[NCTFFI Freelance] Gone (Vignette)

1463811426879[1]
Title : GONE
Author : Gecee
Genre : Family, Hurt
Rate : T
Length : Oneshot
Cast : Mark Lee, Vhea Lee (Acu‘s OC)
with
Lee Taeyong
Disclaimer: The cast aren’t mine. I only own the plot

.

Vhea Lee memasuki ruang tamu sambil membawa segelas air putih di tangannya. Pandangan matanya tertumbuk pada seorang anak laki-laki yang sedang asyik dengan iPad hitam. Sangking asyiknya, sepertinya lelaki yang lebih muda dua tahun darinya itu tidak menyadari keberadaan Vhea.

Lelaki itu adalah Mark Lee, adik dari Vhea.

Vhea mengeluarkan botol kecil berisi beberapa pil berwarna putih, lalu meletakkan gelas serta botol tersebut di meja di hadapan Mark.

“Sudah minum obat?” tanya Vhea.

Mark menggelengkan kepala. “Belum,” jawabnya singkat.

Gadis itu mengeluarkan dua butir pil berwarna putih ke tangannya. “Kok belum? Udah jam berapa sekarang? Udah jamnya minum obat, kan?”

Mark menekan tombol pause yang ada di ujung kanan atas iPad, kemudian melemparkan tatapan tajam pada kakaknya. “Mark nggak mau minum obat.”

Vhea mengerjapkan alisnya dua kali, mencoba mencerna kata-kata adiknya. “Ngaco kamu. Kamu mau kolaps kayak waktu itu? Kamu kan udah tau hidup kamu itu bisa dibilang bergantung sama obat-obatan ini. Udah, nggak usah banyak tingkah. Minum obat ini lalu kamu boleh lanjut main. Simpel, kan?”

Mark meletakkan iPadnya di sofa lalu berdiri, menatap Vhea yang sudah kalah tinggi darinya. “Justru karena itu kak makanya Mark nggak mau. Mark capek harus terus menerus minum obat, terus menerus ke rumah sakit untuk kemoterapi dan kontrol, nggak bisa olahraga sama teman-teman dan bahkan harus keluar dari sekolah karena penyakit ini. Mark jenuh, kak Vhee. Mark juga pengen merasakan kehidupan kayak orang normal lainnya..”

“Dan membiarkan kamu kolaps begitu saja?” balas Vhea dengan nada suara meninggi. “Nggak bisa, Mark. Kakak nggak bisa dan nggak mau. Kamu tahu gimana takutnya kakak waktu lihat kamu pingsan di kamar mandi?”

Untuk sesaat, Mark terdiam. Ia tidak membantah ketika Vhea kembali menyodorkan obatnya. Namun setelah meneguk dua butir obat itu dengan bantuan air putih, ia kembali berujar,”Lain kali kalau kakak lihat Mark pingsan, diemin aja kak. Nggak usah kakak tolong. Oke?”

Vhea mendelik. “Maksud kamu?”

“Mark kan udah bilang, Mark udah capek hidup seperti ini terus. Lagipula kata dokter Mark nggak akan bisa sembuh total, kan? Jadi buat apa Mark minum obat-obat ini lagi?” Mark menyunggingkan sebuah senyum, senyum yang Vhea tidak dapat terka maknanya. “Selain itu, Mark juga penasaran siapa yang sedih kalau Mark udah nggak ada.”

Vhea membisu, seraya kelenjar air matanya mulai bekerja, memburamkan pandangannya. Ini sudah tahun ketiga sejak adik satu-satunya itu divonis terkena kanker darah. Mark yang selama ini gemar berolahraga harus mengurangi kegiatannya agar tidak terlalu lelah. Setiap hari Mark harus meminum bermacam-macam obat, telat sedikit akibatnya fatal. Bahkan Mark terpaksa harus meninggalkan sekolahnya karena penyakitnya yang makin parah. Vhea sangat paham kejenuhan yang dirasakan adiknya.

Gadis itu melingkarkan lengannya di sekeliling leher Mark, membawa adiknya dalam pelukannya. Tanpa bisa dicegah satu per satu butiran air mata Vhea berjatuhan, seolah merasakan rasa frustrasi yang sama dengan yang Mark rasakan. Vhea mengelus lembut rambut adiknya, mencoba menghentikan isakan Mark yang rupanya ikut menangis.

“Mark harus sembuh,” bisik Vhea di sela-sela isakannya. “Mark harus punya semangat untuk sembuh. Mark nggak boleh nyerah. Kalau kakak aja nggak mau nyerah ngasih obat tiap hari untuk Mark dan antar-antar Mark ke rumah sakit, berarti Mark juga harus mau sembuh. Mark harus hidup. Oke?”

***

Deringan telepon membuat Vhea yang sedang menyetir harus mengaktifkan bluetooth earphonenya nya. Netranya sempat melirik sejenak nama yang tertera pada perangkat telepon di dashboard mobil. Rupanya, adik lelakinya yang menelepon.

“Oh, Mark. Ada apa?” ujar Vhea

Terdengar suara menyerupai sengalan di ujung telepon, diiringi dengan rintihan samar. “Kak Vhee… Kak Vhee…”

Mata Vhea membulat. Seketika ia menepikan mobilnya agar dapat berkonsentrasi menerima telepon. “Halo? Halo Mark? Kamu kenapa, huh? Kamu nggak apa-apa?” Nada suaranya terdengar panik.

