[NCTFFI Freelance] Regret (Oneshot)

Regret

Regret

Main Cast :

  • Mark Lee
  • Shin Hara (OC)

Support Cast :

  • Lee Taeyong

Genre : Crack, Family, Sad.

Rating : G

Author : Sha-Sha

Length : Oneshot

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan dan agensi (^-^), cerita dan plot murni milik Author. PLAGIARIZE IS STRICTLY PROHIBITED.

Summary :

“ Terkadang, kenyataan menyuguhkan sesuatu yang jauh berbeda dari harapan..”

Warning : TYPO berterbangan  ^^

Enjoy’s the story!!

***

Yang pertama dilakukan Hara ketika keluar dari Vancouver International Airport, Kanada,  adalah mengambil kaca mata hitam dari tasnya dan memakainya. Gadis Korea yang memakai dress selutut warna baby pink itu menghembuskan nafasnya dengan kasar, cuaca di sini sangat panas. Debu-debu yang berterbangan sebagai tanda pergantian musim membuatnya harus ekstra hati-hati. Penyakit asmanya bisa saja kumat bila dia terlalu sering terkena debu.

Hara lalu menguncir rambutnya menjadi satu dengan pita karet yang dia keluarkan dari tas kecilnya. Matanya melihat sekeliling. Sambil menarik kopernya, dia memandangi orang-orang yang berjalan melewatinya. Terkadang, ia memperhatikan seseorang sampai orang tersebut menghilang dari pandangannya lalu menggelengkan kepalanya pelan, saat menyadari bahwa orang yang dipandanginya bukanlah orang yang dia cari.

Ini sudah tiga puluh menit semenjak dia keluar dari pintu pesawat, ada resah yang ia yakini sebentar lagi berubah menjadi kekalutan. Oh, bayangkan sendiri, tiga puluh menit di negeri orang sendirian, bukankah itu sesuatu yang menakutkan? Ia hanya berbekal petunjuk lewat pesan di ponselnya, uang di tasnya dan tiket pulang ke Korea yang dihadiahkan oleh seseorang yang tengah ditunggunya.

Hara menggigit bibirnya, tubuhnya letih dan terasa kaku setelah berjam-jam duduk di kursi pesawat. Ia akhirnya memutuskan untuk pergi ke café yang masih berada di lingkungan bandara dan memesan sepotong ayam, seporsi kentang goreng serta ice tea dan mulai menikmatinya ketika pesanan itu datang. Ia hanya ingin melupakan sejenak masalah yang kini dihadapinya. Setelah selesai makan, dia menyandarkan tubuhnya di kursi café. Saat ini Hara hanya ingin tidur. Tapi di mana? Seseorang yang menjanjikan tempat tinggal untuknya hingga kini, dia belum menemukannya. Atau memang dia yang tak bisa mengenalnya? Bertahun-tahun berteman lewat social media serta e-mail dan saling mengenal lewat beberapa foto, tidak menjamin dia bisa mengenali temannya itu begitu saja.

Hara menelan ludahnya, dia lalu mengeluarkan ponselnya, mengetikkan sebuah pesan, dan..

“ Agasshi?” suara seseorang menghentikan Hara, dia menoleh dan mendapati seorang lelaki tengah berada di sampingnya.

“ Ne? Kau bisa bahasa Korea? Dan bagaimana bisa kau mengenaliku sebagai orang Korea?” tanya Hara sambil berdiri dan terheran-heran.

Lelaki itu hanya menunjukkan sebuah foto kearahnya dan tersenyum lebar. Dia seolah tidak peduli pada keterkejutan Hara. Seperti mendapatkan penolongnya, Hara mengangguk dan tersenyum kecil. Namun sesaat kemudian Hara melepas kaca mata hitamnya dan menyipitkan kedua matanya, “ Siapa?” tanyanya curiga. Lelaki tampan ini tidak dikenalinya. Tidak mirip sama sekali dengan teman penanya –yang cuma ia kenali lewat beberapa foto-.

