[Twoshots] CATASTROPHE (1/2)

irish-catastrophe

   CATASTROPHE  

  NCT`s Taeil & IOI`s Doyeon 

 dystopia, romance, science fiction, and tragedy story rated by T served in twoshot length  

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

2016 © IRISH Art & Story all rights reserved


Do you remember me?


██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author`s Eyes…

Bintang tidak lagi terlihat, sejak empat dekade lalu. Tepatnya, setelah perang dunia ketiga tercetus bersamaan dengan gempa berkekuatan kurang lebih sembilan skala richter, ditambah dengan tsunami yang menenggelamkan beberapa negara berwilayah kecil.

Katastrofe. Mereka menyebut tahun itu. 2020, ketika bumi porak poranda akibat bencana alam, dan populasi bumi berkurang sekitar sepuluh sampai dua belas persen. Bumi bahkan belum pulih dari lukanya ketika perang dunia meletus di tahun 2024 dan berhasil mengurangi sekitar delapan persen populasi yang tersisa.

Bisa dikatakan, manusia masih hidup, tapi tidak lagi punya tempat bernaung.

██║│█║║▌ CATASTROPHE │█║║▌║██

Semuanya sama rata, sama miskinnya, sama kelaparannya. Beberapa bahkan berubah menjadi kanibal yang menunggu anggota keluarga mati untuk jadi santapan. Kejam memang, bagaimana keserakahan manusia berujung pada kehancuran.

Tuhan agaknya sudah jenuh melihat keadaan bumi, sehingga di tahun 2026, Ia kembali menghancurkan bumi dengan cara yang tergolong cantik.

Tepatnya satu malam, saat manusia menikmati hujan bintang, tiba-tiba saja benturan di permukaan bumi bagian barat kembali mengundang gempa dan air bah. Mungkin, kali ini, permukaan bumi sudah hancur separuhnya. Populasinya, entahlah … tidak ada yang punya akses untuk mengetahui berapa persen populasi yang kembali hilang.

Benturan itu mungkin membuat bumi bergeser beberapa derajat dari poros bimasakti. Terbukti dengan bagaimana matahari sekarang terbit dari timur laut, dan tenggelam di barat daya.

Bulan saja sudah sulit di cari, apalagi bintang.

Meskipun begitu … manusia tampaknya masih bisa berbahagia.

██║│█║║▌ CATASTROPHE │█║║▌║██

“Doyeon, cepat masuk ke tenda.” sebuah suara mengomando, sementara pemilik nama yang baru diserukan hanya melirik malas. Alih-alih membawa diri ke dalam tenda camp sementara, ia memilih untuk menatap langit luas di atas sana yang dipenuhi kabut kelabu terang.

“Doyeon!” suara yang sama lagi-lagi terdengar.

“Iya, Taeil. Kau cerewet sekali.” Doyeon menggerutu, mau tak mau, kalau si pemilik suara—Taeil—sudah meninggikan nada, Doyeon menyerah juga.

Oh, jangan kira kalau mereka cukup dekat untuk tinggal dalam satu tenda yang sama. Keduanya bertemu setelah tsunami kedua melanda, dan membuat mereka sama-sama menjadi gelandangan tanpa keluarga.

Kedua orang tua Doyeon sebenarnya sudah meninggal sejak Destruction I—begitu orang-orang menyebut perang dunia ketiga—sementara adik Doyeon menghilang di telan tsunami dari Destruction II.

Taeil sendiri memang hidup mengelana, ia tidak punya siapa-siapa, dan secara tak sengaja menyelamatkan Doyeon yang tenggelam di Destruction III beberapa tahun silam. Mau tak mau, Doyeon tak ingin seorang diri, dan Taeil juga tidak bisa mencegah Doyeon untuk tidak mengekorinya.

Jadilah, beberapa tahun ini, mereka bertahan hidup bersama. Meskipun dengan cara yang menyedihkan, setidaknya mereka masih sama-sama hidup bukan?

“Taeil, apa aku boleh tidur di luar tenda malam ini?” tanya Doyeon ketika ia melangkah masuk ke dalam tenda kecil yang berhasil dibuat Taeil dengan susah payah seharian.

Susah payah tentu saja, Taeil harus berjuang membuat tenda itu sendirian ditengah sengatan matahari yang membuat suhu di siang hari naik hingga 46 derajat celsius. Sementara dingin tak lagi pernah menyambangi meski di malam hari. Yang ada, seringkali hujan berjatuhan dari langit dan membuat tsunami kecil lainnya guna mengurangi populasi meskipun sedikit.

