[Ficlet-Mix] Once in a Moon’s Dream (1)

Once in a moon's dream 1

Once in a Moon’s Dream

a ficlet-mix by Febby Fatma; imjustagirls; myungtae; thehunlulu

  [NCT] Moon Taeil
featuring [NCT] Johnny, Yuta, Hansol, Donghyuck, Taeyong

Genre : childhood, comedy, crime, friendship, horror, surreal | Duration : Ficlet-Mix | Rating : PG-17

© 2016

_ _ _ _ _

Tentang sebuah mimpi dan harapan yang hampir mengelupas dari ingatan.

Bagian satu dari dua.

_ _ _ _ _

 

[1st]

Pemuda Moon mengulum senyum—sejenis senyuman yang tidak begitu berlebihan—namun tetap mematri objek pengamatannya tepat pada kedua netra. Kala semilir angin berembus sepoi, sejenak tubuhnya ia hentikan beraktivitas guna mengemban pasokan oksigen untuk parunya. Jeda beberapa sekon berikutnya, tubuhnya sesekali meliuk dengan percaya diri; mencuri pandang pada sepasang insan yang menjadi sumber pengamatannya, kemudian tangan lihainya menggoreskan beberapa pola abstrak pada bentangan kavas berukuran persegi yang bersandar pada easel—papan penjepit kanvas—yang berdiri dengan kemiringan beberapa derajat di hadapannya.

Duduk pada salah satu kedai yang tak terlalu ramai memang membawa kesan tersendiri bagi pelukis andal seperti Taeil. Beralih memusatkan atensi pada palette dengan genangan warna dasar—merah, kuning, dan biru—yang tertuang sedikit lebih banyak dari warna lainnya, ia bersiap untuk membuat gradasi menggunakan cat minyaknya; perlahan dengan sedikit banyak profesionalisme yang tertanam dalam dirinya, beberapa goresan saja sudah menciptakan tatanan apik tanpa melenceng pada potret wanita yang dilukisnya. Seperempat lingkaran digoreskannya menggunakan kuas yang sedikit lebih kecil, lalu terciptalah sepotong pizza yang ujungnya terdapat bekas gigitan.

“Berhenti sebentar, Miss.” Taeil mencegah sopan, mengisyaratkan menggunakan salah satu tangannya untuk memberi peringatan pada seorang wanita yang setengah badannya baru tertoreh pada kanvas putih berbayang siluet Taeil.

Pemuda itu menggumamkan nada selaras dengan alunan melodi yang menjadi pusat kenyamanan mengapa pengunjung kafetaria di sepanjang jalan betah mendudukkan bokongnya di salah satu sudut kafe. Cuaca bisa dikatakan tidak terlalu panas, tidak pula terlalu dingin. Taeil dapat merasakan kehangatan pun angin sejuk yang tak jarang menerbangkan rambutnya yang tertutup flatcap khas pelukis yang selalu ia pakai.

Berburu objek di sepanjang jalan setapak Kota Paris memang tidak selalu menyenangkan. Pasalnya—walaupun ia sudah berbulan-bulan menjadi street painter di kota romantis semacam Paris—orang-orang di sini sedikit kurang bisa menjaga privasi diri mereka sendiri, apapun mereka lakukan di sepanjang jalan tanpa berakhir; bercumbu di tempat terbuka yang jelas Taeil sendiri gerah melihatnya. Well, mungkin lelaki itu masih menggendong segudang budaya Timur yang bertolak belakang dengan budaya Eropa—yang entah kenapa Taeil belum kunjung beradaptasi sepersen pun.

Bunyi gemeltuk sepatu pantofel milik satu-satunya pemuda Asia di tempat itu menandakan ia ingin segera angkat kaki dari sana. Tak menghiraukan desiran angin musim dingin yang mulai mengudara, kini tubuhnya sedikit merasakan panas yang menjalar perlahan. Namun ia adalah pelukis profesional, dan tidak akan mengalihkan presensinya dengan cara yang sungguh naif perkara objek lukisnya kali ini sudah melakukan aktivitas lain; berpelukan secara panas kemudian nyaris melakukan adegan tak senonoh di hadapan Taeil.

