[Ficlet-Mix] A Man Who Needs Elixir (2)

a-man-who-needs-elixir-2

a Man Who Needs Elixir

a fiction by Angelina Triaf; myungtae; thehunlulu

[NCT] Lee Taeyong

Support cast(s) Moon Taeil, Ji Hansol, Nakamoto Yuta

Genre : Psychology, Romance, Friendship, Painful, Sad | Duration : 3 Ficlets | Rating : PG-13

Special b-day fic!

 

[1]

Otak menyimpan informasi terbaik ketika seluruh anggota tubuh lain dalam kondisi istirahat. Atau kata lain, tertidur. Mungkin, hal ini hanya berlaku bagi sebagian orang. Sebagian lain malah akan lupa dengan informasi apa yang diterima kemarin. Dan aku merupakan satu dari sebagian lain itu.

Sejak kecil, ingatanku buruk. Bahkan materi pelajaran yang baru dijelaskan di kelas akan langsung menguap begitu aku mengangkat kaki meninggalkan gedung sekolah, pulang ke rumah.

Tidak hanya itu, aku juga sering kehilangan sesuatu. Mulai dari benda-benda kecil tak berguna, sampai benda yang terpenting sekalipun. Ponsel, misalnya. Ya, aku sendiri sudah lupa berapa kali mengganti benda elektronik tersebut akibat kecerobohanku. Ceroboh? Lebih tepat jika dikatakan aku ini pelupa. Tak heran jika teman-temanku memberikanku julukan ‘haraboji’.

Tapi akhir-akhir ini, daya ingatku semakin memburuk. Terutama jika aku baru saja terbangun dari tidur. Jangankan materi pelajaran, apapun yang kulakukan hari sebelumnya sama sekali tak berbekas dalam ingatan begitu aku terjaga dari alam bawah sadar.

Dokter pernah mengatakan tidak ada masala dalam tubuhku. Hanya kelelahan dan butuh istirahat, katanya. Namun, aku bukanlah orang yang dengan mudah percaya begitu saja pada seorang dokter. Bahkan aku tak percaya saat ia mengatakan ingatanku akan membaik jika rutin meminum obat darinya. Jikalau tak ada masalah dengan tubuhku, pasti aku tak perlu meminumnya ‘kan?

Nyatanya, yang ada kondisi jauh lebih buruh kian hari.

Aku bahkan nyaris tak mengingat apapun saat membuka mata. Yang kulihat pertama kali hanya dua kata yang tertulis di lenganku dengan tinta permanen.

Lee Taeyong.

Begitu yang terukir di sana. Aku sendiri tak yakin itu adalah namaku atau bukan.

Sudah ku katakan tadi, aku tidak dapat mengingat apapun saat membuka mata.

.

[2]

 

Kata orang-orang Taeyong itu gila. Taeyong sudah tidak waras. Taeyong tidak pantas memijakkan kaki di muka bumi yang terlampau suci ini. Kata orang-orang—lagi—Taeyong seharusnya tidak pernah dilahirkan dan mengakibatkan banyak malapetaka bagi kelangsungan hidup orang banyak. Seharusnya Taeyong mengetahui semua itu.

Namun Taeyong tetap bersikap acuh, menggiring langkah menelisik semak belukar yang terletak di belakang sekolahnya. Jangkahannya cukup panjang, membuatnya hanya bisa menerka-nerka perihal presensi jangkung berbalut pakaian hitam di belakangnya. Mengerahkan kecepatan maksimal, punggung Taeyong berbelok pada salah satu persimpangan jalan ditemani alunan napasnya yang memburu, berkejaran dengan keringat sebesar biji jagung yang meluncur dari pelipisnya. Kemudian kedua tungkainya berhenti otomatis saat lagi-lagi dirinya harus dihadapi oleh dua persimpangan—ke kanan dan ke kiri. Hanya melalui ekor matanya saja, jalanan tak berujung di belakangnya sudah digerayahi oleh keberadaan manusia jangkung itu. Kali ini pria misterius itu juga berhenti, merangsang adrenalin Taeyong untuk membuncah tanpa permisi. Secepat kilat pemuda itu belok ke arah kanan, berlari sekencangnya sembari melepas penutup kepala pada jumper yang ia pakai.

