[NCTFFI Freelance] My Reason (Oneshot)

1466771754058

NCT FANFICTION SERIES [TAEYONG VERSION]

Title : My Reason [Oneshoot]

Author : H.ZTao_94

Genre : Sad, Action, Crime, Angst, Little Bit Romance

Rating : PG +15

Lenght : Oneshoot

Main Cast : Taeyong ‘NCT U’ as Lee Taeyong

Kang Haebin (OC)

Additional Cast : Taeil ‘NCT U’ as Moon Taeil

Yongguk ‘B.A.P’ as Bang Yongguk

Sungkyu ‘Infinite’ as Kim Sungkyu

Himchan ‘B.A.P’ as Kim Himchan

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan, keluarganya dan agensinya masing-masing kecuali OC. FF ini murni imajinasi author, jika ada kesamaan alur maupun cast, hanya sebuah kebetulan.

Author’s Note : Anyeong all… Gue balik lagi bawa lanjutan projek FF gue. Mungkin ini terkesan aneh karena FF ini bergenre Crime & Action pertama yang gue bikin. So, I hope you like it. Mudah-mudahan bisa menghibur readers-deul semua πŸ™‚

DON’T PLAGIAT OR COPAS

DON’T BE SILENT READER

HAPPY READING…

Β 

Link wattpad :

http://my.w.tt/UiNb/DrFieQ6xGu

.

“Alasanku menyakitkan, namun itulah kenyataan.”

.

___o0o___

.

Hosh hosh hosh

Seorang lelaki tengah bersembunyi dibalik bangunan tua yang cukup rapuh. Ia tengah dikejar oleh beberapa orang yang ingin menghabisi nyawanya. Entah sudah berapa kilo ia berlari. Namun, orang-orang itu tampak tak menyerah untuk mengejarnya.

“Kemana dia pergi? Mengapa cepat sekali!” Ucap Yongguk dengan memandang tempat di sekelilingnya mencoba untuk mencari lelaki yang pernah menjadi rekannya itu. Sebuah papan lusuh mengundang perhatiannya. Ia pun melangkah menuju papan lusuh tersebut. Yongguk bisa mendengar deru nafas seseorang dari balik papan tersebut. Ia pun mendobrak papan tersebut dan benar saja, ia menemukan seseorang yang dicarinya.

“Terimalah kematianmu, Lee Taeyong!” Ucap Yongguk dengan mengarahkan sebuah pistol pada mantan rekannya itu. Dengan cepat Taeyong menampik senjata api tersebut dan kembali berlari. Ia tak ingin menyakiti seseorang yang masih dianggapnya teman itu. Namun, ia tak ingin di eksekusi sekarang karena ia masih memiliki tugas untuk menjaga seseorang. Ya, seseorang yang telah dibuatnya menderita.

Yongguk tak pernah menyerah. Ia akan terus mengejar Taeyong walaupun hingga ke ujung dunia. Lelaki ini pun mengambil kembali pistolnya yang jatuh dilantai gudang yang penuh debu itu dan mengarahkan tepat pada kaki seseorang yang pernah menjadi temannya itu.

Doorrr…

Tubuh Taeyong ambruk seketika saat peluru itu menembus kakinya. Darah segar pun mengalir dari kaki kanannya. Yongguk segera menghampiri Taeyong yang tampak tengah kesakitan itu. Namun, Taeyong tetap berusaha untuk menghindar dari Yongguk. Ia berusaha untuk bangkit dan kembali berlari dengan tenaganya yang tersisa.

“HEI PENGECUT! JANGAN LARI!” Teriak Yongguk. Namun, Taeyong sudah berlari jauh dengan luka dikaki kanannya itu.

“Dia masih sekuat dulu! Dia masih tetap Lee Taeyong yang kuat dan tahan dengan peluru.” Batin Yongguk memandang punggung Taeyong yang semakin menjauh bahkan mulai tak terlihat.

“Maafkan aku, karena aku harus tetap mengeksekusimu walau apapun yang terjadi!” Lanjut Yongguk seraya memandang pistol yang ada ditangannya.

.

.

H.ZTao_94___o0o___H.ZTao_94

.

.

Argh….!” Rintih Taeyong saat Taeil mengobati luka dikakinya yang tertembak tadi.

“Kau harus menahannya! Setidaknya aku harus mengeluarkan pelurunya!” Ucap Taeil masih berkonsentrasi dengan kegiatannya itu.

“Bisakah kau melakukannya dengan sedikit pelan? Ini sangat sakit!” Ujar Taeyong.

“Baiklah! Aku akan lebih berhati-hati!” Balas Taeil masih fokus dengan kegiatannya.

Beberapa saat kemudian, Taeil berhasil mengeluarkan peluru yang bersarang di kaki kanan Taeyong. Tampak wajah kebahagiaan pada lelaki berwajah kalem ini. Ia pun memperban kaki temannya itu dengan rapi dan hati-hati.

“Selesai!” Ucap Taeil dengan wajah merona bahagia.

“Akhirnya aku berhasil melewati rasa sakit ini!” Ujar Taeyong bernapas lega.

“Kurasa… Kurasa kau harus segera menyerahkan diri ke polisi!” Ucap Taeil memandang sahabatnya itu penuh arti.

“Belum saatnya! Aku masih harus menjaga Haebin.” Balas Taeyong seraya duduk disamping sahabatnya itu.

“Sampai kapan kau akan menjaganya? Haebin hanya bisa melihat lagi saat ia mendapatkan donor mata.” Tambah Taeil.

“Hingga ia bisa melihat lagi! Aku akan berusaha untuk mencarikan donor mata untuknya. Setelah itu, aku akan menyerahkan diri ke pihak berwajib.” Jawab Taeyong. Terlihat lelaki berwajah dingin ini mulai bangkit sekalipun tampak masih kesakitan.

“Kau akan kemana?” Tanya Taeil.

“Ke tempat Sungyeol Hyung!” Jawab Taeyong seraya melangkah keluar dari kediaman sahabatnya itu.

“Makanlah dulu! Tubuhmu pasti lemas!” Ucap Taeil.

