[Ficlet-Mix] When Mark Being a Father (2)

cover-markeu

When Mark Being a Father

A fiction by ayshry; Febby Fatma; IRISH; thehunlulu

[NCT] Lee Minhyung/Mark

Supporting Cast(s): OC(s)

Genre: Family, Fluff, Comfort, Marriage-life | Duration: 4 Ficlets | Rating: General

For our birthday father-becomes-soon Mark Lee

~~~~~

[1]

Sialnya Mark benar-benar tidak bisa paham apa yang sebenarnya terjadi saat ini.

Pagi-pagi sekali ibunya meminta Mark untuk bangun, mandi, sarapan (seperti biasa) tapi melarang Mark pergi dari rumah. Sudah begitu ibunya juga berpesan untuk menyambut tamu yang akan datang selagi ibunya pergi—sekarang sudah enam jam selepas ibunya pergi dan sekitar lima jam setelah tamu yang dimaksud datang.

Mark masih tidak paham kondisinya saat ini. Masih tidak mengerti mengapa bisa seperti ini nasibnya di hari pertama liburannya.

“Papa-papa.”

“Heh? Apa? Kau butuh sesuatu?”

Lalu itu dia tamunya.

Awalnya Mark tidak yakin jika gadis cilik yang mungkin berumur sekitar tiga atau empat tahun itu adalah tamu yang ibunya maksud. Awalnya Mark pikir, Laila—Mark memanggilnya Lee—hanya bocah yang tersesat ke rumahnya. Tapi kemudian pikiran itu hilang ketika satu pesan masuk dari ibunya memperkenalkan siapa tamu yang akan datang ke rumah mereka.

Sial! Lagi-lagi ibu menjebakku.

Mark bukannya tidak suka anak kecil, hanya tidak terbiasa dengan makhluk-makhluk mungil menggemaskan yang hobinya tebar aegyo. Belum lagi jika makhluk itu adalah gadis cilik. Oh Tuhan~ rasa Mark hampir gila saat Laila tadi bilang ingin pipis.

Bayangkan saja posisi Mark saat itu. Mark sudah tidak ingin mengingatnya lagi.

“Lee, ayo cari makan.”

“Makan?”

“Iya. Lee lapar tidak?”

Gadis mungil itu mengangguk. “Lee mau makan!” Dia bersorak girang. Menurut begitu saja saat Mark kembali memakaikan matel merah marun yang dia kenakan ketika Mark membuka pintu rumahnya tadi.

Di gendongan Mark gadis mungil itu terus bernyanyikan lagu Pororo (Mark terpaksa buru-buru mendownload video lagu itu demi menjinakan Laila). Sesekali Laila juga mencubit pipinya sebagai tanda agar Mark ikut bernyanyi.

“Kita makan Janjangmyeon ya?” Laila mengangguk dan bersorak menyuarakan Jajangmyeon berulang kali.

Bocah yang ceria … tapi berisik.

“Bibi, pesan Jajangmyeon dua, tapi yang satu ukuran kecil saja.” Katanya sambil melirik Laila di pangkuan.

Untung saja pemilik kedai cukup pengertian dan mau repot-repot menyediakan peralatan makan plastik untuk Laila jadi gadis mungilnya itu bisa ditinggal makan sendiri (karena awalnya Mark pikir dia harus menyuapi Laila) kemudian menikmati makan siangnya.

“Papa.”

“Hmm, kenapa?”

“Papa.”

“Lee, berhenti memanggilku seperti itu. Aku bukan ayahmu.”

“Papa.”

“Ahh! Terserahlah. Cepat habiskan makananmu.”

Garpu di tangan kiri gadis itu terangkat naik. “Lee mau aku makan itu?”

“Iya.”

Mark tersenyum dan menerima suapan sehelai mie jajang yang disodorkan padanya.

“Habis dari sini, kita cari mamamu. Dia harus bertanggung jawab karena sudah membuatku jadi papa muda.”

“Yee! Papa.”

“Iya-iya. Cepat habiskan makannya.”

