[Ficlet-Mix] When Mark Being a Father (1)

cover-mark

When Mark Being a Father

A fiction by Angela Ranee; Angelina Triaf; Mingi Kumiko

[NCT] Lee Minhyung/Mark

Supporting Cast(s): Lee Taeyong & OC(s)

Genre: Family, Fluff, Comfort, Marriage-life | Duration: 3 Ficlets | Rating: General

For our birthday father-becomes-soon Mark Lee

~~~~~

[1]

Disandarkannya punggung yang sedari tadi merasa pegal. Pria itu mengembuskan napas berat seiring dengan rasa lelah yang perlahan hilang saat kedua pelupuk ia pejamkan.

Ialah Lee Min Hyung, seorang pekerja sipil di kantor pemerintah. Lelaki brunette itu baru saja sampai rumah setelah melalui macetnya jalanan Gangnam. Kalian tahu sendiri, kan, bagaimana buruknya keadaan itu? Belum lagi kalau kesuntukan sudah mendidih hingga sampai pangkal ubun-ubun. Siapapun tolong beritahu dia cara terbaik untuk mengembalikan suasana hati yang terlanjur buruk.

Hubby, lebih baik kau segera mandi, akan aku siapkan makan malam super lezat untukmu.” Itu suara Jane, wanita yang ia nikahi delapan belas tahun yang lalu. “Please, aku cuma ingin rebahan sebentar, chagi.” decak Minhyung diiringi dengan helaan napas berat.

Jane mendengus, merasa kesal karena celotehannya tak diindahkan oleh sang suami tercinta. Secara paksa Jane mencengkeram erat lengan Minhyung yang menggantung sembarang di ujung sofa. Segera ia tarik bisep kekar itu agar terbangun.

“Mandi dulu biar kau enggak lemas!” Jane mengomel hingga tak mampu membuatnya menimpali dengan decakan protes.

Ocehan itu pun akhirnya direspons dengan anggukan patuh. Ia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan sang istri tengah sibuk mewadahi hasil masakannya ke mangkuk-mangkuk yang telah ia jajar di meja dapur.

Tak butuh waktu lama bagi Minhyung untuk membasuh diri dengan pancuran air shower. Benar kata Jane, setelah mandi, badannya pun jadi lumayan segar daripada barusan.

Seorang gadis berbalut pakaian sehar-hari pun turun dari tangga dan mendapati eksistensi Minhyung yang baru saja keluar dari kamar mandi. Rautnya pun berbinar, lekas ia berlari menghampiri pria yang sedari tadi sudah dia tunggu kedatangannya itu.

“Ayah, I’ve been waiting you for a long time!” pekiknya tertahan dan langsung meraih pinggang Minhyung untuk didekap.

“Kau merindukan Ayah, Shelby sayang?” tanya Minhyung pada gadis yang tak lain adalah anak semata wayangnya.

Secara takzim Minhyung mengelus surai karamel Shelby, hingga akhirnya gadis belia itu membuka mulut untuk kembali memulai suatu ujaran.

“Malam ini jalan-jalan, yuk, Yah!” bujuk Shelby. Otot mata Sang Ayah pun langsung tertarik ke bawah untuk menatapnya. Dengan cepat Minhyung melepas dekapannya pada Shelby.

“Oh, jadi kau memeluk Ayah karena ada maunya?” tegur Tuan Lee.

“Ih, bukannya begitu. Lagi pula, apa salahnya, sih, kalau kita keluar sesekali?” Shelby merutuk.

“Ayah lelah habis bekerja, sweety…” Minhyung coba memberitahu gadis enam belas tahun itu tentang betapa malasnya ia bepergian setelah seharian bekerja keras tanpa ampun.

Air muka penuh pengharapan milik Shelby pun lenyap, tergantikan oleh sorotan yang tak kalah tajam dari pedang katana. “Lelah mana jika dibandingkan sama aku yang terus menolak ajakan kencan cowok-cowok yang naksir padaku?” ujar Shelby yang sukses membuat Ayahnya menjengit heran.

“Harusnya Ayah bersyukur punya anak seperti Shelby. Aku cuma mau jalan keluar sama Ayah, bukan dengan pacarnya, seperti teman-temanku yang lain!” timpal Gadis Lee itu sebelum Minhyung sempat menimpali ujaran sebelumnya.

Terenyuh kah hati Minhyung mendengar pengakuan emosional dari Shelby? Oh, tentu tidak! Tingkah hiper yang Shelby tunjukkan malah membuatnya teringat akan Jane ketika masih muda dulu. Nampaknya Shelby memiliki sedikit kesalahan konfigurasi dalam proses pembuatannya hingga sifat yang ia miliki sangat mirip dengan Jane – namun perlu ditegaskan bahwa Minhyung tetap mencintai Jane bagaimana pun konyolnya ia bertingkah.

Pria berusia empat puluh lima tahun itu tak memiliki pilihan selain mengangguk, dengan berat hati mengiyakan ocehan melantur putrinya itu. “Iya, baiklah… Setelah makan malam ayo pergi ke alun-alun kota.”

Dan sekon kemudian pun rengkuhan kembali melingkar di area pinggang Minhyung. “Terima kasih, Shelby sayang Ayah!”

