[NCTFFI Freelance] Pepromeno (Chapter 3)

pepromeno

Title: Pepromeno
Scriptwriter: popowiii
Main Cast: Mark Lee (Lee Minhyung) NCT  as Mark Choi
Support Cast (optional): Choi Minho SHINee, Irene Red Velvet, Mina TWICE, Krystal f(x), Jaemin NCT, Donghyuk NCT, Jaehyun NCT, Ten NCT, Doyoung NCT.
Genre: Greek, fantasy, angst, family, friendship.
Duration: Chaptered.
Rating: PG

Summary: Bayangkan jika dalam hidup kalian saat ini, kalian bertemu dengan tiga wanita yang mengaku diri mereka sebagai Moirai, dewi takdir. Seorang pemuda bernama Mark yang bertemu dengan Moirai diharuskan untuk memilih antara kehidupan atau kematian. Menurut kalian, keputusan apa yang akan ia pilih?

Sebelumnya : Chapter 1, Chapter 2

***

Setelah berhasil menenangkan diri, meski masih dengan detak jantung yang serasa menghantam keras tulang rusuknya dari dalam dan oksigen-oksigen yang masuk ke dalam paru-parunya terasa dingin, menyesakkan dan nyeri menguasai dadanya. Kedua matanya berkedip cepat beberapa kali, ketiga wanita dihadapannya masih terdiam menatapnya dengan ekspresi datar, membuat rasa takut yang mendera Mark semakin mekar di dalam dirinya saat itu.

“Kita harus bicara,” Irene angkat bicara, menyudahi semua keheningan yang ada. Mark menghirup udara sekuat tenaga hingga terasa nyeri di dadanya, rahang bawahnya hanya mampu bergerak ke atas dan ke bawah bergantian menciptakan suara gigi yang bergemerutuk.

Mark masih heran bagaimana bisa mereka masuk ke dalam rumahnya padahal baik gerbang maupun pintu utama terkunci. Setelah mengumpulkan nyali, akhirnya Mark berani menanyakan hal itu. Tak seperti apa yang ia bayangkan, sangat miris, salah seorang Moirai berambut hitam, Mina, menjawabnya singkat.

“Bukan urusanmu,” begitu jawabnya. Nafas Mark semakin berat dibuatnya.

“Apa yang kalian inginkan?” pertanyaan itu lolos dari bibir Mark yang semakin pucat.

“Keputusanmu, kami ingin keputusanmu,” jawaban yang keluar dari bilah bibir Irene membuat Mark memiringkan kepalanya beberapa derajat dari garus lurus. Masih tidak paham dengan situasi yang ia hadap saat ini. Masih sangat lama jika ingin menunggu Minho pulang, bahkan matahari pun masih enggan menyembunyikan keberadaan dirinya dari cakrawala saat itu. Mark harus mengatasi semuanya sendiri.

Tanpa pikir panjang lagi, Krystal menjelaskan apa tujuan mereka datang ke bumi, meninggalkan singgasana di Olympus yang tenang. Wanita surai merah itu menceritakan dengan detail bahwa mereka mengorbankan saat-saat menyenangkan ketika merajut benang takdir di sudut istana yang tidak mendapat cukup banyak pancaran dari Helios, dewa matahari yang selalu memancarkan sinar benderangnya kesegala penjuru dengan kereta kencana kebesarannya.

Mark? Apa lagi yang bisa ia lakukan selain memenuhi pikirannya dengan kebingungan? Semua yang meluncur dari bibir pucat Krystal tidak dapat ia masukkan ke dalam akal, semua terdengar seperti dongeng.

“Aku tahu ini akan terdengar cukup gila,” Mark mengangguk setuju dengan pernyataan Krystal barusan. “Tapi kau harus memilih antara nyawa kedua orang tuamu atau nyawamu,” cerocos wanita  bermata tajam itu.

