[NCTFFI Freelance] Crown (Prologue)

index

CROWN : PROLOGUE

Scriptwriter
Amandzaty (ig: ndzaslm_)
Gendre
Aternal Universe, Fantasy, OOC
Main Cast
Kim/Lee Taeyong (NCT U’s Taeyong) || Im Na Na (After School’s Nana) || Jang Geun Suk (Actor)
Other(s)
Kim Dong Wan (Shinhwa’s Dongwan) || Mr & Mrs. Tanaka (Original Character) || Jang/Kim Yu Jin (After School’s Uee)
Disclaimer : OC & story is mine.
.

‘Kim Dong Wan. Lahir, 21 November 1970. Meninggal, 1 Februari 2015. Bekerja sebagai CEO dari perusahaan X. Istri, dulu; Kim Na Eun, sekarang; Kim Yu Jin. Anak, satu, Kim Tae Yong. Dia akan mati setelah meminum sebuah juice yang diberikan oleh pelayan pada pukul 08.45. Juice itu mengandung sianida, pembunuhnya adalah sekretaris kepercayaanya. Dia tidak punya tanggungan dendam, janji, atau hutang piutang apapun.’

.

.

Taman Kota terlihat sangat ramai dengan manusia, semua orang yang berada disana menggenakan baju pesta yang indah nan mencolok. Para perempuan dewasa memakai gaun terbaik mereka, dan para pria memakai tuxedo sambil berjalan beriringan disamping istri-istri mereka. Pagi itu semuanya sangat indah untuk Tuan Kim dan istri barunya, Nyona Kim Yujin. Mereka baru saja melangsungkan sebuah resepsi pernikahan dan kini keduanya sudah resmi menjadi sepasang suami istri.

Ada banyak orang disana. Ada sekretaris Jang, Kepala pelayan si Pak Tanaka dan istrinya. Juga seluruh rekan sesama pengusaha Tuan Kim, dan tentu saja kumpulan ibu-ibu sosialita yang merupakan teman-teman Nyonya Kim Yujin.

Selain itu, juga ada seorang bocah enam belas tahun yang duduk dikursi paling depan. Ia memakai kemeja berwarna putih, dan sebuah celana hitam. Ia adalah putra Tuan Kim, dari pernikahannya yang sebelumnya. Semua orang mengetahuinya sebagai bocah nakal, yang selalu membuat guru-guru di sekolah ataupun pembantu dirumah pusing. Orang-orang bahkan menyayangkan hal itu, mereka selalu membandingkan Taeyong-si bocah tengil ini- dengan Ayahnya. Tapi untuk Taeyong, apapun yang orang lain katakan itu cuma omongan, mereka tidak tahu apapun.

Taeyong hanya duduk terdiam menatap kedua pasangan itu. Kadang ia berdecak kesal sambil mengacak rambut hitam yang sama persis seperti milik Tuan Kim. Pak Tanaka melihatnya dari kejauhan, lalu pria tua itu mendekati Tuan Mudanya.
“Tuan Muda..,” panggilnya dengan penuh keramahan.

Taeyong menoleh, lantas tersenyum, “Ah, Pak Tanaka.”
“Ada sesuatu yang menggangumu? Kuperhatikan akhir-akhir ini Tuan Muda suka terlihat frustasi. Apa ada hubunganya dengan Nyonya Kim Yujin, Ibu barumu?,” Taeyong tersenyum kecut mendengar pertanyaan dari orang tua yang sudah seperi Kakek untuknya itu.

“Bisa dibilang begitu,” ia menghela napas “Aku cuma.., sedikit kecewa saja. Kukira Ayah akan terus mencintai Ibu selamanya. Kukira Ayah Cuma mencintai ibu saja, tapi ternyata aku salah.”

Pak Tanaka terkekeh kecil, “Apa yang kau tertawakan, ha?,” Taeyong memekik mendengarnya.

“Tuan Muda, Ayah anda adalah orang bijaksana. Ia pasti punya alasan khusus sehingga menikahi Nona Yujin, percayalah,” Pak Tanaka tersenyum hangat untuk ke sekian kalinya. Pria paruh baya itu lalu meninggalkan Taeyong sendirian.
Tentu saja, bagi anak sekecil Taeyong melihat orang tuanya –yang ia kira selama ini akan tetap saling mencintai sampai mati- menikah dengan orang lain. Sebetulnya ini egois. Sebab bagaimanapun juga Ayah Taeyong juga punya kehidupan, jatuh cinta lagi merupakan hal yang kodrati. Tapi entah kenapa Taeyong merasa keputusan Ayahnya kali ini kurang tepat, atau malah sangat salah.

.

.