“Tidak! Nanti saja aku makan. Aku ingin menemui Sungyeol Hyung terlebih dahulu! Aku tidak ingin terus-menerus merepotkanmu!” Jawab Taeyong dengan melangkah keluar melewati jendela.

“Hati-hati!” Balas Taeil yang masih mengkhawatirkan keadaan lelaki bermarga Lee itu.

Seperti yang biasa dilakukannya, Taeyong selalu keluar masuk rumah Taeil lewat jendela. Ini untuk menghindari keluarga Taeil yang sudah melarang lelaki itu berteman dengannya. Namun, tampaknya Taeyong masih terus merepotkan sahabatnya itu. Lelaki ini memandang rumah megah sahabatnya itu setelah berhasil keluar dari area rumah keluarga Moon.

“Taeil, terima kasih karena masih mempertahankanku sebagai temanmu!” Bisik Taeyong dengan mata berkaca-kaca. Ia pun kembali melangkah dengan berhati-hati seraya memandang tempat sekelilingnya. Lelaki ini tampak menikmati perjalanannya menuju tempat kakaknya. Semilir angin malam membelai tubuhnya.

Dingin, itulah yang dirasakan oleh lelaki bermarga Lee ini. Saat ia akan menyeberang jalan, ia melihat seorang anak kecil yang tengah menangis. Ia pun menghampiri anak kecil tersebut.

“Mengapa kau menangis?” Tanya Taeyong seraya menyamakan posisinya dengan anak kecil yang ada dihadapannya itu.

“Aku merindukan Oppa-ku!” Jawabnya dengan berlinang air mata.

“Dimana Oppa-mu?” Tanya Taeyong lagi.

“Dia bekerja di Hongkong…. Hiks… Hiks…” Jawabnya masih dengan terisak. Beberapa saat kemudian, seorang lelaki paruh baya menghampiri Taeyong. Lelaki paruh baya tersebut langsung menggendong anak kecil yang ada dihadapan Taeyong tadi.

“Ayah sangat mengkhawatirkanmu! Ayo kita pulang!” Ujar si lelaki paruh baya tersebut seraya menggendong anak kecil tadi.

“Terima kasih telah menjaga putriku!” Ucap lelaki paruh baya itu pada Taeyong.

“Iya.” Balas Taeyong dengan tersenyum ramah.

Taeyong pun kembali melangkah melanjutkan perjalanannya. Sesekali ia merasakan hembusan angin malam yang dingin.

Hyung, aku akan datang!” Bisiknya.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, akhirnya Taeyong sampai ditempat tujuannya. Ia melangkah memasuki sebuah bangunan yang penuh dengan kenangan itu. Terlihat banyak bunga disana. Sesekali Taeyong tersenyum dan memejamkan matanya membayangkan wajah kakaknya saat tersenyum. Langkahnya pun terhenti didepan sebuah kotak kaca. Ia bisa melihat sebuah tempat abu dan foto kakaknya tengah tersenyum ceria disana.

Hyung, aku datang! Maafkan aku karena terlambat datang! Aku juga lupa tak membawa bunga untukmu!” Ucap Taeyong dengan berlinang air mata.

.

#Flashback

DOOORRR….

Sebuah suara peluru yang meluncur dari pistol milik Yongguk terdengar begitu mengerikan. Saat itu Taeyong berpikir bahwa hidupnya sudah selesai. Namun, ia salah. Ia justru masih hidup dan kini tengah tersungkur ditengah rerumputan basah karena hujan beberapa jam yang lalu.

Hyung…. Sungyeol Hyung…!” Bisik Taeyong segera bangkit. Ia menatap seseorang yang saat ini tengah tergeletak tak jauh dari tempatnya dengan berlumuran darah. Disana juga masih berdiri Yongguk dan Sungkyu. Taeyong segera berlari menghampiri kakaknya yang sudah sekarat itu.

Hyung… Hyung…!” Panggil Taeyong.

“Tae…. Taeyong…! Syukurlah kau baik-baik saja!” Ujar Sungyeol seraya mengusap air mata adiknya yang berlinang itu.

Hyung, bertahanlah! Aku akan membawamu ke rumah sakit sekarang!” Ujar Taeyong tampak frustasi melihat keadaan kakaknya yang sudah sangat parah itu.

“Kau harus tetap… Tetap bertahan dan kuat! Kau harus… Be… berubah sekalipun mereka terus mengejarmu! Kau… Kau harus tetap menjaga… Menjaga… Haebin hingga ia bisa menemukan donor mata!” Ucap Sungyeol dengan nafas yang tersendat-sendat seraya menahan rasa sakit yang amat luar biasa.

Perlahan genggaman tangan Sungyeol melemah pada adiknya itu. Perlahan lelaki ini memejamkan matanya.

HYUNG… HYUNG… KAU HARUS BANGUN, HYUNG!”Teriak Taeyong fruatasi. Namun, Sungyeol telah pergi untuk selamanya meninggalkannya seorang diri. Yongguk dan Sungkyu yang masih berada disana hanya bisa terdiam menunduk merasa bersalah. Namun, apa daya mereka karena mereka hanya menjalankan tugas untuk melenyapkan Taeyong yang ingin berhenti dari pekerjaan yang selama ini dijalaninya, yaitu menjadi pembunuh bayaran berdarah dingin.

#Flashback_End

.

Hiks… Hiks… Hiks…”

Taeyong masih terisak. Ia tak pernah menyangka jika pekerjaan yang selama ini digelutinya telah membuat kakaknya pergi untuk selamanya. Ia juga sudah banyak membuat orang lain menderita termasuk gadis buta yang bernama Kang Haebin.

“Aku berjanji akan berubah!” Bisik Taeyong seraya berlutut dihadapan abu jenazah kakaknya.

.

.

H.ZTao_94___o0o___H.ZTao_94

.

.

Pagi yang cerah. Taeyong tengah sibuk memilih bunga disebuah florist. Sebuah bunga Lily putih mengalihkan perhatiannya. Ia pun mengambil bunga Lily putih tersebut.

“Haebin pasti menyukainya!” Bisik Taeyong.

