[NCTFFI Freelance] Back to December (Oneshot)

Back to December fix

thanasa presented

Back to December

Starring by Red Velvet’s Kim Yerim and NCT’s Jung Jaehyun Genres Romance,Angst,Fluff Duration Oneshot Rating Teen

Disclaimer Story is absolutely mine. The entire casting is the property of their respective agencies, I just have a plot. This is not perpect story and there’s typo everywhere hehehe. Hope you’ll be enjoy while reading this. DON’T BE A PLAGIATOR.

 “Kisah cintaku hancur. Aku memang bodoh, sangat bodoh.

Tuhan, bisakah Kau mengabulkan permintaanku? Untuk kali ini saja, aku mohon.”

-o0o-

 

Aku masih meringkuk ditempat tidurku dengan ditemani tissue-tissue yang berserakan diseluruh kamarku. Aku tidak habis fikir, Hansol oppa benar-benar tega padaku. Ia berkencan diam-diam dengan gadis lain dibelakangku. Siapa namanya? Koeun, Souen, Bouen. Ahh, molla

Ia benar-benar membuat hatiku sakit.

Tunggu, aku mendengar suara pintu kamarku berderit, aku mengintip sesaat dibalik selimut tebal tempatku bersembunyi saat ini, sekedar penasaran siapa orang yang berani masuk kamarku tanpa mengetuk pintu. Sedetik kemudian, seseorang mengibaskan selimut yang menutupi seluruh tubuhku, aku sontak menutup kedua mataku karena cahaya lampu kamarku yang begitu menyilaukan,

Ireona yerim-ah… mau sampai kapan kau meringkuk seperti orang bodoh begitu, huh?”

Son Wendy. Ia adalah sepupu terbaikku. Selain karena ia seumuran denganku, kami sudah bersama-sama sedari kecil. Sehingga saat kami sudah beranjak remaja seperti sekarang ia juga sekaligus menjadi seorang sahabat terbaikku. Tidak ada yang lebih baik dari keluarga bukan? Itulah kenapa orang bilang darah itu ‘kental’ kekekekee.

Shireo! Jangan menggangguku… aku benar-benar tidak bersemangat wendy-ah.” Ia segera mengambil tempat disisi ranjangku, aku berusaha menggeliat dari tempat tidurku sambil menarik kembali selimut yang tadi dihempaskan oleh Wendy.

“Haishhh, sudah kubilang aku tidak mau punya sepupu yang memalukan.” ia benar-benar menarik selimut itu dan melemparkannya hingga jatuh jauh dari tempat tidurku.

Wae,wae,wae…??!!!” aku benar-benar frustasi. Aku mengacak rambutku –yang memang sudah tidak rapih, seraya menendang-nendang kedua kaki ku kencang- kencang, tanda bahwa aku sedang ‘mengamuk’.

Melihat aksiku bukannya simpati, Wendy malah terbahak keras, sontak aku merengut. Rajukanku tidak berhasil saudara-saudara. Ia menunduk menarik sesuatu dari bawah, terlihat kantung plastik biru muda, dan ia melemparkan senyum sumringahnya padaku,

“Kau yakin masih merengut jika melihat ini?”

Patbingsuu.

Luar biasa wendy memang sepupu sekaligus sahabat terbaikku. Hei aku pecinta patbingsu, sangat suka. Tidak ada yang mengalahkan cita rasa dari es tersebut di lidahku.

“Kau dapat ini darimana? Di musim dingin seperti ini?” jujur saja aku masih takjub dengan perlakuan sepupuku satu ini, mendengar ucapanku lantas Wendy tersenyum bangga.

“Apa sih yang tidak bisa dilakukan seorang Son Wendy?!”

“Cih, kutarik kembali kata-kataku.”

“Ya sudah, kuambil lagi patbingsu nya.” Sontak aku menarik kembali plastik biru tersebut ke pelukanku sembari melancarkan aegyo andalanku padanya,

“Kan sudah diberikan padaku. Kau nanti kena sial kalau mengambilnya kembali.”

“Halah mitos.” Ucapnya seraya mengibaskan telapak tangannya keudara, “Ya sudah, tunggu apa lagi? Cepat buka, lalu kita makan bersama.” Aku mengerutkan kening mendengar pernyataannya baru saja.

“Apa katamu? Kita?” Wendy mengangguk, aku mendengus, “Ini milikku. Patbingsu ini seluruhnya kepunyaanku, kan kau sudah memberinya. Enak saja mau bagi-bagi.” maaf bukannya aku jahat tapi untuk urusan satu ini, tidak akan ada yang mengalahkan keinginanku, kuberitahu sedikit… aku ini seorang yang egois, dan aku yakin sepupuku satu ini sudah sangat mengetahui watak ku dengan baik.

Wendy hanya menghela nafas dan memberikanku tatapan –terserah kau saja– sambil beranjak dari tempat tidurku menuju kedepan cermin. Aku melongok mencari-cari sesuatu diatas tempat tidurku.

“Kau cari apa?” tanya wendy yang memandangku lewat pantulan tubuhku yang tergambar jelas dicermin.

“Ponselku.” Ia membalikkan badannya dan berdecak menatapku,

“Itu di buffet. Angkat saja kotak tissue nya.” dan sesuai dengan perkataannya aku menemukan ponsel merah mudaku ditempat tersebut. Setelah membuka bungkus patbingsu milikku, aku mengangkatnya cukup tinggi agar sejajar dekat wajahku dan aku langsung mengambil gambar selfie untuk kuposting di akun SNS milikku.

Setelah itu aku sibuk menuliskan caption dibawah gambar yang tengah kuposting.

Siapa bilang semangkuk patbingsu hanya cocok di musim panas?! Kukasih tahu yah, patbingsu ini juga ampuh untuk menyembuhkan ‘patah hati’ kekekeeke.

.

.

Aku melihat seseorang langsung menyukai postingan SNS ku baru saja. Langsung saja kulihat siapa orang tersebut.

Jung Jaehyun.

Aku mengerutkan kening dan memiringkan kepalaku untuk berfikir, sepertinya aku tidak kenal dengan orang ini.

“Ada apa Yerim-ah? Hansol menghubungimu lagi?” aku menggelengkan kepala mendengar pertanyaan dari wendy,

Aniya. Bukan apa-apa.” Lalu aku pun menutup kembali akun SNS dan mematikan layar ponselku.

