[Ficlet] Escape

ESCAPE

thehunlulu ©2016

.

[NCT-U] Ten Chittapon & Mark Lee

Friendship, Teen/Ficlet/General

.

“The best dreams happen when you’re awake.”

***

 

Mark sangat amat frustasi kali ini.

Tidak seperti biasanya, pemuda itu kini menempelkan kepalanya sempurna di atas meja belajar berhias lampu kuning; menutup sebelah telinganya menggunakan penyumpal telinga yang ia curi diam-diam dari kamar sang ayah. Terkadang ia membuka sebuah komik detektif yang menyampuli wajah tampannya—sekaligus benda penyukses aksinya untuk tertidur sejenak sebelum orang-orang rumah memergokinya agar ia mempersiapkan ujian esok hari. Sambil sesekali menguap dan membalikkan halaman per halaman, dengan sengaja jemari lihainya memindai keberadaan ponsel yang sedari tadi belum terjamah; mencoba untuk menghubungi Ten—kakak kelasnya—guna diajak kabur dari rumah. Persetan dengan lima puluh soal yang akan ditodongkan kepadanya, yang harus ia tahu adalah bahwa pelajar yang kelewat stress seperti Mark sangat membutuhkan asupan kebahagiaan sebelum menemui ajalnya besok.

“Kak Ten kutunggu di rumahku ya, jangan membuka pagar terlalu keras.” Setelah telepon tersambung, barulah Mark membuka suara.

Kendati seseorang di seberang sana berhasil membuat ekspresi riang Mark terhempas pergi, namun Mark tetap bersikeras untuk mengajaknya kabur dari rumah. Hitung-hitung bisa mengajak jalan-jalan anjing milik tetangganya yang cantik, omong-omong.

“Oh ya satu lagi, tidak usah lewat pintu utama, panjat saja tangga yang ada di samping taman, lalu ketuk jendelanya dan aku akan langsung keluar menjemputmu.”

Ketika jawaban memuaskan dari lawan bicaranya di seberang sana ia terima, barulah senyuman Mark merekah kembali, dilanjutkan oleh hempasan tubuhnya ke atas kasur sembari berselebrasi; berguling-guling, mendang-nendang dinding, hingga menggigit bantalnya riang.

Kak Ten memanglah yang terbaik!

Sesudah mengakhiri ketidakwarasannya barusan, barulah Mark melompat dari atas ranjang. Dibukanya lemari pakaian miliknya, kemudian menilik satu per satu tumpukan pakaian di dalamnya. Beberapa sekon berpikir sambil bersiul kecil, barulah fokusnya dititikberatkan pada kaus yang berwarna senada dengan gorden kamarnya; oranye. Ia rasa tidak terlaru buruk sih memilih kaus berwarna oranye menyala, karena sejatinya itu adalah hadiah ulang tahun dari Ten beberapa pekan lalu.

Dengan tergesa Mark membereskan tumpukan buku bak mimpi buruk di atas meja belajarnya, kemudian menyusunnya satu per satu di atas rak buku secara simetris, begitu pula dengan komik detektif yang beberapa menit lalu sudah rampung ia baca. Hingga beberapa jemang sebelum kedua maniknya beralih dari banyaknya buku yang berhimpit, sebuah siluet tak segan-segan menampakkan eksistensinya di balik kain gorden.

“Mark Lee aku datang!”

Dengan sigap pun tangkas, kedua kaki Mark seketika berdentum cukup keras di atas ubin lalu menyusul sebuah suara yang belum menampakkan empunya. Perlahan-lahan biasan cahaya matahari menyapu parasnya saat tangannya menggeser gorden; pemandangan senyum Ten yang langsung saja tersirat—sementara kedua tangannya menahan tubuhnya pada bilik jendela karena kedua kakinya menggantung di udara.

Cepat-cepat Mark mengunci pintu kamarnya agar ibunya tidak mengetahui sebuah tabiat yang nyaris saja terlaksana olehnya, pun mengendus jejak Mark yang telah hilang entah kemana.

BUG!

Sontak Mark berbalik badan sesaat setelah mengunci pintunya satu kali. Bola matanya menangkap sosok kakak kelasnya itu yang tertawa bercampur meringis kesakitan tatkala kepalanya mencumbu ubin terlebih dahulu. Disusul oleh beberapa buku yang dibawanya dengan bebas meluncur hingga tepat di bawah tubuh Mark.

Astaga, setan macam apa yang berani menghalangi misi mereka berdua?

“Maaf Mark. Kau terlalu lama sih, jadinya aku menerobos jendelamu kan,” lontar Ten yang tampak seperti orang khilaf yang disambut oleh pertolongan Mark dengan memunguti beberapa buku di atas lantai.

“Hei hei, mau kau apakan bukuku?”

“Disimpan di atas rak. Memangnya kenapa?” Mark urung saat dirasa Ten mengomel kecil padanya. Bahkan Mark yang sudah tidak tahan akan semua buku yang ia anggap membawa petaka itu malah dilontari ocehan dari Ten?

“Kau ini bagaimana sih? Kau pikir aku datang kesini mau mengajakmu kabur begitu saja seperti pekan lalu? Besok kita ujian akhir semester, Mark.”

“Hei, jangan bercanda Kak Ten!”

“Oh oh oh, jadi begitu rupanya. Kau pasti mau mengajakku kabur kan? Maka dari itu kau menyuruhku mengendap-endap menggunakan tangga. Bukan begitu, Mark?” Hingga celotehan Ten berakhir, Mark seketika tercengang bukan main.

“Y-Ya memang seperti itu, kan?”

