[Ficlet] Last Winner: Karma

IMG_2935[1]

Angelina Triaf ©2016 Present

Last Winner: Karma

Dong Sicheng/Winwin & Johnny Seo (NCT) with Park Cheonsa (OC) | Creepy, Fluff | PG-17 | Ficlet

Related: Loser – thehunlulu

“Berapa peluang kepastian aku mencintaimu dalam sebuah teori Matematika?”

0o0

Cheonsa hanyalah gadis biasa yang ditemuinya malam itu dalam sebuah bar. Di sudut ruangan, tempatnya duduk seorang diri sebelum akhirnya si jelita menghampirinya dengan senyum manis bak malaikat.

Menjadi setengah sadar tak pernah menjadi sebaik ini bagi Winwin. Karena saat jemari Cheonsa menelusuri wajahnya, Winwin merasakan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang seperti terlahir kembali setelah dipaksa menghilang dari peredaran secara tak manusiawi.

Jangan salahkan dirinya, tangannyalah yang melakukan semua itu walau hati tak rela melepas pergi.

Go home with me?”

Satu anggukan singkat menjadi awal segalanya. Lupakan soal laju mobil yang hampir menabrak pembatas jalan atau ciuman tengah malam mereka yang nyaris merenggut nyawa. Selama Winwin masih bisa merasakan segalanya kembali seperti awal, ia akan terus mempertahankannya, tak ingin kebodohan itu terulang untuk kedua kalinya.

Atau mungkin tidak?

Pintu telah tertutup, malam semakin larut dan gairah cinta semakin besar tersulut. Entah apa dan siapa pemicu ini semua, yang keduanya tahu hanyalah bahwa mungkin berbagi malam untuk saat ini merupakan sebuah ide yang tepat.

Cheonsa tengah frustrasi, dan Winwin masih kecewa dengan dirinya sendiri. Gabungan dua realitas yang memilukan itu tampaknya menjadikan mereka sepasan insan yang dimabuk asmara dengan sendirinya, atmosfer yang semakin menggairahkan keduanya untuk terus menikmati rembulan yang bersinar terang namun terhalangi hati yang sepi.

“Jadi, apa masalahmu?”

Winwin mengusap kepala Cheonsa, memainkan helaian rambutnya dengan senyum memikat seperti biasanya. Dua orang dengan masalah hidup yang berbeda, memutuskan untuk memadu kasih lantaran tak ada lagi tempat yang dirasanya tepat untuk bercerita.

Just having a possessive boyfriend. He’s overprotective, if you want to know.”

Derit ranjang yang mulai memelankan suaranya, pertanda jiwa mereka talah kembali sepenuhnya. Membicarakan perihal masing-masingnya dan saling mengutarakan pendapat. Di luar dugaan, Winwin benar-benar menceritakan detil peristiwa mengenaskannya dua hari yang lalu.

“Jadi, dengan membunuhnya kau kira bisa memilikinya seutuhnya?” tanya Cheonsa, matanya menitik fokus penuh pada Winwin yang menerawang mesin waktu.

Ia terdiam, putaran memori tentang darah berjalan sempurna seperti film hitam putih. Hanya saja, warna merah menjadi dominan cerita ini.

“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan.” Sang jelita kembali mengusap wajah tampan di hadapannya, berusaha menenangkan dengan senyum manis yang sama seperti pertama berjumpa. “Memang sudah takdir yang berjalan seperti itu, dan sekarang tataplah takdirmu yang baru.”

Takdir yang baru, pesona yang baru, gairah hidup yang baru dan segala hal lainnya yang mulai ia lihat dari sudut pandang yang berbeda. Ketika satu ciuman kembali membawa mereka dalam manisnya pilinan memori yang baru, segalanya berubah.

Winwin bagun dari tidurnya, mengatur napasnya sembari netra masih menatap Cheonsa yang berbaring di sampingnya. Kesadaran memukulnya, tentang cintanya yang sempat membuatnya gila.

“Win, what’s wrong?”

“Tidak,” jawabnya dengan tangan yang memegang kepala, memijatnya pelan. “Hanya saja, aku memikirkan sesuatu.”

“Sesuatu? Seperti?”

Pemuda itu menarik tangan Cheonsa, membuatnya ikut terduduk dengan bibir Winwin yang tepat berada di telinganya.

“Seperti, berapa peluang kepastian aku mencintaimu dalam sebuah teori Matematika?”

Bruk!

Betapa Cheonsa tersentak mendapati tubuh polos Winwin yang seketika jatuh padanya. Tangan kecilnya menahan pinggiran ranjang, dan bau anyir darah langsung menyergap penciumannya.

God, what the―Johnny Oppa?!”

Have a great night, sweetheart?”

Tepat berdiri di samping ranjang, sosok pemuda lain dengan kacamata yang membingkai manis di wajahnya. Senyum yang melupakan fakta bahwa sebuah pisau berlumuran darah masih ia genggam dalam tangannya.

Sontak Cheonsa segera bangun dan menghampirinya, membiarkan tubuhnya yang hanya berbalutkan selimut tenggelam dalam pelukan hangat sang kekasih. “How can…?”

