[NCTFFI Freelance] Pepromeno (Chapter 2)

mrk

Title: Pepromeno
Scriptwriter: popowiii
Main Cast: Mark Lee (Lee Minhyung) NCT  as Mark Choi
Support Cast (optional): Choi Minho SHINee, Irene Red Velvet, Mina TWICE, Krystal f(x), Jaemin NCT, Donghyuk NCT, Jaehyun NCT, Ten NCT, Doyoung NCT.
Genre: Greek, fantasy, angst, family, friendship.
Duration: Chaptered.
Rating: PG

Summary: Bayangkan jika dalam hidup kalian saat ini, kalian bertemu dengan tiga wanita yang mengaku diri mereka sebagai Moirai, dewi takdir. Seorang pemuda bernama Mark yang bertemu dengan Moirai diharuskan untuk memilih antara kehidupan atau kematian. Menurut kalian, keputusan apa yang akan ia pilih?

Sebelumnya : Chapter 1

***

Udara dingin dari dunia luar menyusup masuk melalui fentilas-fentilasi kecil kelas. Semua manusia yang berada di dalamnya merapatkan jas almamater sekolah yang mereka kenakan guna menjaga kalor yang berada di dalam tubuh mereka. Tak ingin kalor itu meninggalkan tubuh mereka atau mereka akan meninggal kedinginan. Itulah gambaran yang ada di pikiran mereka saat itu.

Alih-alih merapatkan jas almamater atau memeluk tubuhnya sendiri, Mark lebih memilih untuk meletakkan dagu di atas tangan kanannya dan memperhatikan tulisan guru yang ada di papan tulis. Kata demi kaat yang disampaikan Sang Guru ia cerna baik-baik di dalam otaknya. Sudah cukup lama dia mempertahankan posisi duduk itu, hingga tak terasa tangan kirinya merasakan kesemutan yang luar biasa karena harus menopang beban tangan kanan dan dagunya sekaligus. Saat itu Mark meringis tertahan akibat kesmutan yang menggerayangi tangannya, pada saat itu juga, bel istirahat berbunyi.

“Huaa, akhirnya… aku harus banyak bergerak atau aku akan mati membeku saat ini juga,” suara melengking khas laki-laki terdengar dari bangku belakang Mark. Pemuda dengan suara melengking itu melompat-lompat ditempat dan sesekali lari di tempat untuk menghangatkan tubuhnya.

“Ddong, ke kantin nggak?” Mark menoleh ke belakang dan melontarkan pertanyaan itu sehingga aktivitas pemanasan yang tengah dilakukan orang di belakangnya terhenti sejenak.

Donghyuck NCT

“Berhenti memanggilku ‘Ddong’ menjijikkan! Namaku Donghyuk, Kim Donghyuk!” pemuda bernama Donghyuk itu mendengus kesal lalu menyimpan kedua tangannya di dalam saku almamaternya. Mark hanya mengangguk malas dan berdiri dari duduknya lalu berjalan meninggalkan Donghyuk beberapa sekon setelahnya. Donghyuk? Tentu saja akan menyusul Mark dari belakang.

Donghyuk memesankan dua sandwich dan dua kaleng soda untuk dirinya dan Mark. Sedang Mark mencari tempat duduk yang strategis dan dinilai nyaman untuk menyantap makan siang mereka. Selesai memesan makanan, kedua mata Donghyuk akan berlarian mencari keberadaan Mark di tengah kerumunan siswa yang sedang berada di kantin.

Isyarat “Ahh,” keluar dari mulutnya ketika ekor matanya menemukan Mark yang duduk di meja dekat mesin minuman lama yang sudah tidak bisa menjalankan tugasnya sebagai mesin minuman. Ditambah Mark yang melambaikan tangannya membuat Donghyuk mempercepat langkahnya mendekati Mark.

“Milikmu,” Donghyuk memberikan satu sandwich dan satu kaleng soda kepada Mark. Mark menerimanya dengan kedua tangannya lalu memberikan senyuman sebagai tanda terima kasih.

