[NCTFFI Freelance] Fleur (Vignette)

fleur

Fleur

syongbaby present

Mark [NCT] | Fleur [OC]

mention Ten & Doyoung [NCT]

Fluff Angst School-life Romance | Vignette | Teen and Up

I don’t own anything except the plot

Namanya Fleur, ia secantik namanya

Fleur’s side

Namanya Fleur, ia secantik namanya.

Entah sejak kapan aku mulai memperhatikan caranya berekspresi, apa saja yang ia suka dan tidak, jam berapa ia pergi ke sekolah, atau alergi yang ia punya. Tak ada hal yang mengingatkanku tentang waktu dimana aku sadar aku telah jatuh cinta padanya. Mengalir begitu saja hingga membuatku terikat.

Fleur cenderung pendiam namun cukup ceria. Sifatnya yang mudah bergaul membuat Fleur memiliki banyak teman sekaligus penggemar pria. Itu cukup membuatku khawatir—bagaimana gadis itu tahu keberadaanku? Tak tanggung-tanggung, penggemar Fleur melakukan aksi yang tak bisa kulakukan seperti mengajaknya jalan.

Bahkan berbicara padanya saja aku tak mampu. Fleur terlalu cantik.

Kala itu pertama kali aku berbicara dengannya.  Lorong khusus loker menjadi saksi kebahagiaan yang teramat dalam hidupku. “Maaf Mark tapi ada kertas menempel di punggungmu,” lalu ia menyetrum—maksudku menyentuh punggungku guna menarik kertas yang menempel. Ia tersenyum maklum kemudian berjalan pergi bahkan ketika aku belum tersadar.

Dia berada dimana-mana setelahnya; sebelum tidur, mimpi, dan hal pertama yang datang ketika bangun. Aku tergila-gila pada Fleur. Sangat gila untuk gadis itu.

Semakin aku memperhatikannya, semakin ingin aku merengkuhnya dalam pelukan. Itu mustahil of course. Cowok yang langsung membeku di depan Fleur tidak akan mampu mendapatkan hati malaikat itu. Saling lempar senyum bukan pertanda yang bagus—apalagi bagi Fleur yang ramah.

Sampai kudengar Fleur menyukai Doyoung.

Doyoung suka pada Fleur. Fleur suka pada Doyoung. Tidak ada halangan bagi mereka untuk bersama. Meski tidak ada bukti yang akurat, mendengarnya saja sudah membuatku panas setengah mati. Aku pernah sekali melihat mereka berjalan beriringan di jam istirahat dengan Fleur yang terlihat bersemangat dan Doyoung yang bahagia. Kalau aku tidak normal, sudah kupatahkan leher Doyoung dan membawa lari Fleur.

Serius, panas sekali rasanya.

Tapi berkat adegan ‘panas’ itu aku mengumpulkan tekad untuk merebut hati Fleur. Aku mulai berani menatap mata, menyapa, dan tersenyum lebar untuknya. Lama kelamaan, kucoba untuk selalu terlihat di depan Fleur, berbicara basa-basi, dan melempar candaan. Semua kulakukan dengan penuh kegugupan. Walaupun kesannya begitu berusaha, semua tidak bisa dibandingkan dengan yang Doyoung lakukan.

Lantas nyaliku ciut dan sedikit menghindar darinya. Hatiku sakit.

Aku tidak bisa menyerah. Fleur cinta pertamaku dan tidak semudah itu terlepas oleh waktu.

Aku melakukan lebih seperti memberi coklat saat White Day dan pura-pura meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Well, kelas kita berbeda dan kesannya aneh sekali. Baik, anggap saja dia berpikir bahwa ada niat tersembunyi di balik itu.

Semua berjalan sesuai rencana dengan baik dan hubunganku dengan Fleur naik ke level teman dekat. Tetapi pada suatu sore, saat semua sibuk menuju pintu gerbang—Fleur mengacuhkan sapaanku. Tidak mendengus atau menatap sinis, hanya berbalik kemudian berlari kecil.

