[NCTFFI Freelance] Crown (Chapter 1)

crown-c1

CROWN : Chapter 1
Scriptwriter
Amandzaty (ig: ndzaslm_)
Gendre
Aternal Universe, Fantasy, OOC
Rating
PG-13 (R-BO)
Starring
Kim/Lee Taeyong (NCT U’s Taeyong) || Im Na Na (After School’s Nana) || Seo Youngho (NCT U’s Johnny) || Nakamoto Yuta *cameo (NCT U’s Yuta)
Length
Chaptered (1000-3000 Words/Chapther)
Other(s)
Kim Dong Wan (Shinhwa’s Dongwan) || Mr & Mrs. Tanaka (Original Character) || Jang/Kim Yu Jin (After School’s Uee)
Disclaimer : OC & story is mine.
.
.
Oh astaga, dunia memang sempit.”

.

.

Tak seperti bisanya, hari itu kantin sekolah penuh sesak. Padahal jajanan disana telah ludes dibeli para siswa, tapi nampaknya ada sesuatu yang bahkan jauh lebih menarik ketimbang tteok, sup tofu, dan japchae hangat yang selalu tersedia bersama dengan nasi dan segelas susu di kantin. Memang wanita dari sudut dunia manapun pasti akan tertarik dengan pria tampan. Terlebih yang satu ini. Pria tidak dikenal yang punya style super fashionable bak selebritis, dari ujung rambut sampai ujung kaki segalanya sangat kekinian dan pas betul dengan perangainya.

Pria itu duduk dimeja nomer dua belas. Irisnya yang besar dan indah sedari tadi sibuk bolak-balik melihat jam tangan yang terlingkar di pergelangan tangan kirinya. Tidak menanggapi segala macam desis-desisan siswi-siswi Sekolah Menengah Atas yang menggema. Agaknya tengah menunggu kedatangan seseorang.

“Ada apa ini?,” Sebuah suara garang, menyingkirkan desas-desus yang sejak tadi mengisi keheheningan. Secarik kalimatnya sungguh mampu membuat segala macam suara kala itu membungkam diri. Pemilik suara itu mendesak meminta jalan, tanpa aba-aba gadis-gadis mulai mundur. Choi Siwon, seorang guru mata pelajaran Bahasa Korea, yang terkenal tampan namun galak. Tak heran, siswi-siswi itu tak ada yang berani berkutik, “Kembali ke kelas, bukanya dari tadi sudah bel?,” Lanjut Guru Choi, Kemudian sekonyong-konyong kerumunan siswi itu bubar memenuhi koridor untuk kembali ke kelas mereka.

Pria Choi menyipitkan mata menatap pria ganteng yang menyita perhatian siswi-siswinya. Ia berdecak kesal, “Kris, bukankah sudah pernah kukatakan untuk tidak datang ke sekolah? Apalagi dengan pakaian mencolok seperti itu.”

Namanya Kris Wu-yang sejak tadi jadi pusat perhatian itu- berasal dari Cina, muda dan kaya, nampak betul dari sederet outfit branded yang menempel pada tubuh jangkungnya, “Mencolok bagaimana? Ayolah, ini cuma jaket kulit warna merah biasa.”

Siwon memutar bola mata. Kakinya yang jenjang berjalan mendekat. Digesernya mundur sebuah kursi dimeja nomor dua belas itu kemudian didudukinya. Ia berpangku tangan, menatap serius lawan bicaranya, “Katakan, ada apa sebanarnya?”

“Kita punya sebuah misi, hyung.”

Siwon mengangkat alis, “Apa-apaan?”

“Memang sih, sudah lama sekali sejak Bos Jang meminta kita melakukan sesuatu,” Ujar Kris, “Makanya ini kabar baik, bukan begitu? Misinya tidak sulit menurutku. Sumpah demi apapun, ini semudah menjentikkan jari,” tambahnya sembari menjetikkan jarinya-mencoba mengekspresikan kata-katanya-

“Memangnya apa?”

Kris merogoh sakunya, lalu darisana keluar secarik foto. Bola mata Siwon seketika membulat melihat foto itu, “Tunggu ini..,” tanganya cekatan mengambil foto itu untuk dilihatnya lebih dekat, “.. dia siswa disini, dia ada dikelasku.”

“Dia putra mendiang Kim Dongwan. Tau ‘kan? pengusaha yang kaya raya itu. Sudah lama sekali Bos Jang jadi sekretaris pribadinya. Dia ingin kita mengawasi anak itu.”