“Hari ini dingin sekali, ya? Astaga, aku hampir mati kedinginan di dalam kelas tadi,” cerocos Donghyuk hiperbola dengan mulut yang penuh dengan sandwich di dalamnya. “Ditambah pelajarannya yang absurd. Ya ampun, tidak satu pun materi hari ini yang masuk ke dalam otak jeniusku,” lanjutnya. Beberapa kali Mark mengesut tangannya akibat sebagian kecil dari sandwich Donghyuk yang meluncur keluar bersamaan dengan cerocosannya.

Berkali-kali Mark menasehatinya untuk tidak bicara saat makan. Donghyuk hanya menjawabnya dengan angkatan tangan kirinya, karena tangan kanannya tengah sibuk menuangkan soda ke dalam mulutnya. Lalu tiba-tiba ada suara ketiga yang muncul dari belakang Donghyuk dan sontak membuat minuman yang Donghyuk minum salah jalur dan membuatnya tersedak, “Uhuk… Uhooekk…”

“Mark bab dua dan bab tiga karya ilmiah kita sudah selesai?” suara orang ketiga itu berbaur dengan sedakan Donghyuk yang dapat dbilang berlebihan.

Jaemin NCT

“Oh, ternyata Jaemin. Aku ambil ke kelas dulu, ya,” jawab Mark singkat pada Jaemin, Na Jaemin, rekan Mark dari ekstrakulikuler karya ilmiah. Mark  mengangkat tubuhnya dari duduk setelah ia memberikan minumannya ke depan Donghyuk. Donghyuk segera menyambar kaleng minuman itu guna mengurangi tersedak yang sedang menderanya saat itu.

“Bagaimana bisa seorang Mark Choi yang terpandang berteman dengan orang bodoh dan maaf ya sebelumnya, alay sepertimu?” ejek Jaemin. Donghyuk meletakkan kalengnya perlahan, pandangannya terutuju pada lubang kaleng minuman yang sekarang hanya menampakkan setengah dari isinya. Donghyuk menatap lekat punggung Mark yang semakin menjauh dan samar akibat jarak yang tercipta. Donghyuk menghela nafasnya berat.

“Dulu dia tidak seperti itu. Aku berteman dengannya sejak SMP kelas dua, dulu dia sangat murah senyum dan humoris, sebelas duabelas denganku,” Donghyuk tersenyum miris. Mendengar Donghyuk, Jaemin mengalihkan pandangannya dari arah keluarnya Mark kepada Donghyuk yang ada di sampingnya. Jaemin duduk, siap mendengarkan cerita dari seseorang yang sekarang ini berada tepat di sampingnya.

Donghyuk bercerita mulai dari bagaimana mereka berdua bertemu sebagai seorang murid pindahan dan murid cerewet yang aneh. Saat itu bahasa Korea Mark dapat dibilang dibawah standar, pola kalimatnya masih terbalik-balik. Tidak dapat dipungkiri, bahwa sepersekian persen kelihaian Mark dalam berkata-kata—perbendaharaan kata—adalah hasil kerja keras Donghyuk. Jaemin tertawa geli mendengar cerita Donghyuk.

“Dari dulu akulah yang menyelamatkannya atau menemaninya melarikan diri dari kerumunan fansnya yang brutal dan errgh… dengan mengingatnya saja aku sudah mual,” pandangan Donghyuk berpaling keluar jendela. Ditatapnya sebuah mobil sedang yang memasuki gerbang sekolah mereka. Jaemin mengikuti arah pandang Donghyuk, tatapan Donghyuk saat itu sulit diartikan.

“Ada apa?” tanya Jaemin masih dengan tatapan lekatnya pada mobil sedan lalu beberapa detik berikutnya tatapan itu menjadi sepenuhnya terfokus pada Donghyuk.

