[NCTFFI Freelance] The Spinning Heart (Chapter 2)

IMG-20160419-WA0018

The Spinning Heart

Author : Shin Rae Bin

Length : Chaptered

Genre : Romance

Main Cast :

Dooyoung NCT U

Wooji (Imaginer Cast)

Taeyong NCT U

Chapter 1

.

Cuplikan Season 1

Wooji merupakan seorang yeoja yang sangat cantik. Dia sudah berhubungan dengan Taeyong ketika dia sedang sibuk mengurusi kegiatan debutnya. Namun, skandal Taeyong dan Seulgi yang dibuat agensi SM Entertainment membuat hubungan Wooji dan Taeyong berakhir. Hingga akhirnya, dengan Wooji memutuskan untuk menerima cinta sahabatnya yang juga teman segrup Taeyong di NCT U, Dooyoung. Wooji masih sangat mencintai Taeyong walaupun dirinya kini telah dimiliki Dooyoung.

.

Author POV

Wooji masih saja bermalas-malasan di kamarnya. Angannya berkhayal sangat jauh. Dia masih memikirkan tentang statusnya bersama dengan Dooyoung saat ini.

“Dooyoung telah mengonfirm hubunganku dengannya. Cinta dia sangat tulus padaku, aku yakin itu. Tapi….aaahhh! kenapa aku belum bisa melupakan Taeyong!” Rambut Wooji yang tadinya rapi menjadi berantakan karena diacak-acak oleh tangannya sendiri. Pikirannya melayang jauh. Entah apa yang harus dia lakukan ketika menghadapi orang banyak nanti. Banyak kekhawatiran yang dia rasakan ketika kini hubungannya dengan Dooyoung diketahui orang banyak.

“Ah! Bikin kaget saja!” Hpnya bergetar ketika dia sedang berangan sangat jauh. Di layar Hpnya tertampang jelas nama Dooyoung.

“Oh! Dia menelpon? Apakah dia tidak sibuk hari ini?” Wooji langsung menerima panggilan dari Dooyoung yang kini telah menjadi namjachingunya.

“ne?” suara manis Wooji membuka pembicaraan di antara mereka.

“Wooji-ah, apakah kau sibuk hari ini?”

“Anni, waeyo?”

“hari ini aku akan berada di Show Champion, maukah kau menonton penampilanku hari ini?” jantung Wooji tiba-tiba berdegup sangat kencang. Tak biasanya Dooyoung melakukan hal ini. Tak biasanya Dooyoung semanja ini kepada Wooji dan menyuruh Wooji menonton penampilannya hari ini.

“Wooji-ah? Kau sibuk ya? Kau tidak bisa melakukannya hari ini?” lamunan Wooji terganggu dan langsung kembali tersadar,

“Ah, anni, hanya saja aku ada kelas hari ini. Aku bisa menonton tapi tidak pergi bersamamu, gwenchana? Aku akan meminta libur untuk kerja part timeku”

“ne, gwenchana. Aku akan menunggumu” sambungan telepon terputus. Wooji langsung memejamkan matanya dan membayangkan sesuatu yang belum mungkin terjadi nanti.

“Disana aku pasti akan bertemu dengan Taeyong, Ah bagaimana ini?” Hatinya gusar. Entah apa yang harus dia lakukan dengan keadaan seperti ini.

Dooyoung POV

Aku tengah menunggu Wooji di lobby tempat acara kami, NCT U akan berlangsung. Aku terus mellihat ke arah jam karena sekitar 10 menit lagi aku harus naik ke panggung untuk melaksanakan latihan bersama dengan temanku yang lain. Lima menit berlalu, Wooji belum juga terlihat olehku. Hatiku sangat gusar tetapi aku terus tersenyum karena tanpa aku sadari banyak sekali fans yang sedang melihatku bahkan sesekali memotretku.

“Sepertinya Wooji akan datang sangat terlambat” aku berbalik dan segera memasuki ruangan latihan. Langkahku dipercepat karena tak ingin member lain menunggu dan bahkan memarahiku.