Ia pun mengeluarkan beberapa uang kertas untuk membayar bunga tersebut. Setelah mendapatkan bunga yang dicarinya, ia kembali melangkah memasuki area penjualan kue kering. Diambilnya sekotak kue kering berbentuk hati yng terlihat sangat menggoda itu.

“Haebin pasti menyukainya!” Bisik Taeyong. Ia pun membeli sekotak kue kering tersebut dan membawanya menuju tempat Haebin berada. Sesekali lelaki ini tersenyum seraya melangkah menuju tempat yang dituju. Sekalipun kakinya masih terasa sangat sakit, namun ia tetap menahan rasa sakitnya dan berusaha untuk terlihat baik-baik saja.

Sesampainya ditempat tujuan, Taeyong sudah melihat Haebin yang menunggunya disamping danau. Terlihat pandangan gadis cantik itu tampak kosong. Taeyong pun segera menghampirinya.

“Aku datang!” Ucap Taeyong seraya duduk disamping Haebin.

“Kau terlambat!” Ujar Haebin dengan mempoutkan bibirnya.

“Maafkan aku! Tadi jalanan sangat macet! Sebagai permintaan maafku, kubawakan sekotak kue kering! Kau harus mencobanya!” Ucap Taeyong dengan mengeluarkan kue kering yang dibelinya tadi. Ia pun menyuapi gadis yang ada disampingnya itu.

“Bagaimana? Enak?” Tanya Taeyong dengan memandang Haebin.

“Enak! Sangat enak! Membuatku teringat pada masakan ibuku!” Jawab Haebin dengan berlinang air mata. Melihat air mata Haebin yang mengalir itu membuat hati Taeyong terasa teriris. Bagaimana tidak, Taeyong ingat benar saat ia melakukan aksi jahatnya membantai keluarga gadis malang ini demi uang. Ya, dialah orang yang telah membunuh seluruh anggota keluarga Haebin dengan cara membantai dan menembaki mereka satu per satu. Taeyong jugalah yang telah membuat Haebin menjadi buta seperti ini. Entah dengan cara apa ia membayar semua kesalahannya pada Haebin. Namun, yang lebih mengerikan lagi, ia tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Haebin saat mengetahui bahwa dialah orang yang telah membuat gadis itu menderita.

“Maafkan aku, Haebin! Maafkan aku!” Jerit batin Taeyong.

Perlahan tangan Taeyong mengusap lembut air mata yang mengalir dipipi putih Haebin.

“Mengapa aku jadi cengeng seperti ini?” Ucap Haebin seraya memaksakan senyumnya.

“Haebin…” Lirih Taeyong.

“Maafkan aku, karena aku selalu menangis dihadapanmu! Maafkan aku karena tetap tak bisa tersenyum disaat mengingat semua kenanganku dengan keluargaku!” Ucap Haebin dengan terisak. Taeyong pun menarik tubuh gadis malang itu ke dalam dekapannya yang hangat. Taeyong bisa mendengar isakan Haebin yang pelan itu.

“Seandainya aku tahu siapa pelakunya, aku berjanji akan menghukumnya dengan hukuman seberat-beratnya!” Ucap Haebin dalam isakannya.

Deg…

Mendengar ucapan Haebin barusan membuat rasa bersalah Taeyong semakin menghujam didadanya. Ia benci pada dirinya sendiri. Ia ingin sekali berteriak dan mengatakan yang sebenarnya pada Haebin. Namun, ia belum bisa mengatakan yang sebenarnya untuk saat ini. Ia belum sanggup jika harus dibenci oleh Haebin.

“Maafkan aku, Haebin!” Batin Taeyong.

“Terima kasih karena kau telah menjadi temanku! Terima kasih telah menemaniku dalam kehidupan kegelapanku yang penuh dengan dendam dan sakit hati ini! Terima kasih, Lee Taeyong! Kau bagaikan malaikat yang dikirim oleh Tuhan untukku. Untuk menemani hidupku yang kesepian ini!” Ucap Haebin.

“Seandainya kau mengetahui siapa diriku yang sesungguhnya, Haebin. Kau pasti akan sangat membenciku!” Batin Taeyong seraya menyesali semua yang pernah terjadi.

Beberapa saat kemudian, Haebin melepaskan pelukannya. Pandangannya masih kosong lurus ke depan.

“Taeyong, bolehkah aku meraba wajahmu? Sekalipun aku tak bisa melihat seperti apa wajahmu, setidaknya aku bisa membayangkan wajahmu lewat lekukan-lekukan wajahmu yang kuraba!” Ujar Haebin.

“Boleh!” Jawab Taeyong seraya memegang tangan Haebin dan mendekatkan di wajahnya. Tangan Haebin pun bergerak dimulai dari dahi Taeyong, kemudian ke bagian mata lelaki tersebut. Lalu, berlanjut ke bagian hidung dan pipi hingga bagian bibir dan dagu. Setelah puas meraba wajah lelaki yang ada dihadapannya itu, gadis ini pun tersenyum.

“Mengapa tersenyum?” Tanya Taeyong.

“Lekukan wajahmu sangat sempurna! Kau pasti sangat tampan! Aku bisa membayangkannya! Kurasa lekukan wajahmu seperti lekukan wajah Jaejoong ‘JYJ’.” Ujar Haebin dengan terkekeh. Mendengar jawaban Haebin, Taeyong hanya tersenyum. Entah sampai kapan ia akan terus hidup seperti ini.

“Taeyong, mengapa kau diam?” Tanya Haebin seraya meraba tempat sekitarnya. Taeyong segera memegang tangan gadis itu dan menciumnya.

“Terima kasih!” Ucap Taeyong setelah mencium tangan Haebin.

“Terima kasih untuk apa?” Tanya Haebin tampak tak mengerti.

“Karena kau telah tersenyum.” Jawab Taeyong dengan hati yang perih. Tampak wajah Haebin yang memerah. Entah perasaan apa yang saat ini ada didalam dada gadis ini. Ia merasa sesuatu bergelombang didalam dadanya.

“Tuhan, apa yang terjadi padaku? Mengapa tiba-tiba aku merasa gugup seperti ini?” Batin Haebin.