“Orang tuanya kecelakaan,” Jaemin mengatupkan mulutnya yang membulat sempurna, “Mark di Kanada sejak lahir, lalu kembali ke Korea saat dia kelas dua SMP. Karena itulah dia lebih sering dipanggil Mark ketimbang Minhyung, nama Koreanya. Mark menolak permintaan orang tuanya untuk sekolah ke London. Dia selalu menyalahkan dirinya atas meninggalnya kedua orang tuanya itu. Berkali-kali aku meyakinkannya, namun nihil. Makin hari, aura muram pada dirinya tampak semakin lebat. Tidakkah kau berfikir bahwa sifatnya berbeda?”

Jaemin berfikir sejenak. Ia memandng lurus dan menemukan sesosok Mark yang berjalan ke arah mereka dengan lembaran kertas putih di tangan kanannya. Terlihat dari situ bahwa Mark sedang membungkuk sopan pada segerombolan kakak kelas yang ia kenal. Mark hanya tersenyum tipis lekas berlalu dari mereka, tidak ada aditif lain.

“Dulu dia butuh waktu berpuluh-puluh menit jika bertemu dengan Jaehyun, kakak kelas yang tadi ia beri hormat. Mereka akan membicarakan mulai dari perkembangan basket sampai episode terbaru kartun Spongebob, Jaehyun Hyung bilang, saat Mark tertawa suaranya mirip Spongebob, tapi sekarang dia sudah jarang tertawa,” Jaemin tersenyum geli mendengar itu. Sampai akirnya, Mark datang dengan sodoran lembar-lembar kertas ke depan wajah Jaemin yang terang-terangan masih menatap Mark.

“Ini bagianku, sudah kupastikan bebas typo. Dan kuharap kau bisa menjelaskan makna dari tatapanmu barusan,” sinis Mark pada kalimat keduanya.

“Apaan yang harus kujelaskan? Baiklah, aku permisi dulu,” Jaemin mengangkat tangan kanannya lalu mendaratkannya di pundak Donghyuk dan menepuknya beberapa kali. Donghyuk menatap Jaemin lalu mengangguk dan tersenyum simpul pada pemuda manis itu.

Mark kembali duduk di depan Donghyuk dan bertanya apa maksud dari tepukan di pundak Donghyuk barusan. Jika boleh, dia juga ingin bertanya apa maksud dari tatapan Jaemin kepadanya tadi. Donghyuk hanya menjawab sekenanya bahwa mereka hanya becerita perihal melodrama dan masalah tatapan itu, Donghyuk bilang bahwa Mark terlalu kepedean perihal itu. Tanpa pikir panjang, Mark mempercayai semua itu.

Jaemin sudah beberapa langkah meninggalkan tempat duduk mereka berdua (Donghyuk dan Mark). Satu langkah ia meninggalkan tempat duduk itu, satu kenangan Mark yang melintas cepat di ingatannya. Ia mulai mengingat kembali saat-saat pertama dia bertemu pemuda kelahiran Kanada itu.

“Nama saya Choi Minhyung, biasa dipanggil Mark. Saya pindahan dari Kanada, saya bergabung dengan ekstra karya ilmah karena saya ingin menjadi penulis novel. Tolong bantuannya,” Jaemin masih ingat jelas bagaimana perkenalan Mark saat pertama kali menjadi anggota karya ilmah. Jaemin sempat meragukan kemampuan berbahasa Mark, pada awalnya Jaemin memang harus merapikan beberapa pola kalimat yang berceceran dan membenahi diksi di dalam laporan Mark. Tapi sekarang, karya ilmiah tanpa adanya campur tangan dari seorang Mark akan sangat sulit mendapat persetujuan kepala sekolah.

Jaemin kembali terkikik geli saat memori-memori itu terputar di benaknya. Terutama memori saat wajah mereka dipenuhi coretan tinta, karena seksi perlengkapan tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Alhasil, dua orang awam itu harus rela mengotori wajah tampan mereka dengan tinta printer berwarna hitam pekat.