“Ada urusan apa Bos Jang dengan anak ini? Tidak mungkin pria itu ingin melindungi seseorang meskipun itu anak majikanya,” Siwon menyandarkan pungunggnya di kursi, tanganya bergerak pelan mengelus dagu, “Kalau untuk alasan dia adalah ancaman baginya. Mmm, ya kupikir dia memang anak nakal. Tapi aku rasa dia bukan tipe orang yang mau menyulitkan diri sendiri untuk jadi pengungtit, hacker dan sejenisnya.”

Kris terkekeh, “Memang tidak,” lalu Pria Cina itu merapatkan kursinya ke meja, “Ini masalahnya Nona Yujin sebetulnya, Bos hanya tertarik untuk main-main sebentar.”

“Nona Yujin? Siapa itu?”

“Permisi tuan-tuan,” sebuah suara serak khas pria berumur, mengagetkan kedua kawan itu. Siwon yang kenal betul dengan pria itu langsung berdiri lantas membukukan badan sembilan puluh derajat, sebagai bentuk penghormatan. Kris yang bingung, hanya menundukkan kepala ikut memberi hormat tanpa tahu siapa gerangan sosok pria itu, “Sudah lama sekali ya Pak Guru Choi.”

Siwon tertawa ringan, “Benar, Pak Tanaka. Ayo mari, silakan duduk.”

Kris melirik Siwon, menyenggol bahu guru muda itu meminta jawaban dari pertanyaan yang mulai menganggu otaknya. Melihat kebingungan Kris, Pak Tanaka mulai berkata, “Ah, siapa anak muda tampan ini? Aku belum pernah bertemu dengannya sebelum ini,” Kris tersenyum bodoh mendengarnya.

“Abaikan saja dia. Hanya pengacau kecil yang kebetulan datang,” ujar Siwon memberi tatapan menginterupsi pada Kris, “Jadi ada urusan apa sampai-sampai anda datang menemui saya?,” lanjutnya.

Tangan keriput Pak Tanaka terangkat membetulkan posisi monocle yang membingkai mata kirinya, “Ini permintaan dari Nyonya kami. Kim Yujin.”

Baik Siwon maupun Kris terdiam mendengar nama itu disebut, “Kim Yujin?”

“Istrinya Tuan Kim,” Siwon mengangguk-angguk, lalu mempersilakan pria paruh baya itu melanjutkan ceritanya, “Begini, Tuan muda kami Kim Taeyong, sejak kematian ayahnya dia jadi lesu dan pemurung. Sudah berkali-kali kami membujuknya untuk pergi ke sekolah, tapi ia tetap tidak mau. Padahal sudah jelas betul nanti ia akan memegang kendali penuh atas perusahaan Tuan kami. Jadi baik saya maupun Nyonya sangat khawatir pendidikan Tuan Muda nantinya akan terbengkalai. Maka dari itu, beliau-Nyonya Kim- meminta saya untuk menanyakan kesediaan anda memberikan pelajaran di rumah kami pada Tuan Muda.”

Choi Siwon berdeham, mengetes fungsi pita suaranya.

“Ngomong-ngomong, aku turut prihatin atas kematian majikan anda,” katanya, “Memang. Usia seperti Taeyong sangat rawan mengalami trauma psikis pasca meninggalnya orang terkasih. Apalagi jika mengingat kini baik Ibu maupun Ayah kandungnya sudah tiada. Lagipula dia adalah murid di kelasku, jadi untuk apa menolak permintaan Nyonya Kim? Saya akan dengan senang hati melakukanya.”

“Terimakasih,” Pak Tanaka tersenyum, begitu juga Siwon, “Jika begitu, saya mohon diri. Selamat siang.”

Pria paruh baya itu lalu memberi hormat, dan segera ia meninggalkan kantin sekolah itu. Kris yang sedari tadi mengurung rasa penasaranya mulai berkecek, “Siapa itu tadi, hyung?”

“Tanaka. Kepala pelayanya Keluarga Kim. Aku mengenalnya saat ia masih menjadi guru Bimbingan Konseling disini.”

“Tunggu. Apa?”

“Dia mengundurkan diri, tidak tahu kenapa. Lalu memilih untuk mengabdi kepada keluarga Kim. Dia baru bekerja tiga tahun yang lalu di rumah itu. Tapi kakek itu sepertinya sudah dapat kepercayaan penuh,” Kris ber-oh ria, “Kukira tadinya ia ada hubunganya dengan misi kita, tapi ternyata kau bahkan tidak tahu siapa dia.”