“Jangan, kumohon jangan membuntutiku…” rintihan Taeyong berdifusi dengan udara, saling mendahului antara napas yang tak terkontrol dan kalimat selanjutnya yang hendak ia utarakan. “Kumoho—TIDAAAK!!!”

BRAAK!!

Dan semuanya menjadi gelap. Semua rencana Taeyong yang semula hendak mengerjakan tugas di rumah neneknya sepulang sekolah pun harus pupus. Perlahan matanya menerawang, seperti menembus cakrawala lalu terhempas turun, meninggalkan sang jiwa yang telah berkelana menjamah dunia antah berantah.

***

“Lee Taeyong!”

Sayup-sayup ringisan samar terkulum pada kedua ujung bibir Taeyong. Sorot penuh tanda tanya yang mengerubungi otaknya ia lontarkan pada wanita tua yang duduk di pinggir ranjang. Pemuda itu terperanjat bukan main. Sekujur tubuhnya yang semula baik-baik saja berubah menjadi putih berbalut perban dengan bercak merah yang merembes pada beberapa sisi tubuhnya. Hendak mengadu pun kerongkongan Taeyong rasanya seperti tercekik hingga sekarat oleh benda yang membalut lehernya.

“Ne-nenek…”

Mematung bak robot bernyawa yang hanya mampu mengasihani diri sendiri tanpa mengerti apa yang terjadi, hampir separuh kelopak mata Taeyong tergenang oleh cairan bening yang akhirnya ia tumpahkan. Sembari mengoyak-ngoyak pundak neneknya tanpa ada sebuah pertanyaan, Taeyong menangis sesenggukan.

“A-aku ti-tidak mati, kan?” Kuriositas Taeyong masih berlabuh pada sepersekian persen pikiran rasionalnya. Ia berusaha meyakinkan neneknya bahwa ia baik-baik saja. Taeyong pasti akan baik-baik saja jika wanita itu memberitahu apa yang telah terjadi—dari awal hingga Taeyong berakhir menyedihkan seperti ini.

“Mengapa kau tidak pernah menuruti nasihat Nenek, Taeyong?” Sang Nenek berkaca-kaca kemudian mengusap rambut cucunya itu dengan lembut, mencium semerbak aroma medis yang melingkupi ruangan tersebut.

Sejenak Taeyong melirik ke atas, menatap cairan infus yang bergoyang pelan saat ia menggerakkan tangannya. Kemudian ia beralih memandang kedua manik sang Nenek dengan gundah. “Aku tidak bersalah, Nek, jangan selalu menyalahkan diriku seperti itu! Mengapa semua orang selalu menyalahkanku seperti diriku adalah penyebab semua kegilaan ini?! Aku hanya berjalan dari sekolah melewati jalanan kecil untuk menuju rumah Nenek, hanya itu!” Desisan kecil yang awalnya Taeyong lontarkan berakhir menjadi sebuah hardikkan gaduh. Ia berteriak nyaris tercekat saat lagi-lagi neneknya menyalahkan dirinya. Semua kejadian di dunia ini seakan dirinya lah dewa pengendalinya.

“Taeyong! Dengarkan Nenek!”

“Aku muak dengan semua ini, Nek!” Taeyong menyambar kotak medis yang terletak di dekatnya.

PYAR!!

Kemudian ia menendang meja nakas di sampingnya hingga tergelincir jauh, membuat semangkuk bubur di atasnya berceceran ke lantai. Taeyong mencoba mengerahkan seluruh tenaga yang ia miliki hanya untuk berdiri tegap, kendati kaki kirinya masih dibalut gips bersamaan dengan rasa nyeri luar biasa yang masih menggerogoti tubuhnya.