-o0o-

Sudah hampir satu bulan hubunganku dengan Hansol oppa kandas. Aku menjalani waktu-waktu kuliahku dengan biasa-biasa saja. Seperti saat ini, aku menunggu Min Ajusshi –supir kepercayaan ayahku, menjemput dikampus. Udara hari ini sangat dingin, salju turun dengan cukup lebat, kukeratkan mantel cokelat tebal yang sedang kukenakan dan menggosok-gosok kedua tanganku yang ditutupi oleh sarung tangan pastel kesayanganku.

Aku merogoh kantung mantelku dan mengambil ponselku. Aku membuka SNS kembali sambil menunggu Min Ajusshi datang menjemput. Kulihat icon message tanda seseorang mengirim direct message padaku.

Kubuka saja langsung, dan aku kembali menemukan sebuah nama yang cukup familier di ingatanku. Jung Jaehyun. Entahlah, akhir-akhir ini pemilik nama tersebut sepertinya aktif sekali meresponi semua postingan SNS yang kubuat. Baik status, foto, bahkan video konyol yang kubuat bersama wendy beberapa waktu lalu. Kubaca sebaris kalimat singkat yang ia kirimkan padaku.

 

Anyeong, namaku Jung Jaehyun. Boleh aku berkenalan denganmu?

Aku tergelak singkat. Hei, balita saja tahu kalau namamu itu Jung Jaehyun, benar-benar sikap basa-basi yang err, basi. Namun karena sunyinya tempat ku menunggu saat ini, dan belum adanya tanda-tanda kemunculan Min Ajusshi, ide iseng dipikiranku pun muncul. Aku meladeni konversasi singkat yang telah dimulai pria itu di media sosialku.

Dan tidak sampai lima menit kemudian dia sudah membalasan pesanku, Huwah… apa pria ini tidak ada kerjaan? Atau jangan-jangan, hmmm… aku berusaha untuk tidak percaya diri berlebihan, tapi jujur saja pikiranku mengatakan, mungkin… pria ini tertarik padaku. Entahlah.

.

.

.

.

Sudah genap tiga bulan ini aku menjalin komunikasi dengan Jung Jaehyun –pria yang belum pernah sekalipun kutemui secara langsung, lewat media sosial dan juga telepon. Yah, setelah satu bulan saling berbalas pesan lewat SNS ia meminta kontak pribadiku, tidak ada salahnya kan? Toh sepertinya ia pribadi yang menyenangkan. Dan hati nuraniku berkata ia bukanlah orang jahat.

Beberapa kali kami membuat rencana untuk bertemu tapi entah mengapa selalu gagal total. Entahlah, saat mendekati hari H kadang ada suatu hal yang sangat mendesak terjadi padaku, seperti contohnya adik kecilku Kim Yoojin yang tiba-tiba terserang demam dihari aku dan Jaehyun berjanji untuk bertemu, dan sialnya saat itu dirumah hanya ada aku dan Yoojin, mau tidak mau aku harus merawatnya bukan? Aku kan kakaknya.

Atau dengan Jaehyun yang tiba-tiba dikirim menjadi pemain cadangan pada olimpiade sepak bola tingkat regional, menggantikan seniornya yang terkena cedera lutut parah. Yah perlu ku informasikan, ternyata Jaehyun satu kampus denganku di Yongshim University, tapi kami berbeda jurusan. Ia calon guru yang bergabung aktif di klub sepak bola, sedangkan aku? Mahasiswi fakultas sosial dan ilmu pemerintahan yang bahkan… enggan untuk bergabung dengan ‘komunitas sosial’ teman-teman dikampusku, apalagi klub-klub kemahasiswaan.

Uhh, aku sangat tidak menyukainya. Lagipula untuk apa aku datang dan aktif bergabung dengan mereka? Pamanku adalah seorang senat di kampus tempatku menuntut ilmu saat ini, jadi kau bisa mengerti kan apa yang kumaksud tadi? Koneksi menentukan eksistensi kawan, kekekee.

Aku tidak perlu bersusah payah menjadi seorang Im Nayeon yang menjadi mahasiswa ‘aktif’ berlebih yang malah cenderung terlihat seperti babu para senior dikampus, agar orang-orang mengakui keberadaannya. Kalau padaku sih tidak ada satupun senior yang berani memerintah apalagi menyuruhku untuk melakukan hal-hal yang tidak berguna –seperti yang mereka lakukan pada Im Nayeon, mereka tidak mau kena ‘panggilan cinta’ dari Kim Min Soek –senat yang juga pamanku.

Daripada berkumpul dengan kelompok para aktivis , aku lebih memilih bergabung dalam sebuah geng, yeah sebenarnya tidak bisa dibilang geng seperti pada umumnya. Kami bukan wanita-wanita cantik yang suka membully kok, tapi jika ada orang yang mengesalkan seperti Song Jisoo, kami –aku dan gengku, tidak akan segan-segan ‘memburu’ orang itu, menyindir, mengintimidasi, dan tidak menganggap eksistensinya hingga ia memutuskan untuk pindah kampus. Malang. Tapi siapa suruh menjadi seseorang yang sombong dan menyebalkan?! Toh teman-teman seangkatan kami juga tidak ada yang menyukainya.

Oh iya, tadi aku sedang membicarakan geng ku, bukan?

Kami menamakan kelompok ini  the Gengs, terdengar konyol? Tentu saja tidak, pada kenyataannya kami adalah orang-orang yang keren. Aku dan ke-tujuh temanku yang lain entah mengapa bisa akrab dengan sendirinya sejak masa orientasi sampai sekarang. Sebenarnya pada awalnya aku hanya dekat dengan Lee Suhyun, gadis nyentrik yang tidak pernah bisa diam. Aku heran, kapan ia bisa berhenti berceloteh ini-itu bahkan mulutnya tidak pernah sekalipun berbusa. Meskipun begitu, Suhyun merupakan seorang pribadi yang supel dan menyenangkan buatku.

Dan yeah, sejak saat itu, aku, Suhyun, Kang Seulgi, Bae Joo Hyun, Park Sooyoung, Kim Daehyun, Kwon Eunbin, dan Jeon Somi entah mengapa sering berkumpul bersama, dan menjadi begitu akrab dengan sendirinya.