“Apa maksudmu?” tatapan bingung yang sedari tadi menguasai sorot mata Mark, kini luruh dan tergantikan oleh sorot mata yang tak kalah tajam dengan lawan bicaranya saat ini. Dadanya memanas tiap kali cerita kedua orang tuanya dibawa naik menuju kepermukaan hatinya, padahal ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk menguburnya bersama memori-memori kelam yang tak ingin ia ingat kembali.

Memori mengenai kedua orang tua termasuk bangkai mobil beserta jasad kedua orang tuanya yang tergeletak tak berdaya di dalamnya, terbakar di TKP ketika hari itu. Dia dan Minho mengindahkan panggilan dari kepolisian untuk menghadiri TKP kecelakaan. Masih tercetak dengan jelas bayang-bayang jari Minho yang menutupi matanya. Berharap agar Si Adik Kecil tidak melihat adegan itu terlalu lama.

Kedua matanya memerah lagi memanas. “Kumohon kalian keluar. Sekarang,” Mark membuka pintu utama dengan tangan kanannya. Kepalanya tertunduk, bersamaan dengan jatuhnya butiran air dari mata pemuda itu, Irene mendorong punggung kedua saudaranya untuk lekas keluar dari rumah tersebut. Beberapa saat setelah keberadaan mereka menghilang dari ruangan tersebut, tangan Mark menutup kembali pintu itu perlahan lalu mendudukkan dirinya di atas sofa ruangan tersebut.

Tangannya mengusap kasar wajahnya lalu ia garuk kasar rambut hitamnya. Rambut yang tadinya sudah tidak rapi karena terpaan angin saat bersepeda menjadi semakin berantakan akibat ulah tangannya sendiri. Tak ingin berlama-lama berada dalam keterpurukan yang sama, Mark menegakkan tubuhnya lalu melangkahkan kakinya menuju kamar.

“Kenapa kita tidak menjadikan diri kita kasat mata lalu masuk ke dalam?” usul Mina. Krystal menatapnya dengan pandangan dingin yang mengintimidasi. Mereka bertiga masih berdiri berjajar didepan pintu rumah Mark.

“Jika kita tak kasat mata, bagaimana kita bisa meyakinkannya? Kita yang terlihat saja tidak percaya apa lagi yang tak kasat mata?” Irene menanggapi usulan Mina dengan kalimat sederhana, ia berharap agar Mina mudah memahaminya.  Krystal masih dengan tatapannya yang mengintimidasi.

♦‡♦‡♦

Mark mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu membukanya lebar setelah ia merasa cukup dengan semua terpaan cahaya yang masuk ke dalam indra pengelihatannya. Ia regangkan tubuhnya yang terasa kaku setelah beberapa menit lalu tertidur pulas di sore hari. Hal itu sudah jarang dilakukannya, mengingat jadwalnya yang padat dengan latihan basket dan kali ini dia berhasil melarikan diri dari rutinitas itu hanya dengan selembar kertas ijin.

Ia segera beranjak membasuh mukanya lalu duduk di kursi meja belajarnya dan membuka buku tebal berisikan materi-materi fisika yang esok akan menjadi bahan ulangan harian. Sebelum memulai prosesi belajarnya, ia meraih ponsel hitam yang ada di atas kasur lalu menekan tuts nomor tiga pada panggilan cepat ponselnya itu. Telepon menyambungkan dengan kontak Donghyuk.

“Hallo, Ddong, bisa minta bantuan?”

“Hmm, apa?” suara Donghyuk terdengar dari sebrang sana.

“Kau suka dongeng mitologi Yunani kan?”

“Iya. Kenapa? Kau mulai tertarik?” terdengar keantusiasan di sana, karena suara yang seketika meninggi terdengar dari seberang.

“Aku pinjam buku tentang Moirai, ada?”

“Ada! Besok aku bawakan. Sudah gitu saja?”

“Iya, gitu saja. Bye,” Mark memutuskan sambungan.

