[NCTFFI Freelance] Step Brother (Ficlet)

moodwinwinpsycho

STEP BROTHER

.

Presented by Gecee

.

An angst family slice-of-life fanfiction in ficlet length with PG-15 rate

.

Starring NCT’s Winwin with OC’s Go Yi Seul

.

I have nothing except the plot & the OC

.

Big thanks to Dyvictory for the mood board

.

== HAPPY READING ==

.

.

Setelah menempuh penerbangan dua jam dari Seoul menuju Beijing, akhirnya aku sampai di rumah papa di China. Sepeninggalnya ibu kandungku, papa menyuruhku untuk pindah karena menurutnya tidak ada yang bisa menjagaku di Korea. Baiklah, aku menurut. Jadi di sinilah aku, rumah papa yang megah di China, siap untuk sebentar lagi memulai hidup yang baru bersama papa serta ibu dan kakak tiriku.

Kulangkahkan tungkai memasuki ruang tamu. Mataku menjelajahi setiap sudut ruangan. Kesan mewah akan rumah ini jelas-jelas tersirat bahkan dari ruang tamu. Tak heran, papa adalah seorang konglomerat, pemilik perusahaan internasional yang berkembang pesat terutama di China dan Korea. Rumahku di Korea juga besar, tetapi tidak sama elegan dengan ini.

“Kau sudah datang?”

Kepalaku berputar mencari asal suara. Seorang anak laki-laki sedang duduk di sofa. Kaki menyilang, sebelah tangan memegang iPad, dan mata yang menatapku. Sepersekian sekon tatapannya tajam, namun mendadak berubah menjadi sebuah tatapan lembut seiring dengan senyum ramahnya yang mengembang.

“Kak Winwin?” terkaku.

Ia bangkit berdiri dan berjalan ke arahku. “Adik kecilku sudah sampai rupanya,” ujarnya sambil mengelus surai hitamku. “Bagaimana perjalananmu? Melelahkan?”

“Sedikit…” Aku membalas senyumannya, berusaha menghilangkan kecanggungan di antara kami. Percaya atau tidak, meski kami mempunyai ayah yang sama, tapi ini adalah kali pertama kami bertemu. Selama ini aku tidak pernah berkomunikasi dengannya. Aku hanya mengenal Kak Winwin melalui foto-foto yang ditunjukkan papa.

Sekarang setelah melihatnya secara langsung, ternyata ia jauh lebih baik dari yang kukira. Dan juga lebih tampan.

Kak Winwin memanggil salah satu pengurus rumah untuk membawakan koperku ke kamar, lalu menggiringku menuju dapur. Layaknya seorang barista, Kak Winwin dengan lihai menyiapkan segelas kopi hangat untukku. Yah, walau yang ia hidangkan hanyalah dari sebungkus kopi instan.

Papa sedang pergi ke Guangzhou untuk urusan bisnis, sementara mama berada di Jepang dalam rangka berlibur. Di rumah hanya ada aku, Kak Winwin, dan pengurus rumah. Meski begitu aku tak merasa kesepian. Kak Winwin berhasil menghilangkan rasa canggungku, dan sekarang kami layaknya kakak beradik yang telah saling mengenal sejak kecil. Hidup sebagai anak tunggal selama 16 tahun membuatku dapat mengambil kesimpulan bahwa memiliki seorang kakak lelaki ternyata adalah hal yang menyenangkan.

***

Malam itu aku tak dapat tidur. Sudah merupakan tabiatku yang tidak bisa terlelap jika berada di lingkungan asing. Berbagai cara telah kulakukan untuk membuat peri tidur datang, mulai dari mendengarkan lagu pelan, memejamkan mata dan menarik napas panjang, hingga menghitung domba dari lukisan yang terpajang di dinding kamar. Sia-sia, kantuk tak jua datang menghampiri.

Kesal di kamar, aku memutuskan untuk keluar sejenak. Berjingkat-jingkat aku menuruni tangga, sebisa mungkin tak mengeluarkan suara terutama saat aku membuka pintu rumah. Kakiku melangkah menuju taman di belakang. Taman yang cukup luas, dengan kolam ikan, ayunan, bahkan sebuah gazebo.