Selain Suhyun, ada lagi dua sahabat yang paling akrab denganku Kang Seulgi dan Park Sooyoung. Aku, Sooyoung, dan Suhyun lebih sering pergi bersama-sama, kami seperti kembar tiga –walaupun aku yang paling pendek diantara mereka berdua, bahkan saat Sooyoung diam-diam belajar mengendarai sepeda motor –karena ia menyukai seorang pria dari klub balap liar, aku dan suhyun diajaknya untuk pergi dengan sepeda motor butut pinjamannya tersebut. Alhasil kami bertiga benar-benar terlihat konyol dan menggelikan saat bergumul dalam satu sepeda motor kecil berwarna perak tersebut.

Berbeda dengan Sooyoung, Seulgi, sahabatku yang memiliki garis wajah sinis dan menakutkan adalah seorang partner yang hebat dalam menggunjingkan orang atau berimajinasi secara liar kekekeke. Yah dia memang tipikal orang yang blak-blakan jika tidak menyukai sesuatu. Dan aku adalah teman yang selaras dengannya dalam hal gunjing-meggunjing.

Lamunanku tiba-tiba terganggu karena mendengar suara bising yang berasal dari ponselku, ada panggilan masuk dan itu dari Jung Jaehyun.

Yeoboseyeo. Ah, nde Jaehyun-ah

.

.

Aku masih tidak bisa mengatur ritme detak jantunku. Aku masih terdiam seperti patung diranjangku saat ini. Bagaimana tidak? Jaehyun mengajakku berkencan dan menjadi kekasihnya. Yah, walaupun memang hanya melalui pembicaraan di telepon.

Belakangan ini, hari-hariku memang sudah mulai dipenuhi oleh Jaehyun, ketika kami mengobrol lewat telepon aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengobrol dengannya. Sudah kukatakan kan? Ia pribadi yang menyenangkan, ia begitu sabar menghadapi perilaku ku yang kadang egois, dan merajuk seperti bocah.

Ia juga memberikan pengaruh positif buatku. Maksudku, sebenarnya beberapa kali aku, Seulgi, dan Suhyun suka membolos beberapa mata kuliah dikampus –apalagi yang diajarkan oleh dosen yang menyebalkan, yah tidak ada alasan spesifik memang, kami ingin saja membolos.

Kadang kami bermain seharian di taman dekat sungai Han, bersepeda, makan ramyun, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang lebih menarik daripada duduk manis di ruang kuliah sunyi senyap dan penuh dengan celotehan dosen. Dan semenjak kehadiran Jaehyun, ia memberiku semangat untuk rajin kuliah dan tidak lagi membolos. Kutambahkan satu lagi, ia seorang pria yang cukup bijaksana.

Wajar sebenarnya, karena walau bagaimanapun ia nanti akan menjadi seorang tenaga pengajar. Mungkin menghadapiku sama saja seperti belajar mengendalikan murid-murid malas dan butuh bimbingan yang akan ditemukannya di masa depan, kelak. Selain itu ia juga kerap memberikan petuah agar aku menjadi seorang wanita yang mandiri, dan tidak manja dirumah. Wendy saja pernah kubuat melongo saat tiba-tiba suatu hari diakhir pekan, aku bangun pagi-pagi dan memasak soup kimchi serta membereskan dapur secara sukarela –itu merupakan sebuah pemandangan langka buat keluargaku, bahkan ia sampai memeriksa suhu tubuhku dengan menempelkan telapak tangan luarnya ke dahiku.

Bisa dibilang ini semua terjadi karena Jung Jaehyun.

Ia benar-benar sudah menjelma menjadi sebuah virus yang menguasaiku dan membuatku seolah berusaha mengikuti segala keinginannya. Apakah karena aku menyukainya? Entahlah sebelumnya aku tidak yakin akan semua itu, tapi setelah mendengar pernyataan cintanya barusan yang sukses membuat jantungku berdetak liar, dan rasa geli diperutku seolah berjuta kupu-kupu terbang disana -bahkan tanpa bertatap muka langsung, aku bisa menarik kesimpulan. Yah kau memang sudah jatuh hati pada Jung Jaehyun, Kim Yerim.

-o0o-

Tanggal 8, Bulan 8, tahun 2008. Angka yang bagus bukan? Itu hari dimana aku dan Jaehyun resmi menjadi sepasang kekasih. Dan walaupun sudah menjalin hubungan resmi selama kurang lebih tiga minggu belakangan ini, aku baru akan bertemu dengannya hari ini, ia akan menjemputku untuk pergi kekampus bersama. Aku udah memberitahunya alamatku dengan jelas tapi sudah lebih dari satu jam ia tidak juga menunjukkan batang hidungnya.

Rencananya aku akan mengenalkannya langsung pada Wendy sepupuku. Aku memang menyuruhnya untuk datang ke apartement keluargaku, yah berhubung ayah dan ibuku sedang tugas keluar kota, serta Yoojin dan Yeseul –kedua adikku yang manis- sudah pergi kesekolah. Setidaknya ada Wendy yang menemaniku.

“Mana sih Jaehyun, kekasihmu yang kau bangga-banggakan itu?” ujar wendy tidak sabar,

“Sebentar lagi sampai kok. Mungkin dia sedikit tersesat.”

“Hey, rumahmu tidak terletak di pedalaman desa Yerim-ah. Orang bodoh juga bisa sampai ketempat ini kalau diberitahu alamatnya dengan jelas.” Aku hanya melirik wendy dengan malas, apa-apaan dia menyamakan Jaehyun ku dengan orang bodoh, wendy terlihat berpikir sambil mengusap-usap dagu, “Atau jangan-jangan pacarmu itu seorang penipu? Yerim-ah kau ha-”

“Jangan bicara yang tidak-tidak! Kalau kau keberatan menemaniku, ya sudah pergi kuliah saja sana.” Aku merengut dan melipat kedua tanganku didepan dada. Wendy seharusnya mengerti kalau akupun sebenarnya sangat gugup menanti kehadiran Jaehyun. Tapi dia malah mengomporiku dengan asumsi-asumsi yang sudah diluar batas –walaupun sebenarnya cukup masuk akal mengingat aku belum pernah sekalipun bertemu dengan Jaehyun.

Mian. Aku tidak bermaksud membuatmu kesal Yerim-ah.”

.

.