“Aku memiliki sesuatu untukmu lagi!” Ujar Taeyong seraya mengeluarkan sebuket bunga Liliy putih.

“Apa itu?” Tanya Haebin tampak penasaran.

“Sebuket bunga Lily yang indah dan cantik seperti dirimu!” Jawab Taeyong dengan memberikan bunga ditangannya pada gadis buta yang ada dihadapannya itu. Terlihat raut kebahagiaan diwajah Haebin. Gadis ini pun mencium bunga pemberian Taeyong tersebut dengan wajah yang bahagia.

Tiba-tiba terdengar ponsel Taeyong berdering. Lelaki berwajah dingin ini segera merogoh sakunya untuk mengambil ponsel. Saat ia sudah mendapatkan ponselnya, ia segera melihat siapa orang yang telah mengganggu ketentramannya bersama Haebin. Terlihat nama ‘Moon Taeil’ dilayar ponselnya. Dengan cepat lelaki ini segera mengusap layar ponselnya dan mendekatkan pada telinganya.

Yeoboseo…” Ucap Taeyong memberi salam.

“Ada kabar gembira untukmu dan Haebin! Cepatlah datang ke rumah sakit sekarang!” Ujar Taeil dari ujung telepon.

“Apakah ini tentang donor mata?” Tanya Taeyong memastikan.

“Benar! Datanglah sebelum keluarganya berubah pikiran!” Balas Taeil kemudian menutup panggilan teleponnya. Taeyong segera meraih tangan Haebin dan membawa gadis itu lari bersamanya.

“Kemana kita akan pergi?” Tanya Haebin.

“Ke rumah sakit! Taeil baru saja meneleponku bahwa kau akan segera mendapatkan donor mata!” Jawab Taeyong.

“Benarkah?” Tanya Haebin tak percaya.

“Benar! Sekarang berlarilah lebih cepat!” Ujar Taeyong memberikan semangat pada gadis yang ada disampingnya itu.

.

.

H.ZTao_94___o0o___H.ZTao_94

.

.

Sesampainya di rumah sakit, Taeyong segera memasuki ruangan Taeil. Taeyong dan Haebin tak bisa menyembunyikan raut wajah bahagianya. Namun, ini sangat berbalik dengan Taeil yang justru menampakkan wajahnya yang masam.

“Dimana orang yang akan mendonorkan matanya untuk Haebin?” Tanya Taeyong.

“Maaf, tapi ada salah satu anggota keluarganya yang tak setuju.” Balas Taeil dengan menunduk.

“Mengapa? Mengapa tak setuju? Bukankah tadi mereka menyetujuinya?” Tanya Taeyong dengan mencengkeram pundak sahabatnya itu.

“Mereka ingin anggota tubuh keluarga mereka disemayamkan dalam keadaan sempurna. Mereka bilang tidak ingin menjual organ tubuh keluarganya.” Balas Taeil. Mendengar ucapan Taeil barusan, membuat Haebin kecewa. Tak ada yang bisa dilakukan oleh gadis ini selain menitikkan air matanya.

“Mana boleh seperti ini! Dimana mereka? Aku ingin menemui mereka!” Ujar Taeyong yang tampak tak bisa menahan amarahnya itu.

“Taeyong, kau harus bersabar! Mencari donor mata memang sangat sulit! Jadi kau harus lebih bersabar!” Ujar Taeil berusaha menenangkan sahabatnya itu.

“Taeyong, aku tidak apa-apa! Apa yang dikatakan oleh Taeil memang benar! Semuanya butuh proses dan kesabaran!” Ucap Haebin yang tampak memaksakan senyumnya untuk membuat Taeyong tenang.

Beberapa saat kemudian, terlihat seorang suster memasuki ruangan tersebut. Tampaknya suster itu sedang ada keperluan dengan Taeil yang memang seorang dokter di rumah sakit tersebut.

“Maaf dokter, pasien dikamar 307 sudah sadar dan harus diperiksa!” Ujar suster tersebut kepada Taeil.

“Biaklah! Aku akan segera kesana!” Balas Taeil dengan senyum manisnya. Lelaki ini kemudian berpamitan dengan Taeyong dan Haebin.

“Aku pergi dulu! Ada pekerjaan yang menantiku!” Pamit Taeil pada dua temannya itu.

“Iya.” Balas Haebin dan Taeyong bersamaan. Akhirnya Taeyong dan Haebin memutuskan untuk melangkah keluar dari ruangan kerja Taeil tersebut. Mereka melangkah bersama melewati koridor-koridor rumah sakit yang tampak ramai. Tentunya dengan Taeyong menuntun dan menggenggam erat tangan Haebin.

“Taeyong…” Panggil Haebin.

“Ada apa?” Jawab Taeyong dengan menghentikan langkah kakinya.

“Terima kasih!” Ucap Haebin dengan tersenyum. Ucapan Haebin barusan membuat rasa bersalah Taeyong semakin besar. Ia merasa menjadi seorang pembunuh dan penipu dalam satu ucapan. Melihat senyum Haebin cukup membuat Taeyong lega. Setidaknya ia tak harus melihat air mata gadis malang itu terus mengalir.

“Ayo pergi!” Ujar Taeyong dengan menarik Haebin dan membawa gadis itu berlari bersamanya. Tampaknya Haebin sangat menikmati kebersamaannya dengan lelaki berwajah dingin ini. Sesekali gadis ini tersenyum seraya membayangkan wajah tampan seorang Lee Taeyong.

Ternyata Taeyong membawa gadis cantik ini ke sebuah bukit. Haebin bisa merasakan hawa sejuk nan asri bukit tersebut. Gadis ini memejamkan matanya merasakan udara sejuk sekitar.

“Ini sangat luar biasa!” Ujar Haebin.

“Kau menyukainya?” Tanya Taeyong.

Eum… Ini tampak seperti yang kubayangkan dulu. Datang ke tempat sesejuk ini bersama seseorang yang sangat kucintai.” Balas Haebin. Lagi-lagi ucapan Haebin barusan membuat hati Taeyong serasa teriris pisau yang tajam. Sejenak Taeyong memandang wajah Haebin yang tampak sendu itu. Lelaki ini benar-benar merasa sangat bersalah. Namun, ia masih belum bisa mengungkapkan semuanya pada Haebin.