“Tidak, Doyeon. Ingat apa yang terjadi terakhir kali kau memaksa tidur di luar? Kau hampir mati karena hujan meteorid.” lembut suara Taeil memperingati.

Doyeon menghembuskan nafas panjang. “Tapi dua hari lalu sudah hujan meteorid, kau bilang, hujan meteorid hanya akan datang setiap empat hari sekali.” bantahnya, berkeras dengan keinginannya.

Taeil—yang sudah berbaring di pengalas buatannya—melirik sekilas, sebelum ia kembali menutup mata sembari menggumam.

“Coba saja, siapa tahu malam ini hujan asam lagi.” selorohnya berhasil menciutkan nyali Doyeon.

Kalau saja keadaan cuaca masih normal, memangnya akan ada tiga macam hujan di bumi? Menurut Taeil, secara bergiliran, hujan meteorid, hujan air asam, dan hujan debu akan menyerang bumi tiap malamnya. Ringan sekali pendapat Taeil ketika ia katakan ketiga hujan itu akan semakin menekan jumlah populasi bumi, tidak tahu bagaimana Doyeon ketakutan setengah mati membayangkan bencana lainnya.

Menyerah, Doyeon akhirnya membaringkan diri di sebelah Taeil, bukannya Doyeon terbiasa tidur dengan seorang pria, tapi mau bagaimana lagi, berada sedekat mungkin dengan Taeil malah membuatnya merasa aman. Terutama, di tengah kekacauan seperti saat ini.

“Taeil, apa kau ingat keluargamu?” tanya Doyeon saat ia membaringkan diri.

Taeil membuka mata lagi, menatap atap tenda yang berwarna biru tua sementara ia masih menarik dan menghembuskan nafas dengan tenang.

“Bukankah kau keluargaku?” ia balik bertanya, membuat Doyeon menyunggingkan senyum kecil. Ya, memang, Doyeon dulu pernah mengatakan bahwa Taeil lah sekarang satu-satunya orang yang bisa ia anggap sebagai keluarga.

“Maksudku, keluargamu, dulu. Sebelum bencana ini terjadi.” ujar Doyeon.

“Aku tidak ingat.” Taeil berucap singkat.

Mendengar nada singkat—yang kerapkali Taeil pamerkan setiap kali ia ingin mengakhiri pembicaraan—lolos dari bibir Taeil, Doyeon akhirnya memilih untuk diam.

“Taeil,” lagi-lagi ia berucap.

“Apa lagi?” tanya Taeil mulai tidak sabar.

“Bisa nyanyikan sebuah lagu untukku?”

“Kenapa kau selalu memintaku bernyanyi?” tanya Taeil kesal, memang, Doyeon hampir setiap malam memintanya untuk bernyanyi.

“Karena suaramu sangat menyenangkan. Seperti suara mendiang ayahku.” ujar Doyeon, dengan antusias ia menghadapkan tubuhnya ke arah Taeil, membiarkan pandang mereka saling bertemu sebelum akhirnya Taeil menghembuskan nafas, menyerah.

“Hanya satu lagu.” ujarnya.

“Ya, hanya satu lagu.” Doyeon tersenyum.

Taeil akhirnya mengalihkan pandangan, lagi-lagi menatap langit-langit tenda sementara atensi Doyeon masih bersarang padanya. Lembut, suara pemuda itu mulai memenuhi rungu Doyeon, membawa sang gadis dalam peraduan mimpi.

It’s a night … when no one awakes to wait for the next day, on the night … you and I together, stay alive as the world’s still same, try to remember the beautiful night years before …”

██║♫♪│█║♪♫║▌♫♪│█║♪♫║▌♫♪║██

Hari sudah berganti, matahari entah sejak kapan sudah memamerkan bagaimana ia akan membakar bumi selama delapan belas jam dalam sehari ini.

“Taeil!” tiba-tiba saja Doyeon berseru saat jemarinya menyentuh sesuatu yang basah. Jangan ditanya bagaimana reaksi Taeil, serta merta ia menarik Doyeon—yang bahkan belum membuka mata karena takut—ke dalam rengkuhan sementara dirinya menatap waspada.

“Salju …” lirih Taeil berucap.