~~~~~

[2]

Sebenarnya jika sepanjang musim panas hanya difokuskan pada kegiatan memakan es krim, bermain ski air, ataupun berjemur diri di pantai, itu sama sekali tidak ada kemistrinya. Sebut saja Mark Lee, ayah muda yang sudah memiliki seorang putri jelita bernama Caralyn. Selagi menyambi beberapa pekerjaan kantornya yang belum rampung, hari ini ia dan sang istri sudah berinisiatif untuk mengajak Caralyn pergi ke sebuah sirkus lumba-lumba di tengah Kota Seoul. Bisa dikatakan festival tahunan jika musim panas tiba, pun Mark dan Jane—istrinya—sudah muak melihat atraksi tersebut. Tapi mari relakan sepasang insan itu untuk menepis segala isi pikiran mereka, yang terpenting adalah; sirkus tahun ini ada seorang anggota keluarga baru yang siap mengenal hewan mamalia itu lebih dekat. Ya, Caralyn pasti menyukainya.

Dengan seorang balita berumur hampir satu tahun yang duduk Manis pada salah satu lengan Mark, kini mereka berjalan dengan kecepatan konstan di depan pintu masuk stadion sirkus yang telah ramai pengunjung. Mereka tidak ingin terburu-buru karena cuaca tengah hari memang menyenangkan,  sinar matahari yang menaikkan suhu tubuh, juga tanpa adanya awan berarak yang mengembara langit. Hari Minggu pada awal musim panas kali ini benar-benar sempurna. Namun kesempurnaan keluarga kecil Mark tidak akan berarti tanpa adanya Caralyn, juga Jane yang sedari tadi menggenggam salah satu tangan Mark erat.

“Ada apa, Jane?” tanya Mark saat tautan jemarinya terlepas dari milik Jane. Mark menilik dengan seksama polah wanita di hadapannya. “Apa barangmu ada yang tertinggal?”

Selanjutnya Jane mendongak, mempertemukan sepasang maniknya dengan milik sang suami. “Sepertinya ponselku tertinggal di dalam mobil, Mark.”

“Oh astaga!” Baru saja Mark hendak mengingatkan Jane, namun kali Mark kalah cepat, sepertinya. Ditatapnya paras Jane yang masih menyipit lantaran paparan mentari yang menyapu wajahnya. “Oke tunggu di sini, kau jaga Caralyn dan aku akan pergi ke mobil.”

“Tidak usah! Biar aku saja. Kau bisa mengajak Caralyn membeli gula kapas atau mainan terlebih dahulu,” tolak Jane kemudian. Tanpa mengulurkan tangannya karena Mark sudah memberi ancang-ancang untuk memindahtangankan Caralyn, Jane melesat pergi menuju ke tempat parkir.

“Hati-hati, Jane!”

Timbul nada tinggi saat Mark dengan lantangnya berteriak pada sang istri, bersamaan dengan Caralyn yang terbahak kecil melihat punggung ibunya yang semakin menciut di tengah keramaian.

“Hei, kau tertawa, Caralyn! Mengapa? Mama lucu, ya, jika berlari seperti itu.” Mark mencubit gemas salah satu pipi Caralyn. “Sebentar lagi harus bisa berlari seperti Mama, ya?”

Diselingi kekehan Mark dan juga Caralyn, satu per satu kios mainan dilewati Mark dengan bersenandung kecil. Menepuk bahu Caralyn yang sedang antusias merotasikan kedua bola matanya untuk melihat berbagai macam mainan, Mark berhenti di depan sebuah gerobak warna-warni dengan gula kapas yang tergantung secara melingkar.

“Caralyn sayang….” bisik Mark sebelum bibirnya terlebih dahulu mengecup pipi si buah hati, yang disambut senyum Caralyn dengan memamerkan beberapa giginya yang baru tumbuh. “Mau Papa belikan gula kapas?”

