[Ficlet-Mix] Gaudeamus igitur (1)

dong bd 1

Gaudeamus igitur

a ficlet-mix by Berly; imjustagirls; IRISH; myungtae

[NCT] Lee Donghyuk
featuring [NCT] Johnny, Jaemin

Genre : Childhood, Horror, Crime, Romance | Duration : Ficlet-Mix | Rating : PG-13

© 2016

_ _ _ _ _

Bagian satu dari dua.

_ _ _ _ _

[1st]

Kadang, ada hal-hal yang membuat Donghyuk merasa jengkel. Ya, meskipun dia seringkali bersabar sih, tapi sabar itu juga ada batasnya.

Seperti hari ini, saat Donghyuk sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan diri untuk wisuda senin depan, ibunya malah dengan santai memberinya amanat mulia untuk membawa serta sang adik—Dongyi—yang notabene adalah bocah usil sekaligus centil berusia delapan tahun dengan kebiasaan aneh.

Aneh, sungguh. Donghyuk yakin adiknya jadi aneh karena Mark sudah menanamkan sebuah ajaran sesat di kepala si bungsu itu setiap ia ke rumah di akhir pekan.

Belum lagi … semua orang terus bertanya kenapa nama adiknya harus ‘Dongyi’ dan bukannya nama keren lainnya. Demi Tuhan, Donghyuk ingin sekali ke gereja untuk meminta nama baptis untuk adiknya.

.

.

.

“Dongyi-a!” kali ini, kemana lagi bocah itu lepas, ujar Donghyuk kala kuncir berbentuk apel merah menyala milik adiknya tidak terlihat dimanapun.

Alih-alih menaruh pada latihan berjalan di panggung—yang sebenarnya Donghyuk lakukan tanpa latihan karena menurutnya, semua orang tahu cara berjalan dengan baik dan benar—ia memilih untuk menemukan adiknya.

Kalau dibiarkan berkeliaran, Dongyi akan melakukan hal-hal memalukan.

“Dongyi-a!” lagi-lagi Donghyuk menyerukan nama itu bak pemeran dalam drama kolosal, ingin sekali Donghyuk tertawa geli, adegannya—dimana lengannya bergerak aktif menyingkirkan semua orang yang menghalangi jalannya—sekarang terlihat seolah ia mengejar cinta yang tak pernah terbalas.

Padahal ia hanya sedang mencari—

“Kakak!” jeritan beroktaf tinggi itu mengalihkan perhatian Donghyuk, ditatapnya sang gadis kecil yang mengenakan sweater oranye sama persis dengan miliknya—jangan sejarah sweater kembar itu, ibunya sengaja meminta mereka memakai baju kembar supaya salah satu dari mereka tidak hilang di jalan—kini melambai-lambai dari gendongan punggung seorang pemuda jangkung.

Oh! Tentu saja, Dongyi itu gadis usil yang centil, dia jelas tahu cara membedakan mana orang yang tampan dan tidak.

“Kak, maaf, jadi merepotkan, adikku memang sering berkeliaran tidak tentu.” Donghyuk mulai meracau, sementara sang pemuda hanya tersenyum simpul, pembicaraan seorang bocah kelas tiga sekolah menengah yang kehilangan adik berusia delapan tahun tentu saja menggelikan di matanya.

“Tidak apa-apa, tadi aku dipesankan untuk menjemput kalian berdua kalau rehearsalnya sudah selesai.” Pemuda jangkung tersebut—Johnny—berucap kalem.

Memang sih, Johnny tetangga sebelah rumah yang seringkali mendapat ‘titipan’ berupa dua bocah di bawah umur. Herannya, Johnny sepertinya senang juga menghadapi keanehan dua bocah—Donghyuk dihitung bocah juga kan?—yang dititipkan padanya.

“Ah, kebetulan sekali!” Donghyuk melompat kegirangan, inilah yang ditunggunya, kabur dari rehearsal membosankan di tengah panasnya gedung.

“Mau kufoto bersama Dongyi?” tawar Johnny, memamerkan sebuah kamera go-pro miliknya, topi oranye yang tadi dikenakan Dongyi entah sejak kapan sudah bertengger di kepala sang pemuda, sementara bocah pembuat ulah itu sudah turun dari gendongan.

