[Ficlet] Nightmare Nanny

nightmare nanny

Nightmare Nanny

★ [NCT] Donghyuck & Jisung ★ family, crime, angst, brothership ★ ficlet ★ PG-17

“Aku benci bocah yang berisik.”

.

.

.

Aku mulai berpikir bahwa hidup tak lagi berjalan baik. Sudah cukup bagiku mendapati ayah yang selalu sibuk bekerja tanpa pernah mempedulikan eksistensiku sebagai anak yang harus ia sayangi. Sepeninggal ibu karena kanker payudara yang merenggut nyawanya, hidupku jadi terasa hambar dan sunyi. Tak ada lagi sosok yang menyambutku sepulang sekolah, tak ada lagi sosok yang mengingatkan makan saat sudah kelewat asyik bermain game, dan sosok yang mengomel panjang lebar hanya karena aku malas belajar hingga nilaiku jelek pun sudah tidak ada.

Bukan hanya menyampakkanku, lebih buruk dari itu, ayah juga melakukan hal yang amat menyakiti hatiku. Belum genap setahun setelah ibu meninggal, ayah sudah punya kekasih baru. Aku tidak suka wanita itu karena gayanya seperti penggoda jalang.

Meskipun belum menggelar resepsi pernikahan, namun ayah sudah mengizinkan bibi itu tinggal di rumah kami. Ia membawa serta buah hatinya yang berusia lima tahun untuk tinggal di sini.

Hari ini mereka berdua pergi menghadiri undangan makan malam dari rekan bisnis ayah. Jadi ayah dan bibi itu berpesan padaku untuk menjaga Jisung – calon adik tiriku. Aku tak sama sekali menggubris pesan mereka. Memangnya aku seorang Nanny, sampai harus repot-repot menjaga anak yang sama sekali tak ada hubungannya denganku?

“Donghyuck hyung sedang bermain apa?” pertanyaan Jisung barusan mengusik konsentrasiku menghindari serangan alien pada game PC yang sedang aku mainkan.

“Aku ingin coba bermain juga…” imbuhnya lagi dan masih kutanggapi dengan reaksi yang sama, diam seribu bahasa.

Hyung… ayolah, aku ingin bermain juga. Aku bosan karena tidak ada teman.” Ia merajuk seraya menggelayuti tanganku dengan manja.

Secara refleks aku menampik tangannya hingga cengkramannya terlepas. Dasar anak kecil sialan, bisanya cuma mengganggu!

“Kenapa hyung jahat padaku? Aku, kan, cuma ingin main bersamamu…” tandasnya disusul dengan buliran kristal bening yang perlahan beranak sungai dari ujung matanya.

Kupikir jika didiamkan ia akan berhenti menangis dengan sendirinya, namun ternyata dugaanku salah. Rengekan Jisung malah makin menjadi dan memekakkan telingaku.

“Diamlah, berisik!” sentakku ketus. Dapat dengan jelas kulihat raut ketakutan tersirat melalui wajahnya. Namun walaupun begitu ia tetap tak menghentikan tangisnya.

Perlu kau tahu kalau aku sangat membenci keramaian, aku benci kebisingan, dan aku benci suara berisik. Kebencianku membesar dua kali lipat saat suara berisik itu terdengar dari anak wanita jalang yang kuharapkan keberadaannya lenyap dari muka bumi ini. Aku tak bisa membiarkan ini terus-menerus. Bisa-bisa telingaku pengang karena tangisannya tak kunjung berhenti.

Aku beranjak dari kursi yang sedari tadi kududuki, tak kuhiraukan Jisung yang merengek minta diperhatikan. Namun belum sempat aku melangkahkan kaki menuju tempat tujuan, Jisung langsung meraih kakiku dan mencegahku pergi.

Hyung, ayo bermain denganku!” rajuknya.

“Lepaskan aku!” lagi-lagi aku membentaknya. Secara paksa kutendang bocah itu agar berhenti menggelayuti kakiku. Geli dan tak nyaman sekali rasanya.

Sebenarnya sebanyak apa, sih, pasokan air mata yang ia simpan? Mengapa setelah menangis selama itu air matanya tak kunjung habis? Oh sungguh, aku ingin ia menghentikannya saat ini juga. Sepasang manik obsidianku berotasi ke seluruh penjuru ruangan, seketika kudapati benda yang tergolek di atas kulkas. Mataku sontak berbinar, segera kuambil benda itu, lantas kembali ke ruang di mana Jisung masih betah menangis.

Hyung…” sambutnya dengan rengekan yang masih sama. Aku mengambil posisi sendeku di hadapannya. Segaris senyum tertarik dari sudut kanan bibirku. Cara ini pasti berhasil untuk membuat Jisung berhenti menangis, dan setelah ini aku tak akan repot-repot lagi mendengar suara bising.

Hyeu –” Jisung tak sanggup melanjutkan ujarannya barang sepatah kata pun. Tangisnya makin menderai namun tak diiringi dengan rengekan berisik. Kuletakkan jarum dan benang yang baru saja kugunakan di atas meja. Aku mengusap-usap ujung jamariku yang berlumuran darah pada kaus yang Jisung kenakan. Lumayan, hitung-hitung sebagai hiasan agar motifnya tidak monoton. Selesai sudah urusanku, sekarang aku tak akan mendengar suara berisik itu lagi karena mulut Jisung telah terkatup rapat.

 

– END –

 

Sori duh sebenarnya daku juga enggak tega menjadikan Donghyuck yang emesh sebagai seorang psikopat. Lebih enggak tega lagi bayangin Jisung sampe ngerengek-rengek manja minta ditemenin main tapi malah dicuekin sama Donghyuck. Aku mau nangis >3<

/yang nulis siapa

/yang baper siapa

/lantas dibuang

 

Advertisements

13 thoughts on “[Ficlet] Nightmare Nanny

  1. MBA LELE YOU DID IT!!!!!

    LANJUTKAN ITU ACARA SUMPAL MENYUMPAL MULUT JISUNG DENGAN JARUM DAN BENANG HUAHAHAHAHAHA KERJA BAGUS NAK! BESOK KITA KULITI JISUNG DI BAWAH SINAR MATAHARI HUAHAHAHAHAHAHAHAHA

    PS; DONGHYUK SINI MAIN KE RUMAHKU, KITA RAPAT BUAT MEMBUNUH WANITA JALANG ITU HAHAHAHAHAHAHAAHAHAHA

    Like

    • Apa kamu don ikut2 kakber panggil lele XD
      TULUNG YA TULUNG, HEWAN KURBAN DIKULITIN AJA MASIH ELIT DIKASIH TEROP DEMI APA KAMU TEGA NISTAIN JI SUNG SENISTA2NYA NISTA HIKS :”

      ASSEEEEKK MAU RAPAT, LANJUTIN KESAIKOAN INI DON LANJUTKAN!!!

      Eh tapi lupa deng donna udah tobat jadi psikopat skrg mau fluffy2an wkwkk

      Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s