Mark meletakkan ponselnya di samping buku fisikanya lalu mengumpulkan fokusnya dan berkutat dengan rumus-rumus yang tercetak di atas lembaran-lembaran kertas tersebut. Cukup lama ia mendudukkan tubuh di kursi belajarnya. Temperatur kursi yang tadinya rendah meningkat dan menciptakan rasa hangat pada permukaannya. Mark menggoreskan beberapa tulisan dengan pulpen hitam pada kertas buram di depannya. Sesekali ia menciptakan coretan dan beberapa bulatan di sana.

Sejenak ia menatap ke luar jendela yang memperlihatkan pekarangan rumahnya yang sudah senyap ditelan gelap. Udara dingin yang tiba-tiba berhembus dari jendela kamarnya menusuk pori-pori kulitnya. Sehingga ia tutuplah jendela tersebut, karena tak tahan merasakan dinginnya udara malam.

“Dingin,” Mark memeluk tubuhnya yang terbalut sweater abu-abu. Dia merutuki dirinya sendiri karena mengenakan celana pendek di hari yang dingin itu. “Jadi pengen ke toilet,” ia membalikkan badannya, hendak menuju toilet yang berada di dalam kamarnya. Baru selangkah ia memutar tubuhnya, ia terlonjak kaget dengan pemandangan yang ada di depannya.

GODAMMIT! Mau apa lagi kalian?” tubuh Mark terdorong hingga terantuk jendela yang ada di belakangnya. Punggung dan kaca jendela beradu sehingga menghasilkan suara yang cukup keras. Mark meringis dibuatnya. Bibir Irene maju beberapa centi, tongkatnya terangkat dan teracung tepat di depan wajah Mark.

“Gunakan Bahasa Inggris dengan baik dan benar,” cerocosan Krystal lolos dari bilah pucatnya. Irene menangguk setuju kemudian menurunkan tongkatnya enyah dari hadapan Mark. Mark melirik pintu kamarnya yang masih tertutup, dia tidak dengar suara pintu terbuka sama sekali ketika sedang menutup jendela tadi.

“A—pa kalian adalah hantu? Tolong maafkan aku jika aku pernah berbuat salah pada kalian,” Kikuk, Mark membungkukkan badannya 90 derajat. Mina balas membungkuk selama beberapa detik lalu beberapa saat kemudian ia mendapat pukulan dari  Krystal di punggungnya.

“Aw… tapi sebelumnya, hantu dan dewi adalah hal yang berbeda. Sangat berbeda!” ucap Mina sembari mengelus punggungnya.

Otak Mark berputar sekuat tenaga, mencari arti kata “dewi” dalam perbendaharaan kata Bahasa Koreannya. Setelah beberapa menit berfikir, akhirnya ia mendapatkan makna yang ia cari-cari. Di dalam pikirannya saat itu, dewi adalah sesosok mistis yang hanya berada di dalam cerita dongeng, dan dewi adalah bentuk wanita dari dewa. Memang benar adanya.

“Kami turut berduka atas meninggalnya kedua orang tuamu. Takdir kalian belum selesai, namun kedua orang tuamu sudah meninggal. Jika sudah begini, jiwa harus mempertanggung jawabkannya,” Mark masih terpojokkan, dengan tubuhnya yang menempel pada jendela semakin tidak memahami apa yang sedang terjadi. Alih-alih ia membuka mulutnya lalu berkata, “Tolong jelaskan lebih rinci,” pintu utama sudah terbuka dan terdengar suara bass milik kakaknya yang menggema memenuhi rumahnya. Bersamaan dengan munculnya suara Minho, ketiga Moirai itu menghilang dari hadapan Mark.

“Mark? Kau dimana? Aku bawa kue beras, ayo makan!” ajak Minho dari ruang dapur.

“Baik!” jawab Mark, “Apa aku terlalu lelah hingga muncul halusinasi aneh seperti itu, mungkin.. mungkin..,” Mark menggaruk tengkuknya lalu berjalan menuju pintu kamarnya. Saat hendak memutar knop pintu kamar mandi, dia teringat akan sesuatu. “Oh iya! Toilet,” ia melepas pegangan tangannya pada knop pintu lalu berlari kecil menuju kamar mandi.