“kya! Darimana saja kau?” member tertua kami, Taeil langsung menegurku.

“jusunghamnida hyung, aku ada urusan sedikit tadi” perkataanku membuat tatapan mata Taeyong menatapku dengan sangat tajam. Kubalas tatapannya sampai akhirnya dia memberikan isyarat untuk segera melakukan latihan.

Lagu debut kami telat diputar. The 7th Sense. Gerakan pertama telah aku lakukan. Sedikit memejamkan mata, aku mencoba mengumpulkan semua kefokusanku yang kini terbagi dua karena Wooji belum juga terlihat olehku. Partku bernyanyi sekarang, aku melakukan improvisasi dan mengernyitkan dahiku mellihat seorang yeoja yang berlari di kejauhan. Senyumanku mengembang dan aku serasa bersemangat kembali. Wooji telah menepati janjinya dan kini tengah mengobrol bersama Taeil.

Wooji POV

“Aish! Aku telat sekali, semoga Dooyoung belum melakukan latihannya sekarang” kakiku terus berlari ketika melihat jam tanganku sudah tidak bersahabat denganku karena membuatku sadar bahwa aku terlambat menemui Dooyoung.

Aku terus berlari sampai akhirnya berada di studio. Benar saja, Dooyoung sedang melaksanakan latihan untuk penampilannya nanti. Tapi tak apa, aku tidak terlalu terlambat.

“Ah, Annyeong haseyo oppa”

“ne Annyeong haseyo” Taeil, aku bertemu dengan salah satu member NCT U. Member yang juga mengetahui hubunganku dengan Taeyong di masa lalu.

Latihan selesai. Taeyong, Jaehyun, Ten, Mark, dan Dooyoung menuruni panggung dan langsung menghampiriku dengan Taeil.

“kerja bagus anak-anak” kudengar Taeil memberikan motivasi kepada member lainnya. Jantungku berdetak sempurna ketika bertatapan kembali dengan Taeyong. Kuberusaha mengontrol diriku dengan sangat keras. Senyuman. Hanya senyuman yang bisa kuberikan pada Taeyong.

“Oh!” aku terkejut ketika tiba-tiba Dooyoung memelukku manja. Tak ku balas pelukannya dan hanya menatap Taeyong saja.

“aku lelah sekali, entah kenapa aku sangat gugup melaksanakan penampilanku disini” aku berusaha mengumpulkan nyawaku kembali dan sadar bahwa aku sedang bersama Dooyoung sekarang.

“Waeyo?” aku melepas pelukannya dan kami bertatapan sekarang.

“Dulu aku pernah menjadi MC disini, sekarang aku kembali lagi tapi tanpa menggunakan ID Staff. Ah ini sangat berbeda membuatku sangat gugup” dia menyimpan kepalanya di bahuku. Aku merasakan kelelahannya saat ini.

“beristirahatlah dulu, kajja kita ke ruang ganti sekarang”

Author POV

Wooji bersama dengan member NCT U yang lainnya menuju ke ruang ganti. Setelah sampai mereka langsung mengganti pakaian mereka terlebih dahulu. Wooji hanya menunggu di sebuah sofa yang ada di ruang ganti grup mereka.

“hyung, apakah ada air? Aku sangat haus” suara Taeyong membuyarkan suasana sepi ketika member yang lain sedang berpakaian.

“chankamman” manager NCT langsung mencari air mineral tapi tak ada.

“sepertinya habis, biar aku ambilkan dulu” ketika sang manager akan berlari, Wooji langsung membuka isi tasnya dan memberikan air mineral kepada Taeyong.

“tidak usah, aku mempunyai ini” Wooji langsung memberikannya kepada Taeyong bersamaan dengan keluarnya Dooyoung di tempat ruang ganti bajunya. Tak ada reaksi apa-apa dari Dooyoung. Kecanggungan mulai terasa.