“Lee Taeyong hentikan!”

Sang Nenek berusaha menyergah perbuatan Taeyong yang hendak kabur dari ruangan dengan pergelangan tangan kanan yang bercucuran darah. Ia terseok-seok sempoyongan, memegangi luka tersebut setelah ia berhasil mencabut paksa selang infus dari pergelangannya.

“Teroris, Nek! Aku diuntit teroris!” Taeyong berhenti, kemudian menoleh pada neneknya yang membekap mulutnya dengan perasaan shock.

“Taeyong! Berhenti mengulang sikapmu seperti tiga tahun lalu! Nenek pikir semakin bertambah dewasa dirimu maka kau semakin pandai mengontrol kehidupanmu.”

Taeyong menyeringai menggunakan salah satu sudut bibirnya, menyoroti Neneknya dengan tatapan benci. Sang Nenek berlutut perlahan, menangis sejadi-jadinya di hadapan Taeyong yang berhasil membuka kenop pintu.

“Ja-jangan pergi sekarang, Taeyong, ini masih siang. Nenek lebih tega membiarkanmu bepergian saat hujan turun daripada siang bolong seperti ini.”

Taeyong menatap lemah Neneknya yang tampak memukul-mukul dadanya sesak. Tangannya yang semula tertaut pada kenop pintu perlahan merosot. Ia berjalan gontai menghampiri wanita tua itu kemudian berbisik, “Jangan katakan, Nek… Jangan katakan soal penyakit itu lagi…”

***

“Lihatlah!” Hansol terbahak maksimal disusul gema membahana dari kawannya. “Sudah berapa abad, ya, kita tidak melihat Taeyong berbuat sinting seperti itu?” Hansol menyembulkan kepalanya di antara semak belukar sembari terkikik membalas ucapan Yuta yang berada di sampingnya.

“Rekam saja kelakuan memalukannya lalu kita unggah ke sosial media!” timpal Yuta.

Hansol pun berderap pelan mendekati Taeyong yang terus berlari sambil berteriak minta tolong. Yuta menyeringai hebat saat menangkap lanskap Taeyong yang berdiri linglung sembari menoleh ke belakang—lebih tepatnya menoleh ke arah angin karena tidak ada siapapun di belakang Taeyong.

“Lee Taeyong sinting! Lee Taeyong bego! Sampai ke tembok Cina pun kau tidak akan bisa menghindari bayanganmu sendiri, bodoh! Sampai kapanpun bayanganmu akan selalu mengikutimu!” pekik Hansol yang masih fokus pada ponsel yang ia gunakan untuk merekam gelagat Taeyong.

“Hei Hansol, sebenarnya Taeyong sakit apa, sih?” tanya Yuta.

“Narsisisme.”

Keduanya, Hansol maupun Yuta tersentak bukan main saat seorang pemuda berdiri di belakangnya sembari menatap mereka satu per satu. Tatapannya teduh, kemudian tersenyum kecut ke arah dua karib itu.

“Ta-Taeil?”

“Kau tahu itu apa? Itu adalah sindrom yang menyebabkan Taeyong mencintai dirinya secara berlebihan. Taeyong tidak gila, ia begitu ingin melindungi dirinya sampai-sampai ia sangat waspada terhadap bayangannya sendiri.”

“Bagaimana kau tahu?” tanya Hansol kemudian.

Taeil mengangguk. “Aku tahu karena aku sahabatny—LEE TAEYONG!” Sejurus kemudian Taeil mengalihkan pandang, berlari ke arah Taeyong yang terpental jauh karena truk berkecepatan tinggi menabrak tubuh karibnya.

Taeil terduduk lemas, menepuk-nepuk pipi Taeyong yang bermandikan darah kemudian menatap sepasang mata sahabatnya yang mulai hilang kesadaran. “Hansol! Yuta! Cepat panggilkan ambulans!”

.

[3]

 

“Hei, Mas, bangun!”