“Kau mabuk lagi? Dia siapa?”

“Jadi Oppa membunuh orang dulu baru bertanya? Cih.”

Si tampan yang memeluknya hanya tertawa, masih memaku pandangan pada pemuda lain yang telah berbaring tak bernyawa di hadapannya. “Kali ini siapa?”

“Oh, dia?” Cheonsa menunjuk Winwin yang bersimbah darah, lalu kembali berucap, “Hanya seorang laki-laki yang terobsesi dengan gadisnya.”

“Kau menyindir Oppa atau bagaimana―oh God, who is she?!”

Johnny membulatkan matanya kala tak sengaja melihat ke arah sebuah lemari kaca dalam kamar ini. Baru tersadar jika di dalamnya terdapat tubuh seorang gadis tak bernyawa dengan kulit pucat yang terbalut gaun putih yang indah.

“Cheon, itu―”

His queen, Ginny. Say hello, Oppa.” Kali ini Cheonsa yang tertawa melihat betapa lucunya wajah ngeri Johnny.

Justwow, he’s sick. Ternyata ada yang lebih parah dariku,” gumam pemuda itu tak percaya.

Malam yang semakin hening menelan keduanya dalam pikiran masing-masing. Tentang dua tubuh tak bernyawa di hadapan mereka, tentang betapa mengerikannya membayangkan cinta dunia yang bisa menjadi terlampau rumit lagi sadis. Cinta itu buta; teori ini terbukti salah.

Karena yang benar ialah, cinta itu membutakan.

Ya, bantu aku aku mencari pakaianku! Ish, ke mana tadi Winwin melemparnya…”

“Pulang saja seperti itu, nanti Oppa gendong sampai kamarmu.”

Ya!”

Jadi, berapa peluang kepastian Winwin mencintai Cheonsa dalam sebuah teori Matematika?

.

.

Nol persen, karena nyatanya Winwin akan kembali terobsesi pada Ginny dalam kehidupan yang selanjutnya.

FIN

Pesan moral kali ini ialah; hati-hati dengan karma, dan hati-hati dengan DONNA, ia bisa menghipnotis kalian menjadi zuper zaiko pecinta keripik goreng.

Advertisements

4 thoughts on “[Ficlet] Last Winner: Karma

  1. RASAKAAAAAAN JURUS KAMEHA-MEHAKU HIYAAAAAAAAAAAAAAAKKK ENYAHLAH KAU WAHAI KAKNJEL YANG TAK KALAH MENGERIKANNYA DENGAN BANDAR NARKOBA YANG BERANI BERANINYA MERACUNI OTAK POLOS NAN LUGU DD DONNA POKOKNYA ENYAH SAJHAAAAAA DARI KEHIDUPAN INI ENYAAAAAAH. RASANYA PENGEN BACOK AYAM TETANGGA, PENGEN MENG ANJAY KAN SETIAP HURUF YANG ADA DISINI POKOKNYA JIWAKU MERASA TERANIAYA SAMA SI TENGIL WINWIN YANG……SUMPAHHHH kurang ajar pake main sama cheonsa di sana ya oke disana……MAKSIAT WIN MAKSIAT YA ASTAGAAAAAAAAAA KAKNJEL NDA LUPA JUGA MEMPERSEMBAHKAN OM JOHNNY JADI SAIKO JUGA ANJAAAAYYY DEMAY BENER TAPI SOSOK FIGUR OM-NYA ITU LOH BIKIN NAX ABEGE LABIL MEMILIKI HASRAT UNTUK MENCINCANG TIPIS TIPIS KEPALA MAS JONI BIAR DIA MATI BERSAHAJA JUGA BARENG WINWIN BIAR MEREKA BERDUA PACARAN AE DI ALAM BAKA FIX GAUSAH BAWA-BAWA GINNY BHAY!

    “Nol persen, karena nyatanya Winwin akan kembali terobsesi pada Ginny dalam kehidupan yang selanjutnya.” TENGS AKU NELEN GRANAT DULU SAMA YANG INI. WASSALAM KAK AKU MAU LARI DARI KENYATAAN DULU.

    Like

  2. AKU GAK MAU KOMEN!!!! AKU NGAMBEK SAMA CHEON! PENGEN BIKIN ES KRIM DAGING CHEON PADAHAL, TAPI MALAH BELOK BIKIN ES KRIM DAGING MARK! /LALU BER DIKEPLAK/ BHAY!

    Like

  3. UDAH SONO DEH PADA MAEN ZAIKO-ZAIKO-AN.. AKU MAH JADI PENONTON AJA. SONO-SONO MAEN TUSUK-TUSUKAN(?) BIAR PUAS DEH..
    MAO WIN-WIN KEK, MAO SI JOHN KEK, SELAMA PADA JADI TEMENNYA JEFF AKU SIH SUKA JADI PENONTON AJA.. NTAR YUTA JUGA KUBUAT BERTEMAN SAMA LIU LAH.. /apa coba ini komen/

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s