[NCTFFI’s 2nd Oprec] LETA ARDEN

collabo_img_04_d

LETA ARDEN

starring [NCT] Kim Dongyoung (Doyoung) & [OC] Leta Arden

genre friendship, angst, and dark/psycho

rating T

based on prompt M

Jangan tebak aku saat manik matamu terbelenggu dalam genggamanku.”

Aku punya sebuah cerita tentang seorang gadis cantik. Namanya Leta Arden, aku biasa memanggilnya Leta. Gadis itu lebih tua dua tahun dariku. Awal perjumpaan kami adalah di masa orientasi siswa, dimana Leta menjadi pendamping kelompokku kala itu.

                Sejak awal melihatnya, aku tahu bahwa Leta akan berarti dalam hidupku. Gadis manis yang rambut pirang bergelombangnya menari diterpa angin dan setiap langkah yang ia rajut meninggalkan jejak berupa aroma parfum bebungaan musim semi. Gadis dengan senyum madu dan tutur kata sehalus sutera.

 Oh, dan tahukah kamu apa yang paling kusukai dari Leta? Matanya. Aku menyukai sepasang manik biru koral itu, yang membentuk sepasang bulan sabit ketika ia melepas tawa, dan melebar tatkala aku berbisik di telinga kanannya sebaris kata sederhana. “Leta, aku suka kamu.”

Leta membalas dengan senyum, jemari tangan kanannya yang lentik bergerak untuk mengusap lembut surai kelamku. Katanya,”Aku juga suka kamu.”

Aku belum sempat bertanya mengapa, ketika ia kembali berbicara. “Sebab kamu lucu, kamu juga baik. Kamu selalu ingatkan aku pada mendiang adikku.”

Kamu selalu ingatkan aku pada mendiang adikku. Tak tahukah Leta bahwa aku tidak pernah memandangnya sebagai sesosok kakak perempuan? Tapi aku merespon ucapannya dengan seulas senyum miring, sembari berharap dalam benakku semoga waktu cukup berbaik hati untukku membuktikan kepadanya bahwa aku bisa menjadi lebih dari sesosok adik.

Aku dan Leta banyak menghabiskan waktu bersama. Hampir setiap hari, kami selalu belajar bersama di perpustakaan sekolah. Biasanya Leta yang mengajariku dan membantuku mengerjakan PR, sembari dirinya sendiri belajar untuk persiapan ujian akhir. Leta selalu mendapat peringkat satu di kelasnya sejak masih SMP. Ia sangat pandai dalam pelajaran Bahasa Inggris dan Fisika. Leta pernah dua kali membawa pulang medali emas olimpiade fisika internasional.

Kadang di akhir pekan, aku suka membawanya pergi ke kedai es krim, walaupun pada akhirnya Leta akan selalu bersikeras untuk membayar pesanan kami. Leta sangat menyukai es krim vanilla dan green tea dengan tambahan saus cokelat. Dengan berbangga hati, Leta selalu berkata bahwa ia bisa tetap makan es krim bahkan ketika cuaca dingin sekalipun, tanpa perlu takut dengan resiko terserang flu.

Pernah beberapa kali aku mengajak Leta menonton film di bioskop di akhir pekan, hampir semuanya film sains-fiksi—genre kesukaan kami. Aku suka diam-diam memperhatikan ekspresi wajah Leta ketika menonton film. Bagaimana kedua matanya melebar atau mulutnya terbuka saat terkejut, bagaimana dahinya berkerut saat film memasuki adegan-adegan yang rumit, serta bagaimana ia mengerang ketika film telah berakhir. Film sains-fiksi umumnya menyajikan akhir yang menggantung atau anti-klimaks, salah satu alasan mengapa Leta selalu keluar dari teater dengan mulut mengoceh ini dan itu, berharap ia bisa menciptakan akhir filmnya sendiri.

Malam itu malam sebelum Leta harus menghadapi ujian akhir. Leta bilang ia jenuh terus-terusan bercumbu dengan buku, jadi aku berkunjung ke rumahnya dengan satu flash disk penuh film baru. Film selalu menjadi distraksi favorit kami berdua.

Malam itu pula, aku kembali mengucapkan hal yang sama. “Leta, aku suka kamu.” Kali ini aku tidak memberinya kesempatan untuk beralasan. “Aku suka kamu bukan sebagai kakak. Dan aku harap kamu juga mau melihatku sebagai seorang laki-laki.”

Seolah kehilangan akal sehat, aku mencondongkan wajah untuk mempertemukan bibirku dengan miliknya, saksi bisu seberapa besar cintaku pada sesosok Leta Arden. Gadis itu tidak membalas ciumanku, namun juga tidak menarik wajahnya mundur. Ia masih membisu sesaat setelah aku membuat jarak beberapa sentimeter di antara wajah kami.

“Maaf, Leta. Tapi kuharap itu membuatmu paham dengan apa yang kukatakan.”

“Tidak sekarang, Doyoung,” ucap Leta. “Aku harap aku bisa memberimu jawaban, tapi rasa-rasanya tidak sekarang.”

