[NCTFFI’s 2nd Oprec] Rücken Zeit

12940865_257621014584048_1169934107_n

Rücken Zeit

Starring with

NCT’s Park Jisung and OC’s

| slight! Comedy – Friendship – Fantasy – Historical – Myth – Sci-fi | Ficlet | PG – 13 |
 

Based on prompt :

“Di mana tanggung jawabmu?”

“When Jisung received punishment for running role as Achilles.

What happen next?”

 

Troya, Turki, Abad ke-12 SM—Zaman Perunggu.

 

Tempat apa ini?

Jisung mengedarkan pandangan ke arah sekitar. Raut yang ditampilkannya pun terkesan merasa ngeri dengan lingkungan yang kental akan bau darah tersebut. Bocah itu akan terus berperang batin dengan sang benak jika saja sebuah suara familiar tak menginterupsinya.

“Sesuai dengan laporan yang kau ajukan kemarin malam, aku—Alfred, akan memandu perjalananmu  dalam sejarah Perang Troya ini. Semoga perjalananmu menyenangkan.”

Jisung mendengus kesal kala mendengar suara khas robot milik teman android-nya tersebut.

Dan hei! Apa maksudnya “Semoga perjalananmu menyenangkan”?

Bahkan Jisung pikir lebih baik merasakan sensasi hawa panas dan kesulitan bernapas seperti  di dalam mesin waktu yang baru saja ditumpanginya beberapa menit lalu daripada dihadapkan dengan kenyataan bahwa dirinya harus menjadi pemeran utama dalam perang ini—ya, Jisung diharuskan untuk menjalani peran Achilles di sini.

Tidak. Tidak seharusnya Jisung melakukan hal berbahaya seperti ini. Di dalam film Troy yang ia tonton kemarin, Achilles adalah seorang panglima perang Yunani yang gagah berani menentang penyerangan ke bangsa Troya.

Lantas bagaimana dengan Jisung?

Asal kau tahu saja, Jisung hanyalah seorang bocah labil yang beberapa hari lagi akan berusia lima belas tahun—itu pun jika ia selamat dalam kemelut yang terjadi di dimensi ini. Seperti yang kau duga sebelumnya, Jisung pun terpaksa menjalankan peran ini hanya karena satu ucapan yang terngiang di benaknya sampai sekarang.

Di mana tanggung jawabmu? Kau sudah tidak lagi menghargaiku sebagai guru sejarahmu? Kau pikir kau sudah cukup pintar dengan berlaku sombong dan membolos di tiap jam pelajaranku?”

 

Seperti itulah celotehan sang guru sejarah yang menuntut rasa tanggung jawab dari bocah Park tersebut. Ingin rasanya Jisung mengelak dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi, tapi toh itu terasa percuma. Nasi sudah menjadi bubur dan tugas untuk berwisata ria di jaman gila tersebut  sudah terlanjur terucap dari bibir si pria berkumis tebal itu sebelum Jisung sempat menawar hukumannya kembali.

Jisung dan Achilles. Sebuah perbandingan yang sangat jauh, bukan?

Dengan helaan napas kasar yang menandakan ia sedang benar-benar kalut sekarang, Jisung pun mencoba melayangkan protes pada Alfred.

“Tapi aku tidak mengajukan laporan agar aku menjadi Achilles di sini.”

Alfred—android yang di desain sedemikian rupa agar serupa dengan sosok manusia itu pun mengangkat sebelah alisnya heran. “Lantas jika kau tidak mengajukan diri sebagai Achilles, lalu kau meminta untuk berperan menjadi apa?”

“Pengamat,” sahut Jisung ketus seraya meraih ketela bakar yang kebetulan ada di sampingnya.

“Oh ya? Aku akan mengecek laporanmu sekarang.”

Jisung tidak lagi peduli dengan apa yang dilakukan Alfred bersama shadow computer-nya saat ini. Yang Jisung pedulikan hanyalah, bagaimana ia bisa pulang ke rumah dengan selamat?

Baru dua gigitan yang diberikan Jisung pada ketela tersebut, ia pun memuntahkannya kembali. “Sial! Makanan macam apa ini? Rasanya seperti kotoran kuda.”

“Itu namanya ketela bakar, Jisung-ah.”

Jisung melempar ketela itu ke sembarang arah dengan perasaan kesal. “Rupanya pun sama seperti arang gosong.”

“Arang memang selalu gosong, tuan Park,” timpal Alfred masih dengan fokus yang sama. Tiba-tiba android yang memiliki jarak usia lima tahun dengan Jisung itu memekik keras, yang tentu saja membuat atensinya mengarah pada sang robot. “Ah! Ketemu!”

“Ada apa?” Merasa penasaran, bocah bermarga Park itu mendekat ke arah sahabat elektroniknya.