Aku tidak tahu mengapa namun setelah awal titik balik hubungan kita, Fleur tidak seperti dulu. Usahaku terasa sia-sia. Entah sengaja atau tidak, tiap aku melewati koridor kelasnya, Fleur seolah tertelan bumi. Ia mencoba meyakinkan bahwa dirinya sedang menghindariku. Tetapi ada hal yang membuatku tenang—ia juga sedang tidak dekat dengan pria manapun.

Tidak ada kepastian tempatku berpegang. Hati Fleur tampak kabur dari pandangan, bak udara yang tak terlihat. Kami seolah bermain tarik ulur—kadang ia mengacuhkanku, kadang ia juga melempar senyum. Dan karena permainan talik ulur dengannya, aku jatuh lebih dalam dan tidak bisa kembali ke awal. Pesona rendah hati dari Fleur begitu menggoda.

Suatu hari aku ditawari masuk sebuah agensi besar dan kedua orang tuaku sangat bahagia karenanya. Mereka menganggap penawaran itu keberuntungan paling hebat yang pernah kudapat. Mulanya aku juga bahagia, membayangkan suatu saat aku akan disandingkan dengan hallyu star penuh pujaan. Tapi aku segera menyadari keputusan itu akan memberi jarak sangat jauh antara aku dan Fleur.

Jadi jawabanmu adalah…” Tiba-tiba Fleur memenuhi seluruh sudut otak, melekat pada setiap pilihan keputusan yang akan kubuat. Pria yang mengurus tentang kontrak itu menatap penuh tanda tanya namun yang dapat kulakukan hanya menggigit bibir. Mata dari kedua orang tuaku penuh percikan harapan, sangat siap menerima persetujuan dariku. Hanya aku yang masih ragu.

Fleur tidak lagi dekat dengan Doyoung. Fleur masih sering mengacuhkanku. Fleur tertawa atas candaanku. Fleur tidak tahu aku menyukainya. Fleur… akkghh! Bagaimana bisa Fleur berada dimana-mana?

Jadi..”

O-oke baiklah.” Bukan maksud menyerah, Fleur masih menggantungkan hati. Dengan setengah hati kutanda tangani kontrak yang akan membawaku pergi dari kota ini, jauh dan lebih jauh dari pandangan Fleur.

Kontrak dan Fleur terus menghantui, siang malam terasa sama saja. Hari Rabu di siang hari aku memutuskan suatu hal gila, yang kuharap tak akan pernah kusesali seumur hidup karena saat itulah aku membiarkan perasaan menyesakkan ini mengalir menuju hati Fleur dan berharap pintu hatinya tidak tertutup untukku.

Yang kutidak tahu adalah hati Fleur memang sudah tertutup.

Maaf Mark, kau tahu, kita bisa jadi teman dekat,” sekarang aku merasakan bagaimana tatapan itu menyayat jantung. Mata itu, mengatakan bahwa sebaiknya aku tak mengejarnya. Tapi aku tidak bisa. Fleur tidak boleh melabuhkan hatinya pada orang lain.

Maka ketika ia mulai beranjak pergi, aku membulatkan tekad.

Aku akan berusaha sampai kau yakin,” Fleur terdiam. Kalau dulu aku bahkan tak berani menatapnya, kini rasa sayangku pada Fleur sudah menempaku menjadi seseorang seperti ini. Meski ia tidak melihat, aku tersenyum penuh keyakinan.

“Bisa menungguku?”

Bahkan setelah bertahun-tahun tak bertemu dengan Fleur, perasaanku padanya tidak berubah sedikit pun. Dia tetap menjadi motivasiku untuk menjadi idol. Aku sering bertanya-tanya bagaimana kabar dia sekarang, apa senyumnya masih sama seperti dalam ingatanku, atau.. ia sudah mengenggam tangan orang lain?

Fleur, apa kau masih menungguku?

Ini tahun ke empat yang telah kujalani tanpanya. Mungkin jika aku tidak menjadi trainee, sekolah tingkat atas kami mungkin akan beda. Tapi setidaknya aku tahu dia berada dimana sehingga aku tidak terlalu khawatir seperti ini.

