[Ficlet] New Life

IMG_5833[1]

Angelina Triaf ©2016 Present

 

New Life

 

Nakamoto Yuta (NCT) with OCs | Surreal, School-life, Slice of Life | G | Ficlet

 

“Yuta lupa bahwa hanya ada tujuh hari dalam seminggu.”

0o0

Katakanlah bahwa Yuta menjalani kesehariannya dengan cara yang biasa. Berangkat ke sekolah dan menyusuri trotoar yang sama sudah menjadi hal yang lumrah baginya. Tak mengindahkan keramaian di sekitarnya, ia hanya berusaha tak peduli dan terus merajut langkah untuk sampai ke tempat tujuan.

Kedua tangannya kali ini menyentuh gerbang utama sekolah satu setengah jam sebelum bel pelajaran pertama berbunyi. Entah ada apa dengan intensitas kedua matanya atau bagaimana bermimpi di malam hari menjadi hal yang membosankan baginya. Yang jelas, Yuta sepertinya sudah mulai bisa terbiasa dengan lingkup barunya di sekolah.

Seperti suasana pagi pada umumnya, hanya ada tukang kebun yang sibuk berkutat dengan selang air. Terlihat pula gunting rumput yang tergeletak begitu saja di samping pak tua yang usianya sudah memasuki kepala lima itu. Ternyata datang pagi tidaklah seburuk itu, sepertinya Yuta sudah salah mengartikan kehidupan sekolahnya selama satu tahun belakangan.

Sering datang terlambat sehingga harus melompati tembok belakang sekolah, atau bolos kelas hanya untuk tidur di ruang kesenian, pun masih banyak hal konyol lain yang ia lakukan lalu hanya bisa ditertawakan olehnya saat ini. Betapa tidak berfaedahnya hidup menjadi remaja enam belas tahun kala itu.

Maka dari itu sekarang Yuta sudah mulai bisa memahami apa sebenarnya yang belum sempat ia pahami tahun lalu. Tentang bagaimana menilik lingkungan dari sudut pandang yang berbeda.

“Yuta, kau sudah datang?”

Namanya Yui. Yuta mengenal gadis itu saat datang ke sekolah untuk mengetahui pembagian kelas di tahun ajaran baru. Mendapati mereka akan berada di kelas yang sama membuat Yuta setidaknya merasa sedikit tenang. Ia sempat mengalami culture shock untuk beberapa hari, membuatnya miris sendiri. Namun tidak dengan Yui, gadis itu justru yang paling semangat menertawainya saat itu.

Pemuda itu mengedikkan bahu, tersenyum kecil lalu mengambil tempat duduk di barisan ketiga paling belakang. “Tak ada alasan untuk datang terlambat di hari pertama, ‘kan?”

“Ya, terserah saja.”

“Oh, aku berpapasan dengan Taichi di lorong tadi. Agak risih sebenarnya, apakah ia selalu memasang ekspresi seperti itu padamu? Kudengar kalian sekelas juga tahun kemarin.”

Mungkin kebiasaan yang masih melekat dalam diri Yuta sampai sekarang adalah duduk dengan kedua kaki terpajang di atas meja seperti bos-bos besar dalam drama. Tak bisa dipungkiri bahwa ke depannya Yuta akan semakin gencar melakukan hal itu bahkan saat jam pelajaran dimulai.

Yui menoleh untuk menjawab pertanyaan Yuta. “Dia memang selalu seperti itu. Aku sudah terbiasa.”

“Wah, seperti yang diharapkan dari seorang Minami Yui.” Kali ini Yuta tertawa cukup keras setelah berhasil membuat Yui yang kini melihatnya dengan tatapan ingin membunuh.

Tak ada yang spesial hari ini, hanya saja entah mengapa Yuta merasakan suasana yang berbeda. Bukan berarti ada bunga-bunga jatuh dari atas kepalanya lantaran ia ternyata jatuh cinta pada Yui. Demi Tuhan, pikiran Yuta tidak sesempit itu. Yang ada di benaknya adalah, ternyata segalanya tidak seburuk yang Yuta kira.

Yuta memejamkan matanya sejenak, merasakan embusan udara pagi hari yang masuk melalui celah jendela. Cukup lama, bahkan tak tahu sejak kapan ia bisa mendengar kicauan burung yang sepertinya sedang bertengger di pohon sakura besar samping kelasnya. Padahal ini lantai dua, omong-omong.

“Hebat sekali, aku sekelas lagi dengan Minami Yui―oh, ada Yuta?”