“ Anyeonghaseo, Mark imnida. Mark Lee..” ujar lelaki tersebut.

 “ Taeyong menyuruh saya untuk menjemput anda.” jelas Mark, tanpa harus mendengar terlebih dahulu perkataan Hara. Wajah Hara berubah menjadi lega ketika nama temannya disebut. Hara menjadi percaya pada lelaki tersebut.

“ Ahh, Hara. Shin Hara..” ucap Hara memperkenalkan diri.

“ Iya, saya sudah mengenal anda, Taeyong beberapa kali menceritakan tentang anda pada saya..”

“ Oo. Tidak usah terlalu formal, kamu kawannya?” tanya Hara.

“ Eumm.. Ya. Kawan.” ucap Mark setelah beberapa saat berpikir.

“ Taeyong…”

“ Dia sedang sakit.”

Hara mengangguk-anggukkan kepalanya. Hatinya masih merasa senang dan lega hingga tak punya kata-kata lain untuk menanggapi hal tersebut.

“ Kau tak makan dulu?” tanya Hara.

“ Ah, tidak. Kita pergi sekarang?” tanya Mark.

“ Ok, kita pergi sekarang..” Hara berdiri dan kembali memakai kaca mata hitamnya, dia lalu meletakkan beberapa lembar uang dollar di atas meja dan menatap Mark yang kini tengah memegang kopernya.

“ Aku bisa membawanya sendiri Mark-ssi,” ujar Hara.

“ Mark, panggil aku Mark saja. Bukankah kamu sendiri yang menyuruhku untuk tidak berbicara formal?” ujar Mark.

“ Ah, ya.. Biarkan aku yang membawa kopermu! Mana mungkin kau membawa koper ini sedangkan ada aku di sini?” sambung Mark sambil melangkah keluar dari café dan diikuti oleh Hara yang tersenyum simpul.

“ Baiklah, terserah kau saja!” ucap Hara dengan nada riang, Mark yang mendengarnya pun tertawa dan mengisyaratkan pada Hara agar berjalan menuju taksi di sebelah utara.

“ Sudah lama aku ingin mengenalmu, Taeyong selalu saja menceritakan tentangmu dengan wajah yang ceria. Aku jadi ingin, umm, mengenalmu lebih dekat..” ujar Mark sambil tersenyum ketika mereka telah menaiki taksi.

“ Humm, kau temannya Taeyong, jadi kita juga teman..” gumam Hara sambil melihat-lihat pemandangan dari balik kaca.

“ Memang seharusnya seperti itu.” Mark pun akhirnya memilih terdiam setelahnya, membiarkan Hara menikmati pemandangan.

***

Baru tiga hari, ya, baru tiga hari Hara berada di Kanada. Tetapi semuanya menjadi membosankan dan tidak menarik hatinya lagi. Ia memang telah mengunjungi tempat-tempat menarik seperti yang diceritakan oleh Taeyong.

Hara memang telah menyaksikan betapa mengagumkannya Niagara Waterfall, menghabiskan banyak waktunya hanya untuk menikmati sekitar 15 atraksi di Canada’s Wonderland, serta merasakan sensasi naik eskalator dengan kecepatan 20 km/jam sambil menikmati pemandangan indah kota Toronto di CN Tower. Semuanya memang mengasyikkan. Tetapi kenapa ia belum juga diperkenankan untuk bertemu dengan Taeyong? Seseorang yang berbaik hati padanya menawarkan tiket pulang-pergi Korea-Kanada dan tiket untuk memasuki beberapa tempat di atas.

Lima tahun lewat komunikasi tanpa putus dan kebaikan yang tiada hentinya, tetapi kenapa Hara masih tidak bisa bertemu dengan Taeyong?

