[NCTFFI Freelance] You’re My Rival (Oneshot)

PicsArt_06-09-07.07.55

NCT FANFICTION SERIES [TAEIL VERSION]

Title : You’re My Rival [Oneshoot]

Author : H.ZTao_94

Genre : Sad, Friendship, Romance

Lenght : Oneshoot

Cast : Taeil ‘NCT U’ as Moon Taeil

Lee Hakyung (OC)

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan, keluarga dan agensinya. Cerita ini asli hasil karya dari otak author yang gesrek ini. Jika ada kesamaan cast maupun alur, hanya sebuah kebetulan & ketidaksengajaan belaka.

Author’s Note : Hei all my reader 🙂 aku balik lagi bawa FF abal-abal. Semoga kalian suka dan FF ini bisa menghibur 🙂 Mohon RCL’nya sebagai semangat buat kedepannya. Kritik dan saran sangat diharapkan 🙂

DON’T PLAGIAT OR COPAS

DON’T BE SILENT READER

HAPPY READING….

 

Link wattpad :

http://my.w.tt/UiNb/CsTT13YSFu

.

“Saat aku membencimu, kau selalu berada disampingku. Kau adalah rivalku yang telah memenangkan hatiku.”

.

___o0o___

.

Suasana pagi ini tampak begitu riuh dihalaman Hanlim High School. Terlihat seorang murid laki-laki tengah menerima penghargaan dari kepala dan staff sekolah. Murid laki-laki yang bernama lengkap Moon Taeil itu baru saja memenangkan Olimpiade Matematika yang membuat nama sekolah tersebut semakin dikenal dan dijadikan sekolah percontohan. Semua orang pun menyambutnya dengan tepuk tangan yang riuh ikut bersuka cita atas kemenangan lelaki berwajah tampan tersebut. Namun, di tengah orang-orang yang tengah berbahagia itu, terlihat seorang murid perempuan yang tampak sebaliknya. Ia tampak kesal dan benci melihat apa yang ada dihadapannya itu.

Aish, apa-apaan ini? Mengapa semuanya tampak begitu berlebihan? Dia hanya memenangkan Olimpiade matematika se-Seoul, belum se-Korea!” Bisik Lee Hakyung kesal dengan mengepalkan tangannya.

Lee Hakyung memang tak menyukai Taeil sejak dulu. Karena semenjak kedatangan murid laki-laki itu, posisi Hakyung tergeser. Dulu Hakyung adalah murid terbaik disekolah tersebut. Dulu Hakyung selalu menjadi nomor satu. Namun, semenjak kedatangan Taeil, semuanya berubah. Ia tak lagi menjadi yang pertama, melainkan selalu menjadi yang kedua. Hal ini membuat Hakyung semakin membenci lelaki yang bermarga Moon itu.

“Awas saja! Ku pastikan aku akan segera merebut posisimu!” Bisik Hakyung dengan menatap Taeil tajam.

Gadis ini pun melangkah untuk pergi dari tempat yang sangat pengap itu. Setidaknya di kafetaria, ia bisa menikmati minuman dingin dan makanan pedas favoritnya. Dalam perjalanannya menuju kafetaria, gadis manis ini di cegat oleh seorang murid laki-laki.

“Hakyung, kau akan kemana?” Tanya Jungkook dengan tersenyum manis.

“Ke tempat yang paling indah!” Jawab Hakyung ketus seraya melangkah melewati mantan kekasihnya itu begitu saja.

“Tempat yang indah? Bukankah hidupmu sangat kesepian semenjak kita putus?” Ucap Jungkook seraya terkekeh bermaksud untuk membuat gadis itu marah.

“Kita? Bahkan aku tidak tahu siapa kau!” Balas Hakyung tanpa menoleh memandang Jungkook yang masih terkekeh itu.

Selain Taeil, Hakyung juga sangat membenci Jeon Jungkook, mantan kekasihnya yang telah tega memutuskannya di saat ia kalah kompetisi di sebuah perlombaan antar sekolah. Yang lebih menyakitkan, alasan Jungkook mengakhiri hubungan mereka karena Jungkook telah memiliki kekasih baru yang tak lain adalah Park Gyuri, temannya sendiri. Hidup Hakyung memang malang, namun ia tak mau ada seorang pun yang mengasihaninya. Karena ia ingin menunjukkan pada semua orang bahwa ia adalah Lee Hakyung yang kuat dan tidak cengeng seperti gadis lain.

Sesampainya di kafetaria, gadis ini segera memesan kue beras paling pedas dan es jeruk yang paling asam. Setidaknya ia bisa meluapkan kekesalannya pada makanan yang akan membuat perutnya bergoyang. Bukan hanya bergoyang, tapi bisa saja ia akan menghabiskan waktunya di toilet hanya karena mengisi perutnya dengan makanan tersebut.

