[Ficlet-Mix] Gaudeamus igitur (2)

dong bd

Gaudeamus igitur

a ficlet-mix by Angelina Triaf; Febby Fatma; Mingi Kumiko; thehunlulu

[NCT] Lee Donghyuk

Genre : Hurt/Comfort, Friendship, Slice of Life, Surrealism | Duration : Ficlet-Mix | Rating : PG-13

© 2016

_ _ _ _ _

Bagian dua dari dua.

_ _ _ _ _

[1st]

Hai Yuki, apa kabarmu?

Apakah ada secuil memori yang masih kau ingat perihal pertemuan kita tiga tahun yang lalu? Apakah kebahagiaan senantiasa berjalan beriringan denganmu?

Hari itu telah tiba, Yuki, hari kelulusan yang kerap kali kunantikan selama tiga tahun terakhir. Hari ini, iringan lagu perpisahan sayup-sayup menjalar ke dalam runguku, membekukan kedua tungkai ini untuk melangkah menuju aula dan bertatap muka dengan teman-teman. Tawa bahagia serta kedua mata yang berbinar tampak jelas mendominasi seluruh paras yang berkumpul di sini. Namun lain halnya denganku, aku justru membuang muka, enggan tenggelam dalam lautan sukacita yang mereka rasakan.

Aku terduduk, diam seribu bahasa kendati teman-teman kita sibuk bercengkerama satu sama lain. Dengan serumpun bunga yang semerbak harumnya sedikit menaikkan mood-ku, diam-diam aku mendongak dan menatap kehadiran orang tua siswa yang tengah menyaksikan upacara kelulusan buah hatinya dari balkon yang berada di lantai dua. Kutilik mereka satu per satu kemudian mengerjap sesekali, lantas menemukan sosok ibumu yang menangis haru di antara keramaian—menciut di tempat terpojok dengan salah satu tangannya yang menutup separuh wajahnya dengan sapu tangan. Tapi, di manakah dirimu, Yuki?

“Lee Donghyuk!”

Pandanganku beralih beberapa sekon setelah namaku menggema, Kepala Sekolah tersenyum tulus kala kujejakkan kedua kakiku ke atas panggung perpisahan dengan serumpun bunga berwarna kemerahan yang masih tersemat apik di antara jemariku. Namun tiba-tiba sebuah insting memberiku dorongan untuk terdiam di tempat—menyisakan jarak antara diriku dan dirimu.

“Yuki…” Senyuman kecut kelewat sinis tak sengaja terpancar dari wajahku. Memicingmu melalui ekor mata agaknya sudah membuat hatiku sesak, seakan ikut merasakan penderitaan yang kau alami beberapa bulan belakangan.

Alunan melodi masih tetap berjalan sebagaimana mestinya, dan sekarang giliran namamu yang menggema di seluruh penjuru aula. Seketika senyumanku yang perlahan terangkat mendadak urung kala kedua tanganmu memacu kursi roda; membawamu melenggang pergi tanpa menghiraukan eksistensiku. Bunga-bunga dalam genggamanku bergoyang samar merasakan angin yang mengekori sekelebat tubuhmu yang tiba-tiba saja lupa akan kehadiran diriku.

Ternyata seperti ini ya, rasanya. Kenangan yang berhasil kita ciptakan selama tiga tahun ini tak senantiasa membuat kita berdua bernostalgia saat melewati upacara kelulusan seperti sekarang. Kenyataan memang benar adanya; lebih pahit dari sesapan kopi yang tak sengaja kuminum saat kencan pertama kita. Kenyataan di mana kau justru melupakanku tanpa rencana, ditambah dengan waktu yang cukup dini untuk menghadapi semua itu.

Walaupun begitu, aku tetap berdiri di sini, menyapu bersih seisi aula dan terpekur menatap punggungmu yang sedikit membungkuk di atas kursi roda. Sematan senyum yang berlabuh pada parasmu memperkukuh pertahananku; melupakan segala sesak karena kau sudah tak lagi ingat akan diriku. Dengan bantuan beberapa selang penunjang kesempatan hidupmu, kau memaksakan diri untuk tersenyum—walaupun senyuman itu tak kau tujukan untukku secara pribadi.

