[NCTFFI’s 2nd Oprec] Bildung zum Schutz der Erde

CfxBRjfUYAA0YpY

Bildung zum Schutz der Erde

Cast: [NCT’s] Kun with [WJSN’s] ChengXiao slight! [NCT’s] WinWin
| Genres: Academy!AU, Dystopia, Friendship | Length: ±1k words | Rating: PG-13 |

Based on prompt:
Ketika pesan itu tiba, tiada satupun yang peduli. Tidak aku, tidak pula kau. Sampai kita menyadari bahwa setengah penduduk kota telah mati, dan kita hanya bisa gigit jari.

.

.

Bumi beberapa tahun terakhir bukanlah tempat yang dulunya digadang sungguh-sungguh nyaman untuk ditinggali. Salah satu alasan mengapa bumi disebut demikian adalah meledaknya populasi manusia yang menjadikan bumi terasa sesak sampai sulit bergerak. Orang-orang pintar yang suka jalan-jalan ke bulan bahkan mencari planet lain yang kiranya dapat ditinggali selain bumi karena kepadatan yang terjadi.

Namun, selagi pencarian masih digalakkan, bumi kini telah melebihi batas huni. Dari yang seharusnya menampung empat milyar manusia, data yang kuterima beberapa minggu silam menunjukkan angka yang luar biasa, yaitu tujuh milyar lebih penghuni. Dengan begitu, bumi kelebihan tiga milyar manusia dan itu terus bertambah setiap tahunnya.

Jujur, hal ini membuat seluruh teman-teman seakademiku kelimpungan karena selain harus mengerjakan tugas-tugas akhir dari profesor, kami juga dipercaya untuk menjaga bumi lantaran planet yang mereka cari untuk memindahkan separuh penghuni bumi belum juga didapati. Pun karena ada kabar bahwa orang-orang dari Kingdom of Sevarius[1] mengancam akan memusnahkan sebagian penduduk melalui perang.

Maka dari itu, kami ditugaskan membuat seperangkat alat yang dapat mendeteksi serangan pun alat-alat yang dapat melindungi bumi dari serangan tersebut. Lima puluh orang dari akademiku dibagi menjadi dua puluh lima kelompok. Masing-masing kelompok mendapat tugas yang sama; membuat kedua alat itu. Hanya saja, pemasangan alat di tiap kelompok berbeda. Aku dan ChengXiao―teman satu kelompokku―mendapat tugas memasang alat yang kami buat di Guangzhou, China. Alat itu telah kami pasang selama tiga bulan, namun kini, kami mendapat kesulitan.

Helaan kasar lamat kudengar tatkala ChengXiao membuka pintu ruangan, lantas melempar selembar kertas ke mejaku. Aku menatapnya sekilas guna memeriksa kondisinya. Wajahnya sembab dengan kantung hitam bergelambir samar-samar di bawah matanya.

Sudah berapa hari gadis ini tidak mencumbu empuknya kasur untuk menjemput mimpi-mimpi indahnya?

“Aku benar-benar sakit hati, kautahu?” ChengXiao membuka suara dengan sebuah ungkapan kekecewaan. Jemarinya pun menuding-nuding ke arah kertas yang masih berada di tempat semula; belum kusentuh sama sekali karena aku sudah tahu apa yang tertulis di sana.

“Mungkin WinWin hanya iseng, biarkan saja.” Tukasku bermaksud memberi solusi, namun ia justru melemparku dengan gulungan tisu yang baru saja diambilnya.

“Jika iseng, mengapa sampai tiga kali ia mengirim fax itu, Kun?” ChengXiao memijat pelipisnya. “Oke, ADD[2] kita memang dalam tahap percobaan, tapi ayolah, alat itu berfungsi dengan sangat baik saat mereka diteror bom yang nyaris menghancurkan kota. Mengapa sekarang mereka meragukan alat itu lagi dan membuatku tidak tidur selama tiga hari untuk mengawasi layar pendeteksinya?” gerutunya.

Aku terkikik pelan. Melihat ChengXiao seperti ini membuat perutku geli. Terlebih saat bibirnya mengerucut seperti bayi. Menjadi hiburan tersendiri dikala tugas-tugas dari profesor kian membebani.

ChengXiao melemparku lagi dengan tisu beserta kotaknya. Ia berkacak pinggang sambil menatapku tajam.

“Kun, aku sedang bicara serius!”

“Baiklah. Aku minta maaf, oke?” Aku beranjak, mengambil kertas yang ChengXiao lempar dan membacanya sebentar. “Apa kita perlu turun ke bumi dan mengeceknya langsung?” tawarku setelahnya.

ChengXiao menautkan alisnya, ragu. “Aku tidak yakin kita akan dapat ijin profesor.”

Hanya satu kekehan yang kuberikan sebagai balasan atas ucapan ChengXiao. Aku menarik pergelangannya keluar ruangan dengan mendapat berbagai penolakan. Namun, saat aku berkata, “Kau sepertinya lupa siapa aku.” ia mendadak patuh dan mengikuti langkah-langkahku menuju ke pesawat kami.

***

“Ke- kenapa sepi sekali?”

ChengXiao lekas memberi komentar tatkala kami berjalan di sepanjang kota yang mendadak lenggang. Ini tidak seperti biasanya. Hiruk pikuk yang terjadi tiba-tiba mati. Tidak ada toko maupun rumah warga yang pintunya terbuka. Dan aku mulai khawatir dengan hal ini.