Hara menghembuskan nafasnya dan berdiri di muka jendela hotel, ia bisa menyaksikan bangunan-bangunan megah dan menjulang tinggi. Persis seperti yang diceritakan Taeyong padanya. Kali ini dia mengurut sebentar kepalanya yang terasa pusing. Hara berpikir, kalau misalnya kejadiannya akan seperti ini, ia lebih memilih untuk tinggal di rumahnya saja dan membuang kesempatan emasnya untuk pergi ke luar negeri dengan gratis.

Mark dan Taeyong barangkali tidak tahu, Hara menyimpan harapan yang besar ketika turun dari pintu pesawat untuk bisa bertemu dengan Taeyong. Harapan yang barangkali hanya Hara yang mengetahuinya.

Oh ayolah, lima tahun terus berkomunikasi, bukankah sebuah hal yang wajar jika kemudian muncul suatu rasa di dalam hati? Perasaan yang membuatnya berdebar-debar menanti sebuah pertemuan.

Namun, ya… Terkadang, kenyataan menyuguhkan sesuatu yang jauh berbeda dari harapan…

Selama tiga hari ini Hara masih belum pernah bertemu dengan Taeyong. Entahlah, dia tidak tahu pasti apa alasannya. Yah, alasan tentang sakitnya Taeyong memang masih bisa diterima, tetapi larangan untuk mengunjunginya? Itu adalah hal yang tidak bisa Hara terima.

Bukan berarti Hara tidak menikmati waktunya saat Mark selalu menemaninya dan membantunya selama tiga hari. Ia justru sangat menikmati saat-saat itu. Tapi memang sejak pertama kali datang di Kanada, hatinya hanya tertuju pada Taeyong. Jadi, dia tidak terlalu memperhatikan Mark.

“ Hara-yaa..” panggil seseorang bersamaan dengan suara pintu dibuka.

“ Ke mana kita akan pergi hari ini, Mark?” tanya Hara setelah menoleh dan mendapati Mark ada di depan pintu. Mark dengan santainya masuk ke dalam kamar hotel Hara lalu duduk di sofa.

“ Marineland. Di mana kita akan dapat melihat berbagai jenis rupa kehidupan laut.” Mark menatap Hara, dan Hara sendiri buru-buru mengalihkan perhatiannya dan berjalan menuju lemari pendingin, mengeluarkan 2 botol cola dari sana lalu menyerahkan salah satunya pada Mark.

“ Bisa aku meminta sesuatu?” tanya Hara dengan hati-hati sambil duduk di samping Mark.

“ Tentu saja, bukankah sudah kubilang. Kalau kau butuh bantuan, kau bisa memintanya padaku..” Mark beralih menghadap ke arah Hara.

“ Humm, bisakah kita bertemu Taeyong sekarang?” Hara menegakkan wajahnya. Manik matanya bertemu dengan milik Mark.

“ Kau tahu bukan bila kita….”

“ Aku tahu, kita tidak bisa menjenguknya, tapi hanya itu yang kuinginkan sekarang.” ujar Hara dengan tegas, lalu mengalihkan pandangannya. Mark menghembuskan nafasnya perlahan.

“ Apakah kamu bisa menerima suatu keadaan jika aku mempertemukan kalian?” tanya Mark dengan suara lirih.

“ Memangnya apa yang salah dengannya? Taeyong kawanmu, bukan? Kalian sama-sama orang Korea yang kuliah di sini. Apa aku salah?”

Mark terdiam, lalu menjawab, “ Kamu tidak akan mengerti, Hara-yaa..”.

“ Apa lagi yang tidak aku mengeti, huh??!!” tanya Hara dengan berteriak –frustasi.

“ Tenangkan dirimu, Shin Hara..” Mark memegang kedua bahu Hara.

“ Jawab aku dengan jujur, Taeyong tidak sakit kan?” Hara menepis kedua tangan Mark lalu menatapnya tajam.

“ Kapan kalian terakhir berkomunikasi?” tanya Mark balik.

“ Satu. Bulan. Lalu..” jawab Hara, tercekat.

