[NCTFFI Freelance] My Only Girl (Chapter 3)

1466696111574

Title : My Only Girl (Chapter 3)

Author : H.ZTao_94

Genre : Romance, Family, Sad, Rival

Lenght : Chaptered

Rating : PG +15

Main Cast : Taeyong ‘NCT U’ as Lee Taeyong

Seulgi ‘Red Velvet’ as Kang Seulgi

Additional Cast : Henry ‘Super Junior-M’ as Henry Lau

Dasom ‘Sistar’ as Kim Dasom

V ‘BTS’ as Kim Taehyung

Seolhyun ‘AOA’ as Kim Seolhyun

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan, agensi dan keluarganya. Cerita fanfict ini terinspirasi dari drama Taiwan ‘Devil Beside You’ dengan beberapa perubahan. Jika ada kesamaan dalam cerita atau alur hanyalah sebuah ketidaksengajaan.

Author’s Note : Hello all my readers… Aku balik lagi bawa fanfict abal-abal hasil kreasi otak ditambah inspirasi dari Drama Taiwan jadul 🙂 I hope you like it

DON’T COPAS OR PLAGIAT

DON’T BE SILENT READER

HAPPY READING

“Aku akan menjaga cinta kita hingga kita bersatu”

 Sebelumnya : Chapter 1, Chapter 2

Link wattpad :

http://my.w.tt/UiNb/ZstLrOKEpv

©® H.ZTao_94

[PREVIOUS CHAPTER 2]

Pagi-pagi sekali Seulgi telah berangkat ke kampus. Setidaknya ia tak akan membuat si Brandalan Taeyong kesal padanya lagi. Dengan membawa segelas kopi hangat, ia berdiri menunggu kedatangan Taeyong di depan pintu gerbang kampus. Cuaca pagi itu masih sangat dingin. Karena terburu-buru, Seulgi lupa tak membawa jaket maupun mantel. Tiba-tiba Seulgi merasakan ada seseorang yang tengah memakaikan jaket padanya dari belakang. Ia segera membalikkan tubuhnya dan terlihat seorang lelaki berwajah tampan tersenyum padanya.

“Kau…” Bisik Seulgi.

MY ONLY GIRL [CHAPTER 3]

“Kau pasti kedinginan!” Ujar Henry dengan tersenyum manis. Sontak hal itu membuat Seulgi hanya bisa terdiam membatu. Ia hampir tak percaya akan hal ini. Ia hanya bisa membelalakkan matanya memandang lelaki tampan yang ada dihadapannya saat ini. Jiwanya serasa melayang ke udara.

“Senyum itu… Dia benar-benar tampan!” Batin Seulgi.

Henry menggenggam erat tangan Seulgi seolah-olah ia ingin menghangatkan telapak tangan gadis itu yang sangat dingin hampir membeku.

“Ini seperti mimpi! Ya, ini bagaikan mimpi di pagi hari yang dingin!” Benak Seulgi tampak menikmati genggaman erat tangan Henry.

“Gadis ini… Apakah dia masih mengantuk hingga tertidur disini?” Batin Taeyong memandang Seulgi yang tengah tertidur didepan pintu gerbang dengan menggenggam segelas kopi ditangannya. Taeyong masih memperhatikan wajah Seulgi yang tampak imut itu saat tengah tertidur. Ia pun tersenyum simpul.

“Dia memang manis!” Batin Taeyong.

Beberapa saat kemudian, terlihat Seulgi mengerucutkan bibirnya seolah-olah akan berciuman. Tentunya gadis itu masih dengan memejamkan kedua matanya. Sebuah ide jahil terlintas dibenak lelaki berwajah dingin ini. Ia pun mendekatkan wajahnya tepat didepan wajah Seulgi. Bahkan kini ujung hidung mereka saling bersentuhan satu sama lain.

“Ciuman gratis dipagi hari!” Bisik Taeyong dengan tersenyum evil.

Kini bibir Seulgi hampir menyentuh ujung bibir Taeyong yang merah. Beberapa detik kemudian, Seulgi membuka matanya. Ia pun terbangun dari tidurnya. Betapa kagetnya dia saat bibirnya kini menempel dibibir Taeyong. Reflek tangan gadis ini menampar wajah mulus Taeyong.

Plakk…

Yak, apa yang kau lakukan, hah?” Ujar Seulgi marah.

“Mengapa kau menamparku? Jelas-jelas kau yang menciumku terlebih dahulu! Siapa suruh tidur didepan pintu gerbang! Menghalangi jalanku saja!” Bantah Taeyong dengan memegangi pipinya.

