[Ficlet] Baby in A Beautiful Dream

IMG_5845[1]

Angelina Triaf ©2016 Present

Baby in A Beautiful Dream

Lee Taeyong (NCT) & Park Cheonsa (OC) | Fluff, Comfort | G | Ficlet

“It’ll be a very beautiful thing if you looked at it in a different perspective.”

Inspired by Winter Woods

The Series

SeungjunTaeyongTaehyungThomasHuiSanhaSeungkwanSehun

0o0

Lee Taeyong.

Dengan mendengar namanya saja sudah tergambar jelas sosok pendiam itu, bisa jadi seorang pemuda yang sedingin es tengah duduk di hadapanmu tanpa senyum terkembang di bibirnya. Atau mungkin hanya seorang pemuda biasa yang berjalan dalam dinginnya salju, membuatmu ingin sekali memeluk punggungnya yang tampak sendiri namun keengganan menyergap relung hati.

Itulah diriku dulu. Tak pernah terpikirkan sedikitpun bahwa hidupku akan menjadi seratus persen tentang Lee Taeyong. Seperti mimpi, jika boleh dibilang begitu. Buktinya memang aku selalu tak memercayai setiap hariku bersamanya.

Tapi segala hal harus dilihat dari sudut pandang yang berbeda, benar? Kak Yuta selalu memberitahuku bahwa manusia memiliki banyak mata dalam dirinya. Ah, abaikan saja bahasa anehnya itu dalam berucap. Ia bukan seorang pujangga, maka aku memaklumi caranya mengekspresikan isi kepalanya itu.

Dari yang kulihat selama ini, melalui banyak mata yang Kak Yuta maksud itu, bahwa Lee Taeyong adalah orang yang akan membuatmu tercengang hanya karena hal-hal konyol. Serius, ia hanyalah seorang bayi besar yang manjanya sudah melebihi kapasitas normal lelaki seusianya.

Contohnya saja sekarang. Tolong katakan padaku bahwa ini hanyalah mimpi. Melihat seorang Lee Taeyong yang berjalan melintasi ruang tengah apartemenku dengan rambut super berantakan, celana trening hitam kebesaran juga kaus putih yang mungkin basah karena keringatnya sendiri.

Seperti orang linglung.

“Mas kenapa?”

Aku mengerutkan kening, tak pernah terbayangkan sebelumnya melihat sang perfeksionis pecinta kebersihan itu akan menunjukkan sisi dirinya yang kini tengah kulihat dengan mata kepala sendiri.

Layaknya anak ayam yang baru saja menemui induknya setelah tujuh tahun tak bertemu―tujuh tahun mungkin telah mengubah anak ayam itu menjadi remaja ayam, abaikan humorku satu ini. Ia menghampiriku di sini, dan sepertinya akan ada sebuah drama lagi pagi ini.

Eh, pagi? Tak biasanya ia bangun sepagi―

“Eh, ada apa―”

Bahkan ia tak memberiku kesempatan untuk bertanya. Tak sampai syok memang, tapi tetap saja aku keheranan sendiri dengan polah lelaki dewasa satu ini. Memelukku seerat ini bukanlah hal yang aneh, tapi ada sesuatu yang berbeda dengan dirinya sekarang. Ia bahkan tak memberiku kesempatan untuk melihat wajahnya lagi.

Menghadapi situasi seperti ini dibutuhkan ketenangan. Maka tanganku memutuskan untuk mengambil tindakan terlebih dahulu sebelum mulutku akan menjadi super cerewet nantinya. Begitu aku mengusap kepalanya, kurasakan anak rambutnya sedikit basah. Mimpi buruk apa yang membuatnya bisa jadi seperti ini?

“Tadi aku bermimpi.”

Benar, ternyata ia mimpi buruk.

What dream?

You and I had married in fall, your fav season. After that, in December, just three days left until your birthday. You’re smiling at me, you said that you’re really happy married to me. You told me about what kind of baby in your dream; a cute and lovely one, and you asked me about it too.

Tak ada salahnya untuk tercengang, ‘kan? It’s even not a nightmare, God, apa sebenarnya isi kepala seorang Lee Taeyong.

What’s wrong with had dreamed about me and that cute baby on my head? It’s a beautiful dream, I think. Why are you crying?

Hal hebat dalam cerita ini ialah, ia sama sekali masih enggan untuk melepas pelukannya padaku. Mau sampai kapan? Jangan lupakan rasa heranku karena melihat kelakuannya. Kalau tahu akan ada kejadian begini mungkin tak akan kubiarkan ia kabur dari dorm dan menginap di sini.

Tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Jika biasanya aku ingin sekali menyumpal mulut itu dengan tisu toilet, maka kali ini aku memaafkannya tanpa syarat.

