[Ficlet-Mix] Once in a Moon’s Dream (2)

Once in a moon's dream

Once in a Moon’s Dream

a ficlet-mix by Angelina Triaf; Berly; IRISH; Mingi Kumiko

  [NCT] Moon Taeil

Genre : friendship; hurt/comfort; romance; slice of life; surreal | Duration : Ficlet-Mix | Rating : PG-15

© 2016

_ _ _ _ _

Tentang sebuah mimpi dan harapan yang hampir mengelupas dari ingatan.

Bagian dua dari dua.

_ _ _ _ _

 

[1st]

Mereka bilang, pertemanan itu harus nyata. Mereka bilang, pertemanan itu diikat oleh tali tak kasat mata. Mereka juga bilang, kalau pertemanan itu tak pandang bulu. Pertemananku dan Doyeon, juga sama. Hanya saja, ada yang salah dari pertemanan kami.

Memang, kami sudah saling mengenal selama hampir dua belas tahun, bisa kubilang, aku mengenal Doyeon sejak kami sama-sama kecil. Tapi kenapa semua orang meledek kami? Kenapa semua orang mengatakan bahwa pertemanan kami tidak masuk akal?

“Kau ingin pulang, Oppa?” tanya Doyeon ketika kami memutuskan untuk berkemah bersama hari ini.

Sejenak, aku terdiam. Doyeon menatapku dengan sepasang matanya yang lelah, sementara jemarinya saling bertaut. Aku ingat Doyeon selalu memanggilku ‘Oppa’ saat ia ingin merayuku.

Merayuku untuk menurutinya, tentu saja.

“Sepertinya malam ini cuacanya sedang tidak bagus.” ujarku menggumam.

Doyeon kemudian menengadahkan tangannya, menatap langit gelap yang diselimuti awan kelabu di atas sana. “Tidak juga, lagipula, kita akan tidur di dalam kemah, apa masalahnya?” tanya Doyeon sambil mengangkat bahu acuh.

Kuputuskan untuk mengalah dan tidak melanjutkan perdebatan kecilku bersama Doyeon. Akhirnya, Doyeon memilih untuk menyusun bantal berwarna merah muda kesayangannya, sementara aku duduk di ujung pintu tenda kecil yang kami buat bersama-sama.

“Doyeon-ah, bagaimana kalau kita berkemah lain hari saja?” tanyaku sejurus kemudian.

“Memangnya kenapa?” Doyeon lagi-lagi menatapku curiga.

“Tidak …” kugantungkan kalimatku, memelankannya karena sekarang dua orang suami istri tengah melangkah melewati jalanan kosong di depan halaman tempat kami membuat tenda. Setelah mereka berlalu, aku lantas melanjutkan. “Orang-orang terus bicara aneh tentang kita.”

Doyeon kini menghembuskan nafas panjang, ditatapnya aku sejenak sebelum ia berucap. “Lalu apa masalahnya? Itu urusan mereka kalau mau meledek pertemanan kita, kau kira aku peduli?” ujarnya meninggikan suara.

Berusaha bersabar, aku menatap Doyeon lembut.

Memang, ia tidak salah, tidak juga benar. Seperti yang kupikirkan, tidak ada yang salah dengan pertemanan kami, tapi ada yang salah. Doyeon, tidak mengizinkanku untuk berteman dengan siapapun selain dirinya.

“Doyeon-ah! Ayo masuk! Sudah waktunya makan malam!”

Ekspresi kaku yang sejak tadi Doyeon tujukan padaku kini berganti dengan sebuah ekspresi jenaka khas miliknya. Ia menoleh ke arah pintu rumah sembari berseru. “Sebentar, Bu! Aku masih berdebat dengan Taeil!”

Aku memejamkan mata dan menghembuskan nafas panjang. Ya, Doyeon memang selalu mengadukanku pada kedua orang tuanya jika kami bertengkar.

Tapi pengaduan Doyeon bukanlah masalah utamanya, melainkan … apa yang orang tuanya bicarakan setelah mendengar Doyeon mengadukanku.

“Taeil lagi?” tanya Ayah Doyeon terdengar samar.