Ragu, Doyeon membuka mata, terkesiap saat tumpukan berwarna putih terlihat menutupi jalan keluar dari tendanya, bahkan beberapa bagian kecilnya sudah ada di dalam tenda.

Salju pertama turun, setelah selama hampir empat tahun menyembunyikan diri dari kehancuran bumi dan keadaan mengerikan di permukaannya.

“Tunggu di sini, Doyeon-ah, biar kulihat keadaan di luar.” Taeil berucap tegas, ditinggalkannya Doyeon di sudut tenda, sementara dirinya merajut langkah dengan hati-hati melewati tumpukan salju yang tampaknya menenggelamkan separuh tendanya dari luar sana.

Doyeon mendesah pelan, hamparan putih kini menyambutnya saat Taeil membuka pintu tenda, mau tak mau, mengundangnya untuk beranjak dan menyentuh bekuan tersebut menggunakan jemarinya.

Dingin.

Untuk pertama kalinya, Doyeon kembali diingatkan bagaimana rasanya dingin. Meskipun dingin yang sekarang disentuhnya benar-benar biasa—karena ia dan Taeil hanya mengenakan pakaian seadanya di tengah tumpukan salju yang seharusnya bisa membekukan mereka—tapi Doyeon merasa bahagia.

“Taeil? Apa semuanya baik-baik saja?” Doyeon memberanikan diri untuk mengintip dari celah pintu tenda.

Dilihatnya Taeil berdiri tak jauh dari tenda, tak menyahutinya barang sepatah kata pun.

“Taeil?” Doyeon lagi-lagi memanggil.

“Destruction IV.” ujarnya.

“Apa?” Doyeon berucap tak mengerti.

Taeil berbalik, dengan langkah panjang ia masuk ke dalam tenda, membereskan beberapa barang yang ada kemudian dengan tergesa-gesa ia masukkan dalam tas ransel miliknya sebelum ia menarik Doyeon untuk berdiri.

“Kita harus cari tempat yang lebih tinggi.” ujarnya tegas.

Jangan minta Doyeon mengingat dimana mereka tidur semalam. Mengingat banyak gedung pencakar langit sudah hancur, satu-satunya tempat aman bagi mereka untuk tidur di malam hari hanyalah tempat tinggi. Artinya, setiap malam, Taeil dan Doyeon tidur di bagian teratas gedung yang sudah hancur.

“Memangnya ada apa?” tanya Doyeon masih tidak mengerti.

“Salju menenggelamkan kota. Kita harus cari tempat yang tinggi sebelum tengah hari, kalau tidak, kita akan tenggelam.” ujar Taeil menjelaskan, ia menarik dan menghembuskan nafas panjang satu kali sebelum kembali berucap, “Ini sudah pasti masuk waktunya Destruction IV.” sambungnya.

“Darimana kau tahu?” tanya Doyeon penasaran.

Tanpa bicara apapun Taeil memasangkan sebuah jaket tebal di tubuh Doyeon.

“Kita harus cepat pergi dari sini. Sekarang, salju ini mungkin tidak terlihat mematikan, tapi beberapa hari lagi, pasti ia berubah jadi senjata untuk membunuh manusia.” tutur Taeil.

Doyeon tidak perlu bertanya lebih lanjut. Ia sudah menduga sejak awal, kalau Taeil pastilah seorang jenius di kehidupan normal dulu. Mengingat bagaimana ia seringkali bisa menebak perubahan cuaca dan akibat yang akan terjadi, dan bagaimana insting bertahan hidup pemuda itu sangatlah tinggi, Doyeon tahu, ia bisa bertahan hidup lebih lama karena bantuan Taeil.

“Kemana kita akan pergi?” tanya Doyeon.

“Gangnam. Mungkin. Bukankah di sana adalah tempat tinggal orang-orang kaya? Seingatku ada banyak gedung pencakar langit di sana, setidaknya, masih lebih tinggi daripada gedung hotel ini.” ujar Taeil.

Doyeon mengangguk-angguk pasrah, kalau Taeil sudah menyusun rencana, siapa yang bisa mencegah atau membantahnya?

Tertatih-tatih, dengan bantuan Taeil, Doyeon berhasil keluar dari tenda. Sekarang, ia berdiri menonton Taeil membereskan tenda mereka. Meskipun membereskan tenda menyita cukup banyak waktu, setidaknya Doyeon yakin Taeil sudah memperkirakan semuanya dengan baik.

