[NCTFFI Freelance] Her Book and His Name (Vignette)

fic- herbookandhisname

Judul: Her Book and His Name
Author: ashaxchanx
Cast: NCT’s Johnny – OC
Length: Vignette
Rating: G
Genre : Slice of Life, Comedy, slight! Romance

Desclaimer: This fic has been published in my personal blog. I own nothing but the plot and story line. Johnny is—sadly—not belong to me either. Do leave me some comments, I’d appreciate it and feel free to hit me on my personal blog!

***

Bandar udara Incheon sesak. Aku harus berkali-kali memastikan bahwa koperku tetap berada di sisi kiri tubuhku seraya melirik ke arah papan besar yang menuliskan puluhan jadwal penerbangan ke seluruh dunia. Aku menarik napas. Harusnya aku menurut pada ayah untuk tidak terburu-buru berangkat ke bandar udara dan menghabiskan dua butir telur rebus, setangkup roti dengan mentega Swiss, dan segelas susu kalsium. Bukannya tergesa pergi karena takut terlambat, yang pada akhirnya, aku harus duduk menunggu paling tidak sejam sebelum loket bagasi dibuka.

Haruskah aku pergi ke salah satu restauran cepat saji dan memesan dua potong donat dengan lelehan karamel dan krim kocok serta secangkir teh hijau? Tapi aku mati-matian menahan diriku supaya tidak beranjak. Aku tidak ingin sakit perut di pesawat karena mengonsumsi gula berlebih di pagi hari. Meskipun perutku keroncongan.

“Dasar pria tua sialan.”

Aku mendongak mendengar umpatan—yang menurutku, sengaja diucapkan tidak dengan suara lirih. Kuangkat buku Gayle Forman di tanganku hingga menutupi sebagian wajah, lalu mengamati laki-laki yang baru saja datang dengan ekspresi wajah kesal.

Ia memakai kaus dalam berwarna abu-abu, potongannya cukup lebar sehingga tulang selangkanya terekspos—meski tidak seluruhnya terlihat sebab ia juga mengenakan denim biru berlengan panjang. Cukup panjang hingga menyisakan ujung jemarinya untuk mengintip, menggenggam paspor dan tiket pesawat.

“Apa yang kau lihat?”

Aku hampir saja tersedak sewaktu kuarahkan pandanganku perlahan-lahan ke arah wajahnya, untuk mengamati lebih jelas bagaimana bentuk bibirnya, warna iris matanya, batang hidungnya, dan potongan rambut seperti apa yang ia punya saat laki-laki itu memiringkan wajahnya ke kiri dan menatapku lurus.

Aku berdeham. “Maaf.”

Kuputuskan kembali pada bab tiga puluh satu bukuku seraya menggerutu dalam hati. Kalau marah-marah saat ada orang melihatnya, seharusnya dia tidak mengumpat sekencang itu di tempat umum. Dasar laki-laki aneh.

Laki-laki itu bangkit dari duduknya, aku menurunkan sedikit bukuku dan mengarahkan pandangan. Dia cukup tinggi juga. Rambutnya gelap kecokelatan. Lehernya jenjang dan kakinya panjang. Langkahnya lebar dan tanpa ragu. Ia memasuki sebuah kedai kopi. Rupanya setelah mengumpat-umpat, dia haus. Aku terkekeh kecil.

Mataku membulat mendapati paspor dan tiket kereta di kursi yang ditinggal oleh laki-laki tadi. Kuberanikan diri mengambil benda tersebut, lalu menarik tiket pesawat yang terselip. Penerbangan ke Chicago. Penerbangannya sebentar lagi.

Kuputuskan untuk meninggalkan koperku sebentar untuk berjalan ke arah kedai kopi di mana laki-laki itu tadi terakhir terlihat. Aku secara berkala menyapukan pandangan, mencari sosoknya. Senyumku mengembang saat menemukannya. Ia berdiri berhadapan dengan seorang laki-laki berkumis berusia sekitar empat puluh lima atau lebih setahun dua tahun, wajahnya gusar dan ia melipat tangan di dada.

“Bagaimana bisa kau menghilangkan paspor dan tiketmu? Ini keberangkatan yang sangat krusial, kau juga tahu itu. Kenapa kau sangat ceroboh!” laki-laki itu mengomel dengan wajah kuatir bercampur kesal.

Laki-laki berjaket denim itu tidak menyahut.

Aku mempercepat langkahku. “Maaf..”

Keduanya menoleh.

Kusodorkan paspor dan tiket di tanganku. “Aku menemukannya tertinggal di kursi. Karena penerbangannya sebentar lagi, kurasa kau harus cepat-cepat pergi.”

Tanpa disangka, laki-laki berjaket denim itu memutar bola matanya. Sama sekali tidak menunjukkan wajah lega atau senang. Ia justru terlihat ingin menelanku hidup-hidup. Sementara laki-laki berkumis itu menerima paspor dan berterima kasih padaku. Berulang-ulang. Mungkin sampai sepuluh kali.

“Aku akan memanggil yang lain. Tunggulah di sini,” laki-laki berkumis itu berpamitan sebelum meninggalkan kami berdua.

Laki-laki berjaket denim itu berdecak kesal. Setelah membuang espresso—yang aku yakin masih penuh, baru disesap sekali—ke tempat sampah terdekat, ia memperpendek jarak antara kami. “Ada apa sih denganmu?”

Aku mengerjap, tidak mengerti.