~~~~~

[2]

Adalah Mark Lee yang merasa dirinya bak remaja yang baru lulus SMA hingga Chloe hadir dalam dunianya.

Mark menikahi Sheryl di usia dua puluh lima dan menjadi ayah dari Chloe dua tahun setelahnya. Ketika Mark menggendong gadis mungilnya, pria itu baru sadar bahwa dirinya tidak lagi semuda yang ia bayangkan.

Mark berusia dua puluh tujuh, sudah menikah, dan memiliki seorang anak perempuan yang usianya belum lebih dari seminggu. Mark bukan anak SMP yang bisa menghabiskan hari Minggu-nya untuk menghabiskan serial anime atau bermain video game seharian. Bukan remaja delapan belas tahun yang bisa begadang semalam suntuk demi siaran pertandingan sepak bola sembari melahap habis seloyang besar pizza. Bukan pula pemuda di awal dua puluhan yang bisa bebas keluyuran di malam akhir pekan untuk berpesta dan minum-minum.

Mark tidak lagi muda dan punya banyak tanggung jawab yang membebani kedua pundak, pun membuat kepalanya pening. Sekarang Mark harus mau bangun pada pukul dua pagi untuk meladeni tangisan Chloe yang berpotensi membangunkan para tetangga, mengganti popoknya atau menggendongnya sampai tangannya terasa pegal. Hari Minggu Mark habiskan untuk membantu Sheryl bersih-bersih. Dan jangan harap Sheryl sudi melepas Mark untuk bersenang-senang di malam akhir pekan. Malam akhir pekan adalah satu-satunya saat dimana Sheryl bisa benar-benar melepas penat dan menuntut Mark untuk menjadi babunya.

Malam ini-entah yang keberapa-Mark kembali dibangunkan secara paksa oleh tangisan Chloe yang meledak pada pukul dua lebih empat belas pagi. Sheryl enggan untuk sekadar membuka mata, katanya,”It’s your turn, Mark. Just go or I’ll make you sleep without an eye.”

Well, itu bukan sesuatu yang terdengar bagus. Sembari mengerang, Mark beranjak dari kasurnya yang empuk dan selimutnya yang hangat, berjalan dengan langkah terpincang yang diseret menuju kamar si mungil Chloe. Gadisnya baru berusia enam bulan, tetapi saat menangis suaranya sudah mencapai oktaf yang sama dengan suara mendiang Whitney Houston tatkala menyanyikan lagu “I Will Always Love You”. Mungkin ketika Chloe sudah besar nanti Mark bisa mendaftarkannya untuk ikut kursus vokal.

It’s okay, Baby. Daddy’s here,” gumam Mark dengan suara serak dan mata yang masih lengket oleh belek. Air liurnya di pipi kanan saja belum kering betul. Mark mengacak rambut sarang burungnya sebelum mengecek popok Chloe dan menggantinya, tetapi tidak cukup untuk menghentikan tangis Chloe.

“Chloe, please let Daddy sleeps,” ucap Mark lagi sembari menggendong Chloe dari boks bayi dan menggumamkan nyanyian pengantar tidur yang pernah diajarkan oleh Sheryl kepadanya.

Hush, Little Baby~ Oh, maaf, Daddy tidak hafal yang satu itu,” kata Mark kepada Chloe yang masih merengek. “Boleh Daddy nyanyikan lagu lain, Sayang? “Hotline Bling” misalnya. Itu lagu kesukaan Daddy dan Uncle Donghyuk.”

Rengekan Chloe semakin keras dan Mark tahu bahwa “Hotline Bling” bukanlah lagu yang Chloe ingin dengar sekarang. “Oke, oke. Daddy won’t sing you “Hotline Bling”, okay? Please stop crying…”

Mark mengecup ringan hidung mungil Chloe. Chloe memiliki hidung Sheryl, mata Mark, dan bibir Donghyuk. Satu fakta yang membuat teman Mark ini selalu terobsesi untuk menculik Chloe dan mengadopsinya sebagai putrinya sendiri.

Mark tidak tahu sejak kapan tangis Chloe berhenti, tetapi rasanya melegakan sekali. Melihat gadis semata wayangnya terlelap dengan tenang bagai malaikat kecil dalam dekapnya membuat Mark mengulas senyum.