Alfred menggeleng kecil, “Tidak ada apa-apa. Hanya saja,” ucapan Alfred menggantung seiring jemari lentiknya mengarahkan scroll yang membuat layar pada shadow computer-nya berpindah ke bawah. “Aku tidak menemukan laporan jika kau menolak untuk berperan menjadi Achilles.”

Bola mata Jisung seketika membulat kala rungunya menangkap kalimat terakhir yang didengarnya.

“Kau serius?!” ledak Jisung mencoba untuk tidak percaya.

Tapi sayang, sepertinya satu gelengan dari Alfred sama seperti satu isyarat jika sang Dewi Fortuna tidak sedang berada di pihaknya sekarang.

“Bagaimana jika aku gagal menjalankan misi ini? Kau tahu kan jika aku masih terlalu muda untuk merasakan kematian,” ujar Jisung dengan nada mencoba untuk menahan tangis. Tapi sepertinya itu sia-sia, karena setetes kristal bening yang tak sengaja jatuh membuat benteng yang dibangunnya dengan susah payah pun hancur seketika. “Bahkan rasa bahagia saat mendengar Lami menerima perasaanku kemarin masih terasa sayang untuk dihilangkan.”

Entah kenapa adegan ini terlihat begitu menjijikkan di kedua obsidian Alfred. Sang android pun memutar bola matanya malas tak lupa dengan helaan napas sebagai tambahan.

“Kau berlebihan, Jisung-ah.” Alfred menutup layar shadow computer-nya. “Lagipula kau tidak sepenuhnya berperan menjadi Achilles di sini. Kau hanya-…”

“ACHILLES!”

Belum sempat Alfred menyelesaikan kalimatnya, sebuah panggilan yang mengarah pada salah satu di antara mereka membuat konversasi keduanya terganggu.

“Oh tidak, mereka memanggilmu. Sepertinya aku harus menghilang sekarang juga.”

Dan baru saja Jisung mengedipkan kedua matanya, sosok Alfred yang awalnya seperti manusia biasa seketika berubah menjadi sebuah tameng berbahan dasar perunggu.

Yak! Kenapa kau cepat sekali berubah, hah?! Kau sama sekali tidak berniat untuk membantuku?”

Masih dengan wujud tameng perunggu, Alfred menyahuti ucapan Jisung. “Tenang saja aku akan selalu di sampingmu dan anggap saja ini sebuah langkah awal untuk membuktikan satu tanggung jawab besarmu. Tetap semangat.”

Semangat katanya?  Cih, dasar tidak berguna. Seraya mengumpat dalam hati, Jisung pun tak lupa mengacak rambutnya yang menandakan jika ia benar-benar merasa frustrasi sekarang.

 

Derap langkah yang ditangkap sang gendang telinga membuat Jisung semakin yakin jika pelaku yang memanggil namanya—ralat,nama perannya itu sedang mendekat ke arah tenda di mana Jisung sedang berdiam diri sekarang. Perasaannya saat ini pun terasa campur aduk. Satu kalimat yang terlintas di benaknya saat ini ialah.

Apa yang harus dilakukan Jisung sekarang?

 

***

Jisung menatap pria paruh baya yang berlutut di hadapannya dengan tatapan heran bercampur bingung.

Siapa dia?

Satu kalimat itulah yang Jisung kirimkan pada Alfred—yang saat ini masih menjadi tameng perunggu—melalui media telepatinya. Tak butuh waktu lama Jisung untuk menunggu, dia sudah mendapat jawaban dari sang penasihat andalnya.

Dia adalah Priamos, Ayah Hektor. Hektor merupakan musuh yang telah membunuh Patroklos—sahabat Achilles.

Tanpa sepengetahuan pria paruh baya di hadapannya—yang baru saja Jisung ketahui bernama Priamos, Jisung mengangguk kecil tanda ia mengerti. Dengan sekali dehaman yang kiranya dapat meyakinkan jika dirinya adalah Achilles sejati, Jisung pun membuka suara dengan  sedikit ragu.

“Si-siapa kau?”

Sial, kenapa menjadi gugup seperti ini?

Priamos mendongak kala mendengarnya. “Aku Priamos. Ayah Hektor—salah seorang pemuda yang menjadi korbanmu dalam perang ini.”

Jisung membulatkan matanya tak percaya. Tanpa sadar, ia pun mengirimkan sebuah pesan telepati pada Alfred kembali.

Apa-apaan ini? Kenapa dia menuduhku-…

 

Belum sempat Jisung menyelesaikan satu kalimat pertanyaan di benaknya, Alfred sudah menimpalinya.

 

Ingat. Kau adalah Achilles di sini, Jisung-ah. Jadi mau tak mau kaulah yang menjadi kambing hitam di sini.

Sial!

Raut wajah Jisung seketika menampakan raut gelisah, yang tentu saja membuat Priamos mengerutkan alis heran. Pria paruh baya itu menatap Jisung dengan tatapan curiga yang untung saja Jisung segera mengganti raut wajahnya.