DOOORRR…

Tiba-tiba terdengar suara tembakan yang teramat keras. Sontak hal itu membuat Taeyong dan Haebin kaget. Taeyong segera menghampiri Haebin dan berusaha melindungi gadis tersebut.

Beberapa saat kemudian, terlihat Yongguk dan Sungkyu keluar dari semak-semak. Ternyata dua orang ini telah mengikuti Haebin dan Taeyong sedari tadi.

“Kini saatnya kau mati!” Ucap Sungkyu seraya mengarahkan pistol ditangannya pada Taeyong.

“Taeyong, apakah benar apa yang dikatakan orang tadi? Mengapa dia ingin membunuhmu?” Tanya Haebin panik.

“Kau tenang saja, mereka tak akan bisa melakukannya!” Balas Taeyong. Lelaki ini pun melangkah perlahan mendekati Sungkyu dan Yongguk yang selama ini mendapatkan tugas untuk membunuhnya dari pimpinan gangster.

“Apakah kalian tak lelah hidup seperti ini? Hidup menjadi robot demi uang?” Tanya Taeyong dengan memandang dua orang dihadapannya itu sendu.

“Jangan menceramahi kami! Kami sangat menikmati kehidupan kami sebagai robot pembunuh!” Balas Yongguk.

“Benarkah? Tapi ucapan kalian tak sesuai dengan keadaan kalian! Kalian sebenarnya sangat lelah, bukan? Kalian sebenarnya ingin hidup normal, bukan? Tapi kalian selalu menutup-nutupinya dengan terus melakukan pekerjaan ini!” Ujar Taeyong.

“Berhenti berbicara! Kami sudah lelah terus mengejarmu! Hari ini, terimalah kematianmu!” Ucap Sungkyu yang tampaknya sudah mulai lelah membalas segala ucapan lelaki bermarga Lee ini.

Tiba-tiba terdengar suara sirine mobil polisi. Sontak hal itu membuat Yongguk dan Sungkyu segera melarikan diri. Taeyong pun bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Ia harus lari dengan meninggalkan Haebin atau tetap disana dan bertemu dengan para polisi yang mungkin sudah mulai mengendus semua perbuatannya terdahulu.

“Taeyong! Taeyong! Taeyong!” Panggil Haebin panik dengan melangkah dan meraba ke segala arah. Taeyong pun segera menghampiri gadis buta itu dan memegang tangan gadis tersebut.

“Aku disini, Haebin!” Ucap Taeyong.

“Kau tak apa?” Tanya Haebin dengan meraba wajah Taeyong.

“Aku tidak apa-apa!” Jawab Taeyong berusaha membuat gadis yang bersamanya itu tetap tenang.

Beberapa saat kemudian, segerombolan polisi datang. Mereka tampak telah mempersiapkan semuanya dengan persenjataan yang lengkap. Kini, Taeyong tak bisa tetap disana. Ia pun pergi begitu saja meninggalkan Haebin seorang diri.

“Taeyong! Taeyong! Taeyong!” Panggil Haebin panik setelah Taeyong melepaskan tangannya dan pergi begitu saja. Salah seorang pimpinan polisi menghampiri Haebin yang tengah panik itu.

“Haebin…” Panggil pimpinan polisi tersebut.

“Kau… Kau siapa?” Tanya Haebin masih panik dan meraba ke segala arah.

“Ini aku, Himchan. Kau baik-baik saja?” Tanya lelaki yang bernama lengkap Kim Himchan itu.

“Himchan Oppa!” Ucap Haebin tampak lega.

“Mengapa kau berada disini? Kau bersama siapa?” Tanya Himchan dengan menengok ke segala arah.

“Aku… Aku datang bersama temanku. Namanya Lee Taeyong.” Jawab Haebin.

“Dimana dia sekarang?” Tanya Himchan lagi.

“Entahlah! Dia pergi begitu saja. Aku sendiri bingung mencarinya. Tadi ada beberapa orang yang datang untuk membunuhnya.” Jawab Haebin.

“Lee Taeyong? Kau bersamanya? Dan ada beberapa orang yang ingin membunuhnya dan mendatangi kalian berdua?” Tanya Himchan lagi dengan mencengkeram pundak Haebin tampak semakin penasaran.

“Iya.” Jawab Haebin.

“Ikutlah denganku! Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu!” Ujar Himchan dengan menarik tangan gadis tersebut.

.

.

H.ZTao_94___o0o___H.ZTao_94

.

.

Haebin diam didepan abu jenazah milik keluarganya yang mati terbunuh setahun yang lalu. Air matanya terus mengalir tiada henti. Malam yang dingin tak membuat gadis ini merasa kedinginan. Rasa dingin yang menusuk kulitnya tak sebanding dengan rasa sakit dihatinya setelah mengetahui sebuah kebenaran yang hampir membuatnya tak percaya.

.

#Flashback

“Taeyong adalah anggota gangster yang mendapatkan tugas untuk membantai keluarga Kang yang tak lain adalah keluargamu! Jaksa Kang sudah empat tahun menyelidiki gangster ini. Jaksa Kang juga sudah mempersiapkan penangkapan untuk mereka. Namun, mereka mengetahui rencana Jaksa Kang dan menyuruh tiga anggota mereka yaitu Lee Taeyong, Kim Sungkyu dan Bang Yongguk untuk mengeksekusi keluarga Jaksa Kang. Berdasarkan bukti yangΒ  kutemukan ditempat kejadian, orang yang mengeksekusi Jaksa Kang dan istrinya adalah Lee Taeyong. Lalu, orang yang membunuh dua anak Jaksa Kang yaitu Daehyun dan Jinho adalah Sungkyu. Dan… Orang yang yang telah menabrakmu dengan mobil Van hitam saat kau berusaha melarikan diri adalah Lee Taeyong.” Jelas Himchan.