“Semua orang bermimpi tiap harinya, Mas. Entah mimpi buruk atau tidak, toh itu hanya mimpi.”

Aku benci dengan suasana ini, sedikit aneh dan membuatku tak nyaman. Aku tak tahu apa yang ia maksudkan dengan mimpinya, mengapa ia ceritakan hal itu padaku dan yang terpenting ialah; mengapa sekarang ia menangis?

It’s just too beautiful, Cheon.”

Ya Tuhan, bolehkah aku ikut menangis karena terharu? Tapi aku sama sekali tak terharu, yang ada dalam kepalaku ialah pikiran untuk memukul bahunya dengan brutal sembari tertawa dengan tidak manusiawi seperti biasanya. Itu sungguh konyol. Ia sungguh konyol.

“Boleh Cheon menertawai Mas sekarang?”

“Tertawa saja, nanti akan kucium bibirmu itu agar tawamu berhenti seketika.”

Oke, sepertinya ia sudah kembali menjadi Lee Taeyong yang menyebalkan lagi. Syukurlah, kukira ia dirasuki hantu atau apalah itu sehingga menjadi terlalu melankolis.

“Cheon.”

“Iya?”

Sebenarnya leherku mulai pegal. Kepalanya itu berat, sungguh. Juga jangan lupakan sensasi geli lantaran napasnya yang berembus langsung di sana. Kini ia tidak bersuara lagi, membuatku gemas sendiri ingin cepat-cepat mengakhiri konversasi konyol pagi ini.

“Mas, berat tahu.” Kutarik-tarik rambutnya karena iseng. Jangan-jangan ia tertidur? Awas saja jika benar begitu. “Kalau mau tidur lagi sana ke kamar. Cheon mau masak.”

Dengan sedikit dorongan di bahunya, akhirnya ia mau juga melepas pelukannya. Benar saja, matanya masih memerah sehabis menangis, wajahnya juga seperti anak kucing lucu yang sering kutemui di pinggir jalan. He’s totally a baby.

Thank you for loving me that much. Thank you for being mine, and I’m grateful being yours. So, don’t cry again because you’re look so ugly right now. I love Lee Taeyong when he smiles brightly.” Kuusap sisa air mata di wajahnya. Dilihat-lihat hal ini cukup lucu juga, akan kuingat terus untuk kutertawai nantinya ketika kami mulai bernostalgia di sore hari beberapa tahun ke depan.

“Kau tak menganggapku konyol hanya karena hal ini, ‘kan?” Ia tertawa kecil. Sepertinya kewarasannya perlahan kembali dalam kepalanya.

Honestly yes, but it’ll be a very beautiful thing if you looked at it in a different perspective. Love makes me see many things in different way, especially about you.”

Pagi yang luar biasa, percaya atau tidak tapi perasaanku kini campur aduk karenanya. Tentang mimpinya, bagaimana jika itu benar terjadi? I’m still eighteen dan pikiran untuk menikah masih sangat jauh bagiku. “Sudah, ya? Cheon mau masak.”

Kulihat ia mengembungkan pipinya. “Tidak boleh, kau di sini saja.”

“Mas Tae―”

“Diam atau kucium.”

“Sana mandi ih, Cheon tak ingat pernah pacaran sama gembel!”

“Sini kamu, jarang-jarang ‘kan dipeluk gembel?”

“Mas Tae!”

Terkadang aku bingung sendiri, lebih baik ia jadi melankolis seperti tadi atau kembali waras namun membuatku gila setiap hari. Keduanya tak ada yang menguntungkan.

FIN

  • Took some scenes from Winter Woods, Kaay asked me to join her project /lempar meja/
  • Will be posted on several blogs every Sunday.
Advertisements

10 thoughts on “[Ficlet] Baby in A Beautiful Dream

  1. Lah kanjeeeel, fluff banget sampe senyum senyum sendiri ini bacanya kak wkwkwk. Btw panggilan ‘Mas’nya ituloh bikin BHAK banget, padahal udah super normal fluff pake inggris dan diksi yang aduhai gewlaa _w_ iri sama Cheon boleh gak? Ah, kenapa harus pake Cheon sih? Kenapa gak pake Angelina aja! /dibalang/

    Keep writing kanjeeeel! ❤ /ngacir/

    Like

    • thanks for reading^^ mas tae kak mas tae iz zo suamiable :’) kapan cheon nikah sama tae beneran ya yawlah dd gemas syekali sama mereka kyaaaaaaaaa :3 panggilan mas itu sesuatu kak, sesuatu banget demay xD angelina is having a very long trip with mas win kyaaaaaaaaaa >.<

      Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s