“ Semenjak satu bulan lalulah Taeyong jatuh sakit. Apakah aku terlihat seperti orang yang berbohong?” Mark balas menatap Hara.

Tidak, Mark tidak berbohong.

“ Lalu kenapa kita tidak boleh menjenguknya, huh? Separah apakah penyakitnya?”

“ Bersiap-siaplah..” ujar Mark menghembuskan nafasnya.

Hara berdiri lalu berkata, “ Kau seperti akan membawaku ke sesuatu yang buruk..”.

“ Mungkin..” ucap Mark lirih, namun masih bisa didengar oleh Hara.

***

“ Kenapa seperti ini?” desis Hara setelah pintu salah satu kamar di rumah yang dikunjunginya tertutup. Wajahnya terlihat pias dan pucat. Kecewa.

Hara menggigit kecil bibirnya, ada rasa sakit yang membuatnya menitikkan air mata. Mark yang melihatnya lalu merangkul bahu Hara, dan mengelusnya perlahan. Menguatkan gadis itu.

Wajah Mark terlihat khawatir, seharusnya Hara berteriak, memaki, dan mengeluarkan semua yang dirasakannya setelah melihat semua ini. Tapi kenyataannya, Hara sendiri tak mampu berkata-kata kasar di hadapan seorang kakek yang sedang tertidur dengan selang di beberapa bagian tubuhnya.

Hara memejamkan matanya, mencoba menenangkan hatinya.

Siapa yang menyangka bila Mark membawanya ke sebuah rumah milik seorang kakek bernama… Taeyong. Lee Taeyong! Dan hatinya lebih sakit ketika Mark menceritakan bahwa Lee Taeyong merupakan kakeknya. Lee Taeyong, kawannya ??

Seharunya Hara menyadari ini dari awal, nama marga yang sama. Lee. Tetapi kenapa hal ini tidak pernah terlintas dipikirannya?

Semuanya terasa membingungkan, hingga ia meminta Mark untuk membantunya keluar dari kamar kakek itu. Kakinya sudah terlalu lemas untuk digunakan berjalan. Matanya sudah panas, serta bibirnya sudah terlalu kaku untuk bisa berbicara.

“ Kakekku melakukan itu bukan untuk mempermainkanmu. Percayalah. Ketika pertama kali ia melihatmu di sebuah majalah, ia teringat wajah almarhum nenek..” jelas Mark sambil menyerahkan segelas es jeruk dan selembar foto. Di mana masa muda Taeyong dan seorang gadis yang sangat mirip dengan Hara. Hara menelan ludah ketika melihat sekilas foto tersebut, gadis itu begitu mirip dengannya.

“ Tapi..”

“ Terdorong oleh sebuah kenangan, Kakek mulai mencari cara untuk dapat berhubungan denganmu. Tetapi sungguh, ini bukan untuknya..” Mark duduk di sebelah Hara, pandangannya mengarah ke depan.

“ Lalu, untuk siapa?” tanya Hara.

“ Untukku, Kakek ingin kau menjalin hubungan denganku…”

“ Kenapa tidak memberitahuku dari awal?”

“ Apa kau bisa menerimanya?” tanya Mark balik.

“ Entahlah..” lirih Hara.

 “ Sama sepertimu, saat pertama kali Kakek menceritakan tentangmu padaku. Aku sangat marah, niatnya hanya berdasarkan sebuah kenangan. Tapi akhirnya aku bisa mengerti.”

“ Humm, tapi..”

“ Aku hanya minta satu hal padamu. Bisakah kau memaafkan Kakekku?”

Setelah apa yang telah ia lakukan pada hatiku? Bisakah aku memaafkannya?

Hara menelan ludah. Sebuah kenangan? Alasan yang konyol. Hara sama sekali tidak percaya ia akan mengalami hal seperti ini. Hanya satu hal yang ingin Hara lakukan sekarang. Pulang. Ke Korea.

“ Hara-ya..” ucap Mark saat melihat Hara berdiri dan menuju ke pintu keluar.