Pemuda itu merasa bosan. Ya, lingkup kafetaria memang tak terlalu ramai, itu yang membuat dirinya sedikit dilanda kebuntuan untuk menggoreskan objek lain pada kanvasnya. Jalanan tak berujung pun sudah ia rampungkan, begitu pula dengan huruf sekecil semut yang tertera pada banner kafetaria. Papan menu? Sudah pasti ia lukis secara mendetail, sampai-sampai pipa paralon yang menjulur dari atas bangunan pun sudah tercetak sebagaimana mestinya.

Namun Taeil merasa ada kekosongan pada objek lukisnya. Persetan dengan pelanggannya yang sudah berganti pose ratusan kali—jika Taeil boleh mengumpamakan—ia tak peduli. Toh yang terpenting sepasang insan itu sudah Taeil lukis sebagaimana mestinya; si lelaki memeluk mesra kekasihnya sedangkan si wanita mengunyah potongan pizza yang ada di dalam mulutnya. Seharusnya, Taeil sudah bisa angkat kaki dari tempat itu dan mengejar deadline-nya di Museum Louvre saat dirasa pekerjaannya sudah rampung.

Namun Taeil adalah tipe pemuda yang perasa, ia tak ingin begitu saja menyerahkan mahakaryanya sebelum kata hatinya mengatakan ‘cukup’ untuk hasil lukisannya. Maka dengan salah satu ujung bibirnya yang terangkat maksimal, otaknya menemukan ide cemerlang guna memberi kesan ‘ramai’ pada kanvas yang didominasi warna coklat miliknya.

Tak ada satupun yang tereliminasi dari kedua obsidiannya yang turut beredar pada seluruh penjuru, kemudian saat dirasa orang-orang tak memandang eksistensinya, barulah ia mengencangkan flatcap yang bertengger pada kepalanya. Tepat lima detik pemuda itu merogoh ransel miliknya, kemudian dengan sigap mengeluarkan sebuah kotak lukis dari dalamnya.

DOR! DOR! DOR!

Seluruh penjuru tiarap, pengecualian untuk target bidikan pemuda Moon itu. Simbahan darah muncrat kesana-kemari, mengalir keluar dari pagar kafetaria bak sungai kecil yang berwarna pekat—sepekat minuman wine yang sudah bercampur dengan enzim-enzim pencernaan milik korban.

Tak acuh, Taeil segera membongkar pasang pistol miliknya menggunakan kedua jarinya, hingga akhirnya berubah menjadi kuas sebagaimana mestinya. Penyamaran perdananya di tanah Eropa berjalan mulus.

“Mission complete,” gumam Taeil menahan kekehannya untuk mengudara.

Kali ini parasnya menampilkan kebahagiaan; menatap kerumunan orang yang menyaksikan jenazah sepasang insan yang terbujur kaku. Tak sedikit pula anak muda yang menelpon panggilan darurat dengan sangat amat gusar.

Namun Moon Taeil bertolak belakang; ia kembali menggoreskan cat minyaknya pada kanvas, menciptakan berpuluh-puluh objek baru yang menghiasi mahakaryanya. Tak lupa ia melukiskan ekspresi ketakutan dari sekian banyak manusia yang berkumpul, juga tatanan kursi yang terlempar kesana-kemari.

Inilah keramaian yang Taeil inginkan. Karena, Kota Paris tak selamanya berbuah romantis, berakhir tragis pun tetap membawa keanggunan tersendiri di mata Taeil.

“Moon Taeil? Berapa persen lukisanmu mendekati kata rampung?”

“Halo Bos, semua sudah tergores sempurna. Bisakah saya pergi ke Museum Louvre sekarang juga?”