Tak perlu menunggu lama, beberapa saat kemudian, pesanannya pun datang. Ia segera melahap makanan yang ada dihadapannya itu dengan penuh semangat. Saking ia terlalu bersemangat menyantap makanannya itu, hingga membuatnya tersedak.

“Uhuk… Uhuk… Uhukk…”

Hakyung segera menyambar es jeruknya. Namun, tanpa sengaja ia menjatuhkan es jeruknya yang sangat dibutuhkannya itu.

Aish, sial!” Umpatnya dalam hati.

Tiba-tiba ada seseorang yang menyodorkan sebotol air mineral padanya. Hakyung pun langsung menyambarnya tanpa melihat siapa si pemilik air mineral tersebut. Setelah meminum air mineral tersebut dan menghabiskan setengah botol, ia baru mendongakkan kepalanya melihat sosok murid laki-laki yang berada di hadapannya saat ini. Hakyung pun membelalakkan matanya setelah melihat orang tersebut.

“Taeil!” Ucap Hakyung refleks.

“Bagaimana? Apakah sudah lega?” Tanya Taeil dengan wajah sok polosnya. Hakyung hanya membalasnya dengan senyuman kecut. Gadis ini segera berdiri untuk sekedar menghindar dari lelaki yang selalu menjadi rivalnya itu.

“Tunggu!” Kata Taeil.

Aish, mengapa dia harus datang disaat seperti ini? Membuatku semakin membencinya saja!” Batin Hakyung semakin kesal. Gadis ini bahkan tak menoleh ke belakang karena tak ingin melihat wajah Taeil yang membuatnya semakin muak itu.

“Dasar keras kepala!” Bisik Taeil dengan memandang punggung Hakyung yang semakin menjauh.

 

.

.

©® H.ZTao_94___o0o___@HZTao_94

.

.

Suasana sore yang mendung. Hakyung masih terdiam seorang diri di atap gedung sekolah memandang langit yang mulai menampakkan kegelapan mendung. Perlahan titik-titik hujan berjatuhan membasahi segala yang ada dibumi. Hakyung masih terdiam di tempatnya. Setidaknya, orang-orang tak akan tahu jika saat ini ia tengah menangis. Ya, menangisi hidupnya yang membuatnya begitu lelah.

Hiks… Hiks… Hiks…” Isaknya ditengah hujan deras yang mengguyur tubuhnya yang masih berbalut seragam sekolah itu.

Tiba-tiba ada seseorang yang memayunginya. Sontak gadis ini segera membalikkan tubuhnya untuk melihat orang tersebut.

“Kau…” Ucap Hakyung seraya menunjuk Taeil yang saat ini berdiri dihadapannya itu.

“Mengapa bermain hujan seperti ini?” Tanya Taeil dengan wajah datar.

“Bukan urusanmu!” Balas Hakyung dengan melangkah meninggalkan lelaki tersebut. Hal itu membuat Taeil merasa aneh. Ia pun membalikkan tubuhnya memandang punggung Hakyung yang semakin menjauh itu.

“Benar-benar gadis aneh!” Bisik Taeil.

Taeil pun memutuskan untuk mengikuti Hakyung secara diam-diam. Entah mengapa, Taeil selalu merasa ingin tahu tentang gadis jutek ini. Berawal dari sebuah pertengkaran kecil, Taeil merasa bahwa semua orang di sekolah baik padanya kecuali Hakyung. Ya, hanya Hakyung yang selalu bersikap dingin padanya. Padahal ia tertarik pada gadis tersebut.

Hakyung terus melangkah menyusuri koridor-koridor menuju sebuah tempat yang Taeil tak tahu. Yang jelas, lelaki ini masih dengan setia mengikuti Hakyung dengan membawa payung ditangannya.

“Kemana dia akan pergi?” Batin Taeil heran.

Akhirnya, Hakyung menghentikan langkah kakinya didepan toilet perempuan. Sontak hal itu membuat Taeil menghentikan langkahnya.

“Gadis itu… Ku pikir dia akan kemana!” Bisik Taeil dengan menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal. Ia pun memutuskan untuk menunggu Hakyung di depan toilet. Kemudian, Taeil mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Sebuah gantungan kunci berbentuk Ikan Lumba-Lumba.

.

#Flashback

“Ini untukmu!” Ucap Taeil yang saat itu berusia lima tahun dengan memberikan sebuah gantungan kunci berbentuk Lumba-Lumba pada anak perempuan di hadapannya.

“Mengapa kau memberiku ini?” Tanya anak perempuan yang bernama lengkap Lee Hakyung itu.

“Karena kau adalah temanku! Kau adalah teman terbaikku! Aku berjanji akan segera kembali dan menemuimu!” Jawab Taeil dengan mengecup kening sahabat kecilnya itu.