5 menit

10 menit

15 menit

Sudah hampir setengah jam jaehyun tidak juga muncul, telepon dariku pun tidak diangkatnya. Kali ini bukan hanya wendy yang gelisah, aku juga. Wendy sudah berjalan mondar-mandir sambil menggerutu bahwa sebentar lagi ia benar-benar harus berangkat kekampus, aku hanya menggigiti kuku jari secara asal mendengar celotehannya.

“Prof.Kang itu menakutkan Yerim-ah. Ia sangat tegas dan tidak mentolerir keterlambatan. Kalau sampai lima menit lagi kekasihmu tidak datang. Aku benar-benar harus pergi ke kampus meninggalkanmu disini. Mian.” Aku mengangguk pelan mendengar pernyataan sepupuku tersebut.

.

.

Sudah hampir sepuluh menit sejak Wendy benar-benar meninggalkan sendiri dirumah. Aku pun sudah bersiap-siap untuk berangkat pergi kekampus, menyerah dengan kegiatanku menunggu Jaehyun. Aku benar-benar marah dengannya. Sungguh. Aku baru saja akan mengambil tas kulit cokelatku dikamar saat kudengar ponselku berdering.

Dari Jaehyun.

Aku menggeram dan menarik nafas dalam-dalam bersiap untuk memberondonginya dengan ocehannya panjangku. Namun semuanya sia-sia dengan satu kalimat santai yang terlontar dari pria disebrang sana.

Aku sudah didepan apartemenmu. Bisa kau kebawah? Aku tidak tahu password flatmu,bukan?

 

Dan akupun segera berlari menuju pintu yang terletak disebelah utara ruang keluarga apartemenku.

.

.

Mian… aku benar-benar tidak tahu kalau motorku bermasalah jadi aku harus ke bengkel dahulu. Ponsel ku pun tertinggal di asrama, jadi aku harus kembali lagi mengambilnya baru kerumahmu.” Itu penjelasan terbaik yang bisa dikemukakan pria tampan –Jaehyun, yang ada dihadapanku.

“Setidaknya kau bisa memberiku kabar setelah mengambil ponsel. Aku benar-benar kesal. Tahu?”

Jeongmal mianhae. Kuakui itu kecerobohanku.” Ia memasang wajah memelasnya, Huh tidak kusangka pertemuan pertama kami harus diwarnai dengan konflik. Walaupun aku masih kesal, tapi melihat kesungguhannya meminta maaf aku sudah berniat untuk melupakan kekesalanku sampai akhirnya ia memandangku dengan tatapan dan senyuman yang penuh arti.

“Kenapa kau memandangku seperti itu?”

.

.

.

Ternyata ia mengajakku untuk membolos dan pergi berkencan. Hahaha, aku tidak menyangka bahwa ‘pria baik-baik’ sepertinya mau pergi membolos juga. Karena aku akan pergi naik motor sport miliknya ia menyuruhku untuk berganti pakaian yang lebih santai. Sebenarnya aku tidak terganggu sedikitpun dengan mini skirt dan kemeja yang kugunakan saat ini, tapi ia tetap bersikeras untuk menyuruhku ganti pakaian, akhirnya aku menyerah dan menyetujuinya.

Aku baru saja keluar dari kamarku dan melihatnya sedang serius memandangi figura-figura foto keluargaku. aku menghampirinya secara perlahan,

“Ayo berangkat.” sepertinya ucapanku tidak terlalu keras tapi ternyata itu sukses mengagetkan Jaehyun yang terlihat terlonjak saat aku mengajaknya bicara barusan. Jarak diantara kami tidak begitu jauh, ia spontanitas berbalik saat aku mengajaknya pergi tadi dan saat ini manik kami saling menatap dalam diam.

Ia memajukan langkahnya perlahan mendekatiku, aku bergerak kelain arah menjauhinya sampai akhirnya tersudut ditepian sofa maroon milikku.

“Ka…ka..kau mau apa Jaehyun-ah?”  ia memiringkan kepalanya dan tersenyum simpul, tanpa melepaskan tatapan matanya,

“Menciummu.”

Deg.

Hatiku mencelos. Sungguh, aku tidak siap dengan semua ini, tapi rasanya tubuhku terkunci ditempatku berdiri saat ini tidak berniat bergerak sedikitpun, jantungku memompa dua kali lebih cepat, dan aku yakin rona kemerahan sudah menjalar dipermukaan wajahku saat ini,

“Kau sudah pernah berciuman?” tanyanya kemudian tanpa merubah posisi kami,

“Eh?” aku membulatkan mataku mendengar pertanyaannya, “Umm… sejujurnya, aku belum pernah berciuman.” Aku menundukkan kepalaku perlahan, kalah oleh konfrontasi tatapan tajam matanya. Mendengar pernyataanku tiba-tiba Jaehyun berbalik badan dan menjauh dariku,

“Kalau begitu tidak usah.” Ucapnya kemudian sambil melangkah pergi menuju pintu rumahku.

Entah mengapa terbesit sedikit rasa kecewa saat ia melenggang pergi begitu saja meninggalku. Aku jadi menyesal mengapa pertanyaannya tadi tidak kujawab dengan sebuah kebohongan kecil.

Dasar pria aneh.

.

.

.

Kami akhirnya memutuskan pergi ke mall untuk menonton film, setelah itu kami pergi makan disalah satu tempat makanan cepat saji yang cukup terkenal diberbagai negara dengan hamburger sebagai salah satu menu sajian andalannya. Setelah mengisi amunisi perut masing-masing, kami memutuskan untuk berkeliling sejenak.

Jaehyun menggenggam tanganku erat seolah menandakan bahwa aku gadis miliknya yang tidak boleh diganggu oleh siapapun. Dan aku senang dengan perlakuannya ini. Kami masuk kedalam salah satu toko pakaian dan melihat couple tee yang dikenakan oleh kedua manekin promosi di toko tersebut, Jaehyun terlihat tertarik dan memandanginya,

“Beli baju ini yuk, biar kita pasangan.” Ujarnya sembari mengalihkan pandangannya memandangku, aku bergidik memandang pakaian itu dan wajahnya bergantian,

“Tidak ah. Kita akan terlihat seperti pendukung partai memakai baju yang sama seperti itu.” Jaehyun mendengus mendengar perkataanku yang bertepatan dengan datangnya seorang pramuniaga wanita kepada kami,

“Permisi tuan dan nona. Ada yang bisa saya bantu?” ujarnya ramah, belum sempat aku menjawab pertanyaan wanita tersebut, Jaehyun sudah melontarkan pertanyaannya mendahuluiku.