Caralyn dengan datarnya menatap lekat-lekat wajah sang ayah. “Pa…pa…”

“Caralyn mau, kan?” Ujung jemari Mark menyentuh bibir Caralyn. “Then, kiss me first, Honey.”

Oke, Caralyn benar-benar menggemaskan saat gadis kecil itu sudah merajuk untuk dibelikan sesuatu. Maka Mark tak lantas beranjak, pemuda itu terlebih dahulu membiarkan Caralyn untuk mencium kedua pipinya disusul rajutan langkah menuju penjual gula kapas.

“Mark Lee! Kiss me too, Honey!

Ups, itu teriakan Jane Jung yang sudah kembali dari acara mengambil ponselnya, omong-omong.

Sure! Come here, Jane.” Ayunan tangan Mark berhasil mendekap Jane dalam rengkuhannya, kemudian mendaratkan bibirnya pada milik Jane di tengah kemaraian. “Semoga Caralyn bisa secantik dirimu jika sudah dewasa, ya, Jane.”

“Pa…pa…”

Oh Tuhan, Mark hampir saja melupakan eksistensi Caralyn yang tengah mengerucutkan bibirnya. “Caralyn mau dicium Mama dan Papa juga?”

Caralyn mengangguk senang.

Cup.

Keduanya, Mark maupun Jane akhirnya mencium kedua pipi Caralyn secara bersamaan.

Nah, sekarang kita membeli gula kapas, yuk!

~~~~~

[3]

Mark berjalan sangat pelan melewati lorong rumahnya—dari kamar menuju ruang keluarga—dengan wajah berwarna merah padam. Mengenakan gaun panjang nan mengembang indah berwarna merah menyala dan high heels dengan warna senada, si lelaki akhirnya tiba di hadapan seorang gadis cilik yang kini memandanginya dengan senyuman lebar. Sedangkan di sudut ruangan, seorang wanita tampak menutupi bibirnya sembari menahan tawa agar tak lekas menguar keluar. Sungguh, Mark takkan mau melakukan hal ini jika saja—

Dad!” Sang gadis kecil memekik senang. Menghampiri Mark tergesa-gesa—hingga hampir terjatuh lantaran memijak ujung gaunnya sendiri, namun dengan cekatan Mark terlebih dahulu menangkapnya.

—bukan permintaan dari si anak satu-satunya; Myn.

Memasang senyum—amat terpaksa—Mark yang kini tengah menggendong si buah hati lantas berkata, “Bagaimana? Kau menyukainya?”

Si kecil mengangguk penuh semangat.

“Kau sangat-sangat cantik, Dad!”

“Tapi rasanya, Mom akan lebih cantik ketika mengenakan gaun ini.”

No, no! Kau jauh lebih cantik, Dad. Berarti sekarang saatnya kita pergi, ya?”

“Kau yakin Dad harus menghadiri pentas pertunjukan dramamu dengan penampilan seperti ini?”

YES!”

Mendesah pasrah, Mark hanya tak mampu berkata-kata lagi. Melirik sang istri yang kini tak mampu lagi menahan tawa lantas melayangkan senyum paksaan dan tatapan yang seakan berkata; lihat-ini-semua-gara-gara-ide-gilamu-Jung-Jane, dan; oke-tunggu-pembalasanku-ya-Jane-sayang!

~~~~~

[4]

“Jadi, kalau aku marah pada ayah yang meninggalkanku, ayah tidak akan sayang lagi padaku di atas sana?”

Pertanyaan Elise membuat alis Mark terangkat, ditatapnya gadis berusia delapan tahun itu dengan mata membulat, seolah pertanyaan Elise bukanlah sesuatu yang bisa dijawabnya dengan mudah.

Um, ya, aku rasa kau tidak boleh menangis, Elise. Mau kuberitahu rahasia?” tanya Mark kemudian, kini dwimanik Elise membulat, pipi gembilnya bahkan memerah karena menahan senyum yang ingin merekah akibat perasaan senang aneh yang muncul saat ia bicara dengan Mark.

