kopi terakhir yang kuminum. Rasanya sedikit aneh, memang.

            “Dua hari lagi. Semuanya akan selesai dalam dua hari.”

            Aku menatap tepat di matanya. Tangannya yang bergerak lebih banyak dari bibir merah yang berucap. Jendela tak membiaskan cahaya, tapi entah mengapa ruangan terasa cerah oleh senyumnya.

            Ralat. Kepalsuan.

            “Kau sungguh tidak sabaran. Oh, lihatlah! Kurasa aku harus menghapus bagian yang ini.”

            Kaki jenjangnya menapak pada lantai berselimut burgundi yang lembut. Kaki telanjang itu tak pernah menyentuh dinginnya lantai. Untuk apa, toh memang dingin sudah menjadi hal yang lumrah, tak perlu dilebih-lebihkan lagi.

            Sesederhana rayuan senja, memang. Tersenyum dengan jingga yang cantik namun terluka kala harus melepas mentari. Itulah dirinya. Sikap yang tak sejalan dengan logika. Nalar yang sudah terkikis zaman. Membingungkan? Setidaknya mengertilah bahwa itu bukan sepenuhnya keinginannya.

            Mungkin satu banding sembilan puluh sembilan persen? Siapa yang tahu? Tak ada yang bisa menebak apa yang ia pikirkan sebenarnya. Terlalu serakah hanya untuk satu kalimat penjelas. Menelan seorang diri seperti makan malam terakhir kami setahun yang lalu.

            Menyedihkan? Tidak, sama sekali tidak.

            Menyenangkan? Tak bisa dibilang demikian, tapi mungkin persentasenya mendekati kata iya.

            “Percayalah, ini akan menjadi salah satu karya yang cantik.”

            Kemampuan dalam memainkan lidah sudah dimilikinya sejak dulu, jadi wajar saja jika siapapun dapat dengan mudahnya percaya padanya. Aku percaya padanya kalau semua akan baik-baik saja, kalau kami akan selalu bersama dan saling mengikat satu sama lain.

            Yang walau pada kenyataannya tidak lagi. Setidaknya, aku pernah percaya padanya, kurasa itu sudah lebih dari cukup.

            Memaku atensi pada satu titik tak lantas membuatku kembali menatapnya dengan pandangan berbeda. Fokus yang dirasanya tak sama seperti sebelumnya membuatku berasumsi bahwa ia bukanlah lagi seseorang yang kukenal. Tak sepenuhnya berbeda, namun tetap saja menyebalkan.

            “Lima belas persen lagi dan ini akan selesai.”

            Rasanya aku ingin memeluknya. Seperti saat-saat ia masih memujaku dengan kerlingan cinta di matanya. Aku ingin kembali bersatu dengannya dan melalui hari-hari dengan normal. Ingin sekali rasanya.

            Tapi sepertinya sudah tak bisa lagi.

            Segalanya berubah, segalanya tak sama lagi. Untuk apa berulang kali mengucap jika akhirnya akan tetap sama?

            Aku juga berpikir demikian, sungguh. Namun harus bagaimana lagi? Rindu sering membuat orang menjadi egois dan lebih memilih untuk mengikuti keinginan pribadi ketimbang mendengarkan nasihat orang lain yang lebih bermanfaat bagi hidup.

            “Kau orang paling menyebalkan. Tenang saja, tak akan terlalu kentara jika sudah kukirimkan ke sana. Iya, sampai nanti.”

            Kini ia meletakkan ponsel itu di atas meja, kembali sepenuhnya terfokus lagi padaku. Matanya menatapku lekat, takut ada sesuatu yang mungkin aneh atau bagaimana. Tunggu, aku tidak berubah tiba-tiba seperti dongeng-dongeng tak bermutu itu, kan?

            Ia lah yang berubah seperti dalam drama-drama picisan menyebalkan yang pernah kutonton.

            Terlampau menyebalkan. Keadaan seperti ini memang menjadi sangat sulit untukku.

            Bukannya apa. Apakah ia dapat dengan mudah melupakan begitu saja bagaimana ia bisa mendapatkanku dulu? Kini dengan semudah itu ia melepasku, apakah ia sama sekali tak memiliki perasaan apa pun lagi padaku? Apakah segala rayuannya dan kata-kata memujanya hanya berlaku sementara?

            Ia yang terlalu naif, atau memang aku yang terlalu tenggelam dalam zona nyaman?

            “Rasanya masih sama seperti dulu. Hah, bicara apa aku ini.”

            Kulihat senyum kecil dilanjutkan gelengan kepala penolakan halus yang menyakitkan. Apakah aku benar-benar sudah dicampakkannya? Lalu bagaimana dengan segala hal yang telah kami lewati? Bagaimana denganku yang tiba-tiba memutar haluan ke jalan yang lain?

            Karena demi Tuhan, jalan satu ini justru lebih terlihat aneh menurutku. Semacam sesuatu yang akan membuat orang lain tak percaya dibuatnya.

