[NCTFFI’s 2nd Oprec] THE PHENOMENON

Cficg2cUsAAyxyD.jpg large

THE PHENOMENON

real eyes realize real lies.

Based on Prompt #G ‘Jangan sok memahami perasaan anak dari seorang pendosa!’

Lee Taeyong & Ahn Hanra ; a ficlet counts 892 words include sad, friendship, hurt/comfort things for parental guidance -–

Sepatah aksara tak mampu Hanra ulas tatkala siratnya merujuk suatu objek manusia yang tengah meringkuk di sebuah ruang remang-remang, kedinginan. Agaknya gadis itu hanya dapat melihat samar-samar implikasi dari terpaan sinar rembulan malam ini. Darahnya berdesir cepat alih-alih lumbung parunya memasok oksigen yang kian minim jumlahnya. Dirinya yang terpaku seketika itu pula berancang-ancang merajut tungkai menjauhi daun pintu, mendekat pada tubuh yang perlahan beringsut itu.

Serebrum Hanra tak mampu mengoneksi sebuah konklusi melihat sosok Lee Taeyong yang mendekam bak hendak diterkam. Kalbunya terenyuh saat ia mengingat kembali siaran berita televisi enam jam yang lalu. Media kini tengah memainkan opera di mana mereka menjadi pihak yang dengan kejam menghakimi Tuan Lee dan memvonis mati atas kesalahan yang diperbuatnya. Terhitung fatal memang, Hanra kira. Akibat yang timbul pun tak main-main, konversi kurs Won terhadap Dolar U.S jatuh saat itu juga. Sungguh, ini dapat terhitung sebagai suatu tindak yang menjatuhkan harkat dan martabat bangsa.

“Ra-ya, apa kau percaya berita itu?” lirih Taeyong. Hanra bungkam seribu aksara. Perangai arogansi disertai sedikit kenaifan yang biasa dilihatnya dari sosok itu dalam sekejap lesap. Hanya tersisa sebongkah kepedihan yang terpancar dari sepasang lenteranya yang temaram.

Gadis itu membebaskan segumpal karbon ke atmosfer, fokusnya memerangkap sosok Taeyong tatkala tuturnya mengucap hatur, “Sebagian diriku percaya dan sebagian lainnya menolak, melindungi kepercayaanku kepada mendiang Ayahmu. Jika aku menilik pada masa lalu, aku sungguh tidak bisa mempercayainya. Namun saat aku menjumpainya hari ini, semua terasa begitu imaji, terlalu ambigu. Logikaku terus berpikir tapi nuraniku memasung kepercayaanku terhadap Tuan Lee.”

Terhitung sudah tujuh sekon keheningan itu berlakon parsial, Taeyong mengempas paksa rengkuhan gadis itu pada detik ke delapan. Serta-merta membuat kening Hanra mengerut kala obsidiannya mulai kehilangan fokus objek pandang diikuti lidahnya yang semakin kelu menguapkan patahan kata.

“Jika kau berada di sini karena rasa belas kasihanmu, lebih baik kau pergi. Aku tidak ingin menerima belas kasihan dari orang sepertimu! Kau bukan Ahn Hanra yang kukenal empat belas tahun yang lalu!” murka Taeyong. Sosok itu beranjak dari pijakannya, alih-alih jemarinya menyentuh kanopi jendela hingga pancaran sinar rembulan menerpa wajahnya dari balik kaca, mengimplikasi raut sendu yang membuat nurani gadis itu kian pilu.

“Yong-a….” Hanra mencoba mendekat. Namun Taeyong menepisnya, menuai implikasi jarak yang memisahkan keduanya.

“Berhentilah dan pergi dari hadapanku sekarang!”

Hanra menarik napas kuat-kuat. Jemarinya memijat pelipis guna memproses paling tidak sebuah kalimat realistis yang dapat membuat pemuda Lee di hadapannya meragukan spekulasi skeptisnya, “Sungguh, Aku ingin mempercayaimu. Kita saling memahami satu sama lain. Aku mengetahui perasaanmu dengan baik, asal kau tahu saja. Namun di sisi lain, kau juga harus lebih mengerti posisiku. Aku seorang jaksa dan aku tidak bisa serta-merta mengesampingkan semua fakta itu.”