“Hmm …” Ibu Doyeon melangkah masuk ke dalam rumah dengan membenarkan ikatan kuda rambutnya, “Doyeon bilang dia masih berdebat dengan Taeil.”

Decakan kecil terdengar berasal dari Ayah Doyeon. Beliau pasti tengah menyeruput kopi sambil membaca koran sambil menunggu makan malam.

“Lagipula, siapa Taeil ini? Heran sekali kenapa namanya sama persis dengan nama anak laki-laki yang kau inginkan.”

Tawa pelan kini meluncur dari Ibu Doyeon, sementara Doyeon sendiri tampak tak ambil pusing. Ia duduk memunggungiku, sudah jelas ia sedang marah. Dan ya, sekarang aku hanya bisa duduk menunggu Doyeon mendatangiku dan mengajakku makan malam bersama.

“Kau lupa? Taeil itu boneka rajutan yang kubuatkan dulu saat Doyeon masih kecil, sayang. Heran sekali kenapa sampai sekarang Doyeon percaya Taeil bisa bicara.”

Sudah kubilang, ada yang salah dari pertemananku dengan Doyeon bukan?

-oOo-

[2nd]

 

“Buka matamu lebar-lebar dan berhenti menggunakan otak dangkalmu untuk bertindak bodoh, Tuan Moon!” sentak seorang gadis tertahan, namun percuma karena yang bersangkutan tak sedikit pun terinterupsi. Bahkan pria itu tetap dengan telaten memasukkan seluruh perabotannya ke dalam benda berbentuk kubus.

“Putus cinta bukanlah akhir dari segalanya. Dan itu juga tidak bisa dijadikan alasan pengunduran diri!” imbuh Hyojung—nama gadis itu—masih dengan nada bicara yang sangat parau karena emosinya tidak stabil.

Sekelebat rasa bersalah menghantui benaknya. Apa keputusan Hyojung mengakhiri hubungan-lebih-dari-sekedar-teman yang sudah setahun ia jalin bersama Taeil merupakan sebuah kesalahan fatal? Hyojung baru tahu kalau Taeil memiliki kepribadian yang sangat rapuh.

Tadi pagi ia dengar pemuda berusia dua puluh lima tahun itu telah menyerahkan surat pengunduran diri pada direktur. Ia pun langsung mengambil langkah seribu menuju ruang kepegawaian–yang merupakan departemen di mana Taeil ditempatkan–guna memastikan kebenaran kabar itu.

Dan terkejutlah Hyojung saat mendapati Taeil tengah mengemasi seluruh barang-barangnya di atas meja.

“Kau yang mencintai dengan setengah hati tak akan pernah bisa memahami perasaan orang yang mengorbankan seluruh hidupnya demi orang yang dikasihi sepenuh hati…” ujarnya teduh seraya mengangkat kotak yang telah terisi penuh dengan berbagai jenis alat tulis.

“Agaknya terus berada di kantor yang sama denganmu akan menjadi mimpi buruk yang nyata untukku. Agar aku tidak terus kepikiran, jalan satu-satunya adalah meninggalkan pekerjaan ini.” imbuhnya lagi, kemudian bergegas melenggang pergi tanpa mengindahkan mantan kekasihnya yang masih tertegun dengan manik berkaca-kaca.

-oOo-

[3rd]

Waktu kuberumur lima, aku pernah menangis kencang karena mainan power ranger berwarna kuningku satu-satunya tiba-tiba direbut, lalu tak sengaja dirusak oleh temanku. Aku menangis sejadi-jadinya seakan keinginanku untuk menjadi power ranger berwana kuning untuk menyelamatkan seluruh dunia dari kejahatan waktu itu sudah lenyap—sirna ditelan tangan perusak sepertinya, kalau tidak salah, sih, nama teman kecilku dulu itu, Namjoon. Semoga sekarang, yang entah bagaimana kabar kehidupannya di kota Melbourne, ia tidak menjadi orang yang sering merusak barang-barang berharga milik orang lain lagi—termasuk merusak hubungan orang, misalnya. Ups. Itu hanya misalnya, ya.

Waktu kuberumur tujuh, Ayahku pernah membelikanku baju spiderman, dan kesan pertamaku melihat baju itu adalah; aku sangat menyukainya, hingga sempat terbesit di dalam hati kalau sudah besar mungkin aku akan menjadi spiderman di Korea Selatan untuk menyelamatkan negeri dari segala kejahatan.