“Aku mau! Aku mau difoto!” Dongyi mencicit dengan menyebalkan, membuat Donghyuk ingin menggerutu.

“Dongyi-a, berdiri di sebelah Kak Donghyuk oke?” ujar Johnny.

Lekas sang gadis menurut—karena Johnny yang bicara—ia lantas berdiri dengan patuh di sebelah Donghyuk. Sepandai-pandainya Donghyuk berpose, masih lebih pandai sang gadis kecil di sebelahnya. Terbukti dengan bagaimana Johnny beberapa kali mengklik go-pro miliknya sementara Dongyi dengan cepat berganti pose.

“Aku juga mau! Sini, aku foto Kak Johnny sama Kak Donghyuk!” Dongyi mengulurkan lengan pendeknya ke arah Johnny, diiringi sebuah senyum cerah tidak berdosa.

“Kak, tidak usah, ayo kita pulang—”

“Ini, nanti kalau mau foto, tekan yang ini, ya.” Johnny malah dengan antusias mengajari Dongyi cara menggunakan benda mungil itu.

Donghyuk jamin nanti di rumah, Dongyi akan menuntut sebuah go-pro pada ibu mereka.

“Ayo cepat, Kak!” lengan pendek Dongyi sekarang mendorong Donghyuk.

Mau tak mau, Donghyuk menurut juga, daripada Dongyi makin menyebalkan.

“Kak, jangan pose sok imut, ya!” sempat-sempatnya Dongyi berteriak saat ia sudah akan mengambil foto.

Kesal pada sang adik, Donghyuk akhirnya melingkarkan lengannya di pinggang Johnny—yang dengan kalemnya hanya memasang senyum—sementara ia sendiri tersenyum lebar.

Klik.

“Wah!” Dongyi menjerit tinggi, senyum lebar terpasang di wajahnya, membuat Donghyuk merasa bingung.

Dia baru saja berpose sok imut, kenapa Dongyi tidak kesal?

“Keren sekali! Kak Johnny sama Kak Donghyuk yaoi, ya?”

Sialan.

Inilah ajaran sesat yang Mark ajarkan pada adiknya.

“Kak Donghyuk, lihat! Kakak uke, kan?”

Menahan malu, Donghyuk lekas berlari ke arah adiknya—yang baru saja meneriakkan dua kalimat mematikan sekaligus memalukan.

“Dongyi!”

Tertuduh ‘yaoi’ satunya malah terkekeh, ia dengan santai menarik Dongyi dalam gendongan sebelum melirik Donghyuk dengan senyum jahil.

“Sudahlah, dituduh yaoi sesekali juga tidak apa-apa, lagipula, Dongyi masih anak-anak, siapa yang akan percaya ucapannya, sih.”

Duh, Johnny tidak tahu saja bagaimana mulut anak sekolah jaman sekarang.

Jangan salahkan Donghyuk yang berpose imut, salahkan Mark yang menanamkan ajaran sesat!

_ _ _

[2nd]

“Selamat atas kelulusan dan prestasimu. Ayo, sekarang genggam tanganku, lalu kita terjun bersama.”

Tadinya aku pikir, menjadi juara umum satu angkatan saat kelulusan tiba adalah hal yang paling luar biasa mengagumkan, hal yang teramat langka bagiku untuk mendapatkan sesuatu yang selalu diimpi-impikan kebanyakan murid pada umumnya, apalagi orang-orang mengetahui bahwa aku ini adalah murid pindahan baru setahun yang lalu. Padahal, prestasiku selama kelas satu, pun kelas dua dulu biasa-biasa saja, tidak terlalu mencolok.

Pemikiran membanggakan dan ambisiku tentang ‘harus mendapatkan juara umum saat kelulusan di sekolah baruku’ selama ini ternyata; salah besar. Aku malah bertemu sebuah malapetaka yang seakan tengah bertarung dalam batin dan benak, terjebak, ingin memberontak namun tak berdaya—sejak aku mengenalnya kala itu.