.

Dibalik acara bahagia itu tidak ada yang menyadari bahwa seseorang sedang mengamati dari salah satu gedung yang berada tepat di sebrang jalan raya dua lajur yang memisah gedung tersebut dan taman kota tempat pernikahan itu dilangsungkan.

Ia memakai setelan hitam, rambutnya bahkan juga hitam. Ditanganya ada sebuah buku yang juga berwarna hitam, yang disampulnya tertulis dengan tinta emas ‘Daftar roh yang harus dijemput hari ini’ Gadis itu membuka buku hitamnya, dan membaca tulisan yang ada di lembar kedua buku tersebut.

‘Kim Dong Wan. Lahir, 21 November 1970. Meninggal, 1 Februari 2015. Bekerja sebagai CEO dari perusahaan X. Istri, dulu; Kim Na Eun, sekarang; Kim Yu Jin. Anak, satu, Kim Tae Yong. Dia akan mati setelah meminum sebuah juice yang diberikan oleh pelayan pada pukul 08.45. Juice itu mengandung sianida, pembunuhnya adalah sekretaris kepercayaanya. Dia tidak punya tanggungan dendam, janji, atau hutang piutang apapun.’

“Wow, sepertinya dia adalah pria yang baik hati, sampai-sampai dua wanita cantik terjerat dengan begitu mudahnya,” desisnya saat membaca laporan tentang Roh yang akan diambilnya.

Ia menerawang sekitar, mencari orang yang ada di foto dalam bukunya. Matanya membulat begitu menangkap sosok Kim Dongwan-Tuan Kim-, yang rohnya akan ia jemput sebentar lagi, “Oh astaga, dia memang tampan.”

Wanita itu menghilang bak ditelan angin setelahnya. Lalu seperti hantu tiba-tiba ia muncul di tengah-tengah acara pernikahan yang meriah itu tanpa disadari bahkan dilihat oleh siapapun. Sampai seseorang memanggil namanya dengan sangat lues, “Hai, Nana apa kabarmu?”

Merasa dipanggil, Nana menoleh. Ia sedikit kaget mendapati sunbaenim yang selama ini sama sekali tidak terlihat kini berdiri didepanya, “Geunsuk-sunbaenim?,” pria yang dipanggil Geunsuk itu tersenyum, “Jadi kau selama ini berbaur dengan manusia?”

Geunsuk tertawa penuh teka-teki. Dia lalu mencolek bahu seorang pelayan pria sambil membisikaan sesuatu padanya. Pelayan itu mengangguk-angguk, “Baik Sekretaris Jang,” kata pelayan pria itu lalu pergi menuju tumpukan juice yang ada dimeja kayu bundar.

Nana berkerut, ia nampak kebingungan, “Apa yang akan sunbae lakukan? Apa kau punya sebuah rencana besar dibalik ini?”

Sunbae-nya itu tak berkelit namun hanya diam. Pelayan pria itu datang kembali dengan dua gelas juice. Nana pikir pelayan itu akan memberikan juice itu pada Geunsuk tapi ternyata tidak. Pelayan itu berjalan lurus sampai ke tempat Tuan Kim Dongwan. Nana menangkap cepat rangkaian kejadian yang ia lihat. Dia tersenyum getir lalu melirik Geunsuk, “Apakah yang sedang terjadi ini sama persis seperti apa yang aku pikirkan sekarang?,” Nana memastikan.

Pria berambut gondrong itu menyeringai riang, “Ayolah! Aku bahkan tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan sekarang.”

Kim Dongwan-pria yang selama ini menjadi objek penglihatan senior dan junior yang sudah lama sekali tidak bertemu itu- mengambil dengan tangan kananya juice dari pelayan pria-yang mungkin saja bawahanya Geunsuk- barusan. Segelas lainya diambil oleh Nyonya Kim Yujin. Nana menahan napasnya saat melihat Tuan Kim meminum gelas tersebut. Ia mengira-ngira berapa gram sianida yang sudah dicampurkan dalam juice itu. Tuan Kim menegak gelasnya sampai habis.

Nana melirik jam LED yang melingkar ditangan seorang hadirin, dan menemukan kalau sekarang adalah pukul 08.44, semenit lagi Nana akan mencabut nyawanya. Tapi yang terjadi disini adalah Tuan Kim dan istrinya tertawa bahagia. Geunsuk ikut tertawa bersama dengan pria yang semenit lagi akan mati itu. Tawa itu terdengar sangat bahagia, sampai-sampai Nana bergidik mendegarnya.