“gomawo” Taeyong memberikan kembali tempat minum milik Wooji. Wooji memegangnya dengan sangat erat dan langsung memberikannya kepada Dooyoung.

“Wae? Aku tidak haus Wooji” Wooji memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya. Dia sangat kebingungan dengan kondisinya sekarang.

“Ah, kenapa sepi sekali disini?” Jaehyun selesai berpakaian dan membuat suasana hidup kembali. Sekarang, semua member NCT U telah selesai berpakaian semuanya. Bersamaan dengan itu manager mereka langsung membawa banyak foto mereka dan meminta mereka menandatangani semuanya. Mereka langsung mengambil foto masing-masing dan langsung mengambil tempat ternyaman untuk melaksanakan kegiatan tanda tangan.

Wooji masih diam di tempatnya ketika Dooyoung sudah berpindah tempat dan melakukan kegiatan tanda tangan di fotonya. Secara tidak sadar, dia kini berada di tempat yang sama dengan Taeyong. Berhadapan. Dan kini mereka mulai bertatapan. Wooji berusaha mencari kesibukan dengan memainkan Hpnya sekarang. Taeyong sibuk dengann tanda tangan begitupun dengan Wooji yang sibuk dengan Hpnya.

Taeyong POV

Aku sudah mengambil bagianku sekarang. Fotoku terlihat sangat bagus dan aku bersemangat untuk menandatanganinya. Semoga semua fansku senang dengan pemberianku ini. Aku menengok ke sekeliling hampir semua tempat penuh.

“Ah disana saja” aku langsung berjalan dan ternyata sudah ada Wooji disana. Sofaku berhadapan dengannya. Rasa canggung mulai terasa ketika kami bertatapan satu sama lain. Wooji langsung memalingkan wajah cantiknya dari hadapanku dan langsung memainkan Hpnya.

“Apakah kau belum memaafkanku Wooji?” hatiku bertanya pada Wooji. Dia terlihat sangat cantik dengan dress biru yang dipakainya sekarang. Rasanya, aku belum bisa melupakannya dan tidak akan bisa merelakannya dengan Dooyoung.

Kepalaku menengadah ke arah namja yang kini sedang memegang tangan Wooji, yang tak lain adalah Dooyoung. Tanpa berkata apapun, Dooyoung langsung menggenggam tangan Wooji dan mengajaknya untuk duduk bersama dan meninggalkanku. Kukepalkan tanganku kuat-kuat. Tak bisa kubiarkan lagi. Aku harus mendapatkan kembali hati Wooji.

Wooji POV

Tanganku digenggam dengan sangat erat ketika sedang memainkan Hpku. Dooyoung langsung menarikku dan mengajakku untuk duduk bersamanya. Dooyoung belum mengajakku berbicara ketika tadi dia melihatku memberikan minuman kepada Taeyong. Ditambah tadi aku duduk bersama dengan Taeyong. Aku hanya menarik nafas panjang. Berharap semuanya baik-baik saja. Dia hanya fokus menandatangani fotonya karena sudah diminta kembali oleh manager mereka.

“kamsha hamnida” mataku langsung menatap ke arah Dooyoung. Aku mendengarkan kembali suaranya yang sangat lembut walaupun bukan untukku. Aku hanya menyandarkan badanku di sofa dan menyimpan kepalaku di bahuku sendiri. Kemudian tak sengaja aku memejamkan mataku.

Terasa ada sebuah tangan yang menyentuh pipiku dan langsung memindahkan posisi kepalaku. Kini kepalaku tertidur di bahu yang lain. Senyumanku merekah. Dooyoung masih memberikan perhatiannya padaku. Aku langsung memeluknya dan berusaha meminta maaf padanya.

“Dooyoung-ah, mianhae” mataku masih terpejam sambil memeluknya dengan sangat manja.

“Waeyo? Kenapa meminta maaf” aku membuka mataku sempurna kemudian melepas pelukanku padanya.

“Ne? ah, hanya meminta maaf saja tidak lebih” aku kebingungan mencari jawaban atas permintaan maafku.