Deg…

Penjelasan Himchan barusan benar-benar membuat Haebin tak percaya. Jadi, orang yang selama ini dicarinya berada dihadapannya dan bersikap bak malaikat.

“Jadi… Jadi selama ini Taeyong telah menipuku?” Tanya Haebin mencoba menahan rasa sesak didadanya.

“Iya. Dan kemungkinan mereka merencanakan pembunuhan untukmu! Satu-satunya saksi yang bisa memberatkan mereka adalah kau.” Jawab Himchan. Mendengar ucapan Himchan barusan membuat Haebin semakin tak percaya. Taeyong yang selama ini selalu menemaninya ternyata adalah orang yang telah menghancurkan hidupnya dan keluarganya.

#Flashback_End

.

“Hiks hiks hiks”

Gadis ini terisak seorang diri. Ia tak pernah menyangka jika ternyata Taeyong adalah iblis yang menyamar menjadi malaikat. Banyak hal yang mereka lewati bersama. Semua kenangannya bersama Taeyong terlalu indah untuk dipungkirinya. Namun, ingatannya akan kejadian setahun yang lalu yang telah merenggut nyawa kedua orang tuanya dan dua saudaranya membuat hatinya kini penuh dengan rasa dendam.

.

#Flashback

“Mengapa tampak sangat berantakan?” Pikir Haebin memandang pekarangan rumahnya bak kapal pecah. Bahkan bunga Lily putih kesayangannya rusak dan hancur. Gadis ini pun melangkah menuju pintu rumahnya yang masih tertutup. Sebuah mobil Van hitam yang terparkir dipekarangan rumahnya mengalihkan perhatiannya juga. Tampak mobil itu parkir sembarangan hingga menabrak beberapa tanaman miliknya.

“Mobil siapa ini?” Batin Haebin.

BRAAKKK…

Sebuah suara keras terdengar begitu jelas dari dalam rumahnya. Gadis ini segera berlari memasuki rumahnya. Bahkan ia sangat kaget saat membuka pintu rumahnya yang ternyata tak terkunci.

BUUUKKK…

Saat Haebin memasuki rumahnya, ia dikagetkan oleh tubuh kakak laki-lakinya, Daehyun, yang tergeletak bersimbah darah dihadapannya.

“DAEHYUN OPPA!” Teriak Haebin. Gadis ini segera menghampiri tubuh Daehyun yang tampak tengah sekarat itu.

Oppa! Oppa!” Panggil Haebin dengan terisak.

Tap tap tap

Terdengar langkah kaki seseorang menuju arah gadis ini. Lelaki yang berpakaian serba hitam itu saat ini tengah mengarahkan pistol pada Haebin dan Daehyun.

“Kau putri kedua dari Jaksa Kang Jaemin?” Tanya lelaki yang bernama lengkap Kim Sungkyu itu.

Mendengar seseorang yang bertanya padanya, Haebin pun bangkit dan menatap tajam orang tersebut.

“Siapa kau? Mengapa kau melakukan kejahatan pada keluargaku?” Tanya Haebin menatap lelaki yang ada dihadapannya itu tajam.

“Aku adalah malaikat maut keluargamu!” Jawabnya dengan suara yang tampak menyeramkan.

“Ha… Haebin… Ce… Cepat la…. Lari…!” Ucap Daehyun setengah sadar pada adik perempuannya itu.

“Tidak, Oppa! Aku tak akan pergi!” Balas Haebin tampak keras kepala.

DOORRR…

Tiba-tiba terdengar suara tembakan dari lantai atas. Sontak hal itu membuat Haebin penasaran dengan apa yang terjadi di lantai atas. Gadis ini segera berlari menuju lantai atas. Dilihatnya tubuh Jinho, adik laki-lakinya, yang telah terkapar penuh darah. Disana Haebin juga melihat sosok lelaki berpakaian serba hitam yang tengah mengacungkan pistol tepat ke arahnya.

“Kau datang! Terima kasih karena telah memudahkan pekerjaanku!” Ujar lelaki yang bernama lengkap Bang Yongguk dengan suara beratnya.

“Tidak! Aku tak boleh diam!” Batin Haebin setelah menyadari bahaya yang mengancamnya. Gadis ini pun berlari menuruni tangga. Dilantai bawah, Sungkyu sudah bersiap untuk menembaknya. Hal ini membuat Haebin semakin bingung bercampur takut.

“Kau tak akan bisa lari! Jadi, diamlah disana dan terimalah kematianmu!” Ucap Sungkyu seraya mengarahkan pistol ditangannya tepat dijantung Haebin.

DOOORRR…

Haebin hanya bisa memejamkan matanya. Namun, apa yang dipikirkan Haebin salah. Ia bahkan tak merasakan rasa sakit apapun ditubuhnya. Gadis ini pun membuka matanya dan menemukan tubuh Daehyun ambruk dihadapannya dengan darah segar yang mengalir dari dadanya.

“DAEHYUN OPPA!” Teriak Haebin frustasi.

“La…. Lari!” Ucap Daehyun dengan menahan rasa sakitnya.

Oppa… Kita akan lari bersama!” Ucap Haebin dengan menggenggam erat tangan kakaknya itu. Namun, genggaman tangan Daehyun perlahan melemah digenggaman tangan Haebin.

OPPA…” Teriak Haebin dengan terisak. Gadis ini pun berdiri dan menatap tajam Sungkyu yang berada dihadapannya itu. Perlahan ia melangkah mendekati Sungkyu tanpa takut pada pistol yang di arahkan tepat diwajahnya itu.

“Bunuh aku! Bunuh aku sekarang!” Ucap Haebin dengan menahan amarahnya. Entah ide apa yang terlintas dipikiran gadis ini, tiba-tiba saat ia melihat Sungkyu mulai menekan pistolnya, ia langsung memukul bagian intim Sungkyu dengan kakinya. Lelaki yang bermarga Kim ini pun merintih kesakitan dan kesempatan ini dimanfaatkan oleh Haebin untuk lari. Gadis ini berusaha lari secepat mungkin keluar dari rumahnya. Melihat targetnya lari, Sungkyu segera memanggil Yongguk dan Taeyong yang berada dilantai atas.