“Kak Vhee.. Kakak simpan obat Mark dimana?” Mark menarik napas panjang sejenak. “Obat yang di laci kamar… Sudah habis, kak. Perut Mark sakit… Mual.. Rasanya kayak mau muntah…”

“Huh? Sudah habis?” Vhea makin panik. Mendengar Mark yang merintih seperti itu membuat Vhea tidak bisa berpikir jernih. Ditambah lagi dengan berita bahwa obat adiknya sudah habis. Kalau Mark merasa mual seperti itu, itu artinya penyakitnya sedang kambuh, dan ia benar-benar membutuhkan obat tersebut. Telat sedikit, mungkin Vhea akan menemukan pemandangan yang sama dengan yang ia lihat di kamar mandi 2 minggu yang lalu.

“Oh.. Di lemari. Ya, obatnya di lemari,” sahut Vhea akhirnya setelah akal sehatnya kembali. “Aduh.. Kakak lupa. Kunci lemari kakak bawa..” Vhea memukul stir, kesal pada dirinya sendiri. “Tunggu sebentar ya, Mark. Tahan, ya? Kakak nggak lama lagi akan sampai, mungkin sekitar lima menit lagi. Kamu tahan ya, sayang… Oke??”

Mark meringis sekali lagi. “Oke.. Cepat ya kak,” ujarnya lemah sebelum akhirnya Vhea memutuskan sambungan.

Vhea buru-buru menyalakan mesin mobilnya dan langsung tancap gas saat itu juga. Sepertinya gadis itu terlalu terfokus pada adiknya yang menunggu di rumah sampai ia tidak menyadari truk dari arah samping yang melaju dengan kencang.

***

Susah payah Mark membuka kedua netranya, seakan itu adalah pekerjaan tersulit baginya. Hal pertama yang ia tangkap adalah ruangan serba putih, sebelum akhirnya aroma rumah sakit menusuk indra penciumannya.

“Kamu sudah bangun?” Sebuah suara bariton berujar.

Mark menoleh ke samping, disambut dengan sepupunya, Lee Taeyong yang menatapnya khawatir.

“Hyung..” sahut Mark serak. “Kapan hyung ke sini? Kak Vhee dimana?”

Mark sedikit bingung ketika mendapat sinar Mata Taeyong yang perlahan meredup, digantikan dengan bulir-bulir air mata yang kini mulai berjatuhan. “Hyung, ada apa?”

“Hyung..” sahut Mark serak. “Kapan hyung ke sini? Kak Vhee dimana?”

Mark sedikit bingung ketika mendapat sinar Mata Taeyong yang perlahan meredup, digantikan dengan bulir-bulir air mata yang kini mulai berjatuhan. “Hyung, ada apa?”

Taeyong meraih tangan Mark, lalu meremasnya lembut, bagai ingin memberi kekuatan pada adik sepupunya tersebut. “Janji sama hyung kalau kamu nggak akan nangis ya,” ujar Taeyong yang malah membuat Mark makin bingung.

“Kakak kamu kecelakaan,” Taeyong memulai ceritanya. “Kayaknya dia menyetir dengan nggak konsen, sampai nggak sadar kalau ada truk yang nabrak dia..”

Mark mengerjapkan kedua matanya, mencoba mencerna kata-kata Taeyong. Mendadak dadanya terasa sakit. Bukan sakit seperti yang ia rasakan ketika penyakitnya kambuh, tetapi rasa sakit kehilangan.

Secuil harapan kecil muncul di hatinya, yang membuat Mark berani bertanya, walau ia sendiri tidak yakin siap mendengar jawabannya.

“Sekarang, Kak Vhee dimana?”

Taeyong tidak menjawab. Ia malah meraih Mark dalam rangkulannya, kemudian menepuk-nepuk punggungnya.

Mark membisu. Mulutnya ingin berkata-kata, tetapi tenggorokannya bagai tercekat. Setetes kristal bening mulai turun dari maniknya, disusul butiran kristal lainnya. Melihat apa yang Taeyong lakukan padanya, Mark bisa mengambil kesimpulan apa yang terjadi.

“Kak Vhee udah pergi duluan, ya kan, hyung?”

Taeyong hanya bisa mengangguk di sela-sela isakan yang ia tahan.

Anehnya Mark tidak menangis. Ralat, ia tidak terisak. Ia hanya tidak bisa mencegah air matanya untuk berhenti bekerja.

“Kok Kak Vhee pergi nggak bilang-bilang, hyung?” celetuk Mark, suaranya bergetar. “Padahal selama ini kak Vhee yang paling cerewet suruh Mark minum obat, paling rajin antar Mark ke rumah sakit, dan yang selalu kasih semangat supaya Mark sembuh, supaya Mark hidup. Tapi kenapa Kak Vhee malah pergi duluan, hyung? Malah ninggalin Mark?”

Melihat kakak sepupunya yang tidak merespon apa-apa, Mark melanjutkan kata-katanya.

“Hyung, Mark boleh nggak pergi juga, nyusul Kak Vhee?”

 

END

© 2016 GECEE’s Story
(http://gcchristina.wordpress.com/)

A/N
Sejujurnya ini hanyalah hasil imajinasi nggak jelas hehehe….
Hello readers, pertama kalinya aku kirim fanfiction ke sini.. Maafkan bila fanficku masih banyak kekurangan ya.. Komentarnya ditunggu.. J

 

Advertisements

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s