Namanya; Lee Donghyuk. Aku kenal Donghyuk sejak hari di mana pertama kali tungkaiku menjejaki kelas yang dihuninya, ia duduk sendirian saat itu di buntut kelas—bangku paling belakang pojok kanan. Kemudian disuruhlah aku duduk di bangku sebelah mejanya yang kosong oleh wali kelas baruku. Alhasil, kami berdua sering bertukar cakap soal pelajaran karena tak jarang disatukelompokkan untuk mengerjakan tugas bersama.

Lambat laun mengarungi samudra waktu, kami berdua pun menjadi akrab secara alami selama satu tahun pengajaran. Ia anak yang rajin dalam belajar; makanya ia pintar. Dan berteman dengannya sedikit-banyak membuatku tak sengaja tertular akan kepintarannya, hingga aku bisa jadi anak yang berprestasi seperti sekarang ini. Aku juga tahu kalau ia mempunyai suatu kelebihan lain; ia bisa berbicara dengan sosok kasat mata. Tentu saja ia yang bercerita kepadaku. Yah, kukira itu adalah hal yang biasa dan wajar bagi seorang indigo seperti Donghyuk. Namun … sebuah kejanggalan yang telah lama terpendam akhirnya terbongkar juga sekarang. Dia sinting.

Kepalaku mengangguk pelan, sudut bibirku terangkat dengan sendirinya untuk merespon ucapannya, namun sumpah! Aku ingin sekali menggeleng kuat-kuat dan berteriak ‘tidak’ untuk menolaknya!, tapi aku tidak bisa!

Seseorang, siapapun, tolong aku!

“Kak Rein, kau, ‘kan, sekarang sudah senang telah bisa merasakan berbicara di hadapan banyak orang, di atas podium dengan bangga—karena jadi juara umum satu angkatan di sekolah ini melalui tubuh teman baikku. Ia mendapatkan juara umum juga berkat bantuanku, omong-omong. Jadi sekarang, giliran permintaanku atas kesepakatan yang pernah kita buat setahun lalu, yang harus kaupenuhi, Kak. Yaitu; mengizinkanku untuk menyusulmu.”

Apa? Teman baik katanya?! Teman waras macam apa yang memaksa teman baiknya sendiri untuk diajak terjun bebas dari atas gedung tinggi ini?!

Donghyuk tengah berbicara dengan siapa, aku pun tak tahu? Karena, lihatlah, di atap gedung ini hanya ada presensiku dan dirinya yang sedang menatap ketinggian juga ragam oranye langit sore. Aku terjebak! Mencoba memberontak namun tidak bisa jika hal ini sedang terjadi! Ini bukan diriku!, ada orang lain yang mengendalikan ragaku, Dia!—yang disebut namanya oleh Donghyuk, mengambil paksa ragaku demi kepuasan batinnya di dunia!

“Kau tersenyum lagi padaku, apakah itu artinya permintaanku kau setujui, Kak?”

Sinting! Donghyuk benar-benar sudah gila! Aku Mikan! Bukan Rein! Hei, sadarlah bahwa Rein sudah tiada di dunia ini! Kakak kelas yang kaucintai itu sudah meninggal bunuh diri karena merasa gagal dalam menduduki juara umum di sekolah ini tahun lalu! Aku tahu tragedi tentang murid bunuh diri dari sekolah ini setahun silam, karena beritanya sudah cukup beredar luas hingga ke berbagai pelosok distrik. Dan sialnya saat aku pindah kemari, aku bertemu denganmu yang mencintai gadis bodoh sepertinya, Donghyuk!

“Jika itu yang kauinginkan, Donghyuk, dengan senang hati aku akan menerimanya.” Bibirku kembali menyeringai lebar. Tidak, itu bukan suaraku! Ini tidak benar! Aku tidak ingin mati bersama kalian! Tidak!

