[NCTFFI’s 2nd Oprec] Seine Menjadi Saksi

tumblr_static_tumblr_static_8klacx6tlbgo44488880kgso0_640

Seine Menjadi Saksi

NCT’s Ten & OC Jean Homer

519 words | romance, college-life, hurt/comfort | PG-15

“With those red lips, I should have known that you only tell red lies.”

Selalu ada lengkungan simetris di wajahmu saat kau menghampiriku. Lengkungan itu—senyumanmu, yang ujungnya nyaris menyentuh mata, dan kau akan mengucap satu-dua kalimat sapaan sambil menyerahkan padaku sebungkus keripik kentang (yang sudah kautandaskan separuhnya di jalan).

Di depan kita Seine beriak, memantulkan jingga yang dilukis langit. Paris pada bulan Agustus dihiasi oleh dedaunan maple yang bergerilya di tanah, menghasilkan gemerasak jika berduet dengan sol sepatu. Aku menyukai bunyi itu, kau pun juga.

“Seminggu tanpamu, Jean, dan aku benar-benar tidak punya inspirasi untuk mengerjakan paper.”

Tipikal dirimu: selalu bergantung pada kebaikan hatiku untuk bertahan dari ganasnya pendidikan di Universitas Sorbonne. Aku menghela napas dan mengembuskannya; menjadikan segumpal uap yang melebur cepat.

Well, jangan salahkan kesehatan ibuku kalau nilaimu rendah, oke?” Aku tidak bermaksud sarkastik. Aku tidak pernah bermaksud begitu. Namun sarkasme sudah mengalir lancar pada lidahku. Tidak tahu kenapa.

Dan Chittapon, atau Ten—dirimu, adalah satu dari segelintir orang yang tidak mudah tersinggung dengan kalimat-kalimat sarkastik Jean Homer, dan barangkali itulah yang membuatmu mampu bertahan selama satu setengah tahun terangkum dalam status bersamaku.

“Jadi, apa saja yang kaulakukan di San Fransisco selama seminggu? Kau tidak menelponku sama sekali, cuma beberapa pesan singkat,” katamu. Raut wajahmu memetakan kuriositas, kekesalan dan kecemasan, tanganmu menyilang di depan dada.

Aku menggigit keripik kentang keras-keras. Suaranya persis suara gemerasak dedaunan yang diinjak.

“Aku menjaga Mom di rumah sakit—you don’t say, sesekali ke gerai McDonald’s untuk menemui Maisie dan McFlurry, dan pulang ke rumah membantu Dad beres-beres.” Jawabanku begitu lancar, mengalir seperti Seine.

Kau membalas, “Apa kau menemui—uh, Lee Taeyong?”

Kau sebenarnya memberikan pernyataan, bukan pertanyaan. Apa pula yang membuatmu menambahkan kata ‘apa’ dan nada suara berisikan tanda tanya dalam kalimatmu?

Dan mestinya aku tahu kalau kau pandai membaui hal-hal tersembunyi. Langsung saja jantungku berkonfrontasi di dalam tulang rusuk dan telapak tanganku tiba-tiba terasa tambah dingin di atas pagar pembatas; reaksi alamiahku jika kosmos menjebakku dalam situasi seperti ini.

Aku menjawabnya dengan gelengan, ditambah sebaris kalimat,

“Tidak, aku bahkan tidak mencoba menghubunginya karena yang kupikirkan cuma Mom.”

Meskipun realita berkontradiksi dengan apa yang kusampaikan padamu. Kau benar, Ten, aku bertemu Lee Taeyong. Kami makan siang dan makan malam bersama. Taeyong bahkan membantuku merawat Mom dan membereskan rumah bersama Dad. Itulah alasannya aku tidak menelponmu dan cuma mengirimi pesan-pesan singkat.

Betul-betul drama, Ten.

“Begitu, ya.” Kau berkata seraya mengembalikan senyum di parasmu. “Maaf Jean, aku terlalu curigaan. Lagi pula untuk apa juga kau menemui Taeyong? Jean yang kukenal bukanlah gadis yang menyimpan affair dengan teman semasa SMA-nya.”

Aku ingin tertawa, ingin juga melarikan airmata. Kau mengenal Jean Homer yang salah, Ten. Karena Jean Homer adalah gadis yang menyimpan affair dengan teman semasa SMA-nya, kendati sudah punya status bersamamu.

“Betul sekali. Kenapa pula aku berselingkuh dengan temanku sendiri? Konyol!”

Aku berbohong; aku melakukan hal konyol itu dan malah mengingkarinya di hadapanmu.

“Iya, sangat konyol. Lebih konyol dari jenggot Profesor Montague.”

Dan kau berbohong juga; kau tahu benar bahwa aku melakukan hal konyol itu dan kau malah mengingkarinya di hadapanku. Kau memaksakan tawa, kita memaksakan tawa demi melenyapkan gelombang kecanggungan yang timbul.

Seine masih beriak, masih memantulkan jingga yang kini mulai menyentuh gradasi gelap di langit sana.

 

fin.

Admin Note:

Author dimohon tetap menjaga keanonimannya 🙂

Advertisements

3 thoughts on “[NCTFFI’s 2nd Oprec] Seine Menjadi Saksi

  1. jean kamu kenapa sih jadi ular begini apa gara-gara hari ini adalah hari ular sedunia??? (oke tidak nyambung) tapi beneran huhu kenapa sih jean kamu kalo mau pacaran sm mas taeyong putusin dulu dong citaponnya???
    ok maaf komentarku sangat tidak bermutu tapi aku suka sekali fiksinya, ringan dan sedih dan manis dan bikin aku jengkel (walau sedikit) sama jean-nya. congrats!

    Liked by 1 person

  2. it takes my breath away.
    Betapa nyeseknya pura-pura ga tau ketika si pacar bilang sebuah kebohongan. Jean tuh ga bisa milih apa sih dan knp kok jd saya yg sakit hati ya :’) Well, bahasanya ringan dan momen nyeseknya kerasa. Love this fic so much ❤

    Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s