“Ada apa sebenarnya di sini?”

Tanpa mau banyak berpikir lagi, aku lekas menekan tombol alarm yang akan terdengar ke seluruh kota. Jika masih ada yang hidup di sini, maka mereka akan keluar saat mendengar alarm tersebut. Benar saja, saat alarm berbunyi, para warga yang ternyata mengunci diri di dalam rumah berhamburan keluar. Mereka semua menggunakan masker, tak terkecuali seorang lelaki yang kami percaya mengawasi kota ini. Ia mendekat, lantas menghadiahkan sebuah pukulan ke wajahku.

“Aku sudah mengirimkan fax sampai tiga kali, dan kau baru datang hari ini?”

“Tu- tunggu, Win.” Aku berusaha bangkit dibantu oleh ChengXiao. Lelaki itu―WinWin―lantas melempar selembar kertas ke arahku dengan sorot marah. “Apa ini? Dan apa yang telah terjadi sebenarnya?” tanyaku setelahnya.

“Itu daftar orang-orang yang meninggal satu bulan ini.” Menatap sekeliling, WinWin lantas melanjutkan. “Ada semacam virus yang mewabah di kota ini. Aku tidak tahu jenis virus apa itu, karena penularannya lewat udara dan sangat berbahaya. Terlebih, virus ini langsung menyerang ke organ penting manusia. Jadi, dalam dua atau tiga hari, manusia tersebut bisa tewas setelah terinfeksi.”

ChengXiao tertegun, pun denganku. Kami bersitatap selama beberapa saat, seolah tidak percaya dengan kejadian yang WinWin ceritakan. Kami memang telah membuat serangkaian alat yang dapat mendeteksi serangan dari KoS. Namun, alat itu sama sekali tidak berfungsi jika serangan yang diterima berupa virus menular. Bisa disimpulkan bahwa alat yang kubuat bersama ChengXiao telah gagal, dan kami terancam dropout dari akademi jika profesor sampai mengetahui hal ini.

“Ketika pesan itu tiba, tiada satupun yang peduli. Tidak aku, tidak pula kau.” Aku mengalihkan pandang. Memindai satu persatu warga yang tersisa. “Sampai kita menyadari bahwa setengah penduduk kota telah mati, dan kita hanya bisa gigit jari.”

ChengXiao menunduk dalam. “Apa yang harus kita lakukan, Kun?” Ia bertanya dengan nada bingung. Airmukanya berubah dalam sekejap; nampak ketakutan dengan buliran keringat dingin jatuh dari pelipisnya.

Aku meraih bahu gadis itu, menekannya pelan sambil membawanya mendekat ke tengah-tengah kerumunan. “Kita akan menyelamatkan mereka yang tersisa. Mencari tahu siapa saja yang positif terinfeksi dan yang tidak. Lalu, mintalah bantuan Janice untuk membuat vaksinnya.”

“Apa Janice akan setuju?”

“Kita coba hubungi dia dulu. Jika dia bersedia membantu, maka suruh dia kemari dalam semalam.”

Xiao mengangguk mengerti. Ia kemudian berlari menuju pesawat kami guna mengambil benda serupa walky talkie yang biasanya kami gunakan untuk hal-hal mendesak di akademi. Sementara Xiao melaksanakan apa yang kuperintah, aku dan WinWin membawa warga yang tersisa ke suatu tempat yang lebih aman.

Tak lama, Xiao terlihat berlari-lari kecil ke arahku dengan mengulas senyuman. Aku yakin, hal baik akan segera datang.

“Kun, Janice bersedia. Dia meminta kita menyiapkan tempatnya.”

Aku mengangguk. Sesegera mungkin mencari tempat yang lebih luas seperti yang Janice minta untuk melakukan pemeriksaan. Setidaknya, kami akan berusaha menyelamatkan mereka meski ini sedikit terlambat dan mengancamku, Xiao, maupun Janice yang baru bergabung akan dikeluarkan dari akademi.

Ini hanya tentang pembelajaran yang sering profesor-profesor kami sampaikan dalam setiap pertemuan; tentang perlindungan untuk bumi yang sedang terancam.

fin.

  1. Kingdom of Sevarius = war academy/military academy (ini terinspirasi dari sebuah military academy yang bernama Kingdom of Bavaria, aku sengaja mengubah namanya supaya tidak ada hal-hal yang menyinggung pihak manapun).
  2. ADD = Attack Detection Device = alat pendeteksi serangan

Sedangkan, Bildung zum Schutz der Erde sendiri berarti pendidikan untuk perlindungan bumi (aku ambil dari bahasa Jerman). Fanfiksi ini juga terinspirasi dari sebuah buku fiksi ilmiah (aku nggak tahu judulnya, karena cuma didongengin sama dosen sewaktu ada kelas), buku itu menceritakan tentang populasi di bumi yang sudah melebihi batas huni dan mereka ingin mengurangi kepadatan itu lewat sebuah cara yang nggak ekstrim (seperti perang) dengan membuat semacam virus menular. Dengan begitu, penduduk di bumi sebagian telah mati karena terjangkit virus itu.

Sekian, terimakasih yang sudah membaca cerita ini 🙂

Admin Note:

Author dimohon tetap menjaga keanonimannya 🙂

Advertisements

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s