Waktu kuberumur sembilan, aku sudah menyadari bahwa menjadi power ranger kuning atau bahkan spiderman adalah hal yang mustahil untuk dijadikan sebagai cita-cita hidup, maka aku telah mengganti mimpi lamaku dengan mimpi baru, yaitu : Dokter. Sudah besar nanti aku ingin menjadi Dokter saja yang bisa menolong orang-orang banyak dengan cara menyembuhkan orang sakit.

Waktu kuberumur tujuh belas, impianku menjadi Dokter sepertinya sudah kuurungkan, karena ada yang lebih menggugah hati; mendaki gunung, aku sedang gemar-gemarnya mendaki gunung bersama teman-teman petualangku yang lain waktu itu, memang dasar jiwa muda sedang berapi-apinya. Lagipula setelah dipikir-pikirkan lagi, sepertinya otakku tidak sanggup bila harus masuk kedokteran saat di perkuliahan nanti.

Waktu kuberumur dua puluh, aku tidak memasuki dunia perkuliahan lantaran tidak ada biaya, aku pun memilih untuk mencari peruntunganku sendiri. Hingga terdamparlah aku di tempat yang cukup membuat para anak-anak kecil tercengang; toko permen. Selama dua setengah tahun aku bekerja sebagai kasir—berdasarkan ilmu yang kudapat dari sekolah dulu—di toko permen itu.

Lalu saat kuberumur dua puluh tiga, akhirnya aku sudah bisa bekerja di kantoran—well kendati hanya menjadi marketing, aku sudah sangat bersyukur bisa bekerja di kantoran. Tapi kebahagiaanku bekerja selama berkantor lenyap di suatu hari, aku ingin sekali berkata kasar … bayangkan, ketika pekerjaanmu sudah selesai tepat pada waktunya, namun usahamu ditolak mentah-mentah karena tak sesuai dengan apa yang diinginkan sang atasan. Kena pecatlah aku sebagai pegawai di sana. Membuatku kembali lontang-lantung sampai berakhir hari ini, detik ini, aku masih bernapas—mencari jati diri—bersama segelas kopi yang masih bisa kunikmati di tenggorokkan. Lalu sekarang, apa yang harus aku lakukan? Apakah semua mimpi-mimpi besarku satu pun tidak ada yang kesampaian sesuai dengan ekspektasiku dulu? Menjadi power ranger misalnya?

“Tolong! Tolong!”

Sebuah teriakan tahu-tahu terdengar di telingaku, dengan sigap aku beringsut mendekati sumber suara milik tetangga yang tampaknya sedang ketar-ketir membutuhkan bantuan.

“Ada apa, Nyonya Ahn?” tanyaku sedikit panik ketika melihat dapurnya sedikit berantakan.

“Moontae! Ada ular besar di dalam lemari itu, tolong aku! Keluarkan dia dari sana!”

“Apa?! Ular?”

“Aku sudah menelepon 911 untuk mengatasinya, tapi, mereka lama sekali datangnya. Aku khawatir dia akan mengganggu si kecil Ahn Nira.” Suara Nyonya Ahn sedikit bergetar karena cemas.

“Tenang, tenang Nyonya Ahn. Aku akan mengeluarkan ular itu, kebetulan aku mempunyai alatnya, biarkan aku mengambilnya dulu.”

“Cepatlah, Moontae!”

Aku berlari secepat mungkin, mencari-cari keberadaan peralatanku yang dulu suka kugunakan saat mendaki gunung. Kalau tidak salah ada juga alat penangkap ular yang tak sengaja kusimpan, alat itu dihadiahi teman petualangku secara cuma-cuma untukku.

Tak berapa lama kemudian setelah aku mendapatkan alatnya, aku pun berhasil meredakan suasana kepanikan, karena ular besar itu sudah berhasil kutangkap dan kukeluarkan dari dalam rumah. Tepat sekali saat mobil pemadam kebakaran muncul dan berhenti depan rumah.

“Moon Taeil?!”