“Baiklah, komisi ratusan ribu euro sudah menantimu.”

“Baik. Kalau begitu, saya akan segera datang menemui Anda.”

Pip!

Dan, impian Taeil pun terwujud; menjadi seniman lukis kelas internasional yang karyanya dipamerkan di museum berkelas, sekelas Museum Louvre yang menjadi ikon Kota Paris yang sungguh fenomenal.

-oOo-

[2nd]

Taeil merasa begitu sial hari ini.

Seharian ini merasa sial bukan main. Dimulai dari dompetnya yang tertinggal, lalu tugas Profesor Kim yang tidak sempat dia garap dan berujung dengan omelan si Profesor. Belum lagi kelakuan Hansol yang membuatnya harus mendekam di perpustakaan sampai malam. Dan yang terakhir—yang paling membuat Taeil merasa begitu sial—adalah saat Gerombolan Kurang Kerjaan yang diketuai Taeyong menyergapnya, menyeretnya menuju ruang Klub Literatur Korea demi membuat Taeil mendengar cerita seram.

Jadi sekarang; sekitar jam setengah satu malam, Taeil baru bisa keluar kampus. Tidak heran memang, mengingat kampusnya ini menyediakan program kuliah malam. Tapi—ayolah, ini tengah malam dan Taeil harus pulang sedirian!

“Sial! Kenapa pula di kota besar masih ada jalan yang seperti ini.”

Gelap tanpa adanya lampu jalanan. Toko-toko atau rumah yang ada di sepanjang jalan juga pelit listrik. Belum lagi kondisi jalan yang jelek dengan banyak bak sampah bau di beberapa titik. Menjengkelkan!

“Kalian tahu mitos Jalan Tikus Mati?” Taeil jadi teringat cerita Yuta tadi. “Katanya itu adalah jalan menuju dunia goib. Saat tengah malam akan ada satu jalan yang berubah asing, jadi seperti jalan desa tanpa penghuni, dan setiap orang yang melewatinya pasti akan tersesat. Tidak akan bisa pulang.”

Tiba-tiba Taeil bergidik. Bulu-bulunya meremang. Dalam hati Taeil menyumpahi Yuta agar bocah asal Osaka itu tersesat di jalan yang ia ceritakan sendiri.

Chit-chit.

“UWAA!”

Taeil melompat kaget saat ada tikus besar yang berlari dari satu bak sampah di kiri menuju lubang selokan di kanan jalan.

Secara otomatis otak Taeil mengulang lanjutan dari cerita Yuta tadi. “Di jalan itu tidak akan ada orang, yang ada hanya tikus. Tidak ada lampu yang menyala. Rumah-rumahnya tak berpenghuni. Pokoknya seram! Hati-hati kalau pulang malam. Pilih saja jalan besar yang ramai.”

“Kenapa Yuta tahu cerita seperti itu? Aku yang berasal dari kota ini saja tidak tahu.”

Gusar. Pikiran Taeil kini mulai kacau. Berbagai prasangka aneh mulai bertebaran di kepalanya. Di lain sisi Taeil mencoba menampik semua kemungkinan buruk yang mulai tersaji di kepalanya. Berusaha keras mempercayai jika apa yang Yuta katakan memang hanya mitos belaka.

“Tidak ada yang perlu kau percayai, Moon Taeil. Si Bodoh Yuta itu hanya mengarang. Mungkin Profesor Kang memintanya membuat essay dengan tema mitos horor dan dia ingin menjadikanku percobaan. Pasti begitu!

“Lagi pula, Yuta tidak akan tahu hal semacam itu. Kalaupun tahu, pasti aku juga tahu. Aku lahir dan besar di kota ini, tidak mungkin aku tidak tahu hal semacam itu.”

Kepalanya mengangguk setuju tapi senyum di wajahnya menunjukan ekspresi lain. Dia ketakutan!