“YONGGUK! TAEYONG!” Teriak Sungkyu dengan menahan rasa sakitnya.

Mendengar teriakan temannya itu, Yongguk dan Taeyong segera turun menghampiri Sungkyu.

“Apa yang terjadi?” Tanya Yongguk panik.

“Putri Jaksa Kang melarikan diri! Cepat kejar!” Jawab Sungkyu. Tanpa pikir panjang, Taeyong segera berlari keluar. Lelaki berwajah dingin ini tak menemukan putri Jaksa Kang yang dimaksud oleh Sungkyu tadi. Ia pun memutuskan untuk mengejar gadis itu dengan mobil Van hitamnya. Di kendarainya mobil tersebut dengan kecepatan tinggi keluar area rumah keluarga Kang. Saat berada dijalan raya, Taeyong melihat seorang gadis yang tengah berlari seorang diri.

“Apakah gadis itu yang dimaksud oleh Sungkyu?” Benak Taeyong. Tanpa berpikir panjang, ia pun menancap gas mobilnya. Ditabraknya gadis yang tengah berlari itu hingga terpental beberapa meter dari tempat kejadian. Entah mengapa, tiba-tiba tubuh Taeyong gemetaran seperti takut. Ia memandang kaca spion mobilnya dan melihat gadis yang ditabraknya tadi tengah tergeletak berlumuran darah didekat trotoar.

“Ada apa denganku? Mengapa aku tiba-tiba teringat pada adikku?” Batin Taeyong.

Beberapa saat kemudian, ponsel Taeyong berdering. Terlihat sebuah panggilan dari Sungyeol, kakaknya. Ia segera menjawab panggilan tersebut.

“Yeoboseo…” Ucap Taeyong.

“Taeyong, cepatlah pulang! Taerin tiba-tiba pingsan!” Ucap Sungyeol yang terdengar sangat panik.

“Baiklah!” Jawab Taeyong. Lelaki ini pun kembali menancap gas mobilnya untuk segera pulang tanpa memikirkan gadis yang ditabraknya tadi.

#Flashback_End

.

Haebin mengusap kasar air matanya. Ia tak boleh menangis terus-menerus seperti ini. Ia harus tetap melanjutkan hidupnya sekalipun dengan membawa dendam dan rasa sakit.

“Taeyong, kau memang iblis!” Bisik Haebin dengan mengepalkan tangannya.

Haebin melangkahkan kakinya keluar dari area penyimpanan abu jenazah. Dengan sebuah tongkat ditangannya, gadis ini berusaha untuk melangkah seorang diri dengan mengingat jalan yang dilaluinya tadi. Setelah keluar dari tempat tersebut, Haebin merasakan hawa dingin angin malam yang menusuk kulitnya. Beberapa saat kemudian, indera pendengarannya menangkap suara langkah kaki seseorang menuju tempatnya berdiri.

“Siapa kau?” Tanya Haebin sedikit takut.

“Aku? Aku adalah malaikat mautmu yang akan mengakhiri hidupmu!” Jawab sebuah suara berat yang tampak seperti suara seorang lelaki yang dikenalnya. Ya, Haebin tahu bahwa suara yang didengarnya barusan adalah suara orang yang bertemu dengannya dan Taeyong tadi sore.

“Apakah laki-laki ini yang dimaksud oleh Himchan Oppa?” Batin Haebin.

“Hidupmu sudah sangat menyedihkan! Bukankah lebih baik jika kau menyusul kedua orang tuamu dan dua saudaramu yang sudah mati? Jadi, diamlah disana! Karena aku akan membantumu untuk bertemu mereka!” Ujar lelaki yang ada dihadapan Haebin dengan mengarahkan pistolnya tepat dijantung gadis cantik tersebut.

“HENTIKAN!”

Tiba-tiba terdengar suara pekikan seseorang. Haebin sangat mengenal suara lelaki yang baru datang ini. Ya, itu adalah suara Taeyong. Haebin merasakan tangan seseorang menggenggam erat tangannya. Dengan cepat, gadis itu menghempaskan tangan seseorang tersebut.

“Jangan menyentuhku!” Ucap Haebin.

“Haebin, ada apa denganmu?” Tanya Taeyong.

“Jangan pernah menyentuhku lagi! Aku tidak ingin bersentuhan dengan pembunuh keluargaku sendiri!” Ujar Haebin dengan berlinang air mata.

Deg…

Hati Taeyong seperti tersambar petir setelah mendengar ucapan Haebin barusan. Gadis itu kini telah mengetahui siapa dia sebenarnya. Namun, tak ada yang bisa dilakukan oleh Taeyong. Sekalipun ia meminta maaf pada Haebin, gadis itu belum tentu mau memaafkannya.

“Lengkaplah sudah! Kalian sudah berkumpul! Kini akan semakin mudah bagiku untuk melenyapkan kalian berdua!” Ucap Sungkyu yang kini mengarahkan pistolnya pada Taeyong.

“Tidak semudah itu!” Balas Taeyong dengan menampik pistol ditangan Sungkyu. Perkelahian pun tak terelakkan. Taeyong memukul Sungkyu dengan membabi buta. Tampaknya lelaki ini tak terima jika Sungkyu menyakiti Haebin. Namun, Sungkyu tak tinggal diam begitu saja. Ia lantas membalas semua pukulan Taeyong padanya. Hingga keduanya babak belur dan penuh luka. Dari kejauhan, Yongguk hanya terdiam memandang rekannya dan Taeyong yang tengah sibuk berkelahi itu.

“Berkelahilah sepuasmu sebelum kau mati! Aku akan mengeksekusi gadis malang itu terlebih dahulu!” Bisik Yongguk dengan mengarahkan pistolnya pada Haebin. Tampaknya selain mendapatkan tugas untuk membunuh Taeyong, Yongguk dan Sungkyu juga mendapatkan tugas untuk melenyapkan Haebin.

DOOORRR…

Terdengar suara tembakan yang begitu keras. Taeyong segera berlari menghampiri Haebin dan memeluk gadis itu erat. Sungkyu dan Yongguk hanya bisa terdiam melihat pemandangan yang ada dihadapan mereka itu. Perlahan Yongguk menjatuhkan pistolnya. Tangannya gemetaran setelah menembak orang yang ada dihadapannya itu.