Setelah beberapa menit menyelesaikan urusnnya, dia bergegas keluar menemui Minho. Itu adalah niatnya saat berada di dalam toilet, namun nyatanya tidak seperti bayangan yang ada. Malam itu, air terasa lebih dingin dari biasanya. Lagi-lagi muncul tiga wanita bergaun hitam dihadapannya saat dia hendak menutup pintu toilet. Tubuh Mark kembali terdorong dan menghantam pintu toilet, hantaman kali ini tidak menimbulkan rasa sakit seperti saat punggungnya menghantap jendela.

“Kau harus memilih antara jiwamu atau kedua orang tuamu. Harus ada yang memilih salah satu dari dua itu agar takdirmu bisa kembali normal,” tiga wanita itu terus saja memojokkan pemuda yang ada di hadapan mareka. Nyali Mark menciut, kakinya serasa tidak memiliki tulang lagi, tubuhnya lunglai dan hampir merosot kebawah kalau-kalau tidak ada tangan yang menahan tubuhnya.

Suara pintu kamar terbuka dan menampakkan wajah tampan Minho yang menyembul masuk dari luar. Lagi-lagi Moirai menghilang, Mark mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kamarnya, meneliti sudut-sudut ruangan tersebut lalu berlari ke arah Minho dan meraih bagian bawa kaos Minho dengan tangan kirinya tanpa melepaskan pandangan dari kamar tidurnya. Minho menatap aneh Mark yang sedang meremas kuat ujung kaosnya.

“Apa yang kau lihat, Minhyung? Hantu wanita?” canda Minho. Mark menoleh perlahan pada Minho dengan matanya yang masih terbelalak lebar.

“Iya! Ada tiga!” Mark menyembulkan tiga buah jari tangan kanannya. Tangan Minho terangkat lantas mengacak gemas rambut hitam milik adiknya.

Malam itu, Moirai tak lagi muncul. Mark dapat tertidur dengan tenang dan beranggapan bahwa munculnya Moirai adalah faktor kelelahan dari dirinya.

Matahari kembali menampakkan dirinya, menghantarkan kalor luar biasa ke seluruh penjuru bumi. Mencegah bumi dari kebekuan yang dahsyat. Semburat nila mulai pudar dari cakrawala, yang ada hanya warna semu biru muda yang melahap gelap. Membuat lukisan dengan gradasi warna ungu di kanvas luas milik Penguasa Jagad Raya. Ketika pancarannya mulai merata dan seluruh Korea mulai terang akibat sinarnya. Penduduk yang ada di sana lantas keluar dari rumah mereka dan menyesaki jalanan.

Saat ini Mark sudah berada di sekolahan. Dia sudah berada di dalam ruang kelasnya dengan sapu yang digenggamnya dengan tangan kanan lalu ia gerakkan hingga terciptalah debu-debu lantai yang berterbangan di ujung serabut-serabut sapu. Sendirian? Tidak mungkin, sudah dari berpuluh-puluh menit yang lalu Donghyuk memulai presentasinya—Mark sebagai audiens—mengenai Moirai di depan kelas.

“Kau bisa membaca lebih lengkap di buku yang sudah kubawakan,” Donghyuk mengakhiri cerocosannya yang sudah cukup banyak menyantap waktu. Namun  bagi Mark mendengar cerocosan Donghyuk di pagi hari saat piket lebih baik dari pada tubuhnya mati rasa merasakan bosan dan telinganya bising akan kesunyian.

♦‡♦‡♦

“Ini, buku yang kau minta,” Donghyuk menyodorkan buku yang tak terlalu tebal tetapi juga tidak terlalu tipis itu kepada Mark. Mark menerimanya dengan tangan kanan dalam diam. Hanya ada sepatah dua patah kata terima kasih yang keluar dari bibirnya. Donghyuk tersenyum simpul membalasnya. “Mark, aku ada pertemuan dengan tim voli. Nanti temui aku di kantin, tempat biasa saat. Sepuluh menit dari sekarang aku akan ada di sana,” Mark menganggukkan kepalanya paham.