“Ayo kita pergi.” ujar Taeil, dipandanginya sang surya dengan tatap menantang sebelum ia memandang bayangan tubuhnya di atas salju.

“Ini masih jam empat pagi. Pantas saja belum terasa panas.” gumam Taeil, “kita punya waktu lima jam untuk mencari tempat yang lebih tinggi.” sambung Taeil.

Doyeon tidak berkomentar, ia dengan patuh mengikuti langkah Taeil, membiarkan Taeil menggenggam tangannya dan membawanya menapaki jalan yang sama persis dengannya.

“Apa kita bisa sampai di Gangnam sebelum jam sembilan?” tanya Doyeon, tahu benar bagaimana panasnya permukaan bumi bahkan saat Taeil bilang di bumi masih jam delapan pagi.

“Entahlah, dengan jalan bersalju seperti ini, kurasa akan sulit. Tapi setidaknya kita tidak harus berjalan melewati jalanan yang penuh rongsokan.” jemari Taeil menunjuk ke arah bawah gedung hotel tempat mereka berdiri, membuat Doyeon melongokkan kepalanya ke bawah dan sekon selanjutnya mendesah tak percaya.

Gedung tempat mereka bernaung semalam sudah tenggelam sepertiganya oleh salju.

“Kita harus bersyukur salju tidak mengubur kita hidup-hidup semalam.” sambungnya, sekon selanjutnya Taeil tiba-tiba saja tergelak dengan tawa yang cukup mengejutkan Doyeon.

“Taeil, apa yang kau tertawakan?” tanya Doyeon tidak mengerti.

“Ingat tadi malam apa yang kau inginkan?” Taeil berucap di sela tawa.

Oh, ya, benar. Doyeon harus ingat untuk berterma kasih pada Taeil karena semalam sudah mencegahnya tidur di luar tenda. Karena jika hal itu benar-benar terjadi, Doyeon mungkin sudah tidak bernafas hari ini.

“Terima kasih.” ujar Doyeon membuat Taeil meliriknya sekilas dengan senyum geli terpasang di wajah.

“Tidak ada ruginya mendengarkanku bukan?” ujar Taeil.

Doyeon menatap pemuda itu sejenak, terdiam beberapa saat sebelum ia bicara.

“Taeil, apa aku pernah bilang kalau senyummu sama manisnya dengan senyum adikku?” tanya Doyeon tiba-tiba saja membelokkan arah pembicaraan.

Senyum di wajah Taeil segera menghilang, bergantikan dengan ekspresi datar yang seringkali mendominasi wajahnya.

“Kau sudah mengucapkannya puluhan kali.” ujar Taeil mengingatkan Doyeon bahwa hampir tiap kali pemuda itu tersenyum, Doyeon akan menanyakan hal yang sama.

“Benarkah? Ah, maaf, aku tidak lagi bisa mengingat dengan baik.” Doyeon mengerjap cepat, menetralisir degup jantungnya yang selalu tidak karuan setiap ia ingat pada keluarganya yang telah tiada.

Keheningan lambat laun mendominasi, membuat baik Taeil, maupun Doyeon, sama-sama tak menemukan kata apapun untuk diucapkan. Tatapan keduanya bahkan tertuju pada hamparan salju yang menyambut sejauh mata memandang.

Di tengah sengatan sang mentari, keduanya terus merajut langkah di atas salju yang perlahan-lahan meleleh.

“Taeil, aku haus …” akhirnya Doyeon bicara memecah keheningan, ditatapnya Taeil dengan pandang memelas, berharap Taeil akan memutuskan untuk menghabiskan beberapa menit dengan beristirahat.

Mengerti apa yang diinginkan Doyeon sekarang, Taeil akhirnya memandang sekitarnya sejenak sebelum ia menyerah.

“Kita istirahat dulu.” ujarnya, memapah Doyeon untuk mengikuti langkahnya.

Mereka akhirnya duduk di atas salju, di tengah-tengah gedung. Dengan cepat, Taeil mengeluarkan sebuah botol dari dalam tasnya yang berisikan air.

“Minumlah dulu, Doyeon-ah. Kurasa sehari ini kita tidak akan bisa makan dulu. Semuanya di bawah sana sudah tertimbun salju.” tutur Taeil, tatapannya menerawang, seolah ia memikirkan begitu banyak hal yang bahkan tak bisa Doyeon pikirkan dengan jernih sekarang.