Sekali lagi aku pulang dengan tangan hampa malam itu, serta bibir yang terasa dingin dan hati penuh kekosongan.

 “Jam lima sore, temui aku di kedai es krim biasanya, aku akan memberimu jawabannya.” Begitu isi pesan singkat Leta siang itu. Aku nyaris melambung sampai langit ketujuh membacanya. Seminggu setelah malam itu, kami sama sekali tak pernah saling berkomunikasi dalam bentuk apapun.

Sore itu, aku menunggu sekitar sepuluh menit hingga Leta datang dan yang kudapati adalah… Leta Arden tidak sendirian. Ia datang membonceng sepeda motor sport hitam milik seorang laki-laki yang kuketahui namanya adalah Jason Scott—cowok populer yang sering dipasang-pasangkan dengan Leta.

Aku menyaksikan bagaimana keduanya saling berinteraksi. Bagaimana Leta tersenyum padanya, bagaimana Leta tertawa setelah Jason berbicara, bagaimana tangan Leta bergerak untuk mengacak rambut cokelat keemasannya, bagaimana Leta berjinjit untuk mengecup pipinya, dan bagaimana Leta menatapnya teduh. Oh, demi surga dan seluruh isinya, takkan pernah aku rela sepasang manik biru koral itu bersitatap dengan manik selain milikku. Katakan aku egois, katakan aku tidak waras, tapi sosok Leta Arden dan segala hal tentangnya telah membuatku seperti terhipnotis, membuatku sepenuhnya terobsesi padanya.

Tak perlu repot membuat asumsi macam-macam, karena beberapa menit setelahnya Leta telah mengkonfirmasi semuanya dengan jujur. “Sebenarnya sudah sejak lama aku dan Jason saling menyukai, namun kami berjanji baru akan mulai berkencan setelah ujian akhir,” kalimat itu jatuh dari ujung lidahnya dengan mudah dan tanpa tersendat. “Maafkan aku, Doyoung Kim. Tapi kuharap kamu mengerti. Bagaimanapun kamu adalah sahabat sekaligus adik laki-laki terbaik yang pernah aku kenal. Terimakasih karena telah menyayangiku.”

Terimakasih? Leta, aku berharap lebih. Aku berharap kau mewujudkan rasa terimakasihmu lebih dari sekedar kata-kata. Aku harap kamu mencintaiku, bukannya keparat bernama Jason Scott itu.

“Leta, aku mencintaimu,” ucapku lirih, melihat punggungnya yang semakin jauh, bersamaan dengan langkah-langkah pelan yang ia rajut, tinggalkan aroma parfum yang bagai wangi bunga orang mati.

“Leta!”

“LETA ARDEN!!!”

Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai meneriakkan namanya. Semuanya terlihat seperti roll film yang diputar begitu cepat di depan mataku. Tiba-tiba saja aku dan Leta sudah berada di sebuah ruangan, yang kemudian kuketahui adalah ruang kamar milik Leta.

Aku tidak tahu sejak kapan Leta terbaring tak berdaya di atas ranjangnya, darah melumuri abdomennya. Aku juga tidak tahu sejak kapan sebilah pisau berlumur cairan merah pekat berada dalam genggam tangan kananku, sementara sepasang maniknya yang cantik berada di tangan kiriku. Aku tidak mengerti mengapa lidahku bisa meloloskan kalimat,”Sepasang matamu hanya boleh menatap milikku, Leta Arden.”

Sosok Leta Arden menjadi semakin samar, tangisnya tak lagi terdengar. Aroma anyir darahnya digantikan dengan aroma alkohol yang menyesakkan. Kamarnya yang remang-remang seolah sirna, berganti dengan sebuah ruangan yang didominasi warna putih dan biru pucat. Melalui kaca jendela di balik jeruji besi itu aku melihat dua sosok wanita berpakaian putih, menatapku iba sembari saling berbisik, tak tahu apa yang mereka bisikkan.

“Bukankah itu pasien yang bernama Doyoung Kim?”

“Iya. Kudengar ia membunuh temannya sendiri.”

“Yang benar saja?! Kukira itu hanyalah gosip belaka!”

“Tidak, tanyakan saja pada Dokter Smith yang menanganinya. Ia membunuh seorang gadis bernama Leta Arden atau siapa, aku agak lupa. Yang jelas, ketika ditemukan, kedua mata gadis itu sudah tercongkel dari soketnya. Kasihan sekali, bukan?”

.

.

.

-fin.

Admin Note:

Author dimohon tetap menjaga keanonimannya 🙂

Advertisements

3 thoughts on “[NCTFFI’s 2nd Oprec] LETA ARDEN

  1. Daku sudah nangis-nangis baca di awal-awal kak/plak. Rapuh sekali rasanya rasa hati Doyoung itu …. tapi … tapi … WANZAAAAY ke bawah bawah kok ya jadi KRIPIK GOREEEEEEENG :””) /I Can’t Stop Smiling/ btw congratulations yha! /ngacir/

    Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s