“Hati-hati,” pesan Mark. Donghyuk membalasnya dengan senyum dan acungan gestur jari yang memiliki makna, “OK!” lantas berlari kecil keluar dari kelas.

Tak ingin di lahap sunyi. Mark juga melangkahkan kakinya ke luar kelas menuju taman tengah yang letaknya tak juah dari kantin. Sudah di putuskan, selama sepuluh menit ke depan dia akan menunggu di taman tersebut. Setelah memilih bangku di bawah pohon sebagai naungan, Mark mulai membuka halaman pertama buku yang ia minta dari Donghyuk.

Mark membaca tiap-tiap kalimatnya dengan seksama, memahami betul-betul apa yang tertera di sana. Sesekali dia berguman menyuarakan kalimat yang tengah ia baca saat itu.

“Dewi yang mengatur jalannya takdir manusia,” rapalnya. Semilir angin menerbangkan poni yang menutupi kening Mark. Semilir angin itu lambat laun menjadi semilir angin dingin yang menusuk.

“Iya itulah Moirai, kau tertarik juga pada kita ternyata. Kenapa tidak tanyakan langsung pada Moirainya sendiri?” kehadiran Irene benar-benar membuat jantung pemuda itu mau keluar dari sangkarnya. Mark menoleh ke kanan dan ke kiri, ke depan lalu ke belakang. Bahkan ke atas dan kebawah, mencari ekstistensi dua orang Moirai yang lain. Dia ingat betul bahwa ada tiga orang yang mengusiknya kemarin.

Mark mendesah kecil lalu menyandarkan tubuhnya ke punggung bangku yang sampai saat ini masih ia duduki. Ditutupnya buku yang belum habis ia baca, melirik Irene sekilas lalu bergidik ngeri karena presensi wanita pirang itu masih ada di sebelahnya. Tengah duduk dan memandangi garis wajah Mark dengan seksama. Tak ingin terlarut dalam kaku. Mark melirik jam tangannya lalu berdiri menegakkan tubuhnya.

“Sudah sepuluh menit.”

Tak butuh waktu lama bagi Mark untuk bisa menuju kantin. cukup satu dua menit, pemuda itu sudah menunjukkan kehadirannya diantara sesakan siswa yang ada di sana. Setelah beberapa lama celingukan mencari keberadaan Donghyuk, akhirnya eksistensi pemuda heboh itu dapat tertangkap oleh pengelihatan Mark. Segera ia memangkas jarak menuju Donghyuk.

Donghyuk menyodorkan dua bungkus roti krim dan sebotol jus kaleng rasa lemon. Mark menerimanya dengan senang hati.

“Kau tak pernah menolak apa yang kupilihkan, anak pintar,” tangan kanan Donghyuk yang semula terlipat api di atas meja terayun untuk menepuk kepala seseorang yang ada di hadapannya. Tak terlihat penolakan sama sekali dari pemuda yang tengah sibuk membuka bungkus roti krim tersebut.

Saat bungkus sudah terbuka, dan roti siap untuk ia santap. Baru beberapa detik menegakkan kepala, tubuh Mark terangkat beberap centi dari duduknya, karena melihat kehadiran salah satu wanita yang kemarin muncul di rumahnya secara misterius. Donghyuk menatap Mark heran, ia lambaikan tangannya di depan wajah Mark yang tengah melamun saat itu.

“Kenapa hanya satu lagi?” gumam Mark.

“Apanya yang satu?” telisik Donghyuk heran.

Setelah beberapa detik melakukan kontak mata dengan wanita yang sekarang ini tengah duduk di samping Donghyuk. Mark memutuskan untuk mengirauannya. Wanita berambut hitam yang merasa di hiraukan itu pun beranjak dari duduknya dan duduk disamping Mark. Mark tetap menghiraukan Mina dan mengunyah roti krimnya dalam diam.