Belum ditambah puasa berjamaah—lupa makan—yang mereka lakukan karena terlalu asik mengerjakan karya ilmiah. Padahal deadline-nya masih terbilang jauh untuk keahlian menulis setingkat mereka berdua. Jaemin menundukkan kepalanya dan menggaruk tengkuknya, menyembunyikan wajahnya yang menjadi tontonan orang-orang karena dia tertawa-tawa sendiri. Tak terasa dia telah sampai di tempat tujuannya, kantor guru. Ia buka pintu kantor dengan perlahan, aroma AC menyeruak ke dalam hidungnya. Disapanya guru satu persatu yang ia temui.

“Ini hasil final karya ilmiah,” Jaemin meletakkan karya ilmiah yang sudah utuh ke atas meja seorang guru yang sedang bercakap dengan orang diseberang telefon. Melihat Jaemin, guru itu mengangkat tangan kanannya dan kedua alisnya, mengisyaratkan Jaemin untu menunggu. Pemuda itu mengangguk paham.

“Maaf-maaf, urusan penting. Jadi ini hasilnya? Bagiannya Mark, sudah?”

Jaemin mengangguk lalu menunjukkan daftar isi dan menunjuk bab dua dan bab tiga, bab yang dikerjakan oleh Mark. Lantas menjelaskan secara rinci bagian perbagian dari karya ilmiah itu. Sang Guru menganguk puas mendengar presentasi singkat dan dadakan Jaemin yang terbilang sangat baik itu.

“Terbaik, kurasa kita akan menang lagi,” gurau Sang Guru, Jaemin tersenyum lugu, lantas berpamitan, namun, suara dari guru itu menahan lankahnya meninggalkan kantor, “Oh iya, Jaemin, apa Mark akhir-akhir ini sakit?” Jaemin kembali mendekati meja guru dan menggelengkan kepalanya.

“Kenapa dia tampak lesu dan tidak sesemangat dulu saat kelas X?”

“Orang tuanya meninggal, Pak,” Jaemin melirihkan suara bass beratnya.

“Saya tahu, tapikan sudah satu tahun. Pemulihan batinnya terlalu lama saya rasa. Tolong hibur dia, ya,” Jaemin menundukkan kepalanya memberi hormat kepada Sang Guru lalu pergi beranjak dari sana.

Jaemin masih terdiam. Tak mungkin dia menceritakan kekhawatiran Mark tentang ketakutan akan meninggalnya kedua orang tuanya pada guru. Jaemin yakin bahwa itu bukanlah kesalahan Mark. Terbersit sedikit rasa rindu pada kepribadian Mark yang dulu. Dia pun yakin bahwa Donghyuk juga merasakan hal yang sama. Semua bayangan Jaemin mengenai Mark hilang seketika ketika ia mendengar suara bel masuk yang menggema, segeralah ia berlari menuju kelasnya yang terbilang jauh dari kantor guru dan berharap bahwa guru pelajaran selanjutnya belum memasuki ruang kelas.

♦‡♦‡♦

Bel pulang terasa lebih cepat dari biasanya. Seluruh siswa berbondong-bondong menuju pintu utama sekolah dan menuju keluar bangunan itu. Siswa-siswi yang keluar dari bangunan tampak seperti kerumuman semut yang rumahnya dirobohkan, jika kita lihat dari atas. Mark dan Donghyuk tidak menjadi bagian dari mereka, karena parkiran sepeda ada di samping sekolah.

“Ddong, ahh… Sorry, Donghyuk, kau pulang duluan. Aku ada urusan,” ucap Mark pada Donghyuk. Donghyuk mengangguk sembari menaiki sepedanya. Mark menatap punggung Donghyuk mulai menghilang di telan jarak. Ia segera meninggalkan parkiran sepeda dan berjalan menuju suatu tempat.