Aku diam terpaku ketika dengan secepat kilat Dooyoung menempelkan bibirnya di bibirku.

“kya! Apa yang kau lakukan?” aku memukul dadanya manja.

“wae? Aku kan namjachingumu, tak apa lah” perkataannya membuatku terdiam kembali.

“Wooji-ah, jangan berusaha terlalu keras. Aku mengerti semuanya. Aku tidak akan marah kepadamu. Aku hanya akan menunggu ketika kamu akan memberikan semua hatimu untukku nanti”

“gomawo Dooyoung-ah” aku langsung memeluknya kembali dan merasakan ketulusan cintanya yang belum bisa atau bahkan tidak bisa aku berikan untuknya.

Taeyong POV

Penampilan debut kami di Show Champion berakhir dengan tepuk tangan yang sangat meriah. Selagi member yang lain kembali ke ruang ganti, aku berlalu menuju rest room untuk menenangkan diriku sejenak. Kubasuh wajahku dan berusaha menghilangkan semua kelelahan yang menimpa diriku karena penampilan hari ini. Saat aku keluar pintu rest room, dari kejauhan aku melihat Wooji dari kejauhan yang sepertinya juga sudah dari rest room.

Kakiku dengan cepat berlari melihat Wooji yang sudah semakin menjauh. Ketika jarak kami sudah semakin mendekat, aku langsung menarik tangan Wooji dan menahannya di tembok. Kuletakkan juga kedua tanganku di kedua bahunya agar dia tidak bisa melarikan diri. Matanya semakin indah. Mata yang dulu sering kutatap dengan penuh cinta. Kami bertatapan sangat lama.

“apa maksudnya semua ini?” dia tidak menatapku dan berusaha lari dariku.

“Taeyong-ah hentikan semua ini, semua orang melihat kita” aku menyadari di studio ini banyak sekali orang berlalu lalang. Semua yang berjalan melewati aku dan Wooji langsung menatap dengan mata yang terheran-heran.

“Taeyong-ah!” nada bicara Wooji semakin naik tetapi aku masih diam dan semakin intens menatap wajah cantiknya. Wooji menggerakkan bahunya untuk melepaskan tanganku. Namun, aku semakin menguatkan cengkramanku.

“Aish!” Wooji semakin kesal tetapi tetap tidak mau menatap mataku.

“Biarkan seperti ini Wooji, aku merindukanmu” perkataanku ini membuat matanya berani menatapku.

“Aku yakin kau masih mencintaiku, begitupun aku masih sangat mencintaimu” pemberontakan yang tadi dilakukan Wooji untuk berusaha lari dariku menghilang. Kini dia berani menatap mataku dengan sangat tajam. Entah apa arti tatapannya itu. Kulihat mata Wooji sudah mulai berkaca-kaca. Tangan kananku mengelus lembut rambutnya dan langsung meraih tengkuknya. Tak bisa kutahan, aku langsung mencium keningnya dengan sangat lembut dan membuatnya memejamkan mata.

“saranghae” pejaman matanya membuat air matanya mengalir sempurna. Terasa dorongan dari tangan Wooji memberikan isyarat agar aku menjauhinya.

“hentikan semua ini. Biarkanlah aku bahagia dengan Dooyoung sekarang, jebal” Wooji langsung meninggalkanku. Namun, kutarik kembali tangannya hingga kini dia berada di pelukanku. Wooji berusaha berontak kembali tetapi pelukan semakin kueratkan.

“jebal Wooji-ah, biarkanlah seperti ini. Aku benar-benar sangat merindukanmu” pelukanku semakin erat walaupun tidak ada balasan pelukan dari Wooji. Setelah lama berpelukan, Wooji melepaskan pelukan dan langsung meninggalkanku tanpa mengatakan sepatah kata apapun.

Dooyoung POV

Aku menunggu Wooji yang tadi sedang berada di rest room. Kusandarkan badanku di tembok samping pintu ruang ganti kami. Sesekali aku menaikkan satu kakiku karena penantian yang cukup lama. Kutegakkan kembali badanku ketika perlahan melihat sosok Wooji yang berjalan ke arahku.