“Bagaimana kalau Yuta benar? Bagaimana kalau ini adalah jalan yang dia katakan itu? Bagaimana kalau aku bertemu—”

“Denganku!”

“AAAAAAA—Do-Donghyuk?” Butuh sepuluh detik bagi Taeil untuk menormalkan nafas dan degup jantungnya. “Apa? Sedang apa kau di sini tengah malam?”

Bocah samping rumahnya itu tersenyum lebar. Pamer gigi. “Jalan-jalan. Aku suntuk di rumah. Taeil hyung sendiri, baru pulang?”

“Begitulah.”

“Malam sekali.”

“Aku dijebak orang aneh dan dihadang perkumpulan bocah gila tadi.”

“Aku tidak mengerti. Tapi sepertinya itu berat.”

Taeil membenarkan dalam diam. Dia bersyukur karena bertemu Donghyuk saat ini. Semua pikiran aneh di kepalanya musnah sudah dengan kehadiran anak tetangga ini.

“Donghyuk, kau tahu tentang Jalan Tikus Mati?” Bocah itu mengangguk. “Sungguh?”

“Iya. Itu jalan menuju dunia gaib.” Taeil mendengus kesal. Itu artinya Yuta lebih paham kota kelahirannya ini ketimbang Taeil sendiri. Rasanya cukup menjengkelkan. “Kenapa memangnya, hyung?”

“Hanya penasaran. Seberapa banyak yang kau tahu?”

“Sebatas yang orang-orang tahu.”

“Seperti?”

“Itu jalan menuju dunia gaib. Jalan aneh yang tiba-tiba muncul tanpa ada yang tahu. Jika ada yang melewatinya tidak akan pernah bisa kembali lagi. Banyak tikusnya. Ada satu orang penghuninya—”

“Tunggu! Satu orang penghuni?” Donghyuk kembali mengangguk. “Siapa? Hantu?”

“Bukan, dia bukan hantu. Dia yang menciptakan jalan itu. Pemelihara tikus-tikus di jalan itu.”

Taeil bergidik ngeri.

“Kau tahu dari mana?”

Ada sedikit jeda sebelum jawaban Donghyuk. Jeda yang membuat Taeil berkeringat dingin.

“Menurutmu bagaimana, hyung?”

Tiba-tiba banyak tikus datang ke arah mereka. Donghyuk di sampingnya tersenyum dan mengucapkan selamat datang. “Sekarang Taeil hyung akan jadi tikusku juga.”

Ada satu tikus besar yang naik ke wajahnya. Mencongkel keluar matanya tapi dengan santai Donghyuk kembali memasang mata itu pada tempatnya.

“Bagaimana hyung? Kau bisa melakukan hal tadi juga, loh.”

.

.

.

“Moon Taeil!”

Mata Taeil berkedip berkali-kali sebelum ia bisa mengenali sosok di hadapannya. “Hansol?”

“Iya. Kau mau tidur terus? Sudah hampir jam sembilan.”

“Kenapa baru membangunkanku? Bodoh! Ibuku bisa mengamuk.”

Dengan gerakan cepat Taeil membereskan barang-barangnya dan tergesah-gesah keluar perpustakaan. Tapi belum sempat sampai halaman depan kampus, Taeil dijegal oleh tiga junior paling kurang ajar yang ia sebut Gerombolan Kurang Kerjaan.

“Taeil hyung, ayo ikut kami.”

“Mau apa?”

“Yuta punya banyak cerita seram terbaru.”

“Ayo, hyung. Aku yakin kau pasti akan suka.”

Tanpa sempat menolak Taeil diseret menuju ruang Klub Literatur Korea. Saat itu juga; saat Yuta mati-matian memaksa Taeil untuk masuk, Taeil ingat sesuatu.

Rasanya ini tidak asing.

-oOo-

[3rd]

 

“Taeil nggak mau tidur!”