Mark menatap lekat tiap persegi ubin yang ia lewati. Lorong itu adalah lorong yang paling sering ia lalui. Ia sudah hafal betul dengan tempat itu. Semkain ia berjalan maju ke depan, semakin terdengar suara decitan sepatu yang beradu dengan lantai. Bau balsem mulai menyapa indra pembau Mark. Hingga akhirnya ia dihadapkan dengan dua daun pintu yang sangat lebar. Diangkatlah tangan kanannya guna membuka salah satu daun pintu tersebut.

Suara khas pintu terbuka membuat semua pasang mata yang berada di dalam ruangan tersebut menoleh pada Mark. Senyuman merekah pada bibir semua orang yang ada di dalam lapangan basket indoor itu. Mark melangkahkan kakinya masuk lebih dalam.

CAPT, dari mana saja?” pekik seseorang yang lebih tinggi dan lebih besar dari Mark yang sudah terbilang tinggi, tetapi tubuh Mark kurus dan kecil. Pemuda itu menekankan kata ‘Capt’ pada kalimatnya. Mark hanya memukul pundak pemuda itu ringan dengan tangannya dan terkikik singkat.

“Kenapa belum ganti kaos basket, Mark? Bukan keputusan yang baik untuk latihan basket dengan seragam kain jika kau hanya ingin menjadi trendsetter,” timpal seorang lagi, yang kali ini lebih pendek beberapa centi dari Mark. Pemuda mungil itu menyandarkan tangannya ke pundak Mark.

“Dari parkiran sepeda. Aku kesini bukan untuk latihan basket, aku mau ijin selama satu minggu. Ini suratku, kutitipkan pada Jaehyun Hyung saja, ya,” Mark menyodorkan surat itu kepada pemuda yang lebih tinggi darinya. Pemuda tinggi itu bernama Jaehyun.

“Kenapa ijin, Mark?” muncul satu pemuda lagi dengan rambut warna cerah dan gigi kelincinya. Dia mengenakan kaos dengan nama punggung, Kim DY. Atau, Kim Doyoung.

“Aku harus jaga rumah, Hyung. Minho Hyung lembur satu minggu ini,” jawab Mark sekenannya. Ten mengangguk-angguk paham, masih dngan posisi awalnya yang bergelayut pada Mark.

“Ten jangan bergelayut pada Mark, tuh, lihat! Tanganmu longsor kebawah,” ejek Doyoung pada Ten yang masih menggantungkan tangannya pada bahu Mark yang lebih tinggi darinya. Adegan Tom & Jerry tak terelakkan.

Doyoung, Ten, Jaehyun NCT

“Dua hyungmu itu memang tidak pernah berubah, ck… ck… ck…,” decak Jaehyun sambil menatap miris dua temannya yang kejar-kejaran memutari lapangan basket. Mark ikut menyaksikan pertunjukan itu dengan seksama. Setelah itu, dia memberi salam pada Jaehyun dan beranjak meninggalkan ruangan itu. “Seorang kapten tidak boleh meninggalkan anak buahnya terlalu lama, Mark!” timpal Jaehyun.

“Tak masalah selama Sang Kapten memiliki tangan kanan yang handal,” Mark menunjuk Jaehyun dengan dagunya, lalu ia menyimpan tangan kanannya di dalam saku dan menghilang setelah beberapa sekon terdengar suara pintu tertutup.

Jaehyun enggan melepaskan pandangan dari surat ijin yang ada di tangannya itu. Amplopnya masih tersegel, hanya ada tulisan “Untuk Pelatih Kim,” di bagian depan amplopnya yang memecah kepolosan pada kertas putih itu. Setelah beberapa detik menatap amplop tersebut, pandangan matanya beralih pada lantai motif kayu yang tampak setelah ia memasukkan surat ijin Mark ke dalam saku celananya.

Lantai itu adalah lantai yang sama yang Jaehyun pijak saat dia mencalonkan diri sebagai kapten basket sekolahnya untuk yang kedua kali. Dia menjalankan tugas dengan baik pada tahun pertama ia ‘menjabat’ sebagai kapten basket. Namun, tak ia sangka jika pada tahun kedua itu ia akan dihadapkan dengan seorang adik kelas pindahan dari Kanada. Awalnya pemuda dengan kulit putih pucat itu masih yakin dengan  bakat yang ia miliki. Wajah lugu nan manis yang ada pada wajah adik kelas pindahan Kanada itu menurutnya sangatlah tidak meyakinkan.