Couple tee ini diskon tidak?”

Astaga aku benar-benar tidak habis pikir. Bisa-bisanya seorang pria melontarkan pertanyaan seperti itu, aku mengusap –usap dahiku perlahan dan tersenyum awkward pada pramuniaga yang sedang melayani kami,

“Maaf tuan. Ini new item jadi tidak ada diskon.” Pramuniaga tersebut tersenyum ramah seraya menjawab pertanyaan yang kekasihku lontarkan. Jaehyun terlihat mengangguk-angguk mendengar penjelasan pramuniaga tersebut.

“Baiklah. Kalau begitu kami akan kembali lagi untuk membelinya saat sudah diskon. Terimakasih.” Aku melongo mendengar ucapannya barusan, ia lalu menarik tanganku dengan santai untuk pergi dari toko tersebut, untungnya aku masih sempat membungkuk singkat pada sang pramuniaga saat hendak mengikuti jaehyun meninggalkan toko tersebut.

Aku benar-benar kehabisan kata-kata melihat kelakuan pria yang sudah menjadi kekasihku ini.

-o0o-

Menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih nyatanya tidak seindah saat masa-masa pendekatan. Kau tahu kenapa? Karena sekarang Jaehyun sudah mulai berani mengabaikan pesan atau panggilan teleponku. Alasannya klise, karena tugas kuliah yang menumpuk dan kegiatan di klub bola nya. Hello, jadi karena itu dia berani mengabaikan kan ku?

Jaehyun sekarang benar-benar terlihat mirip dengan kelakuan Wendy sepupuku yang selalu berangkat pagi-pagi buta dan pulang saat matahari sudah terbenam, ia juga selalu bercerita bahwa tugas dan laporan praktikumnya begitu banyak –wendy merupakan mahasiswi jurusan science kimia– dan menyiksa. Bahkan saat satu hari ia menginap di rumahku dan bangun terlambat, aku membantu menuliskan beberapa draft laporan praktikum kimia anorganik miliknya, saat ia buru-buru pergi mandi karena hampir terlambat. Aku bingung, memangnya kimia itu terdiri dari berapa bagian sih?!

Jangan tanya bagaimana dengan kuliahku, tugas ada, tapi mudah diselesaikan tentunya tidak seperti Wendy dan Jaehyun –yang terlihat kewalahan karena tugas. Aku jadi berpikir kembali, sebenarnya ini terjadi karena dosen fakultas mereka yang berlebihan atau malah dosen fakultasku yang kelewat malas. Entahlah, yang penting aku tidak harus repot dan merasa pusing seperti mereka berdua.

Tapi tetap saja, aku sering merutuki dosen-dosen pengajar Jaehyun. Karena mereka, kekasihku sering mengabaikanku dan jarang berkencan denganku seperti saat kami baru menjadi sepasang kekasih. Seperti sekarang ini,  jam sudah menunjukkan pukul 8 malam dan ia sekalipun belum menghubungiku dan memberikan ku kabar. Mengirim pesan pun tidak.

Aku benar-benar kesal. Kuambil ponselku, ku buka chat page dan mengirim pesan padanya.

Kalau kau tidak punya waktu sedikitpun, jangan berani mengajak seorang gadis menjalin hubungan!

Kuklik tombol send. Dan ternyata pesan itu menunjukkan icon jam pasir, kucoba menelponnya dan yang menyambutku hanya suara operator wanita yang mengatakan bahwa nomor yang anda tuju berada diluar jangkauan. Shit. Aku melemparkan ponselku asal ke atas ranjangku. Aku menggeram kesal.

Kau benar-benar menyebalkan Jung Jaehyun.

.

.

.

Aku membuka mataku secara perlahan, sinar matahari sudah mulai menyembul dibalik tirai kamar tidurku. Aku beranjak dari ranjang dan berjalan malas kearah jendela, kusibakkan tirai kamar tidurku yang berwarna pastel, ternyata hari memang sudah siang. Lantas aku kembali keatas ranjang berniat kembali bermlasan, karena hari ini aku tidak ada kuliah pagi, kulirik ponsel yang kuletakkan diatas buffet kecil disamping ranjangku.

Akhirnya aku memutuskan untuk mengambilnya. Ada sebuah pesan masuk. Aku mengusap –usap mataku berharap penglihatanku akan menjadi lebih jelas dan fokus. Dan ternyata itu pesan balasan dari kekasihku.

Good morning chagiya. Mian, semalam aku sudah tertidur. Aku sedang terkena sedikit flu dan demam, jadi semalam setelah minum obat aku tertidur. Selamat beraktivitas, love you.

 

Cih, pintar sekali ia merayuku. Ia tidak sedikitpun meresponi pesan yang kukirimkan padanya semalam. Dia memanggilku apa? Chagiya? Yah, walaupun memang aku kesal dengan sikap acuhnya belakangan ini, nyatanya panggilan singkat itu sukses membuatku tersenyum sendiri dipagi hari seperti ini. Walaupun Jaehyun sangat menyebalkan dan berbeda dari mantan-mantan kekasihku terdahulu, pria ini selalu sukses menenangkan dan meredam amarahku karena sikapnya.

Tapi tunggu sebentar, apa tadi dia bilang? Dia flu dan demam? Aku membelalakan mataku dan beranjak dari tempat tidurku dengan cepat. Aku bergerak mondar-mandir tidak beraturan dan menggigiti kuku jariku –berpikir.

Wendy.

Ah iya, sepupuku itu selalu sigap disegala kondisi apapun, bukan. Aku pun kembali mengambil ponsel dan mencoba menghubunginya.

Yeoboseyeo… Wendy-ah kau sedang berada dimana? Bisakah kau membantuku?”

.

.

.

.

Dua orang wanita terlihat berdiri dengan wajah bingung didepan asrama pria milik Yongshim University. Si wanita yang bertubuh lebih pendek meremas-remas kantung plastik putih yang ada digenggamannya. Sedangkan yang lebih tinggi mengetuk-ngetukkan kedua kakinya ditempat ia berpijak saat ini.