Beberapa waktu lalu aku bertemu teman SMP, bercerita ini-itu sejak aku pindah. Selama itu aku hanya bisa menahan diri agar tidak blak-blakkan bertanya tentang keberadaan Fleur, apa ia pernah sakit, atau apa sajalah tentang gadis itu. Temanku, Hyunwon, susah sekali menyadari keinginannku dan hanya berceloteh tentang  hal tak penting.

Yang berhasil kutahu adalah Fleur tinggal sendiri di Seoul sementara kedua orang tuanya kembali ke Perancis. Fleur benar-benar membuatku khawatir setengah mati. Bagaimana bisa seorang gadis tinggal sendiri di kota metropolitan seperti Seoul?

Dan—

“Mark mau keripik?” Kak Ten menyodorkan sekantung keripik keju. Aku menolak dengan halus lantas melanjutkan bermain smartphone, yang tidak benar-benar menatap baris tulisan yang ditampilkan. Sekedar alibi untuk memikirkan gadis yang kucintai itu.

“Mark mau minum?” Kak Ten kembali menyodorkan sesuatu—botol minum. Sejenak, bibirku mengulas senyum lantas menggeleng. Beranjak pergi kemudian menemukan sofa kosong guna menghindari segala bentuk gangguan seperti yang Kak Ten lakukan tadi.

Barang semenit saja, kak Ten kembali menghampiri, bedanya ia tak membawa apapun untuk ditawarkan. Sebuah senyum misterius yang ia tampilkan memaksaku mau tak mau untuk bertanya-tanya. Ada apa?

“Kau sedang jatuh cinta ya?” sepersekian detik aku terkejut atas tebakannya namun lantas memasang ekspresi biasa dan menggeleng. Kurasakan kak Ten tersenyum, “sebentar lagi kita debut, jangan lepas konsentrasi. Penggemar kita pasti lebih cantik dari gadis itu.”

Tanpa sadar aku mendengus. Fleur sudah cukup bagiku.

Well, lupakan saja dia..”

Seminggu sudah berlalu sejak kak Ten menyuruhku untuk melupakan Fleur. Sebagian jiwaku berkata untuk tetap untuk Fleur namun kurasa dominannya meminta agar segera melupakannya. Gadis mana yang mau menunggu selama itu—tanpa kepastian yang jelas dan eksistensiku nol besar. Aku masih ingat ketika aku memintanya untuk menunggu, ia tidak mengatakan apapun selain beranjak.

Apa mungkin selama ini dia tidak menunggu?

Apa usahaku sia-sia?

… atau selama ini aku sudah berhasil?

Opsi terakhir sangat tidak rasional. Jelas sekali Fleur tak merasakan hal yang sama. Gadis itu hanya terlalu ramah pada setiap orang termasuk aku. Senyum dan tawa dari belah bibir itu sekedar formalitas dan sopan santun.

Belakangan ini aku sudah tidak begitu memikirkan Fleur. Seperti apa yang dikatakan kak Ten, fokusku hanya boleh di ambil oleh keperluan untuk debut. Aku tidak menyangka hari itu akan datang juga.

Disinilah aku, backstage penuh kesibukkan. Kegugupan belum bisa diatasi bahkan saat aku memasuki panggung. Teriakan langsung terdengar mendukung.  Membuang semua prasangka buruk, aku hanya berkonsentrasi menarikan bagian, mengikuti ritme music.

Ada perasaan membuncah dalam dadaku. Seluruh darahku mendesir bahagia ketika performa kami selesai. Mimpi yang menjadi nyata, menyatu dalam sesuatu yang disebut takdir, dan menjadi selamanya. Teriakan ini, kebahagiaan ini—semua milikku untuk selamanya.

Dan aku menunduk memberi hormat.

Lalu mata Fleur terlihat terkejut menjadi sepasang manik pertama yang menangkap pandangku. Entah apa yang salah dari diriku tetapi aku hanya bisa membeku. Tidak sempat hanya untuk melempar senyum—lalu tubuhku didorong agar segera kembali ke belakang panggung.

Namanya Fleur, ia secantik namanya.

Dan perasaanku padanya tidak pernah berubah seperti kecantikkanya.

FIN

Advertisements

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s