“Tak bisakah kepergianmu ke Taiwan di tunda? Setidaknya kau harus membantuku untuk mengerjakan PR matematika.” Ujar Hakyung kecil dengan mempoutkan bibirnya.

“Maafkan aku! Aku berjanji padamu akan segera kembali untukmu! Kita akan mengerjakan soal matematika bersama dan makan es krim bersama di tepi sungai Han.” Kata Taeil berusaha menghibur temannya itu.

“Benarkah? Janji?” Tanya Hakyung dengan mengacungkan jari kelingkingnya.

“Aku janji!” Balas Taeil dengan melekatkan jari kelingkingnya pada jari kelingking temannya yang lucu dan cengeng itu.

#Flashback_End

.

Sejenak Taeil tersenyum layaknya orang bodoh. Ia tak menyangka jika Hakyung yang dingin itu adalah temannya semasa kecil dulu. Ia juga tak menyangka seorang Lee Hakyung yang dulu sangat cengeng dan berantakan kini telah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik dan dingin, namun tetap saja masih cengeng.

“Mengapa ia menjatuhkan benda ini? Apakah ia marah padaku karena tak kembali untuknya? Padahal aku sudah berada didekatnya.” Bisik Taeil.

“Taeil, apa yang kau lakukan disini? Jangan-jangan…” Terlihat Yeri yang menatap Taeil penuh tanya. Banyak opini yang kini berputar di otak gadis manis ini.

“Aku… Aku sedang…” Taeil tampak bingung akan menjawab pertanyaan Yeri tersebut. Ia pun berpikir sejenak agar harga dirinya tak turun sebagai murid yang paling pandai di sekolah ini. Belum selesai Taeil berpikir, tiba-tiba pintu toilet terbuka dan terlihat Hakyung yang melangkah keluar dari toilet tersebut. Gadis ini berjalan begitu saja melewati Taeil tanpa memandang lelaki itu sama sekali.

“Baiklah! Aku harus pergi! Bye…!” Ucap Taeil beranjak berdiri dan melangkah untuk menghindar dari pertanyaan Yeri tadi. Lelaki ini segera berlari mengikuti Hakyung lagi. Ia bahkan tak akan menyerah untuk meluluhkan hati gadis itu.

Yak, tunggu aku!” Ucap Taeil. Namun, Hakyung tak mempedulikannya. Gadis ini terus melangkah tanpa mengindahkan panggilannya.

Aish, gadis keras kepala!” Gerutu Taeil.

Hakyung terus melangkah keluar sekolah menuju halte untuk menunggu bus. Suasana sore ini sangat dingin. Bahkan tubuh Hakyung hingga saat ini masih basah karena kehujanan tadi. Terlihat sebuah mobil mewah menepi didepannya. Perlahan kaca mobil itu terbuka dan terlihat sosok lelaki yang dikenalnya tengah melambaikan tangan padanya.

“Masih menunggu bus?” Tanya Jungkook dengan tersenyum mengejek.

“Bukan urusanmu!” Jawab Hakyung jengkel.

“Kau tidak ingin pulang bersama kami?” Tanya Gyuri yang tiba-tiba muncul dari dalam mobil tersebut dengan merangkul Jungkook mesra. Melihat hal itu membuat Hakyung semakin kesal dan sakit hati. Bukan karena ia cemburu melihat Gyuri yang saat ini bersama mantan kekasihnya, namun ia sangat sakit hati karena merasa sangat di khianati. Gadis ini mengepalkan tangannya menahan amarah yang siap membludak.

“Apakah kau sangat cemburu melihat kedekatan kami?” Tanya Gyuri dengan mengecup pipi Jungkook lembut.

Bluukkk…

Tiba-tiba sebuah mantel tebal menutupi sebagian dari wajah Hakyung dan membuat gadis ini kaget bukan kepalang. Dirasakan sebuah tangan yang menariknya kedalam sebuah dekapan hangat seseorang.

“Dia sama sekali tak cemburu melihat kedekatan kalian! Karena Hakyung telah memiliki aku, Moon Taeil!” Ujar Taeil dengan menekankan kata per kata pada sepasang kekasih tersebut. Jungkook dan Gyuri hanya bisa terdiam karena kehabisan kata-kata. Mereka lantas menyuruh sopirnya untuk melajukan mobil yang ditumpanginya kembali.

Aish, dasar tukang pamer!” Ucap Taeil dengan menatap mobil tersebut melaju.

“YAK, LEPASKAN AKU!” Teriak Hakyung dari dalam dekapan hangat Taeil yang terdengar sangat emosi itu. Taeil pun tak ingin mengambil resiko di marahi oleh Hakyung. Ia segera melepaskan dekapannya pada gadis tersebut.