Sekoyongnya Taeyong langsung menyumpal mulut Taeil dengan kain serbet. Masa bodoh jika Taeil meronta-ronta lagian cerewet sekali. Baru juga Taeyong mau terlelap eh, bahkan Taeyong baru menutup mata. Harus kembali terbuka gara-gara teriakan Taeil yang—duh, nyaring sekali pokoknya!

Ditambah si bocah mendadak menggeser-geserkan diri menjauh dari Taeyong. Tentu saja membuat sang empunya ranjang didatangi tanda tanya. Taeil sedang menginap di rumah Taeyong ngomong-ngomong.

“Apa sih?!” Taeyong kesal bukan main. Jemarinya nyaris melemparkan Taeil guling kalau saja dia tak ingat, guling kesayangannya terlalu berharga untuk dijadikan korban.

“Mimpi buruk, nggak mau tidur lagi! Titik!”

“Memang Taeil mimpi apa?”

Ada jeda beberapa menit, si penjawab masih sibuk menggigiti lengan bajunya sendiri hingga sedikit basah. Baru setelah merasa rasa penasaran Taeyong semakin besar Taeil membuka mulut.

“Taeil bermimpi kalau kita berdua menikah.”

Taeil segera menelungkupkan diri.

Dan Taeyong semakin menjauhkan diri dari Taeil.

“Kalau begitu Taeyong nggak mau tidur juga! Sana jauh-jauh!”

-oOo-

[4th]

 

Tidak ada suasana yang lebih memilukan dari sebuah jerit tangis kehilangan. Ketika kau tersadar, bahwa seseorang yang kau sayangi pergi lebih dulu menjemput kebahagiaan abadi. Ketika seseorang yang selalu ada di sisimu, pergi meninggalkanmu ke tempat yang paling sejati.

Desauan angin ibarat pengiring nada pilu untuk setiap tetes air mata yang jatuh. Ketika seluruh lapisan bumi ikut menyatakan rasa dukacita yang dirasakan pemuda bernama Moon Taeil, yang masih terdiam memandangi deretan lilin, bunga dan sesajian yang mengelilingi sebuah bingkai foto besar di ruangan tempat ia berpijak sejak beberapa ribu detik lalu.

Pemuda itu benar-benar berharap bahwa saat ini ia hanya sedang berada di dalam mimpi buruk. Bagaimana bisa di saat beberapa hari lagi usianya genap menginjak 22 tahun, ia malah harus kehilangan sahabat terbaik yang ia miliki. Ji Hansol. Sahabat bodohnya, sahabat yang selalu setia berbagi suka cita bersamanya, sahabat yang ia yakini akan terus ada untuk dirinya.

Kurang lebih 4 tahun Taeil dan Hansol tidak pernah bertatap muka, karena Taeil harus merantau ke negeri tetangga demi melanjutkan pendidikan. Dan yang masih terngiang jelas dalam benak pemuda Moon itu ialah nada bahagia sahabatnya ketika Taeil menghubungi Hansol beberapa minggu lalu, dan mengatakan ia akan segera pulang ke Korea. Dan Taeil benar-benar menantikan momen untuk bertemu kembali dengan sahabat lama yang ia tinggalkan selama setengah windu itu.

Namun, siapa sangka mereka harus bertemu di saat seperti ini. Tidak bisa dibilang bertemu, karena Taeil jelas-jelas tak dapat melihat wajah sahabatnya itu lagi. Ji Hansol telah tiada. Ia sudah meninggal dunia. Meninggalkan dunia ini, meninggalkan keluarganya, meninggalkan teman-temannya, meninggalkan sahabat terbaiknya—meninggalkan Taeil.

“Taeil Hyung.”

Taeil menoleh ketika ia merasa pundaknya ditepuk seseorang. Manik basah miliknya menangkap Yuta yang tengah memakai jas hitam sepertinya.

“Aku turut berduka cita atas kepergian Hansol hyung.” Yuta tersenyum sekilas sebelum meletakkan setangkai mawar di atas tumpukan bunga mawar lain di depan bingkai foto Hansol.