“Tapi…”

“Suratmu akan kusebarkan sekarang juga!” Ujar Taeyong dengan melangkah melewati Seulgi begitu saja. Sedangkan Seulgi masih terdiam ditempatnya. Ia bahkan masih memikirkan apa yang dilakukannya tadi.

“Jadi… Jadi yang ciuman tadi hanya mimpi?” Batin Seulgi masih bingung. Setelah menyadari semuanya, ia pun berlari mengejar Taeyong yang saat ini sudah berada dihalaman kampus. Dengan sigap, ia memegang lengan Taeyong untuk menghentikan langkah lelaki tersebut.

“Tunggu!” Ucap Seulgi. Taeyong pun menghentikan langkah kakinya. Lelaki ini membalikkan tubuhnya dan menatap Seulgi tajam.

“Kau sudah menyadari semuanya?” Tanya Taeyong yang terdengar begitu menyeramkan.

“Maafkan aku! Aku benar-benar tidak sengaja. Aku sedang…” Melas Seulgi.

“Cukup! Hari ini akan menjadi hari yang sangat buruk bagimu!” Ujar Taeyong dengan melangkah meninggalkan Seulgi. Ia juga menghempaskan tangan Seulgi yang memegang lengannya tadi.

“Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan?” Batin Seulgi sedih dengan memandang punggung Taeyong yang semakin menjauh.

©® H.ZTao_94

Hari yang membosankan. Taeyong masih terdiam diruangan dimana ia bersama teman-temannya biasa bermain game ataupun menghindar dari mata kuliah yang tak mereka sukai. Lelaki ini memandang sebuah foto lusuh. Difoto itu terlihat seorang wanita cantik berumur tiga puluhan dan dua anak laki-laki tampak manis dan menggemaskan. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir lelaki tampan ini. Ia hanya bisa terdiam memandang foto tersebut dengan mata berkaca-kaca.

Ceklek…

Terdengar suara pintu ruangan tersebut terbuka. Taeyong segera menyembunyikan foto lusuh tadi kedalam salah satu buku yang ada dihadapannya. Tampak seorang lelaki memghampiri Taeyong dengan membawa segelas kopi. Lelaki yang bernama lengkap Kim Taehyung ini duduk disamping Taeyong dengan menyodorkan kopi yang ada ditangan kanannya saat ini.

“Dari Seulgi!” Kata Taehyung.

“Untukmu saja!” Balas Taeyong tanpa memandang wajah sahabatnya itu.

“Ada apa denganmu? Mengapa kau tampak murung pagi ini? Apakah terjadi sesuatu?” Tanya Taehyung.

“Tidak ada!” Jawab Taeyong dengan memejamkan kedua matanya.

“Sudah jelas-jelas sedang tak baik, mengapa masih berbohong! Dasar lelaki tengil!” Bisik Taehyung.

Beberapa saat kemudian, terlihat Jimin dan Hanbin memasuki ruangan tersebut. Mereka segera bermain game tanpa melihat dua sahabatnya yang sedari tadi berada disana.

Yak, apakah kami tak terlihat?” Tanya Taehyung pada dua sahabatnya ini.

“Kalian tak terlihat!” Balas Jimin masih dengan kesibukannya sembari terkekeh pelan.

“Kau ini Alien, mana mungkin terlihat!” Tambah Hanbin.

“Dasat kalian! Lihatlah ini!” Taehyung segera bangkit dari tempat duduknya dan mencabut saluran listrik pada game tersebut. Setelah melakukan hal konyol ini, ia pun tersenyum evil dengan melirik Jimin dan Hanbin yang tampak kesal padanya.

Aish, kau ini benar-benar Alien jahil!” Ucap Hanbin dengan melempar remote pada Taehyung.

Ruangan tersebut menjadi semakin gaduh ketika Jimin juga melempar beberapa buku pada Taehyung. Hal itu membuat Taeyong kesal dan segera bangun dari tidurnya. Ia menatap Taehyung, Hanbin dan Jimin tajam. Sontak hal ini membuat tiga sahabatnya itu hanya bisa terdiam karena takut akan tatapan tajam Taeyong.

“Ini salahmu!” Bisik Hanbin pada Taehyung.

“Kau juga bersalah!” Balas Taehyung ikut berbisik.