“Ayolah, kami bertiga juga tidak ingin selamanya terjebak di bumi. Jika kau terus begini kami akan menjadi dewi yang lalai tugas dan takdirmu juga tidak akan berjalan mulus, karena ada anyaman yang tidak sempurna,” keluh Mina.

Kunyahan Mark melambat, ia menatap roti yang sudah setengah ia habisakan dan satu bungkus lagi yang masih utuh juga minuman jus kalengan yang berada di depannya. Setelah berfikir selama beberapa saat, Mark mengajak Donghyuk untuk keluar dari kantin dengan alasan kantin yang mulai ramai. Mereka bisa memakan roti itu di kelas atau di tempat lain. Tanpa kecurigaan sedikit pun, Donghyuk menyetujui permintaan sahabatnya itu. Mina hanya bisa menatap punggung Mark yang mulai tenggelam dalam kerumunan siswa.

Setelah menyelesaikan tiga jam pelajaran terakhir, akhirnya bel pulang berbunyi dan menggema memenuhi lorong-lorong sekolah yang tadinya sepi. Semua siswa segera mengemas barang mereka ke dalam tas lantas memberi penghormatan kepada guru.

“Mark kau ada karya ilmiah kan? Tak usah mengantarku ke tempat parkir. Fokuslah pada lomba karya ilmiahmu, pasti bisa!” Donghyuk berpesan pada Mark yang menunggunya di ambang pintu, hendak mengantarnya menuju tempat parkir.

“Oh, baiklah. Hati-hati,” Donghyuk menegakkan tubuhnya dan melemparkan gesture hormat kepada Mark. Setelah keberadaan Donghyuk menghilang dari lorong depan kelas mereka, Mark segera menuju Lab.Bahasa. Di sana, Jaemin sudah menyambut Mark dengan senyum manisnya. Jaemin tengah mempersiapkan laptop yang nantinya akan mereka gunakan untuk merevisi soft-copy karya ilmiah yang telah mereka buat.

Mark meletakkan tasnya di kursi sebelah Jaemin lantas mencari keberadaan anggota Tim Karya Ilmiah yang lain. Namun nihil, di ruangan itu hanya ada mereka berdua.

“Yang lain?”

“Oh, iya! Pada rapat terakhir saat kau ijin, kita semua sepakat untuk bagian penyuntingan akan dilakukan oleh Tim Editor. Dan Tim Editor itu adalah kita,” Mark menghela nafas panjang mendengar Jaemin. Rasanya mereka akan menginap di sekolah lagi. “Sepertinya tidak sampai menginap, bagian yang kita kerjakan sudah tidak perlu di revisi. Hanya beberapa bagian dari anggota lain saja,” Jaemin menepuk punggung Mark, seperti Jaemin mengerti apa yang ada dipikiran Mark.

Setelah tiga puluh menit bekerja, Jaemin memutuskan untuk pergi keluar dan mencari minuman untuk mereka berdua. Mark setuju, sebagai rasa terima kasih dan ongkos jalan katanya, minuman kali ini Mark yang traktir. Mark tetap melanjutkan revisi pada beberapa kalimat yang tertera di monitor laptop Jaemin yang saat ini sudah berada di hadapannya.

“Pemuda ini sibuk juga ternyata,” suara ketikan yang terdengar dari keyboard laptop tak lagi terdengar setelah muncul suara tipis khas suara perempuan yang menjamah indra pendengar Mark. Dua kejadian yang ia alami siang tadi cukup menjadi pengalaman buatnya. Tak terlihat reaksi yang berlebihan, ditambah lagi dia tahu bahwa Moirai itu ada tiga, sejauh ini baru dua yang menemuinya. Maka ia dapat menyimpulkan bahwa masih ada satu lagi wanita yang akan meghampirinya. Dan kesimpulan itu benar adanya.