“Tak tau diri! Kulit putihmu itu anak mama banget, tahu!” ucapan Doyoung dengan bahasanya tanpa filter—ceplas-ceplos—khas Doyoung mengusik dirinya dan membuatnya geram saat itu. Namun, membuatnya tertawa tiap kali ia mengingatnya saat ini.

Dia harus mengakui bahwa kemampuan dan fisik Mark memang sangat kuat. Tidak ada alasan objektif yang bisa menguatkan Jaehyun sebagai kapten basket. Mark bisa melakukan three-point tanpa aji-aji ‘keberuntugan’. Dia benar-benar berbakat. Awalnya siswa yang kelasnya satu tingkat di atas Mark—Mark kelas XI, Jaehyun kelas XII—itu tidak terima dan sempat mogok latihan basket, karena gengsi.

Tetapi, perkataan Mark saat itu benar-benar menyadarkan dirinya untuk kembali bermain basket. Ia masih ingat dengan jelas apa yang Mark katakan kepadanya di kursi penonton barisan ke dua yang ada di lapangan basket indoor yang sekarang sedang ia tempati.

“Kenapa menyerah dengan apa yang kita sukai jika gunanya hanya untuk sekedar menutup gengsi? Tidak ada gunanya. Lagi pula aku akan tetap memanggilmu Jaehyun Hyung dan bersikap sopan. Aku pandai menghargai orang dan mungkin akan bertanya beberapa pengalaman dan perkembangan basket di Korea. Basket di sini sedikit berbeda dengan di Kanada,”

Mark meyakinkan Jaehyun puluhan kali, dan itu adalah kali terakhir Mark meyakinkan Jaehyun. Dan pada akhirnya membuahkan hasil, Jaehyun kembali menjadi tim inti basket. Mulai saat itulah Jaehyun bisa menerima kekalahannya. Keramahan dan selalu menghargai semua orang membuat semua kakak tingkat yang ada di tim basket atau pun tim karya ilmiah tidak bisa membencinya, meski Mark selalu mengugguli mereka dalam bidang bakat.

Co-Capt, ayo mulai!” ajakan Ten dan tepukan tangannya di pundak Jaehyun menyadarkan pemuda rupawan itu dari lamunannya. Ten manunjuk anggota basket yang ada di sudut lapangan dengan dagunya. Terlihat Doyoung yang sudah menautkan alisnya dan mengatupkan bibirnya rapat, menahan kata-kata kasar yang hendak keluar karena Jaehyun membuatnya menunggu lama, tak lupa tangan yang diayunkan cepat memertintahkan Jaehyun untuk segera hadir di sana. Tak ingin kelinci itu semakin geram, Co-Captain itu berlari menuju anak buah yang diamanatkan langsung kepadanya beberapa waktu lalu.

♦‡♦‡♦

Sinar matahari lengket menerpa tubuh Mark. Sebentar lagi warna biru langit akan tergantikan dengan warna merah menyala dengan guratan emas pada titik perpisahan dengan sang surya. Mark mengayuh sepedanya santai melewati trotoar kota, menghindari beberapa pejalan kaki yang melintas di hadapannya.

Ia telah memangkas habis jarak antara sekolah dan rumahnya. Kini, ia sedang sibuk berkutat dengan kunci dan gembok gerbang rumahnya. Setelah berhasil melepaskan tautan gembok, segera ia buka gerbang yang menjulang tinggi menyerupai jeruji penjara—lebih manusiawi tentunya—itu guna memarkirkan sepedanya lekas menuju pintu masuk utama.