Melihat tiga sahabatnya yang saling menyalahkan itu, membuat Taeyong semakin kesal. Ia pun melangkah keluar dari ruangan yang sangat berantakan itu. Namun, aktivitasnya itu terhenti saat terlihat seorang gadis berdiri tepat didepan pintu dengan tersenyum ramah.

“Taeyong, aku membawakan bekal untukmu!” Ucap Seolhyun dengan memberi Taeyong sebuah kotak makan. Tak ada jawaban dari lelaki berwajah tampan bak anime ini. Ia hanya melangkah melewati Seolhyun begitu saja. Sedangkan Seolhyun masih terdiam karena tak berani mengejar Taeyong. Gadis ini tahu benar seperti apa sifat Taeyong saat diam seperti ini. Entah sudah berapa tahun Seolhyun tetap bertahan mencintai Taeyong sekalipun lelaki ini tak pernah meresponnya. Perlahan bulir-bulir bening menuruni pipinya yang putih dan mulus itu.

“Apakah aku tak terlihat olehmu? Mengapa kau selalu mengacuhkanku?” Isak Seolhyun.

Dari balik pintu, Taehyung hanya bisa terdiam mendengar isakan Seolhyun yang menyakitkan itu. Seolhyun begitu sibuk mengejar Taeyong tanpa menyadari ada seseorang yang selalu setia menunggunya. Orang itu adalah Taehyung yang telah mencintai Seolhyun sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Jimin yang mengerti perasaan Taehyung hanya bisa mengusap lembut pundak sahabatnya itu.

“Jangan menahan perasaanmu seperti ini!” Bisik Jimin tampak dewasa.

“Aku tahu bahwa aku tak sehebat Taeyong. Karena itu aku hanya mampu mencintainya dalam diam.” Balas Taehyung.

©® H.ZTao_94

Seulgi berlari dengan tergesa-gesa menuju atap gedung. Baru saja ia mendapatkan pesan dari Taeyong untuk segera menemui lelaki itu diatap gedung. Sekalipun Seulgi malas melakukan hal itu, tetap saja ia harus menuruti permintaan brandalan itu. Sesampainya di atap, Seulgi memandang Taeyong yang sudah menunggunya. Perlahan Seulgi mendekati lelaki bermarga Lee ini. Namun, tampaknya Taeyong tengah tertidur. Wajahnya yang terlihat dingin dan menyebalkan itu tak terlihat lagi. Yang terlihat hanya wajah seorang Lee Taeyong yang polos.

“Mengapa ia justru tertidur?” Bisik Seulgi.

Angin bertiup cukup kencang membelai rambut Lee Taeyong dan Seulgi. Seulgi masih duduk disamping Taeyong yang masih tertidur pulas itu. Sesekali Seulgi memandang wajah Taeyong yang tersapu angin.

“Wajahnya tidak terlalu buruk! Tapi sayangnya dia sangat menyebalkan!” Bisik Seulgi.

“Jadi kau menganggapku tampan?” Ucap Taeyong tiba-tiba masih dengan mata yang terpejam. Hal itu membuat Seulgi kaget dan segera menjauh dari lelaki berwajah dingin itu. Gadis ini benar-benar menyesal telah mengucapkan hal tadi. Terlihat Taeyong mulai bangkit dan berdiri menatap Seulgi tajam. Ia memberikan kode pada Seulgi agar mendekat. Seulgi hanya bisa menuruti permintaan Taeyong karena tak ada pilihan lain. Gadis ini melangkah mendekati Taeyong dengan jantung yang berdebar-debar. Berharap Taeyong tak membuatnya kesulitan. Kini Seulgi telah berdiri tepat dihadapan Taeyong dan menatap Taeyong dengan tatapan memelas.

“Tadi pagi kau sudah membuatku kesal karena…” Taeyong menggantung ucapannya dengan menunjuk wajah Seulgi.

“Aku… Aku tahu! Maafkan aku!” Ucap Seulgi dengan membungkuk dihadapan Taeyong. Taeyong hanya tersenyum simpul.

“Hari ini aku malas melakukan apapun. Jadi, kau harus menggantikanku untuk mengikuti mata kuliah hari ini.” Lanjut Taeyong.

“Tapi… Tapi bagaimana jika Dosen mengetahui bahwa…” Belum sempat memyelesaikan ucapannya, Seulgi pun menghentikan gerakan bibirnya ketika ujung jari telunjuk Taeyong menyentuh ujung bibirnya.

“Aku tidak suka dibantah!” Balas Taeyong dengan menatap Seulgi tajam.

