[Vignette] Untukmu, Untuknya dan Untuk Kita

Untukmu, Untuknya dan Untuk Kita

By: Febby Fatma

Drama, Romance, Family, Hurt/Comfort, Fluff,

PG-13

Vignette

Cast :

Nakamoto Yuta NCT

Nikaido Ran (OC)

Nakamoto Sue (OC)

 

Disclaimer: Aku hanya pemilik plot, Ran dan Yuta. Sue bukan punyaku, cuma pinjem tapi nggak bilang. Mohon tidak copas atau plagiat. Sebelumnya terima kasih dan selamat baca~

 

 

“Yuta..”

Yuta menoleh, menatap Ran yang duduk di kursi baca di kamarnya. Gadis itu dengan sabar menunggu Yuta selesai mengerjakan semua tugas sekolah dan les yang membebaninya demi akhir pekan mereka.

“Kenapa? Kau bosan ya?”

Dia menggeleng kemudian tersenyum manis. “Tidak, hanya suka saja memanggil namamu.”

“Dasar.” Yuta meninggalkan tugas yang sudah sembilan puluh persen rampung di mejanya dan mendekat pada Ran untuk sekedar mengusap pucuk bersurai hitam milik gadisnya itu. “Kita mau kemana nanti?”

Ran bergumam menimbang-nimbang tempat apa yang akan mereka kunjungi diakhir pekan mereka kali ini.

“Kita ke taman hiburan saja, gimana? Sue pasti suka.”

“Boleh.”

“Sudah lama juga aku tidak makan pemen kapas.”

“Hmm. Asal kau dan Sue senang.”

Ran duduk di salah satu bangku di taman hiburan yang ia kunjungi dengan Nakamoto bersaudara. Menunggu Nakamoto bersaudara itu pergi beli minum dan permen kapas seperti yang Sue inginkan.

Ah ya, tentang Sue. Itu adalah adik laki-laki Yuta yang umur terpaut dua belas tahun dari Yuta. Bocah yang membuat Yuta mati-matian belajar demi kehidupan bebas Sue dimasa remaja nanti.

Keluarga Nakamoto adalah keluarga yang cukup berpengaruh di Jepang. Cukup bagi orang tua Yuta membuat Yuta sebagai anak laki-laki pertama bekerja keras sejak kecil. Semua demi nama keluarga mereka. Demi nama Nakamoto yang bersandang padanya. Demi sang adik juga.

Ran tahu betul bagaimana terkekangnya Yuta sejak kecil. Ran tahu betul apa saja yang pernah menimpa Yuta. Ran tahu semua lebih dari apa yang orang tua Yuta ketahui. Karena Ran teman setia Yuta sejak kecil, karena Ran sabahat baik Yuta yang kini merangkap jadi pujaan hati Yuta.

“Maaf menunggu.” Sue dan Yuta datang dengan dua tangan penuh. Sue dengan dua permen kapas dan Yuta dengan tiga botol air minum.

Bocah enam tahun yang manjanya luar biasa itu mengisi tempat di tengah Ran dan Yuta. Bukan masalah untuk Ran. Itu justru membuat Ran senang. Mencintai kakaknya membuat Ran mencintai adiknya juga. Tentu untuk sang adik rasa cinta Ran bermakna lain.

Uuh, rasanya Ran takut merusak tawa Sue dan Yuta ini. Ran takut mengusik ketenangan mereka. Disaat seperti ini Ran justru merasa takut membuat semua usaha keras Yuta demi kebahagiaan Sue hancur.

Yang Ran inginkan hanya melihat mereka terus tertawa seperti hari ini. Saat ini.

Bolehkah Ran berharap agar sang waktu membiarkan momen ini berjalan lebih panjang dari biasanya? Bolehkah?

“Kak Ran.. Kak?”

“Ah ya, Sue. Kenapa?”

Bocah itu menatap Ran bingung. Sang kakak pun sama.

“Kau baik-baik saja? Kenapa bengong?”

“Um. Aku baik.”

“Jangan bohong. Kuperhatikan belakangan ini kau sering bengong. Apa yang sedang mengganggu pikiranmu?”

“Tidak ada.” Ran melirik pada Sue di antara mereka. Meminta Yuta untuk berhenti bertanya di depan bocah polos itu. Dan syukurnya Yuta paham.