Kemudian Geunsuk melirik Nana dengan ekor matanya, ia berjalan dengan santai mendekati Tuan Kim dan Nyonya Kim. Ketiganya berbasa-basi sebentar membuat siapapun yang melihatnya tak pernah mengira tentang apa yang selanjutnya akan terjadi pada pria baik itu.

Beberapa detik telah berlalu, dan sepertinya Tuan Kim mulai sedikit terganggu akan sesuatu. Tanganya sibuk memegangi lehernya, “Ah, entah kenapa tenggorokanku rasanya panas,” keluhnya.

“Mungkin panas dalam, honey,” ucap Nyonya Kim.
Tuan Kim terlihat sangat terganggu. Ia melepas setelan jas putih yang ia kenakan lalu sibuk mengipasi diri. Semua hadirin jadi ikut merasa bahwa ada sesuatu yang janggal. Disini lain, Nana berpikir ini drama yang hebat. Geunsuk benar-benar memainkan perannya dengan sangat sempurna.

Saat Geunsuk sibuk membantu Tuan Kim menyingkirkan panas yang menyelimuti dirinya, Nana menerawang sisi lain. Didapatinya Taeyong-yang mungkin masih bocah menurut Nana- dengan ekspresi khawatir mendekati Ayahnya, “Apa ada sesuatu Ayah?,” oh, itu pasti putranya, pikir Nana. Tuan Kim menganggukan kepalnya lemas, lalu,
BRUKK

“Ayah!!”

Semua orang yang ada disana kaget. Mereka segera mengerubungi tubuh Tuan Kim yang jatuh terkapar dipangkuan putranya. Nana telah menjalankan tugasnya dengan baik. Sekarang ia berdiri di belakang kerumunan orang-orang itu bersama dengan roh Tuan Kim Dongwan yang terlihat shock.

“A-aku? Aku mati?,” lirih Tuan Kim masih tidak percaya dengan kenyataan yang terpampang dihadapanya.

“Ya, kau mati,” jawab Nana cepat.

“Tidak!,” sebuah suara melengking membuat Nana dan Tuan Kim-atau lebih tepatnya rohnya- terperanjat, keduanya segera moneleh kearah sumber suara, “Aku tahu ini pasti rencanamu ‘kan, Nyonya Kim?”

“Oh, tidak. Taeyong mulai lagi,” Tuan Kim terlihat putus asa melihat putranya berteriak sekencang itu. Melontarkan sebuah tuduhan instant pada istri yang baru saja dia nikahi beberapa menit yang lalu.

“Aku tahu, kau pasti dari awal sudah merencanakan ini,” semua orang mulai saling berbisik, “Kau hanya menikahi Ayahku untuk hari ini. Aku yakin setelah ini kau pasti akan mencoba membunuhku. Kau, Kim Yujin, kau menikahi Ayahku hanya untuk mendapatkan kekayaannya saja! Aku benar ‘kan?”

“CUKUP!!,” Geunsuk berteriak. Taeyong berhenti berkicau.
Pak Tanaka segera datang menerobos kerumunan dan meremas pundak Taeyong, “Maafkan atas apa yang dilakukan Tuan Mudaku, tuan tuan dan nyonya nyonya,” ia memberi jeda, “Dan untukmu Nyonya Kim.”

Nyonya Kim Yujin terlihat sangat tersinggung.

“Sekretaris Jang,” panggil Pak Tanaka pada Geunsuk, “Urus Tuan,” Geunsuk mengangguk. Kemudian pria paruh baya itu membawa pergi Taeyong bersamaan dengan datangnya petugas medis yang membawa Dongwan, yang telah difonis meninggal dari tempat kejadian.

Nana tersenyum tipis, ia sedikit merasa senang tentang bahwa kejadian ini sama persis seperti yang ia pikirkan diawal. Dia sadar bahwa sunbae-nya si Geunsuk itu sengaja merangkai kejadian-kejadian ini. Hanya saja ia tak habis pikir bahwa shinigami hebat yang dulu pernah ia kenal kini berbaur dengan makhluk rendahan seperti manusia dan mencoba berkhianat dengan membunuh bosnya sendiri.

“Ayo kita pergi.”

“Nona,” Tuan Kim memangabaikan ajakan Nana, “Jika kau baik aku ingin kau melakukan sesuatu untukku. Tolong, awasi putraku. Jika dia melakukan sesuatu yang sama seperti hari ini, cabut saja nyawanya.”

Mendengaranya Nana hanya tersenyum, ‘Setidaknya Pak Tua ini tidak tahu kalau orang yang membunuhnya adalah sekretarisnya’. Dua sosok tak kasat mata itu kemudian menghilang.

-To be Continue-

Advertisements

6 thoughts on “[NCTFFI Freelance] Crown (Prologue)

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s