Plaakk…

Sebuah tamparan pun mendarat mulus dipipi Taeil. Gadis ini masih menatap Taeil tajam dan jengkel.

“Berani sekali kau melakukan hal ini padaku, hah? Kau pikir kau siapa?” Ucap Hakyung dengan tatapan yang mematikan. Kali ini Taeil tak mampu berkata apapun. Bukan karena ia kehabisan kata-kata atau kehilangan ide, namun karena mata Hakyung yang tampak sendu dan menyimpan banyak tanya. Taeil tahu benar dulu saat masih kecil, Hakyung sering menangis karena pertengkaran kedua orang tuanya. Dan gadis kecil itu selalu menangis dan tidur di rumahnya karena tak tahan dengan sikap kedua orang tuanya itu.

“Mata itu… Mata itu masih menyimpan banyak kesedihan.” Bisik Taeil menatap mata Hakyung.

“Berhenti mencampuri urusanku!” Kata Hakyung seraya melangkah seorang diri meninggalkan lelaki yang dianggapnya rivalnya itu.

“Apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus memberitahu padanya diriku yang sesungguhnya?” Batin Taeil dengan menggenggam gantungan Lumba-Lumba ditangannya.

.

.

©® H.ZTao_94___o0o___@HZTao_94

.

.

Malam yang begitu dingin. Semilir angin malam menusuk kulit. Taeil masih duduk didepan sebuah kedai ramen. Sesekali ia memandang salah seorang pelayan kedai tersebut dengan tersenyum manis. Tampaknya Lee Hakyung memang telah mencuri hatinya. Gadis yang selalu bersikap dingin padanya ini justru membuatnya semakin penasaran. Apalagi ia dan Hakyung sempat dekat saat masih kecil dulu. Ia kembali memandang gantungan Lumba-Lumba ditangannya.

“Hakyung, apakah kau sudah melupakanku? Apakah kau sudah melupakan bulan kecilmu yang selalu menyinarimu?” Bisik Taeil.

Ddrrtt… Drrtt…. Drrtt…

Terlihat ponselnya bergetar. Ia segera membuka pesan yang datang.

“Jemput aku di sekolah sekarang!”

 

Taeil hanya bisa menghela nafasnya setelah membaca pesan dari adiknya itu, Moon Gayoung. Dengan berat hati, ia berdiri dan melangkah menuju mobilnya yang terparkir ditepi jalan. Sesekali ia membalikkan tubuhnya menatap Hakyung yang tengah sibuk melayani para pelanggan.

“Setelah ini aku akan kembali!” Bisik Taeil.

Lelaki ini segera memacu gas mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tak ingin membuat Gayoung marah padanya karena menunggunya terlalu lama. Tampaknya lelaki ini melupakan sesuatu. Ia melupakan gantungan Lumba-Lumba milik Hakyung.

Setelah menempuh kurang lebih lima belas menit, akhirnya ia sampai di tempat tujuan. Terlihat Gayoung yang telah menunggunya. Ia pun segera keluar dari mobil dan menghampiri adik manisnya itu.

“Maaf membuatmu menunggu!” Ujar Taeil dengan tersenyum pada adiknya itu.

“Kau kemana saja? Hingga melupakan janjimu untuk menjemputku! Kau tahu, aku sangat kedinginan karena menunggumu!” Cerocos Gayoung dengan mempoutkan bibirnya.

“Sudah, jangan marah!” Rayu Taeil dengan mencubit pipi adiknya itu.

“Berhenti mencubit pipiku! Aku bukan anak kecil lagi!” Ujar Gayoung dengan menyingkirkan tangan kakaknya itu dari pipinya. Gadis ini pun memasuki mobil dengan wajah masam.

“Selalu saja marah! Padahal aku hanya terlambat beberapa menit!” Bisik Taeil. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia pun merogoh sakunya. Namun, tak menemukan benda yang dicarinya itu. Ia segera memasuki mobilnya dan mencari benda tersebut diseluruh isi mobilnya. Namun, hasilnya tetap nihil.

“Kemana gantungan itu?” Bisik Taeil.

“Apa yang kau cari?” Tanya Gayoung.

“Gantungan kunci berbentuk Lumba-Lumba.” Jawab Taeil masih sibuk mencarinya.

“Yang ini?” Tanya Gayoung dengan menunjukkan sebuah gantungan di tasnya.

“Bukan! Gantungan yang mirip dengan gantungan itu tapi bukan gantungan itu!” Jawab Taeil.

“Apa bedanya? Gantungan ini juga berbentuk Lumba-Lumba.” Balas Gayoung.

“Perbedaannya ada pada ekornya. Yang ini ekornya bertuliskan namaku. Sedangkan yang hilang itu… Yang hilang itu bertuliskan nama…” Taeil menggantung ucapannya.