Glek…

Seulgi hanya bisa menelan ludahnya untuk saat ini. Ia benar-benar tak bisa membantah seorang Lee Taeyong. Ya, semua ini karena surat keramatnya yang telah jatuh ke tangan lelaki brandalan ini.

“Baiklah!” Jawab Seulgi dengan berat hati.

“Bagus! Kau bisa mengambil semua buku milikku di ruanganku!”Ujar Taeyong lalu berjalan meninggalkan Seulgi. Sedangkan Seulgi masih terdiam seraya memandang punggung Teayong yang semakin menjauh.

“Kang Seulgi, mengapa nasibmu harus semalang ini!” Benak Seulgi.

Ia pun berjalan menuju ruangan keramat dimana Taeyong dan gengnya biasa berkumpul. Namun, seseorang menghentikan langkah kaki gadis ini ketika ia hampir saja membuka pintu ruangan tersebut.

Yak, apa yang kau lakukan disini?” Tanya Seolhyun dengan menatap Seulgi tajam.

“Aku ingin mengambil buku-buku milik Taeyong.” Jawab Seulgi jujur.

“Jadi sekarang kau sudah berani memasuki ruangan ini tanpa izin? Kau bahkan berani menyentuh barang-barang milik Taeyong! Dasar tidak tahu malu!” Ucap Seolhyun yang mulai membuat Seulgi kesal.

“Apa maksudmu berbicara seperti itu? Kau pikir aku senang melakukan hal ini? Kau pikir aku…”

Plakkk…

Belum sempat Seulgi memyelesaikan ucapannya, gadis sombong yang ada dihadapannya itu sudah menamparnya. Sontak hal itu membuat Seulgi semakin geram pada Seolhyun.

“Mengapa kau menamparku?” Tanya Seulgi dengan memegang pipi kanannya,

“Itu pantas kau dapatkan karena kau tidak tahu diri!” Jawab Seolhyun dengan menatap Seulgi remeh. Seulgi pun tak tinggal diam, ia segera membalas tamparan Seolhyun. Namun, saat ia hampir melakukannya, tiba-tiba seseorang datang dan mengacaukan segalanya.

“Berhenti!” Ucap seseorang dari kejauhan. Seulgi dan Seolhyun segera menoleh ke arah dari mana suara itu berasal. Terlihat Taeyong yang tengah berjalan menuju dua gadis cantik yang tengah bersitegang itu. Lelaki ini menatap dua gadis tersebut dengan tatapan tajam. Seolhyun pun segera mencari perhatian dari lelaki yang dicintainya itu.

“Taeyong, gadis ini akan memukulku! Aku sangat takut!” Rengek Seolhyun manja pada Taeyong seraya memeluk tubuh Taeyong. Hal ini benar-benar membuat Seulgi sangat muak. Bahkan dalam hal ini, Seolhyunlah yang bersalah dan menampar Seulgi terlebih dahulu.

Perlahan Taeyong melepaskan pelukan Seolhyun yang membuatnya tak nyaman itu. Kemudian, ia menatap Seulgi tajam.

“Ikut aku!” Ucap Taeyong seraya menarik tangan Seulgi memasuki ruangan yang terkenal kekeramatannya itu.

BRAAAKKK…

Taeyong menutup pintu ruangan tersebut dengan sangat keras. Sontak hal itu membuat Seulgi takut. Tubuh gadis ini gemetaran menatap Taeyong yang terus membawanya ke dalam ruangan yang remang-remang itu. Setelah sampai ditempat paling pojok, Taeyong menghentikan langkahnya dan menatap Seulgi tajam. Perlahan Taeyong mendekatkan wajahnya didekat wajah Seulgi. Entah berapa inchi jarak wajah mereka saat ini. Yang jelas, saat ini mereka sangat dekat.

Yak, apa yang akan kau lakukan padaku?” Tanya Seulgi dengan gemetaran.

“Kau pikir apa yang bisa kulakukan padamu ditempat yang hanya ada kita berdua saja disini?” Tanya Taeyong sedikit berbisik dan terkesan menyeramkan itu.

“Jangan lakukan apapun padaku, kumohon!” Ucap Seulgi memelas pada Taeyong. Tak ada jawaban dari lelaki ini. Ia hanya tersenyum nakal pada Seulgi. Perlahan bibirnya mendekati bibir Seulgi. Bahkan kini bibir dua anak manusia ini saling bersentuhan. Hanya sedikit lagi, ritual ciuman akan dimulai. Seulgi pun memejamkan matanya karena sangat takut dengan tatapan tajam dari mata Taeyong.