“ Aku ingin pulang.” desis Hara.

“ Aku akan mengantarmu.”

Hara menggeleng tanpa menolehkan kepalanya pada Mark, “ Tidak, aku bisa pulang sendiri!” teriaknya frustasi.

“ Maaf..” lirih Mark.

“ Aku tidak bisa berpikir di sini. Semuanya terasa begitu gelap. Kalau Kakek sadar, ucapkan terima kasihku padanya. Atas. Segalanya.” ucap Hara penuh penekanan.

“ Baik, aku mengeti,” ucap Mark kemudian.

“ Tidak..” ujar Hara.

“ Apa maksudmu?”

“ TIDAK ADA YANG BISA MENGERTI!!” teriak Hara histeris lalu segera keluar dari rumah tersebut. Mark mengejarnya, gadis itu sedang frustasi. Mana mungkin Mark membiarkannya pulang sendirian? Itu adalah suatu hal yang berbahaya.

“ Kau tidak boleh pulang sendirian pada kondisimu yang seperti ini. Biarkan aku mengantarmu..” Mark mencekal tangan Hara.

“ Lepas!! Biarkan aku sendiri, kumohon..” Hara menangis tersedu. Mark menariknya kedalam pelukannya, mengelus punggung Hara dengan lembut.

“ Diam. Patuhi aku, kali ini saja..” ucap Mark dengan nada tegas.

***

Hara melangkahkan kakinya menaiki tangga pesawat. Diturunkannya kaca mata hitamnya itu, lalu melihat suasana di Vancouver International Airport. Untuk yang terakhir kalinya.

Hara menghembuskan nafasnya, penantian indahnya selama lima tahun terakhir ini berubah menjadi sesuatu yang pahit dan menyakitkan.

“ Mengertilah… Maafkan Kakek,” itulah kata yang diucapkan Mark padanya. Lelaki itu memintanya dengan tulus. Namun apa yang bisa Hara lakukan? Ia masih merasa bingung, belum bisa mengerti.

Lalu apabila ada orang yang bertanya, apakah ia MENYESAL. Ia tak akan pernah menjawabnya. Karena memang, ia tak tahu apa jawabannya….

Air matanya menetes kembali, dan kali ini dia menyalahkan debu-debu yang berterbangan sebagai alasannya. Hara menghapus air matanya dengan kasar.

Lewat jendela di sisi tempatnya duduk, ia bisa melihat ada Mark. Sedang tersenyum manis untuknya. Hara hanya menghela nafas, memakai earphone-nya. Menyalakan lagu kesukaannya. Ia berharap bisa tertidur lalu terbangun dan menerima bahwa ini semua hanyalah sebuah mimpi. Mimpi buruk. Sebab ia belum bisa menerima kenyataan. Tak akan bisa.

 

FIN

Anyeong yeoreobuun, gimana? Ini FF oneshoot pertama yang Sha publish ^^.. Jadi menurut kalian gimana ceritanya? Kurang menarik ya? Haha, maklum deh, Sha masih tergolong Author Newbie.

Oh ya, ada yang masih kebingungan gimana wajah Taeyong saat jadi kakek-kakek? Sama kalau begitu (?) /PLAKK/ soalnya Sha sendiri juga nggak bisa bayangin gimana wajah Taeyong saat itu, jadinya di sini aku bikinin poster waktu Taeyong rambutnya putih (?), biar ada kesan ‘tua-nya’ gitu, hehe..

Dan uri Mark??? Sha bikin dia jadi cucu-nya Taeyong yang dewasa banget, konyol yaa? Ini FF emang absurd –yang buat apalagi-…. Kkkk!

BTW, aku 2000 line /ga ada yang nanya/ kali aja ada yang mau kenalan, haha.. Udah, itu aja sih yang Sha mau bilang, makasih buat yang udah -dengan senang hati- baca FF ini dan jangan lupa RCL yaa.. ^^

Regards

Sha-Sha

Advertisements

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s