Kududukkan bokong pada ayunan, kemudian mendorongnya pelan dengan kakiku. Kembali, jangan sampai menimbulkan suara. Kunikmati sensasi ayunan yang bergerak maju-mundur-maju-mundur, merasakan terpaan angin malam yang menerpa wajah dan mengibarkan rambut. Malam itu langit terlihat cerah. Bulan purnama bersinar, ditemani ratusan bintang yang seolah ingin menjadi yang paling terang.

“Psst! Go Yi Seul!”

Buru-buru kuhentikan ayunan dengan kaki begitu mendengar seruan dalam bisikan tersebut. Pendengaran otomatis kutajamkan. Mataku membulat. Kepalaku bergerak mencari sosok yang memanggilku. Dalam hati kupanjatkan berlaksa doa agar jangan sampai aku bertemu makhluk halus di sini, pada malam pertamaku di China.

Helaan napas lega keluar ketika aku mendapati sosok Kak Winwin yang sedang duduk di gazebo. Sebelah tangannya memegang sesuatu yang mengepul – kutebak itu minuman hangat – dan sebelah tangannya lagi melambai, memanggilku untuk mendekat. Sudut bibirku terangkat. Dengan langkah riang aku menghampirinya.

“Tidak bisa tidur?” tanyanya sambil menyodorkan segelas minuman yang dari aromanya dapat kupastikan adalah cokelat panas.

Kutiup permukaan cokelat panas itu, seraya kepalaku mengangguk.

“Kenapa? Belum terbiasa dengan suasananya, ya?”

Lagi-lagi bola kepalaku naik turun.

Kak Winwin melingkarkan lengannya di pundakku. Senyumku mengembang, seraya aku mulai menyadari satu hal: aku menyukai sentuhan tangan Kak Winwin.

Kami menghabiskan waktu dengan membahas banyak hal, mulai dari kehidupanku di Korea, berbagai kebiasaan di negeri tirai bambu yang baru aku ketahui, hingga banyaknya bintang di langit. Cokelat panas dalam gelas kami berdua sudah lama habis, menyisakan noda cokelat di bagian dasarnya, namun obrolan kami tak kunjung selesai.

“Go Yi Seul,” panggilnya memecah keheningan yang menyelimuti setelah sebelumnya kami membahas tentang sinar kunang-kunang. “Mau kuberi tahu sesuatu?”

Aku memberikan tatapan penasaran. “Tentang apa, kak?”

“Kamu tahu kan kalau papa mewariskan seluruh hartanya untuk kedua anaknya?”

Apa firasatku saja yang berkata demikian atau memang nada bicara Kak Winwin mulai terasa aneh? Serasa ada yang janggal. Kak Winwin seolah tak lagi berkata dengan lepas layaknya waktu-waktu tadi, bagai ada yang ia sembunyikan di balik kata-katanya. Seketika bagiku Kak Winwin berubah menjadi orang yang misterius. Tapi tak ayal aku mengangguk.

“Memangnya kenapa, kak?”

Kak Winwin tak langsung menjawab. Ia tampak seperti sedang merogoh sesuatu, hendak mengambil sesuatu yang sayangnya tak dapat kulihat karena kurangnya pencahayaan. Baru saja aku akan bertanya apa yang ia cari dan–

ZEP!

Ada suatu benda yang ditusukkan ke pinggangku. Kurasakan dinginnya logam yang merobek kulitku. Rasa ngilu seketika menjalar ke seluruh tubuh. Jangan lupakan rasanya sensasi darah segar yang mengalir keluar dari badan.

Tak tahan, kucengkram erat lengan Kak Winwin yang rupanya masih menusukkan pisaunya pada pinggangku. Meski dengan cahaya yang minim, aku dapat menangkap senyum yang terukir di bibirnya. Bukan senyum tulus menyenangkan seperti tadi, senyum ini lebih dapat diartikan sebagai senyum puas yang bengis.