“kau menangis? Waeyo?” kutatap matanya yang sendu. Sepertinya ada yang disembunyikan dari Wooji.

“Gwencahana, aku tidak menangis” tangan Wooji merangkul tanganku dan mengajakku masuk ke ruang ganti. Kuturuti kemauannya dan langsung memasuki kembali ruang ganti.

“Kajja, manager sudah menunggu” Taeyong membuka pintu dan langsung menyuruh kami bersiap untuk pulanh. Semua barangku sudah beres, kini aku membantu Wooji yang sedang membereskan barangnya. Wooji hanya tersenyum dan langsung menggenggam tanganku mengisyaratkan agar cepat pulang dan meninggalkan ruangan.

“Wooji-ah, kau pulang bersamaku ne?”

“bukankah kau pulang bersama dengan member yang lainnya?”

“gwenchana, kau ikut saja di mobil. Aku sudah berbicara dengan manager hyung” tersirat keraguan dalam wajah Wooji. Namun, akhirnya dia menggangguk dan tersenyum kepadaku.

Kursi belakang menjadi tempatku bersama dengan Wooji. Aku berada di tengah antara Wooji dan Mark yang kini sudah tertidur karena kelalahan. Kuperhatikan daritadi Wooji hanya menatap jendela mobil dengan tatapan yang sangat jauh. Entah sedang memikirkan apa.

“Wooji-ah, Gwenchana?” pertanyaanku hanya dibalas dengan sebuah gelengan kepala. Berusaha meyakinkanku bahwa dia tidak apa-apa, Wooji langsung berbalik ke hadapanku dan tersenyum padaku. Dia juga menidurkan kepalanya di bahuku. Tak lama kemudian dia memejamkan matanya.

Beberapa menit yang lalu, sesaat setelah Wooji keluar dari Rest Room

Aku menunggu Wooji yang sedang berada di rest room. Kutegakkan badanku ketika sudah melihat Wooji keluar dari rest room. Sepertinya Wooji tidak menyadari kehadiranku, aku hanya menunggunya dan menantinya hingga berjalan ke arahku. Namun, dari kejauhan aku melihat Taeyong mengejarnya. Taeyong menarik tangan Wooji hingga kini mereka bertatapan satu sama lain. Wooji didorong ke tembok dan tangan Taeyong menahan kedua bahu Wooji. Entah apa yang mereka bicarakan sekarang. Diriku hanya terpaku melihat kebersamaan antara Taeyong dengan Wooji sekarang. Kutundukkan kepalaku ketika melihat Taeyong mengecup kening Wooji. Tanganku mengepal sempurna tak kuasa melihat keadaan ini. Perasaanku sedikit lega ketika Wooji mendorong Taeyong dari hadapannya. Namun, Taeyong menarik tangan Wooji kembali dan mereka berpelukan. Wooji memang tidak membalas pelukan Taeyong. Namun, dia juga tidak melakukan penolakan terhadap pelukan Taeyong.

“Apakah cinta Wooji memang hanya untuk Taeyong hyung?” hatiku mempertanyakan itu berulanng-ulang. Hingga tanpa kusadari, Wooji telah melepaskan pelukan Taeyong dan kembali berjalan dengan langkah yang sangat lambat. Aku segera berlari dan berpura-pura menunggunya di samping pintu ruang ganti NCT U.

Flashback End

Lamunanku masih mengalun sangat jauh. Aku hanya bisa menatap wajah cantik yeojachinguku yang kini tengah tertidur dengan sangat nyenyak dan nyaman di bahuku.

“aku akan selalu menunggumu sampai kau bisa mencintaiku Wooji. Jangan ada pikiran untuk meninggalkanku, jebal. Saranghae Wooji-ah” kubisikkan perkataan itu berharap Wooji mendengarkannya. Kukecup keningnya setelah kubisikkan perkataan itu pada Wooji.