“Aku bahkan tidak tahu apa masih ada orang lain yang hidup di Seoul.” sebuah tawa pelan lolos dari bibir Taeil, tawa menyedihkan, “aku bahkan tidak bisa menyebut tempat ini sebagai Seoul lagi.” sambungnya dengan nada sedih.

“Taeil … apa kita bisa bertahan?” sebuah keputus asaan kini muncul dari dalam diri Doyeon.

Jujur saja, ia lelah dengan semua ini. Entah mengapa, dalam pandangannya sekarang, tidur untuk selamanya karena terkubur salju semalam mungkin tidak begitu menyakitkan, jika ia bayangkan bagaimana bencana yang akan ia hadapi saat ia masih bertahan hidup.

“Apa Tuhan sudah begitu membenci manusia?” lagi-lagi Doyeon berucap, samar, air mata mulai membasahi wajahnya.

“Untuk apa kita bertahan hidup, saat bumi sudah tidak menjanjikan kehidupan lagi? Kalau bencana lainnya datang untuk menghancurkan bumi, berapa banyak orang yang akan bertahan?” suara Doyeon kini bergetar menahan tangis.

Taeil tersenyum tipis. Ditatapnya titik kemerahan nun jauh di sana, melambai dari langit kosong yang tak lagi pernah berawan.

“Ingat apa katamu dulu? Ada tempat di luar sana, yang bisa dihuni manusia.” jemari Taeil kini bergerak menunjuk ke satu arah, membuat Doyeon mengikuti arah yang ditunjuk oleh Taeil.

“Kau masih ingat ucapanku itu? Padahal aku saja sudah tidak mempercayainya.” Doyeon bergumam pelan.

“Aku percaya. Dan aku juga percaya, jika kita pergi ke tempat yang lebih tinggi, kita akan sama-sama menemukan cara untuk pergi ke luar sana, dan memulai kehidupan yang baru.” ujar Taeil.

“Bagaimana kalau kita sama-sama tidak bisa bertahan sampai saat itu?” tanya Doyeon.

Taeil menatap gadis di hadapannya dengan ekspresi tenang. Sebuah senyum lantas ia lemparkan sebelum lengannya menarik tubuh sang gadis ke dalam rengkuhan.

“Jangan takut, Doyeon-ah. Kalau pun hanya satu dari kita yang bisa pergi ke sana. Kupastikan satu orang itu adalah kau.”

“Kenapa?” pertanyaan itu lolos dari bibir Doyeon.

Kenapa Taeil mengucapkan hal itu seolah ia akan mengorbankan apapun termasuk nyawanya sendiri demi keselamatan Doyeon? Memangnya, Taeil tidak ingin bertahan hidup untuk melanjutkan kehidupan di tempat lain yang ada di luar sana?

“Di sana … pasti membosankan.”

██║♫♪│█║♪♫║▌♫♪│█║♪♫║▌♫♪║██

Dua malam mereka lewati dengan selamat. Berkat rencana Taeil hari itu, saat salju pertama kali turun. Tebakan pemuda itu agaknya benar, terlihat dengan bagaimana keduanya sekarang sama-sama merapatkan tubuh di dalam tenda, dengan menutupi tubuh menggunakan semua kain yang berhasil mereka temukan sepanjang perjalanan menuju kawasan Gangnam yang tak lagi terlihat mewah.

Badai salju kini menyerang di malam hari, untuk kemudian berubah jadi genangan air bah di siang hari. Makin bertambah hari, ketinggian air makin memburu. Menuntut Taeil dan Doyeon untuk menempuh jalur ekstrim demi mencari tempat berlindung yang lebih dan lebih tinggi lagi.

Di hari ke enam, tubuh Doyeon agaknya sudah tak mampu bertahan. Dinginnya malam kelewat menusuk, dan panasnya siang makin menjadi. Sementara mereka terjebak di tengah gedung tertinggi Gangnam, tanpa ada jalan untuk mencapai gedung lain yang lebih tinggi.

Tanpa ada cara untuk mencari makanan.

Jika saja Taeil tidak menampung salju di malam hari—yang kemudian berubah jadi air di siang hari—mungkin Doyeon sudah mati dehidrasi sejak beberapa hari lalu. Tapi tetap saja, tubuh tidak bisa bertahan hanya dengan sekedar air.

Dan malam ini, tubuh Doyeon sepertinya mencapai titik akhirnya.