Kemudian kau berbalik setelah berjabat tangan dengan Kepala Sekolah, mengucapkan ‘terima kasih’ walau tak terlalu kentara. Setelahnya, kau sedikit mempercepat laju kursi rodamu untuk berjalan berlawanan arah denganku yang masih termenung canggung. Namun demikian, aku tidak berekspektasi terlampau tinggi akan kesadaranmu untuk bertegur sapa denganku. Sembari menempatkan buku kelulusan di atas pangkuanmu, samar-samar kudapati bulir air mata yang menggenang di pelupukmu. Entah kau hendak terisak akan upacara kelulusan yang sebentar lagi akan berakhir, atau tentang dirimu yang sejatinya tak mengingat tentang apa yang selama ini kau alami di masa-masa sekolah menengah atas. Semuanya terlihat kabur. Benar, kan, Yuki?

Tiga tahun berlalu, dan hari ini saatnya kita mengucapkan setutur kata perpisahan. Kau juga pasti ingin mengucapkan hal itu, bukan?

Selamat hari kelulusan, Yuki. Walaupun kelulusan identik dengan berakhirnya sebuah masa, namun kuharap aku tidak akan pernah lulus mencintaimu. Jangan lupa berikan remedial jika aku tidak mencintaimu dengan benar, ya?

_ _ _

[2nd]

Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua

Yang terhormat Ibu Kepala Dinas Pendidikan Kota Seoul atau yang mewakili,
Yang terhormat Bapak Kepala Neo Culture Technology School, Drs. Moon Tae Il, M.T.
Yang terhormat Ketua Komite Neo Culture Technology School,
Yang terhormat Bapak/Ibu Guru dan Karyawan Neo Culture Technology School,
Yang terhormat Bapak/Ibu Orang Tua/Wali Siswa angkatan XX Neo Culture Technology School,

Yang saya cintai teman-teman angkatan XX Neo Culture Technology School serta seluruh tamu undangan yang berbahagia.

Para hadirin yang berbahagia, izinkan saya, Dong Hyuk, mewakili teman-teman saya untuk menyampaikan untaian kata perpisahan.

Jika kita flashback sejenak, 2 Maret 2016 merupakan langkah awal perjalanan kami di Neo Culture Technology School. Upacara penerimaan siswa baru, ketemu dan foto bareng gebetan pertama kali, pramuka wajib pertama kali, serta sekian ribu kenangan yang terukir selama bersekolah di Neo Culture Technology School tercinta ini.

Para hadirin yang kami hormati,

Akhirnya tak terasa kami memasuki tahun ketiga. Tahun yang mendebarkan bagi kami, karena di tahun inilah kelulusan kami dipertaruhkan. Meskipun kini ujian nasional tidak lagi menjadi syarat kelulusan, namun rasa mendebarkan itu tetap tak bisa kami tahan. Kami harus berpisah dengan teman-teman untuk kedua kalinya.

Selain dengan teman-teman, kali ini perpisahan itu juga terjadi antara kami, angkatan XX dengan segenap guru, karyawan, serta lingkungan Neo Culture Technology School. Kami akan berpisah dengan kelas-kelas yang menjadi saksi bisu kami bermain Need for Speed dan Alien Shooter ketika jam kosong atau bahkan ketika bapak/ibu guru mengajar, berpisah pula dengan kopsis, kantin, kamar mandi, dan lapangan yang sering menjadi jujukan kami ketika bosan dengan pelajaran di kelas, serta berpisah pula dengan seluruh kenangan kami, selama di Neo Culture Technology School ini.

Karena itu, sebelum perpisahan kita terjadi, izinkanlah saya selaku pribadi dan mewakili 300 rekan seangkatan XX, mengucapkan terima kasih dan mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh civitas akademika Neo Culture Technology School, ayah dan ibu atau wali siswa yang selalu dan tidak bosan-bosannya membimbing dan mengasuh kami di rumah, bapak/ibu guru yang dengan ikhlas mendidik kami namun sering kami buat jengkel, teman-teman sebangku yang baik dan ramah tapi sering kami usili atau kami sembunyikan botol minumnya atau bahkan sepatunya, serta tak lupa adik-adik kelas yang santun dan unyu-unyu, namun sering kami jahili di ekstrakurikuler atau kepanitiaan.