“Kau suka sekali ikut campur. Memangnya kenapa kalau paspor itu sengaja kutinggalkan di sana? Kenapa kau harus repot-repot mengembalikannya padaku?” ia bertanya dengan nada bicara yang tidak bisa dikategorikan baik-baik.

Aku menatapnya, sedikit memerlukan energi karena aku harus mendongak. “Bukankah jika aku membiarkan paspormu begitu saja, akan lebih aneh?”

Ia tertawa sumbang. “Namamu siapa sih?”

“Ha?”

“Kau akan pergi ke mana?”

“J-Jepang..”

Ia manggut-manggut, tetapi ia masih menatapku seolah aku adalah ulat yang muncul di sebutir tomat segar yang baru ia panen. “Dengar ya, Nona Sok Ikut Campur. “Aku meninggalkan pasporku di sana karena aku memang sengaja. Aku tidak peduli jika kau pergi ke Jepang untuk bersenang-senang. Persetan dengan niat baikmu, tapi aku sama sekali tidak menginginkan penerbangan ini.”

Kesabaranku ada batasnya juga. Aku tidak percaya aku diperlakukan seperti ini padahal aku baru saja mengembalikan sebuah dokumen penting miliknya. Aku balas menatapnya tajam, seraya melempar buku Gayle Forman ke arahnya. “Dengar ya, Laki-laki Yang Tidak Tahu Terima Kasih. Kalau kau punya mulut seperti itu untuk bicara culas padaku, kenapa kau tidak bilang saja pada bapak berkumis itu kalau kau tidak ingin berangkat? Pengecut.”

“Hei—” dia hendak membalasku.

“—dan, lain kali jangan mengumpat di tempat umum. Dasar tidak tahu sopan santun,” kecamku. Lalu berbalik badan karena tidak ingin meneruskan percakapan yang hanya akan menaikkan tekanan darahku ke ubun-ubun.

Aku mendengar langkah kaki cepat, mendekat. Laki-laki itu menghadang langkahku, “Johnny.”

“Kau bicara apa sih?”

Laki-laki itu mendengus. “Johnny, dasar tuli.”

Kedua alisku berkerut-kerut. Rahangku mengeras kendati ia mengataiku tuli. Laki-laki di hadapanku ini benar-benar bisa membuat perasaan orang menjadi sangat buruk. Dengan sorot matanya yang mengintimidasi, ia berucap lagi, “Aku akan mengacak-acak hidupmu seperti kau merusak rencanaku hari ini. Pastikan kau mengingat namaku supaya kau tidak terkejut.”

Aku tertawa sinis. “Percayalah, ancamanmu sama sekali tidak membuatku takut.”

Ia tampak semakin geram.

“Nikmati perjalananmu,” aku tersenyum padanya—tentu saja tidak benar-benar tersenyum—sebelum benar-benar melenggang pergi. Untuk apa aku tersenyum pada laki-laki yang tidak tahu adat istiadat. Bukan memberiku ucapan terima kasih, malah mengataiku macam-macam, dan parahnya lagi ia justru mengancamku. Apakah bumi sudah tercemar seburuk ini, sampai sebuah niat baik justru dinilai sebagai tindak kejahatan?

Aku menjatuhkan tubuhku di kursi yang sama dengan kursi yang tadi, menarik koperku lebih dekat. Kuhembuskan napas panjang dan membuka tasku, mencari sesuatu untuk menghabiskan waktu.

Sialan. Buku Gayle Forman-ku ada pada laki-laki kurang ajar itu. [ ]

***

Advertisements

10 thoughts on “[NCTFFI Freelance] Her Book and His Name (Vignette)

  1. eh sumpah ya, joni minta ditabok emang bhahahahahahaha pede bener pake kenalan segala. aseli disini joni pengen kuceburin ke rawa aja, nyebelin banget duh sini kucium sini kamu jon /eh/. ini ada kelanjutannya ga ya? keren kok ini keren banget, ditunggu ff lainnya yaa /kecup basah/

    Liked by 1 person

    • Hehehehehe abis mukanya songong banget ya gasih jadi pengen mukul aja. (entah deh, mukul pakai apa, pake mulut kali ya, ke pipi dia. eh.)
      Aduh jangan asal cium. Nanti diomelin loh, dia kan judes.
      Iya, semoga ada lanjutannya!
      Aw makasihhhhhhh kecup balik deh, tapi ngga pake kuah ihir ihir.

      Liked by 1 person

    • Hehehe. Aku berniat untuk melanjutkan sih, tapi di blog pribadi hehe.
      Boleh main kalau lagi senggang hehe 😀
      Kalau sempat nanti kukirim ke sini juga deh, itu pun kalau diterima sama NCTFFI ya.
      Anyway, makasih banget feedbacknya. I really really appreciate!

      Like

  2. Aku suka karakter-karakter pemainnya! X) Apalagi Johnnynya di sini nyebelin tapi bikin rindu, dan ceweknya yang polos (too kind) bikin gereget wkwkwk. Keep writing!

    Like

  3. Hehehe fic ini ditulis akibat ngga sengaja liat foto Johnnny seliwer di timeline twitter dan pas dia lagi di bandara yang mukanya songong abis so villain hahaha. Jadi mungkin sangat terwakilkan. Cewenya juga bego-bego gimana gitu, kelewat polos akhirnya dibego-begoin ama Johnny.
    Makasih feedbacknya!! *kirim parsel*

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s