“Nama siapa? Apakah nama kekasihmu?” Tanya Gayoung menatapnya serius.

“Sudahlah! Lupakan!” Ucap Taeil seraya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia harus segera mengantar adiknya pulang lalu pergi ke kedai ramen yang di kunjungi tadi untuk mencari gantungan Lumba-Lumba milik Hakyung.

.

.

©® H.ZTao_94___o0o___@HZTao_94

.

.

Hakyung menatap gantungan kunci Lumba-Lumba yang di temukannya tadi. Sudah dua hari ia mencari gantungan kunci pemberian teman masa kecilnya itu, dan akhirnya ia menemukan benda kecil itu diatas meja yang dirapikannya tadi. Ia masih bertanya-tanya, siapa orang yang telah mengambil gantungan kunci kesayangannya itu. Gadis ini masih terdiam di halte seorang diri menunggu datangnya bus. Sebenarnya ia malas untuk pulang. Namun, dimana lagi ia bisa mengistirahatkan tubuhnya selain di kediaman keluarganya yang sudah di ambang kehancuran itu. Bahkan kakaknya, Lee Sungyeol, sudah meninggalkan rumah yang penuh dengan masalah itu sejak setahun yang lalu.

“Kemana aku harus pergi? Seandainya Moon (Panggilan Hakyung pada Taeil saat masih kecil) masih ada disampingku, pasti sekarang ia sudah menjadi sandaran bagiku. Moon, kau dimana? Aku merindukanmu! Mengapa kau tak menepati janjimu untuk kembali?” Bisik Hakyung dengan terisak.

Gadis ini sangat merindukan Moon, teman masa kecilnya. Ia sendiri lupa nama asli sahabatnya itu. Yang jelas, ia selalu memanggil teman kecilnya itu dengan nama Moon karena marga teman kecilnya itu memang Moon. Terlebih lagi, teman kecilnya itu selalu menerangi kegelapan hidupnya ditengah masaah yang dihadapinya. Namun, kini ia tak tahu dimana keberadaan Moon. Ia dan Moon berpisah karena ayahnya Moon memiliki urusan bisnis di Taiwan. Sejak saat itulah, ia dan Moon berpisah hingga sekarang.

“Moon, apakah kau masih mengingatku?” Bisik Hakyung seraya menatap bulan yang menerangi kegelapan malam.

Ditempat yang berbeda, Taeil juga memandang bulan yang tampak terang menerangi gelapnya malam. Ia ingat benar saat ia masih kecil, saat bulan bersinar terang seperti ini, ia dan Kyungie (Panggilan Taeil pada Hakyung saat masih kecil) selalu bermain bersama di pekarangan rumahnya. Terkadang mereka juga mencari kunang-kunang bersama untuk membuat lampu hiasan kamar.

“Kemana lagi aku harus mencari gantungan itu?” Bisik Taeil dengan mengacak rambutnya.

Taeil sudah mencarinya diseluruh sudut kedai ramen tersebut, namun hasilnya tetap nihil. Benda yang dicarinya tak ada disana. Lelaki ini akhirnya memutuskan untuk pulang karena malam sudah semakin larut.

Saat perjalanan pulang, Taeil melihat seseorang yang tengah duduk seorang diri di halte. Ia pun menghentikan laju mobilnya. Kemudian keluar dari mobilnya untuk menghampiri gadis tersebut.

“Mengapa masih berada disini?” Tanya Taeil pada Hakyung yang tampak lelah itu.

“Bukan urusanmu!” Jawab Hakyung seraya melangkah meninggalkan lelaki tersebut.

“Tunggu!” Ucap Taeil dengan memegang lengan Hakyung. Dengan cepat, Hakyung menghempaskan tangan seseorang yang dibencinya itu.

“Tak bisakah kau sekali saja tak mengganggu hidupku?” Tanya Hakyung dengan mata berkaca-kaca. Setelah melihat tatapan mata Hakyung yang nampak sedang tak baik itu, Taeil akhirnya memutuskan untuk diam.

“Mata itu… Mengapa mata itu hingga detik ini masih terus menangis?” Bisik Taeil seraya menatap punggung Hakyung yang semakin menjauh meninggalkannya.

.

.

©® H.ZTao_94___o0o___@HZTao_94

.

.

Pagi ini suasana kelas 2-1 tampak sepi. Bagaimana tidak sepi, secara tiba-tiba Guru Park mengadakan ujian matematika mendadak. Sontak hal itu membuat murid-murid yang semalam tak belajar menjadi kelabakan. Inilah gaya Guru Park untuk melihat kemampuan anak didiknya. Si Guru killer ini melangkah mengitari kelas layaknya bumi yang mengelilingi matahari. Hakyung mengerjakan soal ujiannya dengan sangat tenang. Kali ini ia ingin membuktikan pada semua orang bahwa ia bisa mengalahkan Taeil. Ya, ia harus berusaha untuk mengalahkan rivalnya yang telah mengambil posisinya itu.