“Sayang sekali kita harus bertemu di saat seperti ini. Padahal aku sudah berencana mengajak kalian berkeliling Seoul setelah kau pulang. Tapi nyatanya…”

Pundak Yuta berguncang pelan, rasanya ia tak sanggup jika harus mengakhiri kalimatnya.

“Dia pergi begitu cepat. Ji Hansol memang bodoh. Bisa-bisanya ia tidak menengok kanan-kiri setiap ingin menyeberang.” Taeil mencoba mencairkan suasana dengan sebuah gurauan. Namun rasanya lelucon itu tak sanggup menghentikan setiap likuid bening yang lahir dari matanya. Pandangannya tak lepas dari bingkai foto itu. Seolah sedang berharap bahwa wajah dalam bingkai itu bukanlah Ji Hansol. Namun seberapa lama pun ia memandang, wajah itu memanglah Ji Hansol, sahabatnya.

.

.

.

Setelah kembali dari upacara kematian Hansol, Taeil memutuskan segera pulang dan melampiaskan segala kesedihannya sendiri. Taeil tak tahu sudah berapa lama ia menangis. Semalaman? Entahlah. Yang jelas itu cukup untuk membuat kedua matanya bengkak keesokan paginya.

Ia merenggangkan otot-otot tubuhnya sejenak sebelum bangkit dari tidurnya. Mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja di samping tempat tidur, Taeil menahan napas selama beberapa detik ketika melihat sesuatu yang tertera di ponsel pintar miliknya.

Satu pesan masuk. Dari Hansol.

Segera, Taeil membuka pesan tersebut. Seluruh tubuhnya serasa gemetar mendapati sebuah fenomena yang terjadi. Pesan itu dikirim satu jam lalu.

Ini gila. Ini mustahil.

Belum hilang euforia dalam dirinya, Taeil kembali dikejutkan. Kali ini panggilan masuk. Dari Ji Hansol.

“Mustahil…bagaimana mungkin?”

Taeil bergumam tidak percaya.

Bagaimana mungkin seseorang yang sudah tiada menghubungi manusia yang masih hidup. Kecuali, di dalam film horror yang sering Taeil tonton bersama teman-temannya.

Dengan gugup, jemarinya menuntun Taeil untuk menerima panggilan itu, dan…

Ya! Moon Taeil. Kudengar kau sudah kembali ke Korea. Dasar manusia kejam! Kenapa kau tak memberitahuku, huh? Kenapa aku harus mengetahuinya dari Yuta?

Sekali lagi. Taeil merasa jantungnya berhenti untuk beberapa saat. Suara dari seberang telepon ini memanglah suara milik Hansol. Taeil dapat memastikan itu. Tidak mungkin ia tak mengenali suara sahabatnya sendiri.

“K-kau… Ji Hansol? Kau benar-benar Ji Hansol?”

Oh ayolah Taeil. Apa karena kita sudah tak lama berbicara kau jadi lupa suara sahabatmu sendiri?

Satu kata. Sinting. Ini sinting. Taeil merasa dirinya seperti orang sinting. Apakah yang terjadi kemarin hanyalah mimpi buruknya saja?

Ah iya, hari ini Johnny bilang ia ingin ke sungai Han. Kau ikut kan?

Tidak ada jawaban.

Taeil-ah?”

Masih tanpa jawaban.

“Ya! Moon Taeil! Kau mendengarkanku, kan?

“Ah ya, jadi?”

Ish, kau ini. Pokoknya kita pergi bersama ke sungai Han. Ku tunggu kau di taman biasa.

Klik.

Sambungan itu terputus.

Sekali lagi, Moon Taeil benar-benar tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Dengan gerakan kilat, Taeil mencuci mukanya dan mengganti baju tidurnya dengan setelan baju hangat dan nyaman. Kemudian mengambil dompet dan ponselnya di atas nakas dan segera keluar dari rumah.