Taeyong tersentak di kursinya, terdiam cukup lama sembari memfokuskan pandangannya pada seseorang yang kini tengah duduk di sampingnya. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar, mendapati banyaknya rak buku tinggi berjajar dengan rapi bak permainan domino. Ia sangat tahu tempat apa itu.

Perpustakaan kota. Tapi, kenapa ia bisa berada di sini?

Lagi, siapa gadis yang kini tengah memandangnya itu?

Kedua mata hazel pemuda itu masih membulat, kelopak matanya terbuka lalu menutup dengan ritme yang sama. Taeyong sepertinya masih berada di luar alam sadarnya. Buktinya ia masih saja belum bersuara. Gadis di sampingnya terlihat mulai jengah. Si cantik memutar mata lantaran menjadi kesal sendiri.

“Mas, kenapa melamun?”

“Ha?”

Mendapat respons seperti itu tentu saja membuat sang jelita menaikkan sebelah alisnya karena heran. Mungkinkah Taeyong terbentur sesuatu atau ada hantu yang merasukinya dan mengambil alih ingatannya? “Mas, kenapa jadi linglung seperti itu?”

“Kamu siapa?” tanya Taeyong dengan suara hampir berbisik. Demi Tuhan, tentu saja hal itu langsung membuat orang di sampingnya semakin kaget.

God, Mas Taeyong?! Ya Tuhan, sepertinya tidur di perpustakaan berpotensi membuat orang amnesia. Tunggu! Cheon panggilkan ambulans―”

“Eh, tidak usah!” cegah Taeyong kemudian. Ia refleks menggenggam jemari mungil itu karena lebih takut lagi jika si gadis benar-benar memanggil ambulans.

Taeyong sehat, ia yakin akan hal itu. Tapi masalahnya ia benar-benar tak punya ide akan semua ini. Sungguh aneh ada seorang gadis asing yang mengenalnya bahkan terlihat sangat dekat dengannya sementara Taeyong tak kenal sama sekali. Demi udara dan laut, ada apa sebenarnya?

Tangan Taeyong masih tertaut dengan milik si gadis, dan sepertinya ada sesuatu yang aneh menjalar dalam dadanya. Sungguh, Taeyong sama sekali tak mengenalnya, tapi sepertinya ada yang aneh di sini. “Eum, maaf, kamu siapa, ya?”

Wajah syok gadis itu tak dapat disembunyikan begitu saja, membuat Taeyong semakin bingung mengapa ia terlihat seperti itu dalam kenyataan bahwa bahkan Taeyong sendiri tak mengenalnya dan bingung mengapa ia bisa ada di perpustakaan kota seperti ini.

Di luar dugaan, gadis itu langsung mendekatkan wajahnya pada Taeyong. Diulurkannya satu tangan lalu ditempelkan pada kening Taeyong, memeriksa suhu tubuhnya siapa tahu pemuda itu terserang penyakit aneh yang sedang booming saat ini.

“Mas, ini Cheonsa. Oh God, what’s going on here…”

“Cheonsa siapa?”

Demi apa pun di dunia ini, ucapan Taeyong barusan benar-benar membuat Cheonsa tertohok sampai ingin pingsan rasanya. “Cheon kan kekasihnya Mas Taeyong…” lirihnya, wajahnya memerah menahan tangis. Ini perpustakaan, maka dari itu sebisa mungkin Cheonsa memelankan suaranya agar tidak memancing atensi orang lain.

Kini ganti Taeyong yang mengerutkan keningnya. “Kekasih…? Sepertinya aku tidak punya kekasih sampai saat ini,” balas Taeyong, antara yakin dan tidak. Bagaimana bisa ada gadis cantik yang mengaku sebagai kekasihnya seperti ini? Bagaimana bisa?!

Sepuluh detik berlalu, sebelum akhirnya Taeyong bisa melihat dengan jelas wajah Cheonsa yang semakin memerah. Lalu…

“Huaaaaaaaaaaa Mas Taeyong jahat!”