“Taeil, ku pastikan nilaiku akan melampui nilaimu!” Batin Hakyung seraya menatap punggung Taeil.

Disaat yang bersamaan, Taeil merasakan sakit yang amat luar biasa dikepalanya. Ia masih terus menahan rasa sakit itu seraya mengerjakan soal-soal matematika. Lelaki ini terus menahan rasa sakitnya hingga sesuatu jatuh dari hidungnya dan membasahi lembar jawabannya.

Tes… Tes… Tes…

Taeil sangat kaget ketika hidungnya mengeluarkan darah. Disertai rasa sakit dikepalanya yang semakin menghujam.

“Tuhan, kumohon jangan sekarang!” Batin Taeil menahan rasa sakitnya. Namun, tubuhnya tak mampu lagi bertahan. Ia bahkan tak mampu lagi memegang alat tulisnya.

Pletak…

Pensilnya pun terjatuh di atas lantai. Perlahan pandangannya mulai buram. Seluruh ruangan kelas menjadi gelap. Guru Park yang sedari tadi memperhatikan keanehan yang terjadi pada salah satu murid kebanggaannya itu pun mulai mendekati Taeil.

“Taeil! Taeil!” Panggil Guru Park seraya menepuk pundak muridnya itu. Namun, tak ada reaksi apapun dari Taeil.

.

.

©® H.ZTao_94___o0o___@HZTao_94

.

.

Hakyung masih terdiam didepan sebuah ruangan. Digenggamnya gantungan Lumba-Lumba miliknya. Ia tak menyangka ternyata orang yang selama ini di anggapnya sebagai rival ternyata adalah seseorang yang sangat dirindukannya.

.

#Flashback

“Taeil! Taeil!” Panggil Guru Park tampak panik. Suasana kelas yang awalnya hening pun menjadi sangat berisik tatkala para murid didalam kelas itu memusatkan perhatiannya pada Taeil. Bahkan Hakyung yang awalnya tak peduli, kini menjadi ikut penasaran dengan apa yang terjadi pada rivalnya itu. Gadis ini pun menghampiri Taeil yang masih diam tak bergeming ditempat duduknya itu.

“Guru Park, mengapa diam saja? Cepat panggil ambulance!” Ujar Hakyung saat melihat keadaan Taeil yang tengah pingsan itu.

“Iya. Baiklah!” Balas Guru Park.

Guru killer ini pun segera mengeluarkan ponselnya untuk menelepon ambulance. Sedangkan Hakyung masih memperhatikan Taeil yang tampak masih tak bergerak itu. Gadis ini melihat bercak darah di lembar jawaban Taeil.

“Apa yang sebenarnya terjadi padanya?” Bisik Hakyung penuh tanya.

Beberapa saat kemudian, terlihat beberapa petugas rumah sakit yang datang ke kelas. Mereka membawa Taeil keluar kelas. Karena tak ada yang membereskan semua alat tulis milik Taeil, Hakyung pun bertindak untuk membereskannya. Setidaknya ini sebagai rasa tolong-menolong pada sesama teman. Saat Hakyung memasukkan buku milik Taeil ke dalam tas, gadis ini menemukan sesuatu. Sebuah foto lusuh yang tak asing lagi baginya. Ya, fotonya saat masih kecil bersama Moon.

“Apakah Taeil adalah… Adalah…” Batin Hakyung. Ia pun melihat bagian belakang foto tersebut dan melihat sebuah tulisan tangan Taeil.

 

“Biarkan aku menatapmu dari kejauhan. Ku biarkan kau tetap dingin padaku. Aku tak ingin membuatmu terluka lagi. Setidaknya, bisa melihatmu kembali setiap hari sudah membuatku lega dan bahagia. Kyungie, aku mencintaimu. Ya, mencintaimu dalam diam. Dan akan tetap seperti ini. Aku bukan lagi bulan yang menerangi hidupmu, karena aku sendiri tak mampu lagi bersinar dengan waktuku yang semakin sedikit untuk terus melihatmu.”

 

Tangan Hakyung gemetaran setelah membaca tulisan tersebut. Banyak hal yang bergelayutan di pikirannya. Ia bahkan tak mampu berpikir dengan jernih lagi. Ia benar-benar tak menyangka akan kenyataan ini. Seseorang yang selama ini di bencinya ternyata adalah seseorang yang selalu dirindukannya.

#Flashback_End

.