Author POV

“Wooji-ah, gwenchana?” Chanie menepuk bahu Wooji yang sedang terdiam sendirian di taman kampusnya.

“gwenchana Chanie” sambil menghela nafas Wooji berusaha mengirimkan sinyal bahwa dia baik saja setelah kejadian kemarin bersama dengan Taeyong.

“pasti kemarin terjadi sesuatu kan? Kya! Kau mau merahasiakannya dariku?” Chanie memukul bahu Wooji karena sedikit kesal.

“Taeyong bilang kalau dia merindukanku”

“mworago? Oh! Daebak! Terus? Apa yang kau lakukan?”

“Ani, aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya bilang jangan mengganggu hubunganku dengan Dooyoung”

“Aish! Wooji kau memang benar-benar gila. Bukankah kau juga sangat merindukan Taeyong dan bahkan masih mencintainya? Kenapa masih saja memilih Dooyoung?” Chanie sangat kesal dengan keputusan sahabatnya tersebut.

“Dooyoung lebih bisa menenangkanku Chanie walaupun cintaku hanya untuk Taeyong”

“Ah! Wooji kau memang benar-benar aneh. Taeyong sudah mengakui semuanya bahwa itu hanya skandal buatan SM saja, kau masih belum yakin?”

“Aku belum menemukan bukti yang sebenarnya Chanie. Bisa saja dia berbohong untuk mengembalikan hubungan kita”

“kya! Dooyoung benar-benar sudah berhasil merebut pikiranmu”

“begitulah, aku berharap dia juga bisa membuatku berpaling sepenuhnya”

“kya! Benarkah tidak ada sedikitpun celah untuk memaafkan Taeyong?”

“Molla” Kedua bahu Wooji terangkat karena dia kebingungan. Tiba-tiba Hp Chanie bergetar menerima sebuah pesan yang membuatnya terbelalak.

“Taeyong?” kepala Wooji langsung menoleh ketika Chanie menyebutkan nama tersebut. Kedua alis Wooji juga terangkat ingin mengetahui apa yang dilihat Chanie di Hpnya.

“Wooji-ah, Taeyong ada disini sekarang”

“mwo?” kebingungan mulai melanda Wooji

“Dia mengirimkanku pesan ini” Wooji langsung membelototkan matanya, dia tidak menyangka bahwa Taeyong benar-benar sudah datang ke kampusnya saat ini.

“kya! Kenapa kau membalas pesannya. Aish! Chanie!” kekesalan Wooji memuncak ketika sahabatnya memberitahukan keadaan mereka sekarang.

“aku hanya memberitahunya saja tidak ada maksud apa-apa” sahabatnya ini hanya mendukung hubungan Wooji dengan Taeyong bukan dengan Dooyoung.

“Aish!” kekesalannya memuncak dan Wooji langsung berdiri dari bangku taman.

“kya! Kya! Kya! Kau mau kemana Wooji?” tanpa mendengarkan perkataan Chanie, Wooji terus saja melangkah disertai dengan kekesalannya.

“Chanie, jangan membuatku dalam keadaan sulit seperti kemarin lagi jebal!” Wooji menoleh ke belakang, berteriak ke arah Chanie sambil terus berjalan. Sampai tanpa disadari dia menabrak seorang namja yang tak lain adalah Taeyong. Dengan sigap Taeyong langsung menahan badan Wooji yang hampir terjatuh ketika bertabrakan dengannya.

Ketika wajah kami bertatapan, Wooji terlihat sangat gugup dan langsung menjauh dari Taeyong.

“Gwenchana?” hanya anggukan yang diberikan Wooji pada Taeyong. Tanpa membuang waktu, Wooji langsung berusaha menjauhi Taeyong tetapi secepat itu pun Taeyong langsung menarik kembali tangan Wooji.

“berikan aku waktu sebentar saja Wooji-ah”

“Aku sibuk, hari ini banyak pekerjaan di ….”