“Jadi, kau tahu tidak kamar Jaehyun berada dibangunan yang mana?” si wanita bertubuh pendek menggeleng pelan sambil menunduk, Wendy mendengus kesal hingga beberapa helai poni nya ikut berterbangan.

Haissh jinjja. Lalu, kau mau kita berdua tetap berdiri seperti orang idiot ditempat ini Yerim-ah?” ujarnya kembali. Yerim hanya terlihat meringis dan mengusap-usap tengkuknya, “Sudahlah, aku akan kedalam dan bertanya dengan siapapun letak kamar Jung Jaehyun. Kau mau ikut denganku atau atau menunggu disini?”

“Ikut. Aku tidak mau disini sendiri.” Yerim menggenggam lengan Wendy secara tiba-tiba. Dan memandang sekelilingnya dengan pandangan horror yang begitu di dramatisir.

Geurae. Oh iya, angkatan berapa dan apa jurusan yang Jaehyun ambil?” tanya wendy kemudian.

“Angkatan 78, Pendidikan olahraga.”

Mereka pun pergi menuju gedung asrama tersebut dan hilang dibalik pintu kaca otomatis yang berada disana.

.

.

Jaehyun dan Yerim berada di rooftop saat ini saling menatap dalam diam. Oh ya, jangan lupakan Wendy –sang pahlawan, yang juga berada disana namun mengambil jarak agak jauh dari mereka berdua. Walaupun hal itu tidak lantas membuat wendy untuk tidak melihat seluruh gerak-gerik yang mereka lakukan saat ini. Seperti saling menendang pelan tungkai masing-masing contohnya? Ya itulah yang saat ini Jaehyun dan Yerim lakukan. Seperti orang bodoh. Wendy pun memutar kedua bola matanya malas dan membalikkan tubuhnya menatap pemandangan sekitar gedung asrama pria Yongshim yang didominasi beberapa pohon maple dan tumbuhan lainnya.

“Ini untukmu…” ujar Yerim sambil menyodorkan kantung plastik putih yang sedari tadi dipegangnya.

“Apa ini?” jaehyun mencoba melihat isi yang ada dikantung tersebut,

“Itu obat flu, demam, dan suplemen gingseng merah. Untukmu. Kau harus menghabiskannya.” Jahyun terlihat diam tanpa ekspresi, memandang lekat kedua manik kekasihnya. Lalu tersenyum, ia menarik Yerim jatuh dalam dada bidangnya. Ia mengusap surai cokelat Yerim dengan lembut.

Gumawo yerim-ah. Saranghae…”

-o0o-

Kali ini Jaehyun sudah benar-benar keterlaluan. Setelah hilang tiga hari tanpa kabar sedikitpun, sekarang dengan tanpa berdosa ia mengirimiku pesan bahwa ia sedang berada di Busan karena tugas project salah satu mata kuliah yang sedang ia ambil. Busan itu bukan tempat yang dekat, bukan? Dia pergi dari ke pusat perbelanjaan Myeongdong saja aku harus tahu, apalagi ke daerah sejauh Busan.

Ia bahkan baru menghubungiku setelah berada disana, catat ini. Setelah sampai di Busan. Aku benar-benar marah dengan kelakuannya kali ini,

“Masih tidak ada kabar?” wendy yang datang tiba-tiba sambil membawa toples berisikan kacang telur, membuyarkan lamunanku.

“Sudah. Nih, kau baca sendiri.” Ujarku sambil menyodorkan ponsel kepadanya, wendy terlihat membaca dengan serius,

Daebak  Busan? enak sekali, kalau saja jurusanku juga memberikan tugas sampai keluar kota seperti itu… kan bisa sekaligus liburan.” Aku memutar kedua bola mataku malas mendengar celotehan sepupuku,

“Lihatlah kelakuannya, benar-benar keterlaluan. Dia baru memberiku kabar setelah sampai disana wen, coba kau bayangkan.” Wendy hanya diam mendengar keluhanku, ia mengerutkan dahinya seperti berpikir,

“Mungkin ada suatu hal yang membuatnya tidak bisa memberimu kabar.” Aku menyeringai mendengar pendapat klise yang dilontarkan Wendy.

“Basi. Mungkin dia memang sudah tidak menganggapku, dulu dia tidak pernah memperlakukanku seperti ini kok.” Wendy menepuk-nepuk pundakku pelan,

“Sabar yerim-ah. Kau bisa bicara baik-baik dengannya setelah ia pulang dari Busan.”

.

.

.

Ini hari kedua Jaehyun berada di Busan dan aku melihat Jaehyun memposting beberapa foto di akun SNS nya, dia benar-benar membuatku ‘tertawa’, bisa-bisanya ia aktif di media sosial tanpa menghubungiku sama sekali, aku ini kekasihnya. Aku benar-benar emosi, akan kubuat perhitungan dengannya setelah tiba di Seoul. Habis kau ditanganku, Jung Jaehyun!

.

.

.

Yerim dan Jaehyun terlihat duduk berhadapan didalam sebuah café yang tidak begitu ramai pengunjung. Yerim memandang tajam kearah Jaehyun, yang dipandang hanya bersikap tenang seolah-olah sedang tidak terjadi apa-apa.

Terjadi perdebatan alot antara mereka berdua, dimana Yerim menyerang  Jaehyun dengan celotehannya secara bertubi-tubi. Sampai akhirnya Jaehyun menyerah dan menghela nafas panjang menatap nanar ke arah Yerim,

“Lalu kau maunya seperti apa Yerim-ah?”

“Kenapa kau tanyakan padaku. Harusnya kau yang berpikir! Kau yang cari masalah kok.” Yeri membuang pandangannya memandang keluar jendela sambil mengetuk-ngetuk meja perlahan,

“Kan aku sudah selalu menjelaskannya padamu. Aku benar-benar sibuk beberapa bulan belakangan ini. Tugasku menumpuk, dan aku jarang memegang ponsel.”

“Alasan! Sebenarnya kau anggap aku ini apa Jaehyun-ah?” Ada jeda sejenak sampai Jaehyun membuka suara,

“Apa sebenarnya jawaban yang ingin kau dengan Yerim-ah?”

“Kenapa tidak jawab saja? Pertanyaan dijawab dengan pertanyaan itu tidak etis, kau tahu?” Jaehyun terlihat diam, menyatukan edua telapak tangannya lantas meletakkannya diatas meja, tubuhnya sedikit maju, mendekat kearah Yerim.