Kelas yang masih dihuni oleh dua orang itu kini bertambah dengan kehadiran seorang lagi. Gadis bersurai panjang warna hitam yang suaranya lebih berat sedikit dibandingkan dengan Yui.

“Raina, aku rindu!”

“Jangan sok manja denganku, kau menyebalkan! Ya Tuhan, akhirnya aku tak akan disangka gila lagi tahun ini.”

Agak lucu melihat gadis yang baru dikenalnya itu bertingkah konyol dengan menautkan kesepuluh jemarinya dan memejamkan mata seolah Tuhan baru saja menganugerahinya mukjizat membelah lautan. Tapi Yuta tak masalah dengan hal itu, ya walaupun pertamanya tadi sempat terkejut.

“Raina, kau berlebihan.”

“Hei, bukan salahku, ‘kan? Faktanya adalah Yuta itu sudah seperti artis di semester kemarin, membuat geger satu sekolah, tahu!”

Dibicarakan oleh dua gadis yang sama-sama memiliki keunikan itu membuat Yuta hanya senyum-senyum malu dengan tangan kanan yang menggaruk kepalanya. Tipikal lelaki yang merasa grogi lantas kepalanya mendadak gatal tanpa sebab.

Menakjubkan juga sebenarnya mengetahui bahwa Yui bisa berteman seakrab itu dengan Raina. Yuta kira ia akan berakhir dengan duduk di pojokan kelas sendirian dan depresi lalu memutuskan untuk bunuh diri.

Hanya pengandaian yang membuat Yuta tertawa miris, karena kenyataannya ada orang lain yang telah lebih dulu membunuhnya sebelum ia merealisasikan pikiran konyolnya itu. Orang yang telah mati tidak bisa mati lagi, ‘kan?

“Yuta? Hei!”

“Ah, ya?”

“Kau melamun, dasar.”

Kedua tangan Yui bersedekap, ia memerhatikan Yuta dengan kening berkerut. Lain hal dengan Raina yang kini sibuk menggeledah laci di bagian paling bawah lemari kelasnya. Gadis itu terlihat mengeluarkan sebuah vas bunga kristal imitasi yang cukup besar dari sana. “Lanjutkanlah obrolan kalian itu, aku ingin mencuci vas ini dan meminta bunga lili pada tukang kebun sebelum kelas tambah ramai nantinya.”

“Untukku?”

Pertanyaan Yui tentu saja disambut sarkasme khas Raina yang terkenal itu. “Aku sudah merawat lilimu selama dua bulan, kau lupa? Ini untuk Yuta.”

Yui sudah tak ingin menggoda Raina lagi dan Raina tampaknya serius untuk kembali menjadi orang yang mengurusi lili putih di kelas seperti tahun kemarin. Ia memang gadis yang baik hati.

Hal ini membuat Yuta kehabisan kata-kata. Matanya melihat sendiri bagaimana sesuatu yang dianggap tabu oleh orang lain bisa menjadi sangat mengharukan baginya. Menilik dunia dari sudut pandang yang berbeda, ternyata seperti itu rasanya.

“Jadi, ada berapa orang lagi yang seperti Taichi dan Raina?” tanya Yuta setelah keheningan cukup lama memikat mereka.

Gadis dengan jarak bangku satu baris itu terlihat berpikir. “Entah? Aku hanya akrab dengan Raina saja. Mungkin kau bisa mencoba untuk akrab dengan Taichi.”

“Jika yang kau maksud akrab adalah dengan menggentayanginya sampai ia menangis dan ingin pindah sekolah maka jawabanku sudah jelas tidak, Yui.”

Pernah kala itu Yuta lupa bahwa hanya ada tujuh hari dalam seminggu, karena ia selalu menganggap bahwa hari kematiannya patut untuk diikutsertakan menjadi hari kedelapan; hari sialnya. Sesuatu yang selalu membayanginya sehingga membuatnya tak tenang.

Tapi tak menutup kemungkinan bahwa ke depannya nanti akan ada hal yang berubah. Memiliki perasaan baru akan sesuatu bukanlah hal yang layak untuk ditakuti. Mungkin saja itu justru akan menjadi awal dari sebuah hal menyenangkan lainnya. Jalan hidup yang baru, jika boleh dikatakan demikian.

FIN

  • Menaruh lili putih dalam vas di kelas adalah kebiasaan pelajar Jepang jika ada salah satu temannya yang meninggal.
Advertisements

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s