Selain itu kami juga mengucapkan terima kasih dan mohon maaf kepada mantan-mantan kami yang sudah kami khianati (meskipun beberapa ada yang justru mengkhianati kami), gebetan-gebetan kami yang belum kesampaian, Mas Yuta kopsis, Om Johnny kantin Darma Wanita, Kang Doyoung yang tak pernah lelah membereskan dan mencuci piring yang telah seenaknya kami tinggal di meja kantin, dan ibu-bapak kantin yang lain, yang sering kami ganggu sewaktu beliau menjuali kami, bahkan untuk beliau yang datang pagi-pagi sebelum pembelajaran dimulai; Pak Ten dan Pak Taeyong yang dengan setia membersihkan halaman kelas kami, Pak Hansol, Pak Kun, dan bapak-bapak satpam yang lain yang tidak bosan-bosan mengingatkan bahwa kelas akan dikunci namun kami tetap membandel bermain game di kelas dengan alasan mengerjakan tugas, dan lain-lain yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.

Hadirin yang kami muliakan,

Kami juga memohon doa restu kepada seluruh civitas akademika Neo Culture Technology School. Dunia perkuliahan dan dunia kerja akan segera menjadi destinasi selanjutnya di kehidupan kami. Dunia yang akan lebih keras menempa kami sebagai manusia dewasa. Dunia yang baru bagi kami, namun telah dengan sukses bapak ibu lalui. Oleh karena itu, kami selaku calon alumni Neo Culture Technology School, memohon selalu bimbingan dari bapak ibu semuanya meskipun kami sudah tidak lagi menjadi siswa Neo Culture Technology School. Agar kami senantiasa teguh dengan segala halang rintang yang ada pada alur kehidupan kami selanjutnya. Agar kelak bisa membanggakan orang tua, bapak ibu guru, serta tentunya almamater Neo Culture Technology, sesuai dengan butir ke-4 panca prasetya siswa, berprestasi dan selalu menjunjung tinggi almamater Neo Culture Technology School.

Pesan kami untuk adik-adik, tingkatkan selalu prestasi yang sudah kami raih maupun yang belum kami raih. Jaga tradisi-tradisi yang baik yang kami bagi kepada adik-adik, dan buang segala ajaran dan doktrin kami yang buruk yang dapat merusak harkat dan martabat almamater kita tercinta.

Terima kasih dan mohon maaf, selamat pagi, dan salam sejahtera.

_ _ _

[3rd]

Ada satu pertanyaan yang selalu terlintas di kepala ketika pikiran tentang hari kelulusan menyeruak masuk dan memenuhi setiap ruang disana. Satu pertanyaan bercabang banyak.

“Bagaimana?”

Bagaimana nanti saat aku lulus? Bagaimana nasib pertamananku dengan kawan satu kelas ini? Bagaimana nanti aku memulai kehidupan baru di sekolah baru? Bagaimana aku bisa mendapat seorang teman lagi? Dan masih banyak bagaimana yang lainnya.

Aku tidak tahu seperti apa pandangan kawan-kawanku tentang hari kelulusan kami nanti, tapi sekarang dapat kurasa berbagai macam perasaan. Khawatir. Sedih. Senang. Tidak sabar. Takut pula. Semua seperti sejenis cairan yang masuk ke dalam lambungku dan teraduk-aduk di dalam perut. Membuatku terkadang merasa seperti ada ribuah kupu-kupu di dalam sana, atau kadang mual.

Jujur saja, hari kelulusan itu adalah tujuanku. Saat aku menerima toga dan bisa melanjut pada jenjang yang lebih tinggi. Aku menantikan saat bisa masuk sekolah lanjutan impianku. Menantikan setiap langkah yang sudah kuatur sedemikian rupa untuk terwujud. Tapi,

Ah, sekali lagi aku terganggu dengan kata ‘bagaimana’ tadi.

Aku pasti akan sangat merindukan suasana kelasku, kawan-kawanku, bel istirahat, pelajaran kosong, gosip-gosip, bel pulang sekolah yang dilanjut dengan pergi karaoke, juga canda tawa di kelas dan—oh, jangan lupakan saat class meeting, itu adalah saat-saat paling berkesan yang tersimpan di brankas memoriku. Saat kami bersatu demi sebuah piala bergilir yang dijanjikan sekolah terpajang di kelas sepajang semester. Aku takut merindukan hal semacam itu—yang aku tahu pasti akan aku temui juga di sekolah baruku nanti.