Beberapa saat kemudian, terlihat dokter yang keluar dari ruangan tempat Taeil di periksa. Hakyung segera menghampiri dokter tersebut untuk menanyakan keadaan Taeil.

“Bagaimana keadaannya, dokter?” Tanya Hakyung tampak khawatir.

“Pasien menderita kanker otak stadium dua. Namun, tampaknya semangatnya untuk tetap bertahan sangat kuat. ” Jawab dokter yang memeriksa Taeil. Mendengar jawaban dari dokter barusan membuat Hakyung semakin terpukul. Ia seperti tersambar petir mendengar kenyataan itu. Perlahan gadis ini melangkah memasuki ruangan yang berdominasi warna putih itu. Dipandangnya seorang lelaki yang tengah terbaring di atas ranjang rumah sakit itu.

“Moon, mengapa kau melakukan ini padaku? Mengapa kau meninggalkanku dan kembali tanpa memberitahuku? Apakah kau tahu jika aku terus menunggumu?” Isak Hakyung seraya menggenggam tangan dingin Taeil yang berbalut selang infus.

“Mengapa kau membuatku tak menyukaimu?” Isak Hakyung merasa menyesal.

Ceklek…

Pintu ruangan itupun terbuka. Terlihat lelaki paruh baya dan wanita paruh baya memasuki ruangan tersebut.

“Taeil, apa yang terjadi padamu, nak?” Bisik wanita paruh baya itu dengan terisak memandang putranya yang tergolek lemah diatas ranjang rumah sakit. Hakyung pun membalikkan tubuhnya untuk melihat seseorang yang kini berada dibelakangnya itu.

“Bibi Moon!” Bisik Hakyung memandang wanita paruh baya yang kini berada dihadapannya itu.

“Terima kasih karena sudah menjaga putra kami!” Ujar Tuan Moon pada Hakyung dengan ramah.

“Iya.” Jawab Hakyung dengan membungkuk sembilan puluh derajat. Hakyung bisa melihat raut wajah kesedihan Tuan Moon dan Nyonya Moon. Hal ini mengingatkannya pada keluarganya. Ia juga ingin memiliki keluarga yang harmonis seperti keluarga Moon ini. Gadis ini pun memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut. Ia melangkah seraya menyesali semuanya. Ya, menyesali ketidakpekaannya terhadap Taeil yang selama ini di bencinya.

“Mengapa aku baru menyadarinya sekarang?” Jerit batin Hakyung.

.

.

©® H.ZTao_94___o0o___@HZTao_94

.

.

Pagi yang cerah. Matahari menyinari dan menghangatkan bumi dengan sinarnya. Sebelum Hakyung berangkat ke sekolah, ia menyempatkan untuk melihat keadaan Taeil terlebih dahulu. Di pandangnya seorang lelaki yang tengah terbaring dari balik dinding kaca. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundak Hakyung. Sontak hal itu membuatnya kaget dan segera membalikkan tubuhnya.

“Mengapa hanya diam disini? Mengapa tidak masuk saja?” Tanya Nyonya Moon ramah pada Hakyung.

Ah… Iya.” Ujar Hakyung seraya ikut tersenyum dan melangkah memasuki ruang rawat Taeil bersama wanita paruh baya tersebut. Melihat kedatangan Hakyung, Taeil tampak kaget.

“Kau…” Tunjuk Taeil pada gadis yang berada di hadapannya itu.

“Selamat pagi! Bagaimana keadaannmu? Apakah sudah baik?” Ucap Hakyung ramah. Hal ini membuat Taeil semakin kaget dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada gadis yang ada dihadapannya saat ini.

“Mengapa kau begitu ramah padaku?” Tanya Taeil dengan wajah polosnya.

“Masih ingin berpura-pura lagi? Masih ingin berbohong lagi?” Tanya Hakyung dengan mendengus pada lelaki yang ada dihadapannya itu.

“Apa maksudmu?” Tanya Taeil masih tak mengerti.

“Kau sangat jahat padaku! Mengapa kau menyembunyikan semuanya dariku? Mengapa kau diam saja? Mengapa kau berubah? Dimana Moon yang dulu? Moon yang selalu berada disamping Kyungie?” Cerocos Hakyung dengan mata berkaca-kaca.

“Jadi… Jadi kau sudah tahu?” Tanya Taeil kaget.

“Tentu saja!” Balas Hakyung.

“Maafkan aku! Maafkan aku karena tak memberitahukan yang sebenarnya. Tapi… Tapi aku memiliki alasan untuk ini.” Ujar Taeil seraya tertunduk menyesal.

“Kau memang jahat! Mengapa harus membohongiku seperti ini, hah?” Tanya Hakyung yang tampak kesal pada sahabat kecilnya itu.