Sontak kutolehkan pandanganku ke sumber suara saat dirasa namaku dipanggil. Yang kulihat hanyalah orang-orang yang baru turun dari mobil merah itu menggunakan seragam anti api berwarna oranye dan kuning.

“Ji Hansol?!” responku penuh dengan keterkejutan ketika seseorang sudah berdiri tepat di hadapanku dan membuka helm pelindungnya. Ji Hansol, ia adalah sobat lamaku mendaki gunung dulu yang memberikan alat penangkap ular ini, omong-omong.

“Kau tinggal di sini?! Apa kabar?! Dan wow, jadi selama kru kami ada masalah di perjalanan kemari, kaulah yang beraksi menolong Nyonya tetanggamu ini?! Hebat Moontae, hebat!” Setelah berpelukan melepas rindu dengannya, ia bertanya banyak hal padaku.

Apa kabar, adalah segelintir kalimat ambigu menurutku.

Seusai aku menceritakan keadaanku yang tengah menganggur padanya, ia langsung menawarkan sesuatu yang membuatku sedikit syok!

“Hey! Mengapa kau tidak bergabung saja dengan kami? Aku yakin kau akan langsung diterima karena aksimu hari ini. Aku juga sudah tahu kekuatan fisikmu selama mendaki dulu, jadi tak perlu khawatir kau akan gagal saat tes fisik nanti. Dan bukankah ini cita-citamu sejak kecil, Sobat Moontae? Menjadi power ranger kuning dan menolong banyak orang?”

Well … bukankah … takdir itu sangat aneh? Bagaimana menurut kalian? Impianku menjadi power ranger kuning saat kuberumur lima, sekarang malah terlihat amat teramat jelas di depan mata. Lucu. Ini sungguh kehidupan yang sangat lucu.

“Bolehkah aku bergabung?” Senyumku mengembang, lalu tanganku pun disambut mantap oleh tangan Hansol.

“Selamat berusaha untuk memasuki dunia power ranger kuning ini, Moontae! Good luck, aku tunggu kau datang.” Kata Hansol menyemangati sembari memberikan selembar kartu nama perusahaan pemadam kebakaran untuk Taeil.

“Terima kasih, Sobat Ji.”

-oOo-

[4th]

Sepertinya Taeil sudah beralih profesi menjadi pengasuh anak. Pasalnya, ini sudah hari ketiga sejak gadis remaja yang kini tengah asyik bermain game itu tinggal di apartemennya. Salahkan saja Yuta yang malah melempar tanggung jawab untuk menjaga sepupunya itu pada Taeil lantaran pekerjaan yang memaksanya ke luar kota di saat Cheonsa datang berkunjung.

“Mas Taeil, memangnya setiap hari selalu sesepi ini?”

Ya, sebenarnya tak masalah jika saja Cheonsa bukanlah jenis makhluk astral dan masih bisa diatur. Yang dipermasalahkan Taeil adalah…

“Lebih baik Mas cepat cari pacar agar tidak selalu sendirian seperti jones.”

Oh, itu tepat menusuk jantung Taeil sampai ke dasar. Sepertinya anak ini belajar banyak dari Yuta pasal mengumpat dan bicara blak-blakan tanpa memandang bagaimana hati sang lawan bicara setelahnya. Taeil benar-benar diuji kesabarannya selama tiga hari belakangan ini.

“Cheon, lebih baik kau kunci mulutmu sebelum Taeyong membaca koran esok hari dan mendapati berita bahwa kekasihnya mati tercekik dalam apartemen,” ucap Taeil, ia masih sibuk menyiapkan makan siang untuk mereka berdua. Taeil sungguhan akan meminta imbalan yang pantas dari Yuta atas hatinya yang remuk lantaran ocehan Cheonsa tentang pencarian kekasih yang tak kunjung berakhir.

Melihat wajah kesal Taeil membuat Cheonsa tertawa senang. Lucu sekali melihat lelaki dewasa itu merajuk seperti anak kecil hanya karena perihal cinta yang aneh. “Mas Taeil, Cheonsa sungguhan, loh. Kau harus berkencan cepat atau lambat.”