Kendati sebenarnya Ten juga sangat amat bahagia jika kelak mereka berdua terbebas dari istilah mengerikan yang bernama ‘belajar’, namun setidaknya Ten masih memiliki sedikit hati nurani yang terselip di dalam lubuk hatinya. Hati nurani yang diperuntukkan untuk ujian—

The best dreams happen when you’re awake, Mark.”

—tersayang.

Skakmat.

Mark tidak berkutik lagi, pergerakannya sudah terkunci oleh penuturan Ten barusan. Seorang biang onar sekaligus setan berwujud manusia seperti Ten bisa berubah wujud menjadi pendekar kebenaran dalam kurun waktu satu kedipan mata. Hebatnya, sebelum Mark mempersilahkan Ten untuk duduk di kasur empuknya, kakak kelasnya itu sudah dengan sukarela membuka buku cetak setebal kamus Oxford—bahkan lebih tebal sepertinya—yang penuh akan rumus-rumus yang membuat Mark lumpuh otak detik itu juga.

“Katakan apa cita-citamu.”

Mark termangu sesaat, kemudian mendekat ke arah Ten. “Hmm—“

“Oke begini,” putus Ten. “Jika kita selalu menunda-nunda sebuah perubahan besar yang kemungkinan terjadi jika kita berusaha, lantas akan menjadi apa kita di masa depan kelak?”

Kedua manik Ten beralih pada sosok pemuda di hadapannya, sementara salah satu tangannya ia gunakan untuk bertopang dagu.

“Kau sendiri ingin menjadi apa di masa depan, Kak Ten?”

Ten tampak berpikir, putaran bola matanya berkelana mengelilingi seisi kamar Mark. “Jadi detektif mungkin? Kau sendiri?”

“Aku—“

Mark terkikik creepy.

“—ingin jadi suami Jane.”

“JANE LAGI JANE LAGI!”

Selanjutnya jangan salahkan Ten jika otak Mark lumpuh seketika karena bogeman dahsyat mahakarya kakak kelasnya itu.

.

.

.

—fin—

 

Akhirnya Ten Chittapon a.k.a nax alay Thailand ini debut juga di ff Don hwhwhwhw kumencintaimu mas :* dan credit summary-nya dari sini

Advertisements

14 thoughts on “[Ficlet] Escape

  1. Yey anak alay nct >< uh walopun aku nunggu yuta-ten or taeyong-ten tapi mark-ten relationship bagus juga yha xD
    WAH ADA APA INI TEN PEDULI SAMA MASA DEPAN Mz Ten ga biasanya ngalay malah ini serius banget sampe nusuk di akunya like Mark ;A; favorit banget lah quotes mz Ten

    MARK UDAH DEH JANGAN JANE LAGI KZL MASA DEPAN LOH INI MARK jangan berani jadi masa depan jane kalo belum bisa perjuangin masa depanmu deh x3

    Like

  2. HHAAANNNJJJAAAAYYYYY, DONNAAAA!!! /teriak histeris/ then on Donna’s mind be like, /dohh, nih orang lagi yg muncul/. Hahahaha, iya aku lagi. maapkeun.
    DON, NJAY, INI SERIUSAN??? MARK AMA TEN?? KKKKKKKKKK, DOOOHHHH anak alay Thailand bisa bijak juga ternyata, dududududu. Bersyukurlah Ten yang debut di ffnya Donna, dan tidak dinistakan. Beruntungnya kamu, Kak Ten.
    , Donna, aku kangen ff psyco kamu….. /lalu ditendang/ aahhh pokoknya aku sukanya kamu dengan segala kepsyco’an kamu. Sayang Donna dengan segala kesaiko’an akut dia./peluk Donna ampe bengek/ Luv luv luv. /lalu ketjup pipi Donna ampe merah/ /lalu ngacir menghilang ke dunia antah berantah/.

    Liked by 1 person

    • DIF KAMU ENGGA CAPEK APA KOMEN DI FF-KU MULU ASTAGA SINI KAMU AKU CIYOM PAKE GILINGAN TEBU SINI /dibuang/. bentar ya rikuesanmu belom aku realisasikan wakakaka Ten ntar aja dinistainnya, dia diberi kewarasan dulu buat pemanasan buat ff selanjutnya :’) APA? SAIKO? SAIKO ITU APA? KAMU SALAH ORANG DIF AKU MAU LARI AJA KE PELUKAN TEN.

      love you too, Dif aku mencintaimu lebih dari apapun ❤

      Like

  3. Okey Ten kamu bijak tapi oonnya gak ketulungan. Nak alay Thailand? Cocok juga tuh kak :v tapi nih anak alay udah nyuri hati gue, oke cukup curhatnya. Ff pemberi motivasi kepada pelajar kpopers macam kita orang :v ditunggu kisah lainnya 😀

    Liked by 1 person

  4. Abis dirukiyah atau malah kesambet nih, Mas Chitta? Ada orang balik ke jalan yang benar, bukannya diplok-plokin/? kok malah pengen ngekek ya ngeliatnya? Mungkin Ten kelamaan ngalay kali ya, jadi begitu dia bijak, langsung gempar dunia xD /lah, malah alaynya pindah ke gue ini)
    Tapi, emang sih, kalo orang kadung kena cap ‘alay’ sekalinya pengen serius malah ga ada yang nyeriusin, nyeseekkk, padahal kan alay bisa dijinakan -dan ditularkan-

    Liked by 1 person

    • astaga, segempar itu kah kealayan Ten? 😀 kenapa dunia seakan tidak ada yang menerima sikap bijaknya? :”) apa salah Ten? mungkin dia memang kesambet setan kak……setan biarawati alias valak makannya dia jadi bertaubat sebelum masuk ke jalan yang salah :”)

      btw makasih ya sudah mampir dimari! ^^ ❤

      Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s