“Aku masih ingat kalau hari ini kamu libur kerja part time Wooji” perkataan yang membuat Wooji menatap mata Taeyong kembali.

“Ne, ne, Waeyo?”

“ini untukmu” Taeyong memberikan sebuah tiket pesawat untuk Wooji.

“Apa ini?” Lagi-lagi Wooji dilanda kebingungan.

“Aku dan member yang lain akan melakukan konser di Thailand bersama dengan member rookies yang lain juga”

“Thailand?” mendengar Negara itu Wooji langsung sangat antusias.

“Aku masih sangat mengingatnya Wooji, dulu kau sangat ingin mengunjungi Thailand. Ketika ada kesempatan, aku langsung mengingatmu”

“Ah Gomawo, tapi…”

“Kau tidak ingin menerimanya?”

“Bukan begitu tapi …”

“Dooyoung?” Tanpa dijelaskan Taeyong sudah bisa membaca situasi sekarang.

“Perjalanan kami dibagi menjadi dua Wooji-ah, tidak perlu mengkhawatirkan Dooyoung dia juga akan pergi bersama dengan kita. Pesawat pertama aku, Ten, Jhonny, Jaehyun, dan Dooyoung akan berangkat bersama karena kami juga ada pekerjaan lain disana sebelum konser”

“Ah molla” Angan Wooji melayang-layang

“terima ini dulu saja Wooji. Kau bisa memikirkannya di rumah nanti. Aku pergi dulu” Tiket perjalanan ke Thailand sudah digenggam oleh Wooji. Tiba-tiba Hp Wooji bergetar.

“Ah, Dooyoung, Waeyo?”

“Hari ini kau libur kerja kan? Aku juga hari ini libur dan berniat pulang, jika aku sekalian ke rumahmu bagaimana?”

“hhhmmm ne datang saja, sebentar lagi aku pulang”

“ne, saranghae Wooji-ah” seperti biasa pengakuan cinta Dooyoung tidak pernah dibalas oleh Wooji dan langsung dibalas dengan memutuskan hubungan telepon saja. Mata Wooji menatap kembali tiket yang diberikan Taeyong hingga akhirnya Chanie menghampiri.

“Terima sajalah, lagian Dooyoung juga ada di pesawat itu kan?” Chanie berusaha mempengaruhi Wooji.

“Ah Molla molla molla, aku mau pulang saja” akhirnya Wooji meninggalkan Chanie dengan sejuta kebingungan yang melanda dirinya saat ini.

Wooji POV

Bel rumahku sudah bordering. Kulangkahkan kakiku dan langsung membukakan pintu. Ketika pintu terbuka, wajah Dooyoung tertutup oleh bunga yang sangat indah. Perlahan, Dooyoung menyingkirkan bunga dari wajahnya dan langsung memberikannya kepada Wooji.

“Ah gomawo” senyuman mengembang di bibir manis Wooji. Tak mau Dooyoung menunggu lama, aku langsung menyuruh Dooyoung untuk masuk dan duduk bersamanya di taman belakang rumahku. Tempat yang dulu juga biasa dipakai bermain olehku dan Dooyoung ketika kecil.

“Dooyoung-ah, biar kuambilkan minum dulu, aku juga akan menyimpan bunganya dulu ya”

Perlahan tanganku ditahan oleh Dooyoung, “Wae?”

“Jangan lama-lama ya”

“ne?”

“aku sangat merindukanmu” Mendengar suaranya yang sangat lembut membuatku sangat tenang dan teduh. Aku hanya mengangguk dan tersenyum kemudian meninggalkannya di taman sesaat.

Beberapa menit kemudian

“Ini dia” aku membawakan minuman untuk Dooyoung. Aku berharap dia menyukainya dan bisa menghilangkan rasa hausnya selama perjalanan menuju rumahku walaupun rumah kami berdekatan.

“Gomawo Wooji-ah” kembali aku hanya memberikan anggukan padanya.

“Ah, Wooji”

“ne?”

“kau pernah bilang ingin sekali jalan-jalan ke Thailand kan?”