“Kutanyakan sekali lagi, daripada kau terus merajuk tidak jelas. Hal apa yang ingin kau dengar dariku, dan apa yang sebenarnya kau inginkan?” Jaehyun memandang Yerim intens, Yerim terlihat menghela nafas kasar.

“Aku kesal melihat kelakuanmu belakangan ini. Aku tidak suka diacuhkan. Aku benci kau tidak punya waktu untukku bahkan untuk menghubungiku pun susah. Aku jadi berpikir-” Yerim menarik nafas dan memberikan jeda sebelum melanjutkan perkataannya, Jaehyun masih menatapnya dalam diam tidak sedikitpun mengurangi fokus pada setiap kata yang dilontarkan kekasihnya, “Menurutku… lebih baik kita break saja.” Tukasnya kemudian. Jaehyun terlihat menghela nafas panjang mendengar pernyataan kekasihnya. Ia kembali memundurkan tubuhnya bersandar pada badan kursi yang ia duduki.

Break itu pernyataan putus secara insplisit. Daripada mengatakan untuk break, aku lebih baik memilih putus sebagai kata yang lebih tepat.” Yerim terlihat sedikit kaget dengan pernyataan Jaehyun. Namun ia mengatur kembali emosinya dan berusaha bersikap setenang mungkin,

“Kalau memang itu yang kau mau ya sudah. Kita putus.”

“Aku tidak bilang ingin putus denganmu. Aku hanya menyampaikan pendapatku tentang break yang kau utarakan tadi, Yerim-ah.”

“Ya, kau memang benar. Lebih baik putus daripada break, bukan? Kupikir memang lebih baik kita sendiri dan mengintropeksi diri masing-masing.”

“Lalu, kau yakin ingin putus?” Setelah terdiam sejenak, Yerim pun mengangguk mantap dihadapan Jaehyun.

“Baiklah jika itu yang kau mau.” manik mereka masih saling bertemu, “Kuharap kita tetap bisa menjadi teman.”

.

.

Aku dan Jaehyun beranjak untuk pulang setelah memutuskan untuk berpisah. Ia menawarkanku tumpangan hingga sampai ke rumah, tapi aku menolak. Aku ingin sendiri. Perpisahan ini memang ideku, tapi entah mengapa saat ini aku merasa gamang, dan ada satu bagian dalam tubuhku terasa begitu sakit.

Aku berjalan dengan langkah gontai, ini baru pertengahan bulan Desember. Dan perlahan aku melihat butiran halus salju yang jatuh berguguran. Salju pertama ditahun ini, dan dihari yang sama hubunganku dengan Jung Jaehyun kandas. Menyedihkan.

Aku menghentikan langkahku dan tertawa sendiri, berusaha menggenggam butiran salju yang turun secara perlahan. Aku tertawa terbahak, namun kurasakan sebuah cairan hangat mengalir di pipiku. Aku melihat beberapa orang memperhatikanku sambil berbisik, aku tidak mempedulikan mereka. Mereka tidak tahu apa yang sedang kurasakan saat ini.

-o0o-

8 Years later…

Aku memandang jengah tumpukan kertas yang ada diatas meja kerja ku. Saat ini aku sudah bekerja menjadi salah satu staff  lembaga pemerintahan yang bergerak dipelayanan masyarakat. Aku melirik jam dinding kantor, tiga menit lagi waktunya istirahat, aku pun tersenyum.

Disaat-saat pekerjaan yang menumpuk seperti ini aku lebih suka memilih Rooftop sebagai tempatku menyantap makan siang. Agar bisa kembali mengerjakan pekerjaanku lebih cepat. Selain itu aku memiliki sepenggal kenangan manis tentang rooftop. Yah, rooftop mengingatkanku pada sosok seorang pria yang pernah menjadi kekasihku dulu, Jung Jaehyun. Dan sialnya aku semakin mencintanya justru setelah berpisah dengannya.

Kami benar-benar seperti orang asing setelah berpisah, bukan berarti kami tidak pernah berkomunikasi sekalipun, pernah, tapi hanya beberapa kali. Itupun hanya sekedar say hello, atau percakapan singkat lewat media sosial.

Bahkan sudah tiga tahun belakangan ia tidak pernah mengucapkan selamat, dihari ulang tahunku –ditahun-tahun sebelumnya ia selalu memberikan ucapan. Aku benar- benar merasa kehilangannya, aku yeah… merindukannya.

Sebenarnya aku sudah beberapa kali menjalin hubungan dengan pria. Tapi menurutku tidak ada yang ‘sebaik’ Jaehyun. Sekarang aku benar-benar menyadari bahwa kandasnya hubunganku dengannya adalah semata-mata karena kebodohanku. Tapi aku juga tidak berniat sedikitpun untuk memulai mendekatinya kembali, bagiku, harga diri merupakan sebuah harga mati yang harus kupertahankan. Dan wanita sebagai pelopor untuk memulai suatu hubungan, itu bukan gayaku.

Terserah kalau menurut beberapa orang aku sangatlah kolot –bahkan wendy sekalipun menganggapku seperti itu. Lagipula, satu tahun belakangan ini aku benar-benar kehilangan jejak seorang Jung Jaehyun. Ia tidak pernah aktif dimedia sosial, dan ponselku yang menyimpan kontaknya hilang saat aku bertugas di Hongkong tahun lalu.

Yah, mungkin aku memang tidak berjodoh dengannya. Saat ini aku hanya berharap menemukan seorang pria yang tepat untukku kelak. Aku bukanlah lagi seorang Kim Yerim yang egois, kekanakan, manja, dan keras kepala. Aku sudah berubah. Sungguh. Dua orang mantan kekasihku setelah Jaehyun bahkan berumur lebih muda dariku dan aku bersikap seperti seorang kekasih sekaligus noona bagi mereka. Kadang saat aku termenung memikirkan Jaehyun, aku berdoa meminta Tuhan untuk mengembalikan beberapa waktu yang kulewati dengan buruk di masa lalu.

Tapi itu tidak mungkin bukan?

Aku benar-benar harus belajar merelakan Jung Jaehyun, sebagai salah satu bagian terindah di masa laluku.

.

.