Beberapa saat kemudian, Tuan Moon memasuki ruangan tersebut. Lelaki paruh baya ini tampak sangat antusias dan bahagia. Ia pun memeluk dan mencium kening putranya.

“Besok kita akan berangkat ke Amerika untuk berobat! Kau harus siap! Ayah sudah memesan tiket pesawat.” Ujar Tuan Moon. Mendengar ucapan ayahnya, seharusnya Taeil bahagia. Namun, ia tak ingin meninggalkan Hakyung untuk  yang kedua kalinya. Ia bisa melihat mimik wajah Hakyung yang tampak sedang bersedih itu.

“Mengapa ia harus pergi lagi disaat aku sudah menyadari semuanya? Mengapa?” Jerit batin Hakyung.

“Tapi ayah….” Ucap Taeil seraya memandang Hakyung.

“Jangan memikirkan apapun! Sekarang yang terpenting adalah kesembuhanmu! Kau harus sembuh untuk dirimu sendiri, kami dan seseorang yang kau cintai!” Ujar Tuan Moon memandang anaknya itu pekat.

.

.

©® H.ZTao_94___o0o___@HZTao_94

.

.

Langkah kaki Taeil begitu berat meninggalkan gadis yang kini tengah berdiri seorang diri yang jaraknya beberapa meter darinya itu. Namun, ia harus pergi demi kesembuhannya. Berpisah untuk yang kedua kali bukanlah hal mudah, apalagi Hakyung baru menyadari semuanya. Bulir-bulir bening mengaliri pipi mulus gadis cantik itu. Ia tak bisa mencegah kepergian Taeil sekalipun itu sangat menyakitkan baginya. Ia serasa ingin berlari mengejar Taeil dan mencegah lelaki itu pergi. Ia bahkan ingin berteriak bahwa ia tak ingin berpisah lagi. Namun, keinginannya untuk melihat Taeil sembuh jauh lebih besar. Gadis ini memutuskan untuk membalikkan tubuhnya seraya terisak pelan. Beberapa saat kemudian, langkahnya terhenti saat dengan tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Tangan itu melingkar di pinggangnya yang ramping.

“Kau harus menungguku! Aku berjanji akan kembali.” Bisik Taeil tepat di telinga Hakyung.

Tak ada jawaban dari Hakyung selain isakan pelan. Gadis ini tak mampu lagi berkata-kata. Ia lantas membalikkan tubuhnya untuk memeluk lelaki yang selama ini selalu dirindukannya itu.

“Kau harus sembuh dan kembali! Kau tak boleh bersembunyi lagi! Kau harus berjanji padaku!” Ucap Hakyung ditengah isakannya.

“Aku berjanji! Aku akan sembuh dan kembali untukmu!” Balas Taeil semakin mempererat pelukannya pada gadis cantik itu. Dua anak manusia ini harus berpisah kembali karena keadaan. Namun, keyakinan dan kepercayaan akan kembali mempertemukan mereka dalam keadaan yang lebih indah.

.

Two Years Later…

.

Seorang gadis tengah duduk di tepi sungai Han seraya menikmati angin malam yang sejuk. Dipandangnya bulan purnama yang tampak cerah menerangi malam. Gadis ini mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah gantungan kunci berbentuk Lumba-Lumba yang selalu menemaninya dalam sedih dan merindukan seseorang.

“Sudah dua tahun aku menunggumu! Mengapa kau tak kunjung datang?” Bisik Hakyung dengan menitikkan air matanya.

Sejenak, gadis ini menghentikan isakannya saat seseorang menyodorkan tisu padanya. Ia segera mendongakkan wajahnya. Terlihat seseorang yang tengah tersenyum manis padanya. Senyuman itu tampak menenangkan hati.

“Jangan menangis lagi! Aku sudah kembali!” Ujar Taeil seraya mengusap lembut air mata Hakyung yang masih mengalir deras itu. Tanpa berkata apapun, Hakyung segera memeluk tubuh lelaki yang ada dihadapannya itu. Rasa rindu sudah berkecamuk dihatinya. Ia benar-benar merindukan sosok Moon Taeil. Ya, Moon Taeil yang selama ini ia anggap sebagai rivalnya yang kini telah memenangkan hatinya. Moon Taeil yang selalu berada disampingnya saat ia membencinya. Moon Taeil yang menjadi bulan yang selalu menerangi malamnya yang gelap gulita.

THE END –

 

Terima kasih bagi yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca dan memberikan komentar. Sampai jumpa di ff-ku berikutnya… 🙂

Advertisements

4 thoughts on “[NCTFFI Freelance] You’re My Rival (Oneshot)

    • Hohoho
      Makasih buat feedback’nya beb 🙂

      Udah ada rencana sih bikin FF’nya bang Bulan yg berchapter. Jadi tunggu aja luncurnya hehehe

      Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s