Teriakan dua oktaf itu sukses membuat Taeyong memejamkan matanya sembari menutup kedua telinga. Dengan perasaan aneh dan penasaran tingkat tinggi, Taeyong masih saja memikirkan beberapa kemungkinan yang terjadi padanya saat ini.

“…Yong! Taeyong!”

“Ah, ya?!”

Lain dengan yang tadi, kini Taeyong dengan jelas melihat wajah Yuta di hadapannya. Pemuda itu mengerutkan kening, menatap Taeyong dengan aneh sementara sang empunya nama hanya terdiam dan berusaha menetralkan detak jantungnya.

“Pantas saja kau tidak merespons. Sedang melamunkan apa, sih?” todong Yuta langsung, membuat Taeyong kebingungan sendiri. Ia kehabisan kata-kata karena rasa syok yang memakunya untuk terus terdiam.

“Itu… tadi…”

Yuta menghela napas, malas menunggu Taeyong kembali lancar berbicara. “Jadi, bagaimana? Apa kau ingin bertemu dengannya?”

“Ha? Apa? Bertemu siapa?”

“Aish anak ini!” Yuta memukul bahu Taeyong pelan, benar-benar tak habis pikir bagaimana bisa Taeyong tak mendengar cerita panjang-lebarnya padahal mereka telah berjalan cukup jauh meninggalkan area kampus.

“Tadi kan sudah kuceritakan, sepupuku akan pindah kuliah ke sini. Mungkin kalian akan cocok jadi aku ingin mengenalkannya padamu. Bro, terlalu lama sendiri berpotensi membuatmu jadi gay, tahu tidak?”

Oh, jadi dari tadi Yuta tengah bercerita tentang sepupunya, pikir Taeyong. Untuk sejenak ia mulai melupakan bayangan aneh yang terjadi dalam benaknya. “Oh, maaf tadi aku melamun,” kata Taeyong akhirnya, hanya bisa menunjukkan senyum kecil. “Memangnya siapa?”

“Namanya Cheonsa, sudah direkrut jadi model salah satu agensi di Tokyo tapi katanya ingin kuliah di sini.”

“Apa?!”

Kekagetan Taeyong tentu saja membuat Yuta panik sendiri. Keheranan bercampur dengan rasa aneh pada sahabatnya satu itu, Yuta mungkin akan mengira kalau Taeyong sudah beranjak gila.

Atau memang demikian. Taeyong akan menjadi gila apabila hal tak masuk akal yang terjadi dalam benaknya tadi benar-benar menjadi nyata.

.FIN

Advertisements

17 thoughts on “[Ficlet-Mix] A Man Who Needs Elixir (2)

  1. Gagal paham ini… bingung…. jadilah cuma baca sekenanya aja… Kyaa kyyaa kyyaa… Mas Taeyong kenapa makin gila?? Kya kya kya…. itu yang ada Cheon Cheon nya kerjaannya Ka Njel bukan sih?? Weh weh weh… kalo aku jadi Cheon udah banting meja banting kursi terus BHAAAAYYYY MINGGAT… JAUH JAUH SANA SANAA.. JAN DEKET DEKET LAGI.. /Tapi apalah daya emang bisa nolak mas yang katanya ‘harbeoji’ cem Taeyong??/ 😄

    Like

  2. cerita 3 kukomen dulu ya gemes soalnya. MAS taeyong is lyfe. dan hilarious sekali ternyata cuman ngayal, mas taeyong ampun -.- keren!
    cerita 2 juga keren, ga nyangka taeyong takut sama bayangannya sendiri huhuhu, kasian
    cerita 1 idenya boleh, tapi cuman agak kurang rapi. typonya masih bertebaran dan tidakkah ‘ku katakan’ itu salah tulis? aku nanya kok bukan ngetes, beneran soalnya jarang kulihat dua kata itu dipisah.
    keep writing all ^^

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s