Haha, tertawalah. Kenyataannya memang lucu mengetahui remaja laki-laki sepertiku mengkhawatirkan hal semacam itu. Kebanyakan laki-laki mungkin tidak akan perduli hal semacam ini, tapi aku perduli. Mungkin teman sekelasku perduli.

“Hey! Kenapa melamun?”

“Oh, Chanhee. Kapan kau kembali? Bukannya tadi Guru Taeyeon memanggilmu?”

“Aku sudah duduk disini sejak semenit lalu—mungkin. Ada apa? Kau punya masalah? Wajahmu seram tahu!”

Kadang aku berpikir bisakah aku dapat teman seperti Chanhee lagi nanti? Bisakah aku mendapat hal yang kudapat di sekolah ini? Bisakah?

Aku sadar betul diriku bukanlah orang yang sulit bergaul, bahkan pertamananku dengan Chanhee bermula saat aku belum memasuki gerbang sekolah ini. Singkat cerita, aku dan Chanhee sama-sama datang telat di hari pertama dan kami tertahan di luar gerbang sekolah sampai upacara penerimaan murid baru selesai, setelahnya kami menjalani hukuman bersama tanpa tahu kalau sebenarnya kami ada di kelas yang sama. Kebetulan dan keberuntungan, kalau kata Chanhee.

Kami ada di kelas yang sama selama tiga tahun dan di tahun terakhir aku—Chanhee juga—termasuk murid beruntung karena ada di kelas unggulan. Kelas hebat yang membuatku punya banyak hal untuk dikenang suatu saat nanti.

“Lee Dong-hyuk.”

“Apa?”

“Kau kenapa? Kalau kau diam dan melamun seperti itu rasanya aneh. Tidak cocok dengan imej-mu.”

“Imej apa? Memang aku seperti apa?”

“Setidaknya di mataku kau itu seperti orang gila yang pura-pura waras.”

“Sialan!”

Dia tertawa, membangkitkan suasana seperti sebelum-sebelumnya.

Tapi, kutuk saja diriku. Sumpah serapahpun tak masalah.

Karena tawanya hilang beberapa detik kemudian. Karena aku yang justru merasa sesak kala menatapnya tertawa, suara renyah yang dihasilkan pita suara Chanhee hilang sudah.

“Ada apa, sih? Tidak biasanya kau seperti ini.”

“Kang Chan-hee.”

Hmm?”

“Habis lulus dari sini kau akan kemana?”

“Kemana? Tentu saja menjutkan masuk sekolah lanjutan. Kenapa memang?”

“Tidak. Hanya penasaran.”

Dia menatapku. Memperhatikan lebih tepatnya.

“Jangan bilang dari tadi kau sedang memikirkan hari kelulusan nanti. Kau khawatir tentang itu?”

“Tidak.”

“Bohong! Kau memikirkannya.”

“Kubilang, tidak.”

“Aku tahu kau Lee Dong-hyuk. Kau tidak bisa berbohong padaku.” Dan itu berlaku sebaliknya. “Cih, ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba jadi mellow-drama seperti ini? Bukan seperti Kim Dong-hyuk yang biasa kukenal.”

“Makanya aku bilang, tidak!”

“Makanya aku bilang, kau bohong.” Dia merangkulku. “Lagi pula apa yang kau khawatirkan? Takut tidak dapat teman? Itu tidak mungkin! Orang sepertimu pasti dapat teman. Aku berani bertaruh, kalau sampai seorang Kim Dong-hyuk tidak dapat teman, Seoul akan dilanda gempa sepuluh skala richter.”

“Hati-hati kalau bicara. Kau pikir gempa sepuluh skala richter itu kecil?”

“Setidaknya gempa itu bisa mengumpulkan semua orang pada satu tempat dan barang kali kau bisa dapat teman saat itu. Atau mungkin kita akan bertemu lagi di penampungan korban nanti.”

Dan seperti itulah keseharianku di sekolah ini. Kelas yang berisik. Ocehan Chanhee. Omelan guru. Aku akan benar-benar akan merindukan saat-saat seperti ini.

Ah, mungkin aku harus mewujudkan taruhan Chanhee tadi. Dengan begitu aku bisa bertemu seseorang yang sama sepertiku, sama seperti Chanhee untukku.