Saat sedang memilah kunci dari kumpulan kunci rumah yang dijadikan satu, antisipasi supaya tidak terpencar dan menghilang satu persatu. Tiba-tiba ada semilir angin dingin yang menyeruak masuk melalui pori-pori kulit Mark, dieratkannya almamater sekolah yang masih melilit tubuhnya, saat itu pula Mark mendengar suara perempuan dari dalam rumah, tangannya yang aktif mencari kunci terhenti sejenak. Ia pasang telinganya benar-benar.

“Ini, ya yang namanya piala? Mengkilat, ya, mirip gelas anggur Zeus,” Mark terlonjak saat mendengar suara itu. Alisnya saling tertaut menjadi satu.

“Apa Minho Hyung punya pacar, ya? Tapi kenapa tidak cerita,” Mark bergumam pada dirinya sendiri. Untuk memastikan, dia tidak segera membuka pintu, tetap memasang telinganya dan mendengarkan suara-suara mencurigakan yang ada di dalam rumahnya itu dengan seksama.

“Jangan dipegang, nanti pecah, Mina!” mata Mark melotot tak percaya saat ada suara lagi yang terdengar. Namun, suara kali ini berbeda dari suara yang pertama. Untuk berjaga-jaga jika di dalam ada sekelompok pencuri, Mark menambar salah satu payung yang ada di sebelahnya dengan tangan kiri, tangan kanannya yang gemetar masih memegang kunci yang sudah tertancap dilubangnya.

“Irene, ini bacanya apa, sih?” suara yang berbeda kembali terdengar. Positif! Ini adalah sekelopok perampok yang masuk ke rumahnya. “Tapi sedikit bodoh,” pikir Mark. Mark memutar kunci itu perlahan dengan tangan kanannya, jantungnya berdetak tak beraturan. Darahnya berdesir seperti terjun dari ubun-ubun hingga ujung jari kaki. Keringat dingin membasahi keningnya.

CEKLEK…

Pintu berhasil dibuka. Mark mendorong pintu itu dengan posisi tangan kiri terangkat lengkap dengan payung hijau motif keroppi kesayangan Minho yang mengacung di atas. Matanya sedikit tertutup. ia hanya bisa melihat dari celah bulu matanya, bahwa di ruang tengahnya saat ini ada tiga orang wanita dengan gaun hitam amat panjang hingga menyapu lantai dan maskara tebal di bawah mata mereka.

Bibir Mark terkatup, lidahnya kelu. Dia tecekat sesaat, matanya menamatkan wanita-wanita itu satu persatu. Mulai dari rambut hingga ujung kaki. Aneh. Itu yang ada dipikirannya. Tangan kirinya masih terapung di udara.

“Hai, Mark,” ucap salah satu wanita bergaun hitam dengan rambut merah. Pegangan Mark pada payung hijau yang tadi ia pegang erat mulai mengendor. Alhasil, payung itu terjatuh bersamaan dengan teriakan Mark dan suara pintu yang ditutup secara paksa. Aku yakin Mark sendiri pun tidak dapat menjelaskan ekspresinya saat itu.

“AAAAAAAAAAAAAAAAA!!!” pekiknya saat melihat ketiga Moirai ada di dalam rumahnya. Dihadapannya. Mark harus segera membiasakan diri, karena setelah ini dia akan banyak berurusan dengan tiga wanita itu.

-To be Continued-

Author’s note: Sebelumnya terimakasih untuk admin yang sudah posting ff ini T^T terima kasih juga buat readers yang sudah baca. Di sini aku masih pakai karakter Donghyuk, ya, bukan Haechan soalnya waktu bikin ini NCT 127 belum ada, jadi mohon maklum. Terima kasih~

Regards, popowiii

Advertisements

5 thoughts on “[NCTFFI Freelance] Pepromeno (Chapter 2)

  1. wah aku pertama sebenernya baca yg part 2 dulu baru part satu soalnya ketinggalan update hihihi
    suka banget sama diksi-mu, thor! Good job.
    Semangat ya buat chapter 3-nya ^^

    Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s