“Apa yang ingin kau katakan, Tuan?”

Priamos pun kembali berlutut di hadapan Jisung yang sontak membuat bocah itu sedikit merasa tidak enak. Bahkan yang awalnya hanya setetes kristal bening yang Priamos jatuhkan di dekat telapak kaki kanan Jisung, kini sudah entah berapa jumlahnya yang pria paruh baya tersebut tumpahkan.

 

Kenapa pria tua ini menangis di hadapanku?, pikir Jisung tak paham.

Seiring detik waktu berjalan, perasaan Jisung pun semakin terasa mengganjal. Dia pun mencoba untuk membantu Priamos berdiri. Merasa tak tega melihat orang tua menangis di hadapannya, Jisung pun bertanya lembut. “Kenapa kau menangis, Tuan? Apa yang kau ingin katakan padaku sebenarnya?”

Masih diselingi dengan tangis yang sesenggukan, Priamos pun mencoba menjelaskan. “Pu-putraku…”

“Si Hektor?” Priamos menganggukan kepala membenarkan kala Jisung menyebut nama sang anak. “Ada apa dengannya?”

Jisung-ah, Achilles tidak berperilaku lembut seperti itu!, sela Alfred masih melalui telepatinya.

Aku tidak peduli. Aku ingin pulang dan menyelesaikan tanggung jawab ini secepatnya, sahut Jisung yang juga melalui media yang sama.

Selama Jisung berperang batin dengan Alfred, Priamos kembali menatap Jisung dengan tatapan bingung—oh dan jangan lupakan sungai kecil yang masih tergenang di sudut matanya.

“Achilles,” rapal Priamos mengeja nama peran milik Jisung dengan nada lembut.

Lagi-lagi Jisung harus mengubah raut wajahnya secepat mungkin. “Iya?”

“Aku kemari ingin-…” Priamos menggantungkan kalimatnya di tengah jalan, namun Jisung masih tetap menunggu kelanjutannya dengan sabar. “Aku ingin memohon padamu agar berhenti menyeret jenazah Hektor dan memakamkannya secara layak. Sebagai ayah yang peduli dengan putranya, aku merasa tidak terima jika Hektor kau perlakukan secara tidak manusiawi seperti itu. Kupikir ayahmu juga akan memiliki pemikiran yang serupa denganku.”

Untuk kesekian kalinya Jisung merasa tak percaya dengan kemampuan sang gendang telinganya.

“Aku menyeret jenazah putramu?! Kau yakin?!”

Tiba-tiba tameng perunggu yang awalnya Jisung letakkan di dekat singgasananya terjatuh dan mengenai telapak kaki Jisung yang tentu saja membuatnya menjerit kesakitan.

Belum saatnya kau membuka rahasia ini, Tuan Park!, Alfred sekali lagi memberi peringatan pada Jisung yang hanya di balas gumaman kesal dari sang empu.

Setelah dirasa rasa sakitnya mulai berkurang, Jisung pun mengutarakan keputusannya.

“Sebagai rasa tanggung jawabku karena sudah memperlakukan putramu dengan cara keji  sekaligus dengan sedikit rasa bersalah, aku akan mengembalikan jenazah Hektor kepadamu. Dengan begitu kau bisa memakamkannya secara layak.”

***

Seoul, Korea Selatan, 2017

 

Lengkungan asimetris itu masih saja tersungging di wajah imut Jisung. Di dekapnya kertas laporan tentang Perang Troya yang di sudut kanan kertas itu terdapat nilai yang sengaja guru sejarahnya torehkan pagi tadi.

“Kau senang mendapatkan nilai tersebut?”

Jisung mengangguk mantap kala mendengar pertanyaan Alfred.

“Sangat senang.”

— FIN —

 

Notes :

  1. Rücken Zeit berasal dari bahasa Jerman yang artinya kembalinya waktu. Kembalinya waktu disini terletak pada bagian Jisung mendapat tugas dari guru sejarah tentang Perang Troya sebagai tanggung jawabnya atas tingkah bandelnya dan dia menggunakan mesin waktu untuk mengembalikan waktu agar bisa mengerjakan tugas tersebut.
  2. Disini aku ngambil salah satu bagian dari buku The Iliad Of Homer yang menceritakan tentang Achilles sebagai pahlawan Yunani. Untuk part Achilles menyeret jenazah musuhnya, Hektor, itu memang tercantum di buku. Tapi demi kenyamanan, part itu langsung aku skip pada bagian Ayah Hektor memohon pada Achilles untuk melepaskan putranya dan meminta agar menguburnya dengan layak.

Terakhir, untuk nama dan adegan asing seperti shadow computer dan Alfred—teman android Jisung saat berubah menjadi tameng perunggu, itu hanya imajinasiku belaka.

Admin Note:

Author dimohon tetap menjaga keanonimannya 🙂

Advertisements

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s