_ _ _

[4th]

Terukir kisah ketika langkah menginjak remaja. Hari pertama pastilah selalu membawa kesan baik di mata tiap khalayak. Seperti ketika sebuah pandangan terbentuk lewat benang takdir yang membawa kita menuju sebuah masa depan. Menulis kenangan di atas secarik kertas, tiga tahun memang bukanlah waktu yang terlampau panjang namun juga bukan perkara sebentar.

Kesan pertama, memang benar itu membawa sebuah sihir tersendiri dalam hidup. Seperti ucapan cinta walau mulut tak saling bicara. Seperti pengandaian perkenalan singkat meski tak ada saling ungkap dalam berucap.

Hal sederhana ini hanya tentang sebuah pertemuan singkat. Berkenalan dalam sebuah melodi indah lantas menjadi nyaman satu sama lain karenanya. Memori yang dibuat seperti tiga kali mekar sakura yang sering ia lihat melalui jendela. Oh, ia terlihat menawan jika sedang berdiam diri seperti itu.

“Hah, pelajaran hari ini menguras tenagaku.”

Ia selalu duduk di anak tangga kelima menuju panggung, menatapku dengan senyum walau nyatanya lelah bergelayut di atas pundaknya. Beban yang berat menjadi peringkat atas di sekolah, aku tahu rasanya. Itu memang menyenangkan sekaligus mengerikan.

“Bagaimana dengan harimu? Maksudku, Kim Seonsaeng memang terkadang menyebalkan. Mungkin karena faktor usia?”

Tak pernah terpikirkan olehku bahwa hidup akan menjadi seperti ini. Menjalani sesuatu yang monoton namun dirasa menyenangkan hanya karena kehadirannya sejak awal musim semi dua tahun lalu. Benar, seperti melodi yang sering kami mainkan dalam hening, kenangan ini amatlah berharga jika ditilik dari sudut pandang yang berbeda.

Berawal dari pertemuan rahasia, hingga kini aku harus sanggup mendengarnya mengucapkan kata-kata yang semestinya.

“Aku akan sangat merindukanmu. Kautahu, yang lain tak sehebat dirimu dalam memahamiku.”

Ia berjalan semakin dekat, dan aku sangat benci mengatakan hal ini tapi wajahnya menyiratkan kesedihan. Seperti akan kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya.

Tidak, aku tak seberharga itu untuknya. Ia sempurna, maksudku, apa yang bisa ia dapatkan dariku?

“Terima kasih untuk tiga tahun ini. Aku sangat menyayangimu.”

Satu tetes air mata yang kulihat di pipinya rasanya tak cukup membuatku untuk mudah melepasnya. Kelulusan memang menjadi awal dari segalanya. Tapi, tak bisa dipungkiri bahwa perasaan saling rindu itu akan terus menjadi bayang-bayang di hari yang cerah. Mentari tak mungkin berkata munafik tentang hilangnya sebuah eksistensi yang selalu mengikuti.

“Ah, apa aku menangis? Laki-laki macam apa aku ini, hehe.”

Sentuhan tangannya membuatku tak kuasa. Tenang saja, ini bukan untuk yang terakhir kali. Masih ada hari esok, saat dimana kami akan bersatu dalam harmoni untuk menghibur orang lain. Iya, menghibur orang lain dan bukannya hanya mencinta berdua dalam sepi.

“Besok panggung akan sangat meriah. Mari kita berikan penampilan yang terbaik di hari kelulusan!”

Senyuman terakhir untuk hari ini benar-benar tulus kurasakan. Aku akan merindukan figur memesona itu untuk masa yang akan datang.

“Sampai jumpa besok!”

Donghyuk, kuharap melodi yang kau buat itu tulus. Aku sangat senang dapat menemani dan membantumu selama tiga tahun terakhir ini.

Karena jujur, belum pernah ada pianis sehebat dirimu yang sanggup mengimbangiku.

-Fin.

Selamat Ulang Tahun untuk uri Donghyuk! ❤

Advertisements

10 thoughts on “[Ficlet-Mix] Gaudeamus igitur (2)

  1. AU AHH ga tau mau komen apa.
    Happy Birthday aja buat mas Dongdonghyuck nan gantengs ini. walopun telat ga papakan yak..
    Aku udah baca dua ficlet mixnya , dan yayaya aku suka semuanya..

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s