Mark tidak lagi muda dan punya banyak tanggung jawab yang membebani kedua pundak, pun membuat kepalanya pening. Tetapi ia punya Chloe Lee, permata paling berharga dalam hidup Mark. Sosok yang membuat Mark rela meninggalkan video game, siaran pertandingan sepak bola, dan pesta dengan kaleng-kaleng bir serta para wanita seksi. Sosok yang membuat Mark rela terjaga di kala subuh dan menggendongnya hingga sekujur tubuh Mark rasanya mau remuk.

Mark lelah, tetapi ia bahagia. Lebih bahagia daripada ketika tim sepak bola favoritnya memenangkan pertandingan atau ketika ia berhasil mendapatkan nomor wanita terseksi di klub malam yang ia sambangi.

Sleep tight, Baby Boo. Don’t let the mosquito bites,” bisik Mark seraya meletakkan Chloe di dalam boksnya dengan perlahan-lahan, meninggalkan satu lagi kecupan di pipi tembamnya, lantas berjalan menuju kamarnya dengan Sheryl.

You’re such a great daddy, Honey.”

Oh, dan Mark ingat bahwa ia tidak hanya memiliki Chloe sebagai obat dari segala penat yang ia rasakan.

Thanks. Mind if I cuddle you?”

~~~~~

[3]

Sebenarnya tidak ada yang perlu dicemaskan oleh dunia, namun tidak dengan hal-hal absurd yang ada dalam otak Mark. Entah ide gila dari mana Taeyong bisa-bisanya mengutusnya untuk meluncur ke rumah sakit dan menemani kakak iparnya yang tengah menjalani proses persalinan sementara ia masih terlalu muda untuk tahu apa-apa hal yang diperlukan.

Mark tidak bisa seperti ini.

“Tuan Lee?”

Kegugupan Mark semakin menjadi ketika sebuah panggilan dari dalam pintu menginterupsi kegugupannya. Tentu saja yang dimaksud dokter itu ada Lee Taeyong, bukan dirinya. Tapi tetap saja, pasti Mark yang dikira suami dari wanita di dalam sana.

“Iya, Dok?”

“Bisa ikut ke dalam? Ada sedikit masalah dalam persalinan istri anda.”

Waduh, ini kalau sampai Kak Cheon kenapa-kenapa aku bisa dijadiin sate sama Bang Tae.

 

Dengan debar jantung yang semakin menjadi, Mark melangkah pelan mengikuti dokter tadi masuk ke dalam ruang persalinan. Setelah memakai baju hijau steril alakadarnya, Mark berbelok di satu bilik tirai dan mandapati tubuh kakak iparnya itu terbaring dengan wajah pucat yang kentara.

Perjuangan seorang ibu luar biasa, ya.

 

“Jadi begini, Tuan Lee.”

Fokus Mark langsung kembali pada sang dokter. Di hadapan mereka, terdapat sebuah kotak tempat tidur bayi, di dalamnya terdapat seorang bayi mungil yang telah bersih dan kini tengah dibalut dengan sebuah kain.

“Mungkin ada sesuatu yang salah dalam kehamilan Nyonya Park dua bulan terakhir, hal ini mengakibatkan bayinya mengalami semacam kekurangan darah. Karena golongan darah beliau tidak sama dengan si bayi, mungkin anda yang bisa membantu untuk menjadi pendonor.”

Seketika Mark membatu. Ya memang sih golongan darahnya sama dengan Taeyong, tapi apa iya harus Mark yang turun tangan? Ia kan bukan ayah biologis dari bayi itu, lalu nanti jadi bagaimana? Mark benar-benar bingung harus berbuat apa.

“Eum, Dok, boleh saya keluar sebentar? Ada panggilan penting yang harus saya lakukan.”

Melihat anggukan sang dokter membuat langkah kaki Mark kembali beranjak menuju pintu keluar. Tangannya dengan cepat mengambil ponsel di saku celana lantas menekan panggilan cepat nomor empat.

“Halo? Bang, Ini Mark.”

“Eh, Mark, ada apa? Baru selesai meeting ini. Persalinannya sudah selesai? Bagaimana?”

Selama beberapa detik, Mark berusaha mengumpulkan keberanian untuk menjelaskan apa yang terjadi tadi. “Eum, begini… Kata dokter ada sedikit masalah dengan bayinya. Intinya si bayi kekurangan darah dan harus ada pendonor. Kak Cheon golongan darahnya beda.”

Begitu Mark menghentikan omongannya, ada jeda keheningan cukup panjang di antara keduanya. “Ya sudah, darahmu kan sama denganku. Kamu saja yang jadi pendonor.”