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

.

.

.

Cuap-cuap by IRISH:

Aku merasa durhaka karena tiba-tiba gak ada angin gak ada ujan ngepost cerita astral semacem ini. Tapi mau gimana lagi, godaan Taeil yang kemarin ulang tahun, dan godaan Doyeon yang jadi bintang MV nya San-E sama Raina itu gabisa ditolak.

Dan karena ngeliat foto Doyeon bertebaran di timeline aku gabisa buat gak ngepublish cerita ini. Padahal niat hati mau ngepublish cerita ini abis semua Myth Series kelar. Hiks. Maafkan daku.

Dan juga, mohon permaklumannya karena mungkin semua fanfiksi aku rata-rata akan bergenre fantasy, atau science fiction, maklumi aku ini otaknya astral jadi kelakuannya selalu bikin cerita dengan dua genre itu. Hiks (2).

Hope you like this story anyway.

Catch Me On:

askfm facebook gmail instagram line soundcloud twitter wattpad wordpress

Advertisements

38 thoughts on “[Twoshots] CATASTROPHE (1/2)

  1. UWAOOOH. Gils apa rasanya suhu 46 derajat di siang hari, terus malemnya turun salju dingin. Udah bnr2 gak singkron cuacanya 😰😢. Btw kakrish emejing imajinasinya! KEEP WRITING KAK! Kyaaaa ibunda Taeil kata Doyoeon senyumannya manis ( ini sebenernya kata Doyeon apa kata kakrish XD) /plak/

    Gemas sama Doyeon :3
    Ditunggu cerita keduanya kakrish yang membahenol! Ihiiiiik XD

    Liked by 1 person

    • antara pengen nari tor-tor sama pengen jambak joni ketika aku minta ditambahin kategori dan malahan Jemmber baca ini cerita astral.. XD wkwkwkwkwwk
      BTW, aku bayanginnya sekarang INdonesia suhunya berapa… mungkin 46 derajat itu kurang HOT ya, kan kalo HOT itu bisa jadi ambigu XD wkwkwkwkwk
      ITU KATA DOYEON DAN KATA AKU BER, SENYUM MELASNYA BUNDAMBAH ITU MANIS XD WKWKWKWKWKWKW thanks ber udah mampirr

      Like

  2. KARISSSHHH! AKU INGIN MENGGELINDING SEJENAK!

    aku bener-bener gabisa bayangin, karish abis dikasih makan beras plastik atau sate plastik nih imajinasinya benar-benar memabukkan kyaaaaa :3 gimana bisa dua orang manusia bertahan hidup ditengah iklim seekstrim itu, ga makan pula, untung ada senyuman bunda taeil yha, pasti rasa haus dan dahaga pun hilang ._. KEEP WRITING KARISH! DITUNGGU FINAL CHAPTERNYA HAHAAAAY, GA SABAR NUNGGU ADEGAN ROMANTIS BUNDA DAN DOYEON AH /dikeplak/ love you karish muaaah muaaaahh ❤

    Liked by 1 person

    • JANGAN MENGGELINDING, BAYANGAN AKU TENTANG MENGGELINDING ADALAH KEPALA OMJON YANG NGETUK JENDELA TAU …….
      entahlah ._. sejujurnya aku lebih bisa bikin fantasy sama sci-fi dibandingkan genre lain, hiks, mungkin waktu kecil aku dikasih makan bubur plastik /kemudian menggelinding bareng joni/ IYA YA, PHUELIS, ITU KATA-KATA SENYUMAN BUNDA BIKIN INGET MOMEN TAEIL TERAWEH BAWA ANAKNYA WKWKWKWKWKWKWKWKWKWKWKWKWKWK XD
      DOYEON MATI NANTI DON, MATI XD

      Liked by 1 person

  3. DEMI APA KAK IRISH PUBLISH KOPEL INI LAGI… dan akupun termehong -,-

    Distopia… Aku sebenernya udah ngwebet bikin genre yg ucul ini, tp imajinasi ini terlalu sempit kak T T Kalopun buat ntar jadinya ancurr /kek suaranya dedek Jae/ /lalu digorok/

    Diksimu seindah senyuman Taeil kak ‘-‘

    Part pertama aja udah bikin termehong, last part jangan bikin aku terpaksa makan beling gara2 sad ending ._.