Donghyuk menengadahkan sebelah tangannya di hadapanku, kontan sebelah tanganku menyapa miliknya hingga tautan kami bersua. Kakiku dan kakinya pun berjalan perlahan mendekati batas gedung, … hanya tinggal menghitung detik, takdir hidupku akan dibawa pada ujung kematian yang tak pernah kuduga sebelumnya. Kisah kelulusanku yang sungguh malang dihantam malapetaka. Harusnya aku berbahagia sekarang, masih dengan polesan make-up yang bertengger rapi di wajah, pun bunga penghargaan kelulusan yang masih kugenggam sebagai tanda bahwa akulah senternya, bukannya malah terbelenggu dalam ikatan dunia dimensi lain yang hanya Donghyuklah yang mengerti isinya.

Ya. Memang benar bahwa akulah senternya sekarang, senter untuk dijadikan tumbal pengiring bunuh diri Donghyuk.

_ _ _

[3rd]

Lee Donghyuk bukanlah satu-satunya orang yang terjebak dalam aula utama sekolah. Perawakan ringkih itu masih menatap kerumunan siswa dari balik dinding kaca di ruangan besar itu seorang diri. Mencoba sembunyikan presensinya dari siapapun.

Bukannya tidak ingin bergabung, hanya saja Donghyuk bukanlah bagian dari mereka. Gelak tawa dan ekspresi bahagia tak dapat ditutupi pada wajah-wajah yang kini telah menuntaskan kewajiban pendidikan di sekolah itu; lalu melanjutkannya ke jenjang yang lebih tinggi.

Dengan gerakan perlahan namun pasti, Donghyuk membawa langkahnya menjauh dari sana. Menuntunnya pada sebuah gedung tua yang lokasinya berjarak sekitar seratus meter dari gedung sekolah utama. Sebuah gedung kosong yang biasa ia gunakan sebagai tempat membunuh waktu luang.

“Donghyuk.”

Desau angin membawa bariton lembut itu sampai bertandang ke gendang telinga Donghyuk. Na Jaemin, teman satu kelasnya, sekonyong-konyong berdiri rikuh.

“Tidak seharusnya kau di sini, Jae. Kau akan terlambat ke upacara pelepasan.” Sergah Donghyuk, memperhatikan Jaemin menghampiri dirinya yang masih bergeming.

“Aku mana mungkin membiarkan sahabatku sendirian seperti ini. Kau kenapa melarikan diri? Tidak mau bergabung?”

“Karena aku bukan bagian dari mereka.”

Jaemin sejurus membungkam, mengawasi pemuda di hadapannya dalam diam.

“Aku gagal lagi, Jae. Mungkin seorang idiot sepertiku takkan pernah bisa lulus ujian.”

Donghyuk menyeringai, membuat sebuah kurva asimetris terpeta di wajahnya.

“Jaemin-ah, kita bersahabat, kan?”

“Tentu, kenapa tindak-tandukmu tiba-tiba aneh begini?”

Siapapun, tolong ingatkan orangtua Donghyuk—agar mendidiknya dengan baik—untuk tidak membawa benda yang tidak ada sangkut pautnya dengan urusan sekolah. Karena sekarang ia tengah menggenggam sebilah pisau lipat yang disembunyikan di saku celananya. Dan menancapkan logam pipih tersebut pada perut Jaemin yang membuat bocah itu terkapar bersimbah darah.

“Kalau kau bilang dirimu sahabatku, seharusnya kau tidak lulus duluan, Jaemin-ah.”

_ _ _

[4th]

Sebenarnya Donghyuk itu masuk dalam jenis orang yang susah sekali diajak serius. Bisa dibilang apa-apa selalu dianggap sebuah lelucon. Bentakan guru Kang saja dia tanggapi dengan cekikikan—pun, berakhir dengan dikeluarkannya Donghyuk dari kelas fisika selama dua jam penuh. Amarah guru Lee dia balas dengan gombalan super murahan tapi, sepertinya pengecualian untuk hari ini.

Karna hari ini, tepat saat kelulusan kami satu angkatan. Kali pertama aku melihat sosok Lee Donghyuk berubah menjadi serius. Tanpa cengengesan menyebalkan ala Donghyuk yang biasanya dia tampilkan sehabis mengerjai teman maupun guru.