“Jangan sok memahami perasaan anak dari seorang pendosa, Ahn Hanra!”

“Lee Taeyong, kau bukan anak dari seorang pendosa! Enyahkan persepsi itu dari benakmu!”

Taeyong tahu sanggahan yang mengungkap jika Hanra merupakan objek anti-dusta. Ia telah mengenal gadis pemilik surai cokelat kehitaman itu untuk kurun waktu yang tak sebentar. Empat belas tahun. Hanra pun tahu akan kebenaran yang tersingkap dari sepasang oftalmo yang menyelipkan sinar kedukaan. Sejak empat belas tahun lalu, Taeyong hidup dalam kemelud makian dan cercaan yang selalu disuarakan orang lain. Tak cukup dengan label anak pendosa, bahkan anak terkutuk hingga keturunan iblis pun disandangnya. Hanra pun tak dapat membayangkan bagaimana Taeyong bisa bebal menahan semua hal itu.

Urat pitam pemuda itu tertarik pun diikuti pandangan keduanya yang saling menubruk membentuk seutas bujur. Untuk pertama kalinya, Hanra tenggelam dalam ilusi yang mencitra dari obsidian kelam itu, “Coba katakan padaku, Ra-ya, takdir kotor apa yang menyertaiku? Dilahirkan dari rahim seorang pembunuh bahkan tidak cukup untuk membayar ketidakpantasanku hidup di dunia ini. Dan sekarang, sosok panutanku pun turut menjadi pendosa! Bukankah ini sebuah kutukan yang mengerikan?”

“Cukup, Lee Taeyong! Semua orang menjalani takdir mereka masing-masing. Tidak ada yang salah dengan hal itu. Ini hanyalah perkara waktu. Kau hanya perlu menjalaninya dan semua akan baik-baik saja.”

Gadis itu sudah cukup muak dengan perdebatan yang kian tak kunjung berujung ini. Konfrontasi dalam benak pemuda Lee itu pun kian menyeruakkan batas kesabarannya. Sepasang pelupuk Hanra pun kini telah penuh, bersiap mengumbar likuid yang kian mendidih di dalam sana. Sebelum ia tak sanggup menahan letupan amarah yang bergemuruh dalam dadanya, tungkainya tergerak pelan meninggalkan pijakannya pun mencetus daun pintu sebagai destinasinya.

“Tetaplah di sampingku, kumohon,” lirih Taeyong. Seketika itu Hanra mematung dalam pijaknya. Setengah tak percaya dengan apa yang dapat ia dengar saat ini. Apakah benar ini bukan hanya sekadar ilusi?

“Tetaplah di sampingku, Hanra-ya. Aku membutuhkanmu.”

Detik berikutnya, Hanra berbalik pun melangkahkan kaki lalu merengkuh Taeyong dalam dekapannya. Sayup tangisnya samar-samar mulai terdengar pilu. Aliran airmata yang membasahi pipinya membuat gadis itu terlihat menyedihkan. Bibirnya mengungkap segala makian yang ia tujukan pada sosok Taeyong yang semakin mempererat rengkuhannya. Pun pada akhirnya, Hanra merutuki dirinya yang terhanyut dalam seribu spekulasi dan mengabaikan eksistensi praduga tak bersalah yang membuat liang luka yang membekas di hati Taeyong kian menganga.

Ada rasa iba yang hinggap di benak Taeyong tatkala sepasang sirat Hanra yang biasa merekah bak matahari kini meredup menyaingi kegelapan malam, seakan-akan mengisyaratkan duka serta amarah yang selama ini tertahan di lubuk hatinya yang terdalam.

Bagi Taeyong, tak masalah jika dunia mengutuknya pun mengharamkannya untuk sekadar berpijak di planet ini. Selama presensi Hanra masih ia dapati, selama jantungnya bertalu begitupula embusan napasnya masih merasuki ruhnya, ia sungguh tidak akan tega mendustai eksistensi sosok yang tanpa ia sadari melukiskan pelangi di langit mendungnya hari demi hari.

–finish.

Admin Note:

Author dimohon tetap menjaga keanonimannya 🙂

Advertisements

4 thoughts on “[NCTFFI’s 2nd Oprec] THE PHENOMENON

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s