    Like

  4. Disini Taeil gak serigala kan kak? /Plak/ Doyeonnya gak mati kan? Sungguh, imajinasi kak Irish terbuat dari apa ya? Kok hebat sekali? Ini imajinasinya bukan efek jomblo kan kak? /?/ Maafkan aku yang siang-siang panas terik udah minta digapok 😂

    Tak sabar menunggu endingnya, suka ceritanya 💙

    Like

  5. Ya tuhan, ada gak favorit ka Irish selain kopel ini // ngebayangin Taeil yg manis dan Doyeon yg imut cD
    Over all, daebakk bingo! Belum apa-apa Taeil udah ngode, bisa aja nih

    Selamat ngelanjutinnya kakakk

    Like

  6. KAK IRIISSHHH~~ DEMI APA INI DISTOPIA LAGI!!! AKU GABISA NYANTE INI HUHUH -_- MAS MOON, KENAPA KAU JADI BEGITU UMPATABLE DISINI SAKING KERENNYA MAS? JAWAB AKU! /digampar

    Aakkk~ itu tdi ga sengaja liat komentar, doyeonnya mau dimetongin yah? yaampun, kak:”) bakal sad ending kah? akkk, sejak kapan kakirish jdi suka sad ending?? /nad, jan sotoy plis.

    eh tapi quotenya kan do you remember me, ah… tau lah. aku menunggu dua aja lah kak:))))

    Like

    • IYA, INI DISTOPIA, EGEN (GENRE YANG MEMBOSANKAN RISH, READERS ENTE UDAH BOSEN) wkwkwkwkwk XD Taeil jadi umpatable itu menyenangkan ya XD wkwkwkw
      aduh aku gatega memberi spoiler di komentar ini XD wkwkwkwkw
      enggak, aku gak bilang metong berarti sad ending loh XDD

      Like

  7. Kak Irish maapkeun aku yang baru sempet meninggalkan jejak buat epep ini :’)
    Woah, Taeil-Doyeon lagi
    Ya ampun salah satu paporitku><

    Like

  8. DEMI APA COMMENT-KU KEPOTONG
    Kak Irish maapkeun aku yang baru sempet meninggalkan jejak buat epep ini :’)
    Woah, Taeil-Doyeon lagi
    Ya ampun salah satu paporitku><

    Like

  9. “Bagaimana kalau kita sama-sama tidak bisa bertahan sampai saat itu?” tanya Doyeon.
    Taeil menatap gadis di hadapannya dengan ekspresi tenang. Sebuah senyum lantas ia lemparkan sebelum lengannya menarik tubuh sang gadis ke dalam rengkuhan.
    “Jangan takut, Doyeon-ah . Kalau pun hanya satu dari kita yang bisa pergi ke sana. Kupastikan satu orang itu adalah kau.”

    BAGIAN INI BIKIN ORANG JADI STRESS

    Like

  10. setidaknya biarkan Doyeon bertahan lebih lama lagi meskipun hanya kemungkinan kecil

    btw gp kok kak, aku malah suka 2 genre itu, cuman kalo sci-fi aku agak nggak begitu paham jenis ceritanya. hehehe 😀 mian 😀

    Like

  11. disini si mas bulan keliatan ganteng banget ya rish./padahal aslinya jauh lebih ganteng/
    suwun loh rish, kebetulan banget aku ngebiasin si mas bulan taeil (sama dedek mark). hahaha

    taeil jangan dibikin sengsara ya rish,cukup didunia nyata aja dia dibikin nangis sama adek2nya yg kurang ajar itu

    Like

  12. Rishhhh…
    Aduh, ini ide’nya top rish , ohmaigat..

    Doyeon mati? Yaampunn Baru jg mnikmati alur crta dgn adanya si jun jihyun KW super… -,-”

    Dek moon jenius??cieee biar gk dikerjain sm dongsaeng2nys di NCT yah #ehh

    Like

  13. Waaaa seru irish aku ga tau kalo tenyata ff buatan irish udah lumayan banyak disini wkwk

    Tapi entah kenapa susah nyari ff yg castnya winwin 😒
    But its okay,, ff ini seru kok tapi bukannya ff irish semuanya emang fantasi ya? Sepanjang aku menjadi reader ff buatan irish /gile bahasanya/

    Ff irish emang fantasi semuakan?
    Ditunggu kelanjutannya ya
    Tadi juga keknya banyak ff irish yg blm aku baca deh

    Hwaiting irish ^^

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s