()()()

Bangunan ditengah kota itu tak lagi digunakan. Maklum. Hanyalah sebuah rumah makan yang tidak pernah selesai dibangun. Bangunan itu tak terawat, dindingnya dipenuhi lumut. Beberapa bagiannya sudah rapuh tak lagi kuasa menahan ekstremnya iklim negeri gingseng. Namun wanita itu, sepertinya tidak keberatan dengan kondisi bangunan yang sudah mau ambruk. Ia tetap tenang duduk di atap bangunan sambil menengadah menatap langit. Mengisi waktu luang, ditengah kesibukan gaibnya.

“Apa-apaan sih, kenapa jadi begini,” Ia menggeram frustasi.

Terlintas diotaknya pesan terakhir dari roh yang terakhir kali dijemputnya belakangan ini. Im Nana yang malang, dirinya harus terikat sebuah pesan dari orang itu. Memang benar adanya sebagai seorang ‘penjemput roh’ sudah tugasnya menyelesaikan perkara yang belum selesai dari roh yang ia jemput. Hanya saja tidak pernah terlintas dibenaknya, jika ia harus melindungi seorang bocah yang bahkan mengenalnya saja belum pernah, “Ah sial!,” umpatnya diikuti oleh lemparan kaleng bekas minuman.

“Aw!,” seseorang memekik keras dari bawah sana. Membuat Nana khawatir kalau-kalau pekikan itu adalah hasil karya lemparan kalengnya, “Hey! Siapa sih yang melempar kaleng sembarangan!?”

Rupa-rupanya memang benar. Tapi tak apa toh Nana tidak kelihatan ‘kan. Orang dibawah celangak-celinguk mencari siapa pelaku pelemparan kaleng yang terjadi terhadapnya. Namun ia tak mendapati apapun, sampai akhirnya orang itu menengok ke atas dan kepala Nana yang masih menatap kebawah dilihatnya, “Kau!”

Nana terkaget. Ia terjungkat ke belakang . Dia bingung kenapa orang yang barusan bisa melihatnya. Ia kembali menengok ke bawah tapi ia sudah tidak ada disana. Antara lega dan takut. Ia berpikir mungkin orang itu sebenarnya masih ada disekitar sini.

Suara decitan hasil anak tangga yang dinjak cepat memecah keheningan, membuat Nana menengok ke belakang. Ia tak bergerak menunggu seseorang itu selesai menaikinya. Aku mana mungkin bisa dilihat manusia, kecuali jika dia iblis, atau sejenisnya.

Seseorang menyembul dari lubang yang menghubungkan tangga dengan lantai atap yang terbuat dari semen. Pemuda dengan badan tinggi dan punggung yang lebar. Tak nampak begitu jelas wajahnya karena malam ini begitu gelap, terlebih dengan poni panjang yang menutupi sebagian matanya. Wajahnya nampak bingung, “Eh? Seorang gadis?” Kedua alis Nana bertaut, kemudian ia menengok ke kanan dan ke kiri juga kebelakang, memastikan tidak ada seorang gadis yang sedang berdiri didekatnya, “Kenapa? Tentu saja kau, tidak ada orang lain selain kita disini.”

“Ka-kau bisa melihatku?”

“Apa maksudmu? Tentu saja bisa.”

“Ta-tapi aku-,” belum sempat Nana melanjutkan perkataanya, orang itu mendekatinya. Lalu tanganya yang panjang mennyentuh puncak kepala Nana.

“Untuk apa seorang gadis malam-malam begini berkeliaran?”

“Hey, tidak sopan! Aku lebih tua darimu,” desis Nana, “Singkirkan tanganmu. Tinggi kita hanya beda 13 centi, tidak usah sok.”

“Seharusnya aku tahu,” sebuah seringai terbentuk diwajah pria itu, “Kalau kau adalah seorang malaikat pemcabut nyawa.”

“Dan seharusnya aku juga tahu kalau kau adalah ‘roh yang mati penasaran’,” Nana menyipitkan matanya.

Pria yang ternyata roh itu terkekeh, “Rupanya benar ya apa yang anak-anak katakan padaku. Orang langit adalah orang-orang suci yang sakti,” katanya.

“Siapa namamu? Dan siapa yang menjemputmu?,” Tanya Nana sambil menelisik tiap detil dari roh pria yang ada didepanya.

“Seo Youngho. Seharusnya aku sudah ada di langit sejak lima tahun yang lalu, tapi yang menjemputku, malaikat bernama Jeon Wonwoo itu sepertinya tidak pernah berhasil memenuhi permintaan terakhirku.”