“Haebin, apakah kau baik-baik saja?” Tanya Taeyong pada gadis yang kini berada dalam dekapannya itu. Haebin masih terdiam. Gadis itu tampaknya masih kaget dan gemetaran.

“Haebin, apakah kau mendengarku?” Tanya Taeyong tampak khawatir.

“Aku… Aku baik-baik saja.” Jawab Haebin dengan menggigit bibirnya bagian bawah.

“Syukurlah!” Ujar Taeyong dengan tersenyum. Beberapa detik kemudian, tubuh Taeyong ambruk. Hal itu membuat Haebin semakin kaget dan panik.

“Taeyong, apa yang terjadi?” Tanya Haebin panik dengan meraba ke segala arah berusaha mencari keberadaan Taeyong. Gadis ini terus berusaha. Dan akhirnya, tanpa sengaja ia menyentuh sesuatu yang basah. Haebin mencium bau anyir yang begitu khas.

“Bukankah… Bukankah ini seperti bau darah?” Pikir Haebin seraya mencium sesuatu yang ada ditangannya.

“Taeyong, apa yang terjadi padamu? Taeyong, cepatlah bangun! Taeyong, kau baik-baik saja, kan?” Ucap Haebin tampak frustasi.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara sirine mobil polisi yang begitu keras. Tampaknya Yongguk dan Sungkyu ingin mengakhiri semuanya setelah melihat Taeyong terkapar tak berdaya karena ulah mereka. Dua orang ini menghampiri tubuh Taeyong yang bersimbah darah seraya meminta maaf dan terisak.

“Maafkan kami, Taeyong!” Bisik Yongguk penuh penyesalan.

Polisi pun datang dan menangkap dua orang yang telah menjadi buronan itu. Sungkyu dan Yongguk hanya pasrah tanpa melawan sedikit pun. Haebin bisa mendengar dan merasakan kehadiran beberapa orang disana.

“Haebin, apakah kau baik-baik saja?” Tanya Himchan seraya mencengkeram pundak gadis buta itu.

“Aku… Aku baik-baik saja!” Jawab Haebin masih tampak gemetaran.

“Himchan Oppa, Taeyong baik-baik saja, kan? Saat ini dia telah melarikan diri, kan?” Tanya Haebin yang berusaha menampik pikiran buruk yang terlintas dikepalanya.

“Taeyong… Taeyong…” Himchan hampir tak mampu menjawab pertanyaan Haebin. Ia memandang tubuh Taeyong yang terkapar penuh darah itu dengan hati yang teriris.

.

.

H.ZTao_94___o0o___H.ZTao_94

.

.

One year later…

.

Seorang gadis tengah berdiri didepan sebuah tempat penyimpanan abu jenazah. Gadis itu tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya. Dipandangnya foto seorang lelaki didalam kotak kaca tersebut yang berada disamping guci penyimpanan abu.

“Taeyong, terima kasih!” Bisik Haebin dengan terisak.

.

#Flashback

“Bagaimana keadaan Taeyong?” Tanya Haebin pada Taeil yang baru saja keluar dari ruang UGD setelah memeriksa keadaan Taeyong. Namun, Taeil masih terdiam. Lelaki berwajah polos ini bahkan tampak tak bisa menjawab pertanyaan tersebut.

“Taeil, mengapa kau diam saja?” Tanya Haebin.

“Taeyong… Taeyong… Dia… Dia telah pergi!” Jawab Taeil dengan menunduk.

“Kau pasti berbohong, kan? Taeyong masih hidup, kan?” Ucap Haebin tampak tak percaya dengan jawaban Taeil barusan. Gadis ini pun melangkah memasuki ruang UGD dengan menabrak apa saja yang ada dihadapannya. Melihat Haebin yang tampak frustasi, Taeil pun memutuskan untuk menuntun gadis itu menuju tempat dimana tubuh Taeyong berada. Sesampainya didekat tubuh Taeyong, Haebin pun meraba wajah lelaki tersebut.

“Taeyong, kau baik-baik saja, kan? Mengapa kau diam? Jawab aku Taeyong!” Ucap Haebin dengan terisak dan air mata yang mengalir deras. Namun, tak ada jawaban dari Taeyong.

#Flashback_End

.

Seorang lelaki menghampiri Haebin dan merangkul pundak gadis tersebut.

“Kurasa, Taeyong sudah bahagia disana! Ia sudah tenang setelah memberikan matanya untukmu!” Ucap Taeil.

“Kurasa kau benar! Aku berjanji akan selalau bahagia dan tersenyum untuknya.” Balas Haebin.

“Ayo kita pulang!” Ajak Taeil dengan menggandeng tangan kekasihnya itu. Mereka pun melangkah keluar dari area penyimpanan abu itu. Sekelebat bayangan putih memandang mereka dengan tersenyum. Ya, Taeyong saat ini memang tak lagi bersama mereka, tapi kenangannya akan selalu tersimpan didalam hati.

– THE END –

Β 

Okey, gue tahu reader bakalan ngeroyok gue gegara bikin FF yang endingnya sad. Plis, maapkeun dakuh yang terlalu suka bikin yang sad. Jangan lupa komentarnya readers-deul πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Cukup cuap-cuap dari gue. Sampai jumpa di FF gue berikutnya… 😊😊😊

Advertisements

2 thoughts on “[NCTFFI Freelance] My Reason (Oneshot)

  1. Astajim…………sad end yah…..suka deh kalo sad end begini/digebuk……alasan suka baca nih FF:
    -genre sad
    -cast ada taeilnya
    -nama oc nya mirip ma nama pena gue
    -jleb jleb sad end,orang ganteng cem tiwai rada menderita :v
    Keren kok FFnya ……..KEEP WRITING YA………………

    Like

    • Hohoho
      Makasih udah mampir di FF abal-abal gue ini beb πŸ™‚

      Makasih juga buat semangatnya. Nih hadiah dari gue 😘😘😘 kiss spesial πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s