“Kak….” bisikku parau. Kurasakan perlahan cengkramanku melemah. Ragaku bagaikan setengah melayang dan setengah masih bertahan. Susah payah aku mencoba melontarkan satu pertanyaan di sela-sela ringisan rasa sakitku.

“Kenapa…. kakak… melakukan ini?”

Kak Winwin kembali menggunakan tangannya untuk mengelus puncak kepalaku, lalu turun ke wajah ovalku. Demi seluruh koleksi jam tangan Swiss yang papa punya, aku menarik kembali kata-kataku tentang bagaimana aku menyukai sentuhannya. Sekarang sentuhannya terasa memuakkan, menjijikkan, dan mampu membuat tubuhku gemetar.

Kak Winwin menatapku dalam-dalam, bagai ingin menelanku bulat-bulat. Perlahan, ia mendekatkan wajahnya kepadaku. Aku menutup mata, benci melihat tampangnya.

Rupanya Kak Winwin hendak membisikkan sesuatu padaku, kata-kata terakhir yang berhasil pendengaranku tangkap sebelum kesadaranku hilang sepenuhnya.

.

“Kalau kau mati, semua warisan papa akan jatuh ke tanganku, ya kan?”

END

 

A/N
Hallo, kali kedua aku kirim fanfiction ke sini… Maafkan kalau ada typo atau semacamnya, ya 🙂

Anyway, mind to review? 🙂

© 2016 Gecee’s Story
(https://gcchristina.wordpress.com/)

Advertisements

8 thoughts on “[NCTFFI Freelance] Step Brother (Ficlet)

  1. HAI GEECE TERIMA KASIH JUGA SUDAH MENGGUNAKAN MOOD BOARDNYAAA
    TAPI TAPI
    MAS WINWIN
    SAIKONYA NAKUTIN JUGA YA
    AKU BACANYA KAGET /Dipuy lebay/
    huaaah ini keren banget Geece aku nda bohongg
    Aku suka storylinenyaaa
    Ditunggu karya selanjutnya dan kalo butuh mood board silakan hubungi Dipuy hihi:3

    Like

    • SAMA-SAMA DYV DIRIKU JATUH CINTA SAMA MOODBOARDMUUUU ❤ ❤ ❤

      wakakaka… aku membayangkan mas ganteng winwin jadi saiko di sini gara-gara harta ahahahaha… ah, ini msh belum ada apa2nya dyv wkwkwkwk anyway makasih utk pujiannya…

      pasti.. daku pasti main ke blogmu lagi kok wakakak tunggu saja rusuhan dariku yaaaaa… 😀

      Liked by 1 person

  2. KAK GECEEEEEEEEE ASLI AKU BACANYA PENUH DENGAN RASA PENASARAN DAN DALEM HATI BILANG “anjay ini mau ngapain nih….aku ga percaya kalo winwin beneran baik…..pasti winwin jahat….” DAN TERNYATA…….

    Damn true!

    Aku suka banget sama siblings ini, gimana si winwin masang watak dusta yang sebenernya pengen ngabisin si adik tirinya…………..ah sudahlah……don mau nggelinding……

    Keep writing kak! ❤ ❤

    Like

    • wakakakakkaaka… everybody loves plot twist, right? waahahahahaha…
      jujur ya don, entah kenapa seneng banget aku di sini bisa buat winwin jadi jahat /lempar aku don lempar aku/

      karena harta membutakan segalanya, termasuk membuat dong si cheng yang unyu unyu manis pun bisa main pisau tusuk tusuk bunuh bunuh

      silahkan menggelinding dek… eheheheeh 😀 makasih loh yaaaa 🙂

      Liked by 1 person

  3. Geceeee aduhh kelakuan nih anakk satu…
    Kasian amat si winwin dijdiin kriminall hahahahahaha

    Sabar yahh Seul, hariii pertamaa di Chinaaa fufufufufufu, sekaligus harii terakhir di dunia #kalau emg smpe meninggal# fufufufuufufuu…..

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s