“Wonwoo?,” Roh Seo Youngho mengangguk, “Dia memang anak baru sih. Hebatnya dia bisa meninggalkanmu disini tanpa diketahui satupun pengawas. Aku mana mungkin bisa.”

Nana membenahi jaket kulit yang merupakan seragam kebesaranya. Ia lalu duduk bersila, kemudian tanganya yang lentik membersihkan daerah didepannya, ia menepuknya dua kali lalu bicara, “Baiklah Tuang Seo duduklah disini. Ceritakan apa saya yang kau ingat.”

“Apa? Nona pencabut nyawa ini ingin membantuku ya?”

Aish, sudahlah duduk saja!”

Youngho lalu duduk tepat didepan Nana, lantas tangan besarnya menyisir rambut harajuku kepunyaanya yang nampak selembut rambut bayi, “Kuharap kau mau mendengarkannya. Ini kisah yang panjang.”

Yongho’s Side

Aku mengambil kunci mobil, saat adikku berteriak minta segera diantar ke sekolah. Berat untuk kami, karena harus hidup tanpa kehadiran seorang ayah. Ayah dan ibuku bercerai setahun yang lalu. Luka, dan kecewa tentu saja masih membekas. Satu hal yang pasti, karenanya aku sekarang jadi tulang punggung keluarga. Untuk sebuah keperluan aku ikut marga ayahku Seo. Dan adik, karena lahir dan dirawat oleh ibu selama ini, tentu saja ia mengikuti marga ibu ‘Nakamoto’.

“Aniki*! Cepatlah!”

“Iya, iya, aku sedang mencari kunci. Tunggu sebentar.”

Dia masih berumur dua belas tahun. Tapi dia memang adikku, seberat apapun masalah yang kami lalui, sekecewa apapun ia dengan keluarganya, dia akan tetap menjadi adik laki-lakiku.

“Aniki!”

“Aniki datang.”

Aku pergi ke garasi, memasukkan kunci ke lubangnya lalu kunyalakan mesin mobil. Adikku itu masuk kedalam mobil dengan gembira, di kursi penumpang sebelahku. Ia mengambil sebuah benda bulat dari sakunya, yoyo. Ia tersenyum sumringah lantas menatapku.

“Aku nanti pulang bareng Taeyong, aniki tidak usah repot-repot menjemputku.”

Dan itu adalah alasan terbesar kenapa dia masih tetap bahagia dengan keadaan ikatan keluarga kami yang berantakan. Karena hadirnya teman itu, yang sering sekali ia sebut namanya. Aku sedikit cemburu, sih. Aku hanya berpikir kalau Yuta ini, terlalu banyak menghabiskan waktu bersama anak itu. Aku takut sewaktu-waktu ia akan iri, karena kudengar ia adalah anak orang kaya. Putranya Presdir Kim Dongwan katanya. Tapi apalah, nyatanya Nakamoto Yuta-ku masih bisa tersenyum saat duduk di jok sebelahku.

“Jangan pulang larut.”

“Selama Taeyong bersama bodyguard-nya, aku pasti akan pulang tepat waktu” kami tergelak bersama.

Selama perjalanan mulut tipis Yuta tiada henti nyerocos, terutama soal kawannya itu. Sudah jadi kebiasaan mungkin. Sesekali aku menodongkan padanya biskuit, untuk mengganjal perut yang sejak bangun belum diberi asupan.

Waktu itu hampir saya kami sampai ke sekolah Yuta, namun kita musti berhenti beberapa meter dari sebuah jembatan penyebrangan, karena didepan macet sekali. Banyak orang berkrumunan, bahkan ada police line mencolok yang mengitari jembatan itu. Aku hendak memutar balik, mencari arah yang lenggang, namun tiba-tiba Yuta memekik keras, “Taeyong!”

Kutengok, Yuta sudah membulat, mencoba membuka pintu, tapi apa daya masih kukunci. Ia menatapku, seolah memintaku untuk membuka kunci. Aku melihat ke atas jembatan, ya memang benar ada seorang anak dengan seragam sekolah yang sama dengan adikku. Tubuhnya terkatung-katung dipembatas jembatan, bersiap melompat meski ragu-ragu nampak jelas terlihat dari tubuhnya yang bergetar samar. Pantas banyak sekali orang menonton. Yuta terus berteriak minta keluar dari mobil, tapi aku menggeleng.