“Tidak, dia tak boleh melakukannya! Hanya Henry yang boleh melakukannya!” Batin Seulgi. Entah berapa menit adegan yang sangat dekat itu terjadi. Bibir merah Taeyong hanya menyentuh ujung bibir tipis Seulgi tanpa melumatnya ataupun mengemutnya sama sekali. Beberapa saat kemudian, Taeyong menjauhkan beberapa inchi bibirnya dari bibir budaknya itu.

“Apakah kau berpikir bahwa aku akan menciummu?” Tanya Taeyong dengan wajah innocent-nya. Seulgi segera membuka matanya dan menatap Taeyong penuh tanya.

“Ti… Tidak juga!” Jawab Seulgi sedikit terbata-bata. Taeyong pun berjalan mengambil beberapa buku tebal yang berserakan diatas meja. Kemudian dilemparkannya pada Seulgi. Sontak hal itu membuat Seulgi kelabakan karena tak bisa menangkap semua buku yang dilempar oleh Taeyong. Buku-buku itu pun berserakan diatas lantai. Dengan terpaksa Seulgi memungut semua buku-buku tersebut.

©® H.ZTao_94

Dengan perasaan takut, Seulgi memasuki kelas. Pelan-pelan ia melangkah menuju tempat duduk paling belakang. Sebenarnya saat ini dia juga ada jam mata kuliah, tapi demi perjanjiannya dengan si brandalan Taeyong, ia harus mempertaruhkan semuanya. Dipandangnya tempat sekelilingnya.

Aish, mengapa hal ini harus terjadi padaku!” Batin Seulgi dengan perasaan takut.

Beberapa saat kemudian, terlihat Dosen Shin memasuki ruangan. Tampaknya posisi Seulgi sedang dalam keadaan kurang baik. Siapa yang tak kenal dengan Dosen Shin? Seorang Dosen yang terkenal killer pada semua anak didiknya. Bahkan semut pun akan berbalik arah jika melihat Dosen Shin yang sangat menyeramkan itu. Suasana kelas yang tadinya sangat ramai pun berubah seketika saat Dosen Shin memasuki ruangan tersebut.

“Bagaimana ini? Bisa-bisa aku di usir dari kelas dan di hukum!” Benak Seulgi ketakutan.

Terlihat Dosen Shin mulai mengabsen. Posisi Seulgi semakin berbahaya dan di ambang kehancuran. Tubuh Seulgi mengeluarkan keringat dingin.

“Ini gila! Taeyong benar-benar gila!” Umpat Seulgi kesal dengan suara yang sangat pelan.

Beberapa saat kemudian, giliran nama Taeyong yang disebutkan oleh Dosen Shin.

“Lee Taeyong!” Panggil Dosen Shin dengan matanya yang tajam memandang ke sekeliling ruangan kelas.

“Lee Taeyomg!” Dosen Shin mengulangi panggilannya.

“LEE TAEYONG!” Bentak Dosen Shin dengan menggebrak mejanya.

BRAKKK

Melihat reaksi Dosen Lee yang sangat menyeramkan itu membuat Seulgi terpaksa harus mengacungkan tangannya. Dengan tubuh yang gemetaran tentunya.

“Ha… Hadir!” Ucap Seulgi dengan terbata-bata. Seluruh orang yang berada dikelas pun memandang Seulgi dengan pandangan aneh. Terlihat tatapan mata Elang dari Dosen Shin pada Seulgi. Tatapan itu benar-benar membuat Seulgi semakin takut. Terlihat Dosen Shin bangkit dari tempat duduknya. Lelaki paruh baya ini pun melangkah menuju tempat duduk Seulgi.

 

Juseyo dalkomhan geuman ice cream cake

Teukbyeolhaejil oneure eoullineun maseuro

Ipgae mudeun aiseukeurime

Ne gaseum dugeungeoryeo naege daga ogessjyo

It’s so tasty come and chase me

 

Terdengar suara nada dering ponsel Dosen Shin yang menggema diruang kelas yang sunyi itu. Mendengar suara nada dering ponsel tersebut, membuat orang-orang yang berada disana menahan tawanya termasuk Seulgi. Mereka tak menyangka ternyata Dosen Shin yang sangat ditakuti itu adalah penggemar Girlband Red Velvet. Dosen Shin segera menjawab panggilan telepon tersebut setelah melihat nomor seseorang yang dikenalnya dilayar ponselnya.

Yeoboseo…” Ucap Dosen Shin memberi salam.