“Selain tampan kau pintar juga, ya. Tapi sayangnya bebal dan egois,” Mark memberanikan diri untuk membalas tatapan sinis yang ditujukan padanya. Namun apa daya, tatapan itu terlalu tajam hingga terasa nyeri di ulu hatinya jika berlama-lama menatap mata wanita itu.

Sebenarnya turun ke bumi adalah hal yang paling menjengkelkan bagi dewa atau pun dewi. Baik dewa/i Olympian, dewa/i personifikasi atau bahkan dewa dari dunia bawah pun tidak ada betah berlama-lama di bumi. Karena kekuatan mereka menjadi terbatas saat mereka bergesekan dengan lapisan udara di bumi. Namun sebagai dewi yang berurusan langsung dengan manusia, Moirai harus siap kapan pun untuk dikirim ke bumi. Mark berusaha mencerna semua kalimat-kalimat panjang yang lolos dari bibir pucat Krystal, Moirai ketiga yang menghampirinya.

“Aku paham. Jika tak suka di bumi maka kembalilah,” Mark berucap ringan. Krystal naik pitam mendengarnya.

“Begitu mudahnya kau mengatakan hal itu. Padahal kau lah yang mengirim kami ke sini dan hanya kau yang bisa MENGIRIM KAMI KEMBALI!” pekikan Krystal berhasil melonjakkan detak jantung pemuda yang ada di hadapannya. Udara dingin yang tadi terasa semakin menjadi-jadi adanya. Semua benda yang ada di ruangan itu tampak berguncang di posisi mereka.

“Karena dua diantara tiga sudah meninggal, jiwa yang tertinggal harus menanggung SEMUANYA!” guncangan semakin menjadi-jadi ketika Krystal mengangkat kedua tangannya. Kening Mark masih berkerut heran, cengkramannya pada meja menjadi semakin kuat. Mark memejamkan matanya, tak kuat melihat kemurkaan dari Sang Atropos.

“Mark? Mark? MARK?!” Jaemin menepuk bahu Mark cukup keras. Mark masih dengan posisi berdirinya, cengkraman kuatnya pada meja masih belum terlepas, buku-buku jarinya memutih karena darah tak bisa mengalir dengan lancar. Wajahnya pucat pasi bagai mayat. Jaemin menyentuh kening Mark, memastikan bahwa rekan kerja sekaligus sahabatnya itu baik-baik saja. Mark masih mengatur deru nafas dan detak jantungnya. “Sepertinya kau sakit,” Mark menggeleng. Pemuda itu menerima minuman dari Jaemin dengan tangannya yang dingin.

“Ayo kita lanjutkan. Oh, iya! Jaemin jangan dekat-dekat dengan lemari itu. Dia tadi hampir jatuh,” Mark kembali mendudukkan diri di kursinya. Meneguk minuman isotonik itu hingga mengalur deras dan membasahi kerongkongannya.

“O—Oke,” Jaemin menurunkan satu alisnya dan menatap Mark dengan tatapan aneh. Jaemin duduk di kursinya dan melanjutkan pekerjaan mereka yang sempat tertunda. Sebelum mengetik beberapa kalimat, Jaemin tertawa melihat ekspresi Mark yang datar dan kosong itu. Bibirnya yang pucat sudah mendapatkan warnanya kembali. Mark melirik Jaemin yang menertawakannya, Mark hanya menundukkan kepalanya. Beberapa menit kemudian bahunya terguncang dan ia tertawa bersama Jaemin.

“Wajahmu seperti orang yang melihat hantu, Mark!” Jaemin masih belum menghentikan tawanya.

“Lebih parah… yang kutemui adalah hantu ngamuk,” tawa jaemin semakin menjadi-jadi mendengarnya. “Aku serius,” lalu berhenti setelah Mark mengatakan dua kata itu. Tak ingin bulu romanya meninggi, Jaemin memilih untuk kembali fokus pada laptop yang masih manampakkan cahaya berpendar di hadapannya. Mark berkedip lesu, “Aku tidak bohong.”