Aku kembali berkutat dengan dokumen-dokumen yang harus kukerjakan. Ku ambil salah satu dokumen berwarna biru dan membaca beberapa lembar kertas didalamnya sekilas. Lalu manik mataku terhenti saat menemukan sebuah nama yang tidak asing.

Viceprincipal   : Jung Jaehyun.

Aku melebarkan kedua bola mataku, memandang cetakan huruf yang ada dilembar kertas tersebut. Memang benar, itu tertulis nama Jung Jaehyun. Aku berpikir, mungkinkah orang ini sama dengan seorang Jung Jaehyun yang pernah menjadi kekasihku delapan tahun yang lalu. Entahlah. Tetapi tidak ada salahnya untuk berharap bukan?!

Fin

Anyeong… salam kenal buat kalian semua. #senyummanisalakyungsoo

Well ini FF pertamaku ditempat ini semoga kalian suka. Oh iya, selain itu semoga kamu suka sama pairing yang aku usung yaaa… kalo gaksuka juga gpp sih #asaljganbashing hehehehe.

Kubocorkan satu fakta penting, FF ini based on TRUE STORY –kaget gak? Enggak ya? Yaudah #plak. Yah munculnya ide untuk mengangkat FF ini dimulai karena ‘permintaan’ seseorang (kalo udah baca jgn ngamuk2 sama gue ditelepon yah :D)

Well, buat kamu-kamu yang sudah dengan sabar membaca tiap kata per kata di FF ini hingga akhir, aku mohon. Plis!! Berbaik hatilah untuk meninggalkan jejak… sedikitpun jejak yang kalian tinggalkan untuk para author itu berarti gaes! #percayalah… okedeh sekian cuap-cuap dariku, Gamsahamnida….

With love

thanasa

Advertisements

16 thoughts on “[NCTFFI Freelance] Back to December (Oneshot)

  1. hello thanasa? atau aku panggil tha? aku Lyne~
    ffnya menyentuh, tapi endingnya gantung yaa hiks. aku penasaran deh itu Jaehyun mantannya dia atau bukan hahaha 😂😂😂
    keep it up yaaa~ aku harap bakalan ada sequelnya atau Jae pov gitu tapi ini hanya saran aja ya, jadi ga harus juga kok gpp hehehe 😁

    Like

    • Hai Lyne, salam kenal 😀
      Panggil tha boleh, thanasa bisa, tata jg gpp asal jgn Thor keekekke

      Mksih udh jdi the first dikolom respon ini, aku terharuu :”) #okeymulailebay
      Soal pertanyaanmu, kamu bisa asumsikan sendiri jwbannya hahhahaha
      dan untuk saranmu, hummm kalo diganti sama Jae-Ri series yg lain aja boleh gak? hahhahha. Abis itu plot ‘ada yg punya’ sihh… aku gak berani otak-atik hanya mengimprov sajaa kkekkekekee…
      anyway, mksih skli lgi 😉

      Like

      • sama” tata, jangan terharu dong hehehe *peyuk tata*
        baiklah, akan aku asumsikan sendiri *hening sama dede Jae* *eh
        boleh boleh, aku jadi penasaran banget hihihi (?) ditunggu ya series yang lainnya~

        Like

  2. Kak ffnya bagus bgt^^, setelah ngubek2 banyak blog dan ketemu ff yg cast nya JaeRi akhirnya.. banyakin bikin ff yg cast nya JaeRi ya kak^^ lg excited sma ni couple :3 atau kalo bisa dibikin sequel Jaehyun ktemu sma Yeri lg dong kak
    Keep hwaiting kak!^^

    Liked by 1 person

    • Haiii rafikaaa…
      Ehh aku inget salah satu penyanyi favorit mamahku namanya Rafikaa duri loh aku juga suka salah satu lagunya #iningomongapasihtha #okeyabaikan

      Mksihh buat koment-mu fufufufufuufuu, sipphh semoga secepatnya aku bisa post FF baru atau Jae-Ri series yaahh hehehe

      Like

  3. Fix ini panjang buangett T_T tapi hamdalah aku bisa tamatin wkwkwk
    Koreksi ya… kan ada kalimat “aku tak suka diacuhkan”. Nah, di KBBI acuh artinya peduli. Jadi timbul persepsi lain kan?
    Udah itu aja, dan hmm kumencium aroma balikkan :3 atau Jaehyun kirim vn mau tanya alamat yeri di mana biar undangan nikahan dia sama chaeyeon ga nyasar? #Kabooooooorrr

    Liked by 1 person

    • Hahahahaaa… iyah aku agak susah sihh nulis pendek2. kalo udah mengarang kebablasan.

      Eh iyayah?? wah kyknya aku harus download KBBI nih di Hp, makasih yaaah koreksiannya.
      Humm.. chaeyeon cantikk sihh tapi rela bagi2 Jae??? 😀 😀

      Liked by 1 person

      • Enak dong nulis panjang2, imajinasinya jdi tercurahkan semua :3 oke oke masama ~ jgn bosen kirim ff ke sini ^^
        Ga bagi2 dong, karena jae untuk chae dan chae untuk jae :v /JaeYeonHardcoreShipper

        Like

  4. setuju sama comment diatas, mungkin jaehyun kirimin Vn ke yeri cuma mau tanya alamatnya soalnya jaehyun akan menikah dengan chayeon seminggu lagi dan hidup bahagia dengan chayeon selamanya dan membuat anak yang banyak * wkwkwks, Btw aku bukan JaeRi shipper, tapi aku mau membaca ff ini karna ini fanfiction yg bagus,penulisan katanya rapi, dan aku suka sama alurnya, lanjutkan tulisanmu lainnya thor 🙂

    Liked by 2 people

    • Astagaaa hahahahhaa banyak syekali Jaehyun-Chaeyeon shipper.. wkwkwkwkwkk.
      Aku sbnrnya gpp sihh Jae sm syapa aja. Aku usung JaeRi karena kemakan delusi stlh liat video moment mereka di youtube. kalo sama Chaeyeon??
      At least, mksihh yaah udh mau koment kekekekkekee

      Like

  5. Wahahahaa aku tau rasanya makin cinta saat udah putus 😂😂😂
    Sukaa ffnya. Tp lain kali pairing Jaehyun sama noona dong. Kok kaya ya bakalan gemesin gitu. Hehee

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s