Hingga kini Taeil tengah menata meja makan, ia berusaha sekuat tenaga untuk menebalkan kupingnya, berpura-pura tuli dan segala hal sejenis ia lakukan agar tidak terpancing menjadi emosional tiap kali membicarakan percintaan yang tak kunjung mendapatkan titik terang.

“Kalau begitu kamu saja yang jadi pacar Mas, mau?”

Mendengar itu membuat Cheonsa hampir-hampir membanting psp-nya. “WHAT? BIG NO.”

“Makanya jangan bahas hal itu terus,” balas Taeil dengan lesu. Makanan sudah semua tertata rapi dan ia telah duduk di hadapan Cheonsa.

Gadis itu sudah tak berkata banyak lagi. Ia makan dalam diam, dan Taeil agaknya bersyukur karena tak harus mendengarkan celotehannya yang membuat hatinya semakin remuk. Ini semua memang salah Taeil yang tak pernah mau berusaha membuka hati pada siapapun.

Oh, sebenarnya ada satu, tapi―

“Lalu bagaimana dengan Kak Jisun?”

―demi Tuhan, Taeil ingin sekali membuang Cheonsa ke rawa-rawa.

Jisun adalah… Ya, semacam belahan jiwa yang belum sempat dimiliki oleh Taeil. Satu-satunya gadis yang mampu membuatnya tersenyum tanpa alasan yang jelas, membayangkannya sampai terbawa mimpi siang dan malam, gadis yang sepertinya tak ada yang mampu menggantikan dia di hati Taeil.

Ringkasnya, Jisun itu seperti oksigennya, napasnya, dan semua orang tahu bahwa manusia harus bernapas untuk hidup. Begitu pula dengan Taeil yang rasanya tak bisa hidup tanpa kehadiran Jisun. Terima kasih untuk Cheonsa yang kembali mengingatkannya akan kenangan itu.

“Jisun sudah tak mau bertemu dengan Mas lagi, Cheon. Dia… kau tahu ceritanya, kan?”

“Ya justru karena Cheon tahu, makanya Cheon gemas sama Mas.”

Cheonsa bangkit berdiri lalu meninggalkan Taeil sendiri. Yang ditinggalkan hanya mampu mengerutkan kening karena bingung. Tapi tak lama, Cheonsa kembali ke ruang makan dengan membawa sesuatu di tangannya. “Nih, alamat barunya Kak Jisun. Kemarin Mas Taeyong bantuin Cheon buat cari itu.”

“Eh, kok?”

Gadis itu langsung duduk di samping Taeil, mengabaikan makanannya di seberang meja dan menatap pemuda itu lekat. Cheonsa benar-benar gemas dengan orang yang ada di hadapannya ini.

“Dengar ya, Mas. Cheon sangat tahu mimpi-mimpi Mas, dan semuanya menurut Cheon patut untuk diperjuangkan. Apalagi yang ini,” ujar Cheonsa dengan nada serius. “Mas Taeil harus semangat, wujudkan mimpimu untuk mendapatkan cintanya Kak Jisun. Siapa peduli dengan masa lalu yang buruk, semua orang pastinya pernah khilaf, kan?”

Sepertinya Taeil ingin menangis karena terharu. Ia refleks memeluk Cheonsa, dan ternyata ia merasakan aura kekeluargaan yang sempat hilang dalam dirinya.

“Ya ampun, manis sekali. Sini Cheon Mas adopsi jadi adik, mau?” Taeil tertawa sembari mengusap kepala Cheonsa yang masih berada dalam pelukannya.

“Ih engga mau. Kak Yuta galau kalau harus kehilangan adik lucunya ini.”

“Alah, bisanya kamu bilang seperti itu.”

Karena tak ada seorangpun yang bisa mengupas romansa dunia dengan sempurna, seseorang membutuhkan orang lain untuk membantunya bangkit dan kembali mengejar cintanya. Tanpa rasa putus asa, tanpa segala hal menyebalkan yang nantinya akan berakar menjadi masalah.

Ya, semoga saja Taeil masih memiliki kesempatan kedua, dan itu adalah memeluk Jisun lalu mengatakan bahwa ia sangat mencintai gadis itu selamanya.

-Fin.

Advertisements

5 thoughts on “[Ficlet-Mix] Once in a Moon’s Dream (2)

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s