“Ya tapi Bang, itu kan anak kalian. Masa aku yang donor? Nanti kalau bayi itu DNA-nya berubah dan dia jadi anakku bagaimana?”

Kali ini suara tawa keras Taeyong terdengar dari seberang sana. “Ya Tuhan, Mark, makanya di sekolah jangan sering tidur. Mana ada yang seperti itu? DNA itu perkara beda, sudah ada dari bayinya lahir dan tidak bisa berubah.”

Mendengar sisa-sisa tawa kakaknya itu, Mark masih terdiam dengan berbagai pikiran di kepalanya.

“Abang minta tolong, ya? Jagain Kak Cheon, sama bayinya juga. Hitung-hitung kamu latihan jadi seorang ayah.”

Bagi Mark ini seperti adegan mengharukan dalam sebuah drama. Setelah panggilan terputus, ia kembali masuk ke dalam ruangan, mencari dokter yang tadi untuk melanjutkan proses pengambilan darah.

Jadi seorang ayah seperti ini, ya? Kalau bayi itu anakku mungkin langsung kuiyakan perkataan dokter tadi tanpa pikir panjang.

“Mark?”

Cheonsa memanggilnya dari sisi lain ruangan. Jarum donor di tangan Mark sudah dilepas oleh suster sehingga kini ia bisa menghampiri kakak iparnya itu.

“Hei Kak, bagaimana?”

“Pusing, mau tidur tapi katanya belum boleh nanti takut keterusan.”

Mark tersentak sebentar, kenapa jawabannya horor seperti itu, ya?

“Mark, terima kasih, ya. Engga tahu deh kalau engga ada kamu si kecil nantinya bagaimana.”

Atmosfer seperti ini semakin membuat Mark merasa sedikit berat di pelupuk matanya. Jika ia menangis ini akan menjadi hal paling memalukan sepanjang perjalanan hidupnya.

“Biasa aja kali, Kak. Kan kita keluarga.”

Senyum Cheonsa belum pernah terlihat setulus itu di mata Mark. Apakah senyum wanita yang telah menjadi seorang ibu itu selalu berbeda dari biasanya, ya? “Ih, sekarang Mark sudah jadi om-om. Nanti dipanggilnya Om Mark, pasti lucu.”

“Kak Cheon…”

Ini engga kakak sendiri engga kakak ipar kenapa iseng semua, sih?

 

“Sekali lagi terima kasih ya, Mark. Pasti tadi agak kaget, ya? Tapi begitulah salah satu pengorbanan seorang ayah. Engga apa-apa ‘kan? Hitung-hitung kamu latihan jadi seorang ayah.”

“Kok ucapan Kak Cheon sama dengan Bang Tae? Curiga aku.”

Lagi-lagi Cheonsa hanya bisa tertawa melihat Mark yang berubah jadi super menggemaskan hari ini. “Berarti itu fakta, ‘kan? Nanti kamu juga pasti akan jadi ayah. Makanya cepat nikah sana, pacaran jangan kelamaan.”

“Ya habisnya bagaimana? Jane masih mau main sama teman-temannya. Ya kali deh nanti kalau sudah nikah aku ditinggal main terus, kan engga lucu.”

Diliputi sebuah kebahagiaan, Mark belajar satu hal berharga lagi hari ini. Tentang bagaimana hidup berjalan dan apa tanggung jawab yang menunggunya di depan sana. Pasti menyenangkan bisa menjadi seorang ayah yang sesungguhnya, apalagi tadi ia sempat merasakan desiran aneh saat melihat wajah lucu keponakannya itu.

Jadi ingin punya bayi sendiri rasanya, pikir Mark dalam lamunannya.

1 of 2

Advertisements

6 thoughts on “[Ficlet-Mix] When Mark Being a Father (1)

  1. NJAAYY…. MARK JADI PAK’E PAK’E.. KYAAA KYAAA KYAAA.. 😂😂 27taun? Aahhh baru ugha 17 Mark. 😂🔫.
    MARKJANE.. KYYAAAA.. 😂
    Ngga kebayang gimana Mark beneran jadi PAK’E PAK’E muka muka polos gitu 😂

    Like

    • Oh iya, Habede ya Mark. Moga langgeng ama Jane. Tapi ku lebih ikhlas kalian geunyang friendzone nan ae. 😂. Nikahnya ama aku ntar Mark 😂 /plak /dibalang /menggelinding.
      Makin sukses ya Mark. Semoga bahagia. 😂

      Liked by 1 person

  2. ALHAMDULILLAH YA MARK…BAROKAH SEKALI ULANG TAHUN KAMU DIJADIIN OM-OM YANG SUDAH MEMILIKI BUAH HATI /standing applause/

    LUCU LAH INTINYA MARK PUNYA ANAK, TERUS…….TERUS………..KOK BAWA-BAWA JANE YA ITU…….SAYA TERHARU :”)

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s