“ne?” mendengar perkataannya aku sangat terkejut. Ternyata Dooyoung juga masih sangat mengingat bahwa aku sangat ingin berjalan-jalan ke Thailand.

“Aku bersama dengan member yang lainnya akan melaksanakan perjalanan konser disana, apakah kau mau ikut?” bibir bawahku tergigit sempurna. Aku sangat kebingungan entah harus menjawab apa saat ini kepada Dooyoung.

“Ini, aku juga ingin kau merasakan keindahan Thailand bersamaku Wooji”

“ne?” kembali aku mendapatkan tiket perjalanan ke Thailand.

“Tapi kau tidak bisa ikut berangkat bersamaku. Pesawat kami sudah penuh. Aku juga bingung kenapa bisa penuh padahal baru saja tadi pagi manager hyung berbicara padaku bahwa masih ada satu kursi kosong” kebingunganku memuncak.

“Mianhae, aku tidak bisa berangkat bersamamu karena aku harus berangkat besok. Masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan disana bersama dengan Taeyong hyung, Ten, Jhonny Hyung, dan Jaehyun juga, Gwenchana?”

“Ah? Ne ne gwenchana Dooyoung-ah”

“Aku akan menitipkanmu pada Taeil hyung, aku sengaja membookingkan kursimu bersebelahan dengan Taeil hyung. Dia pasti bisa menjagamu dengan baik selama perjalanan ke Thailand”

“ne gomawo”

“Apa-apaan ini? Taeyong dan Dooyoung memberikan tiket perjalanan ke Thailand? Ah! Apa yang harus kulakukan? Aku tidak ingin mengecewakan Dooyoung tapi Taeyong …. Aaaahhhh! Aku bingung” kepalaku menggeleng kebingungan. Hatiku terus saja dilanda kegundahan.

“Oh? Wooji Waeyo?”

“Ah gwenchana, mianhae Dooyoung-ah. Aku terlalu senang kau memberikan tiket ini tapi aku juga sedih karena tidak bisa satu pesawat denganmu”

“jinjja?” aku memberikan pernyataan yang semoga saja bisa membuatnya senang. Alhasil, Dooyoung langsung memelukku.

“Taeil hyung akan menjagamu dengan baik Wooji-ah. Aku akan menjemputmu di bandara nanti. Jaga diri baik-baik ne” Dooyoung masih memelukku. Ketika itu hatiku terus saja bertanya dan kebingungan.

“Bagaimana ini? Apakah aku harus mengambil tiket Taeyong dan akhirnya aku bisa satu pesawat juga dengan Dooyoung? Tapi jika aku mengambil tiket Taeyong, pasti Dooyoung akan banyak memberikan pertanyaan padaku. Ataukah aku menggunakan tiket pemberian Dooyoung saja? Ah! Tapi aku akan bersama member yang tidak terlalu dekat denganku. Dan aku juga tidak akan satu pesawat dengan Taeyong? Ah! Bagaimana ini?”

“Wooji-ah aku pulang dulu ya, besok aku harus sudah pergi ke Thailand. Jaga diri baik-baik. Jangan lupa memberikan kabar ya. Saranghae Wooji-ah”

“Ne, aku pasti akan memberikan kabar padamu”

“tiketnya jangan sampai hilang, susah payah aku membookingnya untukmu”

“Ah ne, gomawo” Dooyoung memberikan pelukannya lagi padaku hingga kini aku semakin kebingungan dengan keputusanku.

“BIar aku antar sampai depan”

Dooyoung menggelengkan kepalanya, “istirahat saja Wooji-ah. Aku sudah hafal semua belokan yang ada di rumahmu” aku hanya tersenyum melihat Dooyoung yang sudah perlahan menjauh dariku. Sesekali aku meremas tiket yang diberikan Dooyoung untukku. Aku masih saja dilanda kebingungan. Entah keputusan apa yang harus kubuat sekarang.

To Be Continued.

 

Advertisements

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s