♦‡♦‡♦

Mark membanting tubuhnya kasar ke atas kasur. Rambutnya tampak belum kering sempurna, di tatapnya langit-langit kamar. Sesekali menoleh ke kanan, ke kiri lalu kembali menatap langit-langit. Ia memejamkan matanya, membiarkan matanya beristirahat sejenak setelah berjam-jam bekerja di depan layar laptop yang berpendar. Ia lupa mengenakan kacamata netralnya, sehingga dia merasa sedikit pusing saat ini. Ditambah dengan pusing yang ia rasakan akibat hal-hal aneh yang akhir-akhir ini menghampirinya.

“Apa maksud semua ini? Kalian dimana, aku harus memastikan sesuatu,” desah Mark dengan masih memejamkan matanya.

Here,” Mata Mark terbuka, ia menegakkan tubuhnya sesaat setelah saraf fonoreseptornya menerima rangsang suara tersebut. Ketiga wanita itu berdiri di depan kasurnya. Nyalinya sedikit ciut saat matanya bertemu dengan Krystal. “Maaf, tadi aku terbawa,” ketus Krystal melihat air muka Mark saat itu. “Kenapa mencari kita?” lanjutnya.

“Tolong jelaskan padaku. Entah berapa lama waktu yang kalian butuhkan untuk memberi penjelasan. Aku akan dengarkan, tapi tolong pahamkan aku,” Irene menatap kedua saudaranya bergantian. Mina menatap Mark senang dan Krystal menghembuskan nafas syukurnya. Setelah memastikan ekspresi kedua saudaranya, Irene menatap Mark dengan tatapan teduhnya.

“Ini seharusnya menjadi penjelasan panjang, tapi aku akan membuatnya singkat” Mark mengambil nafas panjag lalu menghembuskannya bersamaan dengan anggukan kepala yang pasti. “Aku tahu orang tuamu meninggal dua tahun lalu. Tetapi saat itu Atropos atau sebut saja Krystal, tidak bisa memutus benang takdir mereka darimu. Anyaman Lakhesis atau saat ini kau bisa menyebutnya Mina, sudah menemukan titik akhir karena benang yang disediakan Klotho, atau aku, Irene, sudah habis. Jika itu terjadi, takdirmu tidak akan berjalan dengan baik,” Irene mengakhiri penjelasannya.

Mark membuka mulutnya tak percaya lalu ia katupkan rapat-rapat setelah Irene menyelesikan penjelasannya. Ia mengusap wajahnya kasar dan mengacak rambut basahnya. Ia tatap ketiga wanita yang ada di hadapannya satu per satu.

“Lalu, apa yang bisa aku lakukan?”

“Jiwa yang tertinggal harus menanggungnya. Dan jiwa itu adalah kau. Jiwa harus di balas dengan jiwa, sehingga anyaman takdir bisa berjalan sebagaimana mestinya,” jawab Mina menggantung. Irene mengulum senyumannya saat ia membalas tatapan Mark.

“Maksud kalian aku… harus mati?” tanya pemuda bermarga Choi itu.

-To be Continued-

Author’s note: Sebelumnya terimakasih untuk admin yang sudah posting ff ini T^T terima kasih juga buat readers yang sudah baca. Fanfiction ini masih banyak kurangnya, so review dari master-nim yang ada di sini akan sangat membantu. Terima kasih~

Regards, popowiii

 

Advertisements

3 thoughts on “[NCTFFI Freelance] Pepromeno (Chapter 3)

  1. wah cover-nya gantiiiiii~ btw aku lebih suka yang ini, lebih antik gimana gitu feelnya hehe
    Aku baru tau nama dewa matahari itu Helios wkwk
    Jangan-jangan si Mark milih buat mati aja nih secara dia keknya udah suka blame himself tentang kematian orang tuanya? :((
    Penasaran sama lanjutannyaaaa. Good job, thor!!!

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s