“Aniki ! Temanku, lihat dia akan melompat dari sana! Apa kau tidak lihat?,” dia berteriak, wajahnya memerah.

“Disana berbahaya tau! Nanti kau bisa terinjak-injak!”

“Tapi jika Taeyong mati, bagaimana!? Siapa lagi yang bisa menghiburku! Bahkan aniki-pun tidak sanggup!,” teriakanya terdengar serak, wajahnya memerah. Ada rasa takut yang besar terpancar dari matanya. Aku iri, adikku bahkan lebih takut anak itu mati ketimbang aku.

“Oke, aniki yang akan melindunginya,” kataku. Aku membuka pintu kemudiku dan beranjak keluar.

“Aniki!,” meninggalkan Yuta yang terus berteriak memanggil namaku di dalam mobil. Aku tidak berniat membawanya.

Aku berjalan melewati police line, berdesakan dan menghiraukan cegahan orang-orang. Kudekati salah satu mobil polisi dan menyapa seseorang yang sedang bersandar di sana, “Hey, Jaehyun.”

Orang itu menoleh, “E- hyung? Ada apa?,” mata orang itu menelisikku dari atas sampai bawah, kemudian mengelus dagu, terheran, “Dan bagaimana bisa melewati police line kami?”

Aku membuka jaketku dan memberlihatkan sebuah tanda pengenal yang masih bertaut di sakunya, tanda pengenal yang sudah beberapa tahun ini aku telantarkan. Jaehyun tersenyum tipis, “Berniat kembali ya?,” terkekehlah aku, “Jelas, tidak.”

“So?”

“Anak itu, aku ingin menyelamatkanya,” ucapku sambil menunjuk anak yang masih mencoba untuk melawan rasa takut agar dapat terjun bebas dari jembatan penyebrangan setinggi sepuluh meter itu.

“Bercanda?”

“Untuk apa lagi aku menembus ribuan manusia sambil membuka jaket jika bukan untuk ini?”

Jaehyun memincingkan sebelah alis. Sepersekian sekon kemudian ia melempar sebuah walkie talkie kearahku, dengan sigap aku menerimanya. Sebuah seringai terlukis tipis dibibir Opsir Jung, “Lakukan semamumu, akan kusampaikan pada Pak Inspektur nanti.”

“Terimakasih,”

“Sama-sama,” ia mengangkat topi kebesaranya lalu berjalan menjauh.

Back To Author’s Side

“Sudah mentok,” Youngho mengetuk-ngetukkan jari ke kepalanya, mencoba menginat sesuatu namun gagal, “Ah, yang kuingat setelahnya aku bangun, lalu bertemu Wonwoo, dan dia bilang aku sudah mati. Lalu aku melihat Yuta dengan wajah yang betul-betul marah, kemudian dia mengumpat panjang pada seorang laki-laki separuh baya, yang kuingat sebagai Ayah Taeyong.”

“Aku tidak mengerti,” Nana tertunduk. Seakan otaknya benar-benar berat untuk dipaksa berdiri tegap.

“Bagian mananya?”

“Youngho. Dongwan adalah pria yang baru-baru ini kujemput rohnya,” Nana mendongak menatap sepasang manik kecoklatan Youngho. Nada bicaranya terdengar aneh-entah itu senang atau sedih, Youngho tak paham-, “Dan Kim Dongwan memintaku untuk mengawasi putranya. Jika putranya keterlaluan, ia memintaku untuk menjemput rohnya juga.”

Youngho mengedipkan mata, “Jadi wasiat yang mengikatmu itu, adalaha wasiat untuk melindungi teman adikku itu?,” Nana mengangguk mantap.

“Siapa namanya?”

“Kim Taeyong.”

“Oh astaga, dunia memang sempit.”

-To be Continue

n/b : haiii! Terhitung sebulan kali kelanjutanya nga dipublish-publish habis sibuk mulu dan.. err readers yang komen dikit, but gapapa. Masih napsu buat ngekopelin satu-satu cast-nya NGEHEHE *ngiler. Yadahlah komenlayaw buat support saya :3

Advertisements

2 thoughts on “[NCTFFI Freelance] Crown (Chapter 1)

  1. Wah makin rumit nih ceritanya 😮 tapi idenya keren kak, aku suka 😍 nextnya jangan lama-lama deng kak 😂 fighting!!

    Like

  2. Suka ma alurnya kak……ceritanya juga bagus,KEEP WRITING KAK……….NEXT JAN UPDATE LAMA-LAMA………………………

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s