“Habis ini Sue mau main apa lagi? Kak Ran yang akan menemani.”

“Benar?”

“Um.”

Sekarang biarkan Ran membuat bocah menggemaskan yang seperti kloningan Yuta itu senang. Tidak perduli bagaimana tatapan Yuta padanya. Ran hanya ingin Sue senang seperti apa yang selama ini Yuta harapkan.

Sue sudah tertidur sejak turun dari bus tadi. Di gendongan Yuta nafas bocah itu tampak teratur. Jaket kebesaran milik Ran yang membungkus tubuh kecilnya memberi rasa puas tersendiri bagi Ran.

Menjadi kekasih anak seorang konglomerat bukan berarti membuat Ran harus terus meminta Yuta memanjakannya dengan harta orang tua Yuta. Ada saat Ran meminta hal seperti ini.

Bepergian dengan kendaraan umum. Menjadi satu dari jutaan orang yang menggunakan fasilitas pejalan kaki. Rasanya lebih menyenangkan.

Lagi pula, Ran merasa harus sadar posisi. Gadis biasa sepertinya harus paham batasan. Iyakan?

“Ran, kau benar baik-baik saja?”

“Iya. Aku baik-baik saja.”

“Tapi belakangan ini—” kalimat Yuta terhenti saat Ran meraih tangan kekasihnya itu. Menyelipkan setiap jarinya pada jari-jari Yuta. Menggenggam tangan sang pangeran Nakamoto kuat-kuat.

“Sue sedang tidur.” Itu katanya.

Yuta tidak bodoh. Yuta tahu maksud tersembunyi dari sikap Ran itu dan dia mengikuti keinginan Ran. Setidaknya sampai Sue mereka baringkan di kamar si bocah.

Lepas dari Sue berarti Yuta punya alasan untuk kembali mempertanyakan perubahan sikap sang kekasih belakangan ini. “Ada yang ingin aku tanyakan.”

“Kebetulan, ada yang ingin aku katakan juga.” Alis Yuta menjengit heran. Ran bukan tipe gadis yang suka bertele-tele, kalau ada yang ingin gadis itu katakan maka akan dikatakan langsung. Tapi hari ini..

“Apa yang sebenarnya kau pikirkan?”

“Kau dan Sue.”

Mereka ada di kamar Yuta. Berdua. Dan itu bukan hal yang anehbagi mereka. Ini sudah biasa.

“Jangan bohong, Ran.”

“Aku tidak bohong. Isi kepalaku sekarang hanya kau dan Sue. Kalian berdua dan kebahagiaan kalian.”

“Lalu ada apa dengan sikapmu belakangan ini?”

“Itu juga yang ingin aku katakan padamu.”

Benar-benar ada yang tidak beres dengan kekasihnya ini. Yuta yakin. Terlebih perasaan tidak enak yang sejak tadi di taman hiburan mengganggunya. Ada sesuatu.

“Apa itu?”

“Yuta—” jedanya cukup lama. Cukup membuat Yuta penasaran hingga menahan nafas.

“Apa?”

“Ayo akhiri hubungan ini.”

“Ha?”

Entah bagaimana Yuta menjelaskan perasaannya. Tidak jelas. Dia kaget. Tentu saja dia kaget. Tapi rasa sakit yang menyeruak, memaksa masuk ke dalam dadanya sungguh tidak bisa digambarkan.

“J-jangan bercanda, Ran!” Ran menggeleng. Menggumamkan kata serius. “Tapi kenapa?”

“Aku hanya ingin mengakhirinya.” Gadis itu diam saja saat Yuta merengkuh bahunya. Menunduk tanpa niat membalas tatapan Yuta sama sekali.

“Jangan bohong! Kau tidak bisa membohongiku.”

“Aku tidak bohong.”

“Tapi alasan macam apa itu?” Ran tidak menjawabnya. “Kalau aku salah katakan saja. Kita bisa bicarakan baik-baik. Jangan seperti ini.”

Ran masih diam saat Yuta menggoyang tubuhnya. Tidak ada tanda-tanda perlawanan dari gadis itu.

“Ran!”