Begitu ia tiba di tempat yang dijanjikan Hansol, perasannya dirundung gelisah lantaran Yuta tiba-tiba saja menghubunginya.

Hyung, cepat datang ke rumah sakit Soonchunhyang. Ini gawat. Hansol hyung kritis.”

Hanya satu kalimat, namun cukup untuk menghantam dadanya telak. Membuatnya terasa sulit untuk bernapas.

Kaki Taeil tiba-tiba saja lemas. Rasanya seperti terjebak dalam mimpir buruk yang sama untuk kedua kali. Lantas, segera saja ia bergegas.

Mengapa? Apa yang sebenarnya terjadi?

Pertanyaan-pertanyaan itu terjawab ketika Taeil tiba di rumah sakit. Setelah bertanya pada bagian informasi, dengan gerakan kilat, Taeil berlari menuju ruangan di mana Hansol berada. Langkahnya memelan ketika sampai di ambang pintu. Dilihatnya kedua orangtua Hansol tengah menangis. Ada Yuta, juga Johnny di sana. Melihat kondisi, tak perlu bertanya, Taeil sudah mendapat jawaban akan beberapa pertanyaan yang terlintas dalam benaknya.

“Hansol hyung, dia sudah pergi. Satu menit sebelum kau tiba, hyung.”

Laki-laki itu sudah berusaha untuk tidak menangis. Tetapi ia tak kuasa menghantikan kristal-kristal bening yang lahir dari matanya yang terus membentuk sebuah sungai kecil di pipi. Taeil masih tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia berharap bahwa apa yang didengarnya barusan hanyalah sebuah kebohongan.

Apakah ia kali ini benar-benar kehilangan sosok sahabatnya?

.

.

.

Sekali lagi Taeil terbangun dengan kondisi kedua matanya yang bengkak. Ia merasa tenaganya terkuras habis karena menangis semalam. Apakah semalam benar-benar mimpi? Atau sekarang ia juga sedang bermimpi? Bagaimana mungkin kejadian yang sama terulang kembali?

Taeil keluar dari kamarnya. Niat awalnya untuk pergi ke dapur mesti ia tahan kendati ia melihat seseorang tengah duduk di ruang tamunya sembari menonton acara pagi di televisi, ditemani secangkir cokelat hangat dan beberapa potong roti bakar.

Taeil menahan napasnya ketika sosok itu berbalik dan memberikan senyuman hangat, anggaplah sebagai ucapan selamat pagi.

Yo! Moon Taeil hyung. Sudah bangun?”

Mengucek mata sebentar, memastikan bahwa apa yang dilihat Taeil bukanlah sebuah ilusi semata.

“Kalau masih mengantuk, tidur lagi sana.”

“Yuta?” Matanya membeliak tak percaya, “Kau…apa yang kau lakukan di sini?”

Kedua alis Yuta saling bertautan, “Ya! Aku dan Hansol hyung memang menginap di sini semalam. Hyung, apa kau lupa?”

“Hansol?”

Yuta mengangguk, ia menunjuk pintu hitam yang sedikit terbuka, menunjukkan sesosok manusia yang masih terlelap di balik selimut tebal, “Dia masih tidur di kamar sebelah.”

Taeil menghiraukan Yuta dan melangkah masuk ke ruangan tempat di mana Hansol berada. Ia menatap Hansol yang tengah terlelap, lalu menatap Yuta di ruang tengah, kemudian kembali menatap Hansol, begitu seterusnya selama hampir satu menit.

Sial, sebenarnya apa yang terjadi?

“Kurasa, aku sudah gila.”

-Fin.

HAPPY BIRTHDAY MOON TAEIL. SIMBAH (BUNDA) BUNTUT KESAYANGAN NCTFFI YANG SEMAKIN HARI KIAN TERBULLY XD

Advertisements

6 thoughts on “[Ficlet-Mix] Once in a Moon’s Dream (1)

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s