“Rahasia apa?” tanya Elise dengan oktaf tinggi khas miliknya.

Tersenyum, Mark mengelus puncak kepala Elise sebelum ia menyejajarkan tubuh dengan tinggi Elise dan berucap lembut.

“Ayahmu… akan tetap menyayangimu. Walaupun kau menangis, walaupun kau tertawa bahagia dan melupakannya. Di atas sana… dia masih tetap sayang padamu, Elise.”

Sebuah senyum akhirnya merekah di wajah Elise, sekon kemudian ia melangkah mundur menjauhi Mark, membuat pemuda Lee tersebut menatap tidak mengerti.

“Ada apa?” tanyanya.

“Mark, lihat? Gaun putih ini ibu jahitkan untukku. Besok saat aku dewasa, ibu juga akan menjahitkan gaun untukku, jadi ayah bisa melihat bagaimana cantiknya aku saat berjalan di altar dengan gaun seperti ini.”

Demi Tuhan, Mark membeku. Bagaimana cantiknya Elise sekarang saja sudah tidak perlu Mark katakan. Sekarang, gadis kecil itu sudah bicara tentang altar?

Baru saja bibir Mark akan membentuk kata, seorang wanita sudah masuk ke dalam ruangan tempat ia dan Elise sedari tadi bicara berdua.

“Elise sayang, sedang apa?” wanita tersebut bertanya.

“Ibu! Aku tahu ayah akan selalu sayang padaku!” Elise berseru, well, sekarang wanita itu mengerti mengapa Elise bersikap begitu, tadinya Elise sudah menangis karena ledekan teman-temannya yang mengatakan bahwa ia tidak punya ayah.

“Umm, darimana kau tahu, sayang?” tanya si wanita, menarik Elise ke dalam gendongan, sementara Mark mengawasi keduanya dengan senyum di wajah.

“Mark yang mengatakannya padaku!”

“Mark?” wanita itu tergeragap, tatapannya mengelana, seolah tahu benar siapa pemilik nama yang dimaksud Elise barusan. Tidak menemukan siapapun di sana, wanita itu akhirnya membawa Elise keluar dari ruangan, menurunkan putri kecilnya di lantai dan membiarkannya berlari ke ruang makan sementara ia sendiri berdiri mematung.

“Mark… apa kau datang menemui putri kita?”  gumam si wanita segera membuat Mark merajut langkah, mendekati wanita itu hanya untuk melihat paras ayunya dari dekat.

Dulu, bertahun lalu, Mark ingat bagaimana jantungnya berdegup tidak karuan akibat eksistensi wanita itu, karena tahun-tahun yang sudah mereka lalui, sebelum jantung Mark akhirnya tak lagi bisa menyokong kehidupannya.

“Maaf, sayang. Aku tak bisa jadi seorang ayah yang sempurna untuk Elise.”

2 of 2

Advertisements

7 thoughts on “[Ficlet-Mix] When Mark Being a Father (2)

  1. KYYAAAAAAA, MARK JADI PAK’E PAK’E LAGI NIH… 😂 EHH FICLET YANG TERAKHIR MARK UDAH PERGI JAUH YAHH??? 😂 Mark maen nyamperin anaknya ae.. masih bocah ugha dah altar altaran coba.. 😂
    EHH FICLET PUNYA MU YANG MANA DON? 😂

    Like

  2. DAEBAK..
    entah kenapa aku bisa bayangin banget mark jadi ayah.. Mix ffnya bagus keren rapiii ugh aku sukkkkaaaa
    jjang buat author-nim

    Like

  3. Allahu akbar Mark Lee ku jadi Papa :”)
    Gue gak bisa bayangin gimana wajah inut nan gantengnya Mark Lee menjadi seorang Papa. Mark Lee luv you :”)

    Buat authornim, terimakasih atas Fanfiction nya, ini ngefeel sekali, makasih juga lho castnya Mark Lee yang dijadiin Papa, karna emang aku lagi nyari Ff yg peran nya Mark jadi seorang Ayah. gomawo

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s