Tangan Yuta di bahunya diturunkan. Digenggam kuat saat mata mereka bertemu. “Aku mencintaimu.” Dan dua tetes air bening jatus dari kedua ujung matanya.

“Aku sangat mencintaimu. Aku juga sayang pada Sue. Aku sangat menyayangi kalian berdua.” Harusnya Yuta senang mendengar pengakuan itu. Tapi saat ini dadanya justru sakit bukan main. Pengakuan Ran itulah penyebabnya.

“Ran, kumohon jangan seperti ini. Aku bisa gila.”

“Jangan.” Kedua tangan Ran menangkup pipi Yuta. Membawa mata mereka untuk lebih terfokus satu sama lain. “Jangan pernah berpikir untuk gila. Jangan pernah perpikir untuk hancur atau lain sebagainnya. Kau harus tetap seperti ini. Berjuang demi Sue.”

“Tapi kenapa?”

“Aku hanya ingin kau lebih fokus pada tujuanmu. Jika terus bersamaku, kau hanya akan merusak masa remaja Sue yang kau idam-idamkan selama ini. Kau akan membuat Sue harus menerima kekangan yang sama. Usahamu akan sia-sia.”

Yuta tidak bisa mengatakan apa-apa saat gadis itu memeluknya. Terisak dalam pelukannya dan meminta Yuta menerima keputusan ini. Yuta tidak tahu harus bagaimana menghadapi ini. Tidak tahu mana yang benar.

Mempertahankan Ran dengan kemungkinan Ayah dan Ibunya menjadikan Sue alternatif pengembangan bisnis atau melepas Ran yang jelas sangat ia cintai. Yuta tidak ingin merusak masa depan Sue yang ia idam-idamkan ataupun kehilangan Ran.

Yuta paham betul maksud Ran. Yuta juga sudah pernah berpikir sampai pada titik dimana ada kemungkinan Yuta akan dijodohkan demi pengembangan bisnis. Yuta jelas akan menolak itu karena dia punya Ran. Tapi itu juga artinya Yuta membiarkan Sue untuk menggantikannya di posisi perjodohan tadi.

Pengorbanan. Inikah yang disebut berkorban? Tapi kenapa rasanya begitu menyiksa?

“Yuta—” Ran melepaskan diri dari pelukan mereka. “Akan aku beri satu kesempatan lagi bagimu. Tapi ada syaratnya.”

“Apa? Katakan, apapun syaratnya akan aku lakukan.”

“Jadilah kakak yang baik. Buat Sue bisa menjalani masa remaja yang selalu kau ceritakan padaku. Setelah kau pastikan bahwa Sue bisa hidup di luar sangkar emas, kau boleh datang padaku lagi. Menagih janji ini.”

“Janji?”

“Um. Aku akan menunggumu. Tapi aku lebih berharap kalau kau bisa bahagia tanpa aku.”

“Mana bisa!” Yuta membantahnya. “Mana mungkin aku bisa hidup tanpamu.Hal itu tidak akan terjadi, Ran.”

“Bu, Sue ingin Ibu berjanji pada Sue.”

“Apa sayang?”

“Jangan pernah pisahkan Kak Yuta dari Kak Ran.”

“Ha? Kenapa? Memangnya sejak kapan Yuta dan Ran pisah?”

“Mereka belum berpisah. Tapi Sue tahu Ayah dan Ibu akan melakukan itu nanti. Sue janji akan menuruti permintaan Ayah dan Ibu asal Kak Yuta dan Kak Ran tetap bersama.”

“Tidak sayang. Tidak akan. Ayah dan Ibu tidak akan memisahkan mereka.”

“Janji?”

“Janji.”

  • FF orang galau. Ceritanya kebanyakan baca Hurt lagi, jadi galau. Ide apa aja ujung-ujungnya galau. Kalo nggak kuat nggak usah dilanjut bacanya.. eh, tapi kalo udah sampe baca ini berarti kuat ya (?) usah sampe akhir si..
  • Oh ya, untuk pemilik Sue maaf ya, Sue ganti gender /dilempar piso sama KakLat/
  • Okeh, segini aja.. /tarik Yuta/kasih hormat sama pembaca/kabur bawa Yuta/eh?/
  • Febby pamit——
Advertisements

2 thoughts on “[Vignette] Untukmu, Untuknya dan Untuk Kita

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s