“Hari ini aku digantikan oleh budakku untuk jam kuliah anda, Dosen Shin. Tidak masalah, kan?” Tanya Taeyong dari seberang telepon dengan suara khasnya yang terkesan mengancam itu.

“Absensimu akan menjadi taruhannya! Nilaimu ku kurangi sepuluh poin.” Balas Dosen Shin dengan suaranya yang penuh misteri itu.

“Benarkah? Aku sangat takut! Akhir-akhir ini banyak yayasan yang mengajukan proposal pada ayahku untuk meminta suntikan dana dari perusahaan. Kurasa ayahku harus mengurangi donatur untuk…” Taeyong menggantung ucapannya.

“Baiklah! Terserah kau saja!” Balas Dosen Shin segera mengakhiri sambungan telepon dari mahasiswanya yang brandalan itu. Kemudian, Dosen killer ini memandang Seulgi tajam. Sontak hal itu membuat Seulgi semakin takut dan gemetaran.

“Baiklah! Kita lanjutkan mata kuliah hari ini!” Ujar Dosen Shin berjalan kembali ke tempat duduknya.

Huft… Akhirnya semuanya aman!” Bisik Seulgi lega seraya menghela napasnya dalam.

©® H.ZTao_94

Siang ini Seulgi tengah sibuk menyantap makan siangnya di kafetaria kampus dengan sangat lahap. Hari ini benar-benar hari yang melelahkan baginya. Padahal dia baru menjadi budak Lee Taeyong selama dua hari. Tapi rasanya ia sudah menghabiskan waktunya berabad-abad untuk mengabdi pada brandalan itu. Dasom dan Sunyoung hanya menatap sahabatnya itu penuh tanya seraya menggelengkan kepala.

“Seulgi, tampaknya hari-harimu sangat buruk karena Taeyong.” Ujar Dasom dengan menenggak segelas jus jeruk miliknya.

“Baru dua hari kau sudah kelelahan seperti ini! Aku tak bisa membayangkan saat kau menjadi budaknya dihari yang ke tiga puluh. Mungkin tubuhmu hanya tersisa tulang belulang.” Tambah Sunyoung dengan terkekeh.

Mendengar ucapan dua sahabatnya itu Seulgi hanya menatap mereka tajam. Lalu menenggak es jeruk yang ada dihadapannya. Ia menghabiskan segelas penuh es jeruk itu. Kemudian, menghela napasnya berat.

“Mengapa ini harus terjadi padaku? Hidupku masih panjang. Masa depanku harus cerah, tapi mengapa Taeyong harus hadir ke dalam hidupku dan menjadikanku budaknya?” Ujar Seulgi meratapi nasibnya yang malang.

“Masih dua puluh delapan hari lagi! Kau harus tetap semangat!” Timpal Dasom dengan mengusap puncak kepala sahabatnya itu.

“Kang Seulgi, kau harus tetap semangat demi cintamu pada Henry Lau! Se-ma-ngat!” Sela Sunyoung.

“Kalian benar! Aku harus tetap bersemangat!” Ujar Seulgi dengan memeluk dua sahabatnya itu. Acara pelukan itu pun terganggu tatkala ponsel Seulgi bergetar didalam kantong celananya. Gadis ini segera melepaskan pelukannya dan merogoh saku celananya. Terlihat sebuah pesan datang dari Taeyong.

“Temui aku di halaman kampus sekarang! Kuberi waktu tiga puluh detik!”

 

Seulgi kembali harus melakukan hal yang dibencinya, yaitu bertemu dengan Taeyong dan menuruti semua kemauan brandalan itu. Gadis ini segera bangkit dari tempat duduknya dan berlari menuju halaman kampus. Gadis ini berlari melewati koridor-koridor kampus dengan nafas yang tak teratur. Sesampainya di tempat tujuan, Seulgi segera menemui Taeyong.

“Kau terlambat dua setengah detik!” Ujar Taeyong dengan melangkah mendekati Seulgi. Lelaki ini kembali melakukan hal yang seenaknya pada gadis yang berada dihadapannya itu.

– TO BE CONTINUED –

Advertisements

5 thoughts on “[NCTFFI Freelance] My Only Girl (Chapter 3)

  1. waaaahhhh makin seruuu thor,, aku shiper taeyong seulgi
    maaf ya thor aku baru komen di chapter 3,, soalnya bacanya ngebutt dari chapter 1-2.. hehehhe
    lanjuuttttttt…. fighting!!

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s