Dia berjalan dari podium setelah memberikan pidato pendek akan keberhasilannya meraih peringkat tiga paralel dalam satu angkatan sekolah. Sangat jauh sekali dibanding aku yang hanya meraih peringkat tujuh dalam satu kelas. Langkahnya makin lama makin mendekatiku, sial. Kenapa aku jadi salah tingkah begini?

Apalagi saat—

“El?”

Tidak, Hyuk. Berdiri jangan berlutut di hadapanku seperti ini. Gila, mau dikemanakan mukaku ini.

“Li-el.”

Ya Tuhan, jangan juga kau menggenggam tanganku bodoh! Lihat semua orang jadi menyoraki.

“Ei, jangan halangi mukamu tolong. Kalau begini bagaimana bisa aku menyawang wajahmu coba? Tsk!’

DEMI CELANA DALAM SQUIDWARD YANG TAK PERNAH DIPAKAI APA YANG HARUS AKU LAKUKAAN.

“Aku tahu, mungkin kamu agak terganggu dengan ini. Tapi, demi apapun aku sudah tak tahan El. Asal kamu tahu. Aku sudah nyaris dua tahun menahan ini. Semenjak kejadian dua tahun lalu, oh aku tak mau menceritakannya di sini nanti malah aku sendiri yang malu. Tapi yang pasti dengan ini aku menyatakan bahwa Kim Donghyuk menyu—maksudku mencintai Li-el. Mau tidak menjadi—YA AMPUN EL!”

Jangan tertawakan aku tapi, ya, aku pingsan saat itu juga.

-Fin.

Selamat Ulang Tahun untuk uri Donghyuk! ❤

Advertisements

10 thoughts on “[Ficlet-Mix] Gaudeamus igitur (1)

  1. BENTAR………DON NUMPANG NGAKAK DULU HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA NGAKAK SENGAKAK NGAKAKNYA SAMPE KE PELUKAN MAMAZ DONGHYUK KYAAAAAAA TABOK DON SEKARANG TABOK!

    OKE FIRST FICLET, KUKIRA INI ADALAH ULAH KAKRISH YANG….YANG….HUAHAHAHAHAAAAWUANJAYYYY YAOI DEMI APA LAWAQ BANGET DAH HAHAHAHAHAHAHAAHAHAHA. TERUS FICLET KEDUA…KABER…..HOROR ANJAY..ANJU………DONGHYUK MO MATI….SINI SAMA AKU AJA…..KETIGA……INI PASTI KAK EKA…………BTW MEMBUNUH SAHABAT SENDIRI ITU LEBIH KRIPI KAK SERIUS DEH SERIUS……..KUGAMAU MEMBAYANGKAN…..KEEMPAT….MBA ULANG……BTW SQUIDWARD PUNYA CELANA DALEM YHA??????!!!!!! ANJUUU BARU SADAR JUGA DOI GA PERNAH PAKE CELANA DALEM BHAAAAKKK

    Like

  2. HWEEEE UDAH AKU BACA SEMUA YA AMPUN KEREN PARAH GYAAAA
    Karena lely sedang luput jadi maaf apabila di komen nama authornya ketuker /apa sih/
    (1) ughh dongyi ucul ngetzz minta ditabok… aku gemes kalo ya kalo sampe punya adek macem dia. Kenapa sih harus mark yg jadi kambing hitam? Kenapa kakrish kenapaaaaa???
    (2) ini kerjaan kakber bukan sih?? Ehhh sumpah obsesinya rein gede banget pasti dia dpt tekanan dr ortunya macem kwon soo ah /siapa tuh/ KEREN BANGET KAK BER SERIUSAAANN
    (3) donghyuck rusuh iri lo ama jaemin krn dia lulus duluan??? Kzl deh kzl jaeminku mati konyol 😦
    (4) jangankan pingsan, kalo aku jadi Li-el udah kejang kali aku :’v aib deh nembak pas kelulusan XD

    Like

  3. AKU UDAH BACA TAPI IMANKU GAK KUAT BUAT GAK MENGUMPAT XD XD XD XD INI KENAPA AKU ABIS BACA YANG KEDUA BERBAPER RIA, PINDAH SINI JADI NGEKEK CEM ORGIL?

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s