            “Sial, habis.”

            Sungguh di luar pikiranku kenapa hal ini bisa terjadi. Tolong siapapun bangunkan dirinya dan aku dari dunia mimpi buruk ini. Karena kukira kami akan selalu bersama dan zaman tak mampu mengikis apa pun dalam peredaran kisah ini.

            Kakinya kembali melangkah sedikit sampai tangannya kembali meraih ponsel. Menekan panggilan cepat nomor dua, ia menunggu seseorang di seberang sana menjawab panggilannya. Agak lama, sampai bibirnya kembali berucap beberapa kalimat seperti beberapa menit yang lalu.

            “Solla? Persediaanku sudah habis dan progres tinggal lima persen. Bisakah kau mengirimkannya lagi?”

            Habis?

            “Win, memangnya sebesar apa lukisan itu? Kau memiliki stok tujuh orang dan kemarin aku sudah membunuh lebih dari dua belas orang untukmu, kauingat?”

            Setelahnya hanya suara tawa renyahnya yang terdengar, tak lupa juga dengan kata-kata cinta yang membuatku muak.

            Seharusnya kalimat memuja itu hanya boleh ia ucapkan padaku. Seharusnya hanya aku yang menjadi tokoh utama dalam cerita hidupnya. Tapi nyatanya tidak.

            Namaku telah tergantikan oleh orang lain, termakan zaman seiring rotasi Bumi yang terjadi berulang kali.

            Cinta itu menyebalkan. Winwin juga menyebalkan.

 

FIN

Advertisements

4 thoughts on “[Vignette] The Hated One

  1. Winwin ngegunain darah korbannya buat dijadiin cat air buat lukisan. Dan si aku ini termasuk ke dalam korbannya, korban manusia yang tertipu dengan rayuan cintanya. /bodo amatlah kalo salah/ hehehe gak bakat nebak riddle soalnya. Sebenernya masih bingung ‘aku’ di sini sebagai sudut pandang manusia korban atau benda.

    ‘Aku’ sebagai Kanvas.
    Alasan ; “Win, memangnya sebesar apa lukisan itu? Kau memiliki stok tujuh orang dan kemarin aku sudah membunuh lebih dari dua belas orang untukmu, kauingat?”
    selain dari kutipan itu, Ber nganggep kanvas itu adalah kanvas kulit si korban manusia.

    Like

    • kaber pikiranmu sungguh canggih sampe kanvasnya dikira kulit orang demay njel ngakak dulu xD but kita sudah diskusikan ini kemaren dan bukan itu jawabannya wkwk ga jadi dapet hadiah penuh cinta dari aku deh u.u sini kak kamu kucium aja pake meteor yang ada di line /insert meteor sticker/ /peluk kaber sampe bengek/

      Liked by 1 person

  2. Yosh, ane mampir! XD

    Hmmm, cukup bikin mikir juga. Ditambah seminggu ini ane tercekoki sama materi investasi, nyerempet ke saham dkk, juga hukum sedikit XD
    Awalnya sempet bingung sih. Tapi ane yakin kalo ‘aku’ di sini itu adalah orang dan dia adalah korbannya Winwin. Kenapa? Soalnya ada kalimat “Oh, aku jadi teringat dengan kopi terakhir yang kuminum. Rasanya sedikit aneh, memang.” -> Winwin ngebunuh ‘aku’.

    Selebihnya agak bingung juga kenapa Winwin harus ngebunuh orang sebanyak itu buat lukisannya? Termasuk ngebunuh si ‘aku’. Akan lebih gampang kalo yang dibuat Winwin ini patung dan bukannya lukisan. Patung dari mayat kan keren XD Tapi kayaknya lu nggak mau pembaca nebak segampang itu ye? XD
    Jadi ane berpikiran kalo Winwin gunain salah satu atau bagian tubuh manusia buat dijadiin lukisannya. Darah yang bisa dijadiin cat /ini mungkin banget kan?/ ““Win, memangnya sebesar apa lukisan itu? Kau memiliki stok tujuh orang dan kemarin aku sudah membunuh lebih dari dua belas orang untukmu, kauingat?” -> lukisan yang gede pasti butuh cat yang banyak pula, atau mungkin suwiran(?) daging atau organ lain yang ditempel ke lukisan juga bisa kan? Jadi lukisannya ada efek 3D-nya gitu XD

    Like

  3. beneran dibaca ternyata xD kenapa semuanya pada jawab aku itu korbannya mz win wkwk bukan kak si aku itu bukan orang, tapi penjelasan kaklen masuk akal sih. dan kaklen terjebak di kalimat yang sama kayak kak berly hehehe apakah kalimat kopi itu mengandung something that interest people atau gimana._. kalo orang jadi patung udah banyak riddlenya kak makanya ga angel pake. pengen ngasih tau jawabannya ke kakak tapi ga di sini soalnya ntar dibaca yang lain